Share

BAB 6

Author: A.lyra
last update publish date: 2026-09-07 15:14:37

Tiga hari setelah insiden di kedai kopi, Sharen memutuskan tetap harus melewati jalan yang sama, toko kelontong terdekat hanya ada di ujung jalan berbatu tersebut, persis di dekat toko buku yang ia hindari.

“Nggak apa-apa, Sharen. Kamu cuma perlu jalan terus, pria di toko buku itu bukan pengawal utusan Elio, kamu di Leiden sekarang bukan di Jakarta,” batin Sharen, terus-menerus meyakinkan dirinya sendiri.

Ia sudah hafal rute memutar sejak dua hari lalu, tapi hari ini kakinya terlalu lelah untuk berjalan lebih jauh dari yang seharusnya. Ia berjalan cepat, menundukkan kepala, kantong belanja plastik tipis menggantung di kedua tangannya berisi roti, susu, dan beberapa kaleng sup murah.

Di tikungan yang sempit, kantong sebelah kanan robek, kaleng sup jatuh keras ke trotoar lalu menggelinding cepat ke arah selokan. "Aduh," Sharen buru-buru jongkok, mengejar kaleng yang terus menggelinding makin jauh.

Sebuah tangan besar terulur lebih dulu, menangkap kaleng tersebut tepat sebelum jatuh ke selokan. Sharen menoleh, jantungnya langsung berdegup kencang, pria dari toko buku itu berdiri di depannya sambil memegang kaleng sup dan tersenyum tipis.

"Ini punyamu?" tanyanya, mengulurkan kaleng itu. Logatnya unik, tidak seperti penduduk asli yang ia temui di sepanjang jalan. Intonasinya pun terdengar akrab di telinga Sharen.

"Makasih," kata Sharen sambil menerimanya cepat, langkahnya sudah setengah mundur sebelum sempat berpikir jernih.

“Kamu sempat ke kedai kopi seberang tokoku beberapa hari lalu, ya?" tanyanya ramah, berusaha mencairkan kecanggungan di antara mereka.

"Mungkin," jawab Sharen singkat, pura-pura lupa padahal ia masih ingat semua detailnya dengan jelas.

"Kantongnya robek," pria itu menunjuk plastik yang sudah tidak berbentuk lagi di tangan Sharen. "Aku punya kantong kertas di toko. Kalau mau, amb..."

"Nggak usah, makasih. Aku bisa jalan cepat," potong Sharen, nadanya dingin dan waspada.

Pria itu mengangkat kedua tangannya, seperti menyerah dengan santai. "Oke. Hati-hati di jalan, ya." Ia berbalik lalu berjalan kembali ke arah toko tanpa memaksa lebih jauh.

Sharen berdiri di tempat selama beberapa detik, memeluk sisa belanjaannya dengan erat sambil menunggu detak jantungnya melambat. “Dia nggak maksa,” batinnya agak terkejut pada dirinya sendiri. “Elio pasti udah ngomel panjang kalau aku nolak bantuannya kayak gitu.”

Wanita itu terus berjalan, namun kali ini tidak langsung berlari seperti hari sebelumnya. Sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan pria itu benar-benar sudah masuk ke tokonya, bukan diam-diam mengikuti.

Toko tersebut memang sudah tertutup lagi, papan tanda "Open" tergantung di baliknya, Sharen berhenti sejenak menatap papan itu dari kejauhan lalu buru-buru melanjutkan langkah begitu sadar dirinya berdiri diam terlalu lama.

Dua hari kemudian, Sharen lewat jalan yang sama, kali ini sengaja menyeberang lebih awal untuk menghindari trotoar depan toko buku itu.

Namun hujan gerimis tiba-tiba turun, memaksa banyak orang berlarian mencari tempat berteduh terdekat. Sharen ikut berlari kecil ke bawah kanopi toko roti, berdiri berdesakan dengan beberapa orang asing lainnya.

"Hujan lagi," suara familiar terdengar di sampingnya.

Sharen menoleh, pria toko buku itu berdiri di sana juga berteduh, jaketnya sedikit basah di bahu. "Iya," jawab Sharen singkat, menjaga jarak dengan melangkah sedikit lebih jauh.

"Kamu dari Asia? Aku bisa dengar aksenmu, sepertinya dari Indonesia?" tanya pria itu dengan nada santai yang sama sekali tidak terkesan menyelidik.

Sharen seketika terdiam. “Bagaimana ia bisa tahu?” Pikiran liar langsung memenuhi kepalanya, membisikkan kemungkinan terburuk yang membuat perutnya mual “jangan-jangan pria ini orang suruhan Elio yang sengaja dikirim untuk melacak aku?.” Batin nya.

"Iya. Kamu juga bisa bahasa Indonesia?" Sharen menjawab seadanya, agak terkejut tapi sedikit lega karena tidak perlu repot-repot mengingat bahasa Belanda yang sudah lama tidak ia pakai.

"Aku Skyler. Aku juga keturunan Indonesia, meski lahir dan besar di sini. Toko bukuku ada di seberang sana." Pria itu menunjuk toko nya, memperkenalkan diri tanpa mengulurkan tangan, seolah tahu bahwa Sharen butuh jarak. "Kalau kamu suka baca, mampir aja kapan-kapan."

"Iya, terimakasih," jawab Sharen singkat, menatap lurus ke depan, memperhatikan hujan yang mulai reda.

"Nggak maksa, kok," Skyler menambahkan cepat, mendengar ketegangan di suara Sharen. "Cuma tawaran biasa." Skyler tidak bertanya lagi setelah itu, hanya berdiri diam di sana, membiarkan keheningan mengisi jarak di antara mereka tanpa membuat suasana jadi canggung.

Begitu hujan agak reda, Sharen langsung keluar dari bawah kanopi tanpa banyak bicara. "Hati-hati jalannya," kata Skyler pelan dari belakang, tidak memaksanya berhenti atau menoleh.

Sharen berjalan cepat, namun kali ini pikirannya agak berbeda dari sebelumnya. “Dia nggak nanya macam-macam,” batinnya mengingat cara Skyler bicara tadi. “Nggak kayak orang yang lagi coba masuk ke hidupku.”

Ia sendiri tidak yakin harus percaya perasaan itu atau tidak, ia sudah terlalu sering salah menilai orang di masa lalu dan terlalu sering menerima kebaikan yang ternyata hanya topeng sebelum sesuatu hal yang buruk terjadi.

Ia teringat bagaimana Elio dulu terus mendesak, selalu ingin tahu lebih dan melihat penolakan sebagai tantangan yang harus ia menangkan. Skyler tidak seperti itu, saat ditolak, ia langsung mundur, tidak protes, dan tidak ada nada kecewa yang tersembunyi.

“Tapi itu belum berarti apa-apa, Sharen. Baru dua kali ketemu. Jangan buru-buru percaya.” Sharen lagi-lagi mengingatkan diri sendiri dan mempercepat langkah. 

Malam itu, saat menulis di buku catatan kecilnya, ia menambahkan satu baris di bawah catatan lama tentang kedai kopi.

[Pemilik toko buku itu namanya Skyler, keturunan Indonesia tapi lahir besar disini. Beda sama Elio. Tapi jangan dulu percaya]

Ia menutup buku tersebut, menatap langit-langit kamar dalam gelap, membiarkan pertanyaan itu menggantung tanpa jawaban untuk malam ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bukan Pernikahan Impian: Pelarian dari CEO Obsesif   BAB 9

    Pena Skyler berhenti tepat di atas kertas. Nama itu masih terngiang di kepalanya. Aurelia Adiratna."Kenapa?" tanya Sharen pelan. Apakah keputusannya menggunakan nama belakang aslinya adalah sebuah kesalahan fatal? Bagaimana kalau pria ini pernah membaca berita bisnis dari Asia?Skyler menarik napas lalu cepat menguasai dirinya. "Nggak apa-apa," jawabnya. Tangannya terus menulis walau masih terasa kaku. "Adiratna," ulangnya pelan, seperti sedang menimbang nama itu di lidahnya. "Namanya bagus."Sharen menghela napas yang sejak tadi tanpa sadar ia tahan. Di Jakarta, nama itu akan langsung membuat orang-orang menunduk hormat atau berusaha mengambil hati demi proyek miliaran rupiah.Tapi bagi pria penjaga toko buku ini, namanya hanya rangkaian kata yang indah."Kamu keliatan kaget," Sharen berkata, matanya menyipit saat memperhatikan wajah Skyler."Kaget?" Skyler tersenyum tipis. "Nggak. Cuma kedengeran nama yang jarang aku denger di sini."Sharen tidak sepenuhnya percaya, tapi ia juga ti

  • Bukan Pernikahan Impian: Pelarian dari CEO Obsesif   BAB 8

    Sharen memutuskan datang setelah semalaman menimbang, uang tunainya menipis dan tiga kali bertemu Skyler tanpa insiden buruk mulai terasa cukup untuk mencoba, bukan jaminan penuh, tapi cukup.Lonceng kuningan De Bladzijde berbunyi keras jam sepuluh kurang lima menit, udara dingin masih menempel di jaket Sharen. "Tepat waktu," Skyler muncul dari balik rak, lengan kemeja digulung membawa dua cangkir kopi."Aku bilang mau pikirin dulu, bukan janji pasti," Sharen berkata, setengah menguji reaksinya."Aku tahu," Skyler tersenyum santai. "Makanya aku nggak nunggu di depan pintu kayak orang aneh."Sharen nyaris tersenyum meski buru-buru menahannya. "Kalau aku nggak datang gimana?""Ya udah, aku cari orang lain," Skyler mengangkat bahu ringan. "Nggak masalah. Kamu yang tentuin, bukan aku." Jawaban tersebut terasa asing di telinga Sharen, terlalu santai untuk sesuatu yang biasanya dijadikan alasan marah oleh orang lain di hidupnya."Mau kopi apa?" tanyanya mengalihkan topik."Hitam, tanpa gula

  • Bukan Pernikahan Impian: Pelarian dari CEO Obsesif   BAB 7

    Hujan turun tiba-tiba sore itu, jauh lebih deras dari gerimis yang pernah membuat Sharen berteduh bersama Skyler beberapa hari lalu. Tanpa payung, ia berlari mencari tempat perlindungan terdekat, tasnya didekap erat ke dada.Kakinya berhenti tepat di depan toko buku yang dicat merah bata, toko milik pria yang sudah dua kali ia temui tanpa sengaja.“Kenapa harus toko ini,” batinnya kesal menatap langit yang semakin gelap. “Tapi hujannya beneran deras. Nggak ada pilihan lain.” Ia melirik ke kanan dan kiri, mencari alternatif tempat berteduh lain tapi tidak ada. Jalanan berbatu itu sepi, toko-toko lain sudah tutup lebih awal karena cuaca.Ia mendorong pintu kayu, lonceng kuningan berdenting keras. Aroma buku lama dan kopi hitam langsung menyambut, menghangatkan tubuhnya yang basah kuyup. "Kamu lagi," suara bariton Skyler keluar dari balik meja kasir, terdengar terkejut dan geli. "Sudah tiga kali kita bertemu""Nggak sengaja," Sharen lagi-lagi menjawab singkat, menyeka air hujan dari leng

  • Bukan Pernikahan Impian: Pelarian dari CEO Obsesif   BAB 6

    Tiga hari setelah insiden di kedai kopi, Sharen memutuskan tetap harus melewati jalan yang sama, toko kelontong terdekat hanya ada di ujung jalan berbatu tersebut, persis di dekat toko buku yang ia hindari.“Nggak apa-apa, Sharen. Kamu cuma perlu jalan terus, pria di toko buku itu bukan pengawal utusan Elio, kamu di Leiden sekarang bukan di Jakarta,” batin Sharen, terus-menerus meyakinkan dirinya sendiri.Ia sudah hafal rute memutar sejak dua hari lalu, tapi hari ini kakinya terlalu lelah untuk berjalan lebih jauh dari yang seharusnya. Ia berjalan cepat, menundukkan kepala, kantong belanja plastik tipis menggantung di kedua tangannya berisi roti, susu, dan beberapa kaleng sup murah.Di tikungan yang sempit, kantong sebelah kanan robek, kaleng sup jatuh keras ke trotoar lalu menggelinding cepat ke arah selokan. "Aduh," Sharen buru-buru jongkok, mengejar kaleng yang terus menggelinding makin jauh.Sebuah tangan besar terulur lebih dulu, menangkap kaleng tersebut tepat sebelum jatuh ke s

  • Bukan Pernikahan Impian: Pelarian dari CEO Obsesif   BAB 5

    Baru dua hari di Leiden, kamar sewa Sharen sudah terasa seperti kurungan baru. Ukurannya memang lebih kecil, tapi tempat itu tetap saja penjara. Ia harus keluar, meski sekadar duduk di tempat asing dan berlagak sibuk.Ia menemukan kedai kopi kecil di ujung jalan berbatu, jendela besarnya menghadap ke toko buku bercat merah bata di seberang. Tempat tersebut sepi dan hangat. "Yang terpenting, ada dua pintu keluar," gumamnya lega saat melihat pintu satu di depan dan satu di belakang dekat toilet.Dia selalu duduk di tempat yang bisa melihat pintu, memilih kursi di sudut. "Jika ada sesuatu yang aneh, aku bisa langsung pergi," pikirnya mempertahankan kebiasaan yang sudah sangat melekat tersebut.Di Jakarta, ia belajar menghadap pintu tanpa sadar, cara menghitung berapa langkah ke jalan keluar terdekat, dan juga cara membaca nada suara orang lain sebelum kalimatnya selesai.Pelayan muda mendekat sambil membawa buku menu kecil. "Mau pesan apa, Nona?""Kopi hitam. Yang paling murah," kata Sha

  • Bukan Pernikahan Impian: Pelarian dari CEO Obsesif   BAB 4

    Pesawat berbadan besar itu akhirnya mendarat dengan mulus di Bandara Schiphol. Langit Belanda masih tertutup kabut tipis khas musim gugur.Sharen membiarkan penumpang lain sibuk menurunkan barang bawaan dari kabin di atas kepala. Dadanya berdebar keras, terjebak antara rasa lega dan ketakutan yang mencekam."Jangan gemetar. Jangan sekarang," batinnya sambil melangkah menyusuri lorong bandara mengikuti papan penunjuk arah kuning bertuliskan "Douane".Antrean imigrasi bergerak lambat. Detak jantungnya memukul-mukul rusuk tanpa ampun, memaksanya berusaha keras menunjukkan wajah setenang mungkin demi menutupi tangan yang gemetar."Apa tujuan kunjungan Anda hari ini, Nona?" tanya petugas imigrasi sambil membolak-balik paspor hijaunya tanpa rasa curiga."Liburan, Pak," jawab Sharen dengan suara tegas dalam bahasa Belanda yang cukup baik, terdengar lebih stabil daripada yang ia sangka mampu ia keluarkan.Petugas itu mengangguk dengan bosan, lalu mengetuk stempel ke halaman paspornya dengan k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status