LOGINPesawat berbadan besar itu akhirnya mendarat dengan mulus di Bandara Schiphol. Langit Belanda masih tertutup kabut tipis khas musim gugur.
Sharen membiarkan penumpang lain sibuk menurunkan barang bawaan dari kabin di atas kepala. Dadanya berdebar keras, terjebak antara rasa lega dan ketakutan yang mencekam.
"Jangan gemetar. Jangan sekarang," batinnya sambil melangkah menyusuri lorong bandara mengikuti papan penunjuk arah kuning bertuliskan "Douane".
Antrean imigrasi bergerak lambat. Detak jantungnya memukul-mukul rusuk tanpa ampun, memaksanya berusaha keras menunjukkan wajah setenang mungkin demi menutupi tangan yang gemetar.
"Apa tujuan kunjungan Anda hari ini, Nona?" tanya petugas imigrasi sambil membolak-balik paspor hijaunya tanpa rasa curiga.
"Liburan, Pak," jawab Sharen dengan suara tegas dalam bahasa Belanda yang cukup baik, terdengar lebih stabil daripada yang ia sangka mampu ia keluarkan.
Petugas itu mengangguk dengan bosan, lalu mengetuk stempel ke halaman paspornya dengan keras. "Selamat menikmati liburan Anda, Nona."
Begitu keluar dari area kedatangan, Sharen berdiri diam sebentar di tengah keramaian ribuan orang yang tak satu pun dari mereka tahu siapa dirinya. Tidak ada kamera yang mengawasi, serta tidak ada jam tangan pelacak di pergelangan tangannya. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar bisa bernapas lega.
Ia membeli tiket kereta menuju Leiden di mesin otomatis, setelah itu duduk sendirian di dekat jendela gerbong.
"Volgende halte, Leiden Centraal," suara pengumuman kereta terdengar datar dari pengeras suara. Entah kenapa, kalimat sesederhana itu membuat matanya berkaca-kaca.
Ia membiarkan matanya merekam lanskap Belanda yang melintas di luar kaca, di mana padang rumput hijau yang luas terbagi oleh siluet kincir angin tua. Suasana tersebut sangat damai, jauh dari Jakarta yang bising.
Sharen akhirnya sampai di penginapan kecilnya yang tersembunyi di sebuah gang berbatu. Pemiliknya, Mevrouw Van Dijk, menyambutnya dengan senyum hangat khas warga lokal.
"Kamar dua belas, di atas," katanya sambil memberikan kunci kamar kuningan tua itu tanpa banyak bertanya. Sharen segera masuk lalu mengunci pintu kamarnya dengan rapat.
"Akhirnya," bisiknya pelan, merosot jatuh ke lantai kayu. Wanita itu menangis tersedu sambil memeluk lututnya sendiri, murni karena euforia kebebasan yang sudah lama ia dambakan.
Setelah puas menangis, ia mengambil ponsel prabayarnya, menyalakannya, dan mengetik pesan darurat untuk Wisnu.
[Sharen]: Wisnu, aku sudah sampai di penginapan. Semuanya aman, terima kasih.
Jemarinya masih sedikit gemetar saat ia mematikan daya ponselnya sepenuhnya. Sayangnya, perasaan aman tersebut selalu hilang saat malam datang. Sosok Elio terus-menerus mengejarnya di dalam mimpi, membuatnya terbangun terengah-engah sendirian di kamar asing yang belum benar-benar terasa seperti miliknya.
***
Sementara itu, di Jakarta, sebuah jeritan panik memecah keheningan rumah keluarga Adiratna. Bi Ratih berdiri gemetar di ambang pintu kamar Sharen yang terbuka lebar.
Kasur besar itu rapi tanpa bekas disentuh, dan sebagian besar pakaian kasual Sharen sudah hilang dari dalam lemari. Di atas meja, jam tangan pelacak pemberian Elio masih tergeletak sebagai pesan pembangkangan yang sangat jelas.
"Pak... Non Sharen nggak ada di kamarnya," lapor Bi Ratih terbata-bata di ruang makan, membuat koran bisnis di tangan Bram terjatuh.
Bram langsung menelepon ponsel putrinya, tapi hanya suara operator yang terdengar. Ia lantas menyuruh sopir pergi ke apartemen Sharen yang jarang dihuni, namun setengah jam kemudian sopir itu kembali dengan laporan yang membuat wajah Bram sangat pucat karena apartemen tersebut kosong.
"Dia kabur," kata Bram dengan marah, urat lehernya menonjol berusaha menahan ledakan amarah.
"Kita lapor polisi, Pak!" usul Bi Ratih panik.
"Nggak ada polisi. Kalau ini bocor ke media, reputasi keluarga hancur," bentak Bram sambil membanting cangkir kopinya.
Ia langsung mengumpulkan tim humas untuk menyebarkan cerita palsu ke publik, menyebut Sharen sedang menjalani retret pribadi di luar negeri untuk persiapan mental menjelang pernikahan.
Di sudut ruangan, Anggia melihat kekacauan tersebut sambil membiarkan air matanya mengalir diam-diam. Di balik isaknya, terdapat senyum lega karena putrinya berhasil mengubah nasib yang dulu tidak bisa ia lawan selama puluhan tahun.
Kebohongan publik tidak berlaku di rumah Sagara, sebab Broto Sagara sangat marah. Di ruang kerjanya yang luas, ia melempar asbak kristal hingga hancur berkeping-keping tepat di sebelah kaki putranya.
"Kamu tahu apa artinya ini kalau sampai bocor ke investor?!" bentak Broto dengan mata merah menyala menatap Elio yang berdiri mematung berwajah pucat. "Kalau mereka tahu calon istrimu berani kabur, seluruh kesepakatan merger runtuh dalam semalam."
"Aku akan menemukannya, Pa. Beri aku waktu," rahang Elio menegang, harga dirinya hancur lebur setelah dihina ayahnya.
"Cari dia cepat, atau posisi CEO-mu aku kasih ke orang lain," ancam Broto kejam.
Elio keluar dari ruangan tersebut dengan napas memburu dan otak yang dipenuhi kepanikan murni. Kehilangan Sharen bukan hanya berarti kehilangan wanita yang ia obsesikan, melainkan juga menjadi ancaman nyata atas takhta kekuasaannya.
Ia masuk ke dalam mobilnya lalu menelepon Daniel Hartono, investigator swasta paling licin di Jakarta. "Aku butuh dia ditemukan. Diam-diam. Tiga kali lipat bayaranmu kalau kamu dapat dia dalam dua minggu," kata Elio di telepon.
Sementara Elio terbakar kepanikan, di lantai delapan belas gedung Grup Sagara, Reggie diam-diam melancarkan serangannya sendiri. Di tengah rapat divisi investasi yang absen dihadiri Elio, ia menanam keraguan di kepala dewan direksi soal kepemimpinan sepupunya yang dianggap labil.
Ia juga menyuap orang dalam jaringan Daniel agar setiap perkembangan pencarian dilaporkan lebih dulu padanya, sebelum sampai ke telinga Elio, memastikan papan catur telah sepenuhnya ia kuasai.
Daniel sendiri sedang memindai rentetan data penarikan tunai dan penjualan perhiasan Sharen, lalu bergumam pelan. "Cukup rapi untuk ukuran anak rumahan."
Ia menemukan satu arsip usang di layarnya berupa riwayat pertukaran pelajar SMP ke Leiden, Belanda.
Ponselnya bergetar hebat menerima pesan arogan dari Elio yang menuntut laporan. Ia mendengus muak membacanya, lalu sengaja mengetik balasan lambat.
[Daniel]: Jejaknya sangat bersih. Butuh verifikasi lebih lanjut sebelum bisa dilaporkan.
Pesan terkirim. Elio tidak akan tahu apa-apa malam ini. Daniel sudah memberi Sharen tambahan waktu untuk bernapas di Eropa sana.
Sharen memutuskan datang setelah semalaman menimbang, uang tunainya menipis dan tiga kali bertemu Skyler tanpa insiden buruk mulai terasa cukup untuk mencoba, bukan jaminan penuh, tapi cukup.Lonceng kuningan De Bladzijde berbunyi keras jam sepuluh kurang lima menit, udara dingin masih menempel di jaket Sharen. "Tepat waktu," Skyler muncul dari balik rak, lengan kemeja digulung membawa dua cangkir kopi."Aku bilang mau pikirin dulu, bukan janji pasti," Sharen berkata, setengah menguji reaksinya."Aku tahu," Skyler tersenyum santai. "Makanya aku nggak nunggu di depan pintu kayak orang aneh."Sharen nyaris tersenyum meski buru-buru menahannya. "Kalau aku nggak datang gimana?""Ya udah, aku cari orang lain," Skyler mengangkat bahu ringan. "Nggak masalah. Kamu yang tentuin, bukan aku." Jawaban tersebut terasa asing di telinga Sharen, terlalu santai untuk sesuatu yang biasanya dijadikan alasan marah oleh orang lain di hidupnya."Mau kopi apa?" tanyanya mengalihkan topik."Hitam, tanpa gula
Hujan turun tiba-tiba sore itu, jauh lebih deras dari gerimis yang pernah membuat Sharen berteduh bersama Skyler beberapa hari lalu. Tanpa payung, ia berlari mencari tempat perlindungan terdekat, tasnya didekap erat ke dada.Kakinya berhenti tepat di depan toko buku yang dicat merah bata, toko milik pria yang sudah dua kali ia temui tanpa sengaja.“Kenapa harus toko ini,” batinnya kesal menatap langit yang semakin gelap. “Tapi hujannya beneran deras. Nggak ada pilihan lain.” Ia melirik ke kanan dan kiri, mencari alternatif tempat berteduh lain tapi tidak ada. Jalanan berbatu itu sepi, toko-toko lain sudah tutup lebih awal karena cuaca.Ia mendorong pintu kayu, lonceng kuningan berdenting keras. Aroma buku lama dan kopi hitam langsung menyambut, menghangatkan tubuhnya yang basah kuyup. "Kamu lagi," suara bariton Skyler keluar dari balik meja kasir, terdengar terkejut dan geli. "Sudah tiga kali kita bertemu""Nggak sengaja," Sharen lagi-lagi menjawab singkat, menyeka air hujan dari leng
Tiga hari setelah insiden di kedai kopi, Sharen memutuskan tetap harus melewati jalan yang sama, toko kelontong terdekat hanya ada di ujung jalan berbatu tersebut, persis di dekat toko buku yang ia hindari.“Nggak apa-apa, Sharen. Kamu cuma perlu jalan terus, pria di toko buku itu bukan pengawal utusan Elio, kamu di Leiden sekarang bukan di Jakarta,” batin Sharen, terus-menerus meyakinkan dirinya sendiri.Ia sudah hafal rute memutar sejak dua hari lalu, tapi hari ini kakinya terlalu lelah untuk berjalan lebih jauh dari yang seharusnya. Ia berjalan cepat, menundukkan kepala, kantong belanja plastik tipis menggantung di kedua tangannya berisi roti, susu, dan beberapa kaleng sup murah.Di tikungan yang sempit, kantong sebelah kanan robek, kaleng sup jatuh keras ke trotoar lalu menggelinding cepat ke arah selokan. "Aduh," Sharen buru-buru jongkok, mengejar kaleng yang terus menggelinding makin jauh.Sebuah tangan besar terulur lebih dulu, menangkap kaleng tersebut tepat sebelum jatuh ke s
Baru dua hari di Leiden, kamar sewa Sharen sudah terasa seperti kurungan baru. Ukurannya memang lebih kecil, tapi tempat itu tetap saja penjara. Ia harus keluar, meski sekadar duduk di tempat asing dan berlagak sibuk.Ia menemukan kedai kopi kecil di ujung jalan berbatu, jendela besarnya menghadap ke toko buku bercat merah bata di seberang. Tempat tersebut sepi dan hangat. "Yang terpenting, ada dua pintu keluar," gumamnya lega saat melihat pintu satu di depan dan satu di belakang dekat toilet.Dia selalu duduk di tempat yang bisa melihat pintu, memilih kursi di sudut. "Jika ada sesuatu yang aneh, aku bisa langsung pergi," pikirnya mempertahankan kebiasaan yang sudah sangat melekat tersebut.Di Jakarta, ia belajar menghadap pintu tanpa sadar, cara menghitung berapa langkah ke jalan keluar terdekat, dan juga cara membaca nada suara orang lain sebelum kalimatnya selesai.Pelayan muda mendekat sambil membawa buku menu kecil. "Mau pesan apa, Nona?""Kopi hitam. Yang paling murah," kata Sha
Pesawat berbadan besar itu akhirnya mendarat dengan mulus di Bandara Schiphol. Langit Belanda masih tertutup kabut tipis khas musim gugur.Sharen membiarkan penumpang lain sibuk menurunkan barang bawaan dari kabin di atas kepala. Dadanya berdebar keras, terjebak antara rasa lega dan ketakutan yang mencekam."Jangan gemetar. Jangan sekarang," batinnya sambil melangkah menyusuri lorong bandara mengikuti papan penunjuk arah kuning bertuliskan "Douane".Antrean imigrasi bergerak lambat. Detak jantungnya memukul-mukul rusuk tanpa ampun, memaksanya berusaha keras menunjukkan wajah setenang mungkin demi menutupi tangan yang gemetar."Apa tujuan kunjungan Anda hari ini, Nona?" tanya petugas imigrasi sambil membolak-balik paspor hijaunya tanpa rasa curiga."Liburan, Pak," jawab Sharen dengan suara tegas dalam bahasa Belanda yang cukup baik, terdengar lebih stabil daripada yang ia sangka mampu ia keluarkan.Petugas itu mengangguk dengan bosan, lalu mengetuk stempel ke halaman paspornya dengan k
Rencana Sharen tampak sederhana di atas kertas, namun semua jadi jauh lebih rumit saat dijalankan. Ia harus mengumpulkan uang tunai untuk bertahan hidup di negeri asing tanpa boleh meninggalkan jejak transaksi yang bisa dilacak lewat rekening atau kartu kredit, karena asisten ayahnya selalu mengawasi mutasi dengan ketat.Wanita itu mengumpulkan dana dari hal-hal kecil, uang kembalian, dan amplop ulang tahun yang tak pernah disentuh. Ia juga nekat menjual perhiasan kecil yang tidak akan langsung terlihat hilang ke sebuah toko perhiasan kumuh di Mangga Dua."Ini bagus, Neng," kata Koh Aliong suatu sore saat memeriksa sepasang anting mutiara lewat kaca pembesar. "Tapi kok dijual? Sayang, ini kualitas oke.""Aku butuh uang cepat, Koh," jawab Sharen yang sudah menyiapkan alasan ini dengan baik.Koh Aliong mengangguk tanpa bertanya lagi, lalu menghitung harga dengan kalkulator tuanya sebelum menyerahkan amplop berisi uang tunai tanpa banyak bicara.Tepat setelah itu, ponselnya bergetar memu







