Share

BAB 7

Author: A.lyra
last update publish date: 2026-09-07 15:14:41

Hujan turun tiba-tiba sore itu, jauh lebih deras dari gerimis yang pernah membuat Sharen berteduh bersama Skyler beberapa hari lalu. Tanpa payung, ia berlari mencari tempat perlindungan terdekat, tasnya didekap erat ke dada.

Kakinya berhenti tepat di depan toko buku yang dicat merah bata, toko milik pria yang sudah dua kali ia temui tanpa sengaja.

“Kenapa harus toko ini,” batinnya kesal menatap langit yang semakin gelap. “Tapi hujannya beneran deras. Nggak ada pilihan lain.” Ia melirik ke kanan dan kiri, mencari alternatif tempat berteduh lain tapi tidak ada. Jalanan berbatu itu sepi, toko-toko lain sudah tutup lebih awal karena cuaca.

Ia mendorong pintu kayu, lonceng kuningan berdenting keras. Aroma buku lama dan kopi hitam langsung menyambut, menghangatkan tubuhnya yang basah kuyup. "Kamu lagi," suara bariton Skyler keluar dari balik meja kasir, terdengar terkejut dan geli. "Sudah tiga kali kita bertemu"

"Nggak sengaja," Sharen lagi-lagi menjawab singkat, menyeka air hujan dari lengannya dan masih berdiri kaku di dekat pintu. “Boleh aku numpang berteduh sebentar?.” Tanya Sharen akhirnya dengan sopan.

"Duduk aja dulu, aku ambilkan handuk," Skyler bangkit, tidak menunggu jawaban Sharen sebelum berjalan ke ruang belakang. Sharen ragu sebentar sebelum akhirnya melangkah ke kursi kayu di sudut ruangan, matanya tetap waspada dan menyapu setiap sudut toko.

Skyler kembali membawa handuk kecil dan secangkir teh panas. "Ini. Duduk aja sampai hujannya reda."

"Makasih," kata Sharen menerimanya tanpa banyak bicara, memegang cangkir teh dengan kedua tangan tapi tidak benar-benar meminumnya.

“Kamu kelihatan waswas banget dari awal kita ketemu." Kata Skyler santai, duduk di kursi seberang dengan jarak yang cukup sopan. Sharen terdiam sejenak, tersentak kecil mendengarnya. "Bukan begitu. Cuma... aku memang lebih suka sendiri." 

"Nggak apa-apa," Skyler mengangkat bahu, tidak tersinggung sama sekali. "Aku juga nggak akan maksa kamu ngobrol kalau nggak mau.

"Namaku Skyler. Skyler Prasetyo," ia mengulurkan tangan, meski tidak memaksa saat Sharen hanya mengangguk tanpa menyambutnya. "Ini tokoku, kalau kamu belum tahu."

"Aku tahu," Sharen menjawab, nyaris tersenyum. "Kamu udah bilang pas hujan kemarin."

"Oh iya," Skyler tertawa kecil, menggaruk belakang kepalanya. "Lupa aku udah pernah cerita."

Obrolan mereka berjalan pelan, tidak sederas hujan di luar. Skyler tidak mendesak Sharen bicara lebih banyak, membiarkan jeda-jeda panjang mengisi percakapan tanpa terasa canggung.

"Namaku Aurelia," Sharen akhirnya berkata, lebih pelan dari yang ia rencanakan, memakai nama tengahnya yang jarang ia bagikan ke orang asing.

"Aurelia," Skyler mengulang nama itu perlahan. "Nama yang bagus." Sharen hanya mengangguk, tidak tahu harus membalas apa. 

"Tokonya bagus," puji Sharen tulus sambil melihat sekeliling.

"Ini warisan kakekku," jawab Skyler. Matanya berpindah ke jajaran rak buku dengan sorot bangga yang bercampur sedikit beban. "De Bladzijde artinya 'halaman'. Toko ini sudah ada lebih dari lima puluh tahun. Kakekku bilang, setiap orang yang masuk ke toko ini seharusnya merasa seperti sedang membuka halaman baru dalam hidup mereka."

Sharen terdiam. Penjelasan itu terasa seperti kebetulan aneh yang menyinggung keputusan nekatnya untuk kabur dari Jakarta.

Waktu terasa berjalan lebih cepat dari yang ia sadari, ketika akhirnya ia menoleh ke jendela, hujan sudah lama reda menyisakan langit Leiden yang gelap sepenuhnya. "Aku harus balik," gumamnya bangkit dari kursi, meski ada bagian kecil dari dirinya yang tidak terlalu terburu-buru pergi.

"Aku bisa antar kamu," kata Skyler cepat. Ia mengambil payung hitam besar. "Ramalan cuaca bilang masih ada kemungkinan hujan susulan. Jalanan juga masih basah. Aku nggak enak kalau kamu jalan sendirian di kota yang belum kamu kenal, tapi kalau kamu nggak mau, aku nggak akan maksa."

Sharen menimbang sebentar, kewaspadaan lamanya masih ada tapi dua pertemuan sebelumnya membuat tawaran ini terasa sedikit lebih wajar dari yang seharusnya. “Ya udah," jawabnya akhirnya, tetap menjaga jarak sopan sepanjang jalan pulang.

Mereka berjalan bersisian menyusuri trotoar berbatu yang basah dan berkilau di bawah cahaya lampu jalan yang redup. Sampai akhirnya Mereka sampai di depan penginapan kecil tempat Sharen menginap.

Skyler berhenti, tidak mengikuti lebih jauh dari yang diperlukan. "Aku lagi butuh orang bantu-bantu di toko," katanya, nadanya santai, tidak berharap banyak. "Kalau kamu mau, datang aja besok jam sepuluh."

Sharen diam sejenak menimbang. "Aku pikirin dulu," jawabnya, lebih jujur daripada janji pasti.

"Nggak buru-buru, kok," Skyler mengangguk maklum. "Tokonya nggak akan ke mana-mana."

Sharen membalikkan badan, melangkah menuju pintu penginapan namun sempat berhenti sejenak di anak tangga pertama. "Makasih. Untuk tehnya," katanya tanpa menoleh sepenuhnya.

"Sama-sama," jawab Skyler dari kejauhan, suaranya hangat tanpa terdengar berharap lebih.

Ia naik ke kamarnya, tak lupa menulis catatan lalu merebahkan tubuh yang lelah membiarkan suara kota Leiden yang asing perlahan membawanya tidur. Untuk pertama kalinya sejak tiba, pikirannya tidak sepenuhnya dipenuhi bayangan Elio, meski kewaspadaannya belum benar-benar pergi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bukan Pernikahan Impian: Pelarian dari CEO Obsesif   BAB 8

    Sharen memutuskan datang setelah semalaman menimbang, uang tunainya menipis dan tiga kali bertemu Skyler tanpa insiden buruk mulai terasa cukup untuk mencoba, bukan jaminan penuh, tapi cukup.Lonceng kuningan De Bladzijde berbunyi keras jam sepuluh kurang lima menit, udara dingin masih menempel di jaket Sharen. "Tepat waktu," Skyler muncul dari balik rak, lengan kemeja digulung membawa dua cangkir kopi."Aku bilang mau pikirin dulu, bukan janji pasti," Sharen berkata, setengah menguji reaksinya."Aku tahu," Skyler tersenyum santai. "Makanya aku nggak nunggu di depan pintu kayak orang aneh."Sharen nyaris tersenyum meski buru-buru menahannya. "Kalau aku nggak datang gimana?""Ya udah, aku cari orang lain," Skyler mengangkat bahu ringan. "Nggak masalah. Kamu yang tentuin, bukan aku." Jawaban tersebut terasa asing di telinga Sharen, terlalu santai untuk sesuatu yang biasanya dijadikan alasan marah oleh orang lain di hidupnya."Mau kopi apa?" tanyanya mengalihkan topik."Hitam, tanpa gula

  • Bukan Pernikahan Impian: Pelarian dari CEO Obsesif   BAB 7

    Hujan turun tiba-tiba sore itu, jauh lebih deras dari gerimis yang pernah membuat Sharen berteduh bersama Skyler beberapa hari lalu. Tanpa payung, ia berlari mencari tempat perlindungan terdekat, tasnya didekap erat ke dada.Kakinya berhenti tepat di depan toko buku yang dicat merah bata, toko milik pria yang sudah dua kali ia temui tanpa sengaja.“Kenapa harus toko ini,” batinnya kesal menatap langit yang semakin gelap. “Tapi hujannya beneran deras. Nggak ada pilihan lain.” Ia melirik ke kanan dan kiri, mencari alternatif tempat berteduh lain tapi tidak ada. Jalanan berbatu itu sepi, toko-toko lain sudah tutup lebih awal karena cuaca.Ia mendorong pintu kayu, lonceng kuningan berdenting keras. Aroma buku lama dan kopi hitam langsung menyambut, menghangatkan tubuhnya yang basah kuyup. "Kamu lagi," suara bariton Skyler keluar dari balik meja kasir, terdengar terkejut dan geli. "Sudah tiga kali kita bertemu""Nggak sengaja," Sharen lagi-lagi menjawab singkat, menyeka air hujan dari leng

  • Bukan Pernikahan Impian: Pelarian dari CEO Obsesif   BAB 6

    Tiga hari setelah insiden di kedai kopi, Sharen memutuskan tetap harus melewati jalan yang sama, toko kelontong terdekat hanya ada di ujung jalan berbatu tersebut, persis di dekat toko buku yang ia hindari.“Nggak apa-apa, Sharen. Kamu cuma perlu jalan terus, pria di toko buku itu bukan pengawal utusan Elio, kamu di Leiden sekarang bukan di Jakarta,” batin Sharen, terus-menerus meyakinkan dirinya sendiri.Ia sudah hafal rute memutar sejak dua hari lalu, tapi hari ini kakinya terlalu lelah untuk berjalan lebih jauh dari yang seharusnya. Ia berjalan cepat, menundukkan kepala, kantong belanja plastik tipis menggantung di kedua tangannya berisi roti, susu, dan beberapa kaleng sup murah.Di tikungan yang sempit, kantong sebelah kanan robek, kaleng sup jatuh keras ke trotoar lalu menggelinding cepat ke arah selokan. "Aduh," Sharen buru-buru jongkok, mengejar kaleng yang terus menggelinding makin jauh.Sebuah tangan besar terulur lebih dulu, menangkap kaleng tersebut tepat sebelum jatuh ke s

  • Bukan Pernikahan Impian: Pelarian dari CEO Obsesif   BAB 5

    Baru dua hari di Leiden, kamar sewa Sharen sudah terasa seperti kurungan baru. Ukurannya memang lebih kecil, tapi tempat itu tetap saja penjara. Ia harus keluar, meski sekadar duduk di tempat asing dan berlagak sibuk.Ia menemukan kedai kopi kecil di ujung jalan berbatu, jendela besarnya menghadap ke toko buku bercat merah bata di seberang. Tempat tersebut sepi dan hangat. "Yang terpenting, ada dua pintu keluar," gumamnya lega saat melihat pintu satu di depan dan satu di belakang dekat toilet.Dia selalu duduk di tempat yang bisa melihat pintu, memilih kursi di sudut. "Jika ada sesuatu yang aneh, aku bisa langsung pergi," pikirnya mempertahankan kebiasaan yang sudah sangat melekat tersebut.Di Jakarta, ia belajar menghadap pintu tanpa sadar, cara menghitung berapa langkah ke jalan keluar terdekat, dan juga cara membaca nada suara orang lain sebelum kalimatnya selesai.Pelayan muda mendekat sambil membawa buku menu kecil. "Mau pesan apa, Nona?""Kopi hitam. Yang paling murah," kata Sha

  • Bukan Pernikahan Impian: Pelarian dari CEO Obsesif   BAB 4

    Pesawat berbadan besar itu akhirnya mendarat dengan mulus di Bandara Schiphol. Langit Belanda masih tertutup kabut tipis khas musim gugur.Sharen membiarkan penumpang lain sibuk menurunkan barang bawaan dari kabin di atas kepala. Dadanya berdebar keras, terjebak antara rasa lega dan ketakutan yang mencekam."Jangan gemetar. Jangan sekarang," batinnya sambil melangkah menyusuri lorong bandara mengikuti papan penunjuk arah kuning bertuliskan "Douane".Antrean imigrasi bergerak lambat. Detak jantungnya memukul-mukul rusuk tanpa ampun, memaksanya berusaha keras menunjukkan wajah setenang mungkin demi menutupi tangan yang gemetar."Apa tujuan kunjungan Anda hari ini, Nona?" tanya petugas imigrasi sambil membolak-balik paspor hijaunya tanpa rasa curiga."Liburan, Pak," jawab Sharen dengan suara tegas dalam bahasa Belanda yang cukup baik, terdengar lebih stabil daripada yang ia sangka mampu ia keluarkan.Petugas itu mengangguk dengan bosan, lalu mengetuk stempel ke halaman paspornya dengan k

  • Bukan Pernikahan Impian: Pelarian dari CEO Obsesif   BAB 3

    Rencana Sharen tampak sederhana di atas kertas, namun semua jadi jauh lebih rumit saat dijalankan. Ia harus mengumpulkan uang tunai untuk bertahan hidup di negeri asing tanpa boleh meninggalkan jejak transaksi yang bisa dilacak lewat rekening atau kartu kredit, karena asisten ayahnya selalu mengawasi mutasi dengan ketat.Wanita itu mengumpulkan dana dari hal-hal kecil, uang kembalian, dan amplop ulang tahun yang tak pernah disentuh. Ia juga nekat menjual perhiasan kecil yang tidak akan langsung terlihat hilang ke sebuah toko perhiasan kumuh di Mangga Dua."Ini bagus, Neng," kata Koh Aliong suatu sore saat memeriksa sepasang anting mutiara lewat kaca pembesar. "Tapi kok dijual? Sayang, ini kualitas oke.""Aku butuh uang cepat, Koh," jawab Sharen yang sudah menyiapkan alasan ini dengan baik.Koh Aliong mengangguk tanpa bertanya lagi, lalu menghitung harga dengan kalkulator tuanya sebelum menyerahkan amplop berisi uang tunai tanpa banyak bicara.Tepat setelah itu, ponselnya bergetar memu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status