LOGINSharen memutuskan datang setelah semalaman menimbang, uang tunainya menipis dan tiga kali bertemu Skyler tanpa insiden buruk mulai terasa cukup untuk mencoba, bukan jaminan penuh, tapi cukup.
Lonceng kuningan De Bladzijde berbunyi keras jam sepuluh kurang lima menit, udara dingin masih menempel di jaket Sharen. "Tepat waktu," Skyler muncul dari balik rak, lengan kemeja digulung membawa dua cangkir kopi.
"Aku bilang mau pikirin dulu, bukan janji pasti," Sharen berkata, setengah menguji reaksinya.
"Aku tahu," Skyler tersenyum santai. "Makanya aku nggak nunggu di depan pintu kayak orang aneh."
Sharen nyaris tersenyum meski buru-buru menahannya. "Kalau aku nggak datang gimana?"
"Ya udah, aku cari orang lain," Skyler mengangkat bahu ringan. "Nggak masalah. Kamu yang tentuin, bukan aku." Jawaban tersebut terasa asing di telinga Sharen, terlalu santai untuk sesuatu yang biasanya dijadikan alasan marah oleh orang lain di hidupnya.
"Mau kopi apa?" tanyanya mengalihkan topik.
"Hitam, tanpa gula," Skyler menyodorkan salah satu cangkir. "Coba dulu. Kalau nggak suka, aku bikinin yang lain." Sharen menatap cangkirnya sebentar, Elio dulu tidak pernah kasih pilihan sesederhana ini, selalu espresso ganda demi citra.
"Hitam pas, kok," jawabnya pelan. "Tugasku apa hari ini?"
"Jangan panggil bos, ya, kalau kamu mau bilang itu," Skyler menyodorkan celemek kanvas, seolah bisa membaca pikiran Sharen. "Rapiin fiksi dan literatur klasik di lorong kanan. Sisanya bantu jaga kasir kalau aku lagi ngecek gudang."
"Cuma nata buku?" Sharen memastikan, menerima celemek dengan gerakan hati-hati.
"Cuma itu. Jangan maksain diri hari pertama," Skyler menunjuk kursi dekat jendela. "Kalau capek, duduk aja di situ."
"Nggak akan aku bikin repot," gumam Sharen, lebih pada dirinya sendiri daripada kepada Skyler.
"Di sini nggak ada target harian, Aurelia. Kerja aja sesuai ritmemu." Balas Skyler. Nama tengahnya terdengar aneh sekaligus menenangkan dari mulut orang yang baru tiga kali ia temui, Sharen mengangguk singkat berjalan ke lorong rak tanpa berkata apa-apa lagi.
Tiga jam berlalu tanpa terasa, jauh dari gaun sempit dan jadwal ketat, hanya aroma kertas tua dan keheningan yang perlahan terasa nyaman. "Kamu fokus banget," Skyler mengejutkannya, sudah bersandar di rak sebelah.
Sharen sedikit tersentak, refleks mundur setengah langkah sebelum sadar yang berdiri di sana cuma Skyler. "Maaf, kaget."
"Aku yang harusnya minta maaf," Skyler mundur selangkah, memberi jarak lebih. "Nggak niat bikin kaget."
"Nggak apa-apa," Sharen menggeleng, mencoba tersenyum kecil. "Aku suka wangi kertas di sini," kata Sharen jujur. "Buku-buku tua ini kayak punya cerita sendiri."
"Kakekku juga selalu bilang begitu. Dia bilang, setiap buku sedang menunggu pemilik aslinya." Jawab Skyler.
"Itu terdengar puitis untuk seorang penjual buku," goda Sharen. Skyler tertawa kecil, tidak melangkah lebih dekat kali ini, seolah sengaja menjaga jarak setelah insiden kaget tadi.
"Itu sebabnya kakek nggak pernah mau ganti rak kayu ini dengan rak besi. Katanya kayu menyimpan ingatan, persis seperti manusia." Lanjutnya.
Sharen menelan ludah. Tatapan Skyler tidak mengintimidasi, tapi ada sesuatu di sana yang membuatnya menahan napas.
"Rak paling atas, ujung kanan, kalau kamu cari buku puisi terjemahan Prancis. Ada pelanggan lansia yang biasa nanya itu." Sharen berjalan ke rak tertinggi, berjinjit meraih buku yang dimaksud, tangannya tidak sengaja menyenggol satu buku bersampul kulit tebal, meluncur jatuh ke arah wajahnya.
"Awas." Skyler langsung mengulurkan lengan dan menangkap buku itu hanya beberapa senti dari hidung Sharen. Punggung Sharen membentur dada Skyler. Napas hangat pria itu terasa di puncak kepalanya.
"Hati-hati, kayu di atas licin," bisik Skyler, sangat dekat. Tubuh Sharen membeku. Alarm waspada di kepalanya menyala. Tapi anehnya, insting terdalamnya justru merasa aman.
"Makasih," Sharen mengambil alih buku itu cepat, mundur selangkah begitu tangan mereka nyaris bersentuhan. Namun gerakan mundurnya terlalu cepat, pergelangan tangannya bergesekan keras dengan sudut rak.
"Aw!" Ia meringis, memegangi tangannya.
Skyler refleks maju lalu menahan diri, tangannya berhenti di udara tanpa menyentuh. "Kena sudut kayu? Boleh aku lihat?" Sharen ragu sebentar, lalu mengulurkan tangannya sendiri, bukan membiarkan Skyler meraihnya seperti sebelumnya.
Skyler memeriksa dari jarak aman, Sharen berniat menarik tangannya. Namun, ia terhenti ketika melihat ke mana Skyler memandang. Pria itu tidak melihat goresan barunya. Ia malah terpaku pada ruam kemerahan yang melingkar di pergelangan tangannya. Itu bekas jam tangan pelacak yang dulu Elio paksa ia pakai siang malam.
Ibu jari Skyler melayang di udara di atas luka itu, tidak menyentuhnya. Rahangnya menegang. "Aurelia," suaranya berat. "Ini luka apa?"
Sharen menarik tangannya sendiri, menyembunyikannya di balik punggung. "Alergi. Gelang besi murahan."
Skyler menatap wajah pucatnya dengan saksama. Luka yang sesimetris dan sedalam itu jelas bukan alergi biasa. "Alergi biasanya nggak ninggalin bekas melingkar serapi ini," Skyler bilang pelan, bukan menuduh, hanya mengamati dari jarak yang tetap ia jaga.
Sharen diam, menunduk. Dadanya berdegup kencang. "Oke," katanya lembut, tidak mendesak. "Aku nggak akan maksa kamu cerita."
"Makasih," Sharen menghela napas lega, sedikit terkejut betapa mudahnya Skyler mundur tanpa protes.
"Ayo balik ke kasir. Aku harus catat namamu di buku log pegawai." Sharen mengikutinya, jaraknya tetap terjaga sepanjang jalan, Skyler mengambil buku catatan kulit tua dan pena tinta. “Sistemnya masih pakai cara manual. Aku butuh nama lengkapmu."
Sharen menimbang cepat, kalau ada yang periksa dokumen resmi nanti, nama palsu justru bisa jadi masalah baru. Toh ini cuma kota kecil di Belanda. Tidak akan ada yang tahu keluarga konglomerat Adiratna dari Jakarta di tempat setenang ini.
"Aurelia Adiratna," jawabnya mantap.
Tangan Skyler yang hendak menulis tiba-tiba berhenti di udara. Pria itu diam, ujung penanya kaku menggantung di atas kertas. Suasana hangat di kasir langsung berubah menjadi tegang.
"Ada apa?" tanya Sharen cemas, mulai menyesali keputusannya.
Skyler mengangkat wajah, menatap lurus, seolah baru menemukan kepingan puzzle yang selama ini dicarinya, penanya masih menggantung di udara tidak bergerak, seolah tangannya sendiri menolak menulis lebih jauh sebelum kepalanya selesai memproses apa yang baru saja ia dengar.
Sharen memutuskan datang setelah semalaman menimbang, uang tunainya menipis dan tiga kali bertemu Skyler tanpa insiden buruk mulai terasa cukup untuk mencoba, bukan jaminan penuh, tapi cukup.Lonceng kuningan De Bladzijde berbunyi keras jam sepuluh kurang lima menit, udara dingin masih menempel di jaket Sharen. "Tepat waktu," Skyler muncul dari balik rak, lengan kemeja digulung membawa dua cangkir kopi."Aku bilang mau pikirin dulu, bukan janji pasti," Sharen berkata, setengah menguji reaksinya."Aku tahu," Skyler tersenyum santai. "Makanya aku nggak nunggu di depan pintu kayak orang aneh."Sharen nyaris tersenyum meski buru-buru menahannya. "Kalau aku nggak datang gimana?""Ya udah, aku cari orang lain," Skyler mengangkat bahu ringan. "Nggak masalah. Kamu yang tentuin, bukan aku." Jawaban tersebut terasa asing di telinga Sharen, terlalu santai untuk sesuatu yang biasanya dijadikan alasan marah oleh orang lain di hidupnya."Mau kopi apa?" tanyanya mengalihkan topik."Hitam, tanpa gula
Hujan turun tiba-tiba sore itu, jauh lebih deras dari gerimis yang pernah membuat Sharen berteduh bersama Skyler beberapa hari lalu. Tanpa payung, ia berlari mencari tempat perlindungan terdekat, tasnya didekap erat ke dada.Kakinya berhenti tepat di depan toko buku yang dicat merah bata, toko milik pria yang sudah dua kali ia temui tanpa sengaja.“Kenapa harus toko ini,” batinnya kesal menatap langit yang semakin gelap. “Tapi hujannya beneran deras. Nggak ada pilihan lain.” Ia melirik ke kanan dan kiri, mencari alternatif tempat berteduh lain tapi tidak ada. Jalanan berbatu itu sepi, toko-toko lain sudah tutup lebih awal karena cuaca.Ia mendorong pintu kayu, lonceng kuningan berdenting keras. Aroma buku lama dan kopi hitam langsung menyambut, menghangatkan tubuhnya yang basah kuyup. "Kamu lagi," suara bariton Skyler keluar dari balik meja kasir, terdengar terkejut dan geli. "Sudah tiga kali kita bertemu""Nggak sengaja," Sharen lagi-lagi menjawab singkat, menyeka air hujan dari leng
Tiga hari setelah insiden di kedai kopi, Sharen memutuskan tetap harus melewati jalan yang sama, toko kelontong terdekat hanya ada di ujung jalan berbatu tersebut, persis di dekat toko buku yang ia hindari.“Nggak apa-apa, Sharen. Kamu cuma perlu jalan terus, pria di toko buku itu bukan pengawal utusan Elio, kamu di Leiden sekarang bukan di Jakarta,” batin Sharen, terus-menerus meyakinkan dirinya sendiri.Ia sudah hafal rute memutar sejak dua hari lalu, tapi hari ini kakinya terlalu lelah untuk berjalan lebih jauh dari yang seharusnya. Ia berjalan cepat, menundukkan kepala, kantong belanja plastik tipis menggantung di kedua tangannya berisi roti, susu, dan beberapa kaleng sup murah.Di tikungan yang sempit, kantong sebelah kanan robek, kaleng sup jatuh keras ke trotoar lalu menggelinding cepat ke arah selokan. "Aduh," Sharen buru-buru jongkok, mengejar kaleng yang terus menggelinding makin jauh.Sebuah tangan besar terulur lebih dulu, menangkap kaleng tersebut tepat sebelum jatuh ke s
Baru dua hari di Leiden, kamar sewa Sharen sudah terasa seperti kurungan baru. Ukurannya memang lebih kecil, tapi tempat itu tetap saja penjara. Ia harus keluar, meski sekadar duduk di tempat asing dan berlagak sibuk.Ia menemukan kedai kopi kecil di ujung jalan berbatu, jendela besarnya menghadap ke toko buku bercat merah bata di seberang. Tempat tersebut sepi dan hangat. "Yang terpenting, ada dua pintu keluar," gumamnya lega saat melihat pintu satu di depan dan satu di belakang dekat toilet.Dia selalu duduk di tempat yang bisa melihat pintu, memilih kursi di sudut. "Jika ada sesuatu yang aneh, aku bisa langsung pergi," pikirnya mempertahankan kebiasaan yang sudah sangat melekat tersebut.Di Jakarta, ia belajar menghadap pintu tanpa sadar, cara menghitung berapa langkah ke jalan keluar terdekat, dan juga cara membaca nada suara orang lain sebelum kalimatnya selesai.Pelayan muda mendekat sambil membawa buku menu kecil. "Mau pesan apa, Nona?""Kopi hitam. Yang paling murah," kata Sha
Pesawat berbadan besar itu akhirnya mendarat dengan mulus di Bandara Schiphol. Langit Belanda masih tertutup kabut tipis khas musim gugur.Sharen membiarkan penumpang lain sibuk menurunkan barang bawaan dari kabin di atas kepala. Dadanya berdebar keras, terjebak antara rasa lega dan ketakutan yang mencekam."Jangan gemetar. Jangan sekarang," batinnya sambil melangkah menyusuri lorong bandara mengikuti papan penunjuk arah kuning bertuliskan "Douane".Antrean imigrasi bergerak lambat. Detak jantungnya memukul-mukul rusuk tanpa ampun, memaksanya berusaha keras menunjukkan wajah setenang mungkin demi menutupi tangan yang gemetar."Apa tujuan kunjungan Anda hari ini, Nona?" tanya petugas imigrasi sambil membolak-balik paspor hijaunya tanpa rasa curiga."Liburan, Pak," jawab Sharen dengan suara tegas dalam bahasa Belanda yang cukup baik, terdengar lebih stabil daripada yang ia sangka mampu ia keluarkan.Petugas itu mengangguk dengan bosan, lalu mengetuk stempel ke halaman paspornya dengan k
Rencana Sharen tampak sederhana di atas kertas, namun semua jadi jauh lebih rumit saat dijalankan. Ia harus mengumpulkan uang tunai untuk bertahan hidup di negeri asing tanpa boleh meninggalkan jejak transaksi yang bisa dilacak lewat rekening atau kartu kredit, karena asisten ayahnya selalu mengawasi mutasi dengan ketat.Wanita itu mengumpulkan dana dari hal-hal kecil, uang kembalian, dan amplop ulang tahun yang tak pernah disentuh. Ia juga nekat menjual perhiasan kecil yang tidak akan langsung terlihat hilang ke sebuah toko perhiasan kumuh di Mangga Dua."Ini bagus, Neng," kata Koh Aliong suatu sore saat memeriksa sepasang anting mutiara lewat kaca pembesar. "Tapi kok dijual? Sayang, ini kualitas oke.""Aku butuh uang cepat, Koh," jawab Sharen yang sudah menyiapkan alasan ini dengan baik.Koh Aliong mengangguk tanpa bertanya lagi, lalu menghitung harga dengan kalkulator tuanya sebelum menyerahkan amplop berisi uang tunai tanpa banyak bicara.Tepat setelah itu, ponselnya bergetar memu







