เข้าสู่ระบบMalam semakin larut dan dentuman musik di The Midnight Eclipse terasa semakin menghentak, seolah-olah sedang memacu adrenalin setiap orang di dalamnya. Anya terus bergerak dari satu meja ke meja lainnya, mengantar gelas-gelas kristal dan botol-botol minuman beralkohol yang harganya sanggup membayar biaya sewa kosnya selama setahun penuh.
Baru saja Anya ingin menghela napas, seorang pria paruh baya yang tampak mabuk di meja nomor empat menarik pergelangan tangannya dengan kasar saat Anya hendak meletakkan minuman. "Hei, cantik. Jangan buru-buru pergi," ucap pria itu dengan napas yang berbau alkohol tajam dan matanya menatap Anya dengan cara yang sangat menjijikkan seolah ingin memangsa Anya. "Duduklah di sini sebentar, temani aku minum. Aku akan memberimu tip sepuluh kali lipat dari gajimu malam ini," lanjutnya. Anya sendiri merasakan mual yang luar biasa merayap di perutnya, ia mencoba menarik tangannya dengan sopan namun tegas. "Maaf, Tuan. Saya hanya bertugas mengantar minuman, jadi silakan dinikmati minumannya," jawab Anya sesantai mungkin meski jantungnya berdegup kencang karena takut sesuatu terjadi padanya. Pria itu justru tertawa ketika mendengar jawaban Anya dan ia semakin mempererat cengkeramannya pada tangan Anya, "Jangan jual mahal, sayang. Aku tahu perempuan seperti kamu ini berada di sini hanya mencari uang kan? Jadi, berapa harga yang kamu pasang? sebutkan saja berapapun pasti akan aku bayar," tanya pria itu. Melihat pria itu semakin tidak sopan, Anya teringat pesan Joseph, jika ada yang kurang ajar, maka Anya harus langsung pergi. Anya pun segera memberontak dan ingin pergi, namun pria itu menahan tangannya dengan sangat kuat hingga pergelangan tangan Anya terasa perih. "Lepaskan tangan saya! Atau saya panggilkan keamanan untuk mengusir anda," ancam Anya yang suaranya kini terdengar lebih tajam. Pria itu mendengus sinis, baru saja ia ingin membalas ucapan Anya tiba-tiba seorang pria lain bersuara dari arah belakang Anya. "Dia bilang lepaskan tangannya," ucap pria dibelakang Anya. Suara pria itu rendah, dalam dan penuh dengan nada ancaman yang tidak main-main, pria mabuk itu menoleh dan seketika wajahnya yang kemerahan berubah menjadi pucat pasi. Pria itu segera melepaskan tangan Anya seolah-olah tangan Anya itu baru saja berubah menjadi bara api. "Keluar," ucap pria itu singkat namun mutlak. Pria mabuk itu tidak membuang waktu dan segera lari meninggalkan meja tersebut. "Terima kasih atas bantuannya, Tuan," ucap Anya. Hening sejenak di antara mereka, meski musik di sekitar masih hingar bingar. Anya akhirnya memberanikan diri untuk berbalik perlahan dan di depannya, seorang pria berdiri dengan sangat tegak. Jasnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan pergelangan tangan yang kokoh. Anya sendiri begitu terkejut ketika melihat pria yang tadi sempat ia antarkan minumannya, pria dengan tatapan tajam dan tidak bersahabat. Meskipun Anya takut ada pria itu, Anya tetap mengucapkan terima kasih karena bagaimanapun, pria itu sudah membantunya. "Sekali lagi, terima kasih Tuan," ucap Anya lagi. Pria itu menatap Anya dari ujung kepala hingga ujung kaki, tatapannya tertuju pada bibir merah darah Anya lalu turun ke bagian bahu dan punggungnya yang terbuka karena potongan gaun yang berani itu. "Tuan," panggil Anya ragu karena tidak mendapat balasan dari pria di hadapannya ini. Sayangnya, pria itu kembali tidak menjawabnya. Pria tampan bernama Narendra Arkan Atmaja itu hanya diam, ia tampak seperti pemangsa yang baru saja menemukan mangsa yang menarik. Selama bertahun-tahun tinggal di luar negeri, Arkan telah melihat ribuan wanita cantik, namun ada sesuatu pada wanita di depannya ini yang membuatnya merasa terusik. Arkan bukanlah pria yang suka mencampuri urusan orang lain, bahkan di dunia bisnis, ia dikenal sebagai sang pemotong karena kemampuannya memutus kontrak atau memecat orang tanpa kedipan mata. Namun malam ini, saat ia melihat seorang pelayan bar yang tampak rapuh namun keras kepala sedang dilecehkan, amarah yang dingin tiba-tiba menyulut dadanya padahal Arkan tidak mengenal perempuan tersebut. "Siapa namamu?" tanya Arkan yang suaranya terdengar otoriter di tengah kebisingan. "A-Anya, Tuan," jawab Anya terbata karena gugup dan takut. Arkan menarik napas panjang, matanya tidak lepas dari wajah Anya yang tampak kontras dengan suasana bar yang liar. "Anya, saya tidak suka basa-basi, saya sedang membutuhkan seorang istri, jadi menikahlah denganku," ucqp Arkan. Anya tertegun dan merasa pendengarannya sedang bermasalah, seorang pria asing yang auranya sangat mengintimidasi dan jelas berasal dari kasta yang jauh berbeda darinya tiba-tiba melamarnya di tengah bar remang-remang setelah menyelamatkannya dari pria mabuk. "Maaf? Tuan, saya rasa anda salah orang. Saya baru saja mengenal anda dua menit yang lalu," ucap Anya. Anya mengerjapkan mata, mencoba mencari tanda-tanda bahwa pria ini sedang bercanda atau mabuk. "Saya serius, sebutkan berapa pun nominal yang kamu butuhkan. Saya akan memberikannya asalakan kamu mau menikah dengan saya," ucap Arkan. Mendengar hal itu, uang dua miliar pun terlintas di benak Anya. Uang itu bisa menyelamatkan ibunya dan rumah mereka. Namun, akal sehat Anya masih berfungsi, ia tidak ingin menjual seluruh hidupnya pada pria asing yang tampak seperti iblis tampan ini. 'Menjadi pelayan bar selama semalam saja sudah membuatnya sangat tertekan, apalagi menjadi istri dari pria semacam ini,' batin Anya. "Tidak, terima kasih atas bantuannya, Tuan. Tapi, saya tidak mau menjual diri saya," jawab Anya tegas, meski suaranya sedikit gemetar. Arkan sedikit mengangkat alisnya karena ua tidak terbiasa dengan penolakan. Biasanya, orang-orang akan berlutut untuk mendapatkan perhatiannya apalagi tawaran finansial darinya. Ada kilatan rasa tidak suka di matanya, namun ia tidak kehilangan kendali. "Harga diri tidak akan membayar tagihanmu, apa masalah keuanganmu bisa dibayar dengan harga dirimu. Tidak Anya, jadi pikirkan lagi," jawab Arkan dingin. Arkan melihat pergelangan tangan Anya yang merah dengan tatapan datar lalu kembali menatap matanya. "Tapi baiklah, aku tidak punya waktu untuk membujuk orang yang keras kepala," lanjutnya. Tanpa kata pamit atau menoleh lagi, Arkan berbalik. Ia mengambil jasnya yang tersampir di kursi lalu melangkah pergi menembus kerumunan orang. Langkah kakinya begitu cepat dan tegas, menunjukkan bahwa penolakan Anya hanyalah gangguan kecil dalam jadwalnya yang padat. Anya berdiri mematung di samping meja, menatap punggung Arkan yang menghilang dibalik pintu, di mama Arkan kembali ke ruanhan VVIP. Anya akhirnya menghela napas panjang, bahunya merosot karena lega, jantungnya perlahan kembali ke detak yang normal. "Syukurlah, pria aneh," gumam Anya. Anya mengusap pergelangan tangannya yang masih terasa perih dan Anya merasa sangat beruntung pria itu tidak memaksa atau membuat keributan lebih lanjut. . . . Bersambung.....Anya menaruh jas tersebut di sofa dan belum sempat ia bergerak jauh, sebuah tangan kokoh menyambar pergelangan tangannya. "Tuan!" pekik Anya. Anya begitu terkejut saat tubuhnya ditarik dengan satu sentakan kuat oleh Arkan dan dalam sekejap punggungnya sudah menempel pada pintu kayu jati yang dingin, sementara tubuh tegap Arkan mengurungnya tanpa celah, aroma sandalwood yang bercampur dengan parfum mahal pria itu kembali menyerang indra penciumannya membuatnya pening seketika. Arkan tidak mengatakan sepatah kata pun, matanya yang biasanya dingin kini tampak menggelap, penuh dengan kilatan yang sulit diartikan, sesuatu yang jauh lebih intens daripada sekadar akting di depan orang tuanya. Arkan menangkup wajah Anya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap mengunci pinggang Anya dan menekan wanita itu agar tetap menempel padanya, Arkan tidak membiarkan Anya menjauh darinya sedikitpun. Detik berikutnya, Arkan menunduk dan menyatukan bibir mereka. Berbeda dengan c**m*n di
"Kamu tidak perlu khawatir, aku bisa menyelesaikannya," ucap Arkan. Arkan dan Anya pun keluar dari mobil, Anya menatap rumah mewah dihadapannya dengan rasa takut yang besar. Arkan menggenggam tangan Anya dan membawanya masuk kedalam rumah megah tersebut. Begitu mereka masuk kedalam rumah tersebut, terlihatlah sepasang suami istri paruh baya yang tampak sangat elegan yang tengah duduk santai di ruang tamu. Mereka adalah Papa Arga dan Mama Luna, keduanya langsung melihat kearah Arkan dengan penuh tanya. "Arkan? Siapa wanita ini?" tanya Mama Luna. Matanya memicing menatap Anya yang tampak gemetar di balik jas yang disampirkan Arkan di bahunya. Arkan sendiri tidak menjawabnya dengan kata-kata, ia justru mengangkat tangan kanan Anya, menunjukkan cincin berlian yang melingkar indah di sana. "Perkenalkan, ini Anya, istriku. Kami baru saja meresmikan pernikahan kami di kapel pagi tadi," jawab Arkan. "Apa!" Papa Arga dan Mama Luna berseru bersamaan. Suasana seketika hening, Anya nya
Tepat saat Anya sedang mengagumi pantulan dirinya yang tampak sangat asing, pintu ruangan rias terbuka dengan suara yang tegas. Arkan melangkah masuk, mengenakan tuksedo hitam yang dijahit sempurna, membungkus tubuh tegapnya dengan aura otoritas yang sangat kental.Langkah kaki Arkan terhenti beberapa meter di belakang Anya. Untuk sesaat, keheningan menyelimuti ruangan itu, mata Arkan yang biasanya setajam elang dan dingin, kini meredup sesaat saat menatap punggung Anya yang terbalut gaun sutra. Arkan tertegun melihat bagaimana gadis yang semalam bersimbah alkohol dan luka, kini menjelma menjadi sosok yang begitu anggun.Anya membalikkan tubuhnya perlahan dan memegang pinggiran gaunnya dengan cemas, "Tuan Arkan," panggil Anya pelan."Arkan," potong pria itu dengan suara rendah namun tegas lalu melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma sandalwood yang menjadi ciri khasnya kembali merasuki indra penciuman Anya."Panggil aku Arkan," lanjutnya.Arkan mengulurkan tan
Rahang Arkan mengeras, informasi yang baru saja ia dengar dari mulut Anya seperti sebuah tamparan keras baginya. Sebagai pemimpin tertinggi Atmaja Group, ia selalu menekankan kebijakan kesejahteraan yang adil, termasuk instruksi khusus untuk menyamakan standar gaji antara pegawai tetap dan kontrak.Namun kenyataannya, wanita di depannya ini justru hidup terjepit dalam kemiskinan meskipun bekerja di bawah naungan perusahaannya. "Siapa atasanmu di divisi itu?" tanya Arkan yang suaranya kini terdengar sangat rendah dan berbahaya.Anya tentu saja bingung karena Arkan yang tiba-tiba terlihat sangat marah setelah mendengar soal pekerjaannya. "Bu Oliv, Tuan. Tapi itu sudah biasa, katanya potongan itu untuk biaya administrasi dan penjamin kontrak," ucap Anya.Arkan mengepalkan tangan di samping tubuhnya, 'Administrasi? Penjamin? Itu adalah bahasa halus untuk pemotongan gaji ilegal atau pungutan liar,' batin Arkan dan ia mencatat nama itu dalam benaknya.Besok, bukan hanya urusan pernikahan
Pintu tertutup rapat, menyisakan keheningan yang menyesakkan di antara Arkan dan Anya, Arkan berjalan perlahan menuju sofa lalu duduk dengan kaki menyilang, menunjukkan otoritasnya yang tak terbantahkan. Arkan menatap Anya yang masih berdiri mematung, tampak kecil di balik jas mahalnya yang kini ternoda sedikit darah dari jemari Anya. "Duduk," perintah Arkan singkat. Anya menurut dengan tubuh gemetar, ia duduk di ujung sofa dan menunduk dalam-dalam. "Terima kasih, Tuan. Sa-saya akan mencicil uang jam itu, saya akan bekerja keras untuk mengembalikannya," bisik Anya parau dan suaranya nyaris hilang ditelan isak tangis yang tertahan. Arkan mendengus dingin, sebuah tawa sarkas lolos dari bibirnya. "Mencicil? Lima miliar rupiah, Anya. Belum lagi utang ayahmu sebesar dua miliar pada rentenir yang mengejarmu dan tagihan rumah sakit ibumu yang mencapai seratus lima puluh juta, berapa ratus tahun kamu harus bekerja di bar ini untuk melunasinya?" tanya Arkan. Anya tersentak hebat mendengar
Anya merasa dunianya seakan berhenti berputar, suara caci maki Tuan Tyo terasa jauh, berganti dengan suara denging di telinganya. Di antara rasa perih di pipi dan luka di tangannya, Anya merasa dirinya telah mencapai titik nadir. Lima miliar, angka itu tertawa di dalam kepalanya, mengejek kemiskinan dan kemalangannya."Berdiri kamu! Jangan cuma menangis! Joseph! Di mana kamu? Lihat apa yang dilakukan pelayanmu ini!" bentak Tuan Tyo dan kembali menarik bahu Anya dengan kasar hingga membuat tubuh mungil itu terhuyung.Joseph datang dengan wajah pucat pasi, ia melihat botol Louis XIII yang hancur dan lebih ngeri lagi melihat jam tangan Tuan Tyo yang rusak."Maaf, Tuan Tyo. Maafkan kami. Anya masih baru, saya akan mengurusnya...," ucapan Joseph terhenti karena Tuan Tyo yang bersuara."Mengurus? Kau mau bayar jam saya? Hah!" bentak Tuan Tyo bahkan hampir saja melayangkan tinjunya pada Joseph, namun langkahnya terhenti.Suasana bar yang tadinya riuh oleh bisik-bisik me







