Share

2. Putusan saja dia!

Author: Intans Ranum
last update publish date: 2025-12-16 10:44:21

“Arghhh…. Feris! Kenapa kamu masuk-”

Jeritannya mereda saat mendengar bisikan suara khas pria milik Feris. 

Nafasnya tercekat merasakan punggungnya yang telah menempel di dada bidang Feris dan wajah pria itu yang mulai tenggelam di cekungan lehernya. 

Sementara kedua telapak tangan pria itu mulai mengelus perut dan bermain-main di dadanya. Ciuman basah pria itu mulai merambati naik ke leher, rahang dan berhenti di balik telinga. Menggigit telinganya dengan gemas sebelum kemudian tubuhnya dibalik dan didorong ke dinding. Wajah Neyra terdongak sementara wajah Feris menunduk, tatapan Feris menguncinya. 

"Aku selalu suka reaksi dan rasa tubuh kamu." Kedua mata Feris mulai berkabut, menginginkan wanitanya sekarang juga. 

"Aku akan membuatmu tak bisa memikirkan hal selain aku…”

Suara Feris tersengal oleh gairah yang sudah mengalir kencang di setiap pembuluh darahnya. Menginginkan Neyra dengan sangat. Membuat remasan tangannya di dada wanita itu sedikit keras dan Neyra tersentak kaget. 

Namun, dengan cepat ia menenangkan wanita itu dengan lumatan yang panjang. Menyentuh dan mencium setiap jengkal kulit di tubuh wanitanya di manapun yang ia inginkan. 

Ketika semua menjadi begitu tak tertahankan, Feris mengangkat pinggang Neyra dan melilitkan kedua kaki wanita itu di pinggangnya. Menunggu tubuh Neyra menerimanya. Menerima semua hasrat dan gairah yang berpadu kuat. Ia bisa merasakan ketegangan dan rontaan dari Neyra yang dengan mudah ia tahan hingga sampai pada pelepasan yang luar biasa. Membuat nafasnya tersengal karena kepuasan yang begitu besar. 

Setengah jam kemudian, ketika keduanya sudah keluar dari kamar mandi, Feris tentu saja tak melewatkan setiap menit dan kesempatan untuk bersenang-senang dengan pembayarannya. Ia kembali membaringkan tubuh telanjang Neyra di ranjangnya. 

Menyentuh wanita itu lagi dan lagi seolah membalas segala rindu yang pernah terlarang dan ia tak akan pernah bosan. Hingga akhirnya Neyra kelelahan dan kehabisan tenaga, barulah ia membiarkan wanita itu tertidur. 

Esok paginya, Neyra bangun lebih dulu dengan seluruh tulang yang remuk redam. Kepalanya pusing oleh rasa lapar dan terperangah menemukan tubuhnya telanjang di balik selimut. Ia bangun terduduk dan hampir menjerit jika tidak ingat apa yang terjadi kemarin malam, yang membuatnya bangun di tengah tempat tidur yang seperti kapal pecah.

 "Akhirnya kamu bangun juga?" Suara dari arah samping mengalihkan perhatian Neyra. Menemukan Feris yang berbaring menghadap ke arahnya dengan tubuh bagian atas yang polos. 

“Kenapa kamu melihatku begitu?”

“Pria yang semalam, apa masalah kalian sebenarnya?”

“Apa?” tanya Neyra mengumpulkan ingatannya.

“Okan, kenapa kalian sampai bertengkar di depan lift hotel setelah dia memperkenalkan kamu sebagai pendampingnya, eh?” 

“Masalah yang sama, entahlah aku nggak mau membahasnya.”

“Kalau begitu putuskan saja dia sekarang!”

“Apa?!”

“Aku mau kamu jadi kekasih gelapku dan kali ini hanya ada aku, pria di hidup kamu, paham!”

“Kenapa tiba-tiba, maksudku… apa aku terlihat wanita seperti itu di mata kamu, sampai aku semudah itu memutuskan pacarku dan berpindah ke kamu, hah?!”

“Apa bukan?” 

Neyra mengatupkan bibirnya, sakit hati karena ia harus berada di posisi yang menyalahkannya. Sial!

“Dan tentang permintaanmu yang semalam, aku akan segera beri perkembangan kasusnya siang ini jadi tunggu saja pesan dariku.”

“Benarkah? Ah… maksudku terima kasih.” 

“Pastikan aja kamu melakukan apa yang kuinginkan, paham?”

Feris tersenyum tipis menemukan Neyra menatapnya pias dan dengan mudahnya ia bangkit dari ranjang membiarkan Neyra terpaku akan proporsi tubuhnya yang jelas terpampang menuju kamar mandi.

Dua puluh menit kemudian.

 "Ini." 

Feris mengulurkan sebuah kartu debit platinum dengan senyuman merendahkan, meski begitu ia tetap mengambilnya dan menatap wajah Feris. 

"Sebentar lagi akan ada orang yang membawakan pakaian ganti untukmu.”

“Kenapa kamu membuang pakaianku ke tempat sampah, hah?!” protes Neyra sambil menggenggam pakaian kotornya yang baru ia pungut dari tong sampah yang sangat bersih itu.

"Aku terkejut dengan pakaian yang kamu pilih, atau kamu yang udah berubah banyak?”

“Itu pilihan Okan. Sebenarnya aku membawa blazer kecil tapi Okan melarangku memakainya saat memasuki ballroom hotel.”

Wajah Feris mengeras mendengar Neyra menyebut nama pria lain yang terdengar menguasainya terutama di area kekuasaannya.

"Jadi kapan kamu mau memutuskan dia? Karena aku hanya memberimu waktu sampai besok sore, jadi kapan?" 

Neyra menjilat bibirnya yang kering. Feris menunggu, tetapi Neyra tampak bimbang. Kemudian wanita itu membuka mulutnya, tetapi suara dering ponsel mendahului kata-kata yang hendak keluar. 

"Tunggu." Feris mengambil ponselnya di nakas dan langsung mengangkat panggilan tersebut. "Ada apa?"

 "Aku akan kesana sekarang." Feris menutup panggilan tersebut dan menghampiri Neyra demi memeluk dan mengecup bibir ranum wanitanya lalu menyodorkan kartu hotel dan kartu debit, “Paling lambat kamu kembali kesini jam empat sore, paham?!”

“Kenapa harus jam empat sore?”

“Karena aku akan sampai jam enam sore, dan kamu udah harus siap menyambut ku. Paham?!”

Neyra mengangguk kecil dan kembali diam saat Feris berbisik. “Kali ini aku nggak mau jadi selingkuhan mu lagi, jadi pastikan kamu memutuskannya paling lambat besok sore, ok!”

Tak butuh jawaban, Feris lekas meninggalkan Neyra yang diam mematung di belakangnya.

Beberapa menit kemudian, saat ia resah jawaban apa yang tepat saat memutuskan Okan dan… ia baru teringat jika semalam ia menemukan Feris bersama wanita yang bernama Mehra Rowan. Dan ia juga teringat kata-kata Feris yang mengatakan kini hanya ada dia, pria yang boleh ada dihidupnya. Lantas bagaimana dengan pria itu sendiri, apa yang akan ia lakukan dengan wanita yang semalam ia gandeng, hah?! 

****

“Mamah cukup percaya aja sama aku, Mah. Pastikan Rizwan terlihat menyesalinya dan kooperatif dengan pengacara handal itu. Dan hari ini aku mau menginap di rumah teman, mungkin besok siang aku baru bisa pulang,”

“ya aku tutup telponnya, ya. dadah Ma.”

Neyra menempelkan kartu apartemen 

yang ia datangi bersama Feris kemarin. Ruangan luas dan mewah itu sunyi, persis seperti apa yang ia kenal dari seorang Feris Sastrodirjo. 

Neyra menghela napas lega karena ia sudah membeli bahan makanan untuk makan malam mereka dan setelah berganti pakaian rumah ia segera memasak menu yang telah ia pilih.

Setelah selesai ia memutuskan untuk membersihkan diri dan betapa terkejutnya ketika ia keluar dari kamar mandi dan Feris sudah duduk di sofa. Seringai tersungging di ujung bibir pria itu, ketika mengamati penampilan Neyra dari ujung kaki hingga ujung kepala. Rambut yang basah dengan beberapa bercak air yang masih menghiasi leher dan wajahnya, dibalut handuk kimono yang panjangnya melewati lututnya.

"K-kamu sudah datang?" lirih Neyra dengan tergagap. Melihat kemeja yang dikenakannya sudah lecek. Sepertinya pria itu baru menghabiskan hari yang melelahkan.

Feris bangkit berdiri, berjalan mendekati Neyra tanpa melepaskan pandangan dari kedua mata wanita itu yang mulai goyah karena tak tahan dengan tatapan intensnya. "Dan sepertinya kamu sudah siap," gumamnya setelah berhenti tepat di depan Neyra. 

Tangannya terulur, menangkap ujung dagu Neyra dan mendongakkan wajah wanita itu sebelum kemudian menurunkan kepalanya hingga di samping leher Neyra. 

Mengendus aroma wangi yang tercium dari tubuh Neyra. "Dan kamu sangat harum," bisiknya dengan suara yang memberat. Wajah Feris bergerak lebih tinggi, hingga ke telinga Neyra dan langsung mendaratkan kecupan di belakang daun telinga wanita itu. 

Kedua kaki Neyra melemah oleh sentuhan tersebut, membuat tubuhnya jatuh ke arah Feris dan pinggangnya ditangkap oleh kedua tangan pria itu. Merapatkan tubuh keduanya. 

Ciumannya merambat ke rahang dan menangkap bibir Neyra. Menyesap rasa manis yang begitu dirindukannya. Menggigit bibir wanita itu hingga terbuka sebelum kemudian menyelipkan lidahnya ke dalam mulut Neyra. Mengabsen barisan giginya yang rapi, berbagi napas dalam lumatan yang semakin memanas.

“Sebentar, Feris!”

Feris Mengerang pelan, “Apa lagi?!”

“Aku cuma mau bilang kalau aku udah memasak, kamu mau kita makan dulu?”

Feris menghembuskan nafasnya yang mulai memburu, “Apa aku terlihat bisa menunda semuanya, hah?!”

Feris mengangkat tubuh Neyra yang sudah pasrah dan membaringkan wanita itu di tengah tempat tidur. Melucuti pakaian Neyra dan dirinya sendiri, membiarkan keringat keduanya bercampur dalam panasnya hasrat dan gairahnya yang membakar mereka. Dalam panjangnya malam yang nikmat tersebut. 

****

Okan menarik paksa lengannya saat melintasi lobi yang sepi. Bahkan petugas keamanan yang berjaga tak jauh dari mereka tak berani bergerak sedikitpun karena tau ini adalah pertengkaran pasangan kekasih dan terlalu malas untuk ikut campur dalam permasalahan mereka berdua. 

"Lepaskan aku! Atau aku akan-" jerit Neyra kesakitan.

"Atau apa, hah?!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • (Bukan) Pernikahan Tipuan    37. (Bukan) Sebuah Masalah

    “Setelah apa yang diperbuat olehnya di belakangmu?!”“Dan apa masalahmu?”“Masalah ku? Bukankah seharusnya kamu yang mempermasalahkannya? Dia mencurangimu dengan berselingkuh di belakangmu, well dia sedang mengulangi tabiat aslinya dengan tokoh yang sama hanya pemerannya yang tertukar.Rahang mengetat di serta tatapan tajam yang diberikan Feris tak mampu membuat Mehra berhenti. “Tiga bulan lagi, kamu benar akan menceraikannya, kan Fer?” "Jadi benar kamu harus ditegaskan, aku hanya menganggapmu sebagai teman lamaku dan partner kerjaku, dan harus berapa kali aku bilang, aku tak suka siapapun ikut campur. Setelah ini aku tak ingin dengar pertanyaan omong kosong lagi terlebih darimu.” Mehra tercengang mendengar nada dingin dan peringatan pada ucapan Feris. Lalu mencoba mencari arti lain di manik Feris dan berakhir sia-sia. Ketajaman dalam tatapan Feris menunjukkan bahwa pria itu serius dan hanya ada satu arti dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya. "Kupikir ... kupikir kita bisa

  • (Bukan) Pernikahan Tipuan    36. Cemburu

    Neyra tersentak, matanya membola lurus ke arah Feris. Lagi-lagi seperti ini Feris dan egonya setinggi langit. Namun kali ini ia ingin sekali lagi menunjukkan kepada Feris bahwa ia tak mau menuruti kata-kata pria itu. Ia tahu, ia harus menuruti keinginan Feris. Karena mereka masih dalam kesepakatan. Akan tetapi, ia tak bisa menahan diri untuk membangkang. Dia bukan lagi boneka yang bisa seenaknya Feris perintah. Ia tak terima Feris menyepelekannya. Mempermainkannya sesuka hati pria itu lalu dibuang seperti kain lap yang tak berguna. Kalaupun ia tidak berdaya dengan tindasan Feris, paling tidak ia akan memberontak untuk sedikit menyusahkan pria itu.Feris menggeram. Penentangan Neyra terdengar seperti gendang peperangan yang siap ditabuh. Jika wanita itu ingin permainan, mari kita tunjukkan siapa pemimpin permainan yang sebenarnya. Tangan Feris mengambil bingkai berukuran kecil disampingnya lalu melemparnya ke dinding hampir mengenai tubuh Neyra berdiri. PRANGGG…Neyra membungkuk, kedu

  • (Bukan) Pernikahan Tipuan    35. Alasan Berduaan

    “Dua bulan lagi diceraikan? Apa Maksudmu Mehra?” Mehra tersenyum meremehkan sembari menatap wajah Neyra yang pias bahkan tubuhnya hanya mematung perlahan menunduk. “Upss… apa kamu juga belum tahu, Ney? maksudku bukannya mamanya Feris atau Feris sudah memberitahumu? atau Karenina mungkin, aku tahu dari Feris kalian sudah beberapa kali bertemu,”“Ney? Apa benar begitu?” tanya Regas memburu.Neyra mendongak dan tersenyum kering. “Aku nggak nyaman membicarakan urusan rumah tangga pada orang lain seperti kalian dan kenapa sih kalian harus mempedulikan urusan rumah tangga orang lain, seperti udah nggak punya urusan sendiri saja,”Neyra menandandaskan minumannya dalam satu tegakkan, tak peduli dengan gerakannya yang sembrono. Dan saat itulah ponsel nya berbunyi menunjukkan nama Feris lah yang jadi pemanggilnya.“Feris,… sepertinya dia sudah melihat foto kalian berdua yang aku kirim padanya,” seru Mehra setelah mengintip ponsel Neyra.“Apa kau bilang? Foto kami?”Dan Mehra hanya tersenyum, i

  • (Bukan) Pernikahan Tipuan    34. Sudah Goyah

    “Aku bilang nggak bisa! Aku takut keguguran! Arrgghh…”“Keguguran?” saut Feris mengambang. "Ckkk… Lepas..." Panggilan Neyra terpotong oleh bibir Feris yang segera membungkamnya. Dan hati, Neyra menyumpahi Karenina yang membawa pria itu pulang dalam kondisi mabuk seperti ini.Dengan seluruh tenaga yang dimilikinya, Neyra berusaha menyingkirkan tubuh Feris dari atasnya. Tetapi melawan kekuatan pria Feris jelas bukan ide yang bagus. Hasrat pria itu sudah tak terbendung lagi. Bahkan ia tak bisa melonggarkan cekalan Feris di kedua tangannya.Pria itu melucuti pakaian keduanya dan melemparnya ke sembarang arah. Dan saat Feris melepaskan bibirnya, berteriak meminta tolong juga ide yang lebih tolol lagi. Feris adalah suaminya sendiri.Pada akhirnya, Neyra tetap tak berdaya di hadapan keinginan Feris. Napas pria itu semakin menggebu, tak pernah puas. Esok pagi, Neyra bangun terlambat meski turun dari tempat lebih dulu. Ia lekas membersihkan badannya, tepat ketika keluar dari bilik, Feris mel

  • (Bukan) Pernikahan Tipuan    33. Pulang Dengan Karenina

    Dua Hari Kemudian“Jadi suamimu masih belum pulang?”“Belum, well… terimakasih info dan sarannya, sepertinya aku sudah mantap akan berinvestasi di properti, aku suka usulan lokasi kontrakan di pinggir kota yang kamu bilang itu.”“Bagus, berarti bagaimana jika besok kita bertemu untuk menghitung modalnya sekalian aku jelaskan lebih jauhi,”“Ya, ayo kita bertemu besok, terimakasih banyak Regas,”“Anytime,” tutup Regas.Neyra menggeliatkan tubuhnya sejenak sembari mengedarkan pandangannya di kamar.Hanya ada dirinya di kamar tersebut. Meski biasanya Feris pulang terlambat, kali ini pria itu sudah dua hari tak pulang. Pun begitu, ia tak akan menghubunginya lebih dulu, Neyra masih kecewa dengan jawaban Feris malam itu. Hubungan mereka semakin asing sejak kedatangan Karenina kembali ke Indonesia dan mulai menginvasi hidup Feris. Dan itu memudahkannya untuk mendapatkan jarak untuk ia mempertimbangkan pilihan apa yang harus ia ambil untuk hidupnya dan anak dalam kandungannya tanpa ikut andil

  • (Bukan) Pernikahan Tipuan    32. Kapan Ceraikan Aku?

    Tanda positif semakin jelas terlihat. Kini, Neyra sadar, ia tidak sedang bermimpi. Tangannya gemetar tak terkendali hingga test pack terlepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai kamar mandi. Perasaannya semakin kacau.Neyra tidak berani membayangkan seperti apa hidup-nya nanti. Selama ini, Neyra tidak pernah peduli dengan anggapan atau pikiran orang tentang dirinya, tetapi hamil tanpa pasangan belum pernah terlintas di benaknya. Neyra menangkupkan tangan pada wajahnya, tidak pernah mengira ini semua akan terjadi pada dirinya. Air matanya mengalir.Sudah begitu lama ia meninggalkan keluarganya untuk hidup mandiri. Tidak ada sanak saudara yang membantunya. Neyra bekerja keras demi memenuhi kebutuhan hidupnya,dan belum berminat untuk menjalin hubungan dengan lelaki manapun setelah Marcel-kekasihnya mengkhianatinya. Lelaki itu berselingkuh dengan teman sekerja Neyra yang selama ini telah menjadi teman curhatnya.Tujuan hidup Neyra hanya satu; dapat hidup layak dari hasil keringat sendi

  • (Bukan) Pernikahan Tipuan    6. Hari Pernikahan

    “Atau apa?! Hah!” sentak Neyra menentang.Neyra memutar bola matanya, kalimat ke-overprotective-an pria ini benar-benar membuat muak. Saat pria itu berniat membalikkan badannya dan akan menempelkan bibir mereka, Neyra segera bangkit dari tidur. Sebelum semuanya kembali terlambat. "Aku harus pergi,

  • (Bukan) Pernikahan Tipuan    5. Sebuah Permainan

    “Selalu kamu yang berlari padaku lebih dulu, Ney." Bibir Feris menempel di telinga Neyra. Berbisik lembut namun mampu membuat Neyra bergidik ngeri. Neyra termenung, tak mampu menampik atau bersilat lidah lagi, dan ia pasrah saat Feris menahan kepala lalu menciumnya dalam, membiarkan Feris membuka

  • (Bukan) Pernikahan Tipuan    4. Percintaan di Ruangan Bos

    "Kamu memilih urusan yang salah denganku, eh.”Mehra tersentak akan reaksi Feris yang terlewat santai bahkan setelah ia mengaku permainannya. “Dengar! Aku sedang sibuk sekarang. Harus berapa kali aku harus bilang bahwa aku nggak suka diganggu di jam kantor seperti ini!”“Fer, kamu serius masih mem

  • (Bukan) Pernikahan Tipuan    3. Kembali Terjerat

    "Lepaskan aku!" jerit Neyra satu tangannya berusaha melonggarkan cekalan keras pria itu. Berusaha membebaskan tangan yang satunya. Tak peduli jika rontaannya hanya memberikan rasa sakit yang lebih. Air mata yang membanjir di wajahnya sama sekali tak menyurutkan sikap kasar dan menimbulkan rasa iba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status