Se connecter“Arghhh…. Feris! Kenapa kamu masuk-”
Jeritannya mereda saat mendengar bisikan suara khas pria milik Feris.
Nafasnya tercekat merasakan punggungnya yang telah menempel di dada bidang Feris dan wajah pria itu yang mulai tenggelam di cekungan lehernya.
Sementara kedua telapak tangan pria itu mulai mengelus perut dan bermain-main di dadanya. Ciuman basah pria itu mulai merambati naik ke leher, rahang dan berhenti di balik telinga. Menggigit telinganya dengan gemas sebelum kemudian tubuhnya dibalik dan didorong ke dinding. Wajah Neyra terdongak sementara wajah Feris menunduk, tatapan Feris menguncinya.
"Aku selalu suka reaksi dan rasa tubuh kamu." Kedua mata Feris mulai berkabut, menginginkan wanitanya sekarang juga.
"Aku akan membuatmu tak bisa memikirkan hal selain aku…”
Suara Feris tersengal oleh gairah yang sudah mengalir kencang di setiap pembuluh darahnya. Menginginkan Neyra dengan sangat. Membuat remasan tangannya di dada wanita itu sedikit keras dan Neyra tersentak kaget.
Namun, dengan cepat ia menenangkan wanita itu dengan lumatan yang panjang. Menyentuh dan mencium setiap jengkal kulit di tubuh wanitanya di manapun yang ia inginkan.
Ketika semua menjadi begitu tak tertahankan, Feris mengangkat pinggang Neyra dan melilitkan kedua kaki wanita itu di pinggangnya. Menunggu tubuh Neyra menerimanya. Menerima semua hasrat dan gairah yang berpadu kuat. Ia bisa merasakan ketegangan dan rontaan dari Neyra yang dengan mudah ia tahan hingga sampai pada pelepasan yang luar biasa. Membuat nafasnya tersengal karena kepuasan yang begitu besar.
Setengah jam kemudian, ketika keduanya sudah keluar dari kamar mandi, Feris tentu saja tak melewatkan setiap menit dan kesempatan untuk bersenang-senang dengan pembayarannya. Ia kembali membaringkan tubuh telanjang Neyra di ranjangnya.
Menyentuh wanita itu lagi dan lagi seolah membalas segala rindu yang pernah terlarang dan ia tak akan pernah bosan. Hingga akhirnya Neyra kelelahan dan kehabisan tenaga, barulah ia membiarkan wanita itu tertidur.
Esok paginya, Neyra bangun lebih dulu dengan seluruh tulang yang remuk redam. Kepalanya pusing oleh rasa lapar dan terperangah menemukan tubuhnya telanjang di balik selimut. Ia bangun terduduk dan hampir menjerit jika tidak ingat apa yang terjadi kemarin malam, yang membuatnya bangun di tengah tempat tidur yang seperti kapal pecah.
"Akhirnya kamu bangun juga?" Suara dari arah samping mengalihkan perhatian Neyra. Menemukan Feris yang berbaring menghadap ke arahnya dengan tubuh bagian atas yang polos.
“Kenapa kamu melihatku begitu?”
“Pria yang semalam, apa masalah kalian sebenarnya?”
“Apa?” tanya Neyra mengumpulkan ingatannya.
“Okan, kenapa kalian sampai bertengkar di depan lift hotel setelah dia memperkenalkan kamu sebagai pendampingnya, eh?”
“Masalah yang sama, entahlah aku nggak mau membahasnya.”
“Kalau begitu putuskan saja dia sekarang!”
“Apa?!”
“Aku mau kamu jadi kekasih gelapku dan kali ini hanya ada aku, pria di hidup kamu, paham!”
“Kenapa tiba-tiba, maksudku… apa aku terlihat wanita seperti itu di mata kamu, sampai aku semudah itu memutuskan pacarku dan berpindah ke kamu, hah?!”
“Apa bukan?”
Neyra mengatupkan bibirnya, sakit hati karena ia harus berada di posisi yang menyalahkannya. Sial!
“Dan tentang permintaanmu yang semalam, aku akan segera beri perkembangan kasusnya siang ini jadi tunggu saja pesan dariku.”
“Benarkah? Ah… maksudku terima kasih.”
“Pastikan aja kamu melakukan apa yang kuinginkan, paham?”
Feris tersenyum tipis menemukan Neyra menatapnya pias dan dengan mudahnya ia bangkit dari ranjang membiarkan Neyra terpaku akan proporsi tubuhnya yang jelas terpampang menuju kamar mandi.
Dua puluh menit kemudian.
"Ini."
Feris mengulurkan sebuah kartu debit platinum dengan senyuman merendahkan, meski begitu ia tetap mengambilnya dan menatap wajah Feris.
"Sebentar lagi akan ada orang yang membawakan pakaian ganti untukmu.”
“Kenapa kamu membuang pakaianku ke tempat sampah, hah?!” protes Neyra sambil menggenggam pakaian kotornya yang baru ia pungut dari tong sampah yang sangat bersih itu.
"Aku terkejut dengan pakaian yang kamu pilih, atau kamu yang udah berubah banyak?”
“Itu pilihan Okan. Sebenarnya aku membawa blazer kecil tapi Okan melarangku memakainya saat memasuki ballroom hotel.”
Wajah Feris mengeras mendengar Neyra menyebut nama pria lain yang terdengar menguasainya terutama di area kekuasaannya.
"Jadi kapan kamu mau memutuskan dia? Karena aku hanya memberimu waktu sampai besok sore, jadi kapan?"
Neyra menjilat bibirnya yang kering. Feris menunggu, tetapi Neyra tampak bimbang. Kemudian wanita itu membuka mulutnya, tetapi suara dering ponsel mendahului kata-kata yang hendak keluar.
"Tunggu." Feris mengambil ponselnya di nakas dan langsung mengangkat panggilan tersebut. "Ada apa?"
"Aku akan kesana sekarang." Feris menutup panggilan tersebut dan menghampiri Neyra demi memeluk dan mengecup bibir ranum wanitanya lalu menyodorkan kartu hotel dan kartu debit, “Paling lambat kamu kembali kesini jam empat sore, paham?!”
“Kenapa harus jam empat sore?”
“Karena aku akan sampai jam enam sore, dan kamu udah harus siap menyambut ku. Paham?!”
Neyra mengangguk kecil dan kembali diam saat Feris berbisik. “Kali ini aku nggak mau jadi selingkuhan mu lagi, jadi pastikan kamu memutuskannya paling lambat besok sore, ok!”
Tak butuh jawaban, Feris lekas meninggalkan Neyra yang diam mematung di belakangnya.
Beberapa menit kemudian, saat ia resah jawaban apa yang tepat saat memutuskan Okan dan… ia baru teringat jika semalam ia menemukan Feris bersama wanita yang bernama Mehra Rowan. Dan ia juga teringat kata-kata Feris yang mengatakan kini hanya ada dia, pria yang boleh ada dihidupnya. Lantas bagaimana dengan pria itu sendiri, apa yang akan ia lakukan dengan wanita yang semalam ia gandeng, hah?!
****
“Mamah cukup percaya aja sama aku, Mah. Pastikan Rizwan terlihat menyesalinya dan kooperatif dengan pengacara handal itu. Dan hari ini aku mau menginap di rumah teman, mungkin besok siang aku baru bisa pulang,”
“ya aku tutup telponnya, ya. dadah Ma.”
Neyra menempelkan kartu apartemen
yang ia datangi bersama Feris kemarin. Ruangan luas dan mewah itu sunyi, persis seperti apa yang ia kenal dari seorang Feris Sastrodirjo.
Neyra menghela napas lega karena ia sudah membeli bahan makanan untuk makan malam mereka dan setelah berganti pakaian rumah ia segera memasak menu yang telah ia pilih.
Setelah selesai ia memutuskan untuk membersihkan diri dan betapa terkejutnya ketika ia keluar dari kamar mandi dan Feris sudah duduk di sofa. Seringai tersungging di ujung bibir pria itu, ketika mengamati penampilan Neyra dari ujung kaki hingga ujung kepala. Rambut yang basah dengan beberapa bercak air yang masih menghiasi leher dan wajahnya, dibalut handuk kimono yang panjangnya melewati lututnya.
"K-kamu sudah datang?" lirih Neyra dengan tergagap. Melihat kemeja yang dikenakannya sudah lecek. Sepertinya pria itu baru menghabiskan hari yang melelahkan.
Feris bangkit berdiri, berjalan mendekati Neyra tanpa melepaskan pandangan dari kedua mata wanita itu yang mulai goyah karena tak tahan dengan tatapan intensnya. "Dan sepertinya kamu sudah siap," gumamnya setelah berhenti tepat di depan Neyra.
Tangannya terulur, menangkap ujung dagu Neyra dan mendongakkan wajah wanita itu sebelum kemudian menurunkan kepalanya hingga di samping leher Neyra.
Mengendus aroma wangi yang tercium dari tubuh Neyra. "Dan kamu sangat harum," bisiknya dengan suara yang memberat. Wajah Feris bergerak lebih tinggi, hingga ke telinga Neyra dan langsung mendaratkan kecupan di belakang daun telinga wanita itu.
Kedua kaki Neyra melemah oleh sentuhan tersebut, membuat tubuhnya jatuh ke arah Feris dan pinggangnya ditangkap oleh kedua tangan pria itu. Merapatkan tubuh keduanya.
Ciumannya merambat ke rahang dan menangkap bibir Neyra. Menyesap rasa manis yang begitu dirindukannya. Menggigit bibir wanita itu hingga terbuka sebelum kemudian menyelipkan lidahnya ke dalam mulut Neyra. Mengabsen barisan giginya yang rapi, berbagi napas dalam lumatan yang semakin memanas.
“Sebentar, Feris!”
Feris Mengerang pelan, “Apa lagi?!”
“Aku cuma mau bilang kalau aku udah memasak, kamu mau kita makan dulu?”
Feris menghembuskan nafasnya yang mulai memburu, “Apa aku terlihat bisa menunda semuanya, hah?!”
Feris mengangkat tubuh Neyra yang sudah pasrah dan membaringkan wanita itu di tengah tempat tidur. Melucuti pakaian Neyra dan dirinya sendiri, membiarkan keringat keduanya bercampur dalam panasnya hasrat dan gairahnya yang membakar mereka. Dalam panjangnya malam yang nikmat tersebut.
****
Okan menarik paksa lengannya saat melintasi lobi yang sepi. Bahkan petugas keamanan yang berjaga tak jauh dari mereka tak berani bergerak sedikitpun karena tau ini adalah pertengkaran pasangan kekasih dan terlalu malas untuk ikut campur dalam permasalahan mereka berdua.
"Lepaskan aku! Atau aku akan-" jerit Neyra kesakitan.
"Atau apa, hah?!"
Regas memandangnya dalam ada raut terkejut di wajahnya yang langsung terganti kecewa, khas Regas saat sedang kecewa."Ulurkan tanganmu, Kak! Semua orang memperhatikan kita."Neyra sempat tersentak sebelum menerima lengan adik lelakinya, pandangannya tak lepas dari kedua mata Regas yang menyiratkan patah hati. Sama besar seperti yang mendera hatinya. "Palingkan wajahmu, Kak. Kita hampir sampai altar,” bisik Rizwan. Memaksa perhatian Neyra lurus ke depan, ke arah Feris yang sedang tersenyum menatapnya lurus. Neyra tak menjawab. Tak perlu menjawab. Karena tak ada seorangpun yang mengerti perasaannya. Keduanya berjalan melewati ketiga orang tersebut. Memasuki ruangan luas yang sudah dipenuhi oleh para tamu undangan. Hanya dengan melihat luasnya ruangan, ia tahu Feris memastikan pernikahan tersebut berlangsung meriah hanya dalam waktu dua bulan.Setiap langkah yang membawanya semakin dekat dengan altar, matanya mengerjap. Menahan air mata meleleh. Menggigit bibir bagian dalam, mencoba m
“Atau apa?! Hah!” sentak Neyra menentang.Neyra memutar bola matanya, kalimat ke-overprotective-an pria ini benar-benar membuat muak. Saat pria itu berniat membalikkan badannya dan akan menempelkan bibir mereka, Neyra segera bangkit dari tidur. Sebelum semuanya kembali terlambat. "Aku harus pergi, Fer." Feris tersenyum kecil ketika Neyra menghindari ciumannya. "Ini hari libur kamu ‘kan?" “Iya dan justru itu, aku masih ada urusan lain. Jadi berhenti korupsi waktu libur aku!”“Aku bisa kasih kamu pekerjaan secepatnya,”"Melamar kerja yang bosnya nggak profesional macam kamu? No, thanks!" Neyra menarik selimut untuk menutupi dadanya yang telanjang dan turun dari ranjang menuju ke kamar mandi. Ruang kerja Feris benar-benar seperti rumah kedua. Meski tidak terlalu luas tapi perabotan yang digunakan serba minimalis dan trendy, membuatnya tampak cukup dan nyaman. “Orang kaya memang selalu melakukan apapun sesukanya, ya.” decak Neyra. Senyum di bibir Feris semakin melebar mendengar decak
“Selalu kamu yang berlari padaku lebih dulu, Ney." Bibir Feris menempel di telinga Neyra. Berbisik lembut namun mampu membuat Neyra bergidik ngeri. Neyra termenung, tak mampu menampik atau bersilat lidah lagi, dan ia pasrah saat Feris menahan kepala lalu menciumnya dalam, membiarkan Feris membuka kancingnya kemudian jemarinya menyentuh langsung kulit bagian terdalam, membuat napas Neyra tercekat.Seolah tengah melampiaskan emosinya dalam ciuman itu sekaligus menikmati kemanisan dan kelembutan bibir ranum Neyra. Saat melepas ciumannya, ia menempelkan dahinya di dahi Neyra dengan napas yang sedikit terengah-engahnya dari wanitanya. "Melihat caramu mempertahankan dan membela pria itu, membuatku sangat gerah, Sayang. Kurasa kamu harus bertanggung jawab untuk memuaskanku sekarang juga." Mata Neyra melotot mendengar permintaan vulgar Feris yang tanpa basa-basi itu. Namun, belum sempat ia memprotes, Feris sudah menariknya ke arah meja kerja Feris. Dengan mata yang menatap lekat manik Neyr
"Kamu memilih urusan yang salah denganku, eh.”Mehra tersentak akan reaksi Feris yang terlewat santai bahkan setelah ia mengaku permainannya. “Dengar! Aku sedang sibuk sekarang. Harus berapa kali aku harus bilang bahwa aku nggak suka diganggu di jam kantor seperti ini!”“Fer, kamu serius masih mempertanyakan hal itu? Aku kesini demi hubungan kita, aku-”“Cukup! Jangan paksa aku mengatakan itu untuk kedua kalinya. Ok!”“Aku kecewa sama kamu!” tandas Mehra lekas berbalik meninggalkan ruangan namun tepat ia membuka pintu ia dikejutkan dengan keberadaan Neyra tepat dua meter di depannya, seolah ia akan diterima dengan mudahnya.“Neyra?” Neyra tersenyum tipis melihat Feris yang memanggilnya tepat di belakang perempuan itu, Mehra Rowan presenter yang ia tahu culasnya. Terbukti dari cara Mehra menatapnya seolah sedang menguliti lawannya dari ujung kaki hingga ujung kepala. “Apa kamu sudah selesai memindai penampilanku? Karena aku sedang sibuk, jadi apa boleh kamu minggir? Aku mau masuk ke
"Lepaskan aku!" jerit Neyra satu tangannya berusaha melonggarkan cekalan keras pria itu. Berusaha membebaskan tangan yang satunya. Tak peduli jika rontaannya hanya memberikan rasa sakit yang lebih. Air mata yang membanjir di wajahnya sama sekali tak menyurutkan sikap kasar dan menimbulkan rasa iba di hati Okan. “Aku udah lelah! Dan aku tahu kamupun sama, kita tahu akan berakhir seperti apa hubungan kita kalau terus dilanjutkan!" "Tidak," desis si pria. Mata coklatnya menggelap tertutup badai dan wajahnya memerah oleh kemarahan yang sangat besar. "Ini tak akan berakhir seperti yang kamu inginkan kalau kamu masih mau berjuang." “Berjuang kamu bilang?! Kamu selalu egois! Dan tak pernah memperhitungkan aku!” bantah Neyra sembari di seret Okan.Sesampainya di depan mobilnya yang terparkir, Okan membuka pintu mobil bagian depan. Lalu mendorong Neyra untuk duduk. Neyra berniat membuka kembali pintu mobil ketika si pria berjalan memutari mobil. Namun, ia melihat perhatian dari rekan kerja
“Arghhh…. Feris! Kenapa kamu masuk-”Jeritannya mereda saat mendengar bisikan suara khas pria milik Feris. Nafasnya tercekat merasakan punggungnya yang telah menempel di dada bidang Feris dan wajah pria itu yang mulai tenggelam di cekungan lehernya. Sementara kedua telapak tangan pria itu mulai mengelus perut dan bermain-main di dadanya. Ciuman basah pria itu mulai merambati naik ke leher, rahang dan berhenti di balik telinga. Menggigit telinganya dengan gemas sebelum kemudian tubuhnya dibalik dan didorong ke dinding. Wajah Neyra terdongak sementara wajah Feris menunduk, tatapan Feris menguncinya. "Aku selalu suka reaksi dan rasa tubuh kamu." Kedua mata Feris mulai berkabut, menginginkan wanitanya sekarang juga. "Aku akan membuatmu tak bisa memikirkan hal selain aku…”Suara Feris tersengal oleh gairah yang sudah mengalir kencang di setiap pembuluh darahnya. Menginginkan Neyra dengan sangat. Membuat remasan tangannya di dada wanita itu sedikit keras dan Neyra tersentak kaget. Namu