Se connecter
“Tentu aku paham! Dan sedari awal cuma aku yang harus selalu memahami ego kamu dan harga diri keluarga kamu ‘kan?!” sentak Neyra berteriak dengan suara bergetar menahan tangisnya.
“Kamu bahas itu lagi! Aku udah muak-”
“Sama! Ok! Aku pergi!” ujar Neyra berbalik dan betapa terkejutnya ia menemukan Feris yang tengah berjalan ke arahnya, menatapnya dalam.
Neyra memalingkan wajahnya, saat ia dilewati Feris dan wanita cantik yang bergelayut manja di lengannya.
Detik selanjutnya, ia merasa amat malu, dadanya terasa sesak. Khawatir ada yang memperhatikan Neyra menghembuskan nafasnya perlahan, merasa lebih baik ia menoleh ke belakang.
Sekali lagi ia dibuat terkejut, karena ternyata Feris yang berdiri di depan lift tengah berbicara pada wanita cantik disebelahnya.
Neyra menggigit bibirnya gelisah, bertemu lagi dengan Feris adalah sebuah keajaiban karena circle pertemanan mereka jelas berbeda. Sekarang atau tidak sama sekali! Ia harus mencoba.
“Feris…”
Hanya Feris yang menoleh, seolah ia bertanya dengan tatapan datarnya.
Neyra menelan ludahnya, lalu ia mengangguk kecil. “Boleh minta waktumu sebentar? Ada… sesuatu yang ingin kukatakan.”
Wanita cantik itu sengaja mengeratkan pelukannya dan mendekatkan kepala mereka. “Feris, mereka sedang menunggu, kita tak punya banyak waktu.”
Feris menatap Neyra yang berdiri sedang menggigit bibirnya canggung.
“Ada sesuatu yang penting… aku ingin minta tolong.”
“Dan kami tidak punya waktu, benar ‘kan, Fer?” tanya wanita itu menoleh pada Feris yang masih tak memalingkan wajahnya dari Neyra.
“Karena ini sangat mendadak, dan aku nggak punya banyak waktu! Hah… aku pasti sudah kehilangan akal karena sudah gegabah meminta padanya,” saut Neyra memandang Feris gamang.
“Pergilah!”
“Apa?!” tanya mereka berdua serentak dengan nada berbeda.
Feris menunduk demi membalas tatap Mehra, “Pergilah ke atas dan temui mereka sendiri, aku ada sedikit urusan.”
Tanpa hati Feris melepaskan genggaman Mehra dan menyuruh Mehra segera pergi dengan tatapannya.
Wajah Mehra tersentak tak percaya, ia ingin menolak namun urung melihat tangan Feris terangkat, sesuatu yang ia mengerti dan ia tak butuh diusir dua kali, tanpa kata ia memasuki pintu lift yang sudah terbuka.
Hanya butuh beberapa langkah kepergian Mehra, Feris memulai bertanya, “Siapa yang memilih bajumu?”
“Apa? Kenapa tiba-tiba? maksudku, bukan urusanmu!”
Feris mendengus kasar, ia memasukkan tangannya ke saku dan menatap lurus Neyra. “Jadi sesuatu penting apa yang ingin kamu katakan?”
“Bagaimana kalau kita bicara di restoran dekat sini, karena ini agak sedikit panjang.”
“Tentang apa?”
Neyra memandang Feris menimbang “Apa aku boleh minta nomor telepon Mas Wira sekarang?”
Sontak wajah Feris mengeras, tak menyangka jika Neyra akan selancang itu. Di detik selanjutnya ia mendengus tipis.
“Kamu bisa cari sendiri,” balas Feris melangkah pergi namun sekali lagi perkataan Neyra mengekangnya.
“Adik lelakiku, terjerat kasus. Malam ini juga dia butuh pengacara. Lawannya sangat tangguh kali ini dan aku ingin meminta tolong pada sahabatmu yang pengacara itu untuk membela adikku. Aku tahu adikku mengambil peran dalam masalah itu tapi aku juga yakin jika adikku nggak sepenuhnya bersalah.”
“Jadi kamu berencana memakai jasa Wira, eh?” tanya Feris mengejek.
Neyra menggigit bibirnya resah. “Aku cukup tahu diri untuk itu, maka dari itu aku…. Ingin meminta tolong sama kamu… tolong bantu bicara sama dia untuk membantuku sekarang sebelum kasus ini diproses, untuk pembayarannya biar jadi urusan aku dengannya atau aku minta siapapun saja kontak pengacara yang kamu kenal handal, karena aku nggak tahu bagaimana caranya. Waktu kami nggak banyak, mereka seolah mempercepat membawa masalah ini ke persidangan, aku…”
Ucapan Neyra makin menelan dan emosinya makin tak terkontrol ditandai dengan matanya yang sudah berkaca-kaca dan beberapa kali ia menggigit bibirnya resah. Beruntung jarak antara tamu yang lainnya cukup jauh, tak cukup mendapatkan perhatian.
“Apa yang bisa kamu berikan padaku sebagai imbalannya?”
“Apa?... Oh maksudku… aku akan berusaha membayarnya dengan-”
“Apapun, apa kamu bisa memberikan aku apapun yang aku inginkan?” potong Feris menyeringai tipis.
Dan Neyra tahu, jika ini adalah satu-satu jalan pintas baginya. Meski degup jantungnya berdetak lebih cepat ia tetap harus menjawab “Akan aku usahakan-”
“Kita bicara di tempatku!”
Feris menangkap pergelangan tangan Neyra dan membawa wanita Neyra keluar melewati lobby, tak cukup lama Feris membuka pintu mobil Toyota Camry hitam yang telah sampai di depan mereka.
Sementara Neyra menggigit bibir bagian dalamnya dengan gugup.
Kedua tangannya yang berada di sisi saling meremas dan mulai berkeringat. Tubuhnya menegang, mempertanyakan keputusannya. Apakah ini keputusan terbaiknya? Apakah ini sepadan? Ia cukup memahami apa yang diinginkan oleh Feris darinya. Maka Neyra meyakinkan dirinya sendiri.
Ya, semua ini sepadan dan resiko yang harus ia terima, perlakuan spontan serta keputusan singkatnya lah yang membuat ia bertanya kembali apakah ia bisa?
Namun, sudah berbagai cara ia dan adiknya mencari cara di tengah waktu yang sedikit ini ditambah penolakan dari kekasihnya membuat ia hampir menyerah, dan bayang-bayang masa depan adiknya serta kesedihan ibunyalah yang paling menyiksanya.
*****
Dan inilah jalan pintas yang telah ia pilih. Tentu saja ia tahu apa yang diinginkan oleh Feris darinya di tempat ini. Perasaannya campur aduk dan wajahnya, ia bahkan tak ingin menatap pantulan wajahnya karena malu pada dirinya sendiri.
"Ayo!" Feris turun lebih dulu setelah memberi instruksi pada supir pribadinya. lalu mengulurkan tangan untuk membantu Neyra turun. Keduanya berjalan bersisian memasuki lobi apartemen yang sangat mewah baginya.
Sesampainya disana mereka kembali memasuki lift masih dalam keheningan.
Feris melirik panggilan dari Mehra yang langsung ditolak olehnya, ia menyadari jika Neyra sempat menoleh pada layar gawainya, sebelum ia memimpin keluar dari lift dan berhenti di kamar yang dituju.
Feris memasukkan benda pipih tersebut ke dalam saku jasnya, tak butuh gangguan lain untuk kesenangannya. Ia mengamati Neyra yang mengedarkan pandangan ke setiap sudut kamar yang luas. Wajahnya memerah ketika pandangannya kedua matanya berhenti di tempat tidur yang luas.
"Kamu mau membersihkan diri lebih dulu atau kita langsung saja?" Feris melepaskan kemeja slim fit dan dasi yang kemudian diletakkan di sofa, tanpa melepaskan pandangan dari Neyra yang hanya berdiri canggung di tengah ruangan.
Pertanyaan tersebut mengalihkan tatapan Neyra dari tempat tidur dan wajahnya memerah merasakan tatapan Feris yang begitu intens. “Aku masih terkejut dengan apa yang masih kamu mau dari aku…. Maksudku… aku pikir masih banyak hal cara untuk-”
“Apa kamu mau menjadi karyawan bengkel tanpa gaji selama satu tahun penuh? Akan aku bebaskan kamu memilih untuk penempatannya, kamu mau itu?
“Apa?!”
“Ini kesempatan terakhir, jadi apa pilihanmu!”
Neyra menghela napas berat. Mereka berdua tahu jika Neyra tak memiliki keahlian itu, ‘kan! "B-boleh aku mandi lebih dulu?" tanyanya.
Feris tersenyum di salah satu ujung bibirnya. "Tentu saja."
Neyra pun menyeberangi ruangan dengan jalur melengkung, sengaja menghindari berpapasan dengan Feris yang bersandar di balik pintu dengan kedua tangan bersilang dada.
"Kupikir kamu perlu diingatkan," ucap Feris sebelum Neyra menyentuh gagang pintu kamar mandi.
"Aku nggak suka pintu kamar mandi yang dikunci."
Neyra membeku untuk sesaat, dan tanpa sepatah kata pun, wanita itu melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Tanpa mengunci pintunya seperti yang diinginkan oleh Feris.
Di dalam kamar mandi, Neyra segera melucuti pakaiannya dan berjalan ke balik shower. Mengguyur kepalanya dengan air hangat agar tubuhnya yang tegang sedikit rileks. Kepalanya sedikit terdongak, membuatkan air shower menerpa seluruh permukaan wajahnya. Matanya terpejam dengan ingatan yang kembali terputar di benaknya.
Flashback
'Aku nggak bisa melanjutkan ini semua, maaf?'
‘Apa kamu bilang?!’
‘Aku masih berpacaran sama adik kamu! Dan kita nggak pantas mencurangi dia…ternyata aku nggak bisa. Kita cukup sampai disini ya, Fer. Aku pergi.”
Neyra mengingat perpisahan mereka yang masih begitu jelas melekat di ingatannya. Kemarahan, kekecewaan beradu dengan tangisannya.
Bahkan dada Neyra masih ngilu setiap kali mengingat kemarahan tersebut. Matanya terbuka dan menundukkan kepala dan mengusap air matanya kemudian napasnya terengah dengan berat, bersama Feris ia pernah menjadi perempuan naif yang terbakar api, melanggar prinsipnya sendiri, dan lihatlah sekarang ia seolah menawarkan dirinya untuk terbakar bersama. Cih… ternyata dirinya memang perempuan bermuka dua!
Saat Neyra mengusap air yang jatuh mengguyur wajahnya, sebuah lengan memeluknya dari belakang. Mendekap tubuhnya yang telanjang.
"Arghhh…. Feris! Kenapa kamu masuk-”
Regas memandangnya dalam ada raut terkejut di wajahnya yang langsung terganti kecewa, khas Regas saat sedang kecewa."Ulurkan tanganmu, Kak! Semua orang memperhatikan kita."Neyra sempat tersentak sebelum menerima lengan adik lelakinya, pandangannya tak lepas dari kedua mata Regas yang menyiratkan patah hati. Sama besar seperti yang mendera hatinya. "Palingkan wajahmu, Kak. Kita hampir sampai altar,” bisik Rizwan. Memaksa perhatian Neyra lurus ke depan, ke arah Feris yang sedang tersenyum menatapnya lurus. Neyra tak menjawab. Tak perlu menjawab. Karena tak ada seorangpun yang mengerti perasaannya. Keduanya berjalan melewati ketiga orang tersebut. Memasuki ruangan luas yang sudah dipenuhi oleh para tamu undangan. Hanya dengan melihat luasnya ruangan, ia tahu Feris memastikan pernikahan tersebut berlangsung meriah hanya dalam waktu dua bulan.Setiap langkah yang membawanya semakin dekat dengan altar, matanya mengerjap. Menahan air mata meleleh. Menggigit bibir bagian dalam, mencoba m
“Atau apa?! Hah!” sentak Neyra menentang.Neyra memutar bola matanya, kalimat ke-overprotective-an pria ini benar-benar membuat muak. Saat pria itu berniat membalikkan badannya dan akan menempelkan bibir mereka, Neyra segera bangkit dari tidur. Sebelum semuanya kembali terlambat. "Aku harus pergi, Fer." Feris tersenyum kecil ketika Neyra menghindari ciumannya. "Ini hari libur kamu ‘kan?" “Iya dan justru itu, aku masih ada urusan lain. Jadi berhenti korupsi waktu libur aku!”“Aku bisa kasih kamu pekerjaan secepatnya,”"Melamar kerja yang bosnya nggak profesional macam kamu? No, thanks!" Neyra menarik selimut untuk menutupi dadanya yang telanjang dan turun dari ranjang menuju ke kamar mandi. Ruang kerja Feris benar-benar seperti rumah kedua. Meski tidak terlalu luas tapi perabotan yang digunakan serba minimalis dan trendy, membuatnya tampak cukup dan nyaman. “Orang kaya memang selalu melakukan apapun sesukanya, ya.” decak Neyra. Senyum di bibir Feris semakin melebar mendengar decak
“Selalu kamu yang berlari padaku lebih dulu, Ney." Bibir Feris menempel di telinga Neyra. Berbisik lembut namun mampu membuat Neyra bergidik ngeri. Neyra termenung, tak mampu menampik atau bersilat lidah lagi, dan ia pasrah saat Feris menahan kepala lalu menciumnya dalam, membiarkan Feris membuka kancingnya kemudian jemarinya menyentuh langsung kulit bagian terdalam, membuat napas Neyra tercekat.Seolah tengah melampiaskan emosinya dalam ciuman itu sekaligus menikmati kemanisan dan kelembutan bibir ranum Neyra. Saat melepas ciumannya, ia menempelkan dahinya di dahi Neyra dengan napas yang sedikit terengah-engahnya dari wanitanya. "Melihat caramu mempertahankan dan membela pria itu, membuatku sangat gerah, Sayang. Kurasa kamu harus bertanggung jawab untuk memuaskanku sekarang juga." Mata Neyra melotot mendengar permintaan vulgar Feris yang tanpa basa-basi itu. Namun, belum sempat ia memprotes, Feris sudah menariknya ke arah meja kerja Feris. Dengan mata yang menatap lekat manik Neyr
"Kamu memilih urusan yang salah denganku, eh.”Mehra tersentak akan reaksi Feris yang terlewat santai bahkan setelah ia mengaku permainannya. “Dengar! Aku sedang sibuk sekarang. Harus berapa kali aku harus bilang bahwa aku nggak suka diganggu di jam kantor seperti ini!”“Fer, kamu serius masih mempertanyakan hal itu? Aku kesini demi hubungan kita, aku-”“Cukup! Jangan paksa aku mengatakan itu untuk kedua kalinya. Ok!”“Aku kecewa sama kamu!” tandas Mehra lekas berbalik meninggalkan ruangan namun tepat ia membuka pintu ia dikejutkan dengan keberadaan Neyra tepat dua meter di depannya, seolah ia akan diterima dengan mudahnya.“Neyra?” Neyra tersenyum tipis melihat Feris yang memanggilnya tepat di belakang perempuan itu, Mehra Rowan presenter yang ia tahu culasnya. Terbukti dari cara Mehra menatapnya seolah sedang menguliti lawannya dari ujung kaki hingga ujung kepala. “Apa kamu sudah selesai memindai penampilanku? Karena aku sedang sibuk, jadi apa boleh kamu minggir? Aku mau masuk ke
"Lepaskan aku!" jerit Neyra satu tangannya berusaha melonggarkan cekalan keras pria itu. Berusaha membebaskan tangan yang satunya. Tak peduli jika rontaannya hanya memberikan rasa sakit yang lebih. Air mata yang membanjir di wajahnya sama sekali tak menyurutkan sikap kasar dan menimbulkan rasa iba di hati Okan. “Aku udah lelah! Dan aku tahu kamupun sama, kita tahu akan berakhir seperti apa hubungan kita kalau terus dilanjutkan!" "Tidak," desis si pria. Mata coklatnya menggelap tertutup badai dan wajahnya memerah oleh kemarahan yang sangat besar. "Ini tak akan berakhir seperti yang kamu inginkan kalau kamu masih mau berjuang." “Berjuang kamu bilang?! Kamu selalu egois! Dan tak pernah memperhitungkan aku!” bantah Neyra sembari di seret Okan.Sesampainya di depan mobilnya yang terparkir, Okan membuka pintu mobil bagian depan. Lalu mendorong Neyra untuk duduk. Neyra berniat membuka kembali pintu mobil ketika si pria berjalan memutari mobil. Namun, ia melihat perhatian dari rekan kerja
“Arghhh…. Feris! Kenapa kamu masuk-”Jeritannya mereda saat mendengar bisikan suara khas pria milik Feris. Nafasnya tercekat merasakan punggungnya yang telah menempel di dada bidang Feris dan wajah pria itu yang mulai tenggelam di cekungan lehernya. Sementara kedua telapak tangan pria itu mulai mengelus perut dan bermain-main di dadanya. Ciuman basah pria itu mulai merambati naik ke leher, rahang dan berhenti di balik telinga. Menggigit telinganya dengan gemas sebelum kemudian tubuhnya dibalik dan didorong ke dinding. Wajah Neyra terdongak sementara wajah Feris menunduk, tatapan Feris menguncinya. "Aku selalu suka reaksi dan rasa tubuh kamu." Kedua mata Feris mulai berkabut, menginginkan wanitanya sekarang juga. "Aku akan membuatmu tak bisa memikirkan hal selain aku…”Suara Feris tersengal oleh gairah yang sudah mengalir kencang di setiap pembuluh darahnya. Menginginkan Neyra dengan sangat. Membuat remasan tangannya di dada wanita itu sedikit keras dan Neyra tersentak kaget. Namu







