Share

5. Sebuah Permainan

Author: Intans Ranum
last update publish date: 2025-12-23 22:15:33

“Selalu kamu yang berlari padaku lebih dulu, Ney." Bibir Feris menempel di telinga Neyra. Berbisik lembut namun mampu membuat Neyra bergidik ngeri. 

Neyra termenung, tak mampu menampik atau bersilat lidah lagi, dan ia pasrah saat Feris menahan kepala lalu menciumnya dalam, membiarkan Feris membuka kancingnya kemudian jemarinya menyentuh langsung kulit bagian terdalam, membuat napas Neyra tercekat.

Seolah tengah melampiaskan emosinya dalam ciuman itu sekaligus menikmati kemanisan dan kelembutan bibir ranum Neyra. Saat melepas ciumannya, ia menempelkan dahinya di dahi Neyra dengan napas yang sedikit terengah-engahnya dari wanitanya. 

"Melihat caramu mempertahankan dan membela pria itu, membuatku sangat gerah, Sayang. Kurasa kamu harus bertanggung jawab untuk memuaskanku sekarang juga." 

Mata Neyra melotot mendengar permintaan vulgar Feris yang tanpa basa-basi itu. Namun, belum sempat ia memprotes, Feris sudah menariknya ke arah meja kerja Feris. Dengan mata yang menatap lekat manik Neyra, Feris mengangkat teleponnya. 

"Jangan ada yang datang ke ruanganku dan aku nggak ingin diganggu dalam bentuk apapun oleh siapapun sampai aku menyelesaikan urusanku," perintah Feris singkat pada sekretarisnya. 

Menyelesaikan urusanku? batin Neyra mengulangi kalimat terakhir Feris sambil menelan ludahnya. Ia juga menangkap arti tatapan Feris. 

Tatapan penuh gairah menggebu-gebu. Bahkan hanya dengan melihat mata Feris yang berkabut saja, gairah seolah sudah tersulut ke segala penjuru ruangan. Menariknya untuk hanyut dalam pusaran gairah pria itu. 

Sekali saja Feris bisa menyentuhnya, otak dan tubuh Neyra akan dikuasai oleh pria itu. Ia tak pernah bisa menampik kenyataan itu. Tidak! teriak batin Neyra lagi menyadarkannya, Tidak lagi! Namun, semua sudah terlambat. Feris sudah menarik pinggangnya dengan sentuhan yang lembut, tetapi sangat kuat. Merapatkan tubuh mereka. 

"Feris ...." Neyra berusaha mendorong dada Feris, tapi tidak berhasil. Feris tidak bergerak barang seinci pun, "Ini di kantor-" 

"Kantorku," bisik Feris dengan jawaban angkuhnya, dan di detik berikutnya sudah mengecup telinga Neyra dengar yang basah dan panas. 

 Gesekan kulit Feris seperti sebuah aliran listrik yang menyengat tubuh Neyra.

 Sialnya, Feris tidak juga segera mengangkat wajahnya yang tenggelam di antara helaian rambutnya, membuat Neyra memejamkan mata, menyadari bahwa sensasi itu belum juga hilang walaupun Feris sudah berkali-kali menyentuhnya. 

"Feris .." Suara Neyra bergetar saat Feris semakin menggila. Awalnya ciuman itu berasal dari leher, merembet ke bahunya yang sudah ditelanjangi oleh Feris lalu kembali bermain-main di leher Neyra, naik ke bibirnya. Semakin panas dan menggebu-gebu.

Neyra terpekik kaget ketika tiba-tiba Feris melepas ciumannya dan menunduk sejenak untuk menyelipkan tangan di balik lutut Neyra. 

Mengangkat tubuh Neyra dengan gerakan ringan yang kuat dan melangkahkan kaki menuju ke pintu yang ada di sudut ruangannya. Membawanya ke ruangan area pribadi yang biasa digunakan Feris untuk tidur siang. 

Begitu sampai di samping ranjang yang ada di tengah-tengah ruangan itu, Feris menjatuhkan tubuh langsing itu dan tubuhnya bersamaan di atas tubuh Neyra hingga menimbulkan suara berdecit di atas ranjang. 

Tatapan Feris tidak beralih sedikit pun dari wajah Neyra, menyibak rambut Neyra yang menghalangi wajahnya kemudian menelusuri lekuk wajah Neyra menggunakan jarinya. Di mulai dari kening, mata, pipi, dan berhenti di bibir Neyra. 

Perlakuan Feris yang seperti inilah yang selalu membuat Neyra tidak mampu menolak pria ini ketika menyentuhnya. Membuat ia tersenyum kecut menyadari kemunafikannya sekaligus membuatnya mabuk kepayang. 

Bagaimana tidak? Pria ini selalu memperlakukannya dengan gairah dominan ketika menyentuhnya, seakan-akan dirinya adalah satu-satunya di dunia ini yang diinginkan pria itu. Selalu mampu membuat Neyra tertawan dan tak mampu melawan ketika kulit mereka saling bersentuhan. Menguasai tubuh dan pikiran. Jantungnya berpacu bak kawanan kuda yang berlari di pacuan. 

"Kali ini aku nggak akan mengalah lagi,” Dan secepat kalimatnya selesai, ia mengecap manis dan lembutnya bibir Neyra. Mengulumnya berkali- kali tanpa merasa bosan sedikit pun. 

Neyra tak kuasa menolaknya, ciuman dan sentuhan Feris membuatnya semakin hanyut. Begitu juga dengan Feris. Terlihat dari tangan pria itu yang menelusuri setiap inci lekuk tubuh Neyra dari balik kemeja orange dan rok pensil birunya. 

Juga deru napas Feris yang semakin panas dan semakin memburu. Membuat udara di dalam ruangan itu terasa panas oleh gairah yang menggebu-gebu. 

Neyra merasakan kecupan lembut hasrat akan kepuasan tak terkira di dahi, sebelum Feris menarik diri dari atas tubuhnya lalu pindah berbaring ke sampingnya. Menarik punggung Neyra semakin erat menempel di dada Feris dan tak membiarkan jarak sekecil apapun menjauhkan dari wanitanya. 

"Tidurlah," gumam Feris serak, sisa dari kenikmatan yang dicapai sebelumnya sambil mengecup tengkuk Neyra yang lembab karena keringat. Memejamkan mata, menyadari bahwa dia tak pernah puas apa pun itu menyangkut tubuh yang dipeluknya saat ini. 

Neyra hanya diam. Ia akan menolak perintah Feris yang menyuruhnya tidur. Namun tidak sekarang, ia masih terlalu lelah setelah aktivitas panasnya dengan Feris baru saja. Entah bagaimana caranya, pria itu selalu mampu membuatnya menuruti perintah bila berada di atas ranjang. 

Apa lagi ketika berada di dalam pelukan Feris seperti ini, tidak ada sehelai kain pun yang menutupi tubuh mereka di balik selimut sutra berwarna abu-abu muda itu. Sekali lagi Feris mengecup tengkuk Neyra, kemudian kembali menenggelamkan wajahnya di rambut Neyra, tangan kanannya kanannya memeluk pinggang Neyra dan mengusap-usap seduktif.

"Aku pikir kamu cuma main-main yang pada akhirnya, kamu telah terbiasa menginginkan tubuhku. Kamu hanya senang bermain dengan tubuhku.” 

"Mungkin," jawab Feris tak peduli, malah menciumi bahu Neyra yang masih telanjang dengan sentuhan penuh godaan, 

"Tapi aku nggak peduli. Aku cuma mau kamu yang bermain sama aku." 

"Aku bukan boneka yang bisa dimainin, Fer!" 

"Memang." 

“Aku nggak habis pikir, padahal masih banyak wanita diluar sana yang lebih cantik dan selevel sama kamu. Yang menginginkanmu, yang memujamu, Fer." Neyra bersusah payah menormalkan desah napas dan akal sehat akan godaan panas Feris di bahunya. 

"Dan yang jadi masalah di sini adalah, akulah yang masih menginginkanmu." 

"Tapi kita berdua sama-sama tau, kalau saat ini aku seharusnya masih sama-!"

 "Ssttt….” Feris mengangkat tangannya dari perut Neyra, menempelkan telunjuk di bibir Neyra dan menarik wajahnya dari bahu Neyra ketika berbisik, "Jangan sekali-kali kamu menyebutkan nama pria lain ketika kita sedang bercumbu, terutama di atas ranjangku atau-"

"Atau apa?! Hah!" sentak Neyra menentang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • (Bukan) Pernikahan Tipuan    37. (Bukan) Sebuah Masalah

    “Setelah apa yang diperbuat olehnya di belakangmu?!”“Dan apa masalahmu?”“Masalah ku? Bukankah seharusnya kamu yang mempermasalahkannya? Dia mencurangimu dengan berselingkuh di belakangmu, well dia sedang mengulangi tabiat aslinya dengan tokoh yang sama hanya pemerannya yang tertukar.Rahang mengetat di serta tatapan tajam yang diberikan Feris tak mampu membuat Mehra berhenti. “Tiga bulan lagi, kamu benar akan menceraikannya, kan Fer?” "Jadi benar kamu harus ditegaskan, aku hanya menganggapmu sebagai teman lamaku dan partner kerjaku, dan harus berapa kali aku bilang, aku tak suka siapapun ikut campur. Setelah ini aku tak ingin dengar pertanyaan omong kosong lagi terlebih darimu.” Mehra tercengang mendengar nada dingin dan peringatan pada ucapan Feris. Lalu mencoba mencari arti lain di manik Feris dan berakhir sia-sia. Ketajaman dalam tatapan Feris menunjukkan bahwa pria itu serius dan hanya ada satu arti dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya. "Kupikir ... kupikir kita bisa

  • (Bukan) Pernikahan Tipuan    36. Cemburu

    Neyra tersentak, matanya membola lurus ke arah Feris. Lagi-lagi seperti ini Feris dan egonya setinggi langit. Namun kali ini ia ingin sekali lagi menunjukkan kepada Feris bahwa ia tak mau menuruti kata-kata pria itu. Ia tahu, ia harus menuruti keinginan Feris. Karena mereka masih dalam kesepakatan. Akan tetapi, ia tak bisa menahan diri untuk membangkang. Dia bukan lagi boneka yang bisa seenaknya Feris perintah. Ia tak terima Feris menyepelekannya. Mempermainkannya sesuka hati pria itu lalu dibuang seperti kain lap yang tak berguna. Kalaupun ia tidak berdaya dengan tindasan Feris, paling tidak ia akan memberontak untuk sedikit menyusahkan pria itu.Feris menggeram. Penentangan Neyra terdengar seperti gendang peperangan yang siap ditabuh. Jika wanita itu ingin permainan, mari kita tunjukkan siapa pemimpin permainan yang sebenarnya. Tangan Feris mengambil bingkai berukuran kecil disampingnya lalu melemparnya ke dinding hampir mengenai tubuh Neyra berdiri. PRANGGG…Neyra membungkuk, kedu

  • (Bukan) Pernikahan Tipuan    35. Alasan Berduaan

    “Dua bulan lagi diceraikan? Apa Maksudmu Mehra?” Mehra tersenyum meremehkan sembari menatap wajah Neyra yang pias bahkan tubuhnya hanya mematung perlahan menunduk. “Upss… apa kamu juga belum tahu, Ney? maksudku bukannya mamanya Feris atau Feris sudah memberitahumu? atau Karenina mungkin, aku tahu dari Feris kalian sudah beberapa kali bertemu,”“Ney? Apa benar begitu?” tanya Regas memburu.Neyra mendongak dan tersenyum kering. “Aku nggak nyaman membicarakan urusan rumah tangga pada orang lain seperti kalian dan kenapa sih kalian harus mempedulikan urusan rumah tangga orang lain, seperti udah nggak punya urusan sendiri saja,”Neyra menandandaskan minumannya dalam satu tegakkan, tak peduli dengan gerakannya yang sembrono. Dan saat itulah ponsel nya berbunyi menunjukkan nama Feris lah yang jadi pemanggilnya.“Feris,… sepertinya dia sudah melihat foto kalian berdua yang aku kirim padanya,” seru Mehra setelah mengintip ponsel Neyra.“Apa kau bilang? Foto kami?”Dan Mehra hanya tersenyum, i

  • (Bukan) Pernikahan Tipuan    34. Sudah Goyah

    “Aku bilang nggak bisa! Aku takut keguguran! Arrgghh…”“Keguguran?” saut Feris mengambang. "Ckkk… Lepas..." Panggilan Neyra terpotong oleh bibir Feris yang segera membungkamnya. Dan hati, Neyra menyumpahi Karenina yang membawa pria itu pulang dalam kondisi mabuk seperti ini.Dengan seluruh tenaga yang dimilikinya, Neyra berusaha menyingkirkan tubuh Feris dari atasnya. Tetapi melawan kekuatan pria Feris jelas bukan ide yang bagus. Hasrat pria itu sudah tak terbendung lagi. Bahkan ia tak bisa melonggarkan cekalan Feris di kedua tangannya.Pria itu melucuti pakaian keduanya dan melemparnya ke sembarang arah. Dan saat Feris melepaskan bibirnya, berteriak meminta tolong juga ide yang lebih tolol lagi. Feris adalah suaminya sendiri.Pada akhirnya, Neyra tetap tak berdaya di hadapan keinginan Feris. Napas pria itu semakin menggebu, tak pernah puas. Esok pagi, Neyra bangun terlambat meski turun dari tempat lebih dulu. Ia lekas membersihkan badannya, tepat ketika keluar dari bilik, Feris mel

  • (Bukan) Pernikahan Tipuan    33. Pulang Dengan Karenina

    Dua Hari Kemudian“Jadi suamimu masih belum pulang?”“Belum, well… terimakasih info dan sarannya, sepertinya aku sudah mantap akan berinvestasi di properti, aku suka usulan lokasi kontrakan di pinggir kota yang kamu bilang itu.”“Bagus, berarti bagaimana jika besok kita bertemu untuk menghitung modalnya sekalian aku jelaskan lebih jauhi,”“Ya, ayo kita bertemu besok, terimakasih banyak Regas,”“Anytime,” tutup Regas.Neyra menggeliatkan tubuhnya sejenak sembari mengedarkan pandangannya di kamar.Hanya ada dirinya di kamar tersebut. Meski biasanya Feris pulang terlambat, kali ini pria itu sudah dua hari tak pulang. Pun begitu, ia tak akan menghubunginya lebih dulu, Neyra masih kecewa dengan jawaban Feris malam itu. Hubungan mereka semakin asing sejak kedatangan Karenina kembali ke Indonesia dan mulai menginvasi hidup Feris. Dan itu memudahkannya untuk mendapatkan jarak untuk ia mempertimbangkan pilihan apa yang harus ia ambil untuk hidupnya dan anak dalam kandungannya tanpa ikut andil

  • (Bukan) Pernikahan Tipuan    32. Kapan Ceraikan Aku?

    Tanda positif semakin jelas terlihat. Kini, Neyra sadar, ia tidak sedang bermimpi. Tangannya gemetar tak terkendali hingga test pack terlepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai kamar mandi. Perasaannya semakin kacau.Neyra tidak berani membayangkan seperti apa hidup-nya nanti. Selama ini, Neyra tidak pernah peduli dengan anggapan atau pikiran orang tentang dirinya, tetapi hamil tanpa pasangan belum pernah terlintas di benaknya. Neyra menangkupkan tangan pada wajahnya, tidak pernah mengira ini semua akan terjadi pada dirinya. Air matanya mengalir.Sudah begitu lama ia meninggalkan keluarganya untuk hidup mandiri. Tidak ada sanak saudara yang membantunya. Neyra bekerja keras demi memenuhi kebutuhan hidupnya,dan belum berminat untuk menjalin hubungan dengan lelaki manapun setelah Marcel-kekasihnya mengkhianatinya. Lelaki itu berselingkuh dengan teman sekerja Neyra yang selama ini telah menjadi teman curhatnya.Tujuan hidup Neyra hanya satu; dapat hidup layak dari hasil keringat sendi

  • (Bukan) Pernikahan Tipuan    19. Kepasrahan Neyra

    Ferislah yang berinisiatif membuka pintu. “Kamu masih disini, Nina?”Karenina tak menghiraukan pertanyaan yang menggores hatinya. Ia menatap dalam ke arah dada Feris yang terlihat lebih coklat dari yang ia ingat, semakin terlihat manly. “Karenina.” panggil Feris.“Ah, iya. Begini… kita harus pergi

  • (Bukan) Pernikahan Tipuan    16. Saling jujur

    “Siapa dia, Fer?” kesal wanita cantik itu.“Dia Neyra,” jawab Feris menggantung, masih menatap lurus Neyra yang menunggu jawabannya.Neyra tersenyum sinis, saat tahu itulah jawaban Feris. “Maaf, mengganggu tapi aku datang untuk mengantar berkas super penting ini, aku permisi.”Tanpa menunggu jawaba

  • (Bukan) Pernikahan Tipuan    6. Hari Pernikahan

    “Atau apa?! Hah!” sentak Neyra menentang.Neyra memutar bola matanya, kalimat ke-overprotective-an pria ini benar-benar membuat muak. Saat pria itu berniat membalikkan badannya dan akan menempelkan bibir mereka, Neyra segera bangkit dari tidur. Sebelum semuanya kembali terlambat. "Aku harus pergi,

  • (Bukan) Pernikahan Tipuan    4. Percintaan di Ruangan Bos

    "Kamu memilih urusan yang salah denganku, eh.”Mehra tersentak akan reaksi Feris yang terlewat santai bahkan setelah ia mengaku permainannya. “Dengar! Aku sedang sibuk sekarang. Harus berapa kali aku harus bilang bahwa aku nggak suka diganggu di jam kantor seperti ini!”“Fer, kamu serius masih mem

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status