Masuk“Selalu kamu yang berlari padaku lebih dulu, Ney." Bibir Feris menempel di telinga Neyra. Berbisik lembut namun mampu membuat Neyra bergidik ngeri.
Neyra termenung, tak mampu menampik atau bersilat lidah lagi, dan ia pasrah saat Feris menahan kepala lalu menciumnya dalam, membiarkan Feris membuka kancingnya kemudian jemarinya menyentuh langsung kulit bagian terdalam, membuat napas Neyra tercekat.
Seolah tengah melampiaskan emosinya dalam ciuman itu sekaligus menikmati kemanisan dan kelembutan bibir ranum Neyra. Saat melepas ciumannya, ia menempelkan dahinya di dahi Neyra dengan napas yang sedikit terengah-engahnya dari wanitanya.
"Melihat caramu mempertahankan dan membela pria itu, membuatku sangat gerah, Sayang. Kurasa kamu harus bertanggung jawab untuk memuaskanku sekarang juga."
Mata Neyra melotot mendengar permintaan vulgar Feris yang tanpa basa-basi itu. Namun, belum sempat ia memprotes, Feris sudah menariknya ke arah meja kerja Feris. Dengan mata yang menatap lekat manik Neyra, Feris mengangkat teleponnya.
"Jangan ada yang datang ke ruanganku dan aku nggak ingin diganggu dalam bentuk apapun oleh siapapun sampai aku menyelesaikan urusanku," perintah Feris singkat pada sekretarisnya.
Menyelesaikan urusanku? batin Neyra mengulangi kalimat terakhir Feris sambil menelan ludahnya. Ia juga menangkap arti tatapan Feris.
Tatapan penuh gairah menggebu-gebu. Bahkan hanya dengan melihat mata Feris yang berkabut saja, gairah seolah sudah tersulut ke segala penjuru ruangan. Menariknya untuk hanyut dalam pusaran gairah pria itu.
Sekali saja Feris bisa menyentuhnya, otak dan tubuh Neyra akan dikuasai oleh pria itu. Ia tak pernah bisa menampik kenyataan itu. Tidak! teriak batin Neyra lagi menyadarkannya, Tidak lagi! Namun, semua sudah terlambat. Feris sudah menarik pinggangnya dengan sentuhan yang lembut, tetapi sangat kuat. Merapatkan tubuh mereka.
"Feris ...." Neyra berusaha mendorong dada Feris, tapi tidak berhasil. Feris tidak bergerak barang seinci pun, "Ini di kantor-"
"Kantorku," bisik Feris dengan jawaban angkuhnya, dan di detik berikutnya sudah mengecup telinga Neyra dengar yang basah dan panas.
Gesekan kulit Feris seperti sebuah aliran listrik yang menyengat tubuh Neyra.
Sialnya, Feris tidak juga segera mengangkat wajahnya yang tenggelam di antara helaian rambutnya, membuat Neyra memejamkan mata, menyadari bahwa sensasi itu belum juga hilang walaupun Feris sudah berkali-kali menyentuhnya.
"Feris .." Suara Neyra bergetar saat Feris semakin menggila. Awalnya ciuman itu berasal dari leher, merembet ke bahunya yang sudah ditelanjangi oleh Feris lalu kembali bermain-main di leher Neyra, naik ke bibirnya. Semakin panas dan menggebu-gebu.
Neyra terpekik kaget ketika tiba-tiba Feris melepas ciumannya dan menunduk sejenak untuk menyelipkan tangan di balik lutut Neyra.
Mengangkat tubuh Neyra dengan gerakan ringan yang kuat dan melangkahkan kaki menuju ke pintu yang ada di sudut ruangannya. Membawanya ke ruangan area pribadi yang biasa digunakan Feris untuk tidur siang.
Begitu sampai di samping ranjang yang ada di tengah-tengah ruangan itu, Feris menjatuhkan tubuh langsing itu dan tubuhnya bersamaan di atas tubuh Neyra hingga menimbulkan suara berdecit di atas ranjang.
Tatapan Feris tidak beralih sedikit pun dari wajah Neyra, menyibak rambut Neyra yang menghalangi wajahnya kemudian menelusuri lekuk wajah Neyra menggunakan jarinya. Di mulai dari kening, mata, pipi, dan berhenti di bibir Neyra.
Perlakuan Feris yang seperti inilah yang selalu membuat Neyra tidak mampu menolak pria ini ketika menyentuhnya. Membuat ia tersenyum kecut menyadari kemunafikannya sekaligus membuatnya mabuk kepayang.
Bagaimana tidak? Pria ini selalu memperlakukannya dengan gairah dominan ketika menyentuhnya, seakan-akan dirinya adalah satu-satunya di dunia ini yang diinginkan pria itu. Selalu mampu membuat Neyra tertawan dan tak mampu melawan ketika kulit mereka saling bersentuhan. Menguasai tubuh dan pikiran. Jantungnya berpacu bak kawanan kuda yang berlari di pacuan.
"Kali ini aku nggak akan mengalah lagi,” Dan secepat kalimatnya selesai, ia mengecap manis dan lembutnya bibir Neyra. Mengulumnya berkali- kali tanpa merasa bosan sedikit pun.
Neyra tak kuasa menolaknya, ciuman dan sentuhan Feris membuatnya semakin hanyut. Begitu juga dengan Feris. Terlihat dari tangan pria itu yang menelusuri setiap inci lekuk tubuh Neyra dari balik kemeja orange dan rok pensil birunya.
Juga deru napas Feris yang semakin panas dan semakin memburu. Membuat udara di dalam ruangan itu terasa panas oleh gairah yang menggebu-gebu.
Neyra merasakan kecupan lembut hasrat akan kepuasan tak terkira di dahi, sebelum Feris menarik diri dari atas tubuhnya lalu pindah berbaring ke sampingnya. Menarik punggung Neyra semakin erat menempel di dada Feris dan tak membiarkan jarak sekecil apapun menjauhkan dari wanitanya.
"Tidurlah," gumam Feris serak, sisa dari kenikmatan yang dicapai sebelumnya sambil mengecup tengkuk Neyra yang lembab karena keringat. Memejamkan mata, menyadari bahwa dia tak pernah puas apa pun itu menyangkut tubuh yang dipeluknya saat ini.
Neyra hanya diam. Ia akan menolak perintah Feris yang menyuruhnya tidur. Namun tidak sekarang, ia masih terlalu lelah setelah aktivitas panasnya dengan Feris baru saja. Entah bagaimana caranya, pria itu selalu mampu membuatnya menuruti perintah bila berada di atas ranjang.
Apa lagi ketika berada di dalam pelukan Feris seperti ini, tidak ada sehelai kain pun yang menutupi tubuh mereka di balik selimut sutra berwarna abu-abu muda itu. Sekali lagi Feris mengecup tengkuk Neyra, kemudian kembali menenggelamkan wajahnya di rambut Neyra, tangan kanannya kanannya memeluk pinggang Neyra dan mengusap-usap seduktif.
"Aku pikir kamu cuma main-main yang pada akhirnya, kamu telah terbiasa menginginkan tubuhku. Kamu hanya senang bermain dengan tubuhku.”
"Mungkin," jawab Feris tak peduli, malah menciumi bahu Neyra yang masih telanjang dengan sentuhan penuh godaan,
"Tapi aku nggak peduli. Aku cuma mau kamu yang bermain sama aku."
"Aku bukan boneka yang bisa dimainin, Fer!"
"Memang."
“Aku nggak habis pikir, padahal masih banyak wanita diluar sana yang lebih cantik dan selevel sama kamu. Yang menginginkanmu, yang memujamu, Fer." Neyra bersusah payah menormalkan desah napas dan akal sehat akan godaan panas Feris di bahunya.
"Dan yang jadi masalah di sini adalah, akulah yang masih menginginkanmu."
"Tapi kita berdua sama-sama tau, kalau saat ini aku seharusnya masih sama-!"
"Ssttt….” Feris mengangkat tangannya dari perut Neyra, menempelkan telunjuk di bibir Neyra dan menarik wajahnya dari bahu Neyra ketika berbisik, "Jangan sekali-kali kamu menyebutkan nama pria lain ketika kita sedang bercumbu, terutama di atas ranjangku atau-"
"Atau apa?! Hah!" sentak Neyra menentang.
Regas memandangnya dalam ada raut terkejut di wajahnya yang langsung terganti kecewa, khas Regas saat sedang kecewa."Ulurkan tanganmu, Kak! Semua orang memperhatikan kita."Neyra sempat tersentak sebelum menerima lengan adik lelakinya, pandangannya tak lepas dari kedua mata Regas yang menyiratkan patah hati. Sama besar seperti yang mendera hatinya. "Palingkan wajahmu, Kak. Kita hampir sampai altar,” bisik Rizwan. Memaksa perhatian Neyra lurus ke depan, ke arah Feris yang sedang tersenyum menatapnya lurus. Neyra tak menjawab. Tak perlu menjawab. Karena tak ada seorangpun yang mengerti perasaannya. Keduanya berjalan melewati ketiga orang tersebut. Memasuki ruangan luas yang sudah dipenuhi oleh para tamu undangan. Hanya dengan melihat luasnya ruangan, ia tahu Feris memastikan pernikahan tersebut berlangsung meriah hanya dalam waktu dua bulan.Setiap langkah yang membawanya semakin dekat dengan altar, matanya mengerjap. Menahan air mata meleleh. Menggigit bibir bagian dalam, mencoba m
“Atau apa?! Hah!” sentak Neyra menentang.Neyra memutar bola matanya, kalimat ke-overprotective-an pria ini benar-benar membuat muak. Saat pria itu berniat membalikkan badannya dan akan menempelkan bibir mereka, Neyra segera bangkit dari tidur. Sebelum semuanya kembali terlambat. "Aku harus pergi, Fer." Feris tersenyum kecil ketika Neyra menghindari ciumannya. "Ini hari libur kamu ‘kan?" “Iya dan justru itu, aku masih ada urusan lain. Jadi berhenti korupsi waktu libur aku!”“Aku bisa kasih kamu pekerjaan secepatnya,”"Melamar kerja yang bosnya nggak profesional macam kamu? No, thanks!" Neyra menarik selimut untuk menutupi dadanya yang telanjang dan turun dari ranjang menuju ke kamar mandi. Ruang kerja Feris benar-benar seperti rumah kedua. Meski tidak terlalu luas tapi perabotan yang digunakan serba minimalis dan trendy, membuatnya tampak cukup dan nyaman. “Orang kaya memang selalu melakukan apapun sesukanya, ya.” decak Neyra. Senyum di bibir Feris semakin melebar mendengar decak
“Selalu kamu yang berlari padaku lebih dulu, Ney." Bibir Feris menempel di telinga Neyra. Berbisik lembut namun mampu membuat Neyra bergidik ngeri. Neyra termenung, tak mampu menampik atau bersilat lidah lagi, dan ia pasrah saat Feris menahan kepala lalu menciumnya dalam, membiarkan Feris membuka kancingnya kemudian jemarinya menyentuh langsung kulit bagian terdalam, membuat napas Neyra tercekat.Seolah tengah melampiaskan emosinya dalam ciuman itu sekaligus menikmati kemanisan dan kelembutan bibir ranum Neyra. Saat melepas ciumannya, ia menempelkan dahinya di dahi Neyra dengan napas yang sedikit terengah-engahnya dari wanitanya. "Melihat caramu mempertahankan dan membela pria itu, membuatku sangat gerah, Sayang. Kurasa kamu harus bertanggung jawab untuk memuaskanku sekarang juga." Mata Neyra melotot mendengar permintaan vulgar Feris yang tanpa basa-basi itu. Namun, belum sempat ia memprotes, Feris sudah menariknya ke arah meja kerja Feris. Dengan mata yang menatap lekat manik Neyr
"Kamu memilih urusan yang salah denganku, eh.”Mehra tersentak akan reaksi Feris yang terlewat santai bahkan setelah ia mengaku permainannya. “Dengar! Aku sedang sibuk sekarang. Harus berapa kali aku harus bilang bahwa aku nggak suka diganggu di jam kantor seperti ini!”“Fer, kamu serius masih mempertanyakan hal itu? Aku kesini demi hubungan kita, aku-”“Cukup! Jangan paksa aku mengatakan itu untuk kedua kalinya. Ok!”“Aku kecewa sama kamu!” tandas Mehra lekas berbalik meninggalkan ruangan namun tepat ia membuka pintu ia dikejutkan dengan keberadaan Neyra tepat dua meter di depannya, seolah ia akan diterima dengan mudahnya.“Neyra?” Neyra tersenyum tipis melihat Feris yang memanggilnya tepat di belakang perempuan itu, Mehra Rowan presenter yang ia tahu culasnya. Terbukti dari cara Mehra menatapnya seolah sedang menguliti lawannya dari ujung kaki hingga ujung kepala. “Apa kamu sudah selesai memindai penampilanku? Karena aku sedang sibuk, jadi apa boleh kamu minggir? Aku mau masuk ke
"Lepaskan aku!" jerit Neyra satu tangannya berusaha melonggarkan cekalan keras pria itu. Berusaha membebaskan tangan yang satunya. Tak peduli jika rontaannya hanya memberikan rasa sakit yang lebih. Air mata yang membanjir di wajahnya sama sekali tak menyurutkan sikap kasar dan menimbulkan rasa iba di hati Okan. “Aku udah lelah! Dan aku tahu kamupun sama, kita tahu akan berakhir seperti apa hubungan kita kalau terus dilanjutkan!" "Tidak," desis si pria. Mata coklatnya menggelap tertutup badai dan wajahnya memerah oleh kemarahan yang sangat besar. "Ini tak akan berakhir seperti yang kamu inginkan kalau kamu masih mau berjuang." “Berjuang kamu bilang?! Kamu selalu egois! Dan tak pernah memperhitungkan aku!” bantah Neyra sembari di seret Okan.Sesampainya di depan mobilnya yang terparkir, Okan membuka pintu mobil bagian depan. Lalu mendorong Neyra untuk duduk. Neyra berniat membuka kembali pintu mobil ketika si pria berjalan memutari mobil. Namun, ia melihat perhatian dari rekan kerja
“Arghhh…. Feris! Kenapa kamu masuk-”Jeritannya mereda saat mendengar bisikan suara khas pria milik Feris. Nafasnya tercekat merasakan punggungnya yang telah menempel di dada bidang Feris dan wajah pria itu yang mulai tenggelam di cekungan lehernya. Sementara kedua telapak tangan pria itu mulai mengelus perut dan bermain-main di dadanya. Ciuman basah pria itu mulai merambati naik ke leher, rahang dan berhenti di balik telinga. Menggigit telinganya dengan gemas sebelum kemudian tubuhnya dibalik dan didorong ke dinding. Wajah Neyra terdongak sementara wajah Feris menunduk, tatapan Feris menguncinya. "Aku selalu suka reaksi dan rasa tubuh kamu." Kedua mata Feris mulai berkabut, menginginkan wanitanya sekarang juga. "Aku akan membuatmu tak bisa memikirkan hal selain aku…”Suara Feris tersengal oleh gairah yang sudah mengalir kencang di setiap pembuluh darahnya. Menginginkan Neyra dengan sangat. Membuat remasan tangannya di dada wanita itu sedikit keras dan Neyra tersentak kaget. Namu







