Se connecter"Kamu memilih urusan yang salah denganku, eh.”
Mehra tersentak akan reaksi Feris yang terlewat santai bahkan setelah ia mengaku permainannya.
“Dengar! Aku sedang sibuk sekarang. Harus berapa kali aku harus bilang bahwa aku nggak suka diganggu di jam kantor seperti ini!”
“Fer, kamu serius masih mempertanyakan hal itu? Aku kesini demi hubungan kita, aku-”
“Cukup! Jangan paksa aku mengatakan itu untuk kedua kalinya. Ok!”
“Aku kecewa sama kamu!” tandas Mehra lekas berbalik meninggalkan ruangan namun tepat ia membuka pintu ia dikejutkan dengan keberadaan Neyra tepat dua meter di depannya, seolah ia akan diterima dengan mudahnya.
“Neyra?”
Neyra tersenyum tipis melihat Feris yang memanggilnya tepat di belakang perempuan itu, Mehra Rowan presenter yang ia tahu culasnya. Terbukti dari cara Mehra menatapnya seolah sedang menguliti lawannya dari ujung kaki hingga ujung kepala.
“Apa kamu sudah selesai memindai penampilanku? Karena aku sedang sibuk, jadi apa boleh kamu minggir? Aku mau masuk ke ruangannya.” seru Neyra tersenyum menyebalkan.
“Apa? ckkk…. Sialan.” cemooh Mehra berbalik demi menatap Feris dan Neyra bergantian. “Secepatnya kamu akan bosan dengannya dan jangan harap aku akan memaafkanmu dengan mudah, cam kan itu!”
Ucapan Mehra bak angin lalu karena Feris masih memandang dalam ke arah Neyra kemudian tersenyum tipis sebelum merangkul Neyra agar mengikutinya.
“Sepertinya dia marah besar ke kamu, apa nggak apa-apa membiarkan dia pergi dengan cara seperti itu?”
“Dia bukan apa-apa, jadi kamu mau makan apa hari ini?”
“Apa aja,” jawab Neyra singkat, tak puas dengan jawaban Feris yang menggantung.
“Dan selama menunggu, bagaimana kalau kita bermain dulu?” Feris semakin merengkuhnya, tangan kirinya yang bebas memeras bokong Neyra dengan seduktif, tangan kanannya siap ingin mencumbu yang langsung ditahan oleh Neyra.
“Jangan macam-macam, Fer! Ini kantor!”
"Kantorku. Ini tempat usahaku sendiri, ingat? Jadi kepada siapa aku harus meminta ijin untuk melakukan apapun yang kuinginkan disini, hmmm?" tanya Feris terkekeh geli.
Ponsel Neyra berdering, ia memberi isyarat untuk mengangkat ponselnya, namun posisi Feris yang terlampau dekat menjadikan ia membaca pemanggil dengan mudah.
pria itu menjauhkan ponsel tersebut dari jangkauan tangannya dengan sigap.
“Dari Okan, eh?”
"Kembalikan, Feris!" geram Neyra.
“Kamu lancang!” geram Neyra meronta. Feris menahan kedua tangan Neyra dengan satu tangan, sedangkan tangan kanannya menyentuh layar ponsel Neyra mencari- cari sesuatu di sana. Kemudian menunjukkan pada Neyra sebagai pemanggil yang diberi nama My material husband dengan foto Okan.
"Kamu menamai pria itu 'my material husband?" sindir Feris dengan tatapan mencemoohnya. Pria itu menunduk kembali lalu mengotak-atik ponsel Neyra, menggantikan namanya menjadi 'Okan’
Tersenyum puas dengan hasil kerjanya, ia menunjukkannya pada Neyra. "Harusnya begini ‘kan?"
“Kamu tahu darimana pola ponselku, hah?!”
“Kemarin aku melihat kamu menggunakan pola yang sama dengan ponselmu yang dulu,” jawab Feris terdengar tenang.
Jemarinya kembali bergerak di atas layar ponsel Neyra untuk menyimpan nomornya dengan 'My Lovely Man' sebelum menunjukkan hasil kerjanya yang kedua pada Neyra dengan senyum penuh kemenangan yang lebih memuaskan,
“Aku suka, bagaimana?”
"Kamu lancang!" Neyra masih berusaha membuat jarak, tetapi sepertinya kekuatannya sama sekali tidak sebanding dengan kekuatan pria itu untuk merebut ponsel itu maupun untuk lepas dari Feris. dan percuma karena Feris masih merengkuh tubuh Neyra dengan sebelah tangannya dengan erat. Untuk merebut ponsel itu maupun untuk lepas dari Feris.
"Kamu udah resmi menjadi pacarku," ucap Feris tajam penuh kemantapan. Ia meletakkan ponsel Neyra lalu memutar dan menarik pinggang Neyra menempelkan punggungnya di dada Feris. Memeluk dari belakang sambil masih menggenggam kini kedua tangannya di depan.
"Hentikan, Fer!" Neyra memejamkan matanya. Masih berusaha berontak dari dekapan Feris. Ia tidak mau masuk ke dalam pusaran tawanan Feris, pria ini pernah membuatnya tak berdaya hingga ia mampu bermain api di belakang kekasihnya dulu. Sesuatu yang bukan dirinya sama sekali.
"Aku tahu kamu menginginkanku." bisik Feris menggoda.
"Lepaskan, Fer. Aku masih punya urusan yang lain." Neyra menggumam pelan, masih memejamkan matanya agar ia tidak kembali terjatuh ke pusaran tawanan seorang Feris Sastrodirjo.
"Aku tahu kamu suka sentuhanku, Ney.” bisik Feris yang semakin gencar memberikan ciuman di leher Neyra. Menggodanya.
Ya, Neyra memang bukan wanita yang terbiasa memamerkan kemesraan namun ia tahu jika Neyra selalu tak bisa menolak sentuhannya yang lihai. Karena, Feris menyentuhnya seakan-akan hanya dirinyalah wanita yang paling dicintai pria itu.
“Aku tahu bahwa kamu tahu kalau kamu selalu hanya aku jadikan pelarian, baik dulu atau sekarang, ‘kan, Fer! Karena aku cuma cinta sama Okan!”
Sialan! Neyra memang paling pintar mengusik egonya. Sengaja mengatakan kalimat sialan itu hanya untuk mengusik egonya.
Neyra ikut membeku saat merasakan Feris menghentikan kegiatannya. Merasakan ketegangan di wajah dan napas panas Feris yang menerpa kulit lehernya, menandakan ia berhasil mengusik ego pria itu. Ia memejamkan mata, berusaha menghalau ketakutan yang menggerogoti hatinya karena berani mengusik ego seorang Feris Sastrodirjo.
"Kamu berani menyebutkan nama pria brengsek itu ketika aku mencumbumu?" geram Feris dibalik suaranya yang tenang, berikut ancaman mematikan yang membuat bulu kuduk Neyra meremang.
Darah menghilang dari wajah Neyra, membuatnya bukan hanya sekedar pucat pasi. Ia bahkan tak berani membuka matanya karena terlalu takut menghadapi kemarahan Feris. Ia tahu bagaimana sifat tinggi hati yang ada di hadapannya ini.
"Aku tahu kamu mengatakan itu hanya karena ingin mengusikku saja, kan." lanjut Feris kemudian dengan nada penuh ketenangan yang terkendali.
"Kita sama-sama tahu, Neyra. Hanya akulah pria yang selalu kamu jadikan pelarian untuk dimintai pertolongan, dan itu alasan yang sama, kenapa kita bisa seintim ini?”
Sial! rutuk Neyra dalam hati.
"Dan akan selalu seperti itu." Janji Feris. Seperti iblis yang bersumpah dalam kekejamannya. Pelukan lengannya di pinggang Neyra semakin erat. Membuat tubuh Neyra gemetar karena bukan melepaskan, pria ini malah semakin mengetatkan rengkuhan lengannya.
Lalu jemarinya bergerak perlahan menelusuri dada Neyra dengan sentuhan lembut yang membuat bulu kuduk Neyra meremang ketika jemari itu meremas seduktif.
“Selalu kamu yang berlari padaku lebih dulu, Ney." Bibir Feris menempel di telinga Neyra. Berbisik lembut namun mampu membuat Neyra bergidik ngeri.
Regas memandangnya dalam ada raut terkejut di wajahnya yang langsung terganti kecewa, khas Regas saat sedang kecewa."Ulurkan tanganmu, Kak! Semua orang memperhatikan kita."Neyra sempat tersentak sebelum menerima lengan adik lelakinya, pandangannya tak lepas dari kedua mata Regas yang menyiratkan patah hati. Sama besar seperti yang mendera hatinya. "Palingkan wajahmu, Kak. Kita hampir sampai altar,” bisik Rizwan. Memaksa perhatian Neyra lurus ke depan, ke arah Feris yang sedang tersenyum menatapnya lurus. Neyra tak menjawab. Tak perlu menjawab. Karena tak ada seorangpun yang mengerti perasaannya. Keduanya berjalan melewati ketiga orang tersebut. Memasuki ruangan luas yang sudah dipenuhi oleh para tamu undangan. Hanya dengan melihat luasnya ruangan, ia tahu Feris memastikan pernikahan tersebut berlangsung meriah hanya dalam waktu dua bulan.Setiap langkah yang membawanya semakin dekat dengan altar, matanya mengerjap. Menahan air mata meleleh. Menggigit bibir bagian dalam, mencoba m
“Atau apa?! Hah!” sentak Neyra menentang.Neyra memutar bola matanya, kalimat ke-overprotective-an pria ini benar-benar membuat muak. Saat pria itu berniat membalikkan badannya dan akan menempelkan bibir mereka, Neyra segera bangkit dari tidur. Sebelum semuanya kembali terlambat. "Aku harus pergi, Fer." Feris tersenyum kecil ketika Neyra menghindari ciumannya. "Ini hari libur kamu ‘kan?" “Iya dan justru itu, aku masih ada urusan lain. Jadi berhenti korupsi waktu libur aku!”“Aku bisa kasih kamu pekerjaan secepatnya,”"Melamar kerja yang bosnya nggak profesional macam kamu? No, thanks!" Neyra menarik selimut untuk menutupi dadanya yang telanjang dan turun dari ranjang menuju ke kamar mandi. Ruang kerja Feris benar-benar seperti rumah kedua. Meski tidak terlalu luas tapi perabotan yang digunakan serba minimalis dan trendy, membuatnya tampak cukup dan nyaman. “Orang kaya memang selalu melakukan apapun sesukanya, ya.” decak Neyra. Senyum di bibir Feris semakin melebar mendengar decak
“Selalu kamu yang berlari padaku lebih dulu, Ney." Bibir Feris menempel di telinga Neyra. Berbisik lembut namun mampu membuat Neyra bergidik ngeri. Neyra termenung, tak mampu menampik atau bersilat lidah lagi, dan ia pasrah saat Feris menahan kepala lalu menciumnya dalam, membiarkan Feris membuka kancingnya kemudian jemarinya menyentuh langsung kulit bagian terdalam, membuat napas Neyra tercekat.Seolah tengah melampiaskan emosinya dalam ciuman itu sekaligus menikmati kemanisan dan kelembutan bibir ranum Neyra. Saat melepas ciumannya, ia menempelkan dahinya di dahi Neyra dengan napas yang sedikit terengah-engahnya dari wanitanya. "Melihat caramu mempertahankan dan membela pria itu, membuatku sangat gerah, Sayang. Kurasa kamu harus bertanggung jawab untuk memuaskanku sekarang juga." Mata Neyra melotot mendengar permintaan vulgar Feris yang tanpa basa-basi itu. Namun, belum sempat ia memprotes, Feris sudah menariknya ke arah meja kerja Feris. Dengan mata yang menatap lekat manik Neyr
"Kamu memilih urusan yang salah denganku, eh.”Mehra tersentak akan reaksi Feris yang terlewat santai bahkan setelah ia mengaku permainannya. “Dengar! Aku sedang sibuk sekarang. Harus berapa kali aku harus bilang bahwa aku nggak suka diganggu di jam kantor seperti ini!”“Fer, kamu serius masih mempertanyakan hal itu? Aku kesini demi hubungan kita, aku-”“Cukup! Jangan paksa aku mengatakan itu untuk kedua kalinya. Ok!”“Aku kecewa sama kamu!” tandas Mehra lekas berbalik meninggalkan ruangan namun tepat ia membuka pintu ia dikejutkan dengan keberadaan Neyra tepat dua meter di depannya, seolah ia akan diterima dengan mudahnya.“Neyra?” Neyra tersenyum tipis melihat Feris yang memanggilnya tepat di belakang perempuan itu, Mehra Rowan presenter yang ia tahu culasnya. Terbukti dari cara Mehra menatapnya seolah sedang menguliti lawannya dari ujung kaki hingga ujung kepala. “Apa kamu sudah selesai memindai penampilanku? Karena aku sedang sibuk, jadi apa boleh kamu minggir? Aku mau masuk ke
"Lepaskan aku!" jerit Neyra satu tangannya berusaha melonggarkan cekalan keras pria itu. Berusaha membebaskan tangan yang satunya. Tak peduli jika rontaannya hanya memberikan rasa sakit yang lebih. Air mata yang membanjir di wajahnya sama sekali tak menyurutkan sikap kasar dan menimbulkan rasa iba di hati Okan. “Aku udah lelah! Dan aku tahu kamupun sama, kita tahu akan berakhir seperti apa hubungan kita kalau terus dilanjutkan!" "Tidak," desis si pria. Mata coklatnya menggelap tertutup badai dan wajahnya memerah oleh kemarahan yang sangat besar. "Ini tak akan berakhir seperti yang kamu inginkan kalau kamu masih mau berjuang." “Berjuang kamu bilang?! Kamu selalu egois! Dan tak pernah memperhitungkan aku!” bantah Neyra sembari di seret Okan.Sesampainya di depan mobilnya yang terparkir, Okan membuka pintu mobil bagian depan. Lalu mendorong Neyra untuk duduk. Neyra berniat membuka kembali pintu mobil ketika si pria berjalan memutari mobil. Namun, ia melihat perhatian dari rekan kerja
“Arghhh…. Feris! Kenapa kamu masuk-”Jeritannya mereda saat mendengar bisikan suara khas pria milik Feris. Nafasnya tercekat merasakan punggungnya yang telah menempel di dada bidang Feris dan wajah pria itu yang mulai tenggelam di cekungan lehernya. Sementara kedua telapak tangan pria itu mulai mengelus perut dan bermain-main di dadanya. Ciuman basah pria itu mulai merambati naik ke leher, rahang dan berhenti di balik telinga. Menggigit telinganya dengan gemas sebelum kemudian tubuhnya dibalik dan didorong ke dinding. Wajah Neyra terdongak sementara wajah Feris menunduk, tatapan Feris menguncinya. "Aku selalu suka reaksi dan rasa tubuh kamu." Kedua mata Feris mulai berkabut, menginginkan wanitanya sekarang juga. "Aku akan membuatmu tak bisa memikirkan hal selain aku…”Suara Feris tersengal oleh gairah yang sudah mengalir kencang di setiap pembuluh darahnya. Menginginkan Neyra dengan sangat. Membuat remasan tangannya di dada wanita itu sedikit keras dan Neyra tersentak kaget. Namu