เข้าสู่ระบบ"Lepaskan aku!" jerit Neyra satu tangannya berusaha melonggarkan cekalan keras pria itu. Berusaha membebaskan tangan yang satunya. Tak peduli jika rontaannya hanya memberikan rasa sakit yang lebih. Air mata yang membanjir di wajahnya sama sekali tak menyurutkan sikap kasar dan menimbulkan rasa iba di hati Okan.
“Aku udah lelah! Dan aku tahu kamupun sama, kita tahu akan berakhir seperti apa hubungan kita kalau terus dilanjutkan!"
"Tidak," desis si pria. Mata coklatnya menggelap tertutup badai dan wajahnya memerah oleh kemarahan yang sangat besar. "Ini tak akan berakhir seperti yang kamu inginkan kalau kamu masih mau berjuang."
“Berjuang kamu bilang?! Kamu selalu egois! Dan tak pernah memperhitungkan aku!” bantah Neyra sembari di seret Okan.
Sesampainya di depan mobilnya yang terparkir, Okan membuka pintu mobil bagian depan. Lalu mendorong Neyra untuk duduk.
Neyra berniat membuka kembali pintu mobil ketika si pria berjalan memutari mobil. Namun, ia melihat perhatian dari rekan kerja kantornya yang mulai buyar karena mereka sudah berada di dalam mobil dan ia jelas tak ingin sekali lagi jadi pusat perhatian lagi.
"Pasang sabuk pengamanmu!”
“Nggak! Katakan dulu padaku, kita mau kemana?”
“Pakai atau aku akan memaksamu lebih dari ini!"
Neyra berniat membuka kembali pintu mobil ketika si pria berjalan memutari mobil. Namun, ia melihat perhatian dari rekan kerja kantornya yang mulai buyar karena mereka sudah berada di dalam mobil dan ia jelas tak ingin sekali lagi jadi pusat perhatian lagi.
"Pasang sabuk pengamanmu! Atau aku akan memaksamu lebih dari ini!"
Neyra tersentak karena nada dingin Okan membuat ia terisak semakin dalam. Telapak tangan yang menutupi wajah sama sekali tak menghentikan air mata yang turun dengan deras.
Okan tak peduli, tampak abai dengan terus menyetir mobilnya hingga berada di jalan raya yang lengang mengabaikan tangisan yang semakin tak terkendali. Sambil melonggarkan dasi yang terasa mencekik leher dan membuatnya susah bernapas.
"Okan, aku tau kita berdua sama-sama lelah, jadi apalagi yang mau kamu pertahankan?"
Okan menoleh. Menjawab dengan setengah berteriak. "Kamu. Kamu dan aku ingin pertahankan hubungan kita! Bukan yang lain."
"Aku tau kamu udah mulai lelah sama aku dengan jalan sama Melisa yang lebih bisa mengimbangi kamu! Kamu bahkan udah capek membela aku di depan keluarga kamu dan membuat aku orang yang nggak tau diri, aku capek memaklumi posisi kamu disaat aku kebingungan di posisi aku sendiri!” teriak Neyra di antara tangisannya yang masih tersisa. Amarah meledak.
Wajah Okan semakin gelap dan kedua tangannya mencengkeram setir begitu era Ingatan dan penyesalan yang berkelit di pikiran Okan membuat kepalanya terasa berat seperti tertindih beban seberat seribu ton. la telah menghancurkan semuanya. Sekali lagi, ia telah menghancurkan kehidupan bahagianya.
"Aku capek, Okan. Sangat capek sampai bernapas di dekatmu saja terasa sangat melelahkan."
Mobil melaju dengan kencang bersamaan dengan emosi Okan yang semakin meluap dan tak terkendali. Neyra merasa ngeri dengan kecepatan mobil yang tak terkendali. Mereka berada dalam bahaya, dengan cepat ia memasang safety belt.
"Hati-hati Okan, kamu lagi emosi atau turunkan aku sekarang!!!" Neyra berteriak.
Neyra semakin terisak ketika menyadari Okan mengabaikannya, bahkan ia sedang tak memakai safety beltnya. “Berhenti dan pakai sabuk pengamannya Okan!”
Saat itulah bunyi klakson yang sangat keras memecah udara tegang dan panas di antara mereka. Semuanya terjadi sebelum mereka sempat menyadari apa yang tengah menghantam mobil bagian depan mereka.
"Arrghhhh…”
Brugh!!!
Tubuh Okan terhentak kuat ke arah depan, kepalanya membentur kaca depan mobil hingga pecahannya menyebar ke segala arah dan tubuhnya terpantul dengan keras yang masih terhalang kemudi.
Sedangkan tubuh Neyra yang tertahan sabuk pengaman, tetap terpaut dengan jok. Tangannya terangkat menggapai tubuh Okan yang sudah tergeletak tak sadarkan diri. melindunginya dari hentakan kuat dari tabrakan tersebut. Dan dengan spontan ia menutupi wajahnya dengan tas tangan yang ia bawa dari serpihan kaca yang pecah namun tubuhnya tak mampu bergerak sekeras dan sebanyak apapun keinginannya.
Neyra berperang melawan kegelapan yang mulai menyerang, matanya berusaha melihat tubuh Okan yang tak bergerak. Darah merembes dari kepala dan membasahi wajah pria itu. Bercampur air mata yang masih tersisa.
"Okan," lirih Neyra di antara desis mesin dan airbag yang mengempis. Kesadaran perlahan terenggut paksa darinya. Lalu kegelapan memberinya tidur yang lelap.
****
“Wanita sialan itu! Apa dia sudah kehilangan akal sehatnya, hah?!”
"Dengar! Aku yang akan bertanggung jawab, aku minta kartu namamu dan kalian akan segera dihubungi oleh pengacaraku.”
"Memangnya kamu siapa?! Sok bertanggung jawab dan berhak mengaturku, hah!?"
“Aku kekasihnya, dan ini kartu namaku, kalian bisa mendatangi tempat usahaku jika menunggu terlalu lama bagi kalian.”
“Apa?!”
“Suster, tolong antar mereka ke ruangan anaknya, karena kekasihku butuh istirahat. Permisi.”
Braakkk... Suara pintu yang dibanting terbuka sepenuhnya mengembalikan kesadaran Neyra. Begitu matanya terbuka, tubuh tinggi dan besar itu memenuhi ambang pintu. Menghambur ke arahnya dengan wajahnya yang menggelap dan tatapan yang berkobar oleh amarah.
"Sebenarnya apa yang kamu lakukan dengan mantanmu, hah?! Aku menyuruh kamu memutuskan hubungan bukannya kecelakaan di mobil yang sama di jalanan rumah sewanya!”
Feris Sastrodirjo tak butuh lebih dari lima langkah untuk mencapai ranjang pasien yang ada di sudut ruangan. Melayangkan kegusarannya pada Neyra yang terbaring lemah di atas brankar.
“Okan, gimana kabarnya sekarang?”
“Ckk… masih berani kamu mengkhawatirkan pria lain di depanku, hah?!"
“Itu karena dia terluka lebih parah dariku, Fer,”
“Dan kamu belum jawab pertanyaanku, tadi!”
Neyra bergeming sejenak, ujung matanya melirik setelan hitam lecek yang dikenakan Feris. “Maaf, aku udah merepotkan kamu lagi… Okan menjemputku ke kantor dan seperti katamu aku langsung meminta putus sama dia, tapi dia marah dan nggak terima, dia pikir aku hanya sedang menyerah dengan masalah kami. Dan dia yang menarikku ke dalam mobil dan menyetir ugal-ugalan sampai kami tertabrak.”
“Jadi kalian udah putus, eh?”
Neyra tersenyum sendu, “Aku minta maaf.”
“Karena sudah membuat keributan ini, ckkk… sudah terjadi-”
“Bukan, aku tadi mendengar kamu yang akan bertanggung jawab pada keluarga Okan, apa mereka bermaksud menuntutku?”
Feris memandang Neyra dalam sebelum menjawab, “Ya, dan kamu berhutang lagi padaku.”
Neyra menatap sendu lalu mengangguk kecil. Ia jelas sedang patah hati namun ia yakin perlahan semua patah hati ini akan menghilang, seiring berjalannya waktu. Seperti yang pernah ia lalui. Dan andai ia bisa memilih hubungan mereka diakhiri dengan cara yang lebih baik.
Kepalanya tertunduk, menatap jarum infus yang menempel di punggung tangannya dan membaliknya. Menatap bekas luka yang menggaris di pergelangan tangannya.
Feris menurunkan pembatas brankar untuk kemudian ia duduk tepat disisi Neyra yang kosong, ia mengambil tangan dan menyelipkan kesemua cela jarinya.
"Berhenti menyesali perpisahanmu
seperti ini, Neyra," desisnya tajam tepat di depan wajah wanita itu.
“Kali ini kamu cuma perlu fokus dan nikmati hubungan kita, paham!”
“Aku masih harus memikirkan pekerjaan dan kehidupan pribadiku, Fer.”
“Kehidupan pribadiku?” tanya Feris menuntut.
“Aku masih ingin menghabiskan waktu dengan teman-temanku, dan diriku sendiri, Ok!”
“Aku nggak suka diduakan,” saut Feris.
“Aku bahkan sudah paham, kalau aku bukan prioritas kamu, karena ada pekerjaan yang membutuhkan lebih banyak waktu dan perhatianmu, iya ‘kan?”
****
“Jadi pacar kamu udah ganti lagi? Secepat itu?”
“Mah…. Kenapa kedengarannya aku seperti playgirl, sih…”
“Bukan begitu maksud mamah, tapi baru beberapa bulan lalu kamu membawa pacar kamu yang bernama Okan, itu. Dan sekarang kamu sudah putus beberapa hari lalu tapi sudah langsung dapat penggantinya? Bahkan dia terlihat lebih berkharisma, mamah suka pilihan kamu.”
Neyra tersenyum tipis, sebelum ia bergumam, “Semua begitu cepat, demi anak lelaki mamah satu-satunya.”
“Apa? Kamu bilang apa?”
“Bukan apa-apa,”
“Tapi, kenapa dia masih belum pulang juga?”
“Karena dia masih punya urusan, Mah. Dia selalu mengabariku, mamah tenang saja.”
“Dan uang dari mana sebanyak ini sampai kamu mampu membiayai semua tagihan rumah sakit kakek kamu hmm?” tanya ibunya sukses membuat Neyra terdiam.
****
Satu Minggu kemudian
“Maksud kamu apa?! Aku pasti yang salah dengar, kamu berpacaran sama perempuan macam dia?!”
“Macam dia? Memangnya kamu wanita semacam apa?” tanya Feris terkekeh.
“Aku serius! Dan aku tahu kamu berbohong seperti ini hanya karena kamu lagi marah sama aku karena aku jalan sama Ryan dibelakang kamu ‘kan?”
“Jadi kalian memang sering jalan berdua di dibelakangku, ya...?" balas Feris menyeringai tipis, tatapannya menatap lurus Mehra. "Kamu memilih urusan yang salah denganku, eh."
“Perkenalkan ini Ian Jameer. Dia seorang Make Up Artist yang akan mempersiapkanmu untuk nanti malam.” setelah berkata begitu, Feris melangkah mundur, membalikkan tubuhnya dan meninggalkan kamar itu.“Hai, aku Ian dan kamu?”“Aku Neyra, salam kenal.” setengah mati Neyra mengontrol dirinya untuk tidak bereaksi berlebihan. Beberapa kali Ian Jameer muncul di TV sebagai Make Up Artist yang bekerja sama dengan artis terkenal.“Jadi kamu istrinya Feris, ups… jangan salah paham dulu, sebenarnya aku beberapa kali beerj sama dengan Karenina dan teman-temannya. Jadi aku cukup penasaran ketika mereka membicarakan dan jangan salah paham dulu rasanya siapapun istrinya akan dibicarakan selama itu bukan Karenina. yah, kamu mengerti “kan maksudku.” “Ah ya, berkatmu aku nggak akan salah paham, terimakasih.” jawab Neyra diplomatis.“Kamu sebenarnya lebih cantik riasan tipis nona dan agak bold di sekitar mata, dan kamu akan terlihat stunning. Tidak kalah dengan mereka.” Ian bergumam dengan suara gemula
Feris sempat termenung mempertimbangkan. “Jadi, aku harus menceraikan Neyra? Kapan waktu yang tepat menurut mamah?”“Lebih cepat lebih baik, iya kan Tante?” sergah KareninaFeris hanya spontan menatap Karenina sesaat, cukup paham inilah alasan Karenina bersusah payah mendekati ibunya lagi. “Sebagai pebisnis yang baru merintis aku punya reputasi yang harus aku jaga, kalau kalian lupa.”‘iya…ya Mamah juga tahu, Fer. Itu juga yang jadi pertimbangan mamah selama ini. Walau bagaimanapun umur pernikahan kalian baru dua bulan. Tidak bagi untuk reputasimu kedepan, begini saja Mamah akan membicarakan hal ini dengan papahmu dan Wira, sekaligus mengenai harta yang akan kita bagi padanya.”“Mah, tidak perlu sejauh itu, aku hanya bertanya pendapat mamah tentang waktunya bukan hal lain.”“Ya, sama saja kan? Pada akhirnya akan bermuara kesana, dan kamu sudah banyak pekerjaan jadi biarkan mamah membantu kamu, ok!”“Dan itu akan jadi urusanku, sejak awal akulah yang meminta Neyra menikah denganku, dan
"Ahhh Neyra sayang, aku nggak tahan." desis Feris saat Neyra semakin menggoyangkan pinggulnya. Bahkan Feris telah ikut menggerakkan pinggulnya juga. Neyra menegakkan tubuhnya membuat Feris semakin mendesis karena tekanan di kejantanannya semakin terasa. "Ahhhh Neyra!" erang Feris sambil meremas payudara Neyra. Neyra menghentikan gerakannya, lalu meraih milik Neyra. Menggesekkannya beberapa kali sambil menikmati lalu, perlahan-lahan menurunkan tubuhnya ke bagian bawah tubuhnya."Ahhh…Fer" pekik Neyra pelan saat merasa kejantanan Feris mulai menyeruak masuk. Dia menggigit bibirnya menurunkan tubuhnya lagi. Matanya terpaku menatap Feris. Pemandangan di depannya membuatnya melupakan rasa sakitnya. Ia melihat sesuatu yang sangat indah. Wajah suaminya yang menegang dan memerah karena gairah. Membuatnya semakin basah dan menginginkan Feris di dalamnya. Neyra terus mencoba turun dan turun hingga akhirnya, ia memekik keras begitu dalam satu sentakan keras, ia mendorong tubuhnya hingga Feris
Ferislah yang berinisiatif membuka pintu. “Kamu masih disini, Nina?”Karenina tak menghiraukan pertanyaan yang menggores hatinya. Ia menatap dalam ke arah dada Feris yang terlihat lebih coklat dari yang ia ingat, semakin terlihat manly. “Karenina.” panggil Feris.“Ah, iya. Begini… kita harus pergi bersama sekarang!”“Apa?”“Om Nurdin meninggal. Keluarga besarmu masih berkumpul di rumah sakit sekarang. Tante Ira memintaku mendampingimu.”“Pergilah lebih dulu, setelah ini aku menyusul. “Titah Feris yang tak diterima Karenina, dengan langcang ia membuka pintu kamar dan berjalan masuk. “Fer-” suara Karenina tercekat, melihat Neyra yang duduk di atas ranjang memegang selimut tebal, menutupi tubuh yang ia yakin tak tertutup apapun. Ada rasa cemburu yang mendidih di dada. “Kenapa kamu malah masuk, hah!” bentak Feris yang juga terkejut.“Kamu nggak mungkin membawanya, Fer!” Karenina menatap nyalang ke arah Neyra. “Keluargamu nggak akan suka melihatnya dan dia akan merasa terasingkan kalau
“Sebelumnya, aku ingin kamu menceraikannya sekarang!” “Kenapa?”“Kamu tahu kenapa, Fer! Siapapun nggak akan sudi jadi diduakan apalagi sama perempuan seperti dia, kami bahkan nggak selevel dalam hal apapun! Apa kata orang, hah?!” sentak Karenina.“Dan kamu pikir, siapa yang akan terima diceraikan secepat ini, terlebih karena alasan menikah lagi, hmmm siapa?” tanya Feris datar.“Aku nggak peduli! Dan kamu jelas pilih aku ‘kan Fer?”Feris menatap Karenina cukup lama, dan menghembuskan nafasnya gusar. “Tetap aja, aku nggak bisa menceraikannya secepat ini, aku juga punya reputasi yang harus aku jaga, ‘kan.”Karenina menunjukkan wajah keberatan, seolah menimbang. “Fine! Tapi prioritaskan aku, deal!”“Ok,” saut Feris mudah. Neyra masih mendengarnya sebelum ia benar-benar melewati ruangan keluarga, dan menaiki anak tangga. Hati Neyra teriris, egonya tersentil nyeri. Ya, ia hanya perlu fokus pada keuntungan yang didapatkannya, syukurlah ia mengetahui dari awal, dengan begini ia bisa mengont
"Bawakan aku sebotol anggur," pinta Feris sembari duduk di tengah sofa panjang. Melempar jaket kulit hitam dan jam tangannya ke meja lalu menggulung kedua lengan kemeja hingga di siku. Neyra yang tengah menonton TV hanya diam dan beranjak pergi ke arah sebaliknya, tetapi kalimat Feris selanjutnya membuat langkah wanita itu terpaksa berhenti. "Atau kau lebih suka kita langsung ke ranjang?" Neyra menoleh, tak sungkan untuk menampilkan kedongkolan yang teramat. Ya, ucapan Feris adalah peraturan di rumah ini. "Di lemari penyimpanan." Senyum Feris penuh makna. "Aku yakin kamu tahu di mana. Kamu sudah mengelilingi tempat ini beberapa kali, kan?" Neyra pun berjalan menuju pintu. Kembali tak lama kemudian dengan sebotol anggur yang diambil sembarangan dan satu gelas ke hadapan Feris. "Temani aku minum," pintah pria itu lagi sebelum Neyra berpikir untuk beranjak pergi. "Aku tidak minum alkohol." "Aku tak mengatakan kamu harus meminumnya." Feris mendongak, ujung bibirnya menyeringai. "
“Halo, Ney! Ini aku… kamu harus ke sini! Regas tiba-tiba mabuk, dia jelas terpukul setelah memastikan pernikahan kalian! Halo….”“Aku tidak mengizinkannya, dan berhenti menghubungi istriku untuk hal tak penting seperti ini,” tutup Feris saat ia mendapati tubuh Neyra yang membeku, menatap ponselnya
"Sebentar, aku-" Neyra hendak melompat dari pangkuan Feris. namun Feris malah menekan pinggang Neyra, mengembalikan posisi wanita itu seperti semula. "Aku tak butuh penolakanmu, Ney," peringat Feris. Neyra menelan ludahnya, "A-aku sedang datang bulan." Feris mengangkat alisnya, menyeringai tipis.
“Ney,”“Regas,” sapa Neyra tertahan.“Kamu apa kabar?”Neyra menatap balik Regas yang memandangnya dalam, tanpa ekspresi khas Regas ketika memandangnya dulu.“Baik, kamu gimana? Semuanya baik-baik aja ‘kan?” Tanya Neyra mengambang.“Baik, walaupun nggak semua berjalan sesuai keinginanku,” Ada kehe
"Kamu benar-benar sudah gila, Fer? “Aku nggak habis pikir! Kamu baru aja menikahi mantan sepupumu! Dia bahkan nggak setara dengan kita, Fer!” "Aku tahu apa yang kulakukan, Mehra." Berbanding terbalik dengan ucapan Mehra yang berapi-api, nada suara Feris terdengar begitu santai dan penuh ketenanga