Share

3. Kembali Terjerat

Penulis: Intans Ranum
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-16 10:48:41

"Lepaskan aku!" jerit Neyra satu tangannya berusaha melonggarkan cekalan keras pria itu. Berusaha membebaskan tangan yang satunya. Tak peduli jika rontaannya hanya memberikan rasa sakit yang lebih. Air mata yang membanjir di wajahnya sama sekali tak menyurutkan sikap kasar dan menimbulkan rasa iba di hati Okan. 

“Aku udah lelah! Dan aku tahu kamupun sama, kita tahu akan berakhir seperti apa hubungan kita kalau terus dilanjutkan!" 

"Tidak," desis si pria. Mata coklatnya menggelap tertutup badai dan wajahnya memerah oleh kemarahan yang sangat besar. "Ini tak akan berakhir seperti yang kamu inginkan kalau kamu masih mau berjuang." 

“Berjuang kamu bilang?! Kamu selalu egois! Dan tak pernah memperhitungkan aku!” bantah Neyra sembari di seret Okan.

Sesampainya di depan mobilnya yang terparkir, Okan membuka pintu mobil bagian depan. Lalu mendorong Neyra untuk duduk. 

Neyra berniat membuka kembali pintu mobil ketika si pria berjalan memutari mobil. Namun, ia melihat perhatian dari rekan kerja kantornya yang mulai buyar karena mereka sudah berada di dalam mobil dan ia jelas tak ingin sekali lagi jadi pusat perhatian lagi.

"Pasang sabuk pengamanmu!”

“Nggak! Katakan dulu padaku, kita mau kemana?”

“Pakai atau aku akan memaksamu lebih dari ini!"

Neyra berniat membuka kembali pintu mobil ketika si pria berjalan memutari mobil. Namun, ia melihat perhatian dari rekan kerja kantornya yang mulai buyar karena mereka sudah berada di dalam mobil dan ia jelas tak ingin sekali lagi jadi pusat perhatian lagi.

"Pasang sabuk pengamanmu! Atau aku akan memaksamu lebih dari ini!"

Neyra tersentak karena nada dingin Okan membuat ia terisak semakin dalam. Telapak tangan yang menutupi wajah sama sekali tak menghentikan air mata yang turun dengan deras.

Okan tak peduli, tampak abai dengan terus menyetir mobilnya hingga berada di jalan raya yang lengang mengabaikan tangisan yang semakin tak terkendali. Sambil melonggarkan dasi yang terasa mencekik leher dan membuatnya susah bernapas.

 "Okan, aku tau kita berdua sama-sama lelah, jadi apalagi yang mau kamu pertahankan?" 

Okan menoleh. Menjawab dengan setengah berteriak. "Kamu. Kamu dan aku ingin pertahankan hubungan kita! Bukan yang lain."

 "Aku tau kamu udah mulai lelah sama aku dengan jalan sama Melisa yang lebih bisa mengimbangi kamu! Kamu bahkan udah capek membela aku di depan keluarga kamu dan membuat aku orang yang nggak tau diri, aku capek memaklumi posisi kamu disaat aku kebingungan di posisi aku sendiri!” teriak Neyra di antara tangisannya yang masih tersisa. Amarah meledak. 

Wajah Okan semakin gelap dan kedua tangannya mencengkeram setir begitu era Ingatan dan penyesalan yang berkelit di pikiran Okan membuat kepalanya terasa berat seperti tertindih beban seberat seribu ton. la telah menghancurkan semuanya. Sekali lagi, ia telah menghancurkan kehidupan bahagianya. 

"Aku capek, Okan. Sangat capek sampai bernapas di dekatmu saja terasa sangat melelahkan." 

Mobil melaju dengan kencang bersamaan dengan emosi Okan yang semakin meluap dan tak terkendali. Neyra merasa ngeri dengan kecepatan mobil yang tak terkendali. Mereka berada dalam bahaya, dengan cepat ia memasang safety belt.

"Hati-hati Okan, kamu lagi emosi atau turunkan aku sekarang!!!" Neyra berteriak. 

 Neyra semakin terisak ketika menyadari Okan mengabaikannya, bahkan ia sedang tak memakai safety beltnya. “Berhenti dan pakai sabuk pengamannya Okan!”

Saat itulah bunyi klakson yang sangat keras memecah udara tegang dan panas di antara mereka. Semuanya terjadi sebelum mereka sempat menyadari apa yang tengah menghantam mobil bagian depan mereka. 

"Arrghhhh…”

Brugh!!!

Tubuh Okan terhentak kuat ke arah depan, kepalanya membentur kaca depan mobil hingga pecahannya menyebar ke segala arah dan tubuhnya terpantul dengan keras yang masih terhalang kemudi.

Sedangkan tubuh Neyra yang tertahan sabuk pengaman, tetap terpaut dengan jok. Tangannya terangkat menggapai tubuh Okan yang sudah tergeletak tak sadarkan diri. melindunginya dari hentakan kuat dari tabrakan tersebut. Dan dengan spontan ia menutupi wajahnya dengan tas tangan yang ia bawa dari serpihan kaca yang pecah namun tubuhnya tak mampu bergerak sekeras dan sebanyak apapun keinginannya. 

Neyra berperang melawan kegelapan yang mulai menyerang, matanya berusaha melihat tubuh Okan yang tak bergerak. Darah merembes dari kepala dan membasahi wajah pria itu. Bercampur air mata yang masih tersisa. 

"Okan," lirih Neyra di antara desis mesin dan airbag yang mengempis. Kesadaran perlahan terenggut paksa darinya. Lalu kegelapan memberinya tidur yang lelap. 

****

“Wanita sialan itu! Apa dia sudah kehilangan akal sehatnya, hah?!”

"Dengar! Aku yang akan bertanggung jawab, aku minta kartu namamu dan kalian akan segera dihubungi oleh pengacaraku.”

 "Memangnya kamu siapa?! Sok bertanggung jawab dan berhak mengaturku, hah!?" 

“Aku kekasihnya, dan ini kartu namaku, kalian bisa mendatangi tempat usahaku jika menunggu terlalu lama bagi kalian.”

“Apa?!”

“Suster, tolong antar mereka ke ruangan anaknya, karena kekasihku butuh istirahat. Permisi.”

Braakkk... Suara pintu yang dibanting terbuka sepenuhnya mengembalikan kesadaran Neyra. Begitu matanya terbuka, tubuh tinggi dan besar itu memenuhi ambang pintu. Menghambur ke arahnya dengan wajahnya yang menggelap dan tatapan yang berkobar oleh amarah. 

"Sebenarnya apa yang kamu lakukan dengan mantanmu, hah?! Aku menyuruh kamu memutuskan hubungan bukannya kecelakaan di mobil yang sama di jalanan rumah sewanya!”

Feris Sastrodirjo tak butuh lebih dari lima langkah untuk mencapai ranjang pasien yang ada di sudut ruangan. Melayangkan kegusarannya pada Neyra yang terbaring lemah di atas brankar. 

“Okan, gimana kabarnya sekarang?”

“Ckk… masih berani kamu mengkhawatirkan pria lain di depanku, hah?!"

“Itu karena dia terluka lebih parah dariku, Fer,”

“Dan kamu belum jawab pertanyaanku, tadi!” 

Neyra bergeming sejenak, ujung matanya melirik setelan hitam lecek yang dikenakan Feris. “Maaf, aku udah merepotkan kamu lagi… Okan menjemputku ke kantor dan seperti katamu aku langsung meminta putus sama dia, tapi dia marah dan nggak terima, dia pikir aku hanya sedang menyerah dengan masalah kami. Dan dia yang menarikku ke dalam mobil dan menyetir ugal-ugalan sampai kami tertabrak.” 

“Jadi kalian udah putus, eh?”

Neyra tersenyum sendu, “Aku minta maaf.”

“Karena sudah membuat keributan ini, ckkk… sudah terjadi-”

“Bukan, aku tadi mendengar kamu yang akan bertanggung jawab pada keluarga Okan, apa mereka bermaksud menuntutku?”

Feris memandang Neyra dalam sebelum menjawab, “Ya, dan kamu berhutang lagi padaku.”

Neyra menatap sendu lalu mengangguk kecil. Ia jelas sedang patah hati namun ia yakin perlahan semua patah hati ini akan menghilang, seiring berjalannya waktu. Seperti yang pernah ia lalui. Dan andai ia bisa memilih hubungan mereka diakhiri dengan cara yang lebih baik.

Kepalanya tertunduk, menatap jarum infus yang menempel di punggung tangannya dan membaliknya. Menatap bekas luka yang menggaris di pergelangan tangannya. 

Feris menurunkan pembatas brankar untuk kemudian ia duduk tepat disisi Neyra yang kosong, ia mengambil tangan dan menyelipkan kesemua cela jarinya. 

 "Berhenti menyesali perpisahanmu

seperti ini, Neyra," desisnya tajam tepat di depan wajah wanita itu.

“Kali ini kamu cuma perlu fokus dan nikmati hubungan kita, paham!” 

“Aku masih harus memikirkan pekerjaan dan kehidupan pribadiku, Fer.”

“Kehidupan pribadiku?” tanya Feris menuntut.

“Aku masih ingin menghabiskan waktu dengan teman-temanku, dan diriku sendiri, Ok!”

“Aku nggak suka diduakan,” saut Feris.

“Aku bahkan sudah paham, kalau aku bukan prioritas kamu, karena ada pekerjaan yang membutuhkan lebih banyak waktu dan perhatianmu, iya ‘kan?”

****

“Jadi pacar kamu udah ganti lagi? Secepat itu?” 

“Mah…. Kenapa kedengarannya aku seperti playgirl, sih…”

“Bukan begitu maksud mamah, tapi baru beberapa bulan lalu kamu membawa pacar kamu yang bernama Okan, itu. Dan sekarang kamu sudah putus beberapa hari lalu tapi sudah langsung dapat penggantinya? Bahkan dia terlihat lebih berkharisma, mamah suka pilihan kamu.”

Neyra tersenyum tipis, sebelum ia bergumam, “Semua begitu cepat, demi anak lelaki mamah satu-satunya.”

“Apa? Kamu bilang apa?”

“Bukan apa-apa,”

“Tapi, kenapa dia masih belum pulang juga?”

“Karena dia masih punya urusan, Mah. Dia selalu mengabariku, mamah tenang saja.”

“Dan uang dari mana sebanyak ini sampai kamu mampu membiayai semua tagihan rumah sakit kakek kamu hmm?” tanya ibunya sukses membuat Neyra terdiam.

****

Satu Minggu kemudian 

“Maksud kamu apa?! Aku pasti yang salah dengar, kamu berpacaran sama perempuan macam dia?!”

“Macam dia? Memangnya kamu wanita semacam apa?” tanya Feris terkekeh.

“Aku serius! Dan aku tahu kamu berbohong seperti ini hanya karena kamu lagi marah sama aku karena aku jalan sama Ryan dibelakang kamu ‘kan?”

“Jadi kalian memang sering jalan berdua di dibelakangku, ya...?" balas Feris menyeringai tipis, tatapannya menatap lurus Mehra. "Kamu memilih urusan yang salah denganku, eh."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • (Bukan) Pernikahan Tipuan    7. Tamparan Mantan

    Regas memandangnya dalam ada raut terkejut di wajahnya yang langsung terganti kecewa, khas Regas saat sedang kecewa."Ulurkan tanganmu, Kak! Semua orang memperhatikan kita."Neyra sempat tersentak sebelum menerima lengan adik lelakinya, pandangannya tak lepas dari kedua mata Regas yang menyiratkan patah hati. Sama besar seperti yang mendera hatinya. "Palingkan wajahmu, Kak. Kita hampir sampai altar,” bisik Rizwan. Memaksa perhatian Neyra lurus ke depan, ke arah Feris yang sedang tersenyum menatapnya lurus. Neyra tak menjawab. Tak perlu menjawab. Karena tak ada seorangpun yang mengerti perasaannya. Keduanya berjalan melewati ketiga orang tersebut. Memasuki ruangan luas yang sudah dipenuhi oleh para tamu undangan. Hanya dengan melihat luasnya ruangan, ia tahu Feris memastikan pernikahan tersebut berlangsung meriah hanya dalam waktu dua bulan.Setiap langkah yang membawanya semakin dekat dengan altar, matanya mengerjap. Menahan air mata meleleh. Menggigit bibir bagian dalam, mencoba m

  • (Bukan) Pernikahan Tipuan    6. Hari Pernikahan

    “Atau apa?! Hah!” sentak Neyra menentang.Neyra memutar bola matanya, kalimat ke-overprotective-an pria ini benar-benar membuat muak. Saat pria itu berniat membalikkan badannya dan akan menempelkan bibir mereka, Neyra segera bangkit dari tidur. Sebelum semuanya kembali terlambat. "Aku harus pergi, Fer." Feris tersenyum kecil ketika Neyra menghindari ciumannya. "Ini hari libur kamu ‘kan?" “Iya dan justru itu, aku masih ada urusan lain. Jadi berhenti korupsi waktu libur aku!”“Aku bisa kasih kamu pekerjaan secepatnya,”"Melamar kerja yang bosnya nggak profesional macam kamu? No, thanks!" Neyra menarik selimut untuk menutupi dadanya yang telanjang dan turun dari ranjang menuju ke kamar mandi. Ruang kerja Feris benar-benar seperti rumah kedua. Meski tidak terlalu luas tapi perabotan yang digunakan serba minimalis dan trendy, membuatnya tampak cukup dan nyaman. “Orang kaya memang selalu melakukan apapun sesukanya, ya.” decak Neyra. Senyum di bibir Feris semakin melebar mendengar decak

  • (Bukan) Pernikahan Tipuan    5. Sebuah Permainan

    “Selalu kamu yang berlari padaku lebih dulu, Ney." Bibir Feris menempel di telinga Neyra. Berbisik lembut namun mampu membuat Neyra bergidik ngeri. Neyra termenung, tak mampu menampik atau bersilat lidah lagi, dan ia pasrah saat Feris menahan kepala lalu menciumnya dalam, membiarkan Feris membuka kancingnya kemudian jemarinya menyentuh langsung kulit bagian terdalam, membuat napas Neyra tercekat.Seolah tengah melampiaskan emosinya dalam ciuman itu sekaligus menikmati kemanisan dan kelembutan bibir ranum Neyra. Saat melepas ciumannya, ia menempelkan dahinya di dahi Neyra dengan napas yang sedikit terengah-engahnya dari wanitanya. "Melihat caramu mempertahankan dan membela pria itu, membuatku sangat gerah, Sayang. Kurasa kamu harus bertanggung jawab untuk memuaskanku sekarang juga." Mata Neyra melotot mendengar permintaan vulgar Feris yang tanpa basa-basi itu. Namun, belum sempat ia memprotes, Feris sudah menariknya ke arah meja kerja Feris. Dengan mata yang menatap lekat manik Neyr

  • (Bukan) Pernikahan Tipuan    4. Percintaan di Ruangan Bos

    "Kamu memilih urusan yang salah denganku, eh.”Mehra tersentak akan reaksi Feris yang terlewat santai bahkan setelah ia mengaku permainannya. “Dengar! Aku sedang sibuk sekarang. Harus berapa kali aku harus bilang bahwa aku nggak suka diganggu di jam kantor seperti ini!”“Fer, kamu serius masih mempertanyakan hal itu? Aku kesini demi hubungan kita, aku-”“Cukup! Jangan paksa aku mengatakan itu untuk kedua kalinya. Ok!”“Aku kecewa sama kamu!” tandas Mehra lekas berbalik meninggalkan ruangan namun tepat ia membuka pintu ia dikejutkan dengan keberadaan Neyra tepat dua meter di depannya, seolah ia akan diterima dengan mudahnya.“Neyra?” Neyra tersenyum tipis melihat Feris yang memanggilnya tepat di belakang perempuan itu, Mehra Rowan presenter yang ia tahu culasnya. Terbukti dari cara Mehra menatapnya seolah sedang menguliti lawannya dari ujung kaki hingga ujung kepala. “Apa kamu sudah selesai memindai penampilanku? Karena aku sedang sibuk, jadi apa boleh kamu minggir? Aku mau masuk ke

  • (Bukan) Pernikahan Tipuan    3. Kembali Terjerat

    "Lepaskan aku!" jerit Neyra satu tangannya berusaha melonggarkan cekalan keras pria itu. Berusaha membebaskan tangan yang satunya. Tak peduli jika rontaannya hanya memberikan rasa sakit yang lebih. Air mata yang membanjir di wajahnya sama sekali tak menyurutkan sikap kasar dan menimbulkan rasa iba di hati Okan. “Aku udah lelah! Dan aku tahu kamupun sama, kita tahu akan berakhir seperti apa hubungan kita kalau terus dilanjutkan!" "Tidak," desis si pria. Mata coklatnya menggelap tertutup badai dan wajahnya memerah oleh kemarahan yang sangat besar. "Ini tak akan berakhir seperti yang kamu inginkan kalau kamu masih mau berjuang." “Berjuang kamu bilang?! Kamu selalu egois! Dan tak pernah memperhitungkan aku!” bantah Neyra sembari di seret Okan.Sesampainya di depan mobilnya yang terparkir, Okan membuka pintu mobil bagian depan. Lalu mendorong Neyra untuk duduk. Neyra berniat membuka kembali pintu mobil ketika si pria berjalan memutari mobil. Namun, ia melihat perhatian dari rekan kerja

  • (Bukan) Pernikahan Tipuan    2. Putusan saja dia!

    “Arghhh…. Feris! Kenapa kamu masuk-”Jeritannya mereda saat mendengar bisikan suara khas pria milik Feris. Nafasnya tercekat merasakan punggungnya yang telah menempel di dada bidang Feris dan wajah pria itu yang mulai tenggelam di cekungan lehernya. Sementara kedua telapak tangan pria itu mulai mengelus perut dan bermain-main di dadanya. Ciuman basah pria itu mulai merambati naik ke leher, rahang dan berhenti di balik telinga. Menggigit telinganya dengan gemas sebelum kemudian tubuhnya dibalik dan didorong ke dinding. Wajah Neyra terdongak sementara wajah Feris menunduk, tatapan Feris menguncinya. "Aku selalu suka reaksi dan rasa tubuh kamu." Kedua mata Feris mulai berkabut, menginginkan wanitanya sekarang juga. "Aku akan membuatmu tak bisa memikirkan hal selain aku…”Suara Feris tersengal oleh gairah yang sudah mengalir kencang di setiap pembuluh darahnya. Menginginkan Neyra dengan sangat. Membuat remasan tangannya di dada wanita itu sedikit keras dan Neyra tersentak kaget. Namu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status