ANMELDENFerislah yang berinisiatif membuka pintu. “Kamu masih disini, Nina?”Karenina tak menghiraukan pertanyaan yang menggores hatinya. Ia menatap dalam ke arah dada Feris yang terlihat lebih coklat dari yang ia ingat, semakin terlihat manly. “Karenina.” panggil Feris.“Ah, iya. Begini… kita harus pergi bersama sekarang!”“Apa?”“Om Nurdin meninggal. Keluarga besarmu masih berkumpul di rumah sakit sekarang. Tante Ira memintaku mendampingimu.”“Pergilah lebih dulu, setelah ini aku menyusul. “Titah Feris yang tak diterima Karenina, dengan langcang ia membuka pintu kamar dan berjalan masuk. “Fer-” suara Karenina tercekat, melihat Neyra yang duduk di atas ranjang memegang selimut tebal, menutupi tubuh yang ia yakin tak tertutup apapun. Ada rasa cemburu yang mendidih di dada. “Kenapa kamu malah masuk, hah!” bentak Feris yang juga terkejut.“Kamu nggak mungkin membawanya, Fer!” Karenina menatap nyalang ke arah Neyra. “Keluargamu nggak akan suka melihatnya dan dia akan merasa terasingkan kalau
“Sebelumnya, aku ingin kamu menceraikannya sekarang!” “Kenapa?”“Kamu tahu kenapa, Fer! Siapapun nggak akan sudi jadi diduakan apalagi sama perempuan seperti dia, kami bahkan nggak selevel dalam hal apapun! Apa kata orang, hah?!” sentak Karenina.“Dan kamu pikir, siapa yang akan terima diceraikan secepat ini, terlebih karena alasan menikah lagi, hmmm siapa?” tanya Feris datar.“Aku nggak peduli! Dan kamu jelas pilih aku ‘kan Fer?”Feris menatap Karenina cukup lama, dan menghembuskan nafasnya gusar. “Tetap aja, aku nggak bisa menceraikannya secepat ini, aku juga punya reputasi yang harus aku jaga, ‘kan.”Karenina menunjukkan wajah keberatan, seolah menimbang. “Fine! Tapi prioritaskan aku, deal!”“Ok,” saut Feris mudah. Neyra masih mendengarnya sebelum ia benar-benar melewati ruangan keluarga, dan menaiki anak tangga. Hati Neyra teriris, egonya tersentil nyeri. Ya, ia hanya perlu fokus pada keuntungan yang didapatkannya, syukurlah ia mengetahui dari awal, dengan begini ia bisa mengont
"Bawakan aku sebotol anggur," pinta Feris sembari duduk di tengah sofa panjang. Melempar jaket kulit hitam dan jam tangannya ke meja lalu menggulung kedua lengan kemeja hingga di siku. Neyra yang tengah menonton TV hanya diam dan beranjak pergi ke arah sebaliknya, tetapi kalimat Feris selanjutnya membuat langkah wanita itu terpaksa berhenti. "Atau kau lebih suka kita langsung ke ranjang?" Neyra menoleh, tak sungkan untuk menampilkan kedongkolan yang teramat. Ya, ucapan Feris adalah peraturan di rumah ini. "Di lemari penyimpanan." Senyum Feris penuh makna. "Aku yakin kamu tahu di mana. Kamu sudah mengelilingi tempat ini beberapa kali, kan?" Neyra pun berjalan menuju pintu. Kembali tak lama kemudian dengan sebotol anggur yang diambil sembarangan dan satu gelas ke hadapan Feris. "Temani aku minum," pintah pria itu lagi sebelum Neyra berpikir untuk beranjak pergi. "Aku tidak minum alkohol." "Aku tak mengatakan kamu harus meminumnya." Feris mendongak, ujung bibirnya menyeringai. "
“Siapa dia, Fer?” kesal wanita cantik itu.“Dia Neyra,” jawab Feris menggantung, masih menatap lurus Neyra yang menunggu jawabannya.Neyra tersenyum sinis, saat tahu itulah jawaban Feris. “Maaf, mengganggu tapi aku datang untuk mengantar berkas super penting ini, aku permisi.”Tanpa menunggu jawaban, Neyra lekas berbalik dan berjalan cepat tak ia hiraukan seseorang yang menatapnya aneh karena kini wajahnya sudah memerah menahan tangis, ia tak bisa mengelak jika ia merasa dicurangi pada pria yang mengikatnya pada janji suci pernikahan, bahkan hanya pria itu yang membuatnya tergoda berselingkuh sesuatu yang tak pernah ia benarkan. ***Malam hari“Jangan bengong!” “Feris? Kamu pulang?” tanya Neyra terkejut melihat Feris yang tengah jalan menghampirinya dengan kemeja hitam yang sudah jauh dari kata rapi dengan lengan yang sudah digulung hingga ke atas.“Ini rumahku ‘kan?”“Ah iya, aku pikir kamu…”“Kenapa kamu berpikir aku nggak akan pulang malam ini?”“Karena kupikir kalian akan lanjut
"Kekasih Feris,”“Kasihan sekali sebagai sesama perempuan, akan aku bantu sedikit. Karenina itu kekasih Feris. Dan saat ini Feris masih menunggu wanita itu untuk kembali bersama, hubungan mereka masih gantung, jadi ya… ini semua hanya masalah waktu.”Neyra mengerjap matanya dua kali, mencoba mencerna. “Oh ya?” “Terakhir kali aku dengar dia memang sedang didesak untuk menikah oleh keluarganya, dan aku rasa sepertinya benar-” ucap wanita itu menggantung.“Apa? Benar apa?” “Benar dugaan kita, alasan dia memilih kamu untuk dijadikan istri karena kamu wanita yang paling mudah ia dapatkan untuk dinikahi sementara.” Kali ini Mehra yang menjawab sambil tersenyum mengejek.Butuh dua detik bagi Neyra, untuk mengangguk samar. “Asumsi yang bagus walaupun sebenarnya rumah tangga kami bukan urusan kalian, dan sepertinya kalian terlalu banyak waktu untuk mengurusi hidup orang ya,”Neyra menoleh pada pramuniaga yang sudah menyelesaikan pesanannya. “Terimakasih,” Neyra menoleh pada ketiga wanita di
“Apa kalian sudah melakukan ini? Di belakangku?”Tanya Feris sembari menarik resleting di sepanjang punggungnya. Menurunkannya dengan satu sentakan lalu kembali mendorong tubuhnya ke dinding. "Fer-" pekik Neyra merasakan dada Feris yang menghimpitnya. "Ya." Wajah Feris mulai tenggelam di cekungan lehernya. Menyapukan bibir di leher Neyra saat kedua lengannya mendekap tubuh telanjang wanita itu. “Kamu belum menjawab, Sayang." Neyra tersekat keras, Ia memang belum selesai terkejut akan pertanyaan dan tindakan Feris barusan.“Apa maksudmu?! Aku bukan wanita seperti itu! Brengsek!”Neyra bisa merasakan senyum Feris sebelum ia berhasil menangkap bibirnya. Menciumnya dengan kuat dan membuatnya kehilangan ritme bernapasnya. Sesekali memberinya kesempatan untuk mengambil napas saat bibir pria itu bermain- main di leher dan dadanya. Sesekali ia mengernyit dengan remasan kasar tangan pria itu di dada dan pantatnya. Saat napas pria itu mulai memberat, Feris mengangkat pinggang Neyra dan melin
“Halo, Ney! Ini aku… kamu harus ke sini! Regas tiba-tiba mabuk, dia jelas terpukul setelah memastikan pernikahan kalian! Halo….”“Aku tidak mengizinkannya, dan berhenti menghubungi istriku untuk hal tak penting seperti ini,” tutup Feris saat ia mendapati tubuh Neyra yang membeku, menatap ponselnya
"Sebentar, aku-" Neyra hendak melompat dari pangkuan Feris. namun Feris malah menekan pinggang Neyra, mengembalikan posisi wanita itu seperti semula. "Aku tak butuh penolakanmu, Ney," peringat Feris. Neyra menelan ludahnya, "A-aku sedang datang bulan." Feris mengangkat alisnya, menyeringai tipis.
“Ney,”“Regas,” sapa Neyra tertahan.“Kamu apa kabar?”Neyra menatap balik Regas yang memandangnya dalam, tanpa ekspresi khas Regas ketika memandangnya dulu.“Baik, kamu gimana? Semuanya baik-baik aja ‘kan?” Tanya Neyra mengambang.“Baik, walaupun nggak semua berjalan sesuai keinginanku,” Ada kehe
"Kamu benar-benar sudah gila, Fer? “Aku nggak habis pikir! Kamu baru aja menikahi mantan sepupumu! Dia bahkan nggak setara dengan kita, Fer!” "Aku tahu apa yang kulakukan, Mehra." Berbanding terbalik dengan ucapan Mehra yang berapi-api, nada suara Feris terdengar begitu santai dan penuh ketenanga







