Masuk“Atau apa?! Hah!” sentak Neyra menentang.
Neyra memutar bola matanya, kalimat ke-overprotective-an pria ini benar-benar membuat muak. Saat pria itu berniat membalikkan badannya dan akan menempelkan bibir mereka, Neyra segera bangkit dari tidur. Sebelum semuanya kembali terlambat.
"Aku harus pergi, Fer." Feris tersenyum kecil ketika Neyra menghindari ciumannya. "Ini hari libur kamu ‘kan?"
“Iya dan justru itu, aku masih ada urusan lain. Jadi berhenti korupsi waktu libur aku!”
“Aku bisa kasih kamu pekerjaan secepatnya,”
"Melamar kerja yang bosnya nggak profesional macam kamu? No, thanks!"
Neyra menarik selimut untuk menutupi dadanya yang telanjang dan turun dari ranjang menuju ke kamar mandi. Ruang kerja Feris benar-benar seperti rumah kedua. Meski tidak terlalu luas tapi perabotan yang digunakan serba minimalis dan trendy, membuatnya tampak cukup dan nyaman.
“Orang kaya memang selalu melakukan apapun sesukanya, ya.” decak Neyra.
Senyum di bibir Feris semakin melebar mendengar decakkan Neyra. Sebenarnya dia bisa saja membujuk wanita itu berhenti menjadi karyawan kafe yang gajinya tak seberapa itu dan membujuknya dengan gaji lebih baik dan libur di akhir pekan namun ia tak ingin terlalu memaksa dan terburu-buru.
“Kalau gitu biar ku antar, dan kamu bisa menyimpan uang ongkosmu itu, ok!” tandas Feris tegas, ia bangkit tanpa mempedulikan tubuh polosnya.
Ting!
Keduanya kompak menengok pada ponsel Feris, yang langsung diangkat olehnya.
“Ada apa?! Bukannya sudah ku bilang, jangan menggangguku kecuali ada hal penting!”
“Maaf, pak. Ada tuan Wira dan reporter Pak Amran, di depan ruangan bapak, ingin bertemu, beliau bilang sudah ada janji dengan Bapak.”
“Apa-”
“Feris! Apa-apaan ini, hah?!” bentak Wira yang sudah masuk ke kamar pribadi yang sedari awal tak terkunci, ternyata mereka sudah berhasil menerobos masuk.
“Brengsek! Kenapa kamu memasuki kamar pribadiku, hah?! Dasar lancang!” saut Feris marah, ia segera menutupi tubuh Neyra yang hanya memakai kemeja atasnya saja dengan tubuhnya.
“Sial! Seharusnya aku tak mengijinkannya masuk dari awal, dengar! Ada reporter pak Amran di depan, jika dia bertanya katakan saja dia calon istrimu, Paham!”
“Apa?!” jawab Neyra angkat suara.
“Hai, Neyra. Sayang sekali Kita harus bertemu lagi dalam keadaan seperti ini, eh,” sapa Wira setengah mengejek.
“Mas, kami belum ada rencana tentang pernikahan, jadi aku bukan calon istri Feris, benar ‘kan, Fer?”
Feris hanya memandang lurus Wira yang seolah sedang menunggu jawabannya. “Apa Pak Emran tau, aku sengaja menyuruh bawahanku menahan tamu hari ini karena aku membawa perempuan ke ruanganku?”
“Ya, dan karena kita sudah menjadwalkan pertemuan hari ini, dia jadi bersikeras ingin menunggu di ruanganmu, yang ku kira hanya ada Neyra seperti bawahanmu bilang, dan tak mungkin kalian melakukan hal ini mengingat kalian putus dengan tragis, ckkk… jadi aku membiarkannya masuk.”
“Sial! Dia pasti sudah mengerti apa yang terjadi ‘kan?”
“Ckkk…. Aku bisa membayangkan gairah kalian dimulai dari meja kerjamu dan berpindah ke kamarmu ini, sekitaran mejamu sangat berantakan, ckk..”
Neyra menunduk malu, ia memilih celana bagian pinggang milik Feris, Khawatir menantikan apa yang akan terjadi.
“Kalian berdua berpakaian lah sekarang! Atau mandi saja dulu, biar aku yang berbicara pada Pak Emran, dengan alibi kalian akan segera menikah sepertinya dia tak akan menulis berita miring dan menghancurkan karirmu dan nama baik keluarga kita, ‘kan.”
****
Dua Minggu kemudian
“Feris? Kenapa nggak bilang kalau kamu mau kesini?”
Feris berjalan masuk membuat Neyra spontan bergerak mundur dan membiarkan Feris semakin memasuki kamar kosnya. Ia langsung menutup pintu kamar dan duduk di atas ranjangnya sembari melihat Feris membuka gesper dan jam tangannya. “Kenapa kamu masih aja terkejut, hmm? Seolah aku baru melakukannya saja?”
“Dan aku sudah kesekian kali bilang, tolong kabari aku kalau kamu mau ke tempatku, ‘kan?!”
“Biar apa? Toh kamu selalu langsung pulang dan sendirian disini, ‘kan?” jawab Feris santai.
“Soal besok, kamu yakin ini yang terbaik?”
“Apa ini tentang rencana kita akan menikah?”
“Iya, maksudku… kita sama-sama tahu kalau hubungan ini berawal dari kesepakatan kita, yang terdengar hanya sebuah permainan ditelingaku, tapi sekarang kita sedang melibatkan dua keluarga besar kita untuk memainkan permainan yang lebih besarkah? Aku tak paham mengapa kamu terlihat santai melakukannya?!”
“Sebuah permainan? Ckkk… jujur aku agak tersinggung mendengarnya, yang jelas aku yakin kita bisa melakukannya dan semuanya akan lebih menarik dari sebelumnya bukan?”
“Apa maksudmu?!”
“Peraturannya tetap sama, ucapanku adalah peraturannya dan sebagai gantinya kamu berhak mendapatkan segalanya sebagai istriku, kecuali diriku. Deal!”
“Kenapa harus aku?!” sentak Neyra frustasi.
“Anggap saja semesta yang memilihmu, well kalau bukan kakak dan reporter itu yang memergoki kita, mungkin kita akan tetap memainkan babak yang sama.”
“Fer, tapi pernikahan bukanlah sebuah permainan belaka! Kamu tahu itu!”
“Aku tahu, dan jangan munafik Neyra! Aku tahu kamu menginginkannya karena hanya menjadi istriku kamu bisa melakukan dan mendapatkan banyak hal yang selama ini tak bisa didapatkan oleh orang macam dirimu,”
Neyra tersenyum getir, “Brengsek! Tega sekali kamu mempermainkan aku saat ku terjebak!”
Feris menangkup dagu Neyra, memastikan ia mendengarnya. “Brengsek? Kamu tahu brengsek adalah nama tengahku jadi berhenti mempertanyakannya, sayang.”
Dua bulan kemudian
Lamunan Neyra terpecah ketika para perias mengatakan jika riasan pengantinnya telah selesai. Hanya senyum sopan yang mampu ia tampilkan dan menunduk setelah ucapkan terimakasih.
“Wahh…. Anak perempuan mama cantik sekali, gaun, perhiasan hingga make up nya dipilih yang terbaik untuk kamu. Lebih dari cukup untuk kamu bersyukur, Nak.” Ucap ibu Neyra menguatkan.
“Iya, Mah. Terimakasih.”
“Kalau sudah siap, kita berangkat sekarang, sudah waktunya. Ayo!”
Tubuh Neyra sempat terhuyung, berdiri tegak dan berputar menghadap satu orang membimbing jalannya sementara yang lain memegangi ekor gaunnya yang cukup berat. Ketiganya melangkah keluar dari ruang tunggu tersebut, berbelok ke arah sebaliknya.
Lorong kali ini lebih panjang, menuju pintu ganda yang lebih tinggi dan berwarna coklat tua. Suara ribut-ribut dari arah depan membuat Neyra mengangkat kepalanya dengan perlahan.
Pekik terkejut menyambut begitu ia muncul di hadapan orang-orang yang saling bersitegang di depan sana. Tak jauh dari langkahnya yang membeku.
Tanpa sadar matanya terus berpindah memindai tamu undangan dan detik itulah tatapannya terhenti pada Regas.
Deg!
Regas…. Dia datang, Tapi untuk apa? apakah untukku?
Regas memandangnya dalam ada raut terkejut di wajahnya yang langsung terganti kecewa, khas Regas saat sedang kecewa."Ulurkan tanganmu, Kak! Semua orang memperhatikan kita."Neyra sempat tersentak sebelum menerima lengan adik lelakinya, pandangannya tak lepas dari kedua mata Regas yang menyiratkan patah hati. Sama besar seperti yang mendera hatinya. "Palingkan wajahmu, Kak. Kita hampir sampai altar,” bisik Rizwan. Memaksa perhatian Neyra lurus ke depan, ke arah Feris yang sedang tersenyum menatapnya lurus. Neyra tak menjawab. Tak perlu menjawab. Karena tak ada seorangpun yang mengerti perasaannya. Keduanya berjalan melewati ketiga orang tersebut. Memasuki ruangan luas yang sudah dipenuhi oleh para tamu undangan. Hanya dengan melihat luasnya ruangan, ia tahu Feris memastikan pernikahan tersebut berlangsung meriah hanya dalam waktu dua bulan.Setiap langkah yang membawanya semakin dekat dengan altar, matanya mengerjap. Menahan air mata meleleh. Menggigit bibir bagian dalam, mencoba m
“Atau apa?! Hah!” sentak Neyra menentang.Neyra memutar bola matanya, kalimat ke-overprotective-an pria ini benar-benar membuat muak. Saat pria itu berniat membalikkan badannya dan akan menempelkan bibir mereka, Neyra segera bangkit dari tidur. Sebelum semuanya kembali terlambat. "Aku harus pergi, Fer." Feris tersenyum kecil ketika Neyra menghindari ciumannya. "Ini hari libur kamu ‘kan?" “Iya dan justru itu, aku masih ada urusan lain. Jadi berhenti korupsi waktu libur aku!”“Aku bisa kasih kamu pekerjaan secepatnya,”"Melamar kerja yang bosnya nggak profesional macam kamu? No, thanks!" Neyra menarik selimut untuk menutupi dadanya yang telanjang dan turun dari ranjang menuju ke kamar mandi. Ruang kerja Feris benar-benar seperti rumah kedua. Meski tidak terlalu luas tapi perabotan yang digunakan serba minimalis dan trendy, membuatnya tampak cukup dan nyaman. “Orang kaya memang selalu melakukan apapun sesukanya, ya.” decak Neyra. Senyum di bibir Feris semakin melebar mendengar decak
“Selalu kamu yang berlari padaku lebih dulu, Ney." Bibir Feris menempel di telinga Neyra. Berbisik lembut namun mampu membuat Neyra bergidik ngeri. Neyra termenung, tak mampu menampik atau bersilat lidah lagi, dan ia pasrah saat Feris menahan kepala lalu menciumnya dalam, membiarkan Feris membuka kancingnya kemudian jemarinya menyentuh langsung kulit bagian terdalam, membuat napas Neyra tercekat.Seolah tengah melampiaskan emosinya dalam ciuman itu sekaligus menikmati kemanisan dan kelembutan bibir ranum Neyra. Saat melepas ciumannya, ia menempelkan dahinya di dahi Neyra dengan napas yang sedikit terengah-engahnya dari wanitanya. "Melihat caramu mempertahankan dan membela pria itu, membuatku sangat gerah, Sayang. Kurasa kamu harus bertanggung jawab untuk memuaskanku sekarang juga." Mata Neyra melotot mendengar permintaan vulgar Feris yang tanpa basa-basi itu. Namun, belum sempat ia memprotes, Feris sudah menariknya ke arah meja kerja Feris. Dengan mata yang menatap lekat manik Neyr
"Kamu memilih urusan yang salah denganku, eh.”Mehra tersentak akan reaksi Feris yang terlewat santai bahkan setelah ia mengaku permainannya. “Dengar! Aku sedang sibuk sekarang. Harus berapa kali aku harus bilang bahwa aku nggak suka diganggu di jam kantor seperti ini!”“Fer, kamu serius masih mempertanyakan hal itu? Aku kesini demi hubungan kita, aku-”“Cukup! Jangan paksa aku mengatakan itu untuk kedua kalinya. Ok!”“Aku kecewa sama kamu!” tandas Mehra lekas berbalik meninggalkan ruangan namun tepat ia membuka pintu ia dikejutkan dengan keberadaan Neyra tepat dua meter di depannya, seolah ia akan diterima dengan mudahnya.“Neyra?” Neyra tersenyum tipis melihat Feris yang memanggilnya tepat di belakang perempuan itu, Mehra Rowan presenter yang ia tahu culasnya. Terbukti dari cara Mehra menatapnya seolah sedang menguliti lawannya dari ujung kaki hingga ujung kepala. “Apa kamu sudah selesai memindai penampilanku? Karena aku sedang sibuk, jadi apa boleh kamu minggir? Aku mau masuk ke
"Lepaskan aku!" jerit Neyra satu tangannya berusaha melonggarkan cekalan keras pria itu. Berusaha membebaskan tangan yang satunya. Tak peduli jika rontaannya hanya memberikan rasa sakit yang lebih. Air mata yang membanjir di wajahnya sama sekali tak menyurutkan sikap kasar dan menimbulkan rasa iba di hati Okan. “Aku udah lelah! Dan aku tahu kamupun sama, kita tahu akan berakhir seperti apa hubungan kita kalau terus dilanjutkan!" "Tidak," desis si pria. Mata coklatnya menggelap tertutup badai dan wajahnya memerah oleh kemarahan yang sangat besar. "Ini tak akan berakhir seperti yang kamu inginkan kalau kamu masih mau berjuang." “Berjuang kamu bilang?! Kamu selalu egois! Dan tak pernah memperhitungkan aku!” bantah Neyra sembari di seret Okan.Sesampainya di depan mobilnya yang terparkir, Okan membuka pintu mobil bagian depan. Lalu mendorong Neyra untuk duduk. Neyra berniat membuka kembali pintu mobil ketika si pria berjalan memutari mobil. Namun, ia melihat perhatian dari rekan kerja
“Arghhh…. Feris! Kenapa kamu masuk-”Jeritannya mereda saat mendengar bisikan suara khas pria milik Feris. Nafasnya tercekat merasakan punggungnya yang telah menempel di dada bidang Feris dan wajah pria itu yang mulai tenggelam di cekungan lehernya. Sementara kedua telapak tangan pria itu mulai mengelus perut dan bermain-main di dadanya. Ciuman basah pria itu mulai merambati naik ke leher, rahang dan berhenti di balik telinga. Menggigit telinganya dengan gemas sebelum kemudian tubuhnya dibalik dan didorong ke dinding. Wajah Neyra terdongak sementara wajah Feris menunduk, tatapan Feris menguncinya. "Aku selalu suka reaksi dan rasa tubuh kamu." Kedua mata Feris mulai berkabut, menginginkan wanitanya sekarang juga. "Aku akan membuatmu tak bisa memikirkan hal selain aku…”Suara Feris tersengal oleh gairah yang sudah mengalir kencang di setiap pembuluh darahnya. Menginginkan Neyra dengan sangat. Membuat remasan tangannya di dada wanita itu sedikit keras dan Neyra tersentak kaget. Namu







