Share

6. Hari Pernikahan

Author: Intans Ranum
last update publish date: 2026-02-23 20:34:56

“Atau apa?! Hah!” sentak Neyra menentang.

Neyra memutar bola matanya, kalimat ke-overprotective-an pria ini benar-benar membuat muak. Saat pria itu berniat membalikkan badannya dan akan menempelkan bibir mereka, Neyra segera bangkit dari tidur. Sebelum semuanya kembali terlambat. 

"Aku harus pergi, Fer." Feris tersenyum kecil ketika Neyra menghindari ciumannya. "Ini hari libur kamu ‘kan?" 

“Iya dan justru itu, aku masih ada urusan lain. Jadi berhenti korupsi waktu libur aku!”

“Aku bisa kasih kamu pekerjaan secepatnya,”

"Melamar kerja yang bosnya nggak profesional macam kamu? No, thanks!" 

Neyra menarik selimut untuk menutupi dadanya yang telanjang dan turun dari ranjang menuju ke kamar mandi. Ruang kerja Feris benar-benar seperti rumah kedua. Meski tidak terlalu luas tapi perabotan yang digunakan serba minimalis dan trendy, membuatnya tampak cukup dan nyaman.

 “Orang kaya memang selalu melakukan apapun sesukanya, ya.” decak Neyra. 

Senyum di bibir Feris semakin melebar mendengar decakkan Neyra. Sebenarnya dia bisa saja membujuk wanita itu berhenti menjadi karyawan kafe yang gajinya tak seberapa itu dan membujuknya dengan gaji lebih baik dan libur di akhir pekan namun ia tak ingin terlalu memaksa dan terburu-buru. 

“Kalau gitu biar ku antar, dan kamu bisa menyimpan uang ongkosmu itu, ok!” tandas Feris tegas, ia bangkit tanpa mempedulikan tubuh polosnya. 

Ting!

Keduanya kompak menengok pada ponsel Feris, yang langsung diangkat olehnya.

“Ada apa?! Bukannya sudah ku bilang, jangan menggangguku kecuali ada hal penting!”

“Maaf, pak. Ada tuan Wira dan reporter Pak Amran, di depan ruangan bapak, ingin bertemu, beliau bilang sudah ada janji dengan Bapak.”

“Apa-”

“Feris! Apa-apaan ini, hah?!” bentak Wira yang sudah masuk ke kamar pribadi yang sedari awal tak terkunci, ternyata mereka sudah berhasil menerobos masuk. 

“Brengsek! Kenapa kamu memasuki kamar pribadiku, hah?! Dasar lancang!” saut Feris marah, ia segera menutupi tubuh Neyra yang hanya memakai kemeja atasnya saja dengan tubuhnya.

“Sial! Seharusnya aku tak mengijinkannya masuk dari awal, dengar! Ada reporter pak Amran di depan, jika dia bertanya katakan saja dia calon istrimu, Paham!”

“Apa?!” jawab Neyra angkat suara.

“Hai, Neyra. Sayang sekali Kita harus bertemu lagi dalam keadaan seperti ini, eh,” sapa Wira setengah mengejek.

“Mas, kami belum ada rencana tentang pernikahan, jadi aku bukan calon istri Feris, benar ‘kan, Fer?”

Feris hanya memandang lurus Wira yang seolah sedang menunggu jawabannya. “Apa Pak Emran tau, aku sengaja menyuruh bawahanku menahan tamu hari ini karena aku membawa perempuan ke ruanganku?”

“Ya, dan karena kita sudah menjadwalkan pertemuan hari ini, dia jadi bersikeras ingin menunggu di ruanganmu, yang ku kira hanya ada Neyra seperti bawahanmu bilang, dan tak mungkin kalian melakukan hal ini mengingat kalian putus dengan tragis, ckkk… jadi aku membiarkannya masuk.” 

“Sial! Dia pasti sudah mengerti apa yang terjadi ‘kan?” 

“Ckkk…. Aku bisa membayangkan gairah kalian dimulai dari meja kerjamu dan berpindah ke kamarmu ini, sekitaran mejamu sangat berantakan, ckk..”

Neyra menunduk malu, ia memilih celana bagian pinggang milik Feris, Khawatir menantikan apa yang akan terjadi.

“Kalian berdua berpakaian lah sekarang! Atau mandi saja dulu, biar aku yang berbicara pada Pak Emran, dengan alibi kalian akan segera menikah sepertinya dia tak akan menulis berita miring dan menghancurkan karirmu dan nama baik keluarga kita, ‘kan.”

****

Dua Minggu kemudian 

“Feris? Kenapa nggak bilang kalau kamu mau kesini?”

Feris berjalan masuk membuat Neyra spontan bergerak mundur dan membiarkan Feris semakin memasuki kamar kosnya. Ia langsung menutup pintu kamar dan duduk di atas ranjangnya sembari melihat Feris membuka gesper dan jam tangannya. “Kenapa kamu masih aja terkejut, hmm? Seolah aku baru melakukannya saja?” 

“Dan aku sudah kesekian kali bilang, tolong kabari aku kalau kamu mau ke tempatku, ‘kan?!”

“Biar apa? Toh kamu selalu langsung pulang dan sendirian disini, ‘kan?” jawab Feris santai. 

“Soal besok, kamu yakin ini yang terbaik?”

“Apa ini tentang rencana kita akan menikah?”

“Iya, maksudku… kita sama-sama tahu kalau hubungan ini berawal dari kesepakatan kita, yang terdengar hanya sebuah permainan ditelingaku, tapi sekarang kita sedang melibatkan dua keluarga besar kita untuk memainkan permainan yang lebih besarkah? Aku tak paham mengapa kamu terlihat santai melakukannya?!”

“Sebuah permainan? Ckkk… jujur aku agak tersinggung mendengarnya, yang jelas aku yakin kita bisa melakukannya dan semuanya akan lebih menarik dari sebelumnya bukan?”

“Apa maksudmu?!”

“Peraturannya tetap sama, ucapanku adalah peraturannya dan sebagai gantinya kamu berhak mendapatkan segalanya sebagai istriku, kecuali diriku. Deal!”

“Kenapa harus aku?!” sentak Neyra frustasi.

“Anggap saja semesta yang memilihmu, well kalau bukan kakak dan reporter itu yang memergoki kita, mungkin kita akan tetap memainkan babak yang sama.”

“Fer, tapi pernikahan bukanlah sebuah permainan belaka! Kamu tahu itu!”

“Aku tahu, dan jangan munafik Neyra! Aku tahu kamu menginginkannya karena hanya menjadi istriku kamu bisa melakukan dan mendapatkan banyak hal yang selama ini tak bisa didapatkan oleh orang macam dirimu,”

Neyra tersenyum getir, “Brengsek! Tega sekali kamu mempermainkan aku saat ku terjebak!”

Feris menangkup dagu Neyra, memastikan ia mendengarnya. “Brengsek? Kamu tahu brengsek adalah nama tengahku jadi berhenti mempertanyakannya, sayang.”

Dua bulan kemudian 

Lamunan Neyra terpecah ketika para perias mengatakan jika riasan pengantinnya telah selesai. Hanya senyum sopan yang mampu ia tampilkan dan menunduk setelah ucapkan terimakasih. 

“Wahh…. Anak perempuan mama cantik sekali, gaun, perhiasan hingga make up nya dipilih yang terbaik untuk kamu. Lebih dari cukup untuk kamu bersyukur, Nak.” Ucap ibu Neyra menguatkan.

“Iya, Mah. Terimakasih.”

“Kalau sudah siap, kita berangkat sekarang, sudah waktunya. Ayo!”

Tubuh Neyra sempat terhuyung, berdiri tegak dan berputar menghadap satu orang membimbing jalannya sementara yang lain memegangi ekor gaunnya yang cukup berat. Ketiganya melangkah keluar dari ruang tunggu tersebut, berbelok ke arah sebaliknya. 

Lorong kali ini lebih panjang, menuju pintu ganda yang lebih tinggi dan berwarna coklat tua. Suara ribut-ribut dari arah depan membuat Neyra mengangkat kepalanya dengan perlahan. 

Pekik terkejut menyambut begitu ia muncul di hadapan orang-orang yang saling bersitegang di depan sana. Tak jauh dari langkahnya yang membeku. 

Tanpa sadar matanya terus berpindah memindai tamu undangan dan detik itulah tatapannya terhenti pada Regas.

Deg!

Regas…. Dia datang, Tapi untuk apa? apakah untukku?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • (Bukan) Pernikahan Tipuan    35. Alasan Berduaan

    “Dua bulan lagi diceraikan? Apa Maksudmu Mehra?” Mehra tersenyum meremehkan sembari menatap wajah Neyra yang pias bahkan tubuhnya hanya mematung perlahan menunduk. “Upss… apa kamu juga belum tahu, Ney? maksudku bukannya mamanya Feris atau Feris sudah memberitahumu? atau Karenina mungkin, aku tahu dari Feris kalian sudah beberapa kali bertemu,”“Ney? Apa benar begitu?” tanya Regas memburu.Neyra mendongak dan tersenyum kering. “Aku nggak nyaman membicarakan urusan rumah tangga pada orang lain seperti kalian dan kenapa sih kalian harus mempedulikan urusan rumah tangga orang lain, seperti udah nggak punya urusan sendiri saja,”Neyra menandandaskan minumannya dalam satu tegakkan, tak peduli dengan gerakannya yang sembrono. Dan saat itulah ponsel nya berbunyi menunjukkan nama Feris lah yang jadi pemanggilnya.“Feris,… sepertinya dia sudah melihat foto kalian berdua yang aku kirim padanya,” seru Mehra setelah mengintip ponsel Neyra.“Apa kau bilang? Foto kami?”Dan Mehra hanya tersenyum, i

  • (Bukan) Pernikahan Tipuan    34. Sudah Goyah

    “Aku bilang nggak bisa! Aku takut keguguran! Arrgghh…”“Keguguran?” saut Feris mengambang. "Ckkk… Lepas..." Panggilan Neyra terpotong oleh bibir Feris yang segera membungkamnya. Dan hati, Neyra menyumpahi Karenina yang membawa pria itu pulang dalam kondisi mabuk seperti ini.Dengan seluruh tenaga yang dimilikinya, Neyra berusaha menyingkirkan tubuh Feris dari atasnya. Tetapi melawan kekuatan pria Feris jelas bukan ide yang bagus. Hasrat pria itu sudah tak terbendung lagi. Bahkan ia tak bisa melonggarkan cekalan Feris di kedua tangannya.Pria itu melucuti pakaian keduanya dan melemparnya ke sembarang arah. Dan saat Feris melepaskan bibirnya, berteriak meminta tolong juga ide yang lebih tolol lagi. Feris adalah suaminya sendiri.Pada akhirnya, Neyra tetap tak berdaya di hadapan keinginan Feris. Napas pria itu semakin menggebu, tak pernah puas. Esok pagi, Neyra bangun terlambat meski turun dari tempat lebih dulu. Ia lekas membersihkan badannya, tepat ketika keluar dari bilik, Feris mel

  • (Bukan) Pernikahan Tipuan    33. Pulang Dengan Karenina

    Dua Hari Kemudian“Jadi suamimu masih belum pulang?”“Belum, well… terimakasih info dan sarannya, sepertinya aku sudah mantap akan berinvestasi di properti, aku suka usulan lokasi kontrakan di pinggir kota yang kamu bilang itu.”“Bagus, berarti bagaimana jika besok kita bertemu untuk menghitung modalnya sekalian aku jelaskan lebih jauhi,”“Ya, ayo kita bertemu besok, terimakasih banyak Regas,”“Anytime,” tutup Regas.Neyra menggeliatkan tubuhnya sejenak sembari mengedarkan pandangannya di kamar.Hanya ada dirinya di kamar tersebut. Meski biasanya Feris pulang terlambat, kali ini pria itu sudah dua hari tak pulang. Pun begitu, ia tak akan menghubunginya lebih dulu, Neyra masih kecewa dengan jawaban Feris malam itu. Hubungan mereka semakin asing sejak kedatangan Karenina kembali ke Indonesia dan mulai menginvasi hidup Feris. Dan itu memudahkannya untuk mendapatkan jarak untuk ia mempertimbangkan pilihan apa yang harus ia ambil untuk hidupnya dan anak dalam kandungannya tanpa ikut andil

  • (Bukan) Pernikahan Tipuan    32. Kapan Ceraikan Aku?

    Tanda positif semakin jelas terlihat. Kini, Neyra sadar, ia tidak sedang bermimpi. Tangannya gemetar tak terkendali hingga test pack terlepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai kamar mandi. Perasaannya semakin kacau.Neyra tidak berani membayangkan seperti apa hidup-nya nanti. Selama ini, Neyra tidak pernah peduli dengan anggapan atau pikiran orang tentang dirinya, tetapi hamil tanpa pasangan belum pernah terlintas di benaknya. Neyra menangkupkan tangan pada wajahnya, tidak pernah mengira ini semua akan terjadi pada dirinya. Air matanya mengalir.Sudah begitu lama ia meninggalkan keluarganya untuk hidup mandiri. Tidak ada sanak saudara yang membantunya. Neyra bekerja keras demi memenuhi kebutuhan hidupnya,dan belum berminat untuk menjalin hubungan dengan lelaki manapun setelah Marcel-kekasihnya mengkhianatinya. Lelaki itu berselingkuh dengan teman sekerja Neyra yang selama ini telah menjadi teman curhatnya.Tujuan hidup Neyra hanya satu; dapat hidup layak dari hasil keringat sendi

  • (Bukan) Pernikahan Tipuan    31. (Bukan) Pemerkosaan

    Menggeleng tegas, Feris berkata "I don't need sorry, I need to punish you."Nada bicaranya membuat tubuh Neyra merinding seketika. la lalu beralih pada tangannya yang dicengkeram. Pria itu memang tidak menyakitinya. Tapi jari-jari yang melingkari lengannya membuatnya bergidik cemas. la cukup dekat untuk mencium cologne Feris yang maskulin dan khas, serta kesegaran dalam napas pria itu. Neyra mulai merasa ada yang aneh dengan getaran pada tubuhnya dan detak jantung yang berdegup cepat.Jari-jari Feris kini dengan lembut menyelipkan rambut di belakang telinganya, mereka hampir tak ada jarak. Perlakuannya sama sekali tak terkesan menenangkan, dengan bertingkah seperti itu ia justru membuat Neyra kian ketakutan."Who told you to act like a little slut, hm? Then Im gonna fucking treat you like one of them."Feris berbisik didepan bibir Neyra sebelum dengan kasar menarik tengkuknya, menjatuhkan ciuman di sepanjang garis rahang sampai ke sisi mulut gadis itu. Gerakan bibirnya sangat krusial,

  • (Bukan) Pernikahan Tipuan    30. Feris Murka

    Neyra tak berhenti terkejut bahkan ketika mobil Feris menghadang mobil yang ia tumpangi, beruntung Regas menghentikan mobilnya tanpa kendala seolah sudah memprediksi hal itu.Nampak Regas keluar dari mobil dengan raut wajah yang marah, ia melangkah cepat menghampiri sisi pintu Neyra berada dan membukanya kasar, Neyra semakin terkejut saat Regas membentaknya untuk keluar, dengan perasaan takut dan terkejut Neyra bergerak namun gerakannya terbatas lantaran seat belt yang masih terpasang dengan nada ringan Regas angkat suara. “Tahan Fer, biar aku bukakan seat beltnya,”“Brengsek!” Bentak Feris kasar.Neyra hanya bisa berpasrah tapi tidak dengan Feris yang menghempaskan tangan Regas dan melepaskan seat belt dan menarik lengan atas Neyra dengan kasar. keluar dari bar, menuju mobilnya yang terparkir tetapi begitu pintu terbuka untuk gadis itu, Neyra didorongnya masuk dengan benar-benar kasar dan tanpa perasaan. Neyra bahkan sempat meringis sebab sikunya mengenai bagan dalam mobil.Feris be

  • (Bukan) Pernikahan Tipuan    11. Situasi Sulit

    “Halo, Ney! Ini aku… kamu harus ke sini! Regas tiba-tiba mabuk, dia jelas terpukul setelah memastikan pernikahan kalian! Halo….”“Aku tidak mengizinkannya, dan berhenti menghubungi istriku untuk hal tak penting seperti ini,” tutup Feris saat ia mendapati tubuh Neyra yang membeku, menatap ponselnya

  • (Bukan) Pernikahan Tipuan    10. Sebuah Kenyataan

    "Sebentar, aku-" Neyra hendak melompat dari pangkuan Feris. namun Feris malah menekan pinggang Neyra, mengembalikan posisi wanita itu seperti semula. "Aku tak butuh penolakanmu, Ney," peringat Feris. Neyra menelan ludahnya, "A-aku sedang datang bulan." Feris mengangkat alisnya, menyeringai tipis.

  • (Bukan) Pernikahan Tipuan    9. Salah Paham

    “Ney,”“Regas,” sapa Neyra tertahan.“Kamu apa kabar?”Neyra menatap balik Regas yang memandangnya dalam, tanpa ekspresi khas Regas ketika memandangnya dulu.“Baik, kamu gimana? Semuanya baik-baik aja ‘kan?” Tanya Neyra mengambang.“Baik, walaupun nggak semua berjalan sesuai keinginanku,” Ada kehe

  • (Bukan) Pernikahan Tipuan    7. Tamparan Mantan

    Regas memandangnya dalam ada raut terkejut di wajahnya yang langsung terganti kecewa, khas Regas saat sedang kecewa."Ulurkan tanganmu, Kak! Semua orang memperhatikan kita."Neyra sempat tersentak sebelum menerima lengan adik lelakinya, pandangannya tak lepas dari kedua mata Regas yang menyiratkan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status