Masuk“Itu kekasih Feris yang terbaru?” sebuah suara sinis terdengar, rupanya pemilik suara sengaja supaya Neyra mendengarnya.Neyra menoleh dan mendapati segerombolan perempuan-perempuan cantik tengah berbisik-bisik dan menatapnya dengan tatapan benci.Salah seorang perempuan, yang paling cantik dengan gaun hitamnya yang sangat seksi terang-terangan mengamati Neyra dengan pandangan meremehkan dari atas ke bawah,“Aku mendengar Feris mengajaknya tinggal bersama, bayangkan! Nggak ada satupun perempuan yang pernah diajak Feris tinggal bersama.... Kupikir dia perempuan yang sangat cantik! Ternyata dia biasa saja, mungkin Feris sedang mabuk saat membawanya tinggal bersama.”“Aku pikir juga begitu,” perempuan di kelompok itu, yang bergaun merah muda menyahut dengan suara yang tak kalah sinis “Kalian ingat Mehra? padahal mereka terlihat dekat dan kupikir mereka berkencan, sebentar… menurut kalian apa wanita itu orang ketiganya? maksudku mungkin karena wanita itu gampangan jadi Mehra yang wanit
Feris mulai mendesis marah, tangannya meraih gaun biru dongker itu dan melemparnya dengan sembarangan ke arah Neyra yang langsung menangkapnya dan memegang gaun itu dengan hati-hati.Feris memperlakukan gaun semahal dan seindah ini layaknya memperlakukan handuk kotor. Anak orang kaya ini memang sombong! Tanpa sadar ingatan perlakuan Feris pada seseorang, sesuatu yang membuat ia menghindari pria seperti Feris kembali teringat, dorongan untuk menantang Feris amatlah besar, meskipun sisi lain dirinya berteriak untuk tidak menantang Feris lebih jauh besar.Mereka berdua berdiri berhadap-hadapan, udara di antara mereka sangatlah tegang. Senyap dan tanpa suara, hanya dua mata yang saling menatap dan saling menantang.“Ganti gaun itu, Neyra.” kali ini Feris melangkah mendekat, seolah tak sabar.Neyra langsung mundur selangkah lagi menjauhi Feris, jantungnya berdegup kencang, dia mulai merasa takut,“Baiklah, aku akan memakainya, kamu keluar dulu dari sini!” teriaknya marah karena dipaksa
“Perkenalkan ini Ian Jameer. Dia seorang Make Up Artist yang akan mempersiapkanmu untuk nanti malam.” setelah berkata begitu, Feris melangkah mundur, membalikkan tubuhnya dan meninggalkan kamar itu.“Hai, aku Ian dan kamu?”“Aku Neyra, salam kenal.” setengah mati Neyra mengontrol dirinya untuk tidak bereaksi berlebihan. Beberapa kali Ian Jameer muncul di TV sebagai Make Up Artist yang bekerja sama dengan artis terkenal.“Jadi kamu istrinya Feris, ups… jangan salah paham dulu, sebenarnya aku beberapa kali beerj sama dengan Karenina dan teman-temannya. Jadi aku cukup penasaran ketika mereka membicarakan dan jangan salah paham dulu rasanya siapapun istrinya akan dibicarakan selama itu bukan Karenina. yah, kamu mengerti “kan maksudku.” “Ah ya, berkatmu aku nggak akan salah paham, terimakasih.” jawab Neyra diplomatis.“Kamu sebenarnya lebih cantik riasan tipis nona dan agak bold di sekitar mata, dan kamu akan terlihat stunning. Tidak kalah dengan mereka.” Ian bergumam dengan suara gemula
Feris sempat termenung mempertimbangkan. “Jadi, aku harus menceraikan Neyra? Kapan waktu yang tepat menurut mamah?”“Lebih cepat lebih baik, iya kan Tante?” sergah KareninaFeris hanya spontan menatap Karenina sesaat, cukup paham inilah alasan Karenina bersusah payah mendekati ibunya lagi. “Sebagai pebisnis yang baru merintis aku punya reputasi yang harus aku jaga, kalau kalian lupa.”‘iya…ya Mamah juga tahu, Fer. Itu juga yang jadi pertimbangan mamah selama ini. Walau bagaimanapun umur pernikahan kalian baru dua bulan. Tidak bagi untuk reputasimu kedepan, begini saja Mamah akan membicarakan hal ini dengan papahmu dan Wira, sekaligus mengenai harta yang akan kita bagi padanya.”“Mah, tidak perlu sejauh itu, aku hanya bertanya pendapat mamah tentang waktunya bukan hal lain.”“Ya, sama saja kan? Pada akhirnya akan bermuara kesana, dan kamu sudah banyak pekerjaan jadi biarkan mamah membantu kamu, ok!”“Dan itu akan jadi urusanku, sejak awal akulah yang meminta Neyra menikah denganku, dan
"Ahhh Neyra sayang, aku nggak tahan." desis Feris saat Neyra semakin menggoyangkan pinggulnya. Bahkan Feris telah ikut menggerakkan pinggulnya juga. Neyra menegakkan tubuhnya membuat Feris semakin mendesis karena tekanan di kejantanannya semakin terasa. "Ahhhh Neyra!" erang Feris sambil meremas payudara Neyra. Neyra menghentikan gerakannya, lalu meraih milik Neyra. Menggesekkannya beberapa kali sambil menikmati lalu, perlahan-lahan menurunkan tubuhnya ke bagian bawah tubuhnya."Ahhh…Fer" pekik Neyra pelan saat merasa kejantanan Feris mulai menyeruak masuk. Dia menggigit bibirnya menurunkan tubuhnya lagi. Matanya terpaku menatap Feris. Pemandangan di depannya membuatnya melupakan rasa sakitnya. Ia melihat sesuatu yang sangat indah. Wajah suaminya yang menegang dan memerah karena gairah. Membuatnya semakin basah dan menginginkan Feris di dalamnya. Neyra terus mencoba turun dan turun hingga akhirnya, ia memekik keras begitu dalam satu sentakan keras, ia mendorong tubuhnya hingga Feris
Ferislah yang berinisiatif membuka pintu. “Kamu masih disini, Nina?”Karenina tak menghiraukan pertanyaan yang menggores hatinya. Ia menatap dalam ke arah dada Feris yang terlihat lebih coklat dari yang ia ingat, semakin terlihat manly. “Karenina.” panggil Feris.“Ah, iya. Begini… kita harus pergi bersama sekarang!”“Apa?”“Om Nurdin meninggal. Keluarga besarmu masih berkumpul di rumah sakit sekarang. Tante Ira memintaku mendampingimu.”“Pergilah lebih dulu, setelah ini aku menyusul. “Titah Feris yang tak diterima Karenina, dengan langcang ia membuka pintu kamar dan berjalan masuk. “Fer-” suara Karenina tercekat, melihat Neyra yang duduk di atas ranjang memegang selimut tebal, menutupi tubuh yang ia yakin tak tertutup apapun. Ada rasa cemburu yang mendidih di dada. “Kenapa kamu malah masuk, hah!” bentak Feris yang juga terkejut.“Kamu nggak mungkin membawanya, Fer!” Karenina menatap nyalang ke arah Neyra. “Keluargamu nggak akan suka melihatnya dan dia akan merasa terasingkan kalau
“Halo, Ney! Ini aku… kamu harus ke sini! Regas tiba-tiba mabuk, dia jelas terpukul setelah memastikan pernikahan kalian! Halo….”“Aku tidak mengizinkannya, dan berhenti menghubungi istriku untuk hal tak penting seperti ini,” tutup Feris saat ia mendapati tubuh Neyra yang membeku, menatap ponselnya
"Sebentar, aku-" Neyra hendak melompat dari pangkuan Feris. namun Feris malah menekan pinggang Neyra, mengembalikan posisi wanita itu seperti semula. "Aku tak butuh penolakanmu, Ney," peringat Feris. Neyra menelan ludahnya, "A-aku sedang datang bulan." Feris mengangkat alisnya, menyeringai tipis.
“Ney,”“Regas,” sapa Neyra tertahan.“Kamu apa kabar?”Neyra menatap balik Regas yang memandangnya dalam, tanpa ekspresi khas Regas ketika memandangnya dulu.“Baik, kamu gimana? Semuanya baik-baik aja ‘kan?” Tanya Neyra mengambang.“Baik, walaupun nggak semua berjalan sesuai keinginanku,” Ada kehe
"Kamu benar-benar sudah gila, Fer? “Aku nggak habis pikir! Kamu baru aja menikahi mantan sepupumu! Dia bahkan nggak setara dengan kita, Fer!” "Aku tahu apa yang kulakukan, Mehra." Berbanding terbalik dengan ucapan Mehra yang berapi-api, nada suara Feris terdengar begitu santai dan penuh ketenanga