Masuk
"Putri! Anda suka?"
"Suka... suka sekali," sahut wanita yang dipanggil putri sambil sesekali mendesah kala jemari si pemuda berekor kelinci membelai lembut seluruh tubuhnya yang sudah setengah telanjang. Ia bahkan memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan lembut itu dengan tubuh menggeliat erotis yang sayangnya justru tidak terlihat erotis sedikitpun akibat tumpukan lemak dan gelambir di mana-mana. Belum lagi bau busuk yang menguar dari mulutnya yang sesekali terbuka. Senyum jahat terukir di bibir pria itu, tangan kirinya perlahan merogoh bagian belakang tubuh, mengambil sebilah pisau perak dengan gagang berlian ungu di bagian tengah, menggenggamnya erat, lalu mengayunkan benda tajam itu ke udara sambil menatap wajah merona sang putri yang tampak pasrah di bawah kungkungan. "Kalau begitu—" Pisau itu mengayun cepat ke arah leher sang putri, meninggalkan luka menganga besar, tatkala benda tersebut dicabut dengan kuat dari sana hingga warna merah berhamburan keluar, menciptakan noda di mana-mana bersama suara tercekik yang lolos dari mulut wanita itu juga mata yang terbelalak, terkejut dan tidak menyangka jika dirinya akan berakhir di tangan pria yang ia cintai. Tangan kanannya berusaha menjangkau pria itu, ingin bertanya alasan kenapa dirinya berbuat sekejam ini. Namun, baru terangkat sedikit, tangan itu langsung jatuh lunglai ke bawah bersama roh yang tercabut paksa dari raga, juga mata yang terbelalak, enggan menutup. Sementara itu, si pria justru tertawa terbahak-bahak dengan kedua tangan terentang lebar sambil mendongak ke atas, merasa sangat senang tugasnya berjalan dengan sempurna. "Akhirnya!" seru si pria lantang sambil perlahan turun dari atas ranjang, "sudah sekian lama aku menunggu kesempatan ini, Wanita sialan! Akhirnya kamu berhasil aku singkirkan!" ujarnya lagi semakin lantang, benar-benar merasa bangga. Si pria kelinci lantas berjalan menjauh, masih dengan perasaan bangga di dalam jiwa. "Akhirnya waktu kebangkitan Putri Ariesta akan tiba! Setelah ini, maka—" Ia berbalik. Matanya seketika terbelalak, suaranya tertelan sempurna dengan mulut menganga lebar, kala melihat sang putri yang baru saja ia bunuh, tiba-tiba duduk sambil memegangi kepala dengan tangan kanan. "T-tidak mungkin," ujarnya lirih. Genggaman tangannya pada pisau tersebut bahkan terbuka, membuat benda tajam yang masih berlumuran darah tersebut seketika terjatuh ke lantai, menimbulkan bunyi denting keras, sebelum tergeletak begitu saja di dekat kakinya. Ia bahkan ikut jatuh terduduk, tidak menyangka akan melihat hal mustahil seperti ini terjadi di depan mata. Sementara itu, sang putri justru meringis, mendapati kepalanya berdenyut dengan hebat. "Ugh ... sakit banget! Apa ini surga?" "Sepertinya iya," gumamnya lagi. Hela napas berat lantas lolos dari mulut. "Padahal aku belum selesai nonton Drama Putri Yang Terbuang tadi malam," keluhnya sambil mencebikkan bibir. "Sudah rela bergadang demi si empat cowok ganteng. Eh, malah ibu kost bikin ulah! Listrik sengaja dicabut!" Wanita itu mendengkus keras kala teringat ucapan sang ibu kost yang memakinya kala ia meminta listrik kembali di alirkan. (Kamu nunggak sewa 2 bulan. Jadi, bayar dulu, baru listrik saya buka! Masih untung saya ijinkan kamu tinggal di sini! Coba di kost an lain, kamu sudah pasti kena usir karena nunggak! Jadi, jangan serakah?!) Decak sebal lantas menyusul. "Untung aku pintar, aku pakai colokan kabel punya Dia yang nyambung ke Jet Pump. Jadi, kan aku bisa lanjut nonton!" Ia terkikik geli. "Aku 'kan penasaran akhirnya kayak apa pas si Ivan Ivan itu bunuh Dia? Terus nasib suami-suami gantengnya gimana?" Ellyn kembali berdecak sebal sembari duduk perlahan. "Tapi, gara-gara kagak liat kalau colokannya terkelupas, jadinya aku terpeleset dan akhirnya kesetrum." "Ini gara-gara gaji super kecil yang cuma cukup buat bayar kontrakan, beli mie instan buat sebulan, dan kuota biar bisa terus nonton film," gerutunya lagi. "Untung aja dari pabrik dapat jatah makan siang. Kalo gak, bakal kurus kering ini badan tiap hari makan mie mulu!" Wajahnya merengut. Namun, seketika berubah menjadi tersenyum lebar saat memindai sekitar. Semua perabotan super mewah terlihat, membuatnya tanpa sadar berdecak kagum. "Ternyata di Surga seindah ini," kikiknya geli, merasa sangat senang, "tapi, kok, kayak familiar, ya?" Ia kembali mengangguk-ngangguk mengiyakan pemikirannya sendiri. Akan tetapi, saat matanya menyorot ke arah depan, ia justru terbelalak lebar, terkejut kala melihat penampakan di sana. "Ma—manusia kelinci ...? Ah, sepertinya ini benar surga, jadi aku benar-benar sudah mati," gumam wanita itu, sambil menghela napas ia menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. Namun, ketika tubuhnya menabrak kasur empuk itu, Ellyn menyadari sesuatu. Matanya langsung terbelalak lebar menatap langit-langit. "Hah ... di mana ini?!" Ellyn mengedarkan pandangannya dengan panik. Saat dirinya mencium aroma amis yang penat, ia perlahan menurunkan pandangan, hanya untuk dibuat terkejut untuk yang kesekian kali. Tangannya telah berlumuran darah. Ia menatap sekujur tubuhnya yang benar-benar penuh darah. "Eh ... ini?" Menyadari ada yang tidak beres, Ellyn samar-samar mengingat setiap detail yang ia lihat. "Bukannya ini kamar Putri Elloist? Bajunya juga!" Ellyn langsung bangkit dan berdiri di depan lemari kaca yang ada di sebelah ranjang. Saat itu juga, matanya terbelalak lebar. "Aku ..." "P--Putri Elloist ... Putri b--bangun?" Suara itu langsung membuat Ellyn menoleh cepat. Matanya langsung menangkap sosok pria dengan telinga kelinci yang menatapnya dengan terkejut. "Nggak mungkin ... nggak mungkin aku masuk ke film itu, kan?" gumam Ellyn sambil memegangi wajahnya. Sekali lagi, ia menatap sekeliling dengan bingung dan panik. "Ini mustahil!" gumamnya lagi sambil menggelengkan kepala, menolak tegas semua yang ia lihat. "Tapi—" Ellyn kembali mengulurkan kedua tangan hanya untuk memastikan penglihatan sebelumnya. Mata Ellyn semakin terbelalak lebar. Wajahnya seketika pucat pasi. 'Tapi, kenapa aku harus jadi tokoh paling bodoh di Drama Putri Yang Terbuang?!' "P—Putri ... Anda—" Pria kelinci itu, Ivander, kini justru memasang raut sedih, bahkan meneteskan air mata sambil beringsut merangkak, mendekat. Ellyn jelas tahu kejadian ini, kejadian di episode ke-30 saat Ivander membunuh Putri Elloist demi memuluskan rencana Putri Ariesta, Sang Kakak Sepupu yang berniat merebut tahta dan berkat kejadian itu pulalah, Kerajaan Ellianor runtuh digantikan oleh Kerajaan Ular hitam, dibawah tampuk kepemimpinan Ariesta. Sementara itu, para suami binatang milik Elloist dieksekusi mati karena menolak membuat ikatan dengan Ariesta. 'Gara-gara kebodohan sang putri, semua kena imbasnya!' batinnya kesal. Matanya bahkan terbelalak lebar, 'dan sekarang... Aku justru menjadi sang putri! Bukankah ini berarti aku akan berakhir mengenaskan?!' Namun, belum sempat dirinya bersuara, tiba-tiba telinganya berdengung nyaring. Ngiing! Ellyn bergegas menutup kedua telinganya dengan kedua tangan. [Ding!] Tiba-tiba saja sebuah layar proyektor tembus pandang berwarna ungu, muncul di depan mata dan suara tanpa wujud terdengar, [Terdeteksi amarah Tuan rumah meluap hingga 100%. Selamat Tuan rumah! Anda mendapatkan sistem pembuka awal, Teknik bertahan hidup! Boleh ditukarkan sekarang juga! Gratis!] "Ap-apa?! Teknik bertahan hidup?" Ellyn kembali bergumam. Kebingungan seketika melanda. Ia bahkan memindai ke sekeliling ruangan, berharap menemukan sesuatu yang menjadi jawaban atas kebingungan nya. Beruntung secara tiba-tiba muncul seekor peri kecil dengan sayap berwarna ungu layaknya kupu-kupu, mengenakan gaun sedada berwarna senada yang terlihat ber kelap-kelip seperti bintang di langit, juga tongkat dengan ujung berbentuk bintang berwarna emas, balas menatapnya dengan sorot menggemaskan. Ellyn terkejut. Matanya semakin membeliak lebar. Tanpa sadar ia mengacungkan jari telunjuk. "S-siapa kamu?!" Ivander yang melihat sang putri terlihat syok, justru merasa heran. Ia lantas berdiri perlahan, lalu berjalan mendekat. "Putri lupa pada hamba?" Suaranya terdengar menghiba. Bersamaan dengan itu, sosok peri kecil juga ikut berujar, [Perkenalkan, Tuan rumah. Nama saya adalah Momo! Saya adalah sistem yang akan menemani Tuan rumah menyelesaikan misi di Negeri Lima Bintang ini!] Ellyn mengernyitkan dahinya bingung. Namun, peri kecil itu terus bersuara. [Tugas Tuan rumah adalah menaklukkan 4 suami Tuan rumah dan mengubah level kebencian mereka menjadi rasa cinta dan kontrak loyalitas sehidup semati.] "Rasa cinta dan kontrak loyalitas sehidup semati?" Ellyn semakin kebingungan. Momo bergegas mengangguk. Kembali terbang berputar-putar sebentar, terlihat senang, membuat kepala Ellyn tanpa sadar bergerak mengikuti ke mana Momo bergerak. "Apa maksud dari kontrak loyalitas sehidup semati?" tanya Ellyn dengan kening berkerut, menuntut penjelasan. [Maksudnya adalah, jika sesuatu terjadi pada Tuan Rumah. Maka, ke empat suami Tuan Rumah akan merasakan hal yang sama, begitu pula sebaliknya.] Lalu, Momo segera terbang mendekat ke arah Ellyn, membuat Ellyn sedikit memundurkan kepala. "Kenapa harus aku?!" [Itu karena—] Momo terdiam, lalu tiba-tiba menyeringai lebar, membuat Ellyn merasakan firasat buruk. "A-apa maksud seringaiannya mu itu?" [Tidak ada!] Ellyn mendelik sebal. "Mencurigakan?!" Sayangnya Momo justru balas menatap dengan raut polos, membuat Ellyn mendengkus keras. Sadar jika dirinya sudah terlanjur menjadi Putri Elloist, Ellyn lantas menghela napas berat. "Baiklah. Jika aku berhasil melakukannya, apa hadiah yang akan aku terima?" [Hadiahnya jika berhasil menyelesaikan misi adalah Tuan rumah bisa kembali ke dunia asal Tuan rumah dengan selamat dan mendapatkan hadiah uang tunai sebesar 100 miliar, rumah mewah di tepi pantai, dan juga sebuah mobil lamborghini.] Mendengar semua hadiah itu, mata Ellyn seketika berbinar, tampak bintang-bintang berpendar di sekeliling tubuhnya. 'Uang, rumah, mobil. Arghhh! Aku kaya! Aku kaya!' batin Ellyn bahagia. Senyumnya bahkan terlihat sangat lebar. Sayangnya euforia itu tidak bertahan lama. Karena begitu Momo melanjutkan ucapannya, [Namun, bila gagal menjalankan misi?] Ellyn mulai merasa gugup. "J-jika gagal, apa yang akan terjadi?" Wajah Momo seketika berubah. Aura jahat tampak menyelubungi sekitar tubuhnya, membuat Ellyn sedikit merinding. [Bersiap-siap mati mengenaskan untuk yang kedua kalinya!] Tawa jahat menggelegar keluar dari mulut Momo, tampak merasa senang dengan apa yang ia katakan. "Apa?!" Ellyn hanya bisa memasang ekspresi syok berat. Ia bahkan tidak mendengarkan ucapan Ivander sedikitpun.Beep ... beep ... beep ...Suara monoton dari mesin elektrokardiogram adalah hal pertama yang menyapa indera pendengaran Ellyn. Udara yang terhirup ke dalam paru-parunya tidak lagi berbau anyir darah atau belerang dari Hutan Kabut Asap, melainkan aroma antiseptik yang luar biasa steril dan dingin.Kelopak mata gadis itu bergetar pelan. Terasa sangat berat, seolah ia baru saja tertidur selama ratusan tahun. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Ellyn perlahan membuka matanya. Cahaya putih dari lampu neon di langit-langit ruangan langsung menyilaukan pandangannya, memaksanya mengerjap beberapa kali hingga matanya terbiasa.Dinding serba putih. Selang infus yang menancap di punggung tangannya. Dan selang oksigen yang menutupi hidung serta mulutnya."Aku ... aku kembali …,” bisik Ellyn di balik masker oksigennya. Suaranya terdengar sangat parau dan lemah. Tidak ada lagi keagungan suara Sang Dewi Kematian. Ia telah kembali menjadi Ellyn, seorang gadi
Tepat ketika bibir Pangeran Alexander nyaris menyapu bibir Elloist, dan gairah ketiga pria lainnya telah mencapai titik didih. Waktu di lorong bawah tanah itu mendadak membeku. Debu-debu yang berterbangan tertahan di udara. Gerakan Alexander, Marcus, Thomas, dan Anand terkunci statis layaknya patung-patung pualam bernapas.Pecahan portal dimensi biru yang sebelumnya hancur berkeping-keping, tiba-tiba menyatu kembali, berputar dengan pendaran yang jauh lebih tenang namun mengintimidasi.[Ding! Protokol Finalisasi Diaktifkan!]Momo muncul dari dalam portal, wajah peri kecil itu tak lagi memancarkan kepanikan, melainkan sebuah keseriusan yang mutlak.[Tuan Rumah, sistem memohon maaf atas interupsi ini,] ucap Momo dengan nada formal.[Pilihan yang Tuan Rumah buat di saat emosi tidak stabil berpotensi merusak matriks jiwa. Oleh karena itu, otoritas kosmik memberikan masa tenggang. Tuan Rumah memiliki waktu tepat hingga fajar menyingsing e
Cahaya biru dari portal dimensi itu berputar pelan, memancarkan hawa dingin yang sangat kontras dengan udara lembab di lorong bawah tanah istana. Di dalam pusaran transparan tersebut, Elloist bisa melihat dengan jelas rupa dunia asalnya. Ia bisa mencium bau antiseptik yang steril dari ruang ICU. Ia bisa mendengar bunyi mesin EKG yang konstan. Dan ia bisa melihat sosok pria berkemeja kusut yang menangis sambil menggenggam tangannya di bumi, pria yang entah bagaimana terasa familiar, namun ingatan tentangnya telah lama tertimbun oleh kerasnya kehidupan sebagai budak korporat. [Tiga puluh detik, Tuan Rumah!] Peringatan Momo menggema, memecah lamunan sang Putri Mahkota. Peri sistem itu menunjuk ke arah portal dengan wajah tegang. [Ini adalah kesempatan tunggal! Begitu Anda melangkah masuk, Anda akan terbangun sebagai triliuner. Bebas dari monster, bebas dari sihir, bebas dari ancaman kematian!]
Lorong rahasia bawah tanah peninggalan raja-raja terdahulu itu terasa luar biasa lembab, gelap, dan berbau lumut busuk. Di sepanjang lorong yang sempit tersebut, gaun zamrud mewah milik Putri Ariesta tak lagi terlihat anggun. Kain sutra itu robek, kotor oleh lumpur, dan ujungnya terseret genangan air kotor. Napas wanita bersuku ular itu menderu kasar, bergema memantul di dinding-dinding batu yang mengurungnya.Kepanikan telah merenggut seluruh kewarasannya. Ratu yang baru beberapa menit lalu menobatkan dirinya sendiri itu, kini lari terbirit-birit layaknya tikus got yang diburu predator."Sedikit lagi ... aku hanya perlu mencapai pintu keluar di ujung lorong ini," gumam Ariesta dengan bibir pucat dan gemetar. "Aku masih memiliki sekutu di faksi selatan! Jika aku berhasil kabur, aku akan mengumpulkan pasukan bayaran dan menghancurkan pelacur itu!"Namun, ambisi kotor yang mengakar di kepala Ariesta dihancurkan tepat pada detik ia menginjakkan kakinya d
Asap beracun berwarna hijau pekat yang ditinggalkan oleh Putri Ariesta akhirnya benar-benar tersapu bersih dari Aula Tahta Kerajaan Moon.Bau anyir darah dari ratusan mayat pengkhianat masih menggenang pekat, namun keheningan yang kini menyelimuti ruangan raksasa tersebut membawa satu kepastian absolut.Kudeta berdarah faksi utara telah ditumpas habis hingga ke akarnya.Di depan undakan singgasana emas yang kosong, bahu Putri Elloist perlahan merosot. Pendaran galaksi pelangi dan biru kristal di sudut matanya berkedip redup, sebelum akhirnya menghilang sepenuhnya.Pedang Biru Ilusi di tangannya melebur menjadi partikel debu cahaya yang beterbangan ke udara. Adrenalin yang sejak tadi menopang tubuhnya selama pertempuran brutal dari dasar Jurang Dunia Hampa hingga ke ruang pengadilan ini akhirnya menguap tak bersisa.Rasa lelah yang luar biasa masif, setara dengan tertimpa reruntuhan gunung. Seketika menghantam seluruh persendian sang
Mata memanjang Putri Ariesta membelalak lebar hingga nyaris robek. Tangan wanita bersuku ular itu bergetar hebat, menunjuk ke arah Elloist dengan kuku-kuku runcingnya yang memucat. "B-Bagaimana mungkin..." desis Ariesta, suaranya pecah oleh ketidakpercayaan. "Kau seharusnya sudah mati membusuk di dasar Jurang Dunia Hampa! Tidak ada yang bisa selamat dari sana! Ini pasti ilusi! Kalian semua hanyalah bayangan kosong!" Elloist melangkah maju satu langkah. Ketukan hak sepatunya di atas lantai pualam terdengar seperti detakan jam kematian yang menggema di seluruh ruangan. Pedang Biru Ilusi di tangannya berderak nyaring oleh perpaduan api hitam dan petir zamrud. "Ilusi?" Elloist menyunggingkan senyum miring yang luar biasa dingin, sebuah ekspresi yang seolah meniru kelicikan Thomas namun dipadukan dengan keanggunan seorang ratu. "Mengapa kau tidak turun dari tahtaku yang kau kotori itu, merangkak kemari, dan menyentuh pedangku untuk memastikan apak
"Apa?!" pekik Elloist keras. "Benar, Yang Mulia," sahut pengawal itu terbata-bata sambil menatap ke arah Elloist dengan sorot takut. Ia bahkan berusaha keras menahan tangis. Bagaimanapun juga ia merasa berhutang budi pada sang tabib yang telah menyelamatkan nyawa putrinya di masa lalu. "Kok
Elloist menangis tersedu-sedu. Penampakan yang ia pikir sebelumnya adalah hantu, ternyata wajahnya sendiri. Bertepatan dengan itu, Momo kembali muncul, terbang berputar-putar mengelilingi kepala Elloist hingga debu perak sekilas terlihat berterbangan mengikutinya. [Tuan rumah jangan bersedih!
Elloist Ellianore, putri tunggal dari Raja Edward Ellianore, adalah sosok betina bangsawan di kerajaan antar binatang di planet Moon. Planet Moon adalah sebuah planet binatang, di mana semua wanita memiliki kedudukan yang tinggi karena dianggap sebagai jelmaan para Dewi karena memiliki kekuatan me
'Apa aku benar-benar tidak bisa menyelamatkan suamiku sendiri?' Elloist semakin frustrasi. Ia tanpa ssadar mengacak-acak rambutnya. Sementara itu, Nyonya Celeste justru berjalan ke arah Tabib Anand, meraih ujung rantai yang terhubung pada lehernya, lalu menariknya sedikit kuat hingga pria itu t







