ログインElloist Ellianore, putri tunggal dari Raja Edward Ellianore, adalah sosok betina bangsawan di kerajaan antar binatang di planet Moon.
Planet Moon adalah sebuah planet binatang, di mana semua wanita memiliki kedudukan yang tinggi karena dianggap sebagai jelmaan para Dewi karena memiliki kekuatan mental untuk menenangkan para jantan pria yang mengamuk kala musim kawin tiba. Para betina bahkan bisa memiliki suami lebih dari satu, tergantung seberapa besar kekuatan mental yang mereka miliki. Elloist yang hanya tingkat F, tingkat terendah dari semua tingkatan, justru berhasil mengikat 4 orang pejantan tangguh yang berasal dari keluarga-keluarga hebat di kerajaan. Itu semua hanya karena dirinya adalah seorang putri mahkota, sehingga berhasil memiliki 4 suami hasil paksa. Elloist bahkan tidak segan-segan membunuh pesaingnya dan menyiksa para suami binatangnya, jika mereka tidak menurut. Bahkan beberapa hari yang lalu, Elloist berusaha meracuni Pangeran Alexander dengan ramuan perangsang hanya gara-gara mendengar ucapan para dayang yang mengatakan, jika dirinya tidak pantas bersanding dengan semua suaminya. Sayang usahanya gagal karena lelaki itu, justru memilih melukai telapak tangannya dengan pisau agar tetap sadarkan diri. Lalu, melarikan diri dari kamar sang putri setelah memukul tengkuk gadis itu, membuatnya jatuh pingsan. Oleh karena itu, ia dikenal sebagai Sang Putri Buruk Rupa, dikarenakan dirinya memiliki tubuh luar biasa gemuk, wajah penuh jerawat menjijikkan, rambut berketombe dan berminyak, juga mulut berbau busuk karena malas gosok gigi, dan malas mandi. Hal itu pulalah yang menjadi penyebab para suaminya lebih memilih pergi menjalankan tugas negara daripada berdekatan dengannya. "Putri!" panggil Ivander dengan lembut, membuat Ellyn alias Elloist tersentak kaget dari lamunan. Air matanya mengalir membasahi kedua pipi. "Syukurlah Anda baik-baik saja," ujarnya lagi, berpura-pura senang sambil mengulurkan tangan kanan, berniat menggenggam tangan sang putri. Akan tetapi, belum sempat tangan itu meraih ujung kuku Elloist, Elloist telah lebih dulu menepis kuat, membuat Ivander terjerembab, terjatuh ke lantai. Ivander merasa terkejut, kecewa, dan tidak menyangka akan mendapatkan respon demikian dari wanita budak cinta di depannya ini. 'Kurang ajar! Berani sekali Dia memukul ku!' batin Ivander geram. Namun, secepat kilat mengubah mimik muka. "P-putri, Anda—" Wajah syoknya bahkan terlihat sangat jelas. Ivander perlahan meneguk ludah guna membasahi tenggorokan. Ia sadar nyawanya terancam jika tidak berhasil merayu sang putri mahkota. "Siapa yang kamu panggil Putri, huh?!" ujar Elloist angkuh dengan dagu terangkat. Kenangan demi kenangan dari pemilik tubuh asli, silih berganti masuk ke dalam otaknya. Hidung Elloist seketika kembang kempis menahan amarah, kala mulai menyadari betapa bodohnya ia kala berhadapan dengan kelinci busuk di depannya ini, yang justru tidak menampilkan raut bersalah sedikitpun. Ivander tentu saja kaget. Jantungnya berdegup kencang. Namun, dengan cepat mengubah ekpresi wajahnya yang semula pucat pasi menjadi penuh dengan senyuman manis sambil berdiri perlahan, mendekati sang putri. Ivander berharap sang putri luluh seperti yang sudah-sudah seperti setiap kali mendengar suaranya yang lembut, hasil dari merebut suara emas milik Tabib Anand. "Bukankah biasanya hamba juga memanggil Yang Mulia dengan sebutan Putri. Jadi—" "Tidak ada lagi Putri mulai detik ini!" sahut Elloist semakin angkuh, berusaha keras menahan emosinya kala teringat kejadian barusan. Kedua tangannya mengepal. Ia perlahan berjalan mendekati Ivander, bak seekor predator ganas yang tengah mengincar mangsa hingga membuat pria itu seketika merasa gugup dan ketakutan. Tubuhnya bahkan tanpa sadar gemetar. Namun, berusaha keras melawan itu semua. Sayang suaranya justru mewakili apa yang tengah ia rasakan. "L-lalu hamba harus memanggil apa?" Elloist tidak segera menjawab, melainkan mengangkat kepalan tangan kanan ke atas, sehingga tangan gemuk penuh lemak itu terlihat jelas. Laksana palu gada, yang jika dilayangkan ke arah seseorang akan mampu membuat orang tersebut tumbang seketika. Si pria kelinci tentu saja semakin gemetar ketakutan. Ia bahkan tanpa sadar melangkah mundur selangkah. Ia bahkan menelan ludah susah payah, dan belum sempat benar-benar menghindar atau kembali bertanya, sebuah bogem mentah penuh kekuatan justru mendarat di wajahnya, membuatnya jatuh terpelanting ke belakang sejauh 2 meter, dengan pipi kanan membengkak sebesar telur angsa, juga gigi depan rontok 3 bilah. Bahkan meja makan yang terbuat dari kayu berbahan tebal yang Ivander tubruk, seketika terbelah menjadi 2. Sementara itu, si pelaku sendiri justru meniup kepalan tangannya, seolah-olah benda tersebut adalah sebuah pistol. "Tapi, panggil aku Yang Mulia Putri Mahkota." Ia lantas berbalik, merasa senang dengan apa yang ia lakukan sambil menepuk kedua tangannya, layaknya menghilangkan debu dan kotoran yang menempel di sana. Elloist lantas kembali memindai sekitar tatkala mencium aroma busuk yang sangat menyengat. Hidungnya mengendus, berusaha mencari tahu darimana bau busuk itu berasal. "Kok bau busuk, ya? Apa ada bangkai di sini?" gumamnya heran sambil berjalan ke arah cermin besar yang ada di pojok ruangan, dekat jendela besar yang mengarah pada taman bunga mawar kesayangan mendiang ibunya. Entah kenapa dirinya merasa harus mendekati benda tersebut. "Ish! Kesal sekali rasanya! Kenapa aku bisa menyukai pria sejelek itu, ya? Arghhh! Sepertinya aku kena jampi-jampi!" gerutunya saat teringat perbedaan jauh antara para suaminya dengan Ivander. Kakinya terus melangkah ke arah cermin. Elloist bahkan tidak perduli dengan Ivander yang tergeletak mengenaskan di sana dengan seluruh bola mata terbalik, menampilkan bagian putih saja, serta mulut menganga dengan jejak darah masih menetes dari celah bibir. Namun, saat dirinya tiba di depan cermin, ia justru mematung, tidak mampu lagi bergerak. Perlahan wajah Elloist memucat, menatap ngeri bayangan yang terpantul dari sana, wajah super gemuk seperti babi celeng dengan rambut awut-awutan yang hanya memakai pakaian dalam berwarna merah menyala, layaknya badut tidak laku. Dan tak lama berselang, suara teriakan penuh histeria lolos dari mulutnya, "Arghhh! Hantu!" Suara yang berhasil membuat tempat tersebut seperti sedang mengalami gempa lokal, hingga membuat semua penjaga yang berjaga di luar terjatuh ke lantai secara bersamaan. Disusul suara bersahut-sahutan, "Ada gempa! Ada gempa! Lari! Selamatkan diri!""Bagaimana keadaannya?" tanya Elloist sambil menatap cemas pada Tabib Anand yang kini tengah berbaring di ranjang, sedang diobati seorang Tetua kepercayaannya. Mereka sedang berada di dalam kamar Elloist. Gadis itu terus meremas kedua tangannya bergantian guna menyalurkan semua rasa cemas yang ada. Ia bahkan tidak memperdulikan penampilannya yang masih mengenakan pakaian yang sama. Sementara itu, Sang Tetua yang baru saja selesai menyalurkan energi penyembuhan pada sang tabib, lantas menurunkan kedua tangannya, lalu bangkit berdiri, dan bergerak menghadap ke arah Elloist. Ia sedikit membungkuk hormat sebelum menjawab, "Yang Mulia, luka Tabib Anand sangatlah parah. Hanya kekuatan spritual tingkat SSS yang bisa menyembuhkannya seutuhnya. Sementara Hamba—" Sang Tetua menggeleng lemah sembari men
'Apa aku benar-benar tidak bisa menyelamatkan suamiku sendiri?' Elloist semakin frustrasi. Ia tanpa ssadar mengacak-acak rambutnya. Sementara itu, Nyonya Celeste justru berjalan ke arah Tabib Anand, meraih ujung rantai yang terhubung pada lehernya, lalu menariknya sedikit kuat hingga pria itu terdorong ke depan, menimbulkan bunyi gedebuk nyaring. Hal itu membuat Elloist terkejut dan bergegas mengalihkan perhatiannya. "Jangan sakiti Dia!" pekik Elloist marah. Telunjuk kanannya teracung ke depan, memperingati. Akan tetapi, bukannya takut, Nyonya Celeste justru tertawa terbahak-bahak hingga kepalanya mendongak ke atas memperlihatkan dagu runcing miliknya. Lalu, kembali menatap ke arah Elloist sambil mengubah mimik wajah menjadi datar. "Bagaimana jika Hamba menolak, Yang Mulia?" ejeknya sambil menarik rantai hingga membuat Tabib Anand mengerang kesakitan. Sayangnya, suara yang keluar justru seperti suara seseorang tengah dicekik hingga membuat Elloist semakin menggeram
Nyonya Celeste terpana sebentar, sebelum menyunggingkan senyum culas. "Well! Well! Well! Aku pikir siapa yang datang mengganggu—" Ia perlahan menoleh ke samping, membuat seorang pelayan wanita mendekat dan memberikan sebuah sapu tangan. "Ternyata sang putri buangan," hinanya pedas. Nyonya Celeste menerima benda tersebut dan melilitkan nya pada tangannya yang terluka. Darah seketika berhenti. Elloist merasa geram, harga dirinya kini dipertaruhkan. "Tutup mulutmu!" Bukannya gentar, Nyonya Celeste justru menyeringai. "Benar, bukan, yang Hamba katakan, Yang Mulia?" ujarnya berpura-pura hormat. Namun, sebenarnya memberikan hinaan terselubung. Ia lantas menoleh ke arah sang pelayan yang bergegas memberikan kipas tangan miliknya. Nyonya Celeste menerimanya, membuka benda tersebut hingga seluruh bagian terlihat, memperlihatkan kain putih bermotif bunga plum merah, lalu mengipasi wajahnya seolah-olah tengah mengusir sesuatu atau menghina seseorang. Elloist mengeratka
"Apa?!" pekik Elloist keras. "Benar, Yang Mulia," sahut pengawal itu terbata-bata sambil menatap ke arah Elloist dengan sorot takut. Ia bahkan berusaha keras menahan tangis. Bagaimanapun juga ia merasa berhutang budi pada sang tabib yang telah menyelamatkan nyawa putrinya di masa lalu. "Kok bisa?" tanya Elloist dengan bibir bergetar, tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Matanya bergerak liar, berusaha mengingat alasan kenapa hal ini bisa terjadi, dan tatkala ia teringat penyebab kenapa sang suami berada di sana, yang tak lain dan tak bukan adalah ulah sang pemilik tubuh asli yang menjual pria itu berkat hasutan dari Ivander, dirinya tercekat dengan mata terbelalak lebar. Elloist bergegas kembali menatap sang pengawal dengan sorot tajam, membuat pria itu semakin gemetar. Elloist memang betina level terendah, tapi kekuatan yang mendukung semua tingkahnya adalah level tertinggi sehingga tidak ada yang berani melawannya. "Pengawal! Segera siapkan kereta kuda milikku! E
Elloist menangis tersedu-sedu. Penampakan yang ia pikir sebelumnya adalah hantu, ternyata wajahnya sendiri. Bertepatan dengan itu, Momo kembali muncul, terbang berputar-putar mengelilingi kepala Elloist hingga debu perak sekilas terlihat berterbangan mengikutinya. [Tuan rumah jangan bersedih! Ini semua efek dari racun yang selama ini Tuan rumah minum.] Elloist pun menghentikan tangisnya, terkejut mendengar info barusan. Meskipun penampakannya kini terlihat begitu mengenaskan dengan lelehan ingus di hidungnya yang memerah, juga mata yang sembab. "Apa maksudmu?" Momo bergegas terbang ke arah depan, berhenti dan berbalik cepat dengan jarak sejengkal tangan. [Tuan rumah diracuni oleh Ivander melalui semua makanan dan minuman yang Tuan rumah konsumsi setiap hari dan itu atas suruhan Putri Ariesta.] Elloist terperanjat. Ia lantas teringat kembali akhir kisah dari drama KARMA SANG PUTRI JAHAT, yang bakal mati di tangan pria yang ia cinta karena membuang para suaminya yang se
Elloist Ellianore, putri tunggal dari Raja Edward Ellianore, adalah sosok betina bangsawan di kerajaan antar binatang di planet Moon. Planet Moon adalah sebuah planet binatang, di mana semua wanita memiliki kedudukan yang tinggi karena dianggap sebagai jelmaan para Dewi karena memiliki kekuatan mental untuk menenangkan para jantan pria yang mengamuk kala musim kawin tiba. Para betina bahkan bisa memiliki suami lebih dari satu, tergantung seberapa besar kekuatan mental yang mereka miliki. Elloist yang hanya tingkat F, tingkat terendah dari semua tingkatan, justru berhasil mengikat 4 orang pejantan tangguh yang berasal dari keluarga-keluarga hebat di kerajaan. Itu semua hanya karena dirinya adalah seorang putri mahkota, sehingga berhasil memiliki 4 suami hasil paksa. Elloist bahkan tidak segan-segan membunuh pesaingnya dan menyiksa para suami binatangnya, jika mereka tidak menurut.Bahkan beberapa hari yang lalu, Elloist berusaha meracuni Pangeran Alexander dengan ramuan pera
"Ugh ... sakit sekali kepalaku." Sambil memegangi kepalanya yang terus berdenyut, Ellyn membuka matanya perlahan. Tadi, karena terlalu kesal melihat Putri Elloist, tokoh protagonis di drama yang ia tonton, mati begitu saja di tangan pangeran Ivander karena kebodohannya sendiri, Ellyn melempar gel







