FAZER LOGIN'Apa aku benar-benar tidak bisa menyelamatkan suamiku sendiri?'
Elloist semakin frustrasi. Ia tanpa ssadar mengacak-acak rambutnya. Sementara itu, Nyonya Celeste justru berjalan ke arah Tabib Anand, meraih ujung rantai yang terhubung pada lehernya, lalu menariknya sedikit kuat hingga pria itu terdorong ke depan, menimbulkan bunyi gedebuk nyaring. Hal itu membuat Elloist terkejut dan bergegas mengalihkan perhatiannya. "Jangan sakiti Dia!" pekik Elloist marah. Telunjuk kanannya teracung ke depan, memperingati. Akan tetapi, bukannya takut, Nyonya Celeste justru tertawa terbahak-bahak hingga kepalanya mendongak ke atas memperlihatkan dagu runcing miliknya. Lalu, kembali menatap ke arah Elloist sambil mengubah mimik wajah menjadi datar. "Bagaimana jika Hamba menolak, Yang Mulia?" ejeknya sambil menarik rantai hingga membuat Tabib Anand mengerang kesakitan. Sayangnya, suara yang keluar justru seperti suara seseorang tengah dicekik hingga membuat Elloist semakin menggeram marah. Dada Elloist terlihat naik turun seiring kemarahan semakin berkobar. "Berani-beraninya kamu!" Ia bahkan mengulurkan kedua tangan, bersiap-siap dan mengambil ancang-ancang hendak mengeluarkan kekuatan. "Arghhh!" teriak Elloist dengan keras, fokus mengeluarkan kekuatan yang ia miliki. Tampak cahaya kuning keemasan mengelilingi tubuh Elloist, hingga membuat mata Nyonya Celeste terbelalak dan tanpa sadar melepaskan pegangan pada rantai. "A-apa?! T-tidak mungkin?" Ia bahkan tergerak mundur selangkah. Tepat ketika Elloist kembali berteriak, Nyonya Celeste bergegas memekik keras sambil memalingkan badan dan memejamkan mata juga lengan kanan terangkat berusaha menutupi wajah. "Arghhh!" 'Aku tidak mau mati!' Akan tetapi, sesuatu hal mengerikan yang sudah terbayang di benak Nyonya Celeste justru tidak terjadi. Ia lantas berbalik, bersamaan dengan suara derap langkah kaki menjauh. Matanya terbelalak lebar, kala melihat Elloist tengah berlari sambil menggendong Tabib Anand yang tampak tidak sadarkan diri di punggungnya. Ia benar-benar terkejut dan begitu rasa terkejutnya hilang, wanita itu lantas berteriak kencang, penuh amarah karena merasa dipermainkan, "Kurang ajar! Pengawal, tangkap kedua orang itu dan bawa ke hadapanku sekarang juga!" "Baik, Nyonya!" sahut semua pengawal miliknya serentak sambil mengangguk hormat. Lalu, bergegas berlari mengejar sang buronan yang hampir mencapai pintu keluar. Sadar jika dirinya dikejar, di tengah napas yang terengah-engah dan keringat mengucur deras, Elloist yang kelelahan akibat berlari menaiki tangga sambil membawa beban berat. Namun, masih mempunyai tekad kuat, lantas berujar, "Sistem, tukar paket bertahan hidup milikku sekarang juga!" Ting! Momo pun muncul sambil terbang menyusul sang majikan. [Baik, Tuan Tumah! Paket pemula bertahan hidup, ditukar!] Tepat setelah Momo berujar, sebuah portal tiba-tiba muncul di depan Elloist, terbuka lebar bak lubang hitam. [Berhasil! Silakan Tuan Rumah menggunakannya!] Elloist yakin inilah yang dimaksud, lantas mengangguk kuat dan bergegas meningkatkan kekuatan larinya sembari berteriak kencang penuh semangat memasuki portal tersebut. Bertepatan dengan itu, para pengawal yang kini sudah mencapai anak tangga teratas, ikut berteriak kencang, berniat mencegah, "Hey! Berhenti! Jangan lari!" Tangan salah satu pengawal yang berada di posisi paling depan, bahkan berusaha meraih rambut panjang Tabib Anand. Namun, hampir saja ia berhasil meraihnya, Elloist sudah berhasil masuk ke dalam portal, bertepatan dengan portal tersebut lenyap tak berbekas. Para pengawal yang mengejar, bahkan tidak mampu menahan laju kaki, sehingga mereka pun menubruk tembok, membuat mereka semua jatuh bertumpuk tumpuk, diikuti erang kesakitan yang saling bersahut-sahutan. "Hah! Ke mana mereka pergi?" Nyonya Celeste yang baru tiba terkejut. Ia lantas mengedarkan pandangan. Namun, tidak ditemukan jejak Elloist dan juga Tabib Anand. Wanita itu perlahan menaiki tangga sambil mengangkat sedikit roknya agar tidak terinjak. Tepat ketika dirinya tiba di undakan teratas justru dibuat semakin terkejut kala mendapati semua pengawalnya dalam posisi mengerikan. "Apa yang kalian lakukan?! Di mana mereka berdua?! Kenapa kalian malah seperti itu?!" Suaranya terdengar menggelegar. Salah satu pengawal perlahan mengangkat tangan kanan ke atas. Sekujur tubuhnya terlihat bergetar dan ia bahkan tidak mampu bergerak keluar dari tumpukan tubuh teman-temannya. Namun, meskipun demikian, pria itu tetap berusaha menjawab, "A-ampun, Nyonya. M-mereka berhasil melarikan diri." Tepat ketika dirinya selesai berujar, ia kembali jatuh lunglai, tidak sadarkan diri. Mendengar hal itu, mata Nyonya Celeste membeliak lebar. Sebuah teriakan murka bahkan lolos dari mulutnya, "Putri Elloist! Awas Kamu, ya! Hal ini pasti akan aku adukan pada Putri Ariesta!" Sementara itu, di balik salah satu pilar, seorang pria yang sejak tadi menyaksikan, justru menarik sudut bibir kanannya sedikit ke atas. "Tuan Putri, sepertinya kamu sudah benar-benar berubah," gumamnya kecil. Kemudian berbalik sembari bersiul, membuat Black mengikik keras, menyadari itu adalah kode milik sang majikan, dan tepat ketika Pangeran Alexander menghilang, kuda itu pun ikut berlari menjauh, menyusulnya.'Benar! Kenapa Dia harus membantuku?' batin Elloist ikut mengiyakan. Gadis itu lantas menatap ke kiri dan ke kanan, berpikir keras, dan saat sebuah ide tiba-tiba muncul di permukaan, membuat wajah Elloist sumringah dengan mata berbinar-binar. "Aku akan memutuskan kontrak denganmu, asalkan kamu bersedia memberikan Bunga Mawar Berapi padaku!" Mata Elloist kini menatap Pangeran Alexander penuh tekad, membuat pria itu menarik ujung bibir kanannya sedikit. Sangat tipis, nyaris tak terlihat. "Bukankah itu yang selama ini kamu inginkan?!" ujarnya lagi dengan dagu sedikit terangkat, berusaha memanipulasi dan mengintimidasi. Pangeran Alexander terdiam. Namun, sorot matanya justru mengatakan sebaliknya. 'Tidak biasanya Dia menawarkan pemutusan hubungan kontrak?' batin Pangeran Alexander heran, keningnya s
Sementara itu, di koridor. Ting! Momo tiba-tiba muncul, membuat Elloist menoleh, menatapnya heran karena tidak merasa memanggil. Namun, belum sempat gadis itu bertanya, Momo telah lebih dulu bersuara, [Selamat Tuan Rumah! Tingkat kebencian Tabib Anand telah menurun drastis, dari -50% menjadi -0% dan tingkat rasa sukanya sekarang 5%!] "Hah! Kok bisa? Aku 'kan belum melakukan apa-apa?" tanya Elloist heran, kembali menatap ke arah depan dan meneruskan perjalanan. Momo melayang mendekat, melewati Elloist, lalu berhenti tepat di depan gadis itu, membuatnya ikut berhenti dan menatap sang peri sistem dengan kening berkerut. [Oh, soal itu, Tuan Rumah tidak perlu risau!] "Maksudnya? Aku tidak mengerti!" Elloist menuntut jawaban. [Bukan apa-apa, Tuan Rumah!] sahut Momo sambil mengeluarkan cengiran lebar. "Dasar sistem aneh!" gerutu Elloist, kembali meneruskan langkah. Wajahnya sedikit cemberu
"Bagaimana keadaannya?" tanya Elloist sambil menatap cemas pada Tabib Anand yang kini tengah berbaring di ranjang, sedang diobati seorang Tetua kepercayaannya. Mereka sedang berada di dalam kamar Elloist. Gadis itu terus meremas kedua tangannya bergantian guna menyalurkan semua rasa cemas yang ada. Ia bahkan tidak memperdulikan penampilannya yang masih mengenakan pakaian yang sama. Sementara itu, Sang Tetua yang baru saja selesai menyalurkan energi penyembuhan pada sang tabib, lantas menurunkan kedua tangannya, lalu bangkit berdiri, dan bergerak menghadap ke arah Elloist. Ia sedikit membungkuk hormat sebelum menjawab, "Yang Mulia, luka Tabib Anand sangatlah parah. Hanya kekuatan spritual tingkat SSS yang bisa menyembuhkannya seutuhnya. Sementara Hamba—" Sang Tetua menggeleng lemah sembari menundukkan kepala, merasa tidak berguna dan tidak berdaya. Wajahnya terlihat sedih, terlebih Tabib Anand adalah salah satu dari Serikat Tetua Penyembuh sekaligus Murid kesayangannya.
'Apa aku benar-benar tidak bisa menyelamatkan suamiku sendiri?' Elloist semakin frustrasi. Ia tanpa ssadar mengacak-acak rambutnya. Sementara itu, Nyonya Celeste justru berjalan ke arah Tabib Anand, meraih ujung rantai yang terhubung pada lehernya, lalu menariknya sedikit kuat hingga pria itu terdorong ke depan, menimbulkan bunyi gedebuk nyaring. Hal itu membuat Elloist terkejut dan bergegas mengalihkan perhatiannya. "Jangan sakiti Dia!" pekik Elloist marah. Telunjuk kanannya teracung ke depan, memperingati. Akan tetapi, bukannya takut, Nyonya Celeste justru tertawa terbahak-bahak hingga kepalanya mendongak ke atas memperlihatkan dagu runcing miliknya. Lalu, kembali menatap ke arah Elloist sambil mengubah mimik wajah menjadi datar. "Bagaimana jika Hamba menolak, Yang Mulia?" ejeknya sambil menarik rantai hingga membuat Tabib Anand mengerang kesakitan. Sayangnya, suara yang keluar justru seperti suara seseorang tengah dicekik hingga membuat Elloist semakin menggeram
Nyonya Celeste terpana sebentar, sebelum menyunggingkan senyum culas. "Well! Well! Well! Aku pikir siapa yang datang mengganggu—" Ia perlahan menoleh ke samping, membuat seorang pelayan wanita mendekat dan memberikan sebuah sapu tangan. "Ternyata sang putri buangan," hinanya pedas. Nyonya Celeste menerima benda tersebut dan melilitkan nya pada tangannya yang terluka. Darah seketika berhenti. Elloist merasa geram, harga dirinya kini dipertaruhkan. "Tutup mulutmu!" Bukannya gentar, Nyonya Celeste justru menyeringai. "Benar, bukan, yang Hamba katakan, Yang Mulia?" ujarnya berpura-pura hormat. Namun, sebenarnya memberikan hinaan terselubung. Ia lantas menoleh ke arah sang pelayan yang bergegas memberikan kipas tangan miliknya. Nyonya Celeste menerimanya, membuka benda tersebut hingga seluruh bagian terlihat, memperlihatkan kain putih bermotif bunga plum merah, lalu mengipasi wajahnya seolah-olah tengah mengusir sesuatu atau menghina seseorang. Elloist mengeratka
"Apa?!" pekik Elloist keras. "Benar, Yang Mulia," sahut pengawal itu terbata-bata sambil menatap ke arah Elloist dengan sorot takut. Ia bahkan berusaha keras menahan tangis. Bagaimanapun juga ia merasa berhutang budi pada sang tabib yang telah menyelamatkan nyawa putrinya di masa lalu. "Kok bisa?" tanya Elloist dengan bibir bergetar, tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Matanya bergerak liar, berusaha mengingat alasan kenapa hal ini bisa terjadi, dan tatkala ia teringat penyebab kenapa sang suami berada di sana, yang tak lain dan tak bukan adalah ulah sang pemilik tubuh asli yang menjual pria itu berkat hasutan dari Ivander, dirinya tercekat dengan mata terbelalak lebar. Elloist bergegas kembali menatap sang pengawal dengan sorot tajam, membuat pria itu semakin gemetar. Elloist memang betina level terendah, tapi kekuatan yang mendukung semua tingkahnya adalah level tertinggi sehingga tidak ada yang berani melawannya. "Pengawal! Segera siapkan kereta kuda milikku! E
Elloist menangis tersedu-sedu. Penampakan yang ia pikir sebelumnya adalah hantu, ternyata wajahnya sendiri. Bertepatan dengan itu, Momo kembali muncul, terbang berputar-putar mengelilingi kepala Elloist hingga debu perak sekilas terlihat berterbangan mengikutinya. [Tuan rumah jangan bersedih!
Elloist Ellianore, putri tunggal dari Raja Edward Ellianore, adalah sosok betina bangsawan di kerajaan antar binatang di planet Moon. Planet Moon adalah sebuah planet binatang, di mana semua wanita memiliki kedudukan yang tinggi karena dianggap sebagai jelmaan para Dewi karena memiliki kekuatan me
"Ugh ... sakit sekali kepalaku." Sambil memegangi kepalanya yang terus berdenyut, Ellyn membuka matanya perlahan. Tadi, karena terlalu kesal melihat Putri Elloist, tokoh protagonis di drama yang ia tonton, mati begitu saja di tangan pangeran Ivander karena kebodohannya sendiri, Ellyn melempar gel







