Se connecterNyonya Celeste terpana sebentar, sebelum menyunggingkan senyum culas.
"Well! Well! Well! Aku pikir siapa yang datang mengganggu—" Ia perlahan menoleh ke samping, membuat seorang pelayan wanita mendekat dan memberikan sebuah sapu tangan. "Ternyata sang putri buangan," hinanya pedas. Nyonya Celeste menerima benda tersebut dan melilitkan nya pada tangannya yang terluka. Darah seketika berhenti. Elloist merasa geram, harga dirinya kini dipertaruhkan. "Tutup mulutmu!" Bukannya gentar, Nyonya Celeste justru menyeringai. "Benar, bukan, yang Hamba katakan, Yang Mulia?" ujarnya berpura-pura hormat. Namun, sebenarnya memberikan hinaan terselubung. Ia lantas menoleh ke arah sang pelayan yang bergegas memberikan kipas tangan miliknya. Nyonya Celeste menerimanya, membuka benda tersebut hingga seluruh bagian terlihat, memperlihatkan kain putih bermotif bunga plum merah, lalu mengipasi wajahnya seolah-olah tengah mengusir sesuatu atau menghina seseorang. Elloist mengeratkan genggaman tangan pada busur, menahan geram di hati. Ia sadar sindiran itu untuknya. "Sistem, apa ada yang bisa kulakukan untuk membungkam mulut beracunnya?" gumam Elloist dengan suara berdesis. Ting! Momo muncul, mengepakkan sayap mengelilingi kepala Elloist sebentar sebelum berhenti di depan wajahnya, membuat gadis itu mendongak. [Ada, Tuan Rumah!] Momo lantas berbalik, membelakangi Elloist, ia lalu mengeluarkan layar proyektor, memperlihatkan beberapa jenis item yang gadis itu cari. [Silakan dipilih, Tuan Rumah!] Momo kembali berbalik menghadap Elloist, ia sedikit menyingkir kala melihat gadis itu mendekat guna membaca item apa saja yang bisa ia gunakan untuk melaksanakan niatnya. Elloist terlihat fokus menatap layar. "Lem super lengket, 1.000 keping emas." Kening Elloist sedikit berkerut. "Gembok super, 1.250 keping emas." Kerutan di kening Elloist semakin bertambah. "Bulu tertawa, 2.000 keping emas." Bukan hanya kerutan, kini mata Elloist bahkan menyipit, meninggalkan tanda tanya besar di kepalanya. Elloist lantas berbalik, menghadap ke arah Momo dengan sorot menuntut penjelasan. "Benda aneh apa yang kamu jual?" Momo pun terbang mendekat, melayang-layang mengelilingi kepala Elloist. Bukannya merasa bersalah, Momo justru menyahut dengan sangat santai. [Oh, itu bukan barang aneh, Tuan Rumah. Sistem tidak pernah menjual barang aneh, jika Tuan Rumah ingin tahu] Elloist semakin menahan geram. "Jika itu bukan benda aneh, lantas apa fungsinya?" Momo mengangguk ringan, mengerti keinginan sang majikan. [Jika Tuan Rumah ingin tahu fungsinya? Tuan Rumah harus membelinya terlebih dahulu, baru sistem akan menjelaskan fungsinya] Rahang Elloist seketika runtuh, ia benar-benar tidak menyangka akan mendapatkan jawaban di luar nalar seperti itu. Otaknya serasa kusut, sementara Nyonya Celeste justru menatapnya heran kala melihat sang putri tengah asyik berbicara sendiri dan menjawab sendiri. Sementara itu, Tabib Anand justru menatap haru pada Elloist. "Apakah Dia benar-benar datang untuk menyelamatkanku?" batinnya sendu. Momo tersenyum lebar melihat ekspresi wajah Elloist. Ia sadar sebentar lagi gadis itu akan mengamuk. [Eitss! Tuan Rumah jangan marah dulu! Sistem benar-benar tidak berbohong, jika itu yang Tuan Rumah takutkan] Momo berkelit. Namun, tetap terlihat profesional. Elloist kesal. Ia merasa dipermainkan. Namun, mengajak sang peri tengil bertengkar di saat seperti ini, bukanlah pilihan terbaik. Elloist lantas menarik napas dalam-dalam sebelum menghembuskan nya dalam satu hembusan panjang, berharap kesal itu menghilang. "Baiklah! Berapa uang yang aku miliki sekarang?" tanyanya pasrah. Momo kembali mengeluarkan cengiran lebar. Ia lantas mengayunkan tongkat, hingga layar proyektor berbentuk celengan yang berukuran lebih kecil terlihat. Elloist semakin kebingungan. Sadar dipermainkan, Aura hitam pun mulai menguar dari balik punggung. Ia benar-benar berharap bisa menelan Momo hidup-hidup. "Ini apa maksudnya, Momo?" tanyanya kesal dengan suara dalam yang terdengar berat, menahan geram. Momo sadar jika candaannya salah tempat dan waktu, lantas semakin melebarkan senyum yang tampak jelas sengaja dibuat-buat. Sayangnya, jurus rayuan itu tidak mempan pada Elloist. Gadis itu justru kini menyipitkan mata, berharap tatapan matanya berubah menjadi laser agar bisa memotong sang sistem hidup-hidup. Glek! Wajah Momo pias seketika. Keringat dingin mengucur deras. [Eh, anu, Tuan Rumah! Momo baru ingat jika Tuan Rumah mendapatkan 3 kali kesempatan bertanya secara gratis.] Momo kembali mengeluarkan cengiran yang lebih tipis. Namun, kali ini terlihat sekali jika terpaksa. [Tuan Rumah mau mencoba?] Momo berusaha merayu. Elloist yang mendengar kata, 'gratis," lantas menghentikan kesinisan sorot matanya. Namun, menggantinya dengan tatapan penuh selidik, sambil menopang tangan di depan perut. Elloist menarik napas dalam-dalam sebelum menghembuskan nya dalam satu helaan panjang. Ia telah mengambil keputusan. "Sistem, tukar 1 kali kesempatan bertanya!" Momo melebarkan cengiran, merasa senang karena bujuk rayu nya berhasil. [Baik, Tuan Rumah! Apa yang ingin Tuan Rumah tanyakan?] "Berapa saldo yang kumiliki sekarang?" Momo mengangguk. Ia lantas terbang berputar sambil mengayunkan tongkat saktinya, membuat tabung kecil itu terbuka, memperlihatkan deretan kolom berisi angka sebanyak 20 buah yang terus bergerak dari angka 0 hingga 9, dan kembali lagi ke angka 0, hingga tak lama berselang hasil akhir pun muncul. Angka yang berhasil membuat wajah Elloist merah padam karena yang tertera di layar justru, "0 keping emas." Elloist menatap Momo tajam, menuntut penjelasan. "Ini maksudnya apa, hah?!" Momo menelan ludah gugup. Tatapan Elloist membuatnya sedikit bergidik ngeri. Wajahnya sedikit pias. [Anu, Tuan Rumah. Apa Tuan Rumah lupa, jika semua uang Tuan Rumah, sudah Tuan Rumah habiskan untuk membeli semua yang Ivander inginkan. Bahkan saldo terakhir Tuan Rumah digunakan untuk membeli rumah mewah pinggir pantai karena Ivander bilang ingin sekali melihat sunset dari balik jendela kamar] Momo sedikit mundur saat melihat wajah Elloist memucat dengan mata terbelalak, tampak begitu terkejut dengan fakta yang ia beberkan. [Jangan katakan jika Tuan Rumah lupa?] tebak Momo. Berbanding terbalik dengan Momo, Elloist justru semakin memucat saat menyadari kebenaran ucapan sang sistem. "Ya Tuhan, kebodohan apa saja yang sudah aku lakukan? Eh, bukan! Tapi, kebodohan apa saja yang sudah dilakukan oleh pemilik tubuh asli ini, sehingga seluruh harta kerajaan justru diberikan pada kelinci sialan itu?" Elloist tanpa sadar menggumam. Fakta ini benar-benar membuat Elloist merasa ingin tenggelam ke dasar bumi. Di tengah kekalutan yang ia rasakan, tiba-tiba suara tawa Nyonya Celeste terdengar nyaring, menyentak Elloist dari lamunan. "Apa yang kamu tertawakan?!" tanya Elloist kesal. "Jika tidak punya uang, sebaiknya Yang Mulia pulang saja. Bukankah masih ada Kelinci kesayangan Yang Mulia yang menunggu di istana—" Nyonya Celeste sengaja menjeda ucapannya sembari melangkah mendekat, lalu menghentikan langkah dengan jarak dua langkah sambil memindai Elloist dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan sorot meremehkan. Elloist merasa kesal ditatap sedemikian rupa. "Yang bersedia menghabiskan sisa harta kerajaan Yang Mulia miliki," sindir nya semakin pedas. Nyonya Celeste lantas berbalik, melanjutkan langkah ke arah Tabib Anand berada yang kini memberikan sorot sedih dan terluka pada Elloist, membuat gadis itu merasa sangat bersalah. 'Apa aku benar-benar tidak bisa menyelamatkan suamiku sendiri?' batin Elloist sedih.'Benar! Kenapa Dia harus membantuku?' batin Elloist ikut mengiyakan. Gadis itu lantas menatap ke kiri dan ke kanan, berpikir keras, dan saat sebuah ide tiba-tiba muncul di permukaan, membuat wajah Elloist sumringah dengan mata berbinar-binar. "Aku akan memutuskan kontrak denganmu, asalkan kamu bersedia memberikan Bunga Mawar Berapi padaku!" Mata Elloist kini menatap Pangeran Alexander penuh tekad, membuat pria itu menarik ujung bibir kanannya sedikit. Sangat tipis, nyaris tak terlihat. "Bukankah itu yang selama ini kamu inginkan?!" ujarnya lagi dengan dagu sedikit terangkat, berusaha memanipulasi dan mengintimidasi. Pangeran Alexander terdiam. Namun, sorot matanya justru mengatakan sebaliknya. 'Tidak biasanya Dia menawarkan pemutusan hubungan kontrak?' batin Pangeran Alexander heran, keningnya s
Sementara itu, di koridor. Ting! Momo tiba-tiba muncul, membuat Elloist menoleh, menatapnya heran karena tidak merasa memanggil. Namun, belum sempat gadis itu bertanya, Momo telah lebih dulu bersuara, [Selamat Tuan Rumah! Tingkat kebencian Tabib Anand telah menurun drastis, dari -50% menjadi -0% dan tingkat rasa sukanya sekarang 5%!] "Hah! Kok bisa? Aku 'kan belum melakukan apa-apa?" tanya Elloist heran, kembali menatap ke arah depan dan meneruskan perjalanan. Momo melayang mendekat, melewati Elloist, lalu berhenti tepat di depan gadis itu, membuatnya ikut berhenti dan menatap sang peri sistem dengan kening berkerut. [Oh, soal itu, Tuan Rumah tidak perlu risau!] "Maksudnya? Aku tidak mengerti!" Elloist menuntut jawaban. [Bukan apa-apa, Tuan Rumah!] sahut Momo sambil mengeluarkan cengiran lebar. "Dasar sistem aneh!" gerutu Elloist, kembali meneruskan langkah. Wajahnya sedikit cemberu
"Bagaimana keadaannya?" tanya Elloist sambil menatap cemas pada Tabib Anand yang kini tengah berbaring di ranjang, sedang diobati seorang Tetua kepercayaannya. Mereka sedang berada di dalam kamar Elloist. Gadis itu terus meremas kedua tangannya bergantian guna menyalurkan semua rasa cemas yang ada. Ia bahkan tidak memperdulikan penampilannya yang masih mengenakan pakaian yang sama. Sementara itu, Sang Tetua yang baru saja selesai menyalurkan energi penyembuhan pada sang tabib, lantas menurunkan kedua tangannya, lalu bangkit berdiri, dan bergerak menghadap ke arah Elloist. Ia sedikit membungkuk hormat sebelum menjawab, "Yang Mulia, luka Tabib Anand sangatlah parah. Hanya kekuatan spritual tingkat SSS yang bisa menyembuhkannya seutuhnya. Sementara Hamba—" Sang Tetua menggeleng lemah sembari menundukkan kepala, merasa tidak berguna dan tidak berdaya. Wajahnya terlihat sedih, terlebih Tabib Anand adalah salah satu dari Serikat Tetua Penyembuh sekaligus Murid kesayangannya.
'Apa aku benar-benar tidak bisa menyelamatkan suamiku sendiri?' Elloist semakin frustrasi. Ia tanpa ssadar mengacak-acak rambutnya. Sementara itu, Nyonya Celeste justru berjalan ke arah Tabib Anand, meraih ujung rantai yang terhubung pada lehernya, lalu menariknya sedikit kuat hingga pria itu terdorong ke depan, menimbulkan bunyi gedebuk nyaring. Hal itu membuat Elloist terkejut dan bergegas mengalihkan perhatiannya. "Jangan sakiti Dia!" pekik Elloist marah. Telunjuk kanannya teracung ke depan, memperingati. Akan tetapi, bukannya takut, Nyonya Celeste justru tertawa terbahak-bahak hingga kepalanya mendongak ke atas memperlihatkan dagu runcing miliknya. Lalu, kembali menatap ke arah Elloist sambil mengubah mimik wajah menjadi datar. "Bagaimana jika Hamba menolak, Yang Mulia?" ejeknya sambil menarik rantai hingga membuat Tabib Anand mengerang kesakitan. Sayangnya, suara yang keluar justru seperti suara seseorang tengah dicekik hingga membuat Elloist semakin menggeram
Nyonya Celeste terpana sebentar, sebelum menyunggingkan senyum culas. "Well! Well! Well! Aku pikir siapa yang datang mengganggu—" Ia perlahan menoleh ke samping, membuat seorang pelayan wanita mendekat dan memberikan sebuah sapu tangan. "Ternyata sang putri buangan," hinanya pedas. Nyonya Celeste menerima benda tersebut dan melilitkan nya pada tangannya yang terluka. Darah seketika berhenti. Elloist merasa geram, harga dirinya kini dipertaruhkan. "Tutup mulutmu!" Bukannya gentar, Nyonya Celeste justru menyeringai. "Benar, bukan, yang Hamba katakan, Yang Mulia?" ujarnya berpura-pura hormat. Namun, sebenarnya memberikan hinaan terselubung. Ia lantas menoleh ke arah sang pelayan yang bergegas memberikan kipas tangan miliknya. Nyonya Celeste menerimanya, membuka benda tersebut hingga seluruh bagian terlihat, memperlihatkan kain putih bermotif bunga plum merah, lalu mengipasi wajahnya seolah-olah tengah mengusir sesuatu atau menghina seseorang. Elloist mengeratka
"Apa?!" pekik Elloist keras. "Benar, Yang Mulia," sahut pengawal itu terbata-bata sambil menatap ke arah Elloist dengan sorot takut. Ia bahkan berusaha keras menahan tangis. Bagaimanapun juga ia merasa berhutang budi pada sang tabib yang telah menyelamatkan nyawa putrinya di masa lalu. "Kok bisa?" tanya Elloist dengan bibir bergetar, tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Matanya bergerak liar, berusaha mengingat alasan kenapa hal ini bisa terjadi, dan tatkala ia teringat penyebab kenapa sang suami berada di sana, yang tak lain dan tak bukan adalah ulah sang pemilik tubuh asli yang menjual pria itu berkat hasutan dari Ivander, dirinya tercekat dengan mata terbelalak lebar. Elloist bergegas kembali menatap sang pengawal dengan sorot tajam, membuat pria itu semakin gemetar. Elloist memang betina level terendah, tapi kekuatan yang mendukung semua tingkahnya adalah level tertinggi sehingga tidak ada yang berani melawannya. "Pengawal! Segera siapkan kereta kuda milikku! E
Elloist menangis tersedu-sedu. Penampakan yang ia pikir sebelumnya adalah hantu, ternyata wajahnya sendiri. Bertepatan dengan itu, Momo kembali muncul, terbang berputar-putar mengelilingi kepala Elloist hingga debu perak sekilas terlihat berterbangan mengikutinya. [Tuan rumah jangan bersedih!
Elloist Ellianore, putri tunggal dari Raja Edward Ellianore, adalah sosok betina bangsawan di kerajaan antar binatang di planet Moon. Planet Moon adalah sebuah planet binatang, di mana semua wanita memiliki kedudukan yang tinggi karena dianggap sebagai jelmaan para Dewi karena memiliki kekuatan me
"Ugh ... sakit sekali kepalaku." Sambil memegangi kepalanya yang terus berdenyut, Ellyn membuka matanya perlahan. Tadi, karena terlalu kesal melihat Putri Elloist, tokoh protagonis di drama yang ia tonton, mati begitu saja di tangan pangeran Ivander karena kebodohannya sendiri, Ellyn melempar gel







