Share

5

last update publish date: 2026-06-06 22:51:50

Nyonya Celeste terpana sebentar, sebelum menyunggingkan senyum culas.

"Well! Well! Well! Aku pikir siapa yang datang mengganggu—"

Ia perlahan menoleh ke samping, membuat seorang pelayan wanita mendekat dan memberikan sebuah sapu tangan.

"Ternyata sang putri buangan," hinanya pedas.

Nyonya Celeste menerima benda tersebut dan melilitkan nya pada tangannya yang terluka.

Darah seketika berhenti.

Elloist merasa geram, harga dirinya kini dipertaruhkan.

"Tutup mulutmu!"

Bukannya gentar, Nyonya Celeste justru menyeringai. "Benar, bukan, yang Hamba katakan, Yang Mulia?" ujarnya berpura-pura hormat. Namun, sebenarnya memberikan hinaan terselubung.

Ia lantas menoleh ke arah sang pelayan yang bergegas memberikan kipas tangan miliknya.

Nyonya Celeste menerimanya, membuka benda tersebut hingga seluruh bagian terlihat, memperlihatkan kain putih bermotif bunga plum merah, lalu mengipasi wajahnya seolah-olah tengah mengusir sesuatu atau menghina seseorang.

Elloist mengeratkan genggaman tangan pada busur, menahan geram di hati. Ia sadar sindiran itu untuknya.

"Sistem, apa ada yang bisa kulakukan untuk membungkam mulut beracunnya?" gumam Elloist dengan suara berdesis.

Ting!

Momo muncul, mengepakkan sayap mengelilingi kepala Elloist sebentar sebelum berhenti di depan wajahnya, membuat gadis itu mendongak.

[Ada, Tuan Rumah!]

Momo lantas berbalik, membelakangi Elloist, ia lalu mengeluarkan layar proyektor, memperlihatkan beberapa jenis item yang gadis itu cari.

[Silakan dipilih, Tuan Rumah!]

Momo kembali berbalik menghadap Elloist, ia sedikit menyingkir kala melihat gadis itu mendekat guna membaca item apa saja yang bisa ia gunakan untuk melaksanakan niatnya.

Elloist terlihat fokus menatap layar.

"Lem super lengket, 1.000 keping emas."

Kening Elloist sedikit berkerut.

"Gembok super, 1.250 keping emas."

Kerutan di kening Elloist semakin bertambah.

"Bulu tertawa, 2.000 keping emas."

Bukan hanya kerutan, kini mata Elloist bahkan menyipit, meninggalkan tanda tanya besar di kepalanya.

Elloist lantas berbalik, menghadap ke arah Momo dengan sorot menuntut penjelasan. "Benda aneh apa yang kamu jual?"

Momo pun terbang mendekat, melayang-layang mengelilingi kepala Elloist.

Bukannya merasa bersalah, Momo justru menyahut dengan sangat santai.

[Oh, itu bukan barang aneh, Tuan Rumah. Sistem tidak pernah menjual barang aneh, jika Tuan Rumah ingin tahu]

Elloist semakin menahan geram. "Jika itu bukan benda aneh, lantas apa fungsinya?"

Momo mengangguk ringan, mengerti keinginan sang majikan.

[Jika Tuan Rumah ingin tahu fungsinya? Tuan Rumah harus membelinya terlebih dahulu, baru sistem akan menjelaskan fungsinya]

Rahang Elloist seketika runtuh, ia benar-benar tidak menyangka akan mendapatkan jawaban di luar nalar seperti itu.

Otaknya serasa kusut, sementara Nyonya Celeste justru menatapnya heran kala melihat sang putri tengah asyik berbicara sendiri dan menjawab sendiri.

Sementara itu, Tabib Anand justru menatap haru pada Elloist.

"Apakah Dia benar-benar datang untuk menyelamatkanku?" batinnya sendu.

Momo tersenyum lebar melihat ekspresi wajah Elloist.

Ia sadar sebentar lagi gadis itu akan mengamuk.

[Eitss! Tuan Rumah jangan marah dulu! Sistem benar-benar tidak berbohong, jika itu yang Tuan Rumah takutkan]

Momo berkelit. Namun, tetap terlihat profesional.

Elloist kesal. Ia merasa dipermainkan. Namun, mengajak sang peri tengil bertengkar di saat seperti ini, bukanlah pilihan terbaik.

Elloist lantas menarik napas dalam-dalam sebelum menghembuskan nya dalam satu hembusan panjang, berharap kesal itu menghilang.

"Baiklah! Berapa uang yang aku miliki sekarang?" tanyanya pasrah.

Momo kembali mengeluarkan cengiran lebar. Ia lantas mengayunkan tongkat, hingga layar proyektor berbentuk celengan yang berukuran lebih kecil terlihat.

Elloist semakin kebingungan.

Sadar dipermainkan, Aura hitam pun mulai menguar dari balik punggung. Ia benar-benar berharap bisa menelan Momo hidup-hidup.

"Ini apa maksudnya, Momo?" tanyanya kesal dengan suara dalam yang terdengar berat, menahan geram.

Momo sadar jika candaannya salah tempat dan waktu, lantas semakin melebarkan senyum yang tampak jelas sengaja dibuat-buat.

Sayangnya, jurus rayuan itu tidak mempan pada Elloist. Gadis itu justru kini menyipitkan mata, berharap tatapan matanya berubah menjadi laser agar bisa memotong sang sistem hidup-hidup.

Glek!

Wajah Momo pias seketika.

Keringat dingin mengucur deras.

[Eh, anu, Tuan Rumah! Momo baru ingat jika Tuan Rumah mendapatkan 3 kali kesempatan bertanya secara gratis.]

Momo kembali mengeluarkan cengiran yang lebih tipis. Namun, kali ini terlihat sekali jika terpaksa.

[Tuan Rumah mau mencoba?] Momo berusaha merayu.

Elloist yang mendengar kata, 'gratis," lantas menghentikan kesinisan sorot matanya. Namun, menggantinya dengan tatapan penuh selidik, sambil menopang tangan di depan perut.

Elloist menarik napas dalam-dalam sebelum menghembuskan nya dalam satu helaan panjang.

Ia telah mengambil keputusan.

"Sistem, tukar 1 kali kesempatan bertanya!"

Momo melebarkan cengiran, merasa senang karena bujuk rayu nya berhasil.

[Baik, Tuan Rumah! Apa yang ingin Tuan Rumah tanyakan?]

"Berapa saldo yang kumiliki sekarang?"

Momo mengangguk. Ia lantas terbang berputar sambil mengayunkan tongkat saktinya, membuat tabung kecil itu terbuka, memperlihatkan deretan kolom berisi angka sebanyak 20 buah yang terus bergerak dari angka 0 hingga 9, dan kembali lagi ke angka 0, hingga tak lama berselang hasil akhir pun muncul.

Angka yang berhasil membuat wajah Elloist merah padam karena yang tertera di layar justru, "0 keping emas."

Elloist menatap Momo tajam, menuntut penjelasan.

"Ini maksudnya apa, hah?!"

Momo menelan ludah gugup. Tatapan Elloist membuatnya sedikit bergidik ngeri. Wajahnya sedikit pias.

[Anu, Tuan Rumah. Apa Tuan Rumah lupa, jika semua uang Tuan Rumah, sudah Tuan Rumah habiskan untuk membeli semua yang Ivander inginkan. Bahkan saldo terakhir Tuan Rumah digunakan untuk membeli rumah mewah pinggir pantai karena Ivander bilang ingin sekali melihat sunset dari balik jendela kamar]

Momo sedikit mundur saat melihat wajah Elloist memucat dengan mata terbelalak, tampak begitu terkejut dengan fakta yang ia beberkan.

[Jangan katakan jika Tuan Rumah lupa?] tebak Momo.

Berbanding terbalik dengan Momo, Elloist justru semakin memucat saat menyadari kebenaran ucapan sang sistem.

"Ya Tuhan, kebodohan apa saja yang sudah aku lakukan? Eh, bukan! Tapi, kebodohan apa saja yang sudah dilakukan oleh pemilik tubuh asli ini, sehingga seluruh harta kerajaan justru diberikan pada kelinci sialan itu?" Elloist tanpa sadar menggumam.

Fakta ini benar-benar membuat Elloist merasa ingin tenggelam ke dasar bumi.

Di tengah kekalutan yang ia rasakan, tiba-tiba suara tawa Nyonya Celeste terdengar nyaring, menyentak Elloist dari lamunan.

"Apa yang kamu tertawakan?!" tanya Elloist kesal.

"Jika tidak punya uang, sebaiknya Yang Mulia pulang saja. Bukankah masih ada Kelinci kesayangan Yang Mulia yang menunggu di istana—"

Nyonya Celeste sengaja menjeda ucapannya sembari melangkah mendekat, lalu menghentikan langkah dengan jarak dua langkah sambil memindai Elloist dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan sorot meremehkan.

Elloist merasa kesal ditatap sedemikian rupa.

"Yang bersedia menghabiskan sisa harta kerajaan Yang Mulia miliki," sindir nya semakin pedas.

Nyonya Celeste lantas berbalik, melanjutkan langkah ke arah Tabib Anand berada yang kini memberikan sorot sedih dan terluka pada Elloist, membuat gadis itu merasa sangat bersalah.

'Apa aku benar-benar tidak bisa menyelamatkan suamiku sendiri?' batin Elloist sedih.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (13)
goodnovel comment avatar
Muji Lestari
kira2 bisa selamat gak nih tabib anand
goodnovel comment avatar
Muji Lestari
tuan putri bener2 terpedaya ivander sampai gak punya uang sedikitpun untuk menuruti ivander
goodnovel comment avatar
eany ajjach
bod0hnya kebangetan sih pemilik tubuh asli
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • (Bukan) Putri Buruk Rupa Menaklukkan 4 Suami Penguasa   92

    Lorong batu yang gelap dan sempit itu seolah menelan Tabib Anand hidup-hidup. Bau anyir darah, lumut busuk, dan miasma ketiadaan menyumbat paru-parunya pada setiap tarikan napas.Di belakangnya, gema ledakan api hitam Pangeran Alexander dan raungan beringas Jenderal Marcus terdengar semakin samar, teredam oleh ketebalan dinding labirin yang terus bergeser secara mekanis.Rasa bersalah yang luar biasa masif mencengkeram dada Anand. Meninggalkan dua panglima perang yang tengah mempertaruhkan nyawa untuk menjadi perisai daging baginya adalah sebuah pengkhianatan terhadap solidaritas mereka.Logikanya berteriak menyuruhnya kembali, merapal perisai, dan bertarung hingga tetes darah terakhir. Namun, langkah kakinya justru terus bergerak maju, mengikuti pendaran cahaya biru pucat dari arwah Rion yang melayang beberapa jengkal di depannya.Anand sendiri tidak mengerti mengapa ia bersedia mengikuti roh anak kecil ini. Mungkin karena instingnya se

  • (Bukan) Putri Buruk Rupa Menaklukkan 4 Suami Penguasa   91

    Hembusan angin beracun yang menyapu ruang bundar di pusat labirin itu seketika menjelma menjadi arena pembantaian yang memekakkan telinga.Deklarasi perang dari Pangeran Alexander dan Jenderal Marcus tidak sekadar menjadi ancaman kosong.Kedua panglima perang terkuat Kerajaan Moon itu melesat maju secara bersamaan, membelah udara mematikan dengan kecepatan yang melampaui kedipan mata."Mati kau, Tulang Rongsokan!" raung Marcus beringas. Sang Leopard Buas melompat tinggi ke udara, menukik tajam dengan ayunan cakar zamrud yang memancarkan aura pemotong baja.Di saat yang sama, Alexander meluncur dari arah bawah. Pedang obsidiannya yang berkobar oleh api naga hitam pekat menyapu lantai, menciptakan gelombang sabit api yang siap membelah wujud arwah raksasa itu menjadi dua bagian.Serangan kombinasi dari udara dan darat itu sangat sempurna, sebuah manuver mematikan yang biasanya sanggup meruntuhkan satu batalion pasukan elit hanya d

  • (Bukan) Putri Buruk Rupa Menaklukkan 4 Suami Penguasa   90

    Guncangan hebat yang merobek fondasi kuil bawah tanah itu terasa seolah bumi tengah memuntahkan isi perutnya.Rune-rune kuno yang terukir di lantai batu kini menyala dengan warna merah darah yang menyilaukan, memancarkan hawa panas yang membakar oksigen.Di tengah kekacauan tersebut, kantung sutra berisi Bulu Emas Phoenix, kunci satu-satunya untuk menyelamatkan Elloist, kembali terlempar jauh, berguling menembus celah lantai yang retak dan menghilang dari pandangan."TIDAK! BULU ITU!" jerit Tabib Anand histeris, berusaha menerjang maju.Namun, sebelum Anand sanggup mengambil satu langkah pun, sebuah ledakan miasma yang luar biasa pekat meledak tepat dari pusat ruangan.Asap hitam pekat itu berputar layaknya angin tornado, menelan arwah Rion yang tengah menjerit kesakitan akibat rantai kutukan yang menarik dadanya ke udara.Suhu di dalam ruang bundar itu anjlok drastis hingga melampaui titik beku. Pangeran Alexander dan

  • (Bukan) Putri Buruk Rupa Menaklukkan 4 Suami Penguasa   89

    "Ariesta ...."Nama itu meluncur dari celah bibir Pangeran Alexander, sarat akan bisa mematikan yang siap menghanguskan apapun.Api naga hitam yang sebelumnya sempat meredup kini kembali meledak beringas, membakar udara pengap di dalam ruang bundar tersebut.Fakta bahwa wanita bersuku ular itu adalah dalang di balik semua kekejian ini sukses menguapkan sisa-sisa ketakutan irasional Sang Jenderal Naga.Di sebelah Alexander, Jenderal Marcus tak lagi bersembunyi.Sang Leopard Buas melangkah maju dengan dada membusung.Taringnya terekspos dalam geraman rendah yang menggetarkan lantai batu.Urat-urat hijau di pelipisnya menonjol, memancarkan kemurkaannya."Ular betina keparat!" raung Marcus, mengepalkan kedua tangannya hingga terdengar bunyi gemeretak tulang."Dia tidak hanya memfitnah Elloist di pengadilan, tapi dia juga menciptakan labirin neraka ini dengan menumbalkan nyawa anak-anak tak berdosa

  • (Bukan) Putri Buruk Rupa Menaklukkan 4 Suami Penguasa   88

    Kenyataan mematikan yang baru saja dilontarkan oleh Tabib Anand sukses membekukan udara. Hawa dingin yang berembus dari lorong-lorong labirin kini terasa seribu kali lebih menusuk tulang, membawa aroma kematian yang begitu pekat dan menyesakkan.Pangeran Alexander dan Jenderal Marcus berdiri mematung. Otak kedua panglima perang terkuat di Kerajaan Moon itu seakan dipaksa berhenti beroperasi. Jika mereka memaksakan diri membuka portal teleportasi menggunakan Bulu Emas Phoenix di tempat ini, jiwa Elloist akan terseret keluar dari dasar jurang, hanya untuk dikurung selamanya di dalam labirin kutukan ini.Mereka baru saja nyaris mengeksekusi istri mereka sendiri.Keheningan yang luar biasa mencekam itu hanya diisi oleh suara isak tangis arwah anak kecil bersuku kucing liar yang masih berlutut di atas lantai batu hitam.Pendaran biru pucat dari tubuh transparannya berkedip-kedip redup, sementara rantai astral berwarna ungu kehitaman

  • (Bukan) Putri Buruk Rupa Menaklukkan 4 Suami Penguasa   87

    Tangan Pangeran Alexander yang menembus dada transparan anak kecil itu masih menggantung kaku di udara.Udara di ruang bundar yang menjadi pusat labirin tersebut mendadak terasa seribu kali lebih membekukan daripada badai salju di puncak pegunungan tertinggi.Suara rintihan pilu sang arwah cilik yang bergema memantul di dinding-dinding batu hitam menciptakan melodi kematian yang membuat bulu kuduk berdiri serentak.Selama pengejaran gila-gilaan menembus desa kumuh dan lorong labirin yang dipenuhi jebakan maut, ketiga panglima perang itu benar-benar mengira mereka sedang memburu seorang pencuri kecil yang lincah.Fakta bahwa wujud anak bersuku kucing liar itu kini memudar, memancarkan pendaran biru pucat yang tembus pandang, menghantam akal sehat mereka dengan telak."A-apa-apaan ini?!" raung Jenderal Marcus, memecah keheningan mencekam dengan suara baritonnya yang menggelegar.Sang Leopard Buas mundur satu langkah, mata

  • (Bukan) Putri Buruk Rupa Menaklukkan 4 Suami Penguasa   3

    Elloist menangis tersedu-sedu. Penampakan yang ia pikir sebelumnya adalah hantu, ternyata wajahnya sendiri. Bertepatan dengan itu, Momo kembali muncul, terbang berputar-putar mengelilingi kepala Elloist hingga debu perak sekilas terlihat berterbangan mengikutinya. [Tuan rumah jangan bersedih!

  • (Bukan) Putri Buruk Rupa Menaklukkan 4 Suami Penguasa   2

    Elloist Ellianore, putri tunggal dari Raja Edward Ellianore, adalah sosok betina bangsawan di kerajaan antar binatang di planet Moon. Planet Moon adalah sebuah planet binatang, di mana semua wanita memiliki kedudukan yang tinggi karena dianggap sebagai jelmaan para Dewi karena memiliki kekuatan me

  • (Bukan) Putri Buruk Rupa Menaklukkan 4 Suami Penguasa   1

    "Ugh ... sakit sekali kepalaku." Sambil memegangi kepalanya yang terus berdenyut, Ellyn membuka matanya perlahan. Tadi, karena terlalu kesal melihat Putri Elloist, tokoh protagonis di drama yang ia tonton, mati begitu saja di tangan pangeran Ivander karena kebodohannya sendiri, Ellyn melempar gel

  • (Bukan) Putri Buruk Rupa Menaklukkan 4 Suami Penguasa   6

    'Apa aku benar-benar tidak bisa menyelamatkan suamiku sendiri?' Elloist semakin frustrasi. Ia tanpa ssadar mengacak-acak rambutnya. Sementara itu, Nyonya Celeste justru berjalan ke arah Tabib Anand, meraih ujung rantai yang terhubung pada lehernya, lalu menariknya sedikit kuat hingga pria itu t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status