LOGINAmira berusaha mempertahankan ekspresi tenangnya, meskipun jantungnya berdegup semakin tidak beraturan.
Wanita itu segera menyelipkan tangan kanannya ke belakang tubuh, menggenggam kancing kecil yang ditemukannya dengan begitu erat hingga ujung-ujung jarinya terasa sakit.
Benda kecil itu tidak boleh sampai terlihat oleh Maxime, setidaknya sebelum ia mengetahui apa sebenarnya yang sedang terjadi.
Maxime mengangkat sebelah alis. “Memastikan kamarku bersih?”
Amira mengangguk. “Ak–aku hanya kebetulan lewat.” Nada suara Amira mendadak sedikit naik.
“Lalu, kenapa kau masuk?”
Amira menghembuskan napas perlahan, berusaha mengusir kegugupan yang mulai merayapi dadanya. “Karena ada… milikku yang jatuh di kamarmu! Iya!”
Maxime bukan orang bodoh. Dari caranya memandang, Amira tahu bahwa pria itu sama sekali belum mempercayai alasannya.
“Apa kau sudah selesai melihat-lihat?” tanya Maxime.
“Sudah. Aku memang berniat keluar.”
“Kalau begitu, kenapa tidak keluar sekarang?”
Amira menahan napas sesaat, lalu mengangguk. “Baik. Aku permisi.”
Ia baru saja hendak melangkah ketika Maxime bergerak maju, membuat wanita itu spontan memundurkan kakinya.
Satu langkah.
Kemudian satu langkah lagi.
Hingga akhirnya punggung Amira membentur meja rias di belakangnya.
“Aw!”
Amira meringis kecil, sementara Maxime berhenti tepat di hadapannya.
Maxime masih bergeming, tatapannya saat ini benar-benar membuat jantung Amira sulit berdenyut.
Terlebih aroma parfum yang begitu khas kembali menusuk indera penciumannya. Hingga tanpa sadar, wanita itu meraih kersh jas Maxime, menyentuh bagian dadanya dan merasakan sesuatu yang pernah ia rasakan saat malam pertama dengan Arthur.
Maxime yang mendapat sentuhan tersebut, tiba-tiba memejamkan matanya. Jantungnya berdetak lebih kencang saat ini.
“Apa—”
“Jangan masuk tanpa izin, adik ipar.” Maxime tiba-tiba memotong kata-kata Amira. Matanya masih terpejam, sedangkan suaranya terdengar berat dan bergetar.
Mendengar hal itu, membuat Amira menarik tangannya.
Maxime mengangkat sebelah alis, seolah menikmati kegugupan yang berusaha disembunyikan Amira. Namun, ketika pria itu sedikit memiringkan kepala, pandangan wanita tersebut kembali tertuju pada bekas cakaran di lehernya.
Seketika, kegugupan itu bercampur dengan rasa curiga.
“Maxime ....” Amira berbisik, kali ini dengan tatapan lebih tajam. “Kenapa… lehermu terluka?”
Belum sempat Maxime menjawab, ketukan pintu yang cukup beruntun membuat keduanya saling melempar pandangan.
“Maxime? Kau di dalam?”
Suara ketukan pintu berserta panggilan suara Arthur bertindak bagai sambaran petir yang memutus tautan mereka.
Amira mendorong dada Maxime dengan panik, matanya membelalak lebar penuh horor. Jantungnya berdegup gila-gilaan, hampir melompat keluar dari rongga dadanya. Jika Arthur melihat mereka seperti ini, semuanya akan hancur.
Dengan napas memburu dan mata yang mulai berkaca-kaca, Amira menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, menatap Maxime dengan tatapan memohon yang amat sangat.
“Tolong ….” bisik Amira dengan suara hampir tak terdengar, bibirnya gemetar hebat. “Tolong sembunyikan aku … jangan katakan apa-apa padanya.”
Maxime menatap Amira sejenak.
Tanpa mengatakan apa pun, Maxime menangkap pergelangan tangan Amira dan menariknya menuju celah sempit di belakang daun pintu. Tubuh Amira nyaris kehilangan keseimbangan ketika punggungnya bertemu dinding.
Maxime berdiri tepat di hadapannya, menutupi tubuh Amira dengan bahunya yang lebar.
“Jangan bersuara,” bisiknya rendah.
Sebelum Amira sempat mengangguk, tangan Maxime sudah membekap mulutnya. Telapak tangannya terasa hangat, sementara ibu jarinya berada begitu dekat dengan sudut bibir Amira.
Maxime membuka pintu hanya selebar tubuhnya.
Arthur berdiri di luar dengan rahang mengeras. Pandangannya langsung berusaha menerobos melewati bahu sang kakak, tetapi Maxime tetap berada di ambang pintu dan menghalangi seluruh sisi kamar.
“Kau melihat Amira?” tanya Arthur langsung, matanya memicing mencoba menerobos masuk ke dalam kamar adiknya.
Maxime bersandar santai pada ambang pintu, menatap adiknya dengan ekspresi dingin dan datar yang sempurna, seolah baru saja tidak melakukan hal terlarang.
“Tidak,” jawab Maxime santai, menyilangkan kedua tangannya di dada. “Bukankah dia istrimu? Untuk apa kau mencarinya sampai ke kamarku?”
Pertanyaan tajam itu menampar Arthur tepat di wajahnya.
Jika Arthur mendorong pintu sedikit lebih lebar, daun pintu itu akan bergerak dan memperlihatkan keberadaannya.
Maxime merasakan perubahan napas Amira di bawah telapak tangannya. Tangan bebasnya terangkat, lalu bertumpu pada dinding di samping kepala Amira agar daun pintu tidak bergerak sedikitpun.
Arthur masih bergeming.
Rahangnya mengeras seketika, dan kedua tangannya terkepal sangat rapat di samping tubuh hingga buku-buku jarinya memutih.
“Aku hanya bertanya.”
“Dan aku sudah menjawab.” imbuh Maxime menaikkan alis.
Rasa curiga dan kekesalan menjalar tajam di matanya, “Ingat perjanjian kita.” ada jeda sebelum pria itu pergi.
“Kau tahu kenapa aku mengizinkanmu kembali ke rumah ini, Maxime.”
Cahaya matahari pagi menyelinap halus melalui celah tirai, jatuh tepat di atas kelopak mata Maxime yang masih terpejam. Pria itu mengernyit ketika rasa hangat yang menusuk mengusik tidurnya, lalu menggerakkan kepala dengan malas sebelum akhirnya kelopak matanya perlahan terbuka. “Aaarrgh …” Maxime mengerang pelan, suara seraknya memecah kesunyian kamar. Kepalanya terasa begitu berat seolah ada godam yang menghantam bagian dalam tengkoraknya tanpa ampun. “Di mana aku?” katanya sambil mencoba melihat sekeliling ruangan. Ia memejamkan mata kembali, berusaha meredakan pening yang makin menjadi-jadi saat memorinya dipaksa bekerja mengingat kejadian semalam. Perlahan, pria itu mengangkat tangan dan memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. “Brengsek …” decihnya rendah, napasnya tersengal menahan sakit. Ia baru sadar jika dirinya saat ini tengah berada di dalam kamar pribadinya sendiri. Tenggorokannya tarasa kering. Tubuhnya terasa remuk dan lemas, sementara memori tentang malam t
Maxime semakin menghimpit tubuh Amira hingga dada lebar pria itu menempel ketat pada bagian depan tubuhnya. Hawa panas yang memancar dari kulit Maxime menembus kain tipis lingerie Amira, membuat napas wanita itu tersengal. “Maxime, lepas! Sadar, Maxime!” seru Amira panik, kedua tangannya berusaha mendorong bahu kekar sang kakak ipar. “Kau mabuk berat! Ingat siapa aku!” Namun, Maxime seolah kehilangan pendengarannya. Matanya yang sayu dipenuhi kabut gairah membara. Pria itu menyusupkan jemarinya yang gemetar ke sela-sela rambut Amira, menariknya perlahan agar wajah wanita itu tetap menengadah ke hadapanya. “Panas ... tolong aku ....” bisik Maxime serak, suara beratnya bergetar tepat di depan bibir Amira. “Siapa pun kau ... bantu aku ....” Pria itu sama sekali tidak menyebut nama Amira, kesadarannya telah hilang sepenuhnya terkikis oleh racun obat perangsang. Tanpa membiarkan Amira membalas, Maxime mendaratkan ciuman liar di ceruk leher Amira. Tali lingerie yang longgar lu
“Keluarlah. Suamimu sudah pergi.”Maxime masih berdiri santai di ambang pintu, seolah tidak terjadi apa-apa. Tatapannya tetap tenang, tetapi nada suaranya cukup untuk membuat Amira tahu bahwa situasi di luar kamar telah benar-benar berubah.Amira perlahan keluar dari tempat persembunyiannya. Beberapa detik sebelumnya, pendengarannya sempat menangkap percakapan antara Arthur dan Maxime, bahkan ancaman yang dilontarkan suaminya kepada pria itu. Namun, semakin ia mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi, semakin banyak pertanyaan yang justru bermunculan di kepalanya.Begitu sampai di ambang pintu, Amira menghentikan langkah. Tatapannya langsung tertuju pada Maxime yang masih berdiri di hadapannya.“Apa sebenarnya yang kalian sembunyikan dariku?”Tatapan Amira tajam, penuh kecurigaan. Wanita itu berusaha mengembalikan sikapnya seperti semula. Namun, sorot matanya justru mengkhianati kegelisahan yang sejak tadi berusaha ia sembunyikan.Maxime membetulkan posisi berdirinya. Sebelum me
Amira berusaha mempertahankan ekspresi tenangnya, meskipun jantungnya berdegup semakin tidak beraturan. Wanita itu segera menyelipkan tangan kanannya ke belakang tubuh, menggenggam kancing kecil yang ditemukannya dengan begitu erat hingga ujung-ujung jarinya terasa sakit. Benda kecil itu tidak boleh sampai terlihat oleh Maxime, setidaknya sebelum ia mengetahui apa sebenarnya yang sedang terjadi.Maxime mengangkat sebelah alis. “Memastikan kamarku bersih?”Amira mengangguk. “Ak–aku hanya kebetulan lewat.” Nada suara Amira mendadak sedikit naik.“Lalu, kenapa kau masuk?”Amira menghembuskan napas perlahan, berusaha mengusir kegugupan yang mulai merayapi dadanya. “Karena ada… milikku yang jatuh di kamarmu! Iya!”Maxime bukan orang bodoh. Dari caranya memandang, Amira tahu bahwa pria itu sama sekali belum mempercayai alasannya.“Apa kau sudah selesai melihat-lihat?” tanya Maxime.“Sudah. Aku memang berniat keluar.”“Kalau begitu, kenapa tidak keluar sekarang?”Amira menahan napas sesaat
Amira sempat terdiam, tetapi hanya sesaat. Ia segera menyandarkan tubuhnya ke bahu kursi dan memberikan senyum kecil yang dibuat senatural mungkin, seolah pertanyaannya memang tidak memiliki maksud apa pun.“Aku hanya ingin tahu saja,” jawabnya ringan. “Karena aku juga baru tahu kalau Tuan Maxime pernah tinggal di sini. Jadi, aku penasaran kamar yang dulu ditempatinya seperti apa.”Kepala pelayan itu memperhatikan wajah Amira beberapa detik, seakan berusaha mencari sesuatu dari sorot matanya. Namun, Amira tetap mempertahankan ekspresi tenang, bahkan mengambil cangkir teh di hadapannya agar rasa gugup yang mulai merambat tidak terlihat.“Kamar Tuan Maxime ada di lantai dua, Nyonya. Lorong paling ujung, sebelah kiri.”Amira membeku. Bukankah kamar yang ditempatinya semalam juga berada di ujung lorong sebelah kiri?Jemarinya yang memegang cangkir teh perlahan menegang. Ia masih mengingat jelas jalan yang dilaluinya bersama pelayan setelah kembali dari pesta—menaiki tangga utama, melewati
“M–Maksudnya?” Amira diam-diam mencuri pandang. Maxime masih terlihat tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Pria itu bahkan tidak menunjukkan sedikit pun kegelisahan setelah melihat wajah Amira yang sejak tadi tampak penuh tanda tanya. Sebaliknya, Arthur justru terlihat terburu-buru menyelesaikan sarapannya. “Aku harus pergi,” katanya tiba-tiba sambil meletakkan sendok di atas piring. Amira mengangkat wajah. “Sekarang?” “Ya, aku harus pergi hari ini.” “Tapi kau baru saja—” “Urusan di perusahaan tidak bisa menunggu,” sela Arthur begitu cepat. "Kuharap kau mengerti dengan keadaan ini." Jawaban itu membuat Amira terdiam, hatinya mencelos. Lagi-lagi pekerjaan. Bahkan setelah malam pertama mereka, Arthur masih memilih pekerjaan daripada menghabiskan sedikit waktu bersamanya. Saat hening menyergap, Maxime tampak berdiri lebih dulu. “Aku akan mengantarkanmu ke depan.” Arthur hanya mengangguk tanpa menoleh. Kedua pria itu berjalan meninggalkan ruang makan tanpa menoleh l







