ログインSebelum Amira sempat mengangguk, tangan Maxime sudah membekap mulutnya. Telapak tangannya terasa hangat, sementara ibu jarinya berada begitu dekat dengan sudut bibir Amira.
Maxime membuka pintu hanya selebar tubuhnya. Arthur berdiri di luar dengan rahang mengeras. Pandangannya langsung berusaha menerobos melewati bahu sang kakak, tetapi Maxime tetap berada di ambang pintu dan menghalangi seluruh sisi kamar. “Kau melihat Amira?” tanya Arthur langsung, matanya memicing mencoba menerobos masuk ke dalam kamar adiknya. Maxime bersandar santai pada ambang pintu, menatap adiknya dengan ekspresi dingin dan datar yang sempurna, seolah baru saja tidak melakukan hal terlarang. “Tidak,” jawab Maxime santai, menyilangkan kedua tangannya di dada. “Bukankah dia istrimu? Untuk apa kau mencarinya sampai ke kamarku?” Pertanyaan tajam itu menampar Arthur tepat di wajahnya. Jika Arthur mendorong pintu sedikit lebih lebar, daun pintu itu akan bergerak dan memperlihatkan keberadaannya. Maxime merasakan perubahan napas Amira di bawah telapak tangannya. Tangan bebasnya terangkat, lalu bertumpu pada dinding di samping kepala Amira agar daun pintu tidak bergerak sedikitpun. Arthur masih bergeming. Rahangnya mengeras seketika, dan kedua tangannya terkepal sangat rapat di samping tubuh hingga buku-buku jarinya memutih. “Aku hanya bertanya.” “Dan aku sudah menjawab.” imbuh Maxime menaikkan alis. Rasa curiga dan kekesalan menjalar tajam di matanya, “Ingat perjanjian kita.” ada jeda sebelum pria itu pergi. “Kau tahu kenapa aku mengizinkanmu kembali ke rumah ini, Maxime.” Maxime tidak menjawab. Rahangnya mengeras. Sementara jemarinya memutih kencang karena menggenggam jemarinya sendiri. Amira melihatnya dari bawah membeku. Apakah keduanya tidak akur sampai harus bertutur tidak baik setelah sekian lama tidak bertemu? Maxime menatap Arthur sampai pria itu akhirnya berbalik dan berjalan meninggalkan lorong. Suara langkahnya terdengar semakin jauh, tetapi Maxime tidak langsung menutup pintu. Dia menunggu. Sampai suara pintu utama terdengar dari lantai bawah, barulah tangannya terangkat dari dinding. Amira segera melepaskan diri dari persembunyiannya. Napasnya masih belum teratur ketika dia menatap pria di hadapannya. “Kau.. tidak akur?” Maxime menutup pintu kencang. "Apa?" "Kau tidak akur dengannya?" Amira menatapnya tidak percaya. "Perjanjian apa?” "Bukan urusanmu." Maxime meliriknya. "Jika sudah menyelinapnya, silakan pergi dari sini.” Wajah Amira memanas. "Aku tidak menyelinap!" “Pencuri tidak akan berkata jujur jika dia mencuri.” Maxime mengangguk seolah mempercayainya. Amira membuka mulut, tetapi tidak menemukan bantahan yang masuk akal. Pria itu menyebalkan. Lebih menyebalkan lagi karena dia benar. "Aku akan pergi." Amira mengulurkan tangan untuk membuka pintu. "Tunggu." Nada suara Maxime berubah. Amira menoleh malas saat lengan pria itu menahan pintu. Pria itu sudah tidak tersenyum. Dia berdiri di dekat meja kerjanya, membalikkan figura foto yang sengaja tertutup yang kini menampilkan foto seorang perempuan. "Kenapa kau menikahinya?" tanyanya. Amira mengernyit. "Bukankah tadi kau yang bilang jangan mengurus yang bukan urusanmu?” “Konyol jika kau jatuh cinta.” tambahnya yang membuat Amira mendongak marah. Apa maksudnya?! Pria itu baik! “Adikku tidak sebaik yang kau pikirkan.” Maxime mengucapkan yang membuat Amira terdiam. “Jaga dirimu baik-baik.” Pernyataan itu membuat Amira terdiam. Selama ini, Arthur memang jarang membicarakan keluarganya. Bahkan keberadaan Maxime pun baru diketahuinya setelah pernikahan mereka. Namun, Amira tidak pernah menyangka bahwa keluarga ini begitu banyak rahasia. "Aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian," jawabnya akhirnya. "Dan aku tidak ingin ikut campur." Arthur kemudian melepaskan lengannya lalu bersedekap. "Kalau begitu, tetaplah tidak tahu." Amira buru-buru meraih gagang pintu. "Aku sudah mau pergi." "Amira." Dia berhenti. Itulah pertama kalinya Maxime menyebut namanya tanpa embel-embel Nyonya Wilson atau adik ipar. "Kalau kau ingin mempertahankan pernikahanmu," katanya tenang, "belajarlah membedakan hal-hal yang memang tidak ingin diketahui suamimu dari hal-hal yang seharusnya tidak pernah kau ketahui."Berto masih berdiri dengan rahang mengeras. Amarahnya tampak semakin sulit dikendalikan setelah mendengar kemungkinan bahwa putri mereka berada bersama Maxime. Sementara itu, Arthur tetap duduk dengan tenang, seolah kedatangannya malam ini semata-mata untuk mencari bantuan."Tenanglah, Ayah. Kita belum memiliki bukti apa pun.""Bagaimana aku bisa tenang? Jika benar Maxime membawa Amira pergi, itu berarti dia telah mempermainkan keluarga kita!"Theresia yang sejak tadi terdiam akhirnya angkat bicara. "Tapi, Arthur, bukankah selama ini Maxime sering membantu Amira? Ibu pernah melihat sendiri bagaimana dia memperlakukan Amira dengan baik."Arthur menoleh kepada ibu mertuanya."Justru itu yang membuatku khawatir, Bu. Maxime bukan orang yang mudah menunjukkan niat sebenarnya."Berto mengembuskan napas kasar. "Aku tidak menyangka dia bisa bertindak sejauh ini."Arthur menundukkan kepala. Ia tidak perlu mengatakan lebih banyak. Kedua mertuanya sudah mulai mempertimbangkan kemungkinan yang se
Arthur tidak pernah menyukai ketidakpastian. Terlebih ketika ketidakpastian itu menyangkut istrinya sendiri. Sejak Amira menghilang dari New York, pria itu telah mengerahkan sejumlah orang untuk mencari keberadaan wanita tersebut. Namun, hasilnya selalu sama. Tidak ada yang benar-benar mengetahui ke mana Amira pergi, bahkan orang-orang yang selama ini berada di sekitar keluarga Wilson pun tidak mampu memberikan jawaban memuaskan. Satu-satunya orang yang terus muncul dalam pikirannya adalah Maxime. Kakak tirinya itu memang tidak pernah terang-terangan menunjukkan ketertarikan kepada Amira. Namun, Arthur bukanlah orang bodoh. Ia tahu bagaimana Maxime memandang wanita itu, bagaimana pria tersebut selalu berusaha melindunginya, dan bagaimana Amira justru terlihat lebih nyaman berada di dekatnya. Arthur meletakkan ponsel di atas meja dengan gerakan kasar. "Sudah berapa lama kau mencari keberadaan Maxime?" tanyanya kepada asistennya yang berdiri di hadapan meja kerja. "Sejak pagi, Tu
“Memangnya sesulit itu mendapatkan nomor teleponmu? Aku hanya perlu bertanya kepada sekretaris kantor Wilson.”Maxime mengembuskan napas. “Jadi, sekarang kau mulai mengumpulkan informasi tentangku?”“Jangan terlalu percaya diri. Aku hanya ingin memastikan apakah nomor yang diberikan kepadaku benar-benar milikmu.”“Sekarang kau sudah tahu. Ada hal lain?”“Tidak bisakah kau sedikit lebih ramah kepada teman lama?”“Aku sedang tidak punya banyak waktu untuk berbasa-basi, Nadya.”Nada suara Maxime terdengar cukup datar. Namun, Nadya tampaknya tidak terlalu mempermasalahkannya.“Baiklah. Sebenarnya aku menelepon karena Arthur sedang mencarimu. Dia bahkan sempat menghubungiku dan bertanya apakah aku tahu keberadaanmu.”“Lalu kau menjawab apa?”“Tentu saja aku bilang tidak tahu. Memangnya aku harus memberitahunya sesuatu yang bahkan tidak kuketahui?”Maxime tidak langsung menjawab. Pandangannya beralih ke pintu ruang pemeriksaan tempat Amira dibawa beberapa menit lalu. “Bagus. Kalau dia kemba
Maxime akhirnya masuk ke dalam mobil setelah memastikan sabuk pengaman Amira terpasang dengan benar. Ia menutup pintu, lalu berjalan memutari bagian depan mobil untuk mengambil tempat di belakang kemudi.Begitu mesin dinyalakan, pandangannya sempat beralih ke arah Amira yang duduk diam di sampingnya. Wanita itu tampak berusaha memejamkan mata, tetapi sesekali tangannya bergerak mengusap perutnya yang belum terlalu terlihat.Maxime menghela napas pelan.“Ami.”Amira membuka mata. “Ya?”“Jangan tidur dulu. Aku ingin kau tetap terjaga sampai kita tiba di rumah sakit.”“Aku tidak mengantuk,” bantahnya.“Bagus. Kalau ada rasa sakit yang bertambah, pusing, atau sesuatu yang terasa berbeda, langsung katakan kepadaku.”Amira mengangguk kecil. “Kau terdengar seperti dokter.”“Kalau aku seorang dokter, setidaknya aku bisa memeriksamu sendiri tanpa harus menunggu orang lain.”Amira tersenyum tipis. “Tapi kau bukan dokter.”“Sayangnya.”Mobil mulai meninggalkan halaman rumah. Sepanjang perjalanan
“Bukankah sudah kukatakan kau tidak perlu datang ke sini, Max? Bagaimana kalau Arthur sampai mengetahuinya?”Amira berdiri di ambang pintu, menatap pria yang baru saja tiba di beranda rumah sederhana itu. Udara malam yang dingin menyapu rambutnya, tetapi bukan itu yang membuatnya gelisah. Kedatangan Maxime pada jam selarut ini jelas bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele, terlebih jika sampai terdengar oleh Arthur.Namun, Maxime seolah tidak mendengar peringatannya. Tatapan pria itu justru sibuk mengamati wajah Amira yang tampak lebih pucat dari biasanya.Tanpa banyak bicara, Maxime mendekat. Kedua tangannya terulur, lalu dengan mudah mengangkat tubuh wanita itu ke dalam gendongannya.“Maxime!” Amira spontan mencengkeram kerah kemejanya. “Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!”“Ke rumah sakit. Sekarang.”“Aku tidak mau!”“Dan aku tidak sedang meminta izin.”Maxime kembali melangkah, mengabaikan protes wanita dalam pelukannya. Rahangnya mengeras, sementara sebelah tangannya menopang pun
[Max, perutku sakit. Ada bercak merah yang keluar, mirip darah. Aku takut.]Baru saja Maxime hendak melangkah menuju area parkir, sebuah pesan yang masuk ke ponselnya seketika membuat pria itu menghentikan langkah. Tatapannya terpaku pada layar, membaca pesan dari Amira berulang kali seolah berharap dirinya salah memahami kalimat tersebut. Jemarinya bahkan mencengkeram ponsel begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.“Bercak merah?” gumamnya pelan.Tanpa membuang waktu untuk membalas pesan itu, Maxime langsung menekan tombol panggilan. Ia tidak ingin membuang waktu dengan percakapan melalui pesan, terlebih ketika menyangkut kondisi Amira dan bayi yang dikandung wanita tersebut.“Sekarang kau di mana?” tanyanya begitu panggilan tersambung.“Di rumah.”“Kau sendirian?” Kedua alis Maxime langsung bertaut.“Ya. Bibi pulang lebih awal karena putrinya masih sakit,” jelas Amira dari seberang telepon.Maxime mengembuskan napas berat. Ia melirik arlojinya, kemudian mengalihkan pandangan ke







