Share

BAB 6

Author: Jw Hasya
last update publish date: 2026-09-18 00:22:45

“Keluarlah. Suamimu sudah pergi.”

Maxime masih berdiri santai di ambang pintu, seolah tidak terjadi apa-apa. Tatapannya tetap tenang, tetapi nada suaranya cukup untuk membuat Amira tahu bahwa situasi di luar kamar telah benar-benar berubah.

Amira perlahan keluar dari tempat persembunyiannya.

Beberapa detik sebelumnya, pendengarannya sempat menangkap percakapan antara Arthur dan Maxime, bahkan ancaman yang dilontarkan suaminya kepada pria itu. Namun, semakin ia mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi, semakin banyak pertanyaan yang justru bermunculan di kepalanya.

Begitu sampai di ambang pintu, Amira menghentikan langkah. Tatapannya langsung tertuju pada Maxime yang masih berdiri di hadapannya.

“Apa sebenarnya yang kalian sembunyikan dariku?”

Tatapan Amira tajam, penuh kecurigaan.

Wanita itu berusaha mengembalikan sikapnya seperti semula. Namun, sorot matanya justru mengkhianati kegelisahan yang sejak tadi berusaha ia sembunyikan.

Maxime membetulkan posisi berdirinya. Sebelum menjawab, pria itu sempat melirik ke arah lantai bawah, memastikan Arthur benar-benar telah meninggalkan rumah.

Barulah setelah itu, pandangannya kembali kepada Amira.

“Aku tidak punya urusan apa pun denganmu, Amira. Jadi, sebaiknya kau pergi sebelum suamimu kembali dan mendapati istrinya sedang berdua denganku di dalam kamar ini—bersama kakak iparnya sendiri.”

Nada suara Maxime datar, tetapi kalimat itu sukses membuat wajah Amira seketika memanas hingga ke telinga. “Tapi—”

“Apa kau memang sengaja ingin menggoda kakak iparmu?”

Ucapan Maxime memotong perkataan Amira. Tatapan pria itu tetap tenang, namun justru ketenangan tersebut membuat Amira semakin salah tingkah.

Amira mengepalkan kedua tangannya. Tanpa membalas lagi, wanita itu segera berbalik dan melangkah pergi. Namun, baru beberapa langkah meninggalkan kamar, suara Maxime kembali terdengar dari belakang.

“Jangan pernah mencari tahu sesuatu yang bukan urusanmu!”

***

Dentang jam dinding mansion menunjukkan pukul satu dini hari ketika Amira melangkah pelan menuju area dapur.

Kesunyian malam terasa makin menghimpit, menyisakan kekosongan yang ditinggalkan Arthur sejak keberangkatannya siang tadi. Rasa dingin menggetarkan tenggorokannya, memaksanya meneguk segelas air hangat untuk meredakan ketegangan yang menggantung di dadanya.

Namun, sebelum gelas itu sempat ia letakkan kembali di atas meja, suara bel pintu mansion terdengar bergema.

Wanita itu terkejut, menghentikan gerakannya seketika.

“Siapa yang berkunjung di jam selarut ini?” gerutunya sambil berjalan menuju pintu utama.

Pikiran pertamanya langsung tertuju pada Arthur—mungkin pria itu membatalkan kepergiannya dan kembali pulang karena merasa bersalah atau yang lain.

Desakan bel yang berkali-kali itu membuat langkah Amira semakin dipercepat menyusuri lorong temaram menuju pintu utama.

Dengan jantung berdebar kencang dan harapan tipis yang menyelinap, ia memutar kunci lalu membuka pintu kayu berukir itu lebar-lebar.

“Arthur kau—” kalimatnya terpotong mengudara di tengah udara yang cukup dingin.

Amira melihat sosok lain, bukan Arthur yang berdiri di sana.

Sosok pria bertubuh jangkung tampak menyandar lemas pada pilar teras, napasnya memburu berat dengan jas yang sudah acak-acakan.

Itu Maxime.

Sementara di ujung jalan, lampu belakang sebuah mobil sport tampak menyala merah, melaju kencang meninggalkan area mansion sebelum Amira sempat melihat siapa pengemudinya.

Teman lama yang malam itu mengundang Maxime ke sebuah bar mewah—pria yang diam-diam berkhianat demi imbalan dari musuh Maxime—telah kabur sesaat setelah melancarkan aksinya.

“Maxime?” gumam Amira kaget.

Pria itu tidak menjawab. Begitu mendengar suara Amira, Maxime menegakkan tubuhnya dengan payah, berusaha melangkah masuk.

Aroma alkohol bercampur parfum sandalwood yang tajam langsung menusuk penciuman Amira.

Namun, ada yang tak beres. Ini bukan sekadar mabuk biasa.

Keringat dingin membasahi pelipis Maxime, matanya sayu tetapi memancarkan gairah liar yang sangat asing. Obat perangsang bertakar tinggi yang diam-diam dicampurkan teman lamanya ke dalam gelas anggur di bar tadi kini telah membakar seluruh kesadaran Maxime.

Rasa panas yang membara di dalam darahnya menuntut pelepasan, merusak benteng pertahanan dirinya secara brutal.

“Maxime, kau ... kau mabuk berat?” Amira refleks mundur satu langkah, menangkap aura berbahaya yang mendadak memancar dari tubuh kakak iparnya itu.

Maxime menghentikan langkah tepat di hadapan Amira. Pandangannya yang kabur dan penuh rasa panas mengunci wajah wanita di depannya.

Kesunyian mansion yang mencekam, pelayan yang telah lelap di kamar belakang, serta ketiadaan Arthur membuat atmosfer di antara mereka berubah menjadi amat menegangkan.

“Kau ....” suara Maxime terdengar berat dan serak, hampir menyerupai bisikan bahaya.

Ia melangkah satu detik lebih cepat, mengikis jarak hingga Amira tak lagi punya ruang untuk menghindar.

Tatapan tajam yang biasanya penuh sarkasme itu kini sepenuhnya dikuasai oleh kabut hasrat yang tak terkendali.

Amira berusaha tenang, bagaimanapun juga, pria dihadapannya adalah kakak iparnya. Tanpa banyak kata, wanita itu kemudian meraih pinggan Maxime, memapah tubuh kekar tersebut untuk masuk ke dalam kamarnya.

“Kekasihku ….” Bisik Maxime saat langkahnya sampai di ambang pintu kamarnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bukan Salahku, Jika Salah Ranjang!   BAB 8

    Cahaya matahari pagi menyelinap halus melalui celah tirai, jatuh tepat di atas kelopak mata Maxime yang masih terpejam. Pria itu mengernyit ketika rasa hangat yang menusuk mengusik tidurnya, lalu menggerakkan kepala dengan malas sebelum akhirnya kelopak matanya perlahan terbuka. “Aaarrgh …” Maxime mengerang pelan, suara seraknya memecah kesunyian kamar. Kepalanya terasa begitu berat seolah ada godam yang menghantam bagian dalam tengkoraknya tanpa ampun. “Di mana aku?” katanya sambil mencoba melihat sekeliling ruangan. Ia memejamkan mata kembali, berusaha meredakan pening yang makin menjadi-jadi saat memorinya dipaksa bekerja mengingat kejadian semalam. Perlahan, pria itu mengangkat tangan dan memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. “Brengsek …” decihnya rendah, napasnya tersengal menahan sakit. Ia baru sadar jika dirinya saat ini tengah berada di dalam kamar pribadinya sendiri. Tenggorokannya tarasa kering. Tubuhnya terasa remuk dan lemas, sementara memori tentang malam t

  • Bukan Salahku, Jika Salah Ranjang!   BAB 7

    Maxime semakin menghimpit tubuh Amira hingga dada lebar pria itu menempel ketat pada bagian depan tubuhnya. Hawa panas yang memancar dari kulit Maxime menembus kain tipis lingerie Amira, membuat napas wanita itu tersengal. “Maxime, lepas! Sadar, Maxime!” seru Amira panik, kedua tangannya berusaha mendorong bahu kekar sang kakak ipar. “Kau mabuk berat! Ingat siapa aku!” Namun, Maxime seolah kehilangan pendengarannya. Matanya yang sayu dipenuhi kabut gairah membara. Pria itu menyusupkan jemarinya yang gemetar ke sela-sela rambut Amira, menariknya perlahan agar wajah wanita itu tetap menengadah ke hadapanya. “Panas ... tolong aku ....” bisik Maxime serak, suara beratnya bergetar tepat di depan bibir Amira. “Siapa pun kau ... bantu aku ....” Pria itu sama sekali tidak menyebut nama Amira, kesadarannya telah hilang sepenuhnya terkikis oleh racun obat perangsang. Tanpa membiarkan Amira membalas, Maxime mendaratkan ciuman liar di ceruk leher Amira. Tali lingerie yang longgar lu

  • Bukan Salahku, Jika Salah Ranjang!   BAB 6

    “Keluarlah. Suamimu sudah pergi.”Maxime masih berdiri santai di ambang pintu, seolah tidak terjadi apa-apa. Tatapannya tetap tenang, tetapi nada suaranya cukup untuk membuat Amira tahu bahwa situasi di luar kamar telah benar-benar berubah.Amira perlahan keluar dari tempat persembunyiannya. Beberapa detik sebelumnya, pendengarannya sempat menangkap percakapan antara Arthur dan Maxime, bahkan ancaman yang dilontarkan suaminya kepada pria itu. Namun, semakin ia mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi, semakin banyak pertanyaan yang justru bermunculan di kepalanya.Begitu sampai di ambang pintu, Amira menghentikan langkah. Tatapannya langsung tertuju pada Maxime yang masih berdiri di hadapannya.“Apa sebenarnya yang kalian sembunyikan dariku?”Tatapan Amira tajam, penuh kecurigaan. Wanita itu berusaha mengembalikan sikapnya seperti semula. Namun, sorot matanya justru mengkhianati kegelisahan yang sejak tadi berusaha ia sembunyikan.Maxime membetulkan posisi berdirinya. Sebelum me

  • Bukan Salahku, Jika Salah Ranjang!   BAB 5

    Amira berusaha mempertahankan ekspresi tenangnya, meskipun jantungnya berdegup semakin tidak beraturan. Wanita itu segera menyelipkan tangan kanannya ke belakang tubuh, menggenggam kancing kecil yang ditemukannya dengan begitu erat hingga ujung-ujung jarinya terasa sakit. Benda kecil itu tidak boleh sampai terlihat oleh Maxime, setidaknya sebelum ia mengetahui apa sebenarnya yang sedang terjadi.Maxime mengangkat sebelah alis. “Memastikan kamarku bersih?”Amira mengangguk. “Ak–aku hanya kebetulan lewat.” Nada suara Amira mendadak sedikit naik.“Lalu, kenapa kau masuk?”Amira menghembuskan napas perlahan, berusaha mengusir kegugupan yang mulai merayapi dadanya. “Karena ada… milikku yang jatuh di kamarmu! Iya!”Maxime bukan orang bodoh. Dari caranya memandang, Amira tahu bahwa pria itu sama sekali belum mempercayai alasannya.“Apa kau sudah selesai melihat-lihat?” tanya Maxime.“Sudah. Aku memang berniat keluar.”“Kalau begitu, kenapa tidak keluar sekarang?”Amira menahan napas sesaat

  • Bukan Salahku, Jika Salah Ranjang!   BAB 4

    Amira sempat terdiam, tetapi hanya sesaat. Ia segera menyandarkan tubuhnya ke bahu kursi dan memberikan senyum kecil yang dibuat senatural mungkin, seolah pertanyaannya memang tidak memiliki maksud apa pun.“Aku hanya ingin tahu saja,” jawabnya ringan. “Karena aku juga baru tahu kalau Tuan Maxime pernah tinggal di sini. Jadi, aku penasaran kamar yang dulu ditempatinya seperti apa.”Kepala pelayan itu memperhatikan wajah Amira beberapa detik, seakan berusaha mencari sesuatu dari sorot matanya. Namun, Amira tetap mempertahankan ekspresi tenang, bahkan mengambil cangkir teh di hadapannya agar rasa gugup yang mulai merambat tidak terlihat.“Kamar Tuan Maxime ada di lantai dua, Nyonya. Lorong paling ujung, sebelah kiri.”Amira membeku. Bukankah kamar yang ditempatinya semalam juga berada di ujung lorong sebelah kiri?Jemarinya yang memegang cangkir teh perlahan menegang. Ia masih mengingat jelas jalan yang dilaluinya bersama pelayan setelah kembali dari pesta—menaiki tangga utama, melewati

  • Bukan Salahku, Jika Salah Ranjang!   BAB 3

    “M–Maksudnya?” Amira diam-diam mencuri pandang. Maxime masih terlihat tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Pria itu bahkan tidak menunjukkan sedikit pun kegelisahan setelah melihat wajah Amira yang sejak tadi tampak penuh tanda tanya. Sebaliknya, Arthur justru terlihat terburu-buru menyelesaikan sarapannya. “Aku harus pergi,” katanya tiba-tiba sambil meletakkan sendok di atas piring. Amira mengangkat wajah. “Sekarang?” “Ya, aku harus pergi hari ini.” “Tapi kau baru saja—” “Urusan di perusahaan tidak bisa menunggu,” sela Arthur begitu cepat. "Kuharap kau mengerti dengan keadaan ini." Jawaban itu membuat Amira terdiam, hatinya mencelos. Lagi-lagi pekerjaan. Bahkan setelah malam pertama mereka, Arthur masih memilih pekerjaan daripada menghabiskan sedikit waktu bersamanya. Saat hening menyergap, Maxime tampak berdiri lebih dulu. “Aku akan mengantarkanmu ke depan.” Arthur hanya mengangguk tanpa menoleh. Kedua pria itu berjalan meninggalkan ruang makan tanpa menoleh l

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status