Beranda / Romansa / Bukan Sekedar Asisten Pribadi / 2. Berita Kematian yang Serupa

Share

2. Berita Kematian yang Serupa

Penulis: Angdan
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-16 11:03:21

“Iya. Saya mencari latar belakang beliau untuk memastikan kebenaran kepemilikannya,” jawab Zahra tegas.

“Kalau kamu mencari latar belakang siapa pun yang bekerja sama dengan saya, tidak perlu disampaikan dan cukup beritahu pada saya.” Pak Kris menasihati Zahra yang terlihat percaya diri dengan tugas dan kewajibannya sebagai asisten pribadi.

Zahra mematung sambil menatap heran Pak Kris. Pak Kris tidak memarahi dan memecatnya ketika dirinya sebagai karyawan melakukan kesalahan atau membuatnya malu.

Ia tidak pernah melihat sikap hangat Kris kepada karyawannya, seperti yang dilakukan oleh Pak Kris kepadanya.

Apa yang terjadi kepadanya? Apakah hatinya sedang senang karena Pak Aris menyetujui surat kerja samanya?

“Kamu tidak perlu menatapku seperti itu.” Kris berucap seolah mengetahui sikap Zahra sedang memperhatikannya tanpa mengedipkan mata.

“Hati bapak sedang senang? Kenapa tidak memecat saya?” tanya Zahra tanpa berpikir panjang.

Kris menghela napas panjang setelah mendengar pertanyaan dari asisten pribadinya sambil memejamkan matanya sekilas. Dia tidak menyalahkannya karena sikap dan sifatnya selama ini membuatnya selalu cekatan, disiplin dan melakukan hal yang tidak perlu aku suruh.

“Ya.”

Kris menjawab dengan singkat. Zahra dan Kris pun tiba di restoran Auto Notive untuk makan siang sebelum berangkat ke kantor.

“Setelah rapat di kantor, bapak ada pertemuan dengan Papa bapak di rumahnya. Jadi, setelah pulang kantor, bapak harus pulang ke rumah bapak bukan ke apartemen bapak.”

Zahra menyampaikan jadwal pentingnya setelah pulang kerja. Kris tampak tidak ingin mengunjungi rumah orang tuanya sehingga keluar dari mobil tanpa menjawab jadwal yang sudah dicatat.

Zahra mengejar langkah Kris dan tanpa sengaja, ia memegang pergelangan tangannya untuk menjawab jadwal yang disampaikan olehnya.

“Jawab dulu jadwal yang terakhir, Pak,” pinta Zahra sambil tersengal-sengal.

“Haruskah?” tanyanya singkat sambil mengernyitkan dahi.

“Harus, agar saya punya jawaban untuk bilang kepada papa bapak,” jawab Zahra lalu tersenyum profesional.

“Kamu sudah bekerja dengan saya selama sepuluh tahun. Kamu pasti tahu jawaban saya jika hanya diam saja.”

“Saya sudah hapal, tetapi kalau untuk urusan keluarga Bapak dan sering kali diam maka itu yang membuat saya pusing sampai harus mencari ribuan alasan yang masuk akal,” balas Zahra nada membantah.

“Kam—”

“Maaf kalau saya membantah, tapi tolong hadapi sekali saja, Pak. Bapak selama ini menghindar kalau Papa, Pak Alex meminta untuk datang ke rumah,” potong Zahra sambil mengernyitkan dahi dan menatap lamat.

Kris menghela napas panjang. “Baiklah. Katakan kepada Papa kalau saya memenuhi panggilannya.” Kris membalas perkataan Zahra.

Zahra tersenyum lebar saat Kris memenuhi panggilan papanya yang selama ini ditolak. Kris menolak permintaan papanya karena akan dijodohkan oleh putri kaya raya, tetapi tidak sempat untuk bertemu dengan wanita yang akan dijodohkan dengannya.

Peristiwa penolakan perjodohan dengan wanita lain terjadi setahun yang lalu. Kris pernah mendengar percakapan antara mama dan papanya. Mama Kris yang bernama Dwi Ayu Andriani tidak menginginkan perjodohan karena anak sulungnya sudah dewasa dan berhak memilih pasangannya.

Namun, ayahnya bersikeras untuk tetap melakukan perjodohan dengan seorang wanita kaya raya dan harus setara dengannya demi menyelamatkan perusahaannya dan memperkaya diri, serta meningkatkan status di keluarganya.

“Kamu harus tetap berada di samping saya,” ucap Kris sambil menahan tangan Zahra yang hendak masuk ke restoran.

Zahra melirik tangan Kris yang masih memegangnya erat. “Kenapa?” tanya Zahra heran sambil menatap lamat.

Kris membisu saat bola mata Zahra yang besar, bulat dan berwarna cokelat beradu dengan matanya. Dia melepaskan tangannya dan mengalihkan pandangan sambil berdeham.

“Agar kejadian setahun yang lalu tidak terulang lagi,” jawab Kris singkat lalu masuk ke restoran.

Zahra memesan menu kesukaan Kris. Menu kesukaannya adalah Steak Sirlion setengah matang, bumbu BBQ yang pedas, kentang dan minuman soda lemon.

Zahra makan bersama atasannya tanpa mengatakan hal apa pun. Tidak ada hal pribadi yang dibicarakan karena hanya sebatas rekan kerja.

Namun, saat keheningan di antara mereka hadir, Kris hendak bicara dengannya, tetapi suara dia kalah dengan televisi yang dipasang di dekat pilar yang ada di sisi kirinya.

“Berita terpanas. Ditemukan mayat seorang wanita dengan luka lebam dan terdapat cairan yang mengalir di area paha di sebuah bangunan kosong yang dahulu menjadi tempat hiburan malam. Cairan putih yang diduga adalah cairan sperma, tetapi masih proses penyelidikan, apakah cairan putih yang mengalir dari paha korban adalah sperma atau hanya air biasa.”

Seorang reporter wanita televisi nasional membawa berita tentang kematian seorang wanita yang membuat Zahra teringat dengan kematian adiknya sekitar 8 tahun yang lalu.

Kematian adiknya bernama Gladys Sukma Anggraini Prasongko sangat tragis dan mirip dengan pemberitaan yang muncul di televisi untuk kesekian kali setelah beberapa tahun tidak ada pemberitaan lagi sama sekali.

Zahra mematung sembari menatap televisi dengan tajam dan tangan mengepal erat. Masa lalu yang kelam muncul kembali setelah berusaha melupakan dan tidak mencari tahu kebenaran dan keadilan.

Suara beberapa orang yang ada di sekitarnya menjadi samar, kehilangan fokus, keringat bercucuran deras di dahinya sampai Kris mengajaknya untuk kembali ke kantor tidak terdengar olehnya.

“Zahra, waktunya kembali ke kantor. Zahra!” sentak Kris sambil menggoyangkan tangannya.

Zahra tersentak dan fokus kembali hadir. Kris kembali ke kantor bersama Zahra, tetapi sikapnya berubah menjadi diam dan tidak memberikan atau menjelaskan apa pun kepadanya terkait rapat dengan tim keuangan.

“Bagaimana dengan materi untuk rapat dengan tim keuangan?” tanya Kris datar.

Pandangan Zahra lurus ke layar tablet yang memantulkan wajah dirinya saat ini. Bayang-bayang sosok adiknya yang meninggal dengan tragis muncul kembali setelah bertahun-tahun berusaha disembuhkan dan dihilangkan.

Tidak hanya itu, perjuangan Zahra untuk mendapatkan keadilan atas kematian ayah dan adiknya pun tidak ada hasilnya, seakan ada satu orang atau lebih yang memiliki kekuasaan yang paling tinggi.

Zahra sudah tidak mempunyai siapa pun di dunia. Ia sebatang kara dan berusaha bertahan hidup dari trauma masa kecil.

Setelah kasus kematian adiknya yang tragis, tidak ada berita lagi yang muncul tentang kematian seorang wanita, tetapi hari ini, delapan tahun kemudian, kasus kematian seorang wanita yang sama dengan kematian adiknya muncul kembali.

“Kalau kamu tidak fokus, lebih baik pulang!” tekan Kris lalu mengambil tablet yang ada di tangannya.

Zahra terkejut saat tablet diambil olehnya. “Maaf, Pak.”

“Ada apa denganmu? Kenapa kamu tiba-tiba diam seakan jiwa dan ragamu di sini, tetapi pikiranmu sedang melayang ke mana-mana?” tanya Kris sambil memeriksa hasil pekerjaan Zahra untuk rapat dengan tim keuangan.

“S-saya … hanya kepikiran dengan rapat nanti bersama tim keuangan,” jawab Zahra ceria sambil mengambil tabletnya.

“Sungguh? Tidak ada yang disembunyikan?” tanya Kris penasaran.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bukan Sekedar Asisten Pribadi   8. Hasil dari Rapat Penting

    Maya merupakan perempuan yang dilihat oleh Zahra di restoran pertama kali saat sedang mengecup Kris. Dia juga pernah bertemu di rumahnya ketika Kris dijodohkan dengannya.“Aku ingin bersamamu, Sayang. Mama dan Papa tahu kalau aku tidak ikut. Aku sengaja membiarkan mereka menghabiskan waktu bersama,” jawab Maya nada manja sembari mengusap pipinya pelan.Perawakan Maya yang langsing, wajah tirus, mata yang tajam dan bentuk wajah yang tajam pantas menjadi seorang model dan status sosialnya setara dengan Kris.Maya menghampiri dan duduk di pangkuan Kris lalu memberikan kecupan pagi hari untuk tunangannya. Bahkan, wajahnya terlihat sedang mengejek Zahra seakan menunjukkan kepadanya tentang Kris adalah miliknya.“Apa-apaan kamu? Ada karyawanku, kamu tidak malu?” Kris menolak dengan memalingkan wajahnya.Maya tetap memaksa untuk melakukan hal yang lebih dari sekadar kecupan di pagi hari, tetapi Kris tetap menolak dan tanpa sengaja, lengannya mengenai lengan Maya hingga membuatnya hampir terj

  • Bukan Sekedar Asisten Pribadi   7. Penolakan dan Penerimaan

    Bola mata perlahan turun ke arah bawah yang kancing kemeja sudah terbuka tiga. Sontak, Zahra membuka mulut dengan lebar lalu menutupnya kembali sambil menggeleng cepat. “Maaf, Pak. Saya tidak sadar dan … reflek membersihkan kemeja bapak yang mahal dan tidak ingin merusak dan mengotorinya,” jelas Zahra secepat kilat.“Ini yang saya suka dari kamu.”Zahra mengernyitkan dahi saat Kris mengatakan hal itu kepadanya. Ia tidak paham dengan kalimat seperti itu karena memiliki banyak arti.Tatapan mereka semakin dekat dan tubuh mereka saling menempel. Jantung Zahra semakin berdetak kencang sampai membuat Kris tersenyum lebar ketika merasakan detak jantungnya.“Jantungmu berdegup kencang, kamu gugup?” tanya Kris sembari menyingkirkan rambut yang menghalangi matanya yang bulat lalu mengusap pipinya pelan.Zahra sudah lama tidak merasakan sentuhan kelembutan di pipi dari seorang pria sehingga merasakan kehangatan dan kenyamanan bak dilindungi oleh ayahnya.Kris semakin mendekatkan wajahnya dan b

  • Bukan Sekedar Asisten Pribadi   6. Teh Lemon

    Mata Zahra berkedip beberapa kali setelah mendapat kecupan dan sikap hangat dari atasannya. Ada apa dengannya?Saat Kris mengecup bibir dan keningnya, detak jantung Zahra berdegup semakin kencang. Detak jantung yang tidak pernah dirasakan olehnya selama puluhan tahun.Zahra tidak pernah merasakan jatuh cinta kepada seorang lelaki sedikit pun karena hidupnya sudah sangat rumit sehingga tidak pernah merasakan jantung berdegup kencang.Ia menghabiskan waktu untuk sekolah dan bekerja demi bertahan hidup dari kerasnya dunia dan tidak sempat memikirkan hubungan spesial dengan pria lain.Zahra menggeleng cepat untuk menyadarkan diri bahwa Kris hanya kasihan kepadanya karena sebatang kara dan tidak memiliki perasaan apa pun kepadanya.Kris sudah punya calon istri yang status sosialnya setara dengannya.Zahra kembali ke kasur sambil memainkan layar ponsel dan melihat foto dari hasil pengambilan gambar saat kejadian ayahnya meninggal dunia yang didapat olehnya dari pihak kepolisian ketika memin

  • Bukan Sekedar Asisten Pribadi   5. Kecupan CEO

    “Selamat pagi, Mbak Zahra.” Sapa seorang wanita dengan ramah.Zahra membuka mata perlahan dan disuguhkan pemandangan perawat dan dokter sudah berada di sampingnya untuk memeriksa keadaannya.Sontak, ia menoleh ke belakang dan tidak ada siapa pun di ruangan.Zahra merasa lega ketika tidak ada yang memergokinya bersama Kris, CEO yang pastinya sudah dikenal oleh banyak orang.“Mbak Zahra mencari pacarnya, ya?” tanya perawat dengan lesung pipi sambil tersenyum lebar.“Hmm?”“Pacarnya tadi bilang ke Dokter kalau keluar sebentar, beli makanan dan minuman. Jadi, kalau ada apa-apa disuruh bilang kepadanya,” ucap perawat nada menggoda.“Dia bukan pacar saya, Dok,” sanggah Zahra secepat kilat.Dokter dan perawat hanya tersenyum lebar dan menggeleng pelan setelah Zahra mengatakan bahwa Kris bukanlah kekasihnya.Zahra berpikir bahwa mereka saja yang mengatakan hal begitu karena Kris menitip pesan kepadanya. Ia juga tidak mungkin menjadi kekasihnya karena dia sudah memiliki calon istri dan status

  • Bukan Sekedar Asisten Pribadi   4. Sikap Hangat Kris

    “Saya tahu dan saya sudah membatalkannya dengan menghubungi tiga klien untuk dijadwalkan ulang,” jawab Kris secepat kilat tanpa ekspresi lalu mengambil air mineral yang dituangkan ke dalam gelas dan diberikan kepada Zahra.Zahra mematung ketika tangan kekar memegang gelas bening yang diberikan kepadanya. Ia mengernyitkan dahi saat melihat sikap Kris yang tidak pernah dilihat olehnya selama sepuluh tahun.“Untuk saya, Pak?” tanya Zahra lagi.“Lalu, buat siapa coba,” jawab Kris dingin.Zahra merapikan tubuhnya dengan posisi duduk di atas ranjang rumah sakit sambil bersandar di kepala ranjang. Ia menerima gelas bening berisi air mineral dari tangan Kris.Zahra meminum air mineral dengan pandangan lurus ke depan sampai tidak ada setetes pun yang keluar dari gelas. Kamar khusus menjadi hening dan hanya terdengar suara alat infus.“Bukankah rapat besok adalah rapat yang penting dan bisa diganti oleh Mbak Anggun yang bekerja sebagai sekretaris?” tanya Zahra nada heran.“Saya tidak cocok.”“M

  • Bukan Sekedar Asisten Pribadi   3. Zahra Dirawat

    “Ya.” Zahra menjawab sekilas dengan tegas.Zahra tiba di kantor untuk rapat keuangan bersama Kris. Ia telah mempersiapkan semua peralatan dan materi yang sangat bagus.Tidak ada kesalahan atau kerusakan sedikit pun dan sesuai dengan permintaan atasannya untuk setiap kali rapat.Kris pernah berpesan kepadanya bahwa semua perlengkapan dan bahan materi untuk rapat dengan siapa pun harus dipersiapkan dengan baik dan bagus agar tidak merusak reputasinya sebagai CEO yang rapi dan disiplin.“Keuangan dalam perusahaan kita terus meningkat, Pak, tetapi entah kenapa saya curiga, ya, ketika pendapatan dalam perusahaan meningkat?” tanya seorang pria muda yang memiliki rahang yang tegas.“Apa maksudmu?” tanya Kris nada menekan.“Laporan mengatakan bahwa pendapatan kita meningkat dari beberapa bulan sebelumnya. Naik sekitar 50%, tetapi saat saya memeriksa rekening perusahaan ada lalu saya periksa lagi dua hari kemudian, uang senilai tiga ratus lima puluh juta menghilang dari rekening perusahaan,” j

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status