ログインMata Zahra berkedip beberapa kali setelah mendapat kecupan dan sikap hangat dari atasannya. Ada apa dengannya?
Saat Kris mengecup bibir dan keningnya, detak jantung Zahra berdegup semakin kencang. Detak jantung yang tidak pernah dirasakan olehnya selama puluhan tahun.
Zahra tidak pernah merasakan jatuh cinta kepada seorang lelaki sedikit pun karena hidupnya sudah sangat rumit sehingga tidak pernah merasakan jantung berdegup kencang.
Ia menghabiskan waktu untuk sekolah dan bekerja demi bertahan hidup dari kerasnya dunia dan tidak sempat memikirkan hubungan spesial dengan pria lain.
Zahra menggeleng cepat untuk menyadarkan diri bahwa Kris hanya kasihan kepadanya karena sebatang kara dan tidak memiliki perasaan apa pun kepadanya.
Kris sudah punya calon istri yang status sosialnya setara dengannya.
Zahra kembali ke kasur sambil memainkan layar ponsel dan melihat foto dari hasil pengambilan gambar saat kejadian ayahnya meninggal dunia yang didapat olehnya dari pihak kepolisian ketika memintanya saat berusia dua puluh satu tahun.
Zahra memperhatikan hasil foto satu per satu dari luka yang ada di bagian leher dan mulutnya mengeluarkan busa. Leher ayahnya berwarna merah muda kebiruan.
Warna merah kebiruan merupakan tanda ayahnya telah diberi racun berdasarkan buku yang pernah dibaca olehnya saat menduduki bangku sekolah menengah atas, tetapi pihak kepolisian mencatat bahwa ayahnya meninggal dunia dalam kecelakaan lalu lintas karena jenazah ditemukan di jalanan yang sepi pada malam hari, tetapi dekat dengan lampu lalu lintas.
Bahkan, ingatan Zahra hingga kini sangat jelas karena tangisan adiknya yang menandakan lapar dan haus sampai membuatnya harus memejamkan mata ketika teman ayahnya ditabrak oleh sebuah mobil berwarna hitam.
Ia bergegas menghilangkan pikiran yang menyakitkan saat diingat, tetapi pikiran seperti itu harus diingat agar paham dengan tujuannya bekerja.
Dada selalu menjadi sesak saat mengingat kenangan buruk yang tidak akan pernah terlupakan sebelum pelaku pembunuh yang sesungguhnya tertangkap.
Zahra mencoba untuk tarik napas sedalam-dalamnya berulang kali sembari memejamkan matanya untuk menghilangkan beban hidup yang bisa membuatnya tidak berkembang dan fokus utamanya.
Ia pulang ke rumah menaiki ojek mobil tanpa menunggu Kris. Zahra tidak ingin membuat rasa bersalah sekaligus salah paham dengan sikap atasannya yang tiba-tiba baik dan memberi kecupan pagi hari untuknya.
Zahra tinggal di sebuah apartemen sederhana yang jauh dari ucapan tetangga sebelah untuk menenangkan diri dari mulut jahat yang tidak bisa dijaga.
Zahra melanjutkan pekerjaan yang belum tuntas untuk rapat Kris besok bersama seorang pengusaha emas dari China.
Jemari, mata dan pikiran fokus pada layar laptop sehingga mengabaikan panggilan masuk maupun pesan masuk.
Tepat pukul delapan malam, pekerjaannya selesai. Ia merebahkan badan di sofa sambil memejamkan pikiran dan meluruskan kakinya.
Ia hendak memejamkan matanya untuk istirahat sejenak, nada dering panjang berbunyi keras dan berulang kali.
Zahra berdecak kesal lalu mengangkat panggilan masuk tanpa melihat namanya dengan nada tinggi dan tidak ingin diganggu.
“Ada apa? Aku ingin istirahat dan besok saja kalau memberikan dokumen kepadaku?!”
“Capek, ya?” tanya suara bariton yang lembut dan dikenal olehnya.
Zahra membuka mulutnya dengan lebar saat melihat nama Kris di layar ponsel lalu melirik ke arah jam dinding yang ada di sisi kanannya.
Zahra sangat tidak bisa mengendalikan emosi ketika sedang lelah dan banyak pikiran.
“Maaf, Pak. Saya kira tadi teman kantor,” ucap Zahra pelan dan lembut.
“Tidak apa. Maaf, ya, kalau saya mengganggu waktu kamu,” ucap Kris lembut.
Zahra mematung saat mendengar kalimat lembut dan baik dari atasannya. Kris tidak marah kepadanya seperti kebiasaannya saat ditinggal atau tidak mendengarkan perintahnya.
Zahra bingung dengan sikapnya.
Namun, ia menampis pikiran tentang Kris perhatian kepadanya karena sakit. Pikiran itu diubah menjadi kasihan kepadanya karena tidak memiliki siapa pun.
“Halo. Kamu sudah tertidur?” tanya Kris lembut.
“Belum, Pak. Saya minta maaf kalau tadi sempat nyemprot Bapak.”
Kris tertawa pelan di balik ponsel. “Kalau kamu merasa bersalah sudah memarahi saya, kamu buka pintu apartemen kamu sekarang. Saya sudah di depan pintu.”
Zahra terkejut sekaligus bingung saat mendengar Kris sudah ada di depan pintu apartemennya.
Ia memukul dahi sebanyak tiga kali sembari mengumpat pelan pada dirinya yang telah mengatakan minta maaf kepadanya.
“Bodoh, bodoh, bodoh. Seharusnya kamu tidak usah bilang begitu, Zahra,” ucap Zahra pelan sembari sedikit menjauhkan posisi ponsel dari mulutnya.
“Kamu masih di sana, Zahra?”
“I-iya, Pak.” Zahra menjawab nada terbata-bata sembari melangkah ke pintu.
“Saya pamit pulang dulu, ya.”
Zahra membuka pintu dengan pelan sembari menatap Kris yang wajah tampannya semakin bersinar terkena sorotan cahaya lampu.
Kris mematung saat melihat Zahra yang membuka pintu lalu tersenyum lebar kepadanya.
“Saya membawakan makanan dan stok bahan masakan dan minuman karena kamu tidak mau menunggu saya.”
“Tidak perlu repot-repot, Pak. Bahan masakan saya masih ada,” ucap Zahra nada menolak secara halus.
Kris memasuki apartemennya. Zahra memeriksa keadaan di luar dengan cara menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada yang mengikuti keberadaannya.
Zahra menutup pintu dengan rapat lalu mengikuti langkah atasannya sembari memasang wajah yang khawatir di belakangnya.
Zahra khawatir dia diikuti oleh seseorang saat menuju ke apartemennya.
“Bapak tidak perlu repot-repot membawa makanan, minuman dan bahan masakan sebanyak itu,” ucap Zahra sembari mendekatinya yang menata semua bawaannya ke kulkas dan lemari penyimpanan bahan makanan dan bumbu.
“Buatkan saya teh lemon hangat!”
“Tapi, Pak. Ini sud—”
“Buatkan!” seru Kris sembari menoleh ke arah Zahra yang hendak mengusirnya dengan tatapan tajam.
Zahra mematung ketika melihat Kris yang sepertinya tidak ingin diusir. Kris memberikan lemon kepadanya dari kulkas.
“Kamu tahu kesukaan saya dan teh lemon buatan kamu enak. Saya suka.” Kris mengungkapkan rasa teh lemon buatan Zahra enak.
Zahra tersenyum tipis sekilas lalu mengambil lemon dari tangannya. Zahra membuat teh lemon menggunakan air hangat sekitar tujuh puluh lima derajat selsius dan ditambah madu satu sendok.
Zahra tidak ingin terkena masalah dengan tunangan Kris. Dia sudah menjadi milik seseorang sehingga harus membatasi sikap antara atasan dengan rekan kerja.
Zahra hendak membawa minuman ke ruang tamu, tanpa sengaja minuman teh lemon hangat mengenai kemejanya.
Sontak, Zahra reflek membersihkan kemeja menggunakan tisu lalu menarik tangan Kris mendekati wastafel.
Zahra membersihkan kemeja Kris menggunakan air agar tidak lengket dan panasnya menghilang.
Zahra panik saat minuman panas mengenai kemeja mahalnya. Ia pun reflek membuka kancing kemejanya.
Kris hanya diam saat memandangi Zahra yang panik dan bertanggung jawab membersihkan kemejanya. Kemudian, Kris menahan kedua tangannya dan menatapnya lamat.
“Apa yang mau kamu lakukan? Hmm?” tanya Kris lembut sehingga membuat Zahra menoleh kepadanya.
Tatapan Zahra dengan Kris sangat lamat dan jarak mereka hanya terpisah oleh batasan hidung.
Maya merupakan perempuan yang dilihat oleh Zahra di restoran pertama kali saat sedang mengecup Kris. Dia juga pernah bertemu di rumahnya ketika Kris dijodohkan dengannya.“Aku ingin bersamamu, Sayang. Mama dan Papa tahu kalau aku tidak ikut. Aku sengaja membiarkan mereka menghabiskan waktu bersama,” jawab Maya nada manja sembari mengusap pipinya pelan.Perawakan Maya yang langsing, wajah tirus, mata yang tajam dan bentuk wajah yang tajam pantas menjadi seorang model dan status sosialnya setara dengan Kris.Maya menghampiri dan duduk di pangkuan Kris lalu memberikan kecupan pagi hari untuk tunangannya. Bahkan, wajahnya terlihat sedang mengejek Zahra seakan menunjukkan kepadanya tentang Kris adalah miliknya.“Apa-apaan kamu? Ada karyawanku, kamu tidak malu?” Kris menolak dengan memalingkan wajahnya.Maya tetap memaksa untuk melakukan hal yang lebih dari sekadar kecupan di pagi hari, tetapi Kris tetap menolak dan tanpa sengaja, lengannya mengenai lengan Maya hingga membuatnya hampir terj
Bola mata perlahan turun ke arah bawah yang kancing kemeja sudah terbuka tiga. Sontak, Zahra membuka mulut dengan lebar lalu menutupnya kembali sambil menggeleng cepat. “Maaf, Pak. Saya tidak sadar dan … reflek membersihkan kemeja bapak yang mahal dan tidak ingin merusak dan mengotorinya,” jelas Zahra secepat kilat.“Ini yang saya suka dari kamu.”Zahra mengernyitkan dahi saat Kris mengatakan hal itu kepadanya. Ia tidak paham dengan kalimat seperti itu karena memiliki banyak arti.Tatapan mereka semakin dekat dan tubuh mereka saling menempel. Jantung Zahra semakin berdetak kencang sampai membuat Kris tersenyum lebar ketika merasakan detak jantungnya.“Jantungmu berdegup kencang, kamu gugup?” tanya Kris sembari menyingkirkan rambut yang menghalangi matanya yang bulat lalu mengusap pipinya pelan.Zahra sudah lama tidak merasakan sentuhan kelembutan di pipi dari seorang pria sehingga merasakan kehangatan dan kenyamanan bak dilindungi oleh ayahnya.Kris semakin mendekatkan wajahnya dan b
Mata Zahra berkedip beberapa kali setelah mendapat kecupan dan sikap hangat dari atasannya. Ada apa dengannya?Saat Kris mengecup bibir dan keningnya, detak jantung Zahra berdegup semakin kencang. Detak jantung yang tidak pernah dirasakan olehnya selama puluhan tahun.Zahra tidak pernah merasakan jatuh cinta kepada seorang lelaki sedikit pun karena hidupnya sudah sangat rumit sehingga tidak pernah merasakan jantung berdegup kencang.Ia menghabiskan waktu untuk sekolah dan bekerja demi bertahan hidup dari kerasnya dunia dan tidak sempat memikirkan hubungan spesial dengan pria lain.Zahra menggeleng cepat untuk menyadarkan diri bahwa Kris hanya kasihan kepadanya karena sebatang kara dan tidak memiliki perasaan apa pun kepadanya.Kris sudah punya calon istri yang status sosialnya setara dengannya.Zahra kembali ke kasur sambil memainkan layar ponsel dan melihat foto dari hasil pengambilan gambar saat kejadian ayahnya meninggal dunia yang didapat olehnya dari pihak kepolisian ketika memin
“Selamat pagi, Mbak Zahra.” Sapa seorang wanita dengan ramah.Zahra membuka mata perlahan dan disuguhkan pemandangan perawat dan dokter sudah berada di sampingnya untuk memeriksa keadaannya.Sontak, ia menoleh ke belakang dan tidak ada siapa pun di ruangan.Zahra merasa lega ketika tidak ada yang memergokinya bersama Kris, CEO yang pastinya sudah dikenal oleh banyak orang.“Mbak Zahra mencari pacarnya, ya?” tanya perawat dengan lesung pipi sambil tersenyum lebar.“Hmm?”“Pacarnya tadi bilang ke Dokter kalau keluar sebentar, beli makanan dan minuman. Jadi, kalau ada apa-apa disuruh bilang kepadanya,” ucap perawat nada menggoda.“Dia bukan pacar saya, Dok,” sanggah Zahra secepat kilat.Dokter dan perawat hanya tersenyum lebar dan menggeleng pelan setelah Zahra mengatakan bahwa Kris bukanlah kekasihnya.Zahra berpikir bahwa mereka saja yang mengatakan hal begitu karena Kris menitip pesan kepadanya. Ia juga tidak mungkin menjadi kekasihnya karena dia sudah memiliki calon istri dan status
“Saya tahu dan saya sudah membatalkannya dengan menghubungi tiga klien untuk dijadwalkan ulang,” jawab Kris secepat kilat tanpa ekspresi lalu mengambil air mineral yang dituangkan ke dalam gelas dan diberikan kepada Zahra.Zahra mematung ketika tangan kekar memegang gelas bening yang diberikan kepadanya. Ia mengernyitkan dahi saat melihat sikap Kris yang tidak pernah dilihat olehnya selama sepuluh tahun.“Untuk saya, Pak?” tanya Zahra lagi.“Lalu, buat siapa coba,” jawab Kris dingin.Zahra merapikan tubuhnya dengan posisi duduk di atas ranjang rumah sakit sambil bersandar di kepala ranjang. Ia menerima gelas bening berisi air mineral dari tangan Kris.Zahra meminum air mineral dengan pandangan lurus ke depan sampai tidak ada setetes pun yang keluar dari gelas. Kamar khusus menjadi hening dan hanya terdengar suara alat infus.“Bukankah rapat besok adalah rapat yang penting dan bisa diganti oleh Mbak Anggun yang bekerja sebagai sekretaris?” tanya Zahra nada heran.“Saya tidak cocok.”“M
“Ya.” Zahra menjawab sekilas dengan tegas.Zahra tiba di kantor untuk rapat keuangan bersama Kris. Ia telah mempersiapkan semua peralatan dan materi yang sangat bagus.Tidak ada kesalahan atau kerusakan sedikit pun dan sesuai dengan permintaan atasannya untuk setiap kali rapat.Kris pernah berpesan kepadanya bahwa semua perlengkapan dan bahan materi untuk rapat dengan siapa pun harus dipersiapkan dengan baik dan bagus agar tidak merusak reputasinya sebagai CEO yang rapi dan disiplin.“Keuangan dalam perusahaan kita terus meningkat, Pak, tetapi entah kenapa saya curiga, ya, ketika pendapatan dalam perusahaan meningkat?” tanya seorang pria muda yang memiliki rahang yang tegas.“Apa maksudmu?” tanya Kris nada menekan.“Laporan mengatakan bahwa pendapatan kita meningkat dari beberapa bulan sebelumnya. Naik sekitar 50%, tetapi saat saya memeriksa rekening perusahaan ada lalu saya periksa lagi dua hari kemudian, uang senilai tiga ratus lima puluh juta menghilang dari rekening perusahaan,” j







