Share

6. Teh Lemon

Penulis: Angdan
last update Tanggal publikasi: 2026-01-06 15:26:26

Mata Zahra berkedip beberapa kali setelah mendapat kecupan dan sikap hangat dari atasannya. Ada apa dengannya?

Saat Kris mengecup bibir dan keningnya, detak jantung Zahra berdegup semakin kencang. Detak jantung yang tidak pernah dirasakan olehnya selama puluhan tahun.

Zahra tidak pernah merasakan jatuh cinta kepada seorang lelaki sedikit pun karena hidupnya sudah sangat rumit sehingga tidak pernah merasakan jantung berdegup kencang.

Ia menghabiskan waktu untuk sekolah dan bekerja demi bertahan hidup dari kerasnya dunia dan tidak sempat memikirkan hubungan spesial dengan pria lain.

Zahra menggeleng cepat untuk menyadarkan diri bahwa Kris hanya kasihan kepadanya karena sebatang kara dan tidak memiliki perasaan apa pun kepadanya.

Kris sudah punya calon istri yang status sosialnya setara dengannya.

Zahra kembali ke kasur sambil memainkan layar ponsel dan melihat foto dari hasil pengambilan gambar saat kejadian ayahnya meninggal dunia yang didapat olehnya dari pihak kepolisian ketika memintanya saat berusia dua puluh satu tahun.

Zahra memperhatikan hasil foto satu per satu dari luka yang ada di bagian leher dan mulutnya mengeluarkan busa. Leher ayahnya berwarna merah muda kebiruan.

Warna merah kebiruan merupakan tanda ayahnya telah diberi racun berdasarkan buku yang pernah dibaca olehnya saat menduduki bangku sekolah menengah atas, tetapi pihak kepolisian mencatat bahwa ayahnya meninggal dunia dalam kecelakaan lalu lintas karena jenazah ditemukan di jalanan yang sepi pada malam hari, tetapi dekat dengan lampu lalu lintas.

Bahkan, ingatan Zahra hingga kini sangat jelas karena tangisan adiknya yang menandakan lapar dan haus sampai membuatnya harus memejamkan mata ketika teman ayahnya ditabrak oleh sebuah mobil berwarna hitam.

Ia bergegas menghilangkan pikiran yang menyakitkan saat diingat, tetapi pikiran seperti itu harus diingat agar paham dengan tujuannya bekerja.

Dada selalu menjadi sesak saat mengingat kenangan buruk yang tidak akan pernah terlupakan sebelum pelaku pembunuh yang sesungguhnya tertangkap.

Zahra mencoba untuk tarik napas sedalam-dalamnya berulang kali sembari memejamkan matanya untuk menghilangkan beban hidup yang bisa membuatnya tidak berkembang dan fokus utamanya.

Ia pulang ke rumah menaiki ojek mobil tanpa menunggu Kris. Zahra tidak ingin membuat rasa bersalah sekaligus salah paham dengan sikap atasannya yang tiba-tiba baik dan memberi kecupan pagi hari untuknya.

Zahra tinggal di sebuah apartemen sederhana yang jauh dari ucapan tetangga sebelah untuk menenangkan diri dari mulut jahat yang tidak bisa dijaga.

Zahra melanjutkan pekerjaan yang belum tuntas untuk rapat Kris besok bersama seorang pengusaha emas dari China.

Jemari, mata dan pikiran fokus pada layar laptop sehingga mengabaikan panggilan masuk maupun pesan masuk.

Tepat pukul delapan malam, pekerjaannya selesai. Ia merebahkan badan di sofa sambil memejamkan pikiran dan meluruskan kakinya.

Ia hendak memejamkan matanya untuk istirahat sejenak, nada dering panjang berbunyi keras dan berulang kali.

Zahra berdecak kesal lalu mengangkat panggilan masuk tanpa melihat namanya dengan nada tinggi dan tidak ingin diganggu.

“Ada apa? Aku ingin istirahat dan besok saja kalau memberikan dokumen kepadaku?!”

“Capek, ya?” tanya suara bariton yang lembut dan dikenal olehnya.

Zahra membuka mulutnya dengan lebar saat melihat nama Kris di layar ponsel lalu melirik ke arah jam dinding yang ada di sisi kanannya.

Zahra sangat tidak bisa mengendalikan emosi ketika sedang lelah dan banyak pikiran.

“Maaf, Pak. Saya kira tadi teman kantor,” ucap Zahra pelan dan lembut.

“Tidak apa. Maaf, ya, kalau saya mengganggu waktu kamu,” ucap Kris lembut.

Zahra mematung saat mendengar kalimat lembut dan baik dari atasannya. Kris tidak marah kepadanya seperti kebiasaannya saat ditinggal atau tidak mendengarkan perintahnya.

Zahra bingung dengan sikapnya.

Namun, ia menampis pikiran tentang Kris perhatian kepadanya karena sakit. Pikiran itu diubah menjadi kasihan kepadanya karena tidak memiliki siapa pun.

“Halo. Kamu sudah tertidur?” tanya Kris lembut.

“Belum, Pak. Saya minta maaf kalau tadi sempat nyemprot Bapak.”

Kris tertawa pelan di balik ponsel. “Kalau kamu merasa bersalah sudah memarahi saya, kamu buka pintu apartemen kamu sekarang. Saya sudah di depan pintu.”

Zahra terkejut sekaligus bingung saat mendengar Kris sudah ada di depan pintu apartemennya.

Ia memukul dahi sebanyak tiga kali sembari mengumpat pelan pada dirinya yang telah mengatakan minta maaf kepadanya.

“Bodoh, bodoh, bodoh. Seharusnya kamu tidak usah bilang begitu, Zahra,” ucap Zahra pelan sembari sedikit menjauhkan posisi ponsel dari mulutnya.

“Kamu masih di sana, Zahra?”

“I-iya, Pak.” Zahra menjawab nada terbata-bata sembari melangkah ke pintu.

“Saya pamit pulang dulu, ya.”

Zahra membuka pintu dengan pelan sembari menatap Kris yang wajah tampannya semakin bersinar terkena sorotan cahaya lampu.

Kris mematung saat melihat Zahra yang membuka pintu lalu tersenyum lebar kepadanya.

“Saya membawakan makanan dan stok bahan masakan dan minuman karena kamu tidak mau menunggu saya.”

“Tidak perlu repot-repot, Pak. Bahan masakan saya masih ada,” ucap Zahra nada menolak secara halus.

Kris memasuki apartemennya. Zahra memeriksa keadaan di luar dengan cara menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada yang mengikuti keberadaannya.

Zahra menutup pintu dengan rapat lalu mengikuti langkah atasannya sembari memasang wajah yang khawatir di belakangnya.

Zahra khawatir dia diikuti oleh seseorang saat menuju ke apartemennya.

“Bapak tidak perlu repot-repot membawa makanan, minuman dan bahan masakan sebanyak itu,” ucap Zahra sembari mendekatinya yang menata semua bawaannya ke kulkas dan lemari penyimpanan bahan makanan dan bumbu.

“Buatkan saya teh lemon hangat!”

“Tapi, Pak. Ini sud—”

“Buatkan!” seru Kris sembari menoleh ke arah Zahra yang hendak mengusirnya dengan tatapan tajam.

Zahra mematung ketika melihat Kris yang sepertinya tidak ingin diusir. Kris memberikan lemon kepadanya dari kulkas.

“Kamu tahu kesukaan saya dan teh lemon buatan kamu enak. Saya suka.” Kris mengungkapkan rasa teh lemon buatan Zahra enak.

Zahra tersenyum tipis sekilas lalu mengambil lemon dari tangannya. Zahra membuat teh lemon menggunakan air hangat sekitar tujuh puluh lima derajat selsius dan ditambah madu satu sendok.

Zahra tidak ingin terkena masalah dengan tunangan Kris. Dia sudah menjadi milik seseorang sehingga harus membatasi sikap antara atasan dengan rekan kerja.

Zahra hendak membawa minuman ke ruang tamu, tanpa sengaja minuman teh lemon hangat mengenai kemejanya.

Sontak, Zahra reflek membersihkan kemeja menggunakan tisu lalu menarik tangan Kris mendekati wastafel.

Zahra membersihkan kemeja Kris menggunakan air agar tidak lengket dan panasnya menghilang.

Zahra panik saat minuman panas mengenai kemeja mahalnya. Ia pun reflek membuka kancing kemejanya.

Kris hanya diam saat memandangi Zahra yang panik dan bertanggung jawab membersihkan kemejanya. Kemudian, Kris menahan kedua tangannya dan menatapnya lamat.

“Apa yang mau kamu lakukan? Hmm?” tanya Kris lembut sehingga membuat Zahra menoleh kepadanya.

Tatapan Zahra dengan Kris sangat lamat dan jarak mereka hanya terpisah oleh batasan hidung.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bukan Sekedar Asisten Pribadi   17. Malam yang Menggairahkan dan Berkeringat

    Zahra membisu sambil menatap lamat. Jantung berdegup dengan kencang dan aliran darah mengalir dengan deras seakan sesuatu yang membuat tubuhnya panas dan merinding akan terjadi kepadanya.Zahra takut ketika melakukan hubungan suami istri dengan seorang pria yang belum resmi menjadi suaminya. Ia takut jika Kris tidak bertanggung jawab atas perbuatannya kelak dan merusak semua rencana dan masa depannya.“Kalau kamu tidak mengizinkannya, aku tidak akan melakukannya cukup memeluk dan mengecupmu sebelum tidur,” ucap Kris lembut.Zahra menelan air saliva setelah Kris mengatakan hal seperti itu. Kalimat keputusasaan dari seorang pria ketika tidak mendapat izin dari perempuan yang akan disentuh.“Pakai pengaman dulu,” ucap Zahra pelan sembari menatap lamat.Kris tersenyum miring dan nakal seakan memahami ucapan Zahra. Kalimat seperti itu artinya bahwa lawan main menyetujui untuk disentuh.“Tidak perlu.”Kris menolak memakai pengaman lalu melancarkan aksinya. Sentuhan lembut dari tangan kekarn

  • Bukan Sekedar Asisten Pribadi   16. Resmi Menjadi Sepasang Kekasih

    Kris mendekati Zahra yang terdengar masih tidak yakin tentang perasaan terhadapnya. Ia tidak ingin melakukan hal bodoh, jika perasaan yang dimiliki oleh atasannya tidak murni mencintainya.Zahra juga tidak ingin merusak hubungan orang lain, apalagi dia sedang berstatus tunangan orang lain, tetapi perasaannya fokus kepadanya.Kris memegang kedua tangannya. “Perasaan suka dan cintaku kepadamu adalah murni dari hatiku, kamu yang membuatku jatuh hati. Bahkan, sikapmu sebagai karyawanku bukan hanya sekadar tugas asisten pribadi. Kamu melakukan pekerjaanmu dengan sungguh-sungguh dan menganggapku seperti manusia karena semua diperhatikan sampai hal kecil yang tidak pernah dilakukan oleh mantanku sebelumnya, malah kamu melakukannya. Kamu juga memperhatikan kesehatanku disaat semuanya sibuk. Sikapmu mirip dengan ibuku dan membuatku bercita-cita memiliki istri yang memiliki sifat dan sikap sepertinya. Semua itu ada padamu. Bahkan, saat mengetahui kemampuan bela dirimu ketika kamu menyelamatkank

  • Bukan Sekedar Asisten Pribadi   15. Pergi Bersama Menikmati Senja

    “Cepat ganti baju. Aku mau mengajakmu jalan-jalan sekalian ke pantai untuk menikmati matahari terbenam,” jawab Kris sambil tersenyum lebar.“Jalan-jalan ke mana?” tanya Zahra penasaran sembari mendekatinya.“Ada deh. Kamu ganti sekarang di kamar baru,” ucap Kris sambil mengambil koper Zahra lalu menarik dua koper sekaligus.Kris keluar dari kamar lama menuju resepsionis untuk meminta kunci kamar baru yang dipesan olehnya.“Tunjukkan kamar baru yang sudah kamu pesan,” ucap Kris santai.Zahra menunjukkan sebuah aplikasi pemesanan kamar hotel kepada resepsionis untuk dicocokkan data saat pemesanan dan melakukan reservasi kamar sebelum masuk ke hotel.“Kalian berdua cocok, semoga cepat diberi anak. Anak kalian pasti lucu-lucu,” ucap karyawan resepsionis perempuan.“Terima kasih, Mbak. Kita sangat cocok dan menawan, kan, Mbak?” sambar Kris secepat kilat dan penuh percaya diri.“Kalian sangat cocok dan pasti datang untuk bulan madu sampai pindah kamar ke kamar yang paling mewah di hotel ini

  • Bukan Sekedar Asisten Pribadi   14. Tanda Tangan Proyek Besar

    “Kamu menangis?” tanya Kris heran.“Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku?” Zahra bertanya kembali kepada Kris.“Aku minta maaf kalau sudah membuatmu marah sampai menangis begini. Aku ingat semua pesanmu dan aku juga ingat dengan janjiku kepadamu saat kamu menolongku dari pria yang berusaha menusukku dari belakang. Aku janji tidak akan mengulanginya,” jawab Kris pelan dan lembut.Zahra masih membisu dengan butiran bening menetes di pipinya. Kris merasa bersalah telah membuat wanita yang disukai dan dicintai menjadi menangis karenanya.Kris memutar tubuh Zahra menjadi menghadap ke arahnya dan tatapan mereka saling bertemu. Zahra menatap lembut kepadanya.Kris menyeka air matanya dengan lembut lalu mengecup keningnya dan memeluknya erat.“Maafkan aku. Aku janji tidak akan membuatmu menangis lagi.”Zahra memeluk Kris dengan erat dan merasakan detak jantungnya yang berdegup berirama dan beraturan.“Aku tidak perlu semua janjimu, Kris. Aku ingin kamu bisa menjaga semua ucapanmu kepada si

  • Bukan Sekedar Asisten Pribadi   13. Mengingkari Janji

    “Aku sudah bilang kalau jangan alkohol terlalu banyak kalau mau bertemu dengan klien,” gerutu Zahra sambil melepaskan tangannya yang melingkar di perut.Kris memiliki kebiasaan melampiaskan amarah yang terpendam dengan meminum alkohol dengan jumlah tiga botol besar.Zahra tidak ingin kejadian masa lalu membuat dirinya rugi karena klien pergi dari tempatnya.Zahra membuat kentang, brokoli, jamur dan wortel yang diisi dengan ayam untuk menghilangkan pengar.Zahra memiliki perasaan yang kuat bahwa dia pasti minum saat suasana hati sedang buruk.Setengah jam berlalu, Zahra selesai membuat sup sehat penghilang pengar dan menyajikannya di meja. Ia membangunkan Kris dengan lembut sambil mengusap kepalanya.“Bangun, Kris sudah waktunya pergi ke Bandara.”Hitungan detik, Kris terbangun sambil memegang kepala, dahi mengernyit dan mata tertutup rapat bak menahan rasa sakit yang luar biasa di kepalanya.“Ayo, bangun. Kamu harus segera bergegas ke bandara agar pertemuan kita dengan klien tidak ter

  • Bukan Sekedar Asisten Pribadi   12. Jangan Pergi, Tetaplah di Sisiku!

    “Saya bilang satu kamar saja,” Kris menjawab sambil terus melangkah dan membalas sapaan karyawan lainnya hanya dengan sekali anggukan lalu masuk ke ruangan.Zahra pun membalas sapaan rekan kerjanya sambil tersenyum lebar, melambaikan tangan dan suara sebagai keakraban.Zahra berhenti melangkah dan mengikuti Kris untuk masuk ke ruangan lalu melanjutkan perbincangan dengan rekan kerjanya yang berasal dari divisi keuangan.“Kamu keren, Zahra di rapat tadi.” Seorang wanita berambut pendek memuji penampilannya yang sudah mencari tahu tentang sesuatu yang mencurigakan di gudang.“Sudah menjadi tugas pekerjaanku,” balas Zahra merendah sambil tersenyum lebar dan memukul lengan rekan kerjanya pelan.“Pak Kris besok ada jadwal rapat di luar dengan perusahaan pangan terbesar se negeri ini, ya?” tanya rekan kerjanya penasaran sambil mengecilkan suara bicaranya.“Iya. Kenapa? Ada sesuatu yang terjadi?” tanya Zahra penasaran.“Lega banget dan kamu tahu sendiri kalau habis rapat lalu ada karyawan ya

  • Bukan Sekedar Asisten Pribadi   9. Mobil 69 dan Faiz

    “Ya, aku mengusirmu. Kamu merepotkan dan tidak membantu sama sekali!”Kris mengusir Maya dengan nada sedikit tinggi di depan Zahra. Zahra menatap Maya saat Kris mengusirnya.Maya menatap Zahra dengan sinis dan memperhatikannya mulai dari atas hingga bawah. Dia sangat kesal kepada Kris karena sudah

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
  • Bukan Sekedar Asisten Pribadi   10. Terpanah

    “Maaf, Mbak, saya tidak tahu.”“Tidak tahu?” tanya Zahra dengan intonasi penekanan sambil menatap lamat.“Iya. Saya tidak tahu, tapi saya hanya tahu kalau dia datang bersama seorang pria berbadan tinggi dan besar, tato bintang yang melingkar di lehernya, tidak memiliki rambut. Dia datang dua bulan

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
  • Bukan Sekedar Asisten Pribadi   8. Hasil dari Rapat Penting

    Maya merupakan perempuan yang dilihat oleh Zahra di restoran pertama kali saat sedang mengecup Kris. Dia juga pernah bertemu di rumahnya ketika Kris dijodohkan dengannya.“Aku ingin bersamamu, Sayang. Mama dan Papa tahu kalau aku tidak ikut. Aku sengaja membiarkan mereka menghabiskan waktu bersama,

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
  • Bukan Sekedar Asisten Pribadi   11. Jadilah Kekasihku!

    “Kamu tahu kebiasaan dia yang bisa membahayakan siapa pun yang dekat dengannya. Ibu tidak ingin dia bekerja di perusahaan yang lain demi keselamatan bersama,” jawab Ibu Kris lembut.“Dia sudah dewasa dan seharusnya mengerti untuk mengubah perilaku yang buruk dan memperhatikan sekitarnya, bukan meng

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status