LOGINClarissa mematung di tempatnya.Senyuman manja yang biasanya terukir di wajah cantiknya langsung lenyap, digantikan oleh kepanikan yang berusaha ia sembunyikan di balik topeng kepura-puraan.Ia bisa merasakan cengkeraman tangan Alexis di bahunya bergetar hebat. Pria ini tidak sedang bertanya biasa; ia sedang menuntut kebenaran yang selama ini disembunyikan dengan rapi oleh dua keluarga besar."Lexi, kamu bicara apa, sih?" Clarissa tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar sangat dipaksakan di telinga Alexis. Ia melepaskan tangan Alexis dari bahunya secara perlahan, lalu menggenggamnya erat."Siapa lagi yang harus kamu ingat? Aku ini tunanganmu, Lexi. Kita sudah bersama sejak lama. Dokter kan sudah bilang, ingatanmu terganggu karena trauma benturan keras. Wajar kalau kamu sering merasa linglung atau berhalusinasi.""Aku tidak berhalusinasi, Clarissa!" potong Alexis dengan nada tinggi, membuat beberapa pasang mata pengunjung lobi hotel menoleh ke arah mereka.Alexis menarik napasnya ya
Angel merasakan tenggorokannya tercekat, seolah seluruh pasokan udara di sekitar koridor mal itu menguap habis. Sentuhan lembut Bram di sikunya menjadi satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak langsung jatuh bertumpu pada lutut. Di depannya, Alexis masih melangkah maju. Sorot mata pria itu begitu intens, penuh kepedihan, sekaligus kebingungan yang amat dalam—seolah ia sedang melihat hantu dari masa lalunya yang paling berharga. Setiap langkah Alexis mendekat membuat dadanya semakin sesak. 'Jangan sekarang... kumohon, jangan sekarang,' jerit batin Angel panik. Ia belum siap. Benteng pertahanan yang ia bangun dengan air mata di Jakarta runtuh dalam sekejap. Jika ia membiarkan Alexis mendekat, jika ia membiarkan pria itu melihat air matanya, maka semua pengorbanan dan rasa sakit yang ia tanggung sendiri selama ini akan sia-sia. Terlebih lagi, pria di depannya ini sekarang sudah memiliki Clarissa di sisinya. Angel memejamkan mata sesaat, menarik napas sekuat yang ia bisa dem
Pesawat komersial yang membawa Angel mendarat di Bandara Internasional Juanda tepat saat matahari Surabaya mulai memancarkan terik khasnya.Begitu melangkah keluar dari pintu kedatangan, seorang pria dengan seragam safari rapi sudah berdiri memegang papan nama bertuliskan 'Kebayoran Baru Land'.Di samping pria itu, bersandar pada pintu mobil SUV hitam yang mengilap, Bramantya Dirgantara melambaikan tangan dengan senyum tipis yang ramah."Bagaimana penerbangannya, Ibu Angel?" tanya Bram, langsung mengambil alih tas jinjing kecil milik Angel sebelum wanita itu sempat menolak."Sangat lancar, Pak Bram. Terima kasih atas sambutannya," jawab Angel, menyesuaikan langkahnya yang anggun dengan langkah lebar Bram."Kita akan langsung menuju lokasi proyek di kawasan Surabaya Barat. Perjalanan sekitar empat puluh lima menit jika lalu lintas bersahabat. Saya sudah menyiapkan berkas amandemen tata ruang terbaru di dalam mobil untuk Anda tinjau sepanjang jalan," ujar Bram profesional.Angel mengang
Kevin menutup pintu ruang kerja Angel dengan perlahan, meninggalkan keheningan yang kembali menguasai ruangan luas itu.Angel menyandarkan punggungnya pada kursi kerja ergonomisnya. Tangannya perlahan turun, mengusap perutnya yang masih rata dengan kelembutan yang kontras dari ketegasannya beberapa menit lalu. Di dalam rahimnya, ada kehidupan baru yang menjadi alasan utamanya untuk tetap berdiri tegak."Kita hanya punya satu sama lain sekarang, Nak," bisik Angel dalam hati. Rasa hangat menjalar di dadanya, mengusir sisa-sisa dingin yang sempat ditinggalkan oleh bayangan Alexis.Malam itu, Angel tidak langsung pulang. Ia menghabiskan tiga jam berikutnya untuk membedah ulang seluruh cetak biru proyek Surabaya. Dari analisis topografi lahan, regulasi zonasi lokal, hingga memetakan potensi risiko pergerakan pasar properti di Jawa Timur. Ketika ia akhirnya melangkah keluar dari gedung pencakar langit itu, jam digital di dasbor mobilnya sudah menunjukkan pukul sebelas malam.---Keesokan ha
Alexis menatap lurus ke arah mobil Angel selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian.Di balik kaca mobilnya yang sedikit gelap, Angel menahan napas. Jantungnya berdentum begitu keras hingga memekakkan telinganya sendiri. Dia bisa melihat kerutan samar di dahi Alexis, sebuah kilat kebingungan yang familier di mata pria itu, seolah ada sesuatu yang mengusik alam bawah sadarnya."Ada apa, Lexi?" Clarissa di sampingnya bertanya, ikut menoleh ke arah luar jendela.Sebelum Clarissa sempat menyadari keberadaannya, lampu lalu lintas berganti menjadi hijau. Klakson mobil di belakang Angel berbunyi nyaring, memutus kontak mata sepihak itu.Angel langsung menginjak pedal gas dalam-dalam. Dia melajukan mobilnya membelah jalanan Jakarta, meninggalkan Rolls-Royce mewah itu jauh di belakang. Melalui kaca spion, dia melihat mobil Alexis berbelok ke arah yang berbeda.Napas Angel memburu, namun kali ini bukan karena takut. Tangannya yang mencengkeram setir tidak lagi gemetar.'Benar. Dia tida
Angel mendorong pintu toilet dengan kasar, langsung bertumpu pada pinggiran wastafel, dan memuntahkan cairan bening dari perutnya yang terasa diaduk-aduk.Tubuhnya bergetar hebat. Rasa mual itu begitu menyiksa, padahal pagi ini dia belum sempat menyantap sarapan apa pun selain segelas air putih.Setelah beberapa saat mereda, Angel menyalakan keran. Dia membasuh mulut dan wajahnya yang kini tampak pucat di pantulan cermin. Napasnya terengah-engah."Dua bulan...," bisik Angel pada dirinya sendiri. Tatapannya mendadak terpaku pada perutnya yang masih tampak rata di balik blazer kerja yang modis.Detak jantungnya yang semula perlahan normal, kini kembali berdegup brutal. Ingatannya berputar cepat pada malam-malam panas penuh gairah bersama Alexis sebelum kecelakaan tragis itu merenggut segalanya. Kontrak rahim buatan, hubungan tanpa status yang didasari cinta terlarang, dan kenyataan bahwa dia sudah terlambat datang bulan selama hampir enam minggu.'Tuhan, jangan sekarang,' batin Angel m
Mobil Mercedes-Benz hitam itu akhirnya masuk ke area parkir sebuah butik mewah di kawasan elit pusat kota. Begitu mobil berhenti mulus, Angel tidak langsung turun. Dia melirik Lexi lewat spion tengah, merapikan rambutnya sebentar, lalu berdehem pelan."Lexi," panggil Angel. Nadanya sedikit canggung
Sementara Mercedes-Benz hitam yang membawa Angel dan Lexi melaju pergi meninggalkan rumah, di belahan kota yang lain, suasana di dalam ruangan kerja Direktur Utama Van Holden Group justru terasa sangat sunyi seperti berada di area kuburan.Ruangan luas itu dilapisi dinding kaca besar yang langsung
Setelah keluar dari ruang kerja Baron, Lexi berjalan menuju area belakang yang sepi, di dekat garasi mobil mewah.Dia merogoh kantong celananya, mengeluarkan ponsel yang layarnya sudah sedikit retak, lalu menekan sebuah nomor yang sengaja dia simpan untuk keadaan darurat tertentu terkait masa lalun
"Lexi, kalau kau bisa menghamili istriku, aku akan memberikan sejumlah uang yang cukup untuk biaya hidupmu seumur hidup!” Sesuara yang familier tiba-tiba saja berteriak ke arah Lexi, supir pribadi yang tampan milik Keluarga Van Holden.Lexi yang sedang mencuci mobil di halaman, langsung menoleh ke







