Beranda / Male Adult / (Bukan) Selingkuhan Biasa / Bab 163. Permainan Takdir

Share

Bab 163. Permainan Takdir

Penulis: Nona Muda
last update Tanggal publikasi: 2026-10-02 22:13:49

Tasya tertegun, lalu perlahan mengulas senyum tipis melihat binar liar di sepasang mata adiknya.

Karakter asli Lexi yang keras kepala dan tak tertundukkan akhirnya kembali, persis seperti sebelum kecelakaan terkutuk itu merenggut kepingan jiwanya.

"Oke. Kalau itu mau kamu, Mbak dukung penuh," sahut Tasya, ikut menyambar tasnya.

"Informan Mbak bilang, hari ini Angel dijadwalkan meninjau lokasi pembersihan lahan di Surabaya Barat jam sepuluh pagi. Kita ke sana sekarang sebelum Bramantya memper
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 163. Permainan Takdir

    Tasya tertegun, lalu perlahan mengulas senyum tipis melihat binar liar di sepasang mata adiknya. Karakter asli Lexi yang keras kepala dan tak tertundukkan akhirnya kembali, persis seperti sebelum kecelakaan terkutuk itu merenggut kepingan jiwanya. "Oke. Kalau itu mau kamu, Mbak dukung penuh," sahut Tasya, ikut menyambar tasnya. "Informan Mbak bilang, hari ini Angel dijadwalkan meninjau lokasi pembersihan lahan di Surabaya Barat jam sepuluh pagi. Kita ke sana sekarang sebelum Bramantya memperketat barikade pengawalan." Namun, takdir tampaknya gemar mempermainkan garis hidup mereka. Tepat pukul 10.15 WIB, mobil sewaan Lexi dan Tasya tiba di perimeter luar area proyek Surabaya Barat. Gerbang proyek tampak dijaga ketat oleh dua baris pengawal berbadan tegap dengan rompi hitam. Lexi menurunkan kaca mobil, matanya menatap tajam ke arah tenda utama di dalam area sterilisasi. "Maaf, Pak. Area ini tertutup untuk umum atas perintah Bramantya Group," hadang seorang kepala keamanan dengan

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 162. Ultimatum

    Pukul sebelas malam lewat, roda pesawat komersial yang membawa Lexi dan Tasya akhirnya menyentuh aspal landasan pacu Bandara Internasional Juanda. Begitu melangkah keluar dari garbarata, hawa Surabaya yang cenderung hangat menyergap mereka, namun bagi Lexi, atmosfer kota ini terasa begitu dingin semenjak penolakan keras Angel tempo hari. Tasya bergerak gesit. Berbeda dengan Lexi yang berjalan dalam diam dengan topi hitamnya yang diturunkan rendah, Tasya sibuk memeriksa ponselnya.Dia sengaja tidak memesan hotel berbintang atas nama mereka atau menggunakan fasilitas korporasi yang biasa diakses oleh keluarga Permana. "Kita tidur di rumah singgah milik sahabatku di daerah Dharmahusada, Lex," bisik Tasya seraya menuntun adiknya menuju ke mobil sewaan yang sudah terparkir di area drop-off. "Tempatnya privat, aman dari endusan intel-intelnya Mbak Vio, dan yang paling penting... Bramantya nggak akan tahu kita ada di sana." Lexi hanya mengangguk samar, langsung masuk ke dalam mobil. S

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 161. Lexi Tetap Milikku!

    Dari balik pembatas kaca steril, Lexi membalikkan tubuhnya sesaat. Ia menurunkan topinya sedikit, menatap lurus ke arah Hendra yang sedang berdebat kusir dengan petugas dengan sorot mata yang penuh kemenangan dan determinasi mutlak."Bilang sama Mbak Vio dan Bapak, Hendra," desis Lexi dari kejauhan, meski suaranya tidak terdengar, namun gerakan bibirnya terbaca jelas oleh Hendra, "aku kembali ke Surabaya."Lexi memutar tubuhnya kembali, melangkah lebar berdampingan dengan Tasya menuju gate keberangkatan pesawat mereka. Langkah kakinya kini terasa jauh lebih mantap. Malam ini, dia akan kembali ke Jawa Timur, siap menembus dinding es milik Angel.....Sementara itu, di waktu yang bersamaan di Jakarta.Atmosfer di dalam salah satu restoran mewah di kawasan mentereng Menteng, Jakarta Pusat, terasa begitu pekat dan mencekam. Di dalam ruangan VIP yang kedap suara, Viona Permana duduk dengan keanggunan yang dingin. Di hadapannya, Clarissa Kensington tampak mengaduk-aduk makanan di piringnya

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 160. Kabur

    Lexi mendecak ketus, melempar pandangan gusar ke arah jendela Mini Cooper yang mulai berembun. Wajah tampannya tertekuk sempurna, menyiratkan kekesalan yang mendalam akibat ledakan tawa di sampingnya. "Mbak Tasya bisa nggak sih, sehariii aja nggak usah ngeledek aku?" gerutu Lexi dengan nada dongkol yang kentara. " Adiknya lagi pusing setengah mati, terombang-ambing kayak orang bego, malah dijadikan bahan ketawaan. Bagus banget ya punya kakak kayak Mbak." Tasya justru semakin melebarkan senyumannya, sama sekali tidak merasa bersalah setelah puas memojokkan adik lak-lakinya itu. Ia menopang dagu dengan satu tangan di atas setir, menatap Lexi dengan binar mata yang sarat akan kejahilan. "Ya habisnya muka kamu itu lucu banget kalau lagi frustrasi begini, Lex," balas Tasya santai, menepuk bahu tegap Lexi dengan gemas. "Dulu aja sok keren pas pasang badan di depan Bapak demi Angel. Sekarang giliran dikasih dinding es sama dia, langsung ciut dan bingung mau ngapain. Mana Alexis P

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 159. Aku Harus Bagaimana?

    "Tapi Mbak." Lexi menyela, dahinya berkerut dalam seiring ingatan tentang wajah angkuh Angel di Surabaya kembali berputar di dalam benaknya."Kemarin waktu aku nekat samperin dia langsung di lokasi proyeknya di Surabaya Barat, dia bilang... kami sama sekali nggak saling kenal sebelumnya. Dia bahkan manggil aku 'Pak Alexis' dengan nada yang formal dan datar banget. Pandangan matanya sedingin es, bener-bener kayak orang asing yang lagi keganggu sama krisis identitas aku. Kalau dia emang perempuan yang aku perjuangkan dulu, kenapa dia harus bohong kayak gitu?"Mendengar penuturan adiknya, Tasya bukannya ikut bingung, melainkan justru tertawa renyah. Suara tawa khasnya bergema di dalam kabin Mini Cooper yang sempit itu, memecah ketegangan yang sejak tadi menyelimuti Lexi. Tasya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan seolah sudah menduga respons tersebut dari awal."Ya jelaslah dia bakal ngomong kayak gitu, Alexis Permana!" seru Tasya setelah tawanya mereda, menatap Lexi dengan tatapan gemas

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 158. Informasi Tasya

    Lexi menghentikan langkah lebarnya seketika.Jantungnya berdegup kencang, separuh terkejut dan separuh lagi merasakan kelegaan yang aneh di dalam dadanya.Tasya Permana, kakak perempuan keduanya yang selama ini memilih menarik diri dari perang takhta korporasi dan hidup lebih santai, tiba-tiba berdiri di hadapannya. Berbeda dengan Viona yang selalu mengenakan pakaian formal marun atau gelap yang kaku, Tasya pagi ini tampil dengan setelan kasual yang elegan namun santai. Seringai tipis di bibirnya memancarkan aura pemberontakan yang sangat familier bagi Lexi."Mbak Tasya? Kapan balik ke Jakarta?" bisik Lexi, suaranya masih berat sisa amarah dari dalam ruang rapat tadi.Tasya tidak langsung menjawab. Sepasang matanya melirik tajam ke arah pintu ruang rapat pleno yang masih tertutup rapat, namun ia bisa mendengar sayup-sayup suara Abraham yang mulai mengamuk di dalam sana.Dengan gerakan cepat, Tasya menyambar pergelangan tangan Lexi, menarik adiknya itu menjauh dari koridor utama lantai

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 4. Ketemu Mantan

    Mobil Mercedes-Benz hitam itu akhirnya masuk ke area parkir sebuah butik mewah di kawasan elit pusat kota. Begitu mobil berhenti mulus, Angel tidak langsung turun. Dia melirik Lexi lewat spion tengah, merapikan rambutnya sebentar, lalu berdehem pelan."Lexi," panggil Angel. Nadanya sedikit canggung

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 3. Rahasia Baron

    Sementara Mercedes-Benz hitam yang membawa Angel dan Lexi melaju pergi meninggalkan rumah, di belahan kota yang lain, suasana di dalam ruangan kerja Direktur Utama Van Holden Group justru terasa sangat sunyi seperti berada di area kuburan.Ruangan luas itu dilapisi dinding kaca besar yang langsung

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 2. Pejantan Tangguh!

    Setelah keluar dari ruang kerja Baron, Lexi berjalan menuju area belakang yang sepi, di dekat garasi mobil mewah.Dia merogoh kantong celananya, mengeluarkan ponsel yang layarnya sudah sedikit retak, lalu menekan sebuah nomor yang sengaja dia simpan untuk keadaan darurat tertentu terkait masa lalun

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 1. Diminta Menghamili Nyonya Muda

    "Lexi, kalau kau bisa menghamili istriku, aku akan memberikan sejumlah uang yang cukup untuk biaya hidupmu seumur hidup!” Sesuara yang familier tiba-tiba saja berteriak ke arah Lexi, supir pribadi yang tampan milik Keluarga Van Holden.Lexi yang sedang mencuci mobil di halaman, langsung menoleh ke

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status