공유

(Bukan) Tukang Sayur Biasa
(Bukan) Tukang Sayur Biasa
작가: Khai Tsan

Bab 1

작가: Khai Tsan
last update 게시일: 2026-09-10 01:48:38

“Enak enggak, Ton?”

Tono tidak langsung menjawab.

Sejak Anggi keluar dari rumah nomor dua belas, udara dingin Kota Batu yang menusuk tulang mendadak tidak terasa lagi olehnya. Keringat tipis justru mulai bermunculan di pelipis.

Pandangannya terpaku pada sobekan kecil di samping daster merah muda yang dikenakan wanita itu. Jahitan di dekat ketiaknya terbuka beberapa senti. Setiap kali Anggi mengangkat tangan untuk memilih dagangan, celah tersebut ikut melebar dan memperlihatkan kulit putih di sisi tubuhnya.

Tono buru-buru menunduk, pura-pura sibuk merapikan ikatan kangkung di atas keranjang motornya.

Ini orang sadar bajunya sobek apa enggak, sih?

“Ton?”

Sesuatu bergerak di depan wajahnya. Tono tersentak dan mendapati Anggi sedang menggoyangkan seekor ikan mujair.

“Hah? Iya, Mbak?”

“Aku tanya ikannya enak apa enggak.” Anggi memperhatikannya dengan alis terangkat. “Niat jualan gak?”

“Oh, ikan.” Tono tertawa kaku. Ia menerima ikan tersebut, lalu menekan bagian perutnya perlahan. “Enak, Mbak. Ini baru saya ambil subuh tadi di pasar.”

Anggi ikut memperhatikan ikan itu. “Kalau dimasak enaknya diapakan?”

“Digoreng juga sudah enak,” jawab Tono sambil memasukkan ikan ke atas timbangan.

“Cuma digoreng?” tanya Anggi  sekali lagi.

“Bisa dibakar atau dibuat mangut.” Tono menarik kantong plastik dari gulungannya. “Tergantung Mbak sukanya diapakan.”

Anggi memicingkan mata. “Kamu ngomong ikan, kan?”

Tangan Tono berhenti. Senyum tipis terlihat di sudut bibir Anggi, seolah wanita itu sengaja menikmati kepanikannya. “Iya, Mbak. Kan mbak pegang ikan.”

Anggi mengangguk kecil. “Bungkus satu.”

Tono memasukkan ikan ke dalam plastik, kemudian mengambil tomat dan daun bawang sesuai pesanannya. Tangannya bergerak cepat, tetapi pikirannya terus diganggu celah pada daster Anggi.

Setiap pagi, Tono berkeliling dari satu perumahan ke perumahan lain menggunakan motor tua yang bagian belakangnya dipasangi dua keranjang kayu. Pelanggannya kebanyakan ibu rumah tangga.

Namun, dari seluruh pelanggannya, hanya Anggi yang selalu membuatnya salah tingkah.

Usia wanita itu hampir sepuluh tahun lebih tua darinya. Anggi sudah menikah dan tinggal di rumah paling besar di ujung gang. Tapi Tono tidak pernah melihat suaminya.

“Apa lagi Mbak?” tawarnya.

Anggi membungkuk untuk memeriksa isi keranjang. Gerakan itu membuat dasternya tertarik semakin ketat, sementara robekan di sisi tubuhnya kembali terbuka.

Pandangan Tono refleks bergerak ke sana dan Anggi mendadak berdiri tegak. “Matamu melihat apa?”

Tono segera membuang muka. “It..itu… baju, Mbak sobek.”

“Kenapa tidak bilang dari tadi?!”

“Saya mau bilang, tapi takut Mbak tersinggung.”

Nada suara Anggi berubah tajam. Ia menutup robekan dasternya dengan satu tangan, kemudian memandang Tono dari atas sampai bawah. Tatapannya berhenti pada kaus kusam yang dipakai Tono sejak dari pasar. “Pantas dari tadi enggak fokus. Dikasih kesempatan jualan di perumahan, matanya malah jelalatan.”

Wajah Tono memanas. “Saya memang sempat melihat, Mbak,” jawab Tono, menahan malu. “Tapi saya tidak berniat kurang ajar. Saya juga sudah mengalihkan pandangan.”

“Laki-laki kalau ketahuan selalu punya alasan!” Anggi mengeluarkan uang dari saku dasternya, lalu meletakkannya di atas keranjang. “Berapa?”

“Empat puluh tujuh ribu, Mbak.” sahut Tono bercicit.

“Empat puluh ribu aja udah.” 

Tono menghitung uang yang diberikan Anggi. Hanya dua lembar dua puluh ribuan. “Kurang tujuh ribu, Mbak.”

Anggi menatapnya tidak percaya. “Cuma tujuh ribu aja itungan sama pelanggan?”

Setelah menatap Tono beberapa saat, ia mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu dan melemparkannya ke atas tomat. “Ambil aja kembaliannya. Awas kamu kalau main mata!”

Anggi menyambar kantong belanjaannya, kemudian berjalan kembali menuju rumah tanpa mengucapkan terima kasih.

Tono mengembuskan napas panjang setelah pintu pagar tertutup. “Orang kaya, utang tujuh ribu saja masih ditawar,” gumamnya.

Ia menaiki motor, lalu melanjutkan perjalanan. Masih ada dua blok yang harus didatanginya sebelum matahari semakin tinggi.

Menjelang siang, keranjang Tono hampir kosong. Hanya tersisa beberapa ikat sayuran dan seekor ikan mujair yang sengaja disimpannya untuk makan malam. Ia menepi di bawah pohon dekat persimpangan, lalu membuka tas pinggang untuk menghitung hasil jualan.

Jumlahnya masih belum cukup untuk membayar cicilan utang motor bebeknya bulan ini.

Tono baru hendak menyalakan motor ketika suara lemah terdengar dari belakang.

“Cu…”

Ia menoleh.

Seorang nenek berkebaya lusuh berdiri beberapa langkah darinya. Tubuhnya bungkuk, rambutnya memutih seluruhnya, tetapi kedua kakinya tampak bersih meski tidak mengenakan alas. “Ikannya masih ada?” tanyanya.

“Masih, Nek. Tinggal satu.”

Nenek itu menatap kotak ikan dengan mata penuh harap. “Nenek ingin sekali makan ikan. Tapi Nenek tidak punya uang.”

Tono terdiam. Ikan tersebut seharusnya ia sengaja sisakan untuk lauknya selama dua hari. Namun, wajah keriput di hadapannya mengingatkan Tono kepada nenek yang membesarkannya dan meninggal setahun lalu. 

Akhirnya ia membuka kotak es. “Bawa saja, Nek.”

“Untuk Nenek?”

Tono membungkus ikan tersebut dengan plastik, lalu menyerahkannya. “Iya. Tapi harus langsung dimasak biar masih enak, Nek.”

Nenek itu menerima bungkusan dengan kedua tangan. Jemarinya sempat menggenggam tangan Tono, terasa anehnya hangat. “Semoga kebaikanmu dikembalikan berkali-kali lipat ya, Cu.”

“Amin, nek.”

Tono menunduk untuk menutup kotak ikan. Namun, ketika kembali mengangkat kepala, jalan di hadapannya sudah kosong.

“Lho?”

Ia menoleh ke kanan dan kiri. Tidak ada gang maupun kendaraan yang bisa digunakan nenek - nenek kalau pergi secepat itu. Namun saat menengok arah keranjang sayurnya, sesuatu berkilau di antara tumpukan kangkung.

Sebuah cincin keemasan tergeletak di sana.

Tono memungutnya. “Punya Nenek tadi ya?”

Ia baru hendak menyimpannya ke dalam tas ketika cincin itu mendadak terasa panas. Benda tersebut terlepas dari telapak tangannya, meluncur menuju jari manis, lalu mengecil dan mengunci dengan sendirinya.

“Lho?!”

Tono berusaha menariknya, tetapi cincin itu tidak bergerak.

Panas menjalar dari jemarinya menuju seluruh tubuh. Tulang-tulangnya berderak. Kedua lengannya menegang, dadanya terasa sesak, dan jahitan kausnya tertarik seolah tubuhnya membesar dari dalam.

“Aduh… apa-apaan ini?”

Tono mencengkeram setang motor agar tidak jatuh. Napasnya berubah berat. Bahkan suara erangannya terdengar lebih dalam daripada biasanya.

Ketika rasa sakit itu perlahan mereda, Tono mengangkat wajah ke spion. Ia langsung membeku lalu menyentuh wajahnya sendiri.

“Ini… kamu Ton?” tanyanya pada diri sendiri. Ia menarik kerah kausnya yang mendadak terasa mencekik. Jahitan di bagian dada menegang, nyaris robek mengikuti tubuhnya yang kini jauh lebih bidang.

Tono kembali menatap spion dengan napas memburu. Wajah itu memang miliknya, tetapi seperti versi lain yang selama ini tersembunyi di balik tubuh kurus dan penampilan kusamnya.

Kemudian cincin di jarinya kembali berdenyut panas.

“Apa yang dilakukan cincin ini pada tubuhku?!”

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • (Bukan) Tukang Sayur Biasa   Bab 7

    "Mbak ... kok di kamar?" tanya Tono dengan nada tergagap, menahan langkahnya di ambang pintu.Tono tiba-tiba merasa dejavu. Pikirannya seketika melayang pada kejadian di rumah Sinta beberapa saat yang lalu, membuatnya takut kejadian serupa akan terulang kembali.Anggi, yang seolah menyadari perubahan raut wajah Tono, segera membalikkan badan."Tenang, cuma mijit, Ton," bujuk Anggi lembut. "Lagian, kamu kan harus tanggung jawab sama kaki aku.""I-iya, Mbak, kalau begitu," jawab Tono akhirnya mengalah, tidak berani membantah lagi.Tono kemudian kembali memapah Anggi dengan hati-hati menuju ke dalam kamarnya. Aroma wangi khas bunga dari ruangan itu langsung menyeruak, membuat jantung Tono berdebar kencang saat ia mendudukkan Anggi di pinggir kas

  • (Bukan) Tukang Sayur Biasa   Bab 6

    "Maksud Mbak apa?" tanya Tono dengan nada bingung, menatap Anggi yang masih memalingkan wajahnya ke arah lain.Anggi terkejut pelan saat mendengar pertanyaan itu. Jantungnya berdegup kencang karena merasa telah salah bicara di depan pemuda ini. Ia berusaha keras menutupi rasa canggung yang tiba-tiba menguasai rongga dadanya."Sudah, jangan banyak ngomong! Buruan pergi sana," kilah Anggi cepat, nada suaranya dibuat seketus mungkin. "Kamu ini bukannya kerja keliling, malah godain istri orang di sini. 'Dah, aku mau pulang!"Tanpa menunggu balasan Tono, Anggi berbalik dan berjalan membelakangi pemuda itu. Langkahnya terlihat tergesa-gesa, seolah ada yang sedang mengejarnya."Lho, Mbak, aku nggak gitu!" seru Tono panik, merasa harus meluruskan tuduhan tersebut.Tono tidak ingin wanita itu menaruh prasangka buruk kepadanya. Ia segera mempercepat langkah kakinya untuk menyusul Anggi yang semakin menjauh."Sudahlah, Ton! Aku lihat semuanya tadi," sahut Anggi tanpa menoleh sedikit pun."Mbak A

  • (Bukan) Tukang Sayur Biasa   Bab 5

    "A-apa yang tertunda, Teh?" tanya Tono dengan napas tercekat, berusaha menahan kedua tangan Sinta yang semakin beringas mencengkeram kemejanya."Nggak usah pura-pura gak tau gitu dong, Ton. Kamu harus tanggung jawab sudah buat teteh kentang gini," bisik Sinta dengan napas menderu panas.Tangan Sinta meluncur turun, merayap lembut di atas paha Tono yang bidang. Jari-jari lentiknya perlahan bergerak naik ke atas, menyusuri kontur otot paha hingga tepat berhenti di pangkal paha.Sinta dengan sengaja memberikan elusan-elusan provokatif di atas celana jins Tono, tepat di area kejantanannya yang kini mulai bereaksi hebat dan membengkak drastis."Eh, Teh! Jangan, Teh! Mau ngapain?!" Tono merenggut panik, berusaha keras menepis tangan Sinta.Glodak!Karena panik secara tak sengaja Tono menyentuh lampu tidur di atas nakas hingga jatuh, hingga membuat keduanya terkejut.“Ma.. maaf teh! Jangan, teh. Saya gak pernah begitu—”“Teteh ajarin lho, Ton!”Tono menelan ludah dengan susah payah. Tubuhny

  • (Bukan) Tukang Sayur Biasa   Bab 4

    “Teh… Teh Sinta?”Suara Anggi kini sudah sampai persis di depan pintu ruang tamu. Ketukan di kusen pintu terdengar dua kali. “Teh Sinta! Punya garem gak teh!” “Iya, Jeng Anggi! Sebentar!” balas Sinta sedikit berteriak dari dalam. Ia buru-buru merapikan rambut dan bajunya yang sedikit berantakan. “Eh, tapi, Jeng… itu motornya si Tono kok ada parkir di sini? Orangnya ke mana ya?”Sinta tersentak pelan, tapi dengan cepat ia menguasai diri. Ia melangkah keluar pintu dan pura-pura ikut celingukan melihat ke arah motor bebek dengan keranjang sayur di depannya itu. “Hah? Iya kah?” ucap Sinta santai. “Aduh, Jeng, saya juga nggak tahu di mana Mas Tononya. Ini saya juga dari tadi asyik di dapur masak, nggak merhatiin keluar.” Di dalam kamar, Tono yang meringkuk di balik pintu menempelkan telinganya di daun pintu. Jantungnya berdetak seperti mau copot. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya.Gila! Mati aku! Kalau sampai Mbak Anggi tahu aku di sini, bisa viral satu komplek! Mau ditaruh

  • (Bukan) Tukang Sayur Biasa   Bab 3

    Itu… suara apa?!Tono menajamkan pendengarannya.“Lho…?”Suara itu kembali terdengar dari balik salah satu kamar di ujung lorong.“Ah… … sakit….”Dahi Tono langsung berkerut. Kekhawatiran mengalahkan keraguannya untuk memasuki rumah orang tanpa izin.“Teh Sinta?” panggilnya sembari melangkah mendekat. “Teteh kenapa?”Tidak ada jawaban.Pintu kamar tersebut terbuka sedikit. Tono mengetuk permukaannya dua kali sebelum mendorongnya perlahan.“Teh, ini saya, Tono. Saya masuk, ya?”Begitu celah pintu melebar, langkah Tono langsung terhenti.Sinta sedang duduk di tepi kasur dengan sebelah kaki terangkat. Daster rumahan yang dikenakannya tersingkap sampai pertengahan paha, sedangkan kedua tangannya sibuk memijat betis menggunakan minyak urut.Rambutnya yang masih sedikit basah dibiarkan tergerai. Keringat tipis membasahi pelipisnya setiap kali jemarinya menekan bagian kaki yang terasa nyeri.“Ah!”Rintihan Sinta kembali lolos ketika ia salah menekan.Bungkusan ikan asap di tangan Tono hampir

  • (Bukan) Tukang Sayur Biasa   Bab 2

    Tono menatap nanar jalanan kosong di depannya. Pikirannya masih berkecamuk antara kebingungan dan rasa merinding yang belum hilang."Ini bukan mimpi, kan?" gumam Tono pelan menatap wajahnya di spion. Sudah dua ribu dua puluh se…Plak! Ia menampar pipi kanannya sendiri dengan cukup keras."Aduh! Beneran sakit!" ringisnya sambil mengusap pipi yang memerah.Saat pandangannya kembali turun, cincin itu masih bertengger di jari manisnya.Mending dijual buat tambahan modal besok, atau dikembalikan saja kalau ketemu si Nenek lagi, ya? batinnya bimbang. Ia kemudian tidak mengindahkan karena waktu berjalan siang, ia harus buru-buru berjualan sebelum sayurannya layu.Tono pun kembali memacu motor tuanya menuju gang perumahan tempatnya biasa mangkal. Sepanjang jalan, ia terus melamunkan nasib cincin kusam di jarinya itu."Tono! Heh, kok bablas?!"Terdengar teriakan melengking dari pinggir jalan. Kaget bukan main, Tono sampai kehilangan keseimbangan. Ban depan motornya nyaris menghantam batu besar

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status