공유

Bab 2

작가: Khai Tsan
last update 게시일: 2026-09-11 14:38:32

Tono menatap nanar jalanan kosong di depannya. Pikirannya masih berkecamuk antara kebingungan dan rasa merinding yang belum hilang.

"Ini bukan mimpi, kan?" gumam Tono pelan menatap wajahnya di spion. Sudah dua ribu dua puluh se…

Plak! Ia menampar pipi kanannya sendiri dengan cukup keras.

"Aduh! Beneran sakit!" ringisnya sambil mengusap pipi yang memerah.

Saat pandangannya kembali turun, cincin itu masih bertengger di jari manisnya.

Mending dijual buat tambahan modal besok, atau dikembalikan saja kalau ketemu si Nenek lagi, ya? batinnya bimbang. Ia kemudian tidak mengindahkan karena waktu berjalan siang, ia harus buru-buru berjualan sebelum sayurannya layu.

Tono pun kembali memacu motor tuanya menuju gang perumahan tempatnya biasa mangkal. Sepanjang jalan, ia terus melamunkan nasib cincin kusam di jarinya itu.

"Tono! Heh, kok bablas?!"

Terdengar teriakan melengking dari pinggir jalan. Kaget bukan main, Tono sampai kehilangan keseimbangan. Ban depan motornya nyaris menghantam batu besar di pinggir jalan sebelum ia mengerem mendadak.

"Tono ini mau ke mana, toh? Jalan, kok, malah melamun begitu," tegur Bu Lastri. Wanita berdaster oranye itu sudah berdiri berkacak pinggang di samping tempatnya biasa berhenti.

"Eh, maaf, Bu. Sebentar, tak putar dulu motornya," jawab Tono gugup.

Ia buru-buru menurunkan kaki dan bersusah payah memutar stang motornya agar kembali menghadap ke tempat pelanggan-pelanggannya berkumpul. Ternyata, sudah ada dua orang ibu lagi yang ikut menunggu di sana.

"Maaf ya, Ibu-ibu, saya agak kesiangan," ucap Tono cengengesan, mencoba menstandarkan motornya dengan sisa-sisa tenaga.

"Kamu ini sebenarnya mau ke mana, toh?" tanya Bu Endang, mengulang pertanyaan yang belum dijawab tadi.

“Kirain udah kaya kamu Ton.” sahut ibu-ibu yang lain. “Hari ini bawa sayur apa saja, Ton?"

Tono tertawa kecil sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Ini, Bu, cuma ada ...."

Kalimat Tono terhenti seketika. Matanya terbelalak menatap dua keranjang kayunya—sisa beberapa ikat sayurnya kini berubah menjadi aneka sayuran segar yang tertata rapi. Jantungnya berdegup kencang.

"Eh, ini, Bu ... dipilih sendiri saja. Semua ada," jawab Tono tergagap.

Dalam batin, Tono menjerit kebingungan. Apa yang sebenarnya terjadi?! Dagangan Tono yang tadinya hampir habis mendadak menjadi lengkap seolah baru ambil dari pasar. Dan yang lebih aneh semua dagangan Tono adalah sayuran dengan kualitas terbaik.

"Wah, seger-seger banget sayurnya! Pinter milih kamu sekarang, Mas Tono." Bu Lastri memekik girang sambil membolak-balik ikatan bayam.

Tono tanpa sadar mengucek-kucek kedua matanya kuat-kuat, memastikan ia tidak sedang berhalusinasi.

"Iya, Jeng. Cabainya juga bagus-bagus dan besar, nih. Kayak cabainya yang jualan, hihihi," celetuk Bu Wati sambil melirik Tono dengan tatapan genit.

Ketiga ibu rumah tangga itu pun serempak tertawa renyah, membuat Tono semakin salah tingkah. Sejak kapan ibu-ibu di kampungnya menjadi ramah padanya? Biasanya akan mengejeknya lalu bergosip di depan dagangannya.

"Mas Tono juga kelihatan lebih seger hari ini," tambah Bu Endang, ikut-ikutan menatap lekat ke arah pemuda itu.

Ya, kan!

"Iya, lho," puji Bu Lastri, tersenyum manis. “Mas Tono olahraga ya?!”

Tono semakin terheran-heran dengan reaksi mereka.

Apa iya semua kejadian aneh hari ini gara-gara cincin ini? batin Tono masih tak habis pikir. Otaknya terus berusaha mencari logikanya.

"Mas Tono... Haloo, Mas!" Bu Siska melambaikan tangan di depan muka Tono.

Tono terbelalak seketika, seolah kesadarannya baru kembali ke tubuhnya. "Eh, i... iya, Bu? Kenapa?"

"Mas Tono ini kok bengong saja, toh, dari tadi?" lanjut Bu Siska. “Mikir apa sih, Mas?" sahut yang lainnya bahkan sampai ada yang menyenggol tubuhnya sampai limbung.

"Enggak kok, Bu," jawab Tono terbata. "Nggak mikirin apa-apa.”

"Ya iyalah nggak ada yang dipikirin, orang Mas Tono masih bujang," ejek Bu Wati.

"Buruan nikah, Lho, Mas! Keburu kasihan kalau dianggurin," ucap Bu Endang sambil melirik ke arah korsleting Tono.

"Hah?"

Melihat ekspresi panik Tono, ketiga ibu-ibu itu pun tertawa bersama.

“Ngomong-ngomong bu ibu, Teh Sinta tuh udah ada di rumahnya belum ya buk?” Tono mengalihkan pembicaraan.

“Kenapa kamu nanyain Teh Sinta si bahenol? Hayo mau godain ya?”

Tono menghela napas panjang, mencoba menormalkan detak jantungnya karena godaan ibu ibu itu membuatnya kikuk. Dia menunjuk ke sebuah bungkusan koran tebal yang berlapis plastik bening, tergantung manis di dekat setir motornya.

“Ini lho, Bu,” tunjuk Tono.

“Kemarin pagi itu Teh Sinta, minta tolong dibeliin ikan asap ukuran besar.”

Ketiga ibu itu serempak ber-oh-ria. Lalu ada yang menyeletuk agar pesanan Teh Sinta ia antar setelah berkeliling saja. Sependengaran Tono, Teh Sinta habis ribut setelah suaminya baru pulang dinas. Tono pikir, suaminya bermain tangan. Ternyata ribut di ranjang!

Tawa ibu-ibu kembali pecah melihat tingkah penjual sayur kesayangan mereka. Begitu hitungan belanjaan selesai, ketiga nyonya rumah itu pergi menenteng kantong sayur, meninggalkan Tono sendirian di persimpangan.

Saat jalanan kembali sepi, Tono menarik napas panjang. Ia memandangi bungkusan ikan asap, lalu menatap rumah berpagar rapat di ujung jalan. Ucapan ibu-ibu tadi terus terngiang di kepalanya, membuat Tono menggeleng kuat-kuat

Tono membuka jok, memasukkan bungkusan ikan ke dalam kotak es, dan segera menyalakan mesin motornya. “Haah.. paling udah. Jadi tinggal taruh aja ikannya terus pergi.”

Tono pun kembali memacu motornya perlahan, menuju ke sebuah rumah besar di ujung jalan. Sesampainya di sana, Tono mengerutkan dahi.

“Lho, ini pagarnya masih ditutup rapat, tapi kok pintu depan rumahnya udah kebuka lebar?” gumam Tono, dari atas motor.

“Sayang kalau keburu tidak di olah kalau sampai sore.”

Tono turun dari motor, menenteng bungkusan koran berisi ikan asap itu, lalu melangkah santai melewati halaman depan sampai tepat di depan pintu utama yang terbuka setengah. Tono mengetuk pintu kayu itu beberapa kali.

“Tok... tok... tok... Permisi! Teh Sinta! Teh!” panggil Tono lumayan keras.

Hening. Tidak ada sahutan dari dalam.

“Ini Tono, Teh! Mau nganter ikan asap pesenan Teh Sinta kemarin!” serunya lagi, menengok sedikit ke ruang tamu yang sepi.

Masih tidak ada jawaban.

Namun, di tengah kesunyian rumah itu, telinga Tono menangkap sebuah suara sayup-sayup dari dalam.

“Ah....Hmpph..”

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • (Bukan) Tukang Sayur Biasa   Bab 7

    "Mbak ... kok di kamar?" tanya Tono dengan nada tergagap, menahan langkahnya di ambang pintu.Tono tiba-tiba merasa dejavu. Pikirannya seketika melayang pada kejadian di rumah Sinta beberapa saat yang lalu, membuatnya takut kejadian serupa akan terulang kembali.Anggi, yang seolah menyadari perubahan raut wajah Tono, segera membalikkan badan."Tenang, cuma mijit, Ton," bujuk Anggi lembut. "Lagian, kamu kan harus tanggung jawab sama kaki aku.""I-iya, Mbak, kalau begitu," jawab Tono akhirnya mengalah, tidak berani membantah lagi.Tono kemudian kembali memapah Anggi dengan hati-hati menuju ke dalam kamarnya. Aroma wangi khas bunga dari ruangan itu langsung menyeruak, membuat jantung Tono berdebar kencang saat ia mendudukkan Anggi di pinggir kas

  • (Bukan) Tukang Sayur Biasa   Bab 6

    "Maksud Mbak apa?" tanya Tono dengan nada bingung, menatap Anggi yang masih memalingkan wajahnya ke arah lain.Anggi terkejut pelan saat mendengar pertanyaan itu. Jantungnya berdegup kencang karena merasa telah salah bicara di depan pemuda ini. Ia berusaha keras menutupi rasa canggung yang tiba-tiba menguasai rongga dadanya."Sudah, jangan banyak ngomong! Buruan pergi sana," kilah Anggi cepat, nada suaranya dibuat seketus mungkin. "Kamu ini bukannya kerja keliling, malah godain istri orang di sini. 'Dah, aku mau pulang!"Tanpa menunggu balasan Tono, Anggi berbalik dan berjalan membelakangi pemuda itu. Langkahnya terlihat tergesa-gesa, seolah ada yang sedang mengejarnya."Lho, Mbak, aku nggak gitu!" seru Tono panik, merasa harus meluruskan tuduhan tersebut.Tono tidak ingin wanita itu menaruh prasangka buruk kepadanya. Ia segera mempercepat langkah kakinya untuk menyusul Anggi yang semakin menjauh."Sudahlah, Ton! Aku lihat semuanya tadi," sahut Anggi tanpa menoleh sedikit pun."Mbak A

  • (Bukan) Tukang Sayur Biasa   Bab 5

    "A-apa yang tertunda, Teh?" tanya Tono dengan napas tercekat, berusaha menahan kedua tangan Sinta yang semakin beringas mencengkeram kemejanya."Nggak usah pura-pura gak tau gitu dong, Ton. Kamu harus tanggung jawab sudah buat teteh kentang gini," bisik Sinta dengan napas menderu panas.Tangan Sinta meluncur turun, merayap lembut di atas paha Tono yang bidang. Jari-jari lentiknya perlahan bergerak naik ke atas, menyusuri kontur otot paha hingga tepat berhenti di pangkal paha.Sinta dengan sengaja memberikan elusan-elusan provokatif di atas celana jins Tono, tepat di area kejantanannya yang kini mulai bereaksi hebat dan membengkak drastis."Eh, Teh! Jangan, Teh! Mau ngapain?!" Tono merenggut panik, berusaha keras menepis tangan Sinta.Glodak!Karena panik secara tak sengaja Tono menyentuh lampu tidur di atas nakas hingga jatuh, hingga membuat keduanya terkejut.“Ma.. maaf teh! Jangan, teh. Saya gak pernah begitu—”“Teteh ajarin lho, Ton!”Tono menelan ludah dengan susah payah. Tubuhny

  • (Bukan) Tukang Sayur Biasa   Bab 4

    “Teh… Teh Sinta?”Suara Anggi kini sudah sampai persis di depan pintu ruang tamu. Ketukan di kusen pintu terdengar dua kali. “Teh Sinta! Punya garem gak teh!” “Iya, Jeng Anggi! Sebentar!” balas Sinta sedikit berteriak dari dalam. Ia buru-buru merapikan rambut dan bajunya yang sedikit berantakan. “Eh, tapi, Jeng… itu motornya si Tono kok ada parkir di sini? Orangnya ke mana ya?”Sinta tersentak pelan, tapi dengan cepat ia menguasai diri. Ia melangkah keluar pintu dan pura-pura ikut celingukan melihat ke arah motor bebek dengan keranjang sayur di depannya itu. “Hah? Iya kah?” ucap Sinta santai. “Aduh, Jeng, saya juga nggak tahu di mana Mas Tononya. Ini saya juga dari tadi asyik di dapur masak, nggak merhatiin keluar.” Di dalam kamar, Tono yang meringkuk di balik pintu menempelkan telinganya di daun pintu. Jantungnya berdetak seperti mau copot. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya.Gila! Mati aku! Kalau sampai Mbak Anggi tahu aku di sini, bisa viral satu komplek! Mau ditaruh

  • (Bukan) Tukang Sayur Biasa   Bab 3

    Itu… suara apa?!Tono menajamkan pendengarannya.“Lho…?”Suara itu kembali terdengar dari balik salah satu kamar di ujung lorong.“Ah… … sakit….”Dahi Tono langsung berkerut. Kekhawatiran mengalahkan keraguannya untuk memasuki rumah orang tanpa izin.“Teh Sinta?” panggilnya sembari melangkah mendekat. “Teteh kenapa?”Tidak ada jawaban.Pintu kamar tersebut terbuka sedikit. Tono mengetuk permukaannya dua kali sebelum mendorongnya perlahan.“Teh, ini saya, Tono. Saya masuk, ya?”Begitu celah pintu melebar, langkah Tono langsung terhenti.Sinta sedang duduk di tepi kasur dengan sebelah kaki terangkat. Daster rumahan yang dikenakannya tersingkap sampai pertengahan paha, sedangkan kedua tangannya sibuk memijat betis menggunakan minyak urut.Rambutnya yang masih sedikit basah dibiarkan tergerai. Keringat tipis membasahi pelipisnya setiap kali jemarinya menekan bagian kaki yang terasa nyeri.“Ah!”Rintihan Sinta kembali lolos ketika ia salah menekan.Bungkusan ikan asap di tangan Tono hampir

  • (Bukan) Tukang Sayur Biasa   Bab 2

    Tono menatap nanar jalanan kosong di depannya. Pikirannya masih berkecamuk antara kebingungan dan rasa merinding yang belum hilang."Ini bukan mimpi, kan?" gumam Tono pelan menatap wajahnya di spion. Sudah dua ribu dua puluh se…Plak! Ia menampar pipi kanannya sendiri dengan cukup keras."Aduh! Beneran sakit!" ringisnya sambil mengusap pipi yang memerah.Saat pandangannya kembali turun, cincin itu masih bertengger di jari manisnya.Mending dijual buat tambahan modal besok, atau dikembalikan saja kalau ketemu si Nenek lagi, ya? batinnya bimbang. Ia kemudian tidak mengindahkan karena waktu berjalan siang, ia harus buru-buru berjualan sebelum sayurannya layu.Tono pun kembali memacu motor tuanya menuju gang perumahan tempatnya biasa mangkal. Sepanjang jalan, ia terus melamunkan nasib cincin kusam di jarinya itu."Tono! Heh, kok bablas?!"Terdengar teriakan melengking dari pinggir jalan. Kaget bukan main, Tono sampai kehilangan keseimbangan. Ban depan motornya nyaris menghantam batu besar

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status