Share

Bab 53

Author: Khai Tsan
last update publish date: 2026-10-28 11:15:10

Tangan Anggi masih terus mencoba menolak tubuh Tono dengan kuat. Badannya bergerak liar ke sana ke mari, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman erat di pangkuan pemuda itu.

"Tono ... Lepasin aku! Aku datang ke sini bukan untuk hal seperti ini!" teriak Anggi meronta-ronta panik.

"Lantas, Mbak datang ke sini sebenarnya untuk apa ...?" ucap Tono setengah berbisik sambil meneruskan ciumannya yang kini sudah merambat turun sampai ke bagian tulang selangka Anggi.

"Ahhh ... Tono ..." desah Anggi mu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • (Bukan) Tukang Sayur Biasa   Bab 77

    "Tono, kamu yakin bisa melakukannya di sini?" tanya Anggi dengan suara bergetar.Tono tidak menjawab pertanyaan Anggi. Ia kini sepenuhnya fokus menatap belahan basah yang ada tepat di depan matanya.Tono sempat tertegun sesaat karena milik Anggi terlihat sangat terawat dan mulus tanpa sehelai bulu pun."Ton..." panggil Anggi tertahan.Tono lantas membuka belahan itu dengan kedua ibu jarinya di sisi kiri dan kanan. Ia mulai menyapukan lidahnya dengan lembut ke seluruh permukaan sensitif tersebut."Ekh... Emmb, Ton..." desah Anggi tak berdaya.Tangan Anggi seketika terulur meremas rambut Tono dengan kuat."Ahhh... Tono..." rintih Anggi semakin keras.Tono memajukan lidahnya dan menerobos masuk ke dalam lubang di tengah. Anggi hanya bisa menjerit tertahan menahan gelombang nikmat yang datang bertubi-tubi.Tono kemudian melepaskan jari-jarinya dari sana dan mulai meremas pinggul Anggi dengan erat. Ia membenamkan mulutnya tepat di area paling sensitif dan menghisapnya dengan ritme kuat sec

  • (Bukan) Tukang Sayur Biasa   Babb 76

    "Maksud Mbak Anggi apa, ya?" tanya Tono penasaran."Sudahlah, Tono. Aku sudah melihat semuanya. Baru juga sehari buka, tapi kamu sudah mulai bertingkah," ketus Anggi."Melihat semuanya? Mbak sekarang ada di mana?" tanya Tono heran.Tono lantas keluar dari dalam kios dan berdiri di pinggir jalan sambil celingukan ke segala arah. Tidak jauh dari tempatnya, ia melihat mobil SUV hitam milik Anggi terparkir rapi di bahu jalan."Mbak Anggi sudah lama sampai di sini?" tanya Tono mendekat."Tidak lama, tapi cukup untuk melihat semuanya," jawab Anggi dingin."Maksud Mbak apa sih? Melihat apa...?" elak Tono."Melihat kamu memakai kios yang kupercayakan untuk menggoda gadis lain di pertokoan sana!" bentak Anggi kesal."Oalah, cuma masalah itu doang," jawab Tono santai."Mbak tunggu sebentar di situ, biar aku jelaskan semuanya secara langsung," pinta Tono."Sebentar ya, Mbak," sambung Tono langsung mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban Anggi."Mel, aku ada urusan sebentar. Nanti kita

  • (Bukan) Tukang Sayur Biasa   Bab 75

    "Maksud Bu Ningsih gosip apa, ya?" tanya Tono penasaran."Gosipnya, Mas Tono sekarang sudah menikah dengan janda kaya. Makanya, Mas Tono sudah enggak mau lagi jualan sayur keliling.""Dan sepertinya gosip itu benar. Buktinya, sekarang Mas Tono sudah punya kios sendiri," sambung Bu Ningsih terkekeh.Tono hanya bisa nyengir lebar sambil tersenyum lega mendengar gosip yang beredar luas itu.Untung saja mereka tidak tahu cerita yang sebenarnya, batin Tono."Tapi, Mas Tono kok kelihatan makin ganteng saja sih setelah punya istri? Istrinya pasti cantik banget, ya, Mas?" puji Bu Ningsih."Ini Bu Ningsih mau serius belanja, atau cuma mau ngegosip terus, hmmm?" goda Tono."Eheheh, jawab dulu dong, Mas. Nanti biar aku ceritain balik ke ibu-ibu yang lain di kompleks!" desak Bu Ningsih gemas."Eh, eh, Mas Tono, sini deh dekat-dekat," panggil Bu Ningsih.Wanita paruh baya itu mendekatkan wajahnya ke arah Tono lalu berbisik pelan."Jangan bilang ke istrinya, ya... Sebenarnya ibu-ibu di kompleks pad

  • (Bukan) Tukang Sayur Biasa   Bab 74

    Tono terus memainkan lidahnya dengan ritme yang makin cepat. Ia sesekali menggunakan jarinya untuk memberi tekanan lembut di bagian sekitarnya, membuat Amel kian tak berdaya."Ahhh... Mas Tono! Amel... Amel enggak kuat lagi, Mas!" teriak Amel menahan napasnya yang tertahan di tenggorokan.Tubuh Amel mendadak bergetar hebat dari ujung kaki hingga kepala. Pinggulnya terangkat sedikit dari kasur saat cairan kenikmatan menyembur keluar bersamaan dengan puncak pencapaiannya yang pertama kali.Amel terkulai lemas dengan napas memburu dan mata yang terpejam rapat. Tono menyapu sisa-sisa cairan di area tersebut sebelum akhirnya menyunggingkan senyum puas.Tono bangkit berdiri dan membantu merapikan pakaian Amel kembali seperti semula. Ia mengelus pelan rambut gadis itu yang masih basah oleh keringat."Mas Tono mau ke mana?" tanya Amel dengan suara lemas."Sudah mau malam, Mel. Mas mau pulang dulu ke rumah," jawab Tono ramah."Mas enggak mau dibuat enak juga?" tawar Amel malu-malu.Tono tersen

  • (Bukan) Tukang Sayur Biasa   Bab 73

    "Apa yang dilakukan anak ini...?" batin Tono saat menyaksikan dengan jelas Amel yang sedang memainkan tangannya di dalam celana dalam sambil menyaksikan video dewasa dari layar ponselnya.Pintu samping ruko itu bahkan sama sekali tidak dikunci dari dalam. Tono yang merasa serba salah berniat pergi dan meletakkan gelas kopi di atas meja terdekat.Cling!Suara benturan sendok saat Tono meletakkan cangkir seketika memecah keheningan ruangan itu. Suara nyaring tersebut membuat kegiatan rahasia Amel terhenti seketika."Siapa itu?!" teriak Amel panik dari balik tirai pembatas."Maling, ya?! Ada maling!" jerit Amel beruntun mulai histeris.Mendengar Amel mulai berteriak kencang, Tono refleks berlari menghampirinya dan langsung membekap mulut gadis itu erat-erat."Emmmmmm...!" teriakan Amel tersekat di telapak tangan Tono, sementara badannya meronta-ronta ketakutan."Mel... Mel! Tenang dulu, ini aku, Tono!" bisik Tono setengah berteriak di dekat telinganya."Emmmmb...! Lepasin, aku enggak bis

  • (Bukan) Tukang Sayur Biasa   Bab 72

    "Mas... Mas Tono, jangan, Mas! Banyak orang di luar sana," jawab Amel salah tingkah sambil mencoba mundur."Oooh, jadi kalau enggak ada orang di sini, berarti enggak apa-apa, ya?" tanya Tono.Wajah Tono semakin mendekat ke wajah Amel. Tangannya perlahan terulur untuk membelai lembut rambut hitam gadis itu."Tenang saja, Mel... Mas pelan-pelan kok," bisik Tono menggoda."Ma... Mas Tono..." gumam Amel pasrah sambil memejamkan mata rapat-rapat.Ia tampak sangat gugup dan salah tingkah. Tono tiba-tiba tersenyum geli melihat reaksi Amel, kemudian mengambil gelas kopi dari tangan Amel."Makasih ya, Mel, buat kopinya," ucap Tono ramah.Tono langsung berbalik badan dan kembali melanjutkan pekerjaannya merakit kayu. Amel yang merasa malu tidak mengatakan apa-apa lagi.Gadis itu langsung membalikkan badan dan berlari kecil keluar kios. Tono tertawa pelan melihat tingkah Amel.Sikap malu-malu Amel itu membuat Tono jadi teringat pada Rini. Ia lantas mengeluarkan ponsel dari saku celananya untuk m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status