Share

BAB 6 : CELAH

Author: Viole
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-04 16:49:36

Kopi Serena datang dalam cangkir putih polos.

Di seberangnya, Arga sudah membuka laptopnya kembali—tapi layarnya menghadap sudut yang tidak memungkinkan Serena melihat isinya. 

"Clara Anindita," katanya. Melanjutkan dari tadi, tanpa transisi. "Kalau dia memang punya hubungan dengan Revan—kenapa ditempatkan di redaksi saya?"

Arga tidak langsung menjawab. Ia menutup laptopnya pelan.

"Karena redaksi Anda yang paling dekat dengan kasus ini." Matanya bertemu mata Serena. "Dan karena orang yang menempatkannya di sana tahu itu."

"Bima."

"Saya tidak bilang itu."

"Tapi Anda tidak menyangkal."

Sudut bibirnya bergerak—bukan senyum, tapi berdekatan. "Saya menyarankan Anda tidak menarik kesimpulan dari hal yang belum saya konfirmasi."

"Dan saya menyarankan Anda tidak bicara seperti dokumen resmi kalau sedang ngobrol sama saya."

Kali ini ia benar-benar tersenyum—tipis, cepat, tapi ada. Kemudian kembali ke ekspresinya yang biasa seolah tidak terjadi apa-apa.

"Clara belum bisa dikonfirmasi posisinya," katanya. "Yang saya tahu: ia punya riwayat yang perlu diperhatikan. Yang belum saya tahu: untuk siapa, dan seberapa dalam."

"Jadi saya harus bekerja di ruangan yang sama dengan seseorang yang mungkin memantau saya, tanpa bisa melakukan apa-apa."

"Untuk sekarang—ya."

Serena meletakkan cangkirnya. "Menyenangkan sekali."

"Tidak." Nada suaranya tidak berubah, tapi ada sesuatu yang lebih langsung di baliknya. "Tapi lebih baik tahu ada yang memantau daripada tidak tahu."

Serena memandangnya sebentar. Di luar kedai, suara Jakarta sudah mulai penuh—motor, klakson, suara gerobak yang lewat. Dunia yang terus berjalan tanpa peduli ada dua orang di dalam sini yang sedang membicarakan hal yang bisa berbahaya.

"Rekaman Wisnu," kata Serena. "Anda sudah dengar?"

"Belum. Itu milik Anda."

"Tapi Anda tahu isinya."

Jeda yang cukup panjang untuk jadi jawaban.

"Cukup untuk tahu bahwa Anda perlu berhati-hati dengan siapa Anda bicara soal itu." Ia menutup laptopnya, memasukkannya ke tas dengan gerakan yang tidak terburu-buru. "Termasuk di dalam redaksi Anda sendiri."

Serena ingin mengatakan sesuatu. Tapi kalimat yang sudah ia susun di kepala terasa berlebihan tiba-tiba—terlalu banyak untuk ruang yang sebenarnya sudah cukup sempit ini, dengan suara mesin espresso dan orang-orang di meja sebelah yang tertawa soal hal yang tidak penting.

Ia menghabiskan kopinya.

"Saya pergi duluan."

Arga mengangguk. Tidak menahan, tidak menawarkan apa pun lagi. Hanya ada—seperti biasanya, seperti yang mulai Serena sadari sebagai polanya.

Ia berdiri, mengambil tasnya.

"Arga."

Ia mengangkat kepala.

"Terima kasih. Untuk tadi pagi." Ia tidak menjelaskan lebih jauh. Keduanya tahu yang ia maksud.

Satu anggukan. Singkat, tidak dibuat-buat.

Serena keluar.

Dan baru di luar, di tengah udara Jakarta yang sudah penuh knalpot, ia menyadari bahwa percakapan tadi adalah pertama kalinya ia mengucapkan terima kasih kepada seseorang tanpa merasa seperti berutang sesuatu sesudahnya.

Ia tidak tahu harus melakukan apa dengan kesadaran itu.

Jadi ia menyimpannya, melangkah ke parkiran, dan memulai hari.

Serena tiba di kantor pukul 08.47.

Bukan terlambat—tapi juga bukan yang pertama datang, dan itu sendiri sudah cukup untuk membuat Pak Karyo menatapnya sedikit lebih lama dari biasanya di depan lift. Ia tidak menjelaskan. Hanya mengangguk dan masuk.

Di mejanya, kopi dari kedai bawah sudah ada. Americano, masih mengepul.

Serena menatapnya sebentar sebelum duduk.

Clara.

Perempuan itu sudah ada di mejanya sejak entah kapan—rambut bob presisi, blazer krem, jari-jari bergerak di atas keyboard dengan kecepatan yang terlalu santai untuk orang yang baru masuk. Ia mengangkat kepala dan tersenyum begitu Serena duduk. Hangat, terbuka, persis seperti kemarin dan hari sebelumnya.

"Tadi iseng beli dua," kata Clara, menunjuk kopi itu.

"Makasih." Serena membuka laptopnya.

Hening selama tiga menit. Serena membuka email, memeriksa notifikasi, memindai nama-nama pengirim. Di ujung matanya, Clara masih mengetik—tapi layarnya menghadap sudut yang tidak bisa langsung terlihat dari posisi Serena duduk.

Bukan posisi yang kebetulan.

Satu jam kemudian, Bima memanggil Serena ke ruangannya.

Pintu ditutup. Tirai sudah setengah tertarik.

"Ada investor baru masuk minggu ini," kata Bima, tanpa basa-basi. Ia berdiri di depan jendelanya, punggung setengah berbalik. "Mereka minta roadmap konten tiga bulan ke depan. Termasuk kasus yang sedang jalan."

Serena memandangnya. "Investor?"

"Artinya kita perlu tunjukkan progress." Bima berbalik. Wajahnya lelah—tapi lelah yang berbeda dari biasanya, lebih seperti seseorang yang sedang mengelola sesuatu yang tidak ia ceritakan. "Kapan kamu siap naik?"

"Belum."

"Serena—"

"Saya belum punya bukti yang cukup kuat untuk nama yang ada di amplop itu." Serena tidak menaikkan suaranya. "Kalau kita naik sekarang dengan yang ada, kita yang habis duluan."

"Tiga minggu lagi."

"Tidak bisa dijanjikan."

Bima menatapnya. Ada sesuatu di balik matanya yang Serena tidak langsung bisa baca—bukan marah, bukan takut. Lebih seperti seseorang yang sedang menghitung pilihan di kepala dan tidak menyukai semua hasilnya.

"Siapa Investornya?" tanya Serena.

"Konsorsium baru. Fokus media digital."

"Namanya?"

Jeda setengah detik. "Kenapa?"

"Karena saya ingin tahu siapa yang tiba-tiba punya kepentingan soal timeline berita saya."

Bima mengetuk mejanya pelan—sekali, dua kali. Kebiasaan lama yang muncul kalau ia sedang tidak nyaman.

"Kamu terlalu curiga."

"Pekerjaan saya curiga, Bima."

Ia tidak menjawab. Dan diam itu—panjang, sedikit terlalu panjang—menjawab lebih dari yang Serena butuhkan.

Serena kembali ke mejanya dengan kepala yang lebih penuh dari tadi.

Ia membuka log akses di sistem internal—fitur tersembunyi yang ia minta IT pasang dua tahun lalu, setelah satu kasus hampir bocor dari dalam. Tiga nama. Dua miliknya sendiri, satu milik Bima.

Dan satu lagi: C.ANINDITA. Pukul 07.23 pagi ini.

Serena menutup tab itu. Menarik napas. Memindai ruangan—Clara masih di mejanya, masih mengetik, masih dengan postur yang terlalu santai.

"Clara."

Perempuan itu mengangkat kepala. Senyum yang sama. "Ya?"

"Folder kasus Hendratno." Serena menatapnya langsung. "Kamu buka pagi ini."

Bukan pertanyaan.

Clara tidak berkedip. Tidak terkejut—dan itu yang paling mengatakan sesuatu. Orang yang tidak bersalah biasanya butuh satu detik untuk bingung sebelum membela diri. Clara butuh nol detik.

"Bima minta saya cek apakah ada file yang perlu diarsip," katanya. Nada rata, wajar, seperti seseorang yang sudah punya jawaban sebelum pertanyaan datang. "Manajemen arsip standar."

"Bima tidak punya akses ke folder itu. Saya yang pegang password-nya."

"Mungkin ada miskomunikasi soal foldernya." Clara mengangkat bahu satu sisi—ringan, tidak defensif. "Saya tidak buka apa pun yang sensitif."

"Itu bukan jawaban untuk pertanyaan saya."

"Jadi apa pertanyaannya?" Kali ini ada sesuatu yang bergeser di balik matanya—sangat kecil, sangat terkontrol—sebelum senyum itu kembali ke tempat biasanya.

Serena memandangnya tiga detik penuh. Clara membalas tatapan itu tanpa bergerak. 

"Jangan buka folder itu lagi," kata Serena akhirnya.

"Baiklah." Anggukan ringan. Senyum yang tidak berubah. "Maaf kalau jadi salah paham."

Serena kembali ke layarnya.

Tapi malam itu, sebelum pulang, ia memindahkan semua file sensitif ke perangkat terpisah yang tidak pernah menyentuh jaringan kantor. Langkah kecil—tapi untuk orang yang sudah belajar bahwa kerusakan selalu dimulai dari celah yang kelihatan tidak penting, langkah kecil adalah satu-satunya langkah yang masuk akal.

Pukul 21.40. Apartemen Serena. Mie instan, lagi.

Ponselnya bergetar di meja makan.

Satu pesan. Nomor yang sudah ia simpan dengan nama dua huruf: A.M.

Sudah makan?

Serena menatap layar itu lebih lama dari yang seharusnya. Dua kata. Tidak ada konteks kasus, tidak ada peringatan, tidak ada informasi yang perlu ditindaklanjuti.

Ia mengetik: Kenapa?

Tak lama Arga membalas "Hanya bertanya."

Serena tidak membalas. Senyum tipis muncul sebentar, lalu ia letakkan ponselnya dan kembali ke mie instannya.

Baru di suapan terakhir ia sadar — Arga tidak pernah tahu jadwal makannya. Tidak pernah ada yang memberitahu.

Jadi bagaimana dia tahu?

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 43 — Bayang-Bayang yang Tak Pernah Pergi

    Arga memarkir mobil di depan apartemen Serena. Lampu lorong sudah menyala redup, hujan sore Jakarta masih turun tipis-tipis, membuat aspal mengkilap seperti cermin hitam yang memantulkan cahaya neon kota. Ia naik lift dengan langkah cepat tapi tenang, jaket hitamnya masih basah di bahu. Setiap detik terasa berat, seperti beban yang tak kunjung lepas sejak Reno muncul kembali dalam hidup mereka.Serena sudah menunggu di depan pintu. Rambutnya diikat asal, beberapa helai jatuh di dahi. Matanya agak bengkak—bukan karena menangis, Arga tahu itu lebih karena khawatir yang ditahan lama. Wanita itu berdiri dengan lengan memeluk tubuhnya sendiri, seolah mencoba menahan dingin yang datang dari dalam.“Masuk,” kata Serena pelan, suaranya hampir hilang ditelan hujan di luar.Ruangan apartemen terasa hangat dibandingkan udara malam di luar. Aroma kopi yang tadi dibuat Serena masih tersisa, manis dan pahit sekaligus. Arga melepas jaket dan meletakkannya di kursi. Ia tidak langsung duduk. Tubuhnya

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 42 — Pamit

    Lampu merah di perempatan Gatot Subroto.Arga mengerem, tangan kiri di setir, mata menyapu kaca depan dan dua kaca samping secara bergantian. Lalu ke spion. Kendaraan yang berjejal, warna-warni, tidak ada yang kelihatan mencurigakan dari sini.Ponselnya berdering. Serena."Arga, Reno nggak jawab. Chat-ku juga belum dibaca.""Sabar." Lampu hijau. Ia menginjak gas. "Aku baru belok ke arah Gatot Subroto. Kalau dia nurutin arahan tadi, harusnya sudah kelihatan.""Coba kamu percepat.""Lagi."Mesin menderu. Arga menyalip dua kendaraan sekaligus, matanya menyapu tiap sedan hitam dan silver yang ada di depan."Serena, dengerin. Kalau Reno tidak membalas bukan berarti dia kenapa-kenapa. Bisa aja dia lepasin baterai ponselnya sendiri biar nggak dilacak.""Kamu yakin?""Nggak. Tapi itu satu-satunya kemungkinan yang bikin aku masih bisa nyetir dengan tenang sekarang."Serena diam sebentar di ujung sana. Arga tahu itu bukan berarti ia tenang — hanya sedang memilih tidak memperburuk situasi."Aku

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 41 — Tamu Pagi

    Tatapan Reno tidak seperti biasanya.Serena hafal betul mimik wajah mantan suaminya itu ketika butuh bantuan — sudah terlalu sering melihatnya. Tapi kali ini rasanya berbeda. Ada sesuatu di sana yang lebih dalam dari sekadar kepepet."Ada apa lagi?" Serena berdiri di ambang pintu, belum bergeser. "Dan kenapa kamu selalu datang ke apartemenku waktu pagi buta seperti ini?""Maafin aku sebelumnya, Ser." Reno mengusap wajahnya. "Tapi beneran, kali ini aku butuh bantuanmu."Serena menghela napas. Lalu membuka pintu lebih lebar."Yaudah, masuk dulu."Reno duduk di sofa, matanya langsung menyapu ruangan — kiri, kanan, ke arah jendela — dengan cara seseorang yang terbiasa memeriksa tempat sebelum bicara."Aku denger Bima udah resign ya? Berarti kamu penggantinya?""Entahlah. Masih tunggu keputusan direksi."Reno mengepalkan tangannya di atas lutut. Serena menatapnya."Ada apa, Ren?""Setelah kasus ini—" Reno berhenti. "Kamu masih berhubungan sama Arga?""Kami temenan. Udah, jangan ngulur wakt

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 40 — Belum Selesai

    Tiga hari setelah penetapan tersangka Hendra Prawiratama, dunia tetap berputar.Jakarta tidak berhenti macet. Kopi tetap harus dibuat. Artikel tetap harus diedit dan dikirim sebelum deadline. Serena masih bangun pukul enam, masih memeriksa ponselnya sebelum kaki menyentuh lantai, masih minum teh pertama sambil berdiri di dapur karena tidak sabar menunggu duduk.Artikel panjang tentang keluarga Wicaksana tayang dua hari setelah penangkapan Hendra.Dua belas ribu kata. Tiga generasi keluarga. Satu kematian yang selama ini dikubur rapi di balik diagnosis serangan jantung, dan satu anak laki-laki yang akhirnya memilih bicara bukan karena tidak takut lagi — tapi karena diamnya sudah terlalu mahal.Serena menulis semuanya dengan jujur, seperti yang ia janjikan. Termasuk bagian yang tidak nyaman: keputusan-keputusan Hendratno yang bisa diperdebatkan, pilihan bisnisnya yang tidak selalu bersih, hubungannya dengan Hendra yang pada awalnya bukan paksaan.Danu membaca draftnya tiga kali sebelum

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 39 — Tersangka

    Wisnu datang tepat waktu.Serena dan Arga sudah ada di lobi ketika mobilnya berhenti di depan gedung — Serena dengan tas yang tidak pernah ia buka semalam, Arga dengan kemeja yang sama dari kemarin tapi entah bagaimana tetap kelihatan rapi."Tidur berapa jam?" tanya Wisnu begitu mereka masuk."Cukup," jawab Serena."Dua puluh menit," jawab Arga bersamaan.Wisnu menatap keduanya bergantian. Memilih untuk tidak berkomentar.Di dalam mobil, Wisnu menjelaskan susunan hari itu. Danu Wicaksana akan datang pukul sembilan dengan pengacaranya. Bima sudah diantar Revan ke lokasi yang aman sejak semalam dan siap memberikan keterangan tertulis. Dokumen kontrak dan email internal sudah ada di tangan penyidik KPK yang Wisnu percaya — orang yang sama yang pernah bekerja sama dengan Pak Rahmat bertahun-tahun lalu."Revan?" tanya Serena."Sudah di sana.""Dia mau bersaksi juga?""Revan tidak bersaksi secara resmi. Dia hanya... memastikan semua pihak yang perlu hadir, hadir." Wisnu menggerakkan tangann

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 38 — Hutang yang Tidak Pernah Disebut

    Sebuah pesan diterima Serena. Dari Danu Wicaksana."Saya mau bicara. Tapi bukan lewat pesan. Bisa ketemu malam ini?"Serena membaca pesan itu dua kali. "Bisa. Di mana?"Balasannya cepat. Sebuah nama kafe dan alamat — tiga blok dari kantor polisi tempat Hendra baru saja masuk sebagai saksi."Ada apa?" Arga membaca ekspresi Serena sebelum ia sempat bicara."Danu mau ketemu. Malam ini.""Saya ikut.""Arga—""Saya ikut, Serena."Nada itu tidak menyisakan ruang untuk debat. Serena menutup ponselnya."Oke."Danu Wicaksana tidak semuda yang Serena bayangkan.Ia duduk di sudut kafe dengan cangkir teh yang tidak ia sentuh, rambut beruban di pelipis meski usianya mungkin akhir 30 tahunan. Ada kantung di bawah matanya — jenis yang tidak datang dari satu malam tidak tidur, tapi dari berbulan-bulan menyimpan sesuatu yang berat."Serena ya?" Ia berdiri ketika mereka masuk, lalu matanya bergerak ke Arga. "Dan ini?""Rekan saya. Arga Mahendra."Danu menatap Arga sebentar — dengan cara seseorang yang

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 2 : Orang Asing

    Serena tidak cerita soal pria di lorong itu kepada siapa pun.Bukan karena tidak relevan. Tapi karena ia belum tahu cara mendeskripsikannya tanpa terdengar seperti orang yang terlalu memperhatikan orang asing. Dua cangkir kopi. Kalimat yang lebih terasa seperti peringatan daripada percakapan. Pungg

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 1 : Bab Baru yang Tidak Diminta

    "Ren, ada breaking news masuk. Bisa ke kantor jam 6? Ada kasus besar."Serena membaca pesan itu dua kali.Kemudian ia mengetik balasan:"Oke. Aku lagi di jalan."Ia memundurkan mobil dari parkiran. Keluar ke jalanan Jakarta yang padat. Masuk ke dalam arus kota yang tidak pernah berhenti bergerak. S

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 5 : Menteng Dalam

    Rabu. Pukul enam dua puluh pagi.Serena mematikan mesin mobilnya dua rumah dari alamat yang Harmoko berikan. Jalan di kawasan Menteng Dalam ini sempit dan sepi—deretan rumah tua dengan pagar rendah, pohon mangga yang akarnya sudah mengangkat trotoar, satu warung rokok yang belum buka. Cahaya masih

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 3 : Umpan

    Nama itu muncul dua hari setelah telepon Wisnu.Revan Arkana. Direktur Operasional Minerva Advisory. Bima meletakkan fotonya di meja Serena pagi itu—pintu ditutup, tirai ditarik setengah, kebiasaan baru sejak kasus ini masuk ke meja mereka. Rahang tegas, senyum kamera, berdiri di depan gedung kaca

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status