LOGINNama itu muncul dua hari setelah telepon Wisnu.
Revan Arkana. Direktur Operasional Minerva Advisory. Bima meletakkan fotonya di meja Serena pagi itu—pintu ditutup, tirai ditarik setengah, kebiasaan baru sejak kasus ini masuk ke meja mereka. Rahang tegas, senyum kamera, berdiri di depan gedung kaca SCBD dengan cara seseorang yang terbiasa difoto tapi tidak butuh difoto.
"Namanya muncul dua kali di dokumen kamu. Bukan sebagai klien, bukan sebagai auditor." Bima mengetuk foto itu. "Penghubung. Antara siapa dengan siapa—itu yang belum kita tahu. Semua kontak yang aku coba langsung tutup telepon begitu nama Konsorsium disebut."
Serena mempelajari foto itu. Cara berdiri Revan—terlalu rileks, terlalu sadar kamera—mengatakan sesuatu tentang pria yang sudah lama bermain di arena yang tidak kelihatan dari luar. Tipe yang tahu persis berapa banyak yang boleh terlihat, dan menyimpan sisanya sangat dalam.
"Masuk dari pintu lain," katanya.
Pintu itu datang sore harinya dalam bentuk undangan gala dinner—Asosiasi Energi Indonesia, hotel bintang lima kawasan Sudirman, Jumat malam. Nama Revan ada di daftar pembicara. Serena konfirmasi hadir dalam dua menit.
Yang tidak ia ceritakan ke Bima: hampir bersamaan dengan ia menutup email itu, ponselnya bergetar. Nomor tidak dikenal. Enam kata:
Jangan datang ke acara itu sendirian.
Serena membaca pesan itu sekali. Lalu menutup aplikasinya dan menyiapkan blazer hitamnya untuk Jumat malam.
Ia tidak punya siapa pun untuk diajak. Dan ia tidak pernah butuh.
Gala dinner itu persis seperti yang ia bayangkan: setelan mahal, jabat tangan terlatih, tawa yang keluar di waktu yang tepat. Serena mengambil segelas air mineral dan menempatkan dirinya di sudut dengan pandangan terluas.
Gaun hitam selutut yang ia pilih malam ini cukup formal untuk tidak mencolok, cukup sederhana untuk bergerak cepat kalau perlu. Rambut disanggul rendah. Satu anting panjang di telinga kiri—kanan hilang dua tahun lalu dan ia tidak pernah repot mencari gantinya.
Revan mudah ditemukan. Ia bukan yang paling keras bicara—justru sebaliknya. Tapi semua orang di sekelilingnya condong ke depan dengan tubuh yang mengatakan: saya ingin terlihat penting di mata pria ini. Gravitasi yang diam-diam.
Serena mengamatinya tiga puluh menit sebelum bergerak.
"Pak Revan." Ia mengulurkan kartu namanya. "Serena Aksara, Lensa Nusantara. Lima menit?"
Revan memindainya—satu detik, tidak kasar tapi tuntas. Matanya berhenti tepat cukup lama di wajah Serena sebelum turun ke kartu nama di tangannya.
"Topiknya?"
"Konsorsium Energi Nusantara."
Sesuatu bergeser di wajahnya—sangat cepat, sangat kecil. Tapi Serena sudah terlatih menangkap hal seperti itu.
"Saya tidak ada hubungan langsung dengan Konsorsium."
"Saya tahu." Serena tersenyum tipis. "Makanya saya tanya dari sudut yang berbeda."
Revan mempelajarinya sebentar. Lalu senyumnya berubah—lebih tajam, lebih tertarik dari yang pertama.
"Anda lebih berani dari kebanyakan kolega Anda, Mbak Serena."
"Atau lebih ceroboh. Tergantung cara melihatnya."
Ia tertawa kecil—tulus, untuk pertama kalinya malam itu. "Lima menit."
Lima menit berubah jadi dua puluh. Revan tidak memberi Serena apa yang ia butuhkan—terlalu pintar untuk itu. Tapi celah selalu ada pada cara seseorang menghindari pertanyaan: subjek yang dibelokkan terlalu halus, jeda yang sepersekian detik terlalu lama, kata-kata yang dipilih dengan presisi berlebihan. Semua itu menjadi data. Yang Serena bawa pulang: Revan Arkana tahu jauh lebih banyak soal kematian Hendratno dari yang ia akui—dan ia tidak sepenuhnya di pihak Konsorsium, tapi juga tidak di pihak siapa pun yang mudah diidentifikasi.
Tapi bukan itu yang mengganggunya sepanjang perjalanan pulang.
Di tengah percakapan, matanya menangkap sesuatu di sudut kiri ruangan. Seseorang berdiri dengan postur yang terlalu tenang untuk acara networking—memegang segelas air mineral, mengamati ruangan dengan cara yang ia kenal karena itu persis cara yang ia gunakan sendiri.
Kemeja putih. Rambut tidak teratur di bagian depan.
Ketika Revan mengucapkan sesuatu yang memaksa perhatiannya kembali, dan Serena menoleh lagi ke sudut itu—orangnya sudah tidak ada. Seolah tidak pernah berdiri di sana.
—
Senin pagi, amplop itu datang.
Clara membawanya dari resepsionis dengan senyum yang terlalu ringan. "Dikirim subuh. Tidak ada pengirimnya, Mbak"
Serena membukanya di toilet. Di dalam: fotokopi satu halaman dari folder terenkripsi malam pertama kasus ini—tapi versi yang ini bersih, tidak ada tinta yang kabur. Dan di bagian bawah, satu nama yang sebelumnya tidak ada di mana pun.
Nama yang bukan milik orang sembarangan.
Ia melipat kertas itu, masukkan ke dalam tas, kembali ke mejanya dengan langkah yang sama. Tapi sesuatu di dalam dadanya sudah bergeser—kalau nama itu benar, kasus ini bukan lagi sekadar kematian mencurigakan seorang direktur. Ini jauh di atas itu.
Sore itu, telepon kantornya berdering.
"Nama di amplop itu—jangan dicetak dulu." Revan. Tanpa basa-basi, tanpa salam.
"Saya tidak tahu amplop apa yang Anda maksud."
"Mbak tahu." Nadanya berbeda dari gala dinner—lebih keras, seperti seseorang yang mengelola sesuatu yang mulai lepas kendali. "Tujuh hari. Beri saya tujuh hari."
"Kenapa saya harus percaya Anda?"
Jeda—bukan jeda yang menghitung kata, tapi yang mempertimbangkan seberapa jujur ia mau jadi.
"Karena orang yang mengirim amplop itu bukan teman Mbak. Saya yang seharusnya mengirimnya lebih dulu—sebelum dipakai sebagai umpan."
Sambungan putus.
Serena menatap gagang telepon di tangannya. Umpan. Kata yang menyiratkan ada yang memancing, ada yang dipancing—dan ia sudah lama berenang di kolam yang salah tanpa sadar.
Ia mengunci fotokopi itu di laci mejanya. Tujuh hari.
Tapi sebelum itu, ada satu hal yang tidak bisa ia tunda lagi. Terlalu banyak orang yang tahu terlalu banyak tentang pergerakannya—Wisnu, Revan, Clara yang selalu ada di waktu yang terlalu tepat. Dan satu orang yang tidak pernah menjelaskan apa pun, tidak pernah menelepon, tidak pernah mengirim pesan—tapi justru namanya yang paling sering muncul di tepi semua peringatan itu.
Kemeja putih. Dua cangkir kopi. Kalimat yang lebih terasa seperti peringatan daripada percakapan.
Serena menutup laptopnya.
Besok ia akan kembali ke Gatot Subroto—dan kali ini bukan untuk kasus. Kali ini untuk jawaban yang sudah terlalu lama ia tunda.
Serena terbangun dengan kepala yang lebih berat dari semalam.Ia seperti terbangun dari tidur yang terlalu nyenyak setelah terlalu lama tidak tidur cukup. Ia mengangkat kepalanya dari posisi yang tidak ia ingat bagaimana bisa senyaman itu, dan butuh tiga detik untuk menyadari bahwa ada jaket di bahunya yang bukan miliknya.Jaket abu-abu. Kemeja abu-abu.Serena memandang ke seberang meja.Arga sudah di kursinya. Laptop terbuka, kopi di tangan, rambut yang sama tidak teraturnya. Ia mengangkat kepala ketika Serena bergerak, dan untuk sepersekian detik sebelum ekspresinya kembali ke yang biasa, ada sesuatu di matanya yang berbeda. Lebih hangat dari biasanya. Kemudian ia mengangguk pelan. "Pagi.""Pagi." Serena menegakkan punggungnya, merapikan rambutnya dengan tangan, dan memutuskan bahwa jaket di bahunya tidak perlu dikomentari. "Sudah dari kapan?""Subuh." Ia mendorong cangkir kopi ke arahnya. "Sudah saya buatkan."Serena mengambilnya. Meminumnya. Dan memperhatikan. Pagi ini Arga tidak
Serena membacanya dua kali. Kemudian meletakkan ponsel Arga kembali ke tangannya tanpa berkata apa-apa.Di luar mobil, Jakarta sore berjalan seperti biasa. Serena memandang ke depan, ke gedung kantornya yang berdiri di sana seperti hari-hari biasa."Kita tidak bisa ke kantor sekarang," kata Serena akhirnya."Tidak." Arga sudah menyimpan ponselnya. "Dan apartemen Anda juga tidak aman."Serena menarik napas. Kemudian menyalakan mesin mobilnya kembali. "Kemayoran?"Arga memandangnya sebentar. "Kemayoran."Ruangan itu sama seperti yang mereka tinggalkan pagi tadi. Serena meletakkan tasnya dan langsung membuka laptopnya. Arga menutup tirai, memeriksa pintu, melakukan hal-hal yang ia lakukan tanpa perlu diminta.Dua jam berlalu dengan telepon dan pesan terenkripsi. Kontak Serena di KPK setuju menerima dokumen tapi butuh 48 jam untuk verifikasi jalur masuknya. 48 jam yang terasa sangat panjang.Pukul 10.00 malam, Serena menutup laptopnya.Kepalanya berat. Bukan karena mengantuk tapi karena t
Serena terbangun dengan leher yang kaku dan cahaya pagi yang masuk dari celah tirai yang tidak rapat.Satu detik ia tidak tahu di mana ia berada. Detik berikutnya, semuanya kembali — ruangan di Kemayoran, flash drive, rekaman audio, dan fakta bahwa ia rupanya tertidur di kursi kerja dengan kepala yang entah kapan jatuh ke arah bahu kanannya.Ia mengangkat kepala. Menggerakkan lehernya pelan.Di seberang meja, kursi Arga kosong. Laptopnya masih di meja, tapi orangnya tidak ada. Kopi baru, masih mengepul, diletakkan tepat di sebelah laptopnya.Serena menatap cangkir itu sebentar. Kemudian menyesapnya tanpa bergerak dari kursinya, memandang langit-langit, dan mencoba tidak memikirkan fakta bahwa seseorang sudah repot-repot membuatkan kopi sebelum ia terbangun.Tidak berhasil.Arga masuk lima menit kemudian dengan kemeja yang sama dari semalam tapi lengan yang sudah digulung ulang, rambut yang sedikit lebih rapi dari biasanya, dan dua bungkus nasi kuning dari warung bawah gedung. Ia melet
Pesan tiga baris itu masih terbuka di layar ponselnya ketika Serena menelepon Arga.Dua kali nada sambung. Diangkat. "Saya sudah tahu," katanya, sebelum Serena sempat bicara."Wisnu""Saya sedang cek sekarang." Suaranya tenang, tapi ada sesuatu di baliknya yang berbeda dari biasanya, lebih cepat, lebih terfokus. "Jangan pulang ke apartemen malam ini.""Arga""Ada yang pantau pergerakan Anda sejak artikel naik tadi pagi. Kalau mereka kirim pesan itu ke Anda, artinya mereka tahu Anda masih di kantor." Jeda singkat. "Ada tempat yang bisa saya koordinasikan. Aman, setidaknya untuk malam ini."Serena menatap mejanya, laptop yang masih menyala, catatan yang belum selesai, kopi ketiga yang sudah dingin. Di luar jendela, Jakarta sudah gelap."Kirim alamatnya."Tempat yang Arga koordinasikan adalah unit kosong di lantai tujuh gedung lama kawasan Kemayoran, bukan apartemen, lebih seperti ruang kerja yang pernah dipakai dan belum sepenuhnya dikosongkan. Satu meja panjang, dua kursi, lemari arsi
Malam setelah pertemuan di basement itu, Serena duduk di depan laptopnya lebih lama dari yang perlu. Bukan karena ada yang perlu dikerjakan. Tapi ada sesuatu yang tidak mau diam di bagian belakang kepalanya, dan ia sudah cukup jujur dengan dirinya sendiri untuk mengakui bahwa itu bukan soal kasus. Iya. Satu kata, diucapkan dengan nada yang terdengar lebih seperti pengakuan daripada pembelaan diri. Serena menutup laptopnya dan pergi tidur. Berhasil tidak memikirkannya sampai pagi harinya, ketika ia menyeduh kopi dan tanpa alasan yang jelas mengingat bahwa Arga berdiri dua langkah lebih dekat dari biasanya di basement itu, dan tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak mundur. Ia menuangkan kopinya dan memutuskan ada hal yang lebih penting untuk diurus. Yang kemudian benar-benar ada. Revan menghubunginya Rabu sore dengan nomor baru. Gaya bicaranya tidak berubah — langsung, tanpa basa-basi. "Saya punya dokumen internal. Asli. Cukup untuk konfirmasi nama di amplop itu. Syaratnya sat
Serena tidak mencari jawabannya malam itu.Ia letakkan mangkuk kosong di wastafel, matikan lampu dapur, dan memutuskan bahwa ada hal-hal yang lebih produktif untuk dipikirkan sebelum tidur daripada bagaimana Arga Mahendra tahu ia belum makan. Mungkin kebetulan. Mungkin tebakan. Mungkin ia terlalu banyak berpikir.Tapi pagi harinya, ketika alarm berbunyi pukul 05.50 dan hal pertama yang masuk ke kepalanya sebelum ia sempat sepenuhnya sadar adalah pertanyaan yang sama — jadi bagaimana dia tahu — Serena menyerah pada kenyataan bahwa pertanyaan itu tidak akan pergi sendiri.Ia mandi, menyeduh kopi, dan memutuskan untuk tidak memikirkannya. Yang tidak terlalu berhasil.Bahkan Reno saja tak pernah ingat jadwal Serena yang sudah seperti template itu. Reno Pratama memang tidak pernah bisa membaca ruangan dengan benar — apalagi orangnya. Dua tahun menikah, dan ia masih sering datang ke momen yang salah dengan ekspektasi yang salah, lalu bingung kenapa hasilnya tidak seperti yang ia bayangkan.







