Share

BAB 3 : Umpan

Author: Viole
last update publish date: 2026-06-03 14:36:23

Nama itu muncul dua hari setelah telepon Wisnu.

Revan Arkana. Direktur Operasional Minerva Advisory. Bima meletakkan fotonya di meja Serena pagi itu—pintu ditutup, tirai ditarik setengah, kebiasaan baru sejak kasus ini masuk ke meja mereka. Rahang tegas, senyum kamera, berdiri di depan gedung kaca SCBD dengan cara seseorang yang terbiasa difoto tapi tidak butuh difoto.

"Namanya muncul dua kali di dokumen kamu. Bukan sebagai klien, bukan sebagai auditor." Bima mengetuk foto itu. "Penghubung. Antara siapa dengan siapa—itu yang belum kita tahu. Semua kontak yang aku coba langsung tutup telepon begitu nama Konsorsium disebut."

Serena mempelajari foto itu. Cara berdiri Revan—terlalu rileks, terlalu sadar kamera—mengatakan sesuatu tentang pria yang sudah lama bermain di arena yang tidak kelihatan dari luar. Tipe yang tahu persis berapa banyak yang boleh terlihat, dan menyimpan sisanya sangat dalam.

"Masuk dari pintu lain," katanya.

Pintu itu datang sore harinya dalam bentuk undangan gala dinner—Asosiasi Energi Indonesia, hotel bintang lima kawasan Sudirman, Jumat malam. Nama Revan ada di daftar pembicara. Serena konfirmasi hadir dalam dua menit.

Yang tidak ia ceritakan ke Bima: hampir bersamaan dengan ia menutup email itu, ponselnya bergetar. Nomor tidak dikenal. Enam kata:

Jangan datang ke acara itu sendirian.

Serena membaca pesan itu sekali. Lalu menutup aplikasinya dan menyiapkan blazer hitamnya untuk Jumat malam.

Ia tidak punya siapa pun untuk diajak. Dan ia tidak pernah butuh.

Gala dinner itu persis seperti yang ia bayangkan: setelan mahal, jabat tangan terlatih, tawa yang keluar di waktu yang tepat. Serena mengambil segelas air mineral dan menempatkan dirinya di sudut dengan pandangan terluas.

Gaun hitam selutut yang ia pilih malam ini cukup formal untuk tidak mencolok, cukup sederhana untuk bergerak cepat kalau perlu. Rambut disanggul rendah. Satu anting panjang di telinga kiri—kanan hilang dua tahun lalu dan ia tidak pernah repot mencari gantinya.

Revan mudah ditemukan. Ia bukan yang paling keras bicara—justru sebaliknya. Tapi semua orang di sekelilingnya condong ke depan dengan tubuh yang mengatakan: saya ingin terlihat penting di mata pria ini. Gravitasi yang diam-diam.

Serena mengamatinya tiga puluh menit sebelum bergerak.

"Pak Revan." Ia mengulurkan kartu namanya. "Serena Aksara, Lensa Nusantara. Lima menit?"

Revan memindainya—satu detik, tidak kasar tapi tuntas. Matanya berhenti tepat cukup lama di wajah Serena sebelum turun ke kartu nama di tangannya.

"Topiknya?"

"Konsorsium Energi Nusantara."

Sesuatu bergeser di wajahnya—sangat cepat, sangat kecil. Tapi Serena sudah terlatih menangkap hal seperti itu.

"Saya tidak ada hubungan langsung dengan Konsorsium."

"Saya tahu." Serena tersenyum tipis. "Makanya saya tanya dari sudut yang berbeda."

Revan mempelajarinya sebentar. Lalu senyumnya berubah—lebih tajam, lebih tertarik dari yang pertama.

"Anda lebih berani dari kebanyakan kolega Anda, Mbak Serena."

"Atau lebih ceroboh. Tergantung cara melihatnya."

Ia tertawa kecil—tulus, untuk pertama kalinya malam itu. "Lima menit."

Lima menit berubah jadi dua puluh. Revan tidak memberi Serena apa yang ia butuhkan—terlalu pintar untuk itu. Tapi celah selalu ada pada cara seseorang menghindari pertanyaan: subjek yang dibelokkan terlalu halus, jeda yang sepersekian detik terlalu lama, kata-kata yang dipilih dengan presisi berlebihan. Semua itu menjadi data. Yang Serena bawa pulang: Revan Arkana tahu jauh lebih banyak soal kematian Hendratno dari yang ia akui—dan ia tidak sepenuhnya di pihak Konsorsium, tapi juga tidak di pihak siapa pun yang mudah diidentifikasi.

Tapi bukan itu yang mengganggunya sepanjang perjalanan pulang.

Di tengah percakapan, matanya menangkap sesuatu di sudut kiri ruangan. Seseorang berdiri dengan postur yang terlalu tenang untuk acara networking—memegang segelas air mineral, mengamati ruangan dengan cara yang ia kenal karena itu persis cara yang ia gunakan sendiri.

Kemeja putih. Rambut tidak teratur di bagian depan.

Ketika Revan mengucapkan sesuatu yang memaksa perhatiannya kembali, dan Serena menoleh lagi ke sudut itu—orangnya sudah tidak ada. Seolah tidak pernah berdiri di sana.

Senin pagi, amplop itu datang.

Clara membawanya dari resepsionis dengan senyum yang terlalu ringan. "Dikirim subuh. Tidak ada pengirimnya, Mbak"

Serena membukanya di toilet. Di dalam: fotokopi satu halaman dari folder terenkripsi malam pertama kasus ini—tapi versi yang ini bersih, tidak ada tinta yang kabur. Dan di bagian bawah, satu nama yang sebelumnya tidak ada di mana pun.

Nama yang bukan milik orang sembarangan.

Ia melipat kertas itu, masukkan ke dalam tas, kembali ke mejanya dengan langkah yang sama. Tapi sesuatu di dalam dadanya sudah bergeser—kalau nama itu benar, kasus ini bukan lagi sekadar kematian mencurigakan seorang direktur. Ini jauh di atas itu.

Sore itu, telepon kantornya berdering.

"Nama di amplop itu—jangan dicetak dulu." Revan. Tanpa basa-basi, tanpa salam.

"Saya tidak tahu amplop apa yang Anda maksud."

"Mbak tahu." Nadanya berbeda dari gala dinner—lebih keras, seperti seseorang yang mengelola sesuatu yang mulai lepas kendali. "Tujuh hari. Beri saya tujuh hari."

"Kenapa saya harus percaya Anda?"

Jeda—bukan jeda yang menghitung kata, tapi yang mempertimbangkan seberapa jujur ia mau jadi.

"Karena orang yang mengirim amplop itu bukan teman Mbak. Saya yang seharusnya mengirimnya lebih dulu—sebelum dipakai sebagai umpan."

Sambungan putus.

Serena menatap gagang telepon di tangannya. Umpan. Kata yang menyiratkan ada yang memancing, ada yang dipancing—dan ia sudah lama berenang di kolam yang salah tanpa sadar.

Ia mengunci fotokopi itu di laci mejanya. Tujuh hari.

Tapi sebelum itu, ada satu hal yang tidak bisa ia tunda lagi. Terlalu banyak orang yang tahu terlalu banyak tentang pergerakannya—Wisnu, Revan, Clara yang selalu ada di waktu yang terlalu tepat. Dan satu orang yang tidak pernah menjelaskan apa pun, tidak pernah menelepon, tidak pernah mengirim pesan—tapi justru namanya yang paling sering muncul di tepi semua peringatan itu.

Kemeja putih. Dua cangkir kopi. Kalimat yang lebih terasa seperti peringatan daripada percakapan.

Serena menutup laptopnya.

Besok ia akan kembali ke Gatot Subroto—dan kali ini bukan untuk kasus. Kali ini untuk jawaban yang sudah terlalu lama ia tunda.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 43 — Bayang-Bayang yang Tak Pernah Pergi

    Arga memarkir mobil di depan apartemen Serena. Lampu lorong sudah menyala redup, hujan sore Jakarta masih turun tipis-tipis, membuat aspal mengkilap seperti cermin hitam yang memantulkan cahaya neon kota. Ia naik lift dengan langkah cepat tapi tenang, jaket hitamnya masih basah di bahu. Setiap detik terasa berat, seperti beban yang tak kunjung lepas sejak Reno muncul kembali dalam hidup mereka.Serena sudah menunggu di depan pintu. Rambutnya diikat asal, beberapa helai jatuh di dahi. Matanya agak bengkak—bukan karena menangis, Arga tahu itu lebih karena khawatir yang ditahan lama. Wanita itu berdiri dengan lengan memeluk tubuhnya sendiri, seolah mencoba menahan dingin yang datang dari dalam.“Masuk,” kata Serena pelan, suaranya hampir hilang ditelan hujan di luar.Ruangan apartemen terasa hangat dibandingkan udara malam di luar. Aroma kopi yang tadi dibuat Serena masih tersisa, manis dan pahit sekaligus. Arga melepas jaket dan meletakkannya di kursi. Ia tidak langsung duduk. Tubuhnya

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 42 — Pamit

    Lampu merah di perempatan Gatot Subroto.Arga mengerem, tangan kiri di setir, mata menyapu kaca depan dan dua kaca samping secara bergantian. Lalu ke spion. Kendaraan yang berjejal, warna-warni, tidak ada yang kelihatan mencurigakan dari sini.Ponselnya berdering. Serena."Arga, Reno nggak jawab. Chat-ku juga belum dibaca.""Sabar." Lampu hijau. Ia menginjak gas. "Aku baru belok ke arah Gatot Subroto. Kalau dia nurutin arahan tadi, harusnya sudah kelihatan.""Coba kamu percepat.""Lagi."Mesin menderu. Arga menyalip dua kendaraan sekaligus, matanya menyapu tiap sedan hitam dan silver yang ada di depan."Serena, dengerin. Kalau Reno tidak membalas bukan berarti dia kenapa-kenapa. Bisa aja dia lepasin baterai ponselnya sendiri biar nggak dilacak.""Kamu yakin?""Nggak. Tapi itu satu-satunya kemungkinan yang bikin aku masih bisa nyetir dengan tenang sekarang."Serena diam sebentar di ujung sana. Arga tahu itu bukan berarti ia tenang — hanya sedang memilih tidak memperburuk situasi."Aku

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 41 — Tamu Pagi

    Tatapan Reno tidak seperti biasanya.Serena hafal betul mimik wajah mantan suaminya itu ketika butuh bantuan — sudah terlalu sering melihatnya. Tapi kali ini rasanya berbeda. Ada sesuatu di sana yang lebih dalam dari sekadar kepepet."Ada apa lagi?" Serena berdiri di ambang pintu, belum bergeser. "Dan kenapa kamu selalu datang ke apartemenku waktu pagi buta seperti ini?""Maafin aku sebelumnya, Ser." Reno mengusap wajahnya. "Tapi beneran, kali ini aku butuh bantuanmu."Serena menghela napas. Lalu membuka pintu lebih lebar."Yaudah, masuk dulu."Reno duduk di sofa, matanya langsung menyapu ruangan — kiri, kanan, ke arah jendela — dengan cara seseorang yang terbiasa memeriksa tempat sebelum bicara."Aku denger Bima udah resign ya? Berarti kamu penggantinya?""Entahlah. Masih tunggu keputusan direksi."Reno mengepalkan tangannya di atas lutut. Serena menatapnya."Ada apa, Ren?""Setelah kasus ini—" Reno berhenti. "Kamu masih berhubungan sama Arga?""Kami temenan. Udah, jangan ngulur wakt

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 40 — Belum Selesai

    Tiga hari setelah penetapan tersangka Hendra Prawiratama, dunia tetap berputar.Jakarta tidak berhenti macet. Kopi tetap harus dibuat. Artikel tetap harus diedit dan dikirim sebelum deadline. Serena masih bangun pukul enam, masih memeriksa ponselnya sebelum kaki menyentuh lantai, masih minum teh pertama sambil berdiri di dapur karena tidak sabar menunggu duduk.Artikel panjang tentang keluarga Wicaksana tayang dua hari setelah penangkapan Hendra.Dua belas ribu kata. Tiga generasi keluarga. Satu kematian yang selama ini dikubur rapi di balik diagnosis serangan jantung, dan satu anak laki-laki yang akhirnya memilih bicara bukan karena tidak takut lagi — tapi karena diamnya sudah terlalu mahal.Serena menulis semuanya dengan jujur, seperti yang ia janjikan. Termasuk bagian yang tidak nyaman: keputusan-keputusan Hendratno yang bisa diperdebatkan, pilihan bisnisnya yang tidak selalu bersih, hubungannya dengan Hendra yang pada awalnya bukan paksaan.Danu membaca draftnya tiga kali sebelum

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 39 — Tersangka

    Wisnu datang tepat waktu.Serena dan Arga sudah ada di lobi ketika mobilnya berhenti di depan gedung — Serena dengan tas yang tidak pernah ia buka semalam, Arga dengan kemeja yang sama dari kemarin tapi entah bagaimana tetap kelihatan rapi."Tidur berapa jam?" tanya Wisnu begitu mereka masuk."Cukup," jawab Serena."Dua puluh menit," jawab Arga bersamaan.Wisnu menatap keduanya bergantian. Memilih untuk tidak berkomentar.Di dalam mobil, Wisnu menjelaskan susunan hari itu. Danu Wicaksana akan datang pukul sembilan dengan pengacaranya. Bima sudah diantar Revan ke lokasi yang aman sejak semalam dan siap memberikan keterangan tertulis. Dokumen kontrak dan email internal sudah ada di tangan penyidik KPK yang Wisnu percaya — orang yang sama yang pernah bekerja sama dengan Pak Rahmat bertahun-tahun lalu."Revan?" tanya Serena."Sudah di sana.""Dia mau bersaksi juga?""Revan tidak bersaksi secara resmi. Dia hanya... memastikan semua pihak yang perlu hadir, hadir." Wisnu menggerakkan tangann

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 38 — Hutang yang Tidak Pernah Disebut

    Sebuah pesan diterima Serena. Dari Danu Wicaksana."Saya mau bicara. Tapi bukan lewat pesan. Bisa ketemu malam ini?"Serena membaca pesan itu dua kali. "Bisa. Di mana?"Balasannya cepat. Sebuah nama kafe dan alamat — tiga blok dari kantor polisi tempat Hendra baru saja masuk sebagai saksi."Ada apa?" Arga membaca ekspresi Serena sebelum ia sempat bicara."Danu mau ketemu. Malam ini.""Saya ikut.""Arga—""Saya ikut, Serena."Nada itu tidak menyisakan ruang untuk debat. Serena menutup ponselnya."Oke."Danu Wicaksana tidak semuda yang Serena bayangkan.Ia duduk di sudut kafe dengan cangkir teh yang tidak ia sentuh, rambut beruban di pelipis meski usianya mungkin akhir 30 tahunan. Ada kantung di bawah matanya — jenis yang tidak datang dari satu malam tidak tidur, tapi dari berbulan-bulan menyimpan sesuatu yang berat."Serena ya?" Ia berdiri ketika mereka masuk, lalu matanya bergerak ke Arga. "Dan ini?""Rekan saya. Arga Mahendra."Danu menatap Arga sebentar — dengan cara seseorang yang

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 6 : CELAH

    Kopi Serena datang dalam cangkir putih polos.Di seberangnya, Arga sudah membuka laptopnya kembali—tapi layarnya menghadap sudut yang tidak memungkinkan Serena melihat isinya. "Clara Anindita," katanya. Melanjutkan dari tadi, tanpa transisi. "Kalau dia memang punya hubungan dengan Revan—kenapa dit

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 5 : Menteng Dalam

    Rabu. Pukul enam dua puluh pagi.Serena mematikan mesin mobilnya dua rumah dari alamat yang Harmoko berikan. Jalan di kawasan Menteng Dalam ini sempit dan sepi—deretan rumah tua dengan pagar rendah, pohon mangga yang akarnya sudah mengangkat trotoar, satu warung rokok yang belum buka. Cahaya masih

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 4 : Arga Mahendra

    Gedung tua Gatot Subroto terlihat lebih kusam di siang hari.Serena parkir dua blok dari gedung—kebiasaan lama, tidak pernah ia pikirkan secara sadar. Ia berjalan dengan langkah yang tidak terburu-buru tapi tidak pelan, blazer hitam tipis di atas kemeja putih yang tucked-in rapi, rambut dikuncir re

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 1 : Bab Baru yang Tidak Diminta

    "Ren, ada breaking news masuk. Bisa ke kantor jam 6? Ada kasus besar."Serena membaca pesan itu dua kali.Kemudian ia mengetik balasan:"Oke. Aku lagi di jalan."Ia memundurkan mobil dari parkiran. Keluar ke jalanan Jakarta yang padat. Masuk ke dalam arus kota yang tidak pernah berhenti bergerak. S

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status