Home / Romansa / Bukan Untuk Dicintai / BAB 5 : Menteng Dalam

Share

BAB 5 : Menteng Dalam

Author: Viole
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-03 17:51:32

Rabu. Pukul enam dua puluh pagi.

Serena mematikan mesin mobilnya dua rumah dari alamat yang Harmoko berikan. Jalan di kawasan Menteng Dalam ini sempit dan sepi—deretan rumah tua dengan pagar rendah, pohon mangga yang akarnya sudah mengangkat trotoar, satu warung rokok yang belum buka. Cahaya masih abu-abu. Udara masih bisa dihirup tanpa rasa knalpot.

Ia duduk sebentar di balik setir.

Kemarin malam ia hampir mengirim pesan ke nomor yang tertera di kartu Arga—hampir, tapi tidak jadi. Bukan karena tidak mau. Tapi karena menerima tawaran seseorang yang belum ia pahami sepenuhnya terasa seperti membuka pintu yang belum ia putuskan mau dibuka.

Jadi ia datang sendiri.

Seperti biasanya.

Rumah itu nomor tujuh belas—cat putih yang mulai mengelupas di sudut, jendela dengan tirai yang ditarik rapat, pot tanaman di depan pintu yang disiram tapi tidak dirawat. Serena mengetuk dua kali.

Tidak ada jawaban.

Ia mengetuk lagi. Kali ini tiga ketukan, lebih pelan—ritme yang terasa seperti kode, bukan tergesa.

Pintu terbuka.

Wisnu Prasetya terlihat lebih tua dari foto terakhirnya di database firma—wajah yang lebih cekung, mata yang terlalu lelah untuk usia lima puluhan, baju tidur yang sepertinya sudah beberapa hari tidak diganti. Ia memandang Serena, kemudian memandang ke kiri dan kanan jalan di belakangnya.

"Sendiri?"

"Sendiri."

Ia membuka pintu lebih lebar.

Ruang tamu itu kecil dan hampir tanpa furnitur—satu sofa, satu meja rendah, kardus-kardus yang belum dibuka di sudut. Seperti orang yang tidak yakin akan tinggal cukup lama untuk layak membereskan tempatnya.

Wisnu duduk di sofa. Serena duduk di hadapannya, punggung tegak, recorder di atas meja—ia meletakkannya tanpa permisi, tapi juga tanpa menyalakannya dulu. Isyarat: aku bisa menghormati batasmu, tapi aku tidak datang untuk bicara tanpa jejak.

Wisnu menatap recorder itu. Mengangguk pelan.

Serena menyalakannya.

"Laporan audit itu selesai tiga tahun lalu," mulai Wisnu, tanpa basa-basi seolah ia sudah mengulang kalimat ini dalam kepalanya berkali-kali. "Saya yang pegang. Tim saya empat orang. Dua dari empat itu sekarang sudah tidak bisa dihubungi."

"Tidak bisa dihubungi artinya?"

"Artinya nomor mati, alamat kosong, dan satu dari mereka masuk rumah sakit bulan lalu dengan diagnosis yang tidak masuk akal untuk usianya." Wisnu menatap tangannya sendiri. "Kecelakaan, kata keluarganya."

Serena tidak bergerak. "Isi laporannya?"

"Konsorsium punya dua set pembukuan. Yang satu untuk regulator, yang satu untuk orang-orang di belakangnya." Wisnu akhirnya mengangkat kepala. "Dana yang masuk dari proyek-proyek energi negara—sebagian besar tidak sampai ke tujuan yang tertera. Dialirkan ke rekening perantara, dipecah kecil-kecil, lalu masuk ke kantong-kantong yang..." ia berhenti. "Yang pemiliknya bukan orang yang seharusnya punya uang sebanyak itu."

"Nama di amplop yang saya terima Senin lalu—"

Wisnu menarik napas panjang. "Saya tahu nama siapa yang Anda maksud."

"Apakah nama itu benar?"

Diam lima detik yang terasa jauh lebih panjang.

"Benar." Suaranya turun setengah nada. "Dan itulah kenapa Hendratno Wicaksana tidak mati karena serangan jantung."

Serena keluar dari rumah 17 pukul 07.14

Pagi sudah lebih terang. Warung rokok sudah buka, seorang bapak tua sedang menyapu depan rumahnya, motor pertama mulai melintas. Jakarta yang normal, tidak tahu bahwa dua puluh meter dari sini ada pria yang menyimpan cukup informasi untuk mengguncang beberapa nama besar sekaligus.

Serena berjalan ke mobilnya.

Ia membuka pintu, melempar tas ke kursi penumpang—dan berhenti.

Di atas dashboard, ada selembar kertas kecil yang dilipat sekali. Ia tidak meninggalkan apa pun di sana tadi.

Ia mengambilnya.

Tulisan tangan, tinta hitam, tiga baris:

Wisnu tidak aman di sini lebih dari 48 jam. Ada yang mengikuti Anda dari Kuningan pagi ini. Parkir Anda terlalu dekat.

Tidak ada tanda tangan.

Serena membaca tiga baris itu dua kali. Mendongak, memindai jalan—tidak ada yang mencolok. Tapi itulah masalahnya. Orang yang terlatih tidak akan terlihat mencolok. Mobilnya tidak dikunci tadi—kebiasaan buruk yang belum pernah jadi masalah sampai sekarang.

Tulisan tangannya rapi tapi tidak kaku. Miring sedikit ke kanan, seperti orang yang terbiasa menulis cepat tapi tetap terbaca. Dan pilihan katanya—tidak aman, mengikuti, terlalu dekat—bukan gaya orang yang panik. Ini gaya orang yang sudah menghitung.

Serena melipat kertas itu dan memasukkannya ke saku. Menyalakan mesin.

Hanya satu orang yang tahu ia ke sini pagi ini. Hanya satu orang yang punya alasan untuk memantau, untuk peduli, dan untuk masuk ke mobilnya tanpa meninggalkan jejak lain selain tiga baris tulisan tangan di atas dashboard.

Di sudut kanan kertas itu, hampir tidak terlihat kalau tidak dicari—nomor telepon. Enam digit terakhir yang berbeda dari kartu nama kemarin.

Serena menatap angka itu sebentar. Lalu mengambil ponselnya.

Pesan singkat, tiga kata: Anda di mana?

Balasan datang dalam empat puluh detik.

Sebuah pin lokasi. Dua blok dari kantor redaksinya.

Kedai kopi itu kecil dan tidak mencolok—persis jenis tempat yang dipilih orang yang tidak ingin ditemukan oleh sembarang orang, tapi cukup mudah dijangkau kalau tahu ke mana harus pergi. Arga duduk di meja pojok, laptop terbuka, kopi yang sepertinya sudah setengah dingin. Kemeja abu-abu hari ini, rambut yang sama tidak teraturnya.

Ia mengangkat kepala ketika Serena masuk. Tidak terkejut.

Serena menarik kursi di seberangnya dan duduk tanpa diundang.

Ia menutup laptopnya pelan.

"Kebiasaan buruk untuk seseorang yang sedang digali pergerakannya."

"Saya bisa jaga diri sendiri."

"Saya tahu." Nada suaranya tidak berubah—tapi kali ini tidak ada jarak yang biasanya ia jaga. "Makanya saya tidak ikut ke dalam. Cukup titip catatan."

Serena menatapnya. Di siang hari, di kedai yang ramai dengan suara mesin espresso dan percakapan orang-orang yang tidak peduli dengan siapa pun di sekitar mereka, Arga terlihat lebih... biasa. Bukan dalam arti yang mengurangi—tapi dalam arti seseorang yang tidak sedang menjaga persona. Hanya duduk. Hanya ada.

"Siapa yang mengikuti saya?"

"Dua orang. Bergantian sejak Anda keluar dari apartemen tadi pagi. Mereka berhenti di ujung kawasan Menteng Dalam—tidak masuk." Ia menyesap kopinya. "Kemungkinan mereka tidak tahu Anda ke mana. Hanya tahu Anda pergi."

"Wisnu perlu dipindahkan."

"Sudah saya koordinasikan. Ada tempat yang lebih aman, setidaknya untuk dua minggu ke depan."

Serena mengerutkan kening. "Anda koordinasikan tanpa bilang saya dulu?"

"Anda sedang di dalam rumah Wisnu." Sudut bibirnya bergerak—tipis, bukan senyum penuh tapi berdekatan. "Saya tidak bisa ketuk pintu dan bilang permisi, boleh konsultasi sebentar."

Serena hampir menjawab. Tapi kalimat itu—diucapkan dengan nada yang sama persis seperti ketika ia membicarakan hal serius—membuat jawabannya macet di tengah jalan.

Ia menarik napas.

"Nama di amplop itu," katanya, lebih pelan. "Anda sudah tahu sejak kapan?"

Arga meletakkan cangkirnya. Kali ini ia tidak langsung menjawab—bukan karena menghindari, tapi seperti seseorang yang sedang memilih kata dengan hati-hati bukan untuk menyembunyikan, tapi karena tidak semua kebenaran cukup mudah diucapkan sekaligus.

"Cukup lama," katanya akhirnya.

"Dan Anda tidak melakukan apa-apa."

"Saya melakukan sesuatu." Matanya bertemu mata Serena—langsung, tidak menghindar. "Saya memastikan Anda tidak sendirian waktu akhirnya menemukan nama itu."

Serena tidak menjawab.

Kalimat itu menempel di suatu tempat di dadanya dengan cara yang tidak ia suka—bukan karena salah, justru karena terlalu tepat. Dan hal-hal yang terlalu tepat, dari seseorang yang tidak pernah meminta apa pun, selalu jauh lebih sulit ditangani daripada ancaman yang jelas bentuknya.

Pelayan datang menawari Serena menu. Ia memesan kopi hitam tanpa melihat daftarnya.

Dan untuk pertama kalinya pagi itu, suasana di antara mereka tidak terasa seperti dua orang yang saling menilai.

Hanya dua orang yang duduk di meja yang sama, dengan masalah yang sama, dan jarak yang perlahan—tanpa izin, tanpa rencana—mulai terasa lebih sempit dari sebelumnya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 43 — Bayang-Bayang yang Tak Pernah Pergi

    Arga memarkir mobil di depan apartemen Serena. Lampu lorong sudah menyala redup, hujan sore Jakarta masih turun tipis-tipis, membuat aspal mengkilap seperti cermin hitam yang memantulkan cahaya neon kota. Ia naik lift dengan langkah cepat tapi tenang, jaket hitamnya masih basah di bahu. Setiap detik terasa berat, seperti beban yang tak kunjung lepas sejak Reno muncul kembali dalam hidup mereka.Serena sudah menunggu di depan pintu. Rambutnya diikat asal, beberapa helai jatuh di dahi. Matanya agak bengkak—bukan karena menangis, Arga tahu itu lebih karena khawatir yang ditahan lama. Wanita itu berdiri dengan lengan memeluk tubuhnya sendiri, seolah mencoba menahan dingin yang datang dari dalam.“Masuk,” kata Serena pelan, suaranya hampir hilang ditelan hujan di luar.Ruangan apartemen terasa hangat dibandingkan udara malam di luar. Aroma kopi yang tadi dibuat Serena masih tersisa, manis dan pahit sekaligus. Arga melepas jaket dan meletakkannya di kursi. Ia tidak langsung duduk. Tubuhnya

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 42 — Pamit

    Lampu merah di perempatan Gatot Subroto.Arga mengerem, tangan kiri di setir, mata menyapu kaca depan dan dua kaca samping secara bergantian. Lalu ke spion. Kendaraan yang berjejal, warna-warni, tidak ada yang kelihatan mencurigakan dari sini.Ponselnya berdering. Serena."Arga, Reno nggak jawab. Chat-ku juga belum dibaca.""Sabar." Lampu hijau. Ia menginjak gas. "Aku baru belok ke arah Gatot Subroto. Kalau dia nurutin arahan tadi, harusnya sudah kelihatan.""Coba kamu percepat.""Lagi."Mesin menderu. Arga menyalip dua kendaraan sekaligus, matanya menyapu tiap sedan hitam dan silver yang ada di depan."Serena, dengerin. Kalau Reno tidak membalas bukan berarti dia kenapa-kenapa. Bisa aja dia lepasin baterai ponselnya sendiri biar nggak dilacak.""Kamu yakin?""Nggak. Tapi itu satu-satunya kemungkinan yang bikin aku masih bisa nyetir dengan tenang sekarang."Serena diam sebentar di ujung sana. Arga tahu itu bukan berarti ia tenang — hanya sedang memilih tidak memperburuk situasi."Aku

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 41 — Tamu Pagi

    Tatapan Reno tidak seperti biasanya.Serena hafal betul mimik wajah mantan suaminya itu ketika butuh bantuan — sudah terlalu sering melihatnya. Tapi kali ini rasanya berbeda. Ada sesuatu di sana yang lebih dalam dari sekadar kepepet."Ada apa lagi?" Serena berdiri di ambang pintu, belum bergeser. "Dan kenapa kamu selalu datang ke apartemenku waktu pagi buta seperti ini?""Maafin aku sebelumnya, Ser." Reno mengusap wajahnya. "Tapi beneran, kali ini aku butuh bantuanmu."Serena menghela napas. Lalu membuka pintu lebih lebar."Yaudah, masuk dulu."Reno duduk di sofa, matanya langsung menyapu ruangan — kiri, kanan, ke arah jendela — dengan cara seseorang yang terbiasa memeriksa tempat sebelum bicara."Aku denger Bima udah resign ya? Berarti kamu penggantinya?""Entahlah. Masih tunggu keputusan direksi."Reno mengepalkan tangannya di atas lutut. Serena menatapnya."Ada apa, Ren?""Setelah kasus ini—" Reno berhenti. "Kamu masih berhubungan sama Arga?""Kami temenan. Udah, jangan ngulur wakt

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 40 — Belum Selesai

    Tiga hari setelah penetapan tersangka Hendra Prawiratama, dunia tetap berputar.Jakarta tidak berhenti macet. Kopi tetap harus dibuat. Artikel tetap harus diedit dan dikirim sebelum deadline. Serena masih bangun pukul enam, masih memeriksa ponselnya sebelum kaki menyentuh lantai, masih minum teh pertama sambil berdiri di dapur karena tidak sabar menunggu duduk.Artikel panjang tentang keluarga Wicaksana tayang dua hari setelah penangkapan Hendra.Dua belas ribu kata. Tiga generasi keluarga. Satu kematian yang selama ini dikubur rapi di balik diagnosis serangan jantung, dan satu anak laki-laki yang akhirnya memilih bicara bukan karena tidak takut lagi — tapi karena diamnya sudah terlalu mahal.Serena menulis semuanya dengan jujur, seperti yang ia janjikan. Termasuk bagian yang tidak nyaman: keputusan-keputusan Hendratno yang bisa diperdebatkan, pilihan bisnisnya yang tidak selalu bersih, hubungannya dengan Hendra yang pada awalnya bukan paksaan.Danu membaca draftnya tiga kali sebelum

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 39 — Tersangka

    Wisnu datang tepat waktu.Serena dan Arga sudah ada di lobi ketika mobilnya berhenti di depan gedung — Serena dengan tas yang tidak pernah ia buka semalam, Arga dengan kemeja yang sama dari kemarin tapi entah bagaimana tetap kelihatan rapi."Tidur berapa jam?" tanya Wisnu begitu mereka masuk."Cukup," jawab Serena."Dua puluh menit," jawab Arga bersamaan.Wisnu menatap keduanya bergantian. Memilih untuk tidak berkomentar.Di dalam mobil, Wisnu menjelaskan susunan hari itu. Danu Wicaksana akan datang pukul sembilan dengan pengacaranya. Bima sudah diantar Revan ke lokasi yang aman sejak semalam dan siap memberikan keterangan tertulis. Dokumen kontrak dan email internal sudah ada di tangan penyidik KPK yang Wisnu percaya — orang yang sama yang pernah bekerja sama dengan Pak Rahmat bertahun-tahun lalu."Revan?" tanya Serena."Sudah di sana.""Dia mau bersaksi juga?""Revan tidak bersaksi secara resmi. Dia hanya... memastikan semua pihak yang perlu hadir, hadir." Wisnu menggerakkan tangann

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 38 — Hutang yang Tidak Pernah Disebut

    Sebuah pesan diterima Serena. Dari Danu Wicaksana."Saya mau bicara. Tapi bukan lewat pesan. Bisa ketemu malam ini?"Serena membaca pesan itu dua kali. "Bisa. Di mana?"Balasannya cepat. Sebuah nama kafe dan alamat — tiga blok dari kantor polisi tempat Hendra baru saja masuk sebagai saksi."Ada apa?" Arga membaca ekspresi Serena sebelum ia sempat bicara."Danu mau ketemu. Malam ini.""Saya ikut.""Arga—""Saya ikut, Serena."Nada itu tidak menyisakan ruang untuk debat. Serena menutup ponselnya."Oke."Danu Wicaksana tidak semuda yang Serena bayangkan.Ia duduk di sudut kafe dengan cangkir teh yang tidak ia sentuh, rambut beruban di pelipis meski usianya mungkin akhir 30 tahunan. Ada kantung di bawah matanya — jenis yang tidak datang dari satu malam tidak tidur, tapi dari berbulan-bulan menyimpan sesuatu yang berat."Serena ya?" Ia berdiri ketika mereka masuk, lalu matanya bergerak ke Arga. "Dan ini?""Rekan saya. Arga Mahendra."Danu menatap Arga sebentar — dengan cara seseorang yang

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 6 : CELAH

    Kopi Serena datang dalam cangkir putih polos.Di seberangnya, Arga sudah membuka laptopnya kembali—tapi layarnya menghadap sudut yang tidak memungkinkan Serena melihat isinya. "Clara Anindita," katanya. Melanjutkan dari tadi, tanpa transisi. "Kalau dia memang punya hubungan dengan Revan—kenapa dit

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 4 : Arga Mahendra

    Gedung tua Gatot Subroto terlihat lebih kusam di siang hari.Serena parkir dua blok dari gedung—kebiasaan lama, tidak pernah ia pikirkan secara sadar. Ia berjalan dengan langkah yang tidak terburu-buru tapi tidak pelan, blazer hitam tipis di atas kemeja putih yang tucked-in rapi, rambut dikuncir re

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 3 : Umpan

    Nama itu muncul dua hari setelah telepon Wisnu.Revan Arkana. Direktur Operasional Minerva Advisory. Bima meletakkan fotonya di meja Serena pagi itu—pintu ditutup, tirai ditarik setengah, kebiasaan baru sejak kasus ini masuk ke meja mereka. Rahang tegas, senyum kamera, berdiri di depan gedung kaca

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 2 : Orang Asing

    Serena tidak cerita soal pria di lorong itu kepada siapa pun.Bukan karena tidak relevan. Tapi karena ia belum tahu cara mendeskripsikannya tanpa terdengar seperti orang yang terlalu memperhatikan orang asing. Dua cangkir kopi. Kalimat yang lebih terasa seperti peringatan daripada percakapan. Pungg

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status