MasukRabu. Pukul enam dua puluh pagi.
Serena mematikan mesin mobilnya dua rumah dari alamat yang Harmoko berikan. Jalan di kawasan Menteng Dalam ini sempit dan sepi—deretan rumah tua dengan pagar rendah, pohon mangga yang akarnya sudah mengangkat trotoar, satu warung rokok yang belum buka. Cahaya masih abu-abu. Udara masih bisa dihirup tanpa rasa knalpot.
Ia duduk sebentar di balik setir.
Kemarin malam ia hampir mengirim pesan ke nomor yang tertera di kartu Arga—hampir, tapi tidak jadi. Bukan karena tidak mau. Tapi karena menerima tawaran seseorang yang belum ia pahami sepenuhnya terasa seperti membuka pintu yang belum ia putuskan mau dibuka.
Jadi ia datang sendiri.
Seperti biasanya.
Rumah itu nomor tujuh belas—cat putih yang mulai mengelupas di sudut, jendela dengan tirai yang ditarik rapat, pot tanaman di depan pintu yang disiram tapi tidak dirawat. Serena mengetuk dua kali.
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk lagi. Kali ini tiga ketukan, lebih pelan—ritme yang terasa seperti kode, bukan tergesa.
Pintu terbuka.
Wisnu Prasetya terlihat lebih tua dari foto terakhirnya di database firma—wajah yang lebih cekung, mata yang terlalu lelah untuk usia lima puluhan, baju tidur yang sepertinya sudah beberapa hari tidak diganti. Ia memandang Serena, kemudian memandang ke kiri dan kanan jalan di belakangnya.
"Sendiri?"
"Sendiri."
Ia membuka pintu lebih lebar.
Ruang tamu itu kecil dan hampir tanpa furnitur—satu sofa, satu meja rendah, kardus-kardus yang belum dibuka di sudut. Seperti orang yang tidak yakin akan tinggal cukup lama untuk layak membereskan tempatnya.
Wisnu duduk di sofa. Serena duduk di hadapannya, punggung tegak, recorder di atas meja—ia meletakkannya tanpa permisi, tapi juga tanpa menyalakannya dulu. Isyarat: aku bisa menghormati batasmu, tapi aku tidak datang untuk bicara tanpa jejak.
Wisnu menatap recorder itu. Mengangguk pelan.
Serena menyalakannya.
"Laporan audit itu selesai tiga tahun lalu," mulai Wisnu, tanpa basa-basi seolah ia sudah mengulang kalimat ini dalam kepalanya berkali-kali. "Saya yang pegang. Tim saya empat orang. Dua dari empat itu sekarang sudah tidak bisa dihubungi."
"Tidak bisa dihubungi artinya?"
"Artinya nomor mati, alamat kosong, dan satu dari mereka masuk rumah sakit bulan lalu dengan diagnosis yang tidak masuk akal untuk usianya." Wisnu menatap tangannya sendiri. "Kecelakaan, kata keluarganya."
Serena tidak bergerak. "Isi laporannya?"
"Konsorsium punya dua set pembukuan. Yang satu untuk regulator, yang satu untuk orang-orang di belakangnya." Wisnu akhirnya mengangkat kepala. "Dana yang masuk dari proyek-proyek energi negara—sebagian besar tidak sampai ke tujuan yang tertera. Dialirkan ke rekening perantara, dipecah kecil-kecil, lalu masuk ke kantong-kantong yang..." ia berhenti. "Yang pemiliknya bukan orang yang seharusnya punya uang sebanyak itu."
"Nama di amplop yang saya terima Senin lalu—"
Wisnu menarik napas panjang. "Saya tahu nama siapa yang Anda maksud."
"Apakah nama itu benar?"
Diam lima detik yang terasa jauh lebih panjang.
"Benar." Suaranya turun setengah nada. "Dan itulah kenapa Hendratno Wicaksana tidak mati karena serangan jantung."
Serena keluar dari rumah 17 pukul 07.14
Pagi sudah lebih terang. Warung rokok sudah buka, seorang bapak tua sedang menyapu depan rumahnya, motor pertama mulai melintas. Jakarta yang normal, tidak tahu bahwa dua puluh meter dari sini ada pria yang menyimpan cukup informasi untuk mengguncang beberapa nama besar sekaligus.
Serena berjalan ke mobilnya.
Ia membuka pintu, melempar tas ke kursi penumpang—dan berhenti.
Di atas dashboard, ada selembar kertas kecil yang dilipat sekali. Ia tidak meninggalkan apa pun di sana tadi.
Ia mengambilnya.
Tulisan tangan, tinta hitam, tiga baris:
Wisnu tidak aman di sini lebih dari 48 jam. Ada yang mengikuti Anda dari Kuningan pagi ini. Parkir Anda terlalu dekat.
Tidak ada tanda tangan.
Serena membaca tiga baris itu dua kali. Mendongak, memindai jalan—tidak ada yang mencolok. Tapi itulah masalahnya. Orang yang terlatih tidak akan terlihat mencolok. Mobilnya tidak dikunci tadi—kebiasaan buruk yang belum pernah jadi masalah sampai sekarang.
Tulisan tangannya rapi tapi tidak kaku. Miring sedikit ke kanan, seperti orang yang terbiasa menulis cepat tapi tetap terbaca. Dan pilihan katanya—tidak aman, mengikuti, terlalu dekat—bukan gaya orang yang panik. Ini gaya orang yang sudah menghitung.
Serena melipat kertas itu dan memasukkannya ke saku. Menyalakan mesin.
Hanya satu orang yang tahu ia ke sini pagi ini. Hanya satu orang yang punya alasan untuk memantau, untuk peduli, dan untuk masuk ke mobilnya tanpa meninggalkan jejak lain selain tiga baris tulisan tangan di atas dashboard.
Di sudut kanan kertas itu, hampir tidak terlihat kalau tidak dicari—nomor telepon. Enam digit terakhir yang berbeda dari kartu nama kemarin.
Serena menatap angka itu sebentar. Lalu mengambil ponselnya.
Pesan singkat, tiga kata: Anda di mana?
Balasan datang dalam empat puluh detik.
Sebuah pin lokasi. Dua blok dari kantor redaksinya.
Kedai kopi itu kecil dan tidak mencolok—persis jenis tempat yang dipilih orang yang tidak ingin ditemukan oleh sembarang orang, tapi cukup mudah dijangkau kalau tahu ke mana harus pergi. Arga duduk di meja pojok, laptop terbuka, kopi yang sepertinya sudah setengah dingin. Kemeja abu-abu hari ini, rambut yang sama tidak teraturnya.
Ia mengangkat kepala ketika Serena masuk. Tidak terkejut.
Serena menarik kursi di seberangnya dan duduk tanpa diundang.
Ia menutup laptopnya pelan.
"Kebiasaan buruk untuk seseorang yang sedang digali pergerakannya."
"Saya bisa jaga diri sendiri."
"Saya tahu." Nada suaranya tidak berubah—tapi kali ini tidak ada jarak yang biasanya ia jaga. "Makanya saya tidak ikut ke dalam. Cukup titip catatan."
Serena menatapnya. Di siang hari, di kedai yang ramai dengan suara mesin espresso dan percakapan orang-orang yang tidak peduli dengan siapa pun di sekitar mereka, Arga terlihat lebih... biasa. Bukan dalam arti yang mengurangi—tapi dalam arti seseorang yang tidak sedang menjaga persona. Hanya duduk. Hanya ada.
"Siapa yang mengikuti saya?"
"Dua orang. Bergantian sejak Anda keluar dari apartemen tadi pagi. Mereka berhenti di ujung kawasan Menteng Dalam—tidak masuk." Ia menyesap kopinya. "Kemungkinan mereka tidak tahu Anda ke mana. Hanya tahu Anda pergi."
"Wisnu perlu dipindahkan."
"Sudah saya koordinasikan. Ada tempat yang lebih aman, setidaknya untuk dua minggu ke depan."
Serena mengerutkan kening. "Anda koordinasikan tanpa bilang saya dulu?"
"Anda sedang di dalam rumah Wisnu." Sudut bibirnya bergerak—tipis, bukan senyum penuh tapi berdekatan. "Saya tidak bisa ketuk pintu dan bilang permisi, boleh konsultasi sebentar."
Serena hampir menjawab. Tapi kalimat itu—diucapkan dengan nada yang sama persis seperti ketika ia membicarakan hal serius—membuat jawabannya macet di tengah jalan.
Ia menarik napas.
"Nama di amplop itu," katanya, lebih pelan. "Anda sudah tahu sejak kapan?"
Arga meletakkan cangkirnya. Kali ini ia tidak langsung menjawab—bukan karena menghindari, tapi seperti seseorang yang sedang memilih kata dengan hati-hati bukan untuk menyembunyikan, tapi karena tidak semua kebenaran cukup mudah diucapkan sekaligus.
"Cukup lama," katanya akhirnya.
"Dan Anda tidak melakukan apa-apa."
"Saya melakukan sesuatu." Matanya bertemu mata Serena—langsung, tidak menghindar. "Saya memastikan Anda tidak sendirian waktu akhirnya menemukan nama itu."
Serena tidak menjawab.
Kalimat itu menempel di suatu tempat di dadanya dengan cara yang tidak ia suka—bukan karena salah, justru karena terlalu tepat. Dan hal-hal yang terlalu tepat, dari seseorang yang tidak pernah meminta apa pun, selalu jauh lebih sulit ditangani daripada ancaman yang jelas bentuknya.
Pelayan datang menawari Serena menu. Ia memesan kopi hitam tanpa melihat daftarnya.
Dan untuk pertama kalinya pagi itu, suasana di antara mereka tidak terasa seperti dua orang yang saling menilai.
Hanya dua orang yang duduk di meja yang sama, dengan masalah yang sama, dan jarak yang perlahan—tanpa izin, tanpa rencana—mulai terasa lebih sempit dari sebelumnya.
Serena terbangun dengan kepala yang lebih berat dari semalam.Ia seperti terbangun dari tidur yang terlalu nyenyak setelah terlalu lama tidak tidur cukup. Ia mengangkat kepalanya dari posisi yang tidak ia ingat bagaimana bisa senyaman itu, dan butuh tiga detik untuk menyadari bahwa ada jaket di bahunya yang bukan miliknya.Jaket abu-abu. Kemeja abu-abu.Serena memandang ke seberang meja.Arga sudah di kursinya. Laptop terbuka, kopi di tangan, rambut yang sama tidak teraturnya. Ia mengangkat kepala ketika Serena bergerak, dan untuk sepersekian detik sebelum ekspresinya kembali ke yang biasa, ada sesuatu di matanya yang berbeda. Lebih hangat dari biasanya. Kemudian ia mengangguk pelan. "Pagi.""Pagi." Serena menegakkan punggungnya, merapikan rambutnya dengan tangan, dan memutuskan bahwa jaket di bahunya tidak perlu dikomentari. "Sudah dari kapan?""Subuh." Ia mendorong cangkir kopi ke arahnya. "Sudah saya buatkan."Serena mengambilnya. Meminumnya. Dan memperhatikan. Pagi ini Arga tidak
Serena membacanya dua kali. Kemudian meletakkan ponsel Arga kembali ke tangannya tanpa berkata apa-apa.Di luar mobil, Jakarta sore berjalan seperti biasa. Serena memandang ke depan, ke gedung kantornya yang berdiri di sana seperti hari-hari biasa."Kita tidak bisa ke kantor sekarang," kata Serena akhirnya."Tidak." Arga sudah menyimpan ponselnya. "Dan apartemen Anda juga tidak aman."Serena menarik napas. Kemudian menyalakan mesin mobilnya kembali. "Kemayoran?"Arga memandangnya sebentar. "Kemayoran."Ruangan itu sama seperti yang mereka tinggalkan pagi tadi. Serena meletakkan tasnya dan langsung membuka laptopnya. Arga menutup tirai, memeriksa pintu, melakukan hal-hal yang ia lakukan tanpa perlu diminta.Dua jam berlalu dengan telepon dan pesan terenkripsi. Kontak Serena di KPK setuju menerima dokumen tapi butuh 48 jam untuk verifikasi jalur masuknya. 48 jam yang terasa sangat panjang.Pukul 10.00 malam, Serena menutup laptopnya.Kepalanya berat. Bukan karena mengantuk tapi karena t
Serena terbangun dengan leher yang kaku dan cahaya pagi yang masuk dari celah tirai yang tidak rapat.Satu detik ia tidak tahu di mana ia berada. Detik berikutnya, semuanya kembali — ruangan di Kemayoran, flash drive, rekaman audio, dan fakta bahwa ia rupanya tertidur di kursi kerja dengan kepala yang entah kapan jatuh ke arah bahu kanannya.Ia mengangkat kepala. Menggerakkan lehernya pelan.Di seberang meja, kursi Arga kosong. Laptopnya masih di meja, tapi orangnya tidak ada. Kopi baru, masih mengepul, diletakkan tepat di sebelah laptopnya.Serena menatap cangkir itu sebentar. Kemudian menyesapnya tanpa bergerak dari kursinya, memandang langit-langit, dan mencoba tidak memikirkan fakta bahwa seseorang sudah repot-repot membuatkan kopi sebelum ia terbangun.Tidak berhasil.Arga masuk lima menit kemudian dengan kemeja yang sama dari semalam tapi lengan yang sudah digulung ulang, rambut yang sedikit lebih rapi dari biasanya, dan dua bungkus nasi kuning dari warung bawah gedung. Ia melet
Pesan tiga baris itu masih terbuka di layar ponselnya ketika Serena menelepon Arga.Dua kali nada sambung. Diangkat. "Saya sudah tahu," katanya, sebelum Serena sempat bicara."Wisnu""Saya sedang cek sekarang." Suaranya tenang, tapi ada sesuatu di baliknya yang berbeda dari biasanya, lebih cepat, lebih terfokus. "Jangan pulang ke apartemen malam ini.""Arga""Ada yang pantau pergerakan Anda sejak artikel naik tadi pagi. Kalau mereka kirim pesan itu ke Anda, artinya mereka tahu Anda masih di kantor." Jeda singkat. "Ada tempat yang bisa saya koordinasikan. Aman, setidaknya untuk malam ini."Serena menatap mejanya, laptop yang masih menyala, catatan yang belum selesai, kopi ketiga yang sudah dingin. Di luar jendela, Jakarta sudah gelap."Kirim alamatnya."Tempat yang Arga koordinasikan adalah unit kosong di lantai tujuh gedung lama kawasan Kemayoran, bukan apartemen, lebih seperti ruang kerja yang pernah dipakai dan belum sepenuhnya dikosongkan. Satu meja panjang, dua kursi, lemari arsi
Malam setelah pertemuan di basement itu, Serena duduk di depan laptopnya lebih lama dari yang perlu. Bukan karena ada yang perlu dikerjakan. Tapi ada sesuatu yang tidak mau diam di bagian belakang kepalanya, dan ia sudah cukup jujur dengan dirinya sendiri untuk mengakui bahwa itu bukan soal kasus. Iya. Satu kata, diucapkan dengan nada yang terdengar lebih seperti pengakuan daripada pembelaan diri. Serena menutup laptopnya dan pergi tidur. Berhasil tidak memikirkannya sampai pagi harinya, ketika ia menyeduh kopi dan tanpa alasan yang jelas mengingat bahwa Arga berdiri dua langkah lebih dekat dari biasanya di basement itu, dan tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak mundur. Ia menuangkan kopinya dan memutuskan ada hal yang lebih penting untuk diurus. Yang kemudian benar-benar ada. Revan menghubunginya Rabu sore dengan nomor baru. Gaya bicaranya tidak berubah — langsung, tanpa basa-basi. "Saya punya dokumen internal. Asli. Cukup untuk konfirmasi nama di amplop itu. Syaratnya sat
Serena tidak mencari jawabannya malam itu.Ia letakkan mangkuk kosong di wastafel, matikan lampu dapur, dan memutuskan bahwa ada hal-hal yang lebih produktif untuk dipikirkan sebelum tidur daripada bagaimana Arga Mahendra tahu ia belum makan. Mungkin kebetulan. Mungkin tebakan. Mungkin ia terlalu banyak berpikir.Tapi pagi harinya, ketika alarm berbunyi pukul 05.50 dan hal pertama yang masuk ke kepalanya sebelum ia sempat sepenuhnya sadar adalah pertanyaan yang sama — jadi bagaimana dia tahu — Serena menyerah pada kenyataan bahwa pertanyaan itu tidak akan pergi sendiri.Ia mandi, menyeduh kopi, dan memutuskan untuk tidak memikirkannya. Yang tidak terlalu berhasil.Bahkan Reno saja tak pernah ingat jadwal Serena yang sudah seperti template itu. Reno Pratama memang tidak pernah bisa membaca ruangan dengan benar — apalagi orangnya. Dua tahun menikah, dan ia masih sering datang ke momen yang salah dengan ekspektasi yang salah, lalu bingung kenapa hasilnya tidak seperti yang ia bayangkan.







