Home / Romansa / Bukan Untuk Dicintai / BAB 2 : Orang Asing

Share

BAB 2 : Orang Asing

Author: Viole
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-03 14:22:06

Serena tidak cerita soal pria di lorong itu kepada siapa pun.

Bukan karena tidak relevan. Tapi karena ia belum tahu cara mendeskripsikannya tanpa terdengar seperti orang yang terlalu memperhatikan orang asing. Dua cangkir kopi. Kalimat yang lebih terasa seperti peringatan daripada percakapan. Punggung yang hilang di tikungan lorong seolah memang tidak pernah ada.

Serena sudah menemui banyak tipe orang dalam pekerjaannya—narasumber yang berbohong, pejabat yang mengancam, aktivis yang berlebihan. Tapi pria kemarin tidak masuk ke kategori mana pun dari itu. Dan hal-hal yang tidak bisa dikategorikan selalu lebih mengganggunya dari yang seharusnya.

Ia menaruh pria itu di laci belakang pikirannya dan mengunci lacinya.

Ada hal yang lebih penting untuk diurus.

Pagi itu dimulai seperti biasa: kopi hitam, komputer menyala, catatan kemarin dibuka kembali.

Serena baru saja menuangkan gelas kedua ketika Clara masuk dengan tas kulit coklat muda di bahu dan dua gelas kopi takeaway di tangan—lengkap dengan senyum yang sudah dalam kondisi siap pakai sejak pintu pertama kali terbuka.

"Tadi lewat kedai bawah," kata Clara, mengulurkan satu gelas. "Iseng beli dua."

Serena menatap gelas itu sebentar. Americano, dari warnanya. Ia mengambilnya.

"Makasih."

Clara duduk di meja seberang—meja yang sebelumnya milik Vena, reporter yang resign bulan lalu. Baru seminggu di sini, tapi Clara sudah bergerak di ruangan ini seperti ia sudah berbulan-bulan: tahu di mana printer spare cartridge-nya, hafal nama semua satpam, dan—yang paling tidak Serena sukai—selalu ada di dekat meja Serena pada saat-saat yang sedikit terlalu tepat.

"Kamu yang pegang kasus Hendratno?" tanya Clara, membuka laptopnya dengan santai.

Serena tidak langsung menjawab. Ia menyesap kopinya.

"Iya. Emang kenapa?"

"Semalam Bima cerita sedikit." Clara mengangkat bahu. "Kalau butuh bantuan riset, aku bisa."

Serena memandangnya. Clara membalas tatapan itu dengan senyum yang hangat, terbuka—tipe senyum yang membuat orang langsung percaya. Justru itu yang membuat Serena tidak sepenuhnya percaya.

"Nanti kulihat," katanya, lalu kembali ke layarnya.

Clara tidak mendebat. Ia hanya mengangguk kecil dan mulai mengetik—dan Serena tidak bisa memutuskan apakah reaksi yang terlalu rapi itu tanda profesionalisme atau tanda bahwa perempuan itu sudah terbiasa dengan penolakan jenis ini.

Briefing dengan Bima pagi itu singkat. Ia memutuskan Serena bekerja sendiri dulu—tidak ada nama kedua di byline, tidak ada yang tahu materialnya kecuali mereka berdua. Terlalu banyak yang terlibat, terlalu berbahaya kalau informasi bocor dari dalam.

Serena setuju tanpa keberatan. Yang ia butuhkan sekarang bukan mitra—ia butuh sumber kedua yang independen. Seseorang yang mengenal Konsorsium dari dalam, bukan dari laporan keuangan, tapi dari cara keputusan dibuat dan nama-nama yang tidak pernah muncul di dokumen resmi.

Ia mulai dari petunjuk yang ada di dokumen semalam: cari auditor independen yang mengaudit Konsorsium dua tahun lalu. Laporan yang tidak pernah dipublikasikan. Nama yang tidak ada di tempat yang seharusnya ada.

Tiga jam dan dua cangkir kopi kemudian, ia menemukannya.

Jejaknya membawa ke satu nama: Wisnu Prasetya.

Mantan senior auditor. Mengerjakan audit independen Konsorsium Energi Nusantara dua tahun lalu. Mundur dari firmanya tiga bulan setelah audit selesai—alasan resmi: kesehatan. Tidak ada profil media sosial setelahnya. Tidak ada jejak profesional. Tidak ada yang tahu ke mana ia pergi.

Orang yang menghilang dari radar biasanya punya dua alasan: takut, atau sudah dibuat takut.

Serena berangkat ke alamat terakhirnya di Depok siang itu juga, tanpa memberi tahu Bima.

Rumah kontrakannya sudah kosong dua bulan.

Ibu pemilik kontrakan—perempuan enam puluhan dengan daster batik dan sandal jepit merah—menceritakan semuanya hampir tanpa diminta, dengan kecepatan orang yang jarang punya tamu untuk diajak bicara. Wisnu pergi mendadak, bayar tiga bulan ke depan sekaligus, barang-barangnya diambil seminggu kemudian oleh dua orang yang tidak ia kenal—rapi, muda, tapi dengan mata yang, kata ibu itu, kosong.

Dan satu detail terakhir, disampaikan dengan suara yang sedikit diturunkan:

"Seminggu sebelum pergi, ada mobil hitam parkir di depan dua malam berturut-turut. Pak Wisnu-nya kayak takut, Mbak."

Serena pulang dengan tangan kosong tapi kepala penuh. Wisnu Prasetya tidak sekadar menghilang—ia disembunyikan, atau menyembunyikan diri. Dan ada yang memaksanya memilih.

Malam itu, ketika mie instannya hampir matang dan catatannya terbuka di meja dapur, ponselnya bergetar. Nomor tidak dikenal.

"Mbak Serena Aksara?"

Suara laki-laki. Paruh baya. Sedikit serak, seperti orang yang sudah lama tidak banyak bicara.

Serena mematikan kompor.

"Ya. Siapa ini?"

Jeda tiga detik.

"Saya yang Mbak cari."

Wisnu.

"Saya tidak bisa lama. Tapi ada yang perlu Mbak tahu sebelum terlalu jauh masuk ke kasus ini."

"Saya dengarkan."

"Mereka tahu Mbak sudah ke Gatot Subroto kemarin."

Serena terdiam. Ia belum cerita ke siapa pun soal Gatot Subroto.

"Di gedung itu—Mbak ketemu siapa?"

Pertanyaan itu aneh. Bukan karena isinya, tapi karena nada di baliknya: bukan penasaran. Cemas.

"Seseorang di lorong. Tidak menyebut nama."

Wisnu diam lebih lama dari yang perlu.

"Kalau ketemu lagi, hati-hati. Orang itu bukan musuh Mbak. Tapi dunianya dan dunia Mbak tidak seharusnya bersinggungan."

"Siapa dia?"

Sambungan putus.

Serena menatap layar ponselnya. Panggilan masuk berlabel NOMOR TIDAK DIKENAL, durasi satu menit empat belas detik.

Mie instannya sudah terlalu lama di panci. Ia memakannya dingin, berdiri di dapur, sambil memikirkan kalimat Wisnu yang menolak pergi dari kepalanya: dunianya dan dunia Mbak tidak seharusnya bersinggungan.

Tapi mereka sudah bersinggungan—dua kali, di lorong yang sama.

Dan orang yang tidak pernah menyebut namanya itu rupanya sudah cukup dikenal untuk membuat Wisnu merasa perlu memperingatkannya.

Ia tidak tidur dengan baik malam itu.

Bukan mimpi buruk. Bukan pikiran tentang kasus—itu biasanya justru yang paling mudah ia simpan. Yang membuatnya terjaga adalah hal yang lebih kecil dan lebih tidak masuk akal: detail yang tidak relevan, seharusnya tidak relevan.

Kemeja putih. Lengan digulung ke siku, tidak teratur tapi tidak acak. Cara berdirinya di lorong itu—tidak mengisi ruang dengan sengaja, tapi justru karena itu terasa lebih lebar dari yang sebenarnya ada. Tangan yang mengulurkan cangkir kopi seperti seseorang yang terbiasa menawarkan tanpa menunggu diterima.

Serena membalik badannya menghadap dinding.

Ia punya kasus yang lebih besar dari ini untuk dipikirkan.

Tapi ternyata 'lebih besar' tidak selalu memenangkan perhatian.

Keesokan paginya, Pak Karyo menyambut Serena di depan lift dengan anggukan yang sama seperti setiap pagi. Ritual kecil yang selalu menenangkan.

"Pagi, Mbak Serena."

"Pagi, Pak Karyo."

Serena meletakkan tas, menghidupkan komputer, dan membuka tab pertama yang sama seperti setiap pagi. Tapi kali ini jarinya berhenti di atas keyboard sebelum mulai mengetik.

Kemeja putih. Gatot Subroto. Dua cangkir kopi.

Ia menutup tab itu sebelum jarinya sempat bergerak. Membuka tab yang seharusnya dibuka. Mulai bekerja.

Tapi setengah jam kemudian, ketika Clara lewat mejanya dengan dua gelas kopi—kebiasaan yang sudah terbentuk tanpa pernah disepakati—Serena menyadari satu hal yang sebenarnya sudah ia ketahui dari tadi: hari ini ia perlu kembali ke gedung tua itu.

Bukan untuk Wisnu.

Bukan untuk kasus.

Untuk mencari tahu siapa pria itu—karena kalau Wisnu benar, kalau orang itu memang memantau pergerakannya, maka Serena Aksara tidak punya kebiasaan menunggu ancaman yang belum berwajah untuk menghampirinya sendiri.

Setidaknya itulah alasannya. Dan ia cukup yakin—sembilan puluh persen yakin—bahwa itu memang alasannya.

Sepuluh persen sisanya tidak ia pikir lebih lanjut.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 43 — Bayang-Bayang yang Tak Pernah Pergi

    Arga memarkir mobil di depan apartemen Serena. Lampu lorong sudah menyala redup, hujan sore Jakarta masih turun tipis-tipis, membuat aspal mengkilap seperti cermin hitam yang memantulkan cahaya neon kota. Ia naik lift dengan langkah cepat tapi tenang, jaket hitamnya masih basah di bahu. Setiap detik terasa berat, seperti beban yang tak kunjung lepas sejak Reno muncul kembali dalam hidup mereka.Serena sudah menunggu di depan pintu. Rambutnya diikat asal, beberapa helai jatuh di dahi. Matanya agak bengkak—bukan karena menangis, Arga tahu itu lebih karena khawatir yang ditahan lama. Wanita itu berdiri dengan lengan memeluk tubuhnya sendiri, seolah mencoba menahan dingin yang datang dari dalam.“Masuk,” kata Serena pelan, suaranya hampir hilang ditelan hujan di luar.Ruangan apartemen terasa hangat dibandingkan udara malam di luar. Aroma kopi yang tadi dibuat Serena masih tersisa, manis dan pahit sekaligus. Arga melepas jaket dan meletakkannya di kursi. Ia tidak langsung duduk. Tubuhnya

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 42 — Pamit

    Lampu merah di perempatan Gatot Subroto.Arga mengerem, tangan kiri di setir, mata menyapu kaca depan dan dua kaca samping secara bergantian. Lalu ke spion. Kendaraan yang berjejal, warna-warni, tidak ada yang kelihatan mencurigakan dari sini.Ponselnya berdering. Serena."Arga, Reno nggak jawab. Chat-ku juga belum dibaca.""Sabar." Lampu hijau. Ia menginjak gas. "Aku baru belok ke arah Gatot Subroto. Kalau dia nurutin arahan tadi, harusnya sudah kelihatan.""Coba kamu percepat.""Lagi."Mesin menderu. Arga menyalip dua kendaraan sekaligus, matanya menyapu tiap sedan hitam dan silver yang ada di depan."Serena, dengerin. Kalau Reno tidak membalas bukan berarti dia kenapa-kenapa. Bisa aja dia lepasin baterai ponselnya sendiri biar nggak dilacak.""Kamu yakin?""Nggak. Tapi itu satu-satunya kemungkinan yang bikin aku masih bisa nyetir dengan tenang sekarang."Serena diam sebentar di ujung sana. Arga tahu itu bukan berarti ia tenang — hanya sedang memilih tidak memperburuk situasi."Aku

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 41 — Tamu Pagi

    Tatapan Reno tidak seperti biasanya.Serena hafal betul mimik wajah mantan suaminya itu ketika butuh bantuan — sudah terlalu sering melihatnya. Tapi kali ini rasanya berbeda. Ada sesuatu di sana yang lebih dalam dari sekadar kepepet."Ada apa lagi?" Serena berdiri di ambang pintu, belum bergeser. "Dan kenapa kamu selalu datang ke apartemenku waktu pagi buta seperti ini?""Maafin aku sebelumnya, Ser." Reno mengusap wajahnya. "Tapi beneran, kali ini aku butuh bantuanmu."Serena menghela napas. Lalu membuka pintu lebih lebar."Yaudah, masuk dulu."Reno duduk di sofa, matanya langsung menyapu ruangan — kiri, kanan, ke arah jendela — dengan cara seseorang yang terbiasa memeriksa tempat sebelum bicara."Aku denger Bima udah resign ya? Berarti kamu penggantinya?""Entahlah. Masih tunggu keputusan direksi."Reno mengepalkan tangannya di atas lutut. Serena menatapnya."Ada apa, Ren?""Setelah kasus ini—" Reno berhenti. "Kamu masih berhubungan sama Arga?""Kami temenan. Udah, jangan ngulur wakt

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 40 — Belum Selesai

    Tiga hari setelah penetapan tersangka Hendra Prawiratama, dunia tetap berputar.Jakarta tidak berhenti macet. Kopi tetap harus dibuat. Artikel tetap harus diedit dan dikirim sebelum deadline. Serena masih bangun pukul enam, masih memeriksa ponselnya sebelum kaki menyentuh lantai, masih minum teh pertama sambil berdiri di dapur karena tidak sabar menunggu duduk.Artikel panjang tentang keluarga Wicaksana tayang dua hari setelah penangkapan Hendra.Dua belas ribu kata. Tiga generasi keluarga. Satu kematian yang selama ini dikubur rapi di balik diagnosis serangan jantung, dan satu anak laki-laki yang akhirnya memilih bicara bukan karena tidak takut lagi — tapi karena diamnya sudah terlalu mahal.Serena menulis semuanya dengan jujur, seperti yang ia janjikan. Termasuk bagian yang tidak nyaman: keputusan-keputusan Hendratno yang bisa diperdebatkan, pilihan bisnisnya yang tidak selalu bersih, hubungannya dengan Hendra yang pada awalnya bukan paksaan.Danu membaca draftnya tiga kali sebelum

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 39 — Tersangka

    Wisnu datang tepat waktu.Serena dan Arga sudah ada di lobi ketika mobilnya berhenti di depan gedung — Serena dengan tas yang tidak pernah ia buka semalam, Arga dengan kemeja yang sama dari kemarin tapi entah bagaimana tetap kelihatan rapi."Tidur berapa jam?" tanya Wisnu begitu mereka masuk."Cukup," jawab Serena."Dua puluh menit," jawab Arga bersamaan.Wisnu menatap keduanya bergantian. Memilih untuk tidak berkomentar.Di dalam mobil, Wisnu menjelaskan susunan hari itu. Danu Wicaksana akan datang pukul sembilan dengan pengacaranya. Bima sudah diantar Revan ke lokasi yang aman sejak semalam dan siap memberikan keterangan tertulis. Dokumen kontrak dan email internal sudah ada di tangan penyidik KPK yang Wisnu percaya — orang yang sama yang pernah bekerja sama dengan Pak Rahmat bertahun-tahun lalu."Revan?" tanya Serena."Sudah di sana.""Dia mau bersaksi juga?""Revan tidak bersaksi secara resmi. Dia hanya... memastikan semua pihak yang perlu hadir, hadir." Wisnu menggerakkan tangann

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 38 — Hutang yang Tidak Pernah Disebut

    Sebuah pesan diterima Serena. Dari Danu Wicaksana."Saya mau bicara. Tapi bukan lewat pesan. Bisa ketemu malam ini?"Serena membaca pesan itu dua kali. "Bisa. Di mana?"Balasannya cepat. Sebuah nama kafe dan alamat — tiga blok dari kantor polisi tempat Hendra baru saja masuk sebagai saksi."Ada apa?" Arga membaca ekspresi Serena sebelum ia sempat bicara."Danu mau ketemu. Malam ini.""Saya ikut.""Arga—""Saya ikut, Serena."Nada itu tidak menyisakan ruang untuk debat. Serena menutup ponselnya."Oke."Danu Wicaksana tidak semuda yang Serena bayangkan.Ia duduk di sudut kafe dengan cangkir teh yang tidak ia sentuh, rambut beruban di pelipis meski usianya mungkin akhir 30 tahunan. Ada kantung di bawah matanya — jenis yang tidak datang dari satu malam tidak tidur, tapi dari berbulan-bulan menyimpan sesuatu yang berat."Serena ya?" Ia berdiri ketika mereka masuk, lalu matanya bergerak ke Arga. "Dan ini?""Rekan saya. Arga Mahendra."Danu menatap Arga sebentar — dengan cara seseorang yang

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 3 : Umpan

    Nama itu muncul dua hari setelah telepon Wisnu.Revan Arkana. Direktur Operasional Minerva Advisory. Bima meletakkan fotonya di meja Serena pagi itu—pintu ditutup, tirai ditarik setengah, kebiasaan baru sejak kasus ini masuk ke meja mereka. Rahang tegas, senyum kamera, berdiri di depan gedung kaca

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 1 : Bab Baru yang Tidak Diminta

    "Ren, ada breaking news masuk. Bisa ke kantor jam 6? Ada kasus besar."Serena membaca pesan itu dua kali.Kemudian ia mengetik balasan:"Oke. Aku lagi di jalan."Ia memundurkan mobil dari parkiran. Keluar ke jalanan Jakarta yang padat. Masuk ke dalam arus kota yang tidak pernah berhenti bergerak. S

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 6 : CELAH

    Kopi Serena datang dalam cangkir putih polos.Di seberangnya, Arga sudah membuka laptopnya kembali—tapi layarnya menghadap sudut yang tidak memungkinkan Serena melihat isinya. "Clara Anindita," katanya. Melanjutkan dari tadi, tanpa transisi. "Kalau dia memang punya hubungan dengan Revan—kenapa dit

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 5 : Menteng Dalam

    Rabu. Pukul enam dua puluh pagi.Serena mematikan mesin mobilnya dua rumah dari alamat yang Harmoko berikan. Jalan di kawasan Menteng Dalam ini sempit dan sepi—deretan rumah tua dengan pagar rendah, pohon mangga yang akarnya sudah mengangkat trotoar, satu warung rokok yang belum buka. Cahaya masih

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status