Home / Romansa / Bunga Biru / Chapter 23: Surat

Share

Chapter 23: Surat

Author: Feyaa
last update publish date: 2026-03-18 17:09:47

Kertas itu masih berada di tangan Evelune.

Ia tidak langsung melipatnya kembali.

Kalimat singkat itu terasa sederhana, namun meninggalkan gema yang panjang di benaknya.

Alira mendekat satu langkah.

“Dari siapa?”

Evelune menggeleng pelan.

“Tidak disebutkan.”

Alira mengerutkan kening.

“Dan kau berniat pergi?”

Pertanyaan itu menggantung sebentar.

Evelune menatap kembali tulisan di kertas itu, lalu perlahan melipatnya dengan rapi.

“Aku tidak tahu,” jawabnya jujur.

Namun nada suaranya tidak benar-be
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bunga Biru   Chapter 30: Cerita Lama

    Jika kau sampai di sini, berarti kau mengikuti petunjukku dengan benar. Maafkan Ibu karena membuatmu harus melalui semua ini seperti sebuah teka-teki. Tetapi ada beberapa hal yang hanya akan aman jika disembunyikan, bahkan dari orang yang kita cintai.Tangan Evelune sedikit gemetar saat membalik halaman.Kunci ini adalah kunci untuk gudang lama di pelabuhan bagian utara. Dahulu itu adalah tempat penyimpanan barang milik ayahmu dan beberapa rekannya. Setelah kejadian itu, tempat itu ditutup dan tidak pernah digunakan lagi.Di sanalah kau akan menemukan jawaban terakhir. Tentang siapa yang datang mencari kita. Tentang apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga kita.Angin laut berembus lebih kencang, membuat pita di surat itu bergerak pelan.Evelune menatap kunci kecil di dalam kotak itu.Dingin.Berat.Seperti membawa sesuatu yang lebih dari sekadar besi.Neriel berdiri di sampingnya.“Kita belum sampai di akhir,” katanya pelan.Evelune menggenggam kunci itu perlahan.“Tidak,” jawabnya

  • Bunga Biru   Chapter 29: Rahasia

    Halaman berikutnya dipenuhi tulisan tangan yang rapi dan tenang, seperti orang yang menulis tanpa terburu-buru, seperti orang yang tahu bahwa suatu hari tulisannya akan benar-benar dibaca.Evelune membaca perlahan.Setiap kata terasa seperti suara yang kembali dari masa lalu.Anakku,Jika kau membaca ini, berarti kau sudah cukup kuat untuk mengetahui beberapa hal yang dulu tidak bisa Ibu ceritakan. Bukan karena Ibu tidak ingin kau tahu, tetapi karena Ibu ingin kau tumbuh tanpa membawa beban yang bukan milikmu.Tulisan itu sedikit bergetar di beberapa bagian, seolah ditulis dengan perasaan yang ditahan.Keluarga kita tidak selalu hidup tenang seperti yang kau ingat. Ada masa di mana kita hampir kehilangan segalanya. Pada masa itu, keluarga Vervelle membantu kita. Mereka bukan hanya penolong, mereka adalah keluarga yang kita pilih dengan hati.Dan ada satu hal lagi yang harus kau tahu. Tentang ayahmu. Tentang nama D’Amour yang kau bawa.Tangan Evelune berhenti.Neriel dan Elian tidak me

  • Bunga Biru   Chapter 28: Rumah Lama

    Jalan menuju rumah lama tidak banyak berubah.Batu-batu yang sama masih tersusun di sepanjang jalan setapak, pohon-pohon tua masih berdiri diam seperti penjaga waktu, dan pagar besi di kejauhan mulai terlihat seiring mereka mendekat.Namun bagi Evelune, tempat itu terasa berbeda.Lebih sunyi.Lebih… jauh.Langkahnya melambat tanpa ia sadari.Neriel yang berjalan di sampingnya tidak mengatakan apa pun, tetapi ia menyesuaikan langkahnya. Tidak mendahului, tidak juga tertinggal.Sementara Alira berjalan sedikit di depan, sesekali menoleh ke belakang, memastikan Evelune tetap baik-baik saja.Ketika mereka akhirnya sampai di depan pagar, Evelune berhenti.Tangannya terangkat perlahan.Menyentuh besi yang sudah dingin dan sedikit berkarat.Suara gesekan pelan terdengar saat ia mendorongnya.Pagar itu terbuka.Seperti menerima mereka kembali tanpa perlawanan.Halaman rumah terbentang di depan.Rumput liar tumbuh tidak beraturan, beberapa pot bunga lama tergeletak kosong di sudut, dan jendela

  • Bunga Biru   Chapter 27: Pelabuhan

    “Ayahku pernah mengatakan hal yang hampir sama,” katanya pelan. “Bahwa pelabuhan bukan hanya tempat kapal datang dan pergi.” Ia berhenti di dekat mereka. “Tapi juga tempat banyak rahasia bersembunyi.” Keheningan kecil muncul lagi. Namun kali ini, bukan hanya penuh pertanyaan. Ada arah yang mulai terlihat. Evelune melipat kembali kertas itu dengan hati-hati. Lalu menyimpannya lagi ke dalam kotak. “Berarti kita benar,” katanya pelan. “Apa yang terjadi pada keluargaku… berkaitan dengan tempat itu.” Alira menyilangkan tangan. “Dan besok kita akan mencari tahu.” Evelune mengangguk. Namun sebelum menutup kotak itu sepenuhnya, ia sempat berhenti sebentar. Seolah merasakan sesuatu yang aneh. Seperti ingatan yang hampir muncul. Atau firasat yang belum sepenuhnya jelas. Ia menutup kotak itu perlahan. Dan malam itu, meskipun semuanya tampak kembali tenang— ada sesuatu yang mulai bergerak lebih dekat dari yang mereka sadari.-Malam akhirnya memaksa mereka untuk beristirahat.Bu

  • Bunga Biru   Chapter 26: Pencarian

    Di luar, angin malam kembali berembus. Namun kali ini, bukan hanya membawa dingin. Melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam. Sesuatu yang telah mulai bergerak. Dan tidak akan berhenti begitu saja. Alira menatapnya. “Buku?” Evelune mengangguk pelan. “Dia tidak pernah membiarkanku membacanya dulu… katanya belum waktunya.” Tangannya mengepal perlahan. “Dan sekarang… seseorang datang hanya untuk mengambil itu.” Keheningan jatuh. Lebih berat dari sebelumnya. Neriel menatap rak itu, lalu kembali ke Evelune. “Berarti itu bukan sekadar buku.” Evelune mengangkat pandangannya.“Dia tidak menyakitiku… tapi dia mencari sesuatu.”Neriel mendekat, berdiri tidak jauh dari mereka.“Apa yang dia cari?”Alira menggeleng pelan.“Aku tidak tahu… tapi dia terus melihat ke arah rak lama. Yang dekat jendela.”Evelune langsung menoleh.Rak itu.Tempat ia menyimpan beberapa barang lama.Bukan hanya bunga.Tapi juga—kenangan.Ia berdiri perlahan.Langkahnya menuju rak itu terasa berat.Tanganny

  • Bunga Biru   Chapter 25: Buku Eloise

    Untuk pertama kalinya, ada sedikit keraguan yang berubah arah di dalam dirinya.Bukan takut.Tapi… mempertimbangkan untuk percaya.Elian mengangguk kecil.“Aku bisa membantu,” katanya. “Tapi ini tidak akan sederhana.”“Memang tidak pernah sederhana,” jawab Evelune.Lalu ia menatap laut sekali lagi.Gelap.Dalam.Dan penuh hal yang belum ia ketahui.Namun malam itu, untuk pertama kalinya—ia tidak berdiri di hadapannya sendirian.Dan itu… cukup untuk membuatnya melangkah satu langkah lebih jauh dari dirinya yang dulu.Mereka tidak langsung pergi dari tebing.Seolah masing-masing masih mencoba mencerna apa yang baru saja terungkap.Angin malam semakin dingin, menyusup melalui sela pakaian dan diam-diam menggoyahkan ketenangan yang tadi sempat tercipta.Evelune berdiri di tepi, menatap laut yang kini sepenuhnya gelap.Tidak ada lagi garis cahaya di cakrawala.Hanya hitam yang luas… dan suara ombak yang tak pernah berhenti.“Ayahku…” ucapnya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status