로그인Mereka tidak langsung pulang setelah percakapan itu.Untuk beberapa waktu, mereka hanya berdiri di sana, memandang laut yang gelap dan mendengarkan suara ombak yang datang dan pergi seperti napas yang panjang. Tidak ada yang berbicara, tetapi keheningan di antara mereka tidak lagi terasa canggung.Evelune menyandarkan kedua tangannya pada pagar kayu, menatap garis cahaya di kejauhan.“Dulu aku berpikir hidupku akan selalu sederhana,” katanya pelan. “Merangkai bunga, membuka toko setiap pagi, berbicara dengan pelanggan, lalu pulang. Aku pikir hidupku akan berhenti di situ saja.”Neriel menoleh sedikit ke arahnya. “Dan sekarang?”“Sekarang rasanya seperti aku membuka pintu yang tidak pernah aku tahu ada di hidupku,” jawab Evelune. “Dan aku tidak tahu di balik pintu itu ada apa.”“Kalau kau takut dengan apa yang ada di balik pintu itu,” kata Neriel pelan, “aku akan berdiri di belakangmu. Kalau kau ingin membukanya, aku di sana. Kalau kau ingin menutupnya lagi, aku juga di sana.”Evelune
Malam itu, Evelune tidak langsung pulang ke rumah.Ia meminta Neriel dan Elian berhenti sebentar di jalan yang menghadap laut. Dari sana, lampu-lampu pelabuhan terlihat seperti garis cahaya panjang yang mengambang di atas air hitam.Angin malam cukup dingin, membuat rambut Evelune berantakan tertiup pelan.“Aku ingin bertanya sesuatu,” kata Evelune tiba-tiba.Neriel menoleh sedikit ke arahnya. “Tanyakan.”Evelune terdiam beberapa detik, seperti menyusun kalimat yang tepat.“Waktu di surat itu tertulis jangan percaya terlalu mudah, bahkan pada orang yang berdiri di dekatku sekarang… aku tidak tahu kenapa, tapi kalimat itu terus terngiang di kepalaku.”Elian menyandarkan punggungnya pada pagar kayu. Ia tidak menyela, tetapi jelas mendengarkan.Evelune melanjutkan, suaranya lebih pelan, “Aku tidak tahu harus percaya pada siapa. Pada orang yang tidak terlihat tapi tahu banyak tentang keluargaku, atau pada orang yang berdiri di sampingku sekarang.”Neriel tidak langsung menjawab. Ia menata
Untuk beberapa detik, tidak ada yang bergerak.Nama itu ditulis dengan tinta hitam, rapi, dan jelas. Bukan tulisan ibunya. Tulisan itu berbeda, lebih tegas, lebih tajam, seperti ditulis oleh seseorang yang terbiasa menulis dokumen, bukan surat pribadi.Evelune melangkah mendekat perlahan.Ia bisa mendengar suara langkahnya sendiri di lantai kayu yang kosong. Neriel berdiri tidak jauh di belakangnya, sementara Elian memperhatikan sekeliling, memastikan tidak ada orang lain di dalam gudang itu.Amplop itu terletak tepat di tengah meja, seolah memang sengaja ditinggalkan agar mudah ditemukan.Evelune menyentuhnya.Kertasnya tidak berdebu seperti meja di sekitarnya.Artinya benar, belum lama ini seseorang datang ke sini.Seseorang tahu Evelune akan datang.Perlahan ia membuka amplop itu.Di dalamnya hanya ada satu lembar surat.Ia membuka dan mulai membaca.Nona Evelune Arséline D’Amour,Jika Anda membaca surat ini, berarti Anda sudah menemukan gudang ini dan membuka apa yang ditinggalkan
Pagi datang lebih cepat dari yang ia harapkan.Evelune hampir tidak benar-benar tidur. Ia hanya berbaring dengan mata terpejam, sementara pikirannya berjalan ke mana-mana. Tentang ibunya. Tentang ayahnya. Tentang gudang di pelabuhan utara. Tentang orang yang datang ke tokonya beberapa waktu lalu. Dan entah kenapa, tentang Neriel.Ia bangun sebelum matahari benar-benar naik, merapikan rambutnya dengan sederhana, lalu mengenakan mantel tipis. Kota pesisir di pagi hari selalu memiliki udara yang berbeda, lebih dingin, lebih sepi, dan terasa seperti menyimpan rahasia sebelum orang-orang benar-benar bangun.Ketika ia sampai di depan toko, Alira sudah ada di sana.Alira sedang menyusun beberapa ember bunga di depan, bunga-bunga yang baru datang dari bukit dan dari kebun belakang rumah seorang langganan lama. Ada lili putih, anyelir pucat, chamomile kecil, dan beberapa tangkai lavender yang masih membawa aroma segar.Alira menoleh ketika mendengar langkah Evelune.“Kau tidak tidur, ya?” tany
Jika kau sampai di sini, berarti kau mengikuti petunjukku dengan benar. Maafkan Ibu karena membuatmu harus melalui semua ini seperti sebuah teka-teki. Tetapi ada beberapa hal yang hanya akan aman jika disembunyikan, bahkan dari orang yang kita cintai.Tangan Evelune sedikit gemetar saat membalik halaman.Kunci ini adalah kunci untuk gudang lama di pelabuhan bagian utara. Dahulu itu adalah tempat penyimpanan barang milik ayahmu dan beberapa rekannya. Setelah kejadian itu, tempat itu ditutup dan tidak pernah digunakan lagi.Di sanalah kau akan menemukan jawaban terakhir. Tentang siapa yang datang mencari kita. Tentang apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga kita.Angin laut berembus lebih kencang, membuat pita di surat itu bergerak pelan.Evelune menatap kunci kecil di dalam kotak itu.Dingin.Berat.Seperti membawa sesuatu yang lebih dari sekadar besi.Neriel berdiri di sampingnya.“Kita belum sampai di akhir,” katanya pelan.Evelune menggenggam kunci itu perlahan.“Tidak,” jawabnya
Halaman berikutnya dipenuhi tulisan tangan yang rapi dan tenang, seperti orang yang menulis tanpa terburu-buru, seperti orang yang tahu bahwa suatu hari tulisannya akan benar-benar dibaca.Evelune membaca perlahan.Setiap kata terasa seperti suara yang kembali dari masa lalu.Anakku,Jika kau membaca ini, berarti kau sudah cukup kuat untuk mengetahui beberapa hal yang dulu tidak bisa Ibu ceritakan. Bukan karena Ibu tidak ingin kau tahu, tetapi karena Ibu ingin kau tumbuh tanpa membawa beban yang bukan milikmu.Tulisan itu sedikit bergetar di beberapa bagian, seolah ditulis dengan perasaan yang ditahan.Keluarga kita tidak selalu hidup tenang seperti yang kau ingat. Ada masa di mana kita hampir kehilangan segalanya. Pada masa itu, keluarga Vervelle membantu kita. Mereka bukan hanya penolong, mereka adalah keluarga yang kita pilih dengan hati.Dan ada satu hal lagi yang harus kau tahu. Tentang ayahmu. Tentang nama D’Amour yang kau bawa.Tangan Evelune berhenti.Neriel dan Elian tidak me







