Início / Romansa / Bunga Biru / Chapter 49: Rasa

Compartilhar

Chapter 49: Rasa

Autor: Feyaa
last update Data de publicação: 2026-04-05 22:46:15

Malam turun perlahan di kota pelabuhan itu. Lampu-lampu mulai menyala di sepanjang jalan batu, dan udara terasa lebih dingin dibanding kota pesisir tempat Evelune tinggal. Jalan Arthen tidak seramai jalan utama. Rumah-rumah di sana besar, berpagar, dan terlihat seperti milik orang-orang yang memiliki banyak uang dan lebih banyak rahasia.

Mereka berhenti di ujung jalan.

“Nomor 17 di sana,” bisik Elian.

Rumah itu besar, tetapi tidak terlalu terang. Hanya beberapa lampu yang menyala. Tidak terliha
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Bunga Biru   Chapter 51: Valmont

    Pelukan itu tidak lama, tetapi cukup untuk menahan semua emosi yang sejak tadi Evelune tahan.Ketika ia melepaskan pelukan itu, ruangan masih ramai oleh suara orang-orang yang membicarakan keputusan tadi. Namun bagi mereka berempat, dunia seolah mengecil hanya pada lingkar kecil di sekitar mereka.Alira masih tersenyum lebar. “Aku tidak percaya ini. Dari toko kecil sampai… ini.”Elian mengangguk. “Sekarang semua jalur dagang itu secara hukum milikmu.”Evelune menatap tangannya sendiri, cincin di jarinya kini terasa berbeda. Bukan lagi sekadar kenangan, tetapi tanggung jawab yang nyata.“Ini baru awal,” katanya pelan.Di sisi lain ruangan, Elmar masih berdiri. Wajahnya tidak lagi menunjukkan ketenangan seperti sebelumnya. Ia menatap Evelune beberapa detik, lalu akhirnya berjalan mendekat.Semua langsung waspada.“Kau menang,” kata Elmar dingin. “Secara hukum.”Evelune tidak mundur. “Aku tidak butuh pengakuanmu.”Elmar tersenyum tipis, tetapi kali ini tanpa kehangatan. “Kau pikir ini se

  • Bunga Biru   Chapter 50: Sidang

    Pagi itu terasa lebih sunyi dibanding hari sebelumnya, seolah kota pelabuhan menahan napas menunggu sesuatu yang akan terjadi.Di dalam kamar penginapan, tidak ada yang banyak bicara. Alira hanya duduk diam, menggenggam tangannya sendiri. Elian berdiri dekat jendela, mengamati jalan. Neriel bersandar di dinding, tetapi matanya sesekali tertuju pada Evelune.Evelune berdiri di depan meja, membuka peti kayu itu sekali lagi.Ia menyentuh dokumen-dokumen itu satu per satu, lalu berhenti pada cincin dengan lambang keluarganya.Ia memakainya kembali.Bukan karena simbol.Tetapi karena ia ingin mengingat siapa dirinya sebelum semua ini, dan siapa yang ia perjuangkan sekarang.“Aku tidak akan mengambil tawaran itu,” katanya akhirnya, suaranya tenang.Alira langsung mengangguk. “Bagus.”Elian menarik napas panjang. “Berarti hari ini kita benar-benar bergantung pada bukti dan keberanian.”Neriel tidak berkata apa-apa. Ia hanya mendekat sedikit ke Evelune. “Kau siap?”Evelune menatapnya. Ada ras

  • Bunga Biru   Chapter 49: Rasa

    Malam turun perlahan di kota pelabuhan itu. Lampu-lampu mulai menyala di sepanjang jalan batu, dan udara terasa lebih dingin dibanding kota pesisir tempat Evelune tinggal. Jalan Arthen tidak seramai jalan utama. Rumah-rumah di sana besar, berpagar, dan terlihat seperti milik orang-orang yang memiliki banyak uang dan lebih banyak rahasia.Mereka berhenti di ujung jalan.“Nomor 17 di sana,” bisik Elian.Rumah itu besar, tetapi tidak terlalu terang. Hanya beberapa lampu yang menyala. Tidak terlihat seperti rumah kosong, tetapi juga tidak terlihat seperti rumah yang sedang menerima tamu.“Rencananya,” kata Alira pelan, “Evelune dan aku masuk dari depan. Neriel dan Elian di belakang. Kalau ada apa-apa…”“Aku akan masuk tanpa mengetuk,” lanjut Neriel.Evelune menatapnya. “Jangan sampai tertangkap duluan.”Neriel tersenyum tipis. “Aku ini pelaut, bukan pencuri amatir.”Evelune dan Alira berjalan ke pintu depan. Evelune mengetuk pintu tiga kali.Beberapa detik kemudian, pintu terbuka oleh seo

  • Bunga Biru   Chapter 48: Pengadilan 2

    Ia berpakaian rapi, rambutnya disisir rapi ke belakang, dan wajahnya tenang seperti seseorang yang yakin akan menang. Di sampingnya ada seorang pengacara dan dua pria tua yang pasti anggota dewan dagang.Saat melihat Evelune masuk, Elmar tersenyum tipis.Senyum yang sama seperti di atas kapal kemarin.“Keponakanku,” katanya ketika Evelune mendekat. “Aku senang kau datang. Aku khawatir kau akan memilih bersembunyi selamanya.”Evelune menatapnya tanpa senyum. “Aku tidak datang untuk bersembunyi. Aku datang untuk mengambil kembali apa yang kau curi.”Beberapa orang di sekitar mulai berbisik.Elmar tetap tersenyum. “Kau selalu keras kepala. Sama seperti ayahmu.”Neriel berdiri sedikit di belakang Evelune, tidak ikut bicara, tetapi jelas tidak akan pergi ke mana-mana.Elmar melirik ke arah Neriel. “Dan kau membawa pelaut sebagai pelindungmu sekarang? Seberapa rendah kau jatuh, Evelune?”Sebelum Evelune sempat menjawab, Neriel berkata tenang, “Cukup rendah untuk masih bisa melihat orang-ora

  • Bunga Biru   Chapter 47: Pengadilan

    Pelabuhan barat jauh lebih bising dari yang dibayangkan Evelune. Orang-orang berjalan cepat, para buruh mengangkat peti, pedagang berteriak menawarkan barang, dan kapal datang pergi tanpa henti. Tidak ada yang benar-benar peduli pada satu kapal kecil yang baru datang, dan itu justru menguntungkan mereka.Elian turun lebih dulu, memastikan tidak ada orang yang langsung mengawasi mereka. Alira menyusul, lalu Neriel membantu Evelune turun sambil tetap memperhatikan sekitar.“Pertama kita cari penginapan kecil,” kata Elian pelan. “Kita tidak bisa langsung ke pengadilan begitu saja. Mereka pasti sudah lebih dulu sampai dan menyiapkan sesuatu.”Neriel mengangguk. “Kita istirahat, lalu sore atau besok pagi kita ke pengadilan.”Evelune memeluk peti kayu itu. “Dokumen ini harus tetap bersamaku.”Alira menatapnya. “Kau tidak tidur sambil memeluk itu juga kan?”Evelune menjawab serius, “Iya.”Alira mengangkat tangan menyerah. “Baiklah. Aku tidak akan bertanya lagi.”Mereka berjalan meninggalkan

  • Bunga Biru   Chapter 46: Pengakuan

    Neriel tidak langsung menjawab. Ia terlihat berpikir lama, seolah ingin memastikan jawabannya bukan sesuatu yang akan ia sesali.“Aku sudah hidup lama di laut,” katanya akhirnya. “Aku tidak pernah tinggal lama di satu tempat, tidak pernah menunggu siapa pun, dan tidak pernah ada yang menunggu aku. Hidupku selalu tentang berlayar, bekerja, dibayar, lalu pergi lagi.”Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan lebih pelan, “Tapi sejak aku mulai berjalan ke toko itu hanya untuk membeli bunga yang sebenarnya tidak aku butuhkan… sepertinya ada sesuatu yang berubah.”Evelune menatapnya, tetapi tidak berkata apa-apa.Neriel menoleh padanya sekarang. “Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah semua ini selesai. Mungkin kau akan menjadi pemilik perusahaan besar, mungkin kau akan sibuk dengan pengadilan dan kapal-kapalmu. Tapi satu hal yang aku tahu…”Ia berhenti sebentar.“Aku tidak ingin menghilang dari hidupmu setelah semua ini selesai.”Angin laut berhembus pelan di antara mereka. Kapal terus

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status