แชร์

Bab 7

ผู้เขียน: Ceri
Hari-hari berikutnya, Linda selalu berdalih badannya belum pulih pasca-melahirkan, lalu menyuruh-nyuruh Ratna membuatkan sup dan memasak untuknya.

Dia juga seenaknya menyuruh Ratna membawakan tasnya saat mengajak bayi jalan-jalan, serta menyuruh Ratna menjaga bayi di rumah saat Linda diam-diam keluar main kartu, lengkap dengan larangan keras untuk memberi tahu Arman.

Ratna tak ingin berdebat lagi dengannya, jadi dia menuruti semua perintah itu satu per satu.

Namun, setiap kali melihat Linda dan bayinya begitu akrab, menikmati hari-hari yang damai, mata Ratna selalu memerah tanpa bisa dicegah.

Sampai malam ini, Linda belum juga pulang meski hari sudah larut.

Setelah berhasil menidurkan si kecil, Ratna pun ikut terlelap.

Di antara sadar dan tidak, pintu kamar tiba-tiba ditendang hingga terbuka.

Arman menyerbu masuk, tanpa banyak bicara langsung menyeret Ratna keluar.

"Arman! Lepasin aku!"

Bayi itu sontak menangis keras karena kaget. Ratna menatapnya tak berdaya. "Kamu ngapain sih? Bayinya sampai kebangun!"

Wajah Arman begitu muram bak mendung yang siap menurunkan petir, matanya menyala oleh amarah.

"Ratna, kamu masih punya muka ngomongin anak?!"

"Cuma karena kamu mau rebut anak itu balik, kamu sampai kongkalikong sama gerombolan penjahat yang dendam sama aku! Kamu sengaja bikin mereka ngira Linda itu istri kapten, biar mereka menculik Linda! Kamu pikir kalau Linda kenapa-napa, anak itu bakal balik ke kamu? Mimpi!"

Arman menitipkan bayi itu pada sang ajudan, lalu berbalik dan hendak menyeret Ratna masuk ke dalam mobil.

"Kamu 'kan istri kapten yang sebenarnya! Sekarang ikut aku, kita tukar kamu dengan Linda!"

Ratna tertegun, wajahnya dipenuhi keterkejutan.

Penculikan? Penjahat?

Dia sama sekali tidak tahu apa-apa!

Dengan sekuat tenaga, dia mencengkeram kusen pintu. "Arman, tenang dulu! Penculikan Linda nggak ada hubungannya sama aku! Aku nggak kenal siapa penjahatnya, dan nggak pernah punya niat nyakitin Linda!"

Mata Arman dipenuhi urat-urat merah, seolah memerah karena amarah. "Nggak usah banyak alasan! Waktu aku pergi menyelamatkannya, Linda bilang sendiri kalau kamu yang ngajak dia keluar malam-malam!"

Ratna baru saja hendak membela diri, bahwa Linda keluar malam karena diam-diam keluar main kartu.

Namun, dia buru-buru mengurungkan niat. Buat apa repot-repot menjelaskan?

Toh, Arman takkan pernah mau percaya padanya.

Gelombang kepahitan membanjiri hati Ratna. Dia melepaskan cengkeramannya, menyerah pada keadaan. "Bawa aku. Biar aku yang ditukar sama Linda."

Arman tertegun. 'Kenapa Ratna begitu menurut hari ini?'

Namun, karena pikirannya sedang kalut memikirkan keselamatan Linda, dia tak punya waktu untuk mengurusi hal itu.

Setelah menyuruh Ratna masuk ke mobil, dia langsung menginjak gas dalam-dalam, memacu kendaraan secepat mungkin menuju kuburan tua tempat para penculik bersembunyi.

Sesampainya di sana, penculik itu masih menyandera Linda.

Tubuh Linda berlumuran darah, dia begitu ketakutan sampai tak sanggup lagi mengeluarkan suara tangisan.

Melihat Arman datang, sang penculik menyeringai dingin.

"Arman! Dulu, cuma gara-gara aku berantem di kesatuan, kamu kasih teguran tertulis dan memecatku! Gara-gara kamu, ibuku marah sampai jatuh sakit dan meninggal! Hari ini, kalau kamu nggak kasih aku uang buat menguburkan ibuku, dan nggak kasih penjelasan yang masuk akal, aku bunuh istrimu!"

Arman begitu tegang sampai suaranya pun bergetar.

"Bambang, tenang dulu! Kamu salah orang!"

"Perempuan yang kamu sandera itu cuma warga sipil yang nggak bersalah. Yang di sampingku ini baru istriku! Aku janji, aku tukar istriku dengan warga sipil yang kamu sandera itu, dan aku bakal pertimbangkan permintaanmu!"

Melihat Bambang tak kunjung bergerak, Arman dengan cemas membawa Ratna maju beberapa langkah.

"Berhenti!" Bambang berteriak keras.

"Jangan mendekat! Suruh istrimu jalan sendiri ke sini buat nuker posisi! Kalau kamu coba macam-macam, jangan salahkan kalau pisaunya nggak kenal ampun!"

Selesai bicara, dia menggoreskan pisau ke lengan Linda!

Arman tak sabar lagi, mendorong Ratna ke depan. "Cepat sana!"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Bunga Paulownia Berguguran, Musim Semi Enggan Berlalu   Bab 22

    Orang-orang menjerit dan berlarian menyelamatkan diri ke segala arah. Debu beterbangan, suasana seketika kacau balau.Raut wajah Arman mengeras, instingnya mengambil alih segalanya.Dengan sigap, dia berteriak memberi perintah."Menyebar! Semua anggota, lindungi rekan perempuan!"Mendengar teriakannya, pemuda pengacau itu mengumpat marah. Matanya merah menyala sambil mengacungkan belati dan menerjang ke arah mereka.Arman bertindak sigap. Dengan gerakan cepat, dia mengelak sedikit, lalu mencengkeram pergelangan tangan salah satu pemuda dan melumpuhkannya.Ratna menatap belati yang berkilat dingin itu, ingatan tentang masa lalu saat dia disayat empat puluh kali kembali menyeruak di benaknya.Tubuhnya gemetar tak terkendali. Sambil memeluk erat anaknya, dia terus mundur.Namun, dia tak sengaja tersandung batu dan terjatuh keras ke tanah.Melihat hal itu, pemuda yang satunya menajamkan tatapan, dan tanpa banyak bicara langsung menusukkan belati ke arahnya!Ratna tak bisa mengelak lagi.Di

  • Bunga Paulownia Berguguran, Musim Semi Enggan Berlalu   Bab 21

    Usai berkata seperti itu, Ratna berbalik dan langsung melangkah pergi, tetapi tubuhnya menabrak dada bidang seseorang.Hendra tersenyum tipis di sudut bibirnya, mengambil alih barang bawaan dari tangan Ratna."Ayo jalan, waktunya mepet."Apa Hendra ... mendengar ucapannya barusan?Ratna terpaku, membiarkan Hendra menuntunnya naik ke mobil.Mobil melaju dengan tenang, Ratna saking gugupnya bahkan tak berani mengangkat kepala.Setelah menahan diri cukup lama, barulah dia berhasil mengeluarkan sepatah kata, "Dokter Hendra, kamu ... kamu datangnya kapan?"Suara Hendra terdengar lembut dan menenangkan."Semua yang kamu bilang tadi, aku udah denger."Napas Ratna tercekat. "Bukan, maksud aku bukan gitu ....""Justru itu maksudku."Hendra memotongnya, nadanya serius dan tulus."Aku ingin menjalin hubungan yang serius sama kamu. Hubungan yang tujuannya menikah, bukan sekadar iseng.""Ratna, aku tahu kamu pernah terluka. Tapi, aku beda dengan Arman. Aku sudah memutuskan buat milih kamu. Di hatik

  • Bunga Paulownia Berguguran, Musim Semi Enggan Berlalu   Bab 20

    Masuk ke kamar dan menutup pintu, jantung Ratna berdebar kencang.Rekan sekamarnya melihat pipinya yang merah dan langsung mendekat dengan penuh rasa ingin tahu."Ratna, ada apa nih? Kamu ngobrolin rahasia sama Dokter Hendra, atau gara-gara cowok yang tiba-tiba nyerbu panggung tadi? Dia itu siapa sih?"Ratna langsung masuk ke balik selimutnya. "Udah, jangan nanya lagi! Pokoknya bukan gara-gara cowok itu!"Rekannya itu mengangguk pelan seolah mengerti. "Oh, berarti gara-gara Dokter Hendra ya ...."Ratna mengubur kepalanya di balik selimut. Untuk sesaat, pikirannya melayang. Ratna yang dulu, yang memikul gentong air, menggotong batu bara, memusingkan setiap keping uang, dan menghabiskan hari-harinya hanya untuk menunggu suami ... pasti tak pernah menyangka kalau suatu hari nanti dia masih bisa memiliki kehidupan yang begitu berwarna, penuh semangat, dan kembali hidup layaknya seorang gadis muda. Hari itu, dia menyeret tubuhnya yang penuh luka melarikan diri dari kuburan tua dan tiba di

  • Bunga Paulownia Berguguran, Musim Semi Enggan Berlalu   Bab 19

    Arman tiba-tiba mendongak. "Kamu siapa?"Pria itu berpostur tegap, berperawakan lembut dan tampak terpelajar. "Halo, Pak Arman. Namaku Hendra, dokter rombongan kesenian ini, dan juga ... teman terdekat Ratna."Tatapan Hendra kepadanya sarat akan rasa jijik dan permusuhan, tetapi saat menatap Ratna, tatapannya begitu lembut dan penuh kasih.Bagaimana mungkin Arman tidak menyadari perasaan pria itu terhadap Ratna dan provokasi terang-terangannya?Dia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri dan menutupi keterpurukannya. "Ini urusan pribadiku dan Ratna. Dokter Hendra, meski teman dekat Ratna, tetap saja orang luar. Kurasa Dokter nggak berhak ikut campur."Hendra tersenyum tipis."Urusan pribadi yang Pak Arman maksud, adalah mengejar dan menghadang seseorang yang nggak ingin menemuimu, membuat keributan di tempat pertunjukan, memaksa orang lain, dan sama sekali nggak tahu diri?"Dia tersenyum, tetapi setiap katanya setajam pisau, menusuk Arman hingga tak sanggup membela diri.

  • Bunga Paulownia Berguguran, Musim Semi Enggan Berlalu   Bab 18

    Ratna terdiam sejenak.Ternyata, Arman sama sekali belum tahu soal perceraian mereka.Wajar saja.Pria itu toh tak pernah mencintainya, jadi segala hal tentang dirinya memang tak pernah dia pedulikan.Namun, Ratna yang sekarang takkan pernah lagi membiarkan hatinya hancur dan menitikkan air mata seperti dulu.Dia melanjutkan ucapannya dengan ekspresi datar, seolah sedang menceritakan kisah orang lain."Alasan aku bisa ngilang sejauh ini karena aku udah lolos seleksi rombongan kesenian luar daerah. Terus, pakai surat keterangan dari mereka, aku ngajuin perceraian sepihak ke Catatan Sipil. Buku cerai punyaku udah lama aku terima.""Buku cerai kamu mungkin nyelip di tumpukan berkas di kantor kamu, atau mungkin pihak Catatan Sipil lupa nganterin ke kesatuan. Tapi, mau kamu tahu atau nggak, hubungan pernikahan kita udah resmi berakhir.""Selamat ya, akhirnya kamu bisa bebas sama Linda, sama anak kita ... Eh bukan, anak kalian, secara terang-terangan."Saat menyebut anak yang tak pernah bena

  • Bunga Paulownia Berguguran, Musim Semi Enggan Berlalu   Bab 17

    Semua terjadi terlalu mendadak.Sesaat sebelumnya Ratna masih menari. Namun, pada detik berikutnya, sepasang tangan yang kuat tiba-tiba menariknya. "Ratna ... ini beneran kamu!"Arman mencengkeram tangan wanita itu erat-erat, seolah menggenggam seluruh dunianya."Kamu masih hidup! Kamu benar-benar masih hidup! Kalau kamu masih hidup, kenapa nggak balik nyari aku? Selama ini kamu di mana? Kamu tahu nggak, aku udah ngadain pemakaman buat kamu. Aku pikir akulah yang menyebabkan kematianmu ...."Sudah lama tak berjumpa, Arman seolah berubah menjadi orang lain.Sosoknya yang dulu gagah dan penuh semangat kini telah lenyap.Mata yang dulu selalu tajam dan penuh wibawa itu kini dipenuhi kebingungan dan kehampaan. Postur tubuhnya yang tegap pun kini tampak sedikit membungkuk.Jika diperhatikan dengan saksama, di pelipisnya ... ternyata sudah tumbuh beberapa helai uban.Sosok Arman yang seperti ini terasa begitu asing.Ratna sebenarnya sudah bersiap kalau akan bertemu Arman saat tampil di sin

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status