แชร์

Bab 5

ผู้เขียน: Ochos
Mendengar suara, beberapa orang yang berdiri di samping wastafel berbalik secara serentak.

Saat melihat Fiona, Brenda mematung sejenak sebelum memaksakan senyum di wajahnya. "Fio? Kok kamu ada di sini? Kamu nggak dengar apa yang baru saja kami bicarakan, 'kan?"

Fiona melirik Brenda, lalu berjalan perlahan menuju wastafel. Dia menjawab dengan nada datar, "Aku mendengar semuanya."

Brenda tidak menyangka Fiona akan mengakuinya secara terang-terangan. Raut wajahnya seketika berubah masam. Teman-temannya yang merasakan ada yang tidak beres juga hendak turun tangan untuk memberi Fiona pelajaran.

Fiona menyalakan keran air, lalu terlebih dahulu berbicara tanpa memberi mereka kesempatan, "Orang yang mempermainkan ketulusan orang lain nggak akan pernah dapatkan ketulusan sebagai balasannya."

Kalimat singkat itu membuat Brenda terdiam seribu bahasa. Matanya yang berkobar dengan amarah tertuju pada tahi lalat di sudut mata Fiona. Kemudian, dia melepaskan kepura-puraannya dan tertawa mengejek.

"Kamu cuma seorang pengganti yang bahkan belum pernah menangkan cinta Nico. Apa hakmu untuk bicara soal ketulusan denganku?"

"Makanya! Siapa ya yang ditinggalin di tempat terpencil ini?"

"Pacar satu ini benar-benar kasihan!"

Setelah melontarkan ejekan itu, ketiga orang itu berjalan pergi sambil bergandengan tangan.

Fiona tidak mengejar mereka. Nicholas mempermainkan ketulusannya, sedangkan Brenda juga mempermainkan perasaan Nicholas. Mungkin ini adalah karma.

Fiona berjalan menuju pintu keluar dan berniat memanggil taksi. Namun, dia baru teringat bahwa dia berada di vila pegunungan yang terpencil. Benar saja, beberapa aplikasi menunjukkan keterangan "tidak ada kendaraan di sekitar".

Entah Brenda bersekongkol dengan teman-teman Nicholas atau tidak, belasan mobil melintas melewati Fiona tanpa ada satu pun orang yang menawarkan tumpangan.

Brenda masuk ke mobil terakhir. Sebelum mobil itu melaju pergi, dia menurunkan kaca jendela dan melemparkan tatapan penuh kemenangan serta ejekan ke arah Fiona. Fiona akhirnya memahami bahwa ini adalah bentuk pembalasan dendam Brenda.

Fiona tersenyum tipis, lalu menuruni gunung dengan berjalan kaki. Angin malam mengibarkan ujung gaunnya. Suasana di sekitarnya sangat sunyi. Hanya suara jangkrik yang menemaninya.

Pikiran Fiona melayang, berbagai kenangan melintas di benaknya, berputar layaknya potongan film dan memberinya perasaan tidak nyata, seolah dirinya sedang bermimpi. Cinta, sosok pengganti, kepulangan cinta pertama ke dalam negeri, ulang tahunnya, ketulusan ....

Tiba-tiba, Fiona sedikit penasaran. Seandainya Nicholas tahu bahwa delapan tahun yang dihabiskannya untuk menyiksa diri memikirkan cinta pertamanya sebenarnya hanyalah permainan "jual mahal" yang direkayasa oleh Brenda, bagaimana perasaannya nanti?

Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam saat Fiona tiba di rumah. Dia melepas sepatunya, lalu melihat luka lecet berdarah di kakinya. Sambil meringis, dia pergi mengambil kotak P3K. Setelah mengobati lukanya, dia merasa sangat kelelahan. Dia pun pergi mandi dan langsung tidur.

Saat bangun keesokan harinya, segala sesuatu di ruangan itu masih sama persis seperti hari sebelumnya. Fiona tidak ingin tahu Nicholas pergi ke mana. Dia hanya bangkit, lalu mengganti perban lukanya. Baru saja dia selesai membalut lukanya, Francis menelepon.

"Fio, apa kamu tidur lebih awal kemarin? Kenapa kamu nggak balas pesanku? Kamu tahu nggak? Tunanganmu sudah siapkan banyak kejutan ulang tahun untukmu. Dia bukan cuma minta aku transferkan sejumlah besar uang kepadamu, tapi juga beli banyak perhiasan dan mengirimkannya ke rumah biar kamu bisa langsung pakai begitu kembali."

"Gimana menurutmu? Pasangan yang Kakak pilihkan untukmu ini lumayan, 'kan?"

Fiona mengaktifkan mode speaker, lalu memeriksa notifikasinya. Benar saja, dia melihat ada transfer dana sebesar 100 miliar ke rekeningnya. Baru saja dia hendak menjawab, Nicholas yang tidak pulang semalaman tiba-tiba masuk.

"Pasangan? Pasangan apa?"

Mendengar suara yang familier itu, Francis yang berada di ujung telepon seketika menjadi antusias. "Fio, siapa yang bicara barusan? Nicholas? Kenapa dia bisa bersamamu sepagi ini?"

Jantung Fiona berdegup kencang. Dia segera mencari alasan dan mengakhiri panggilan itu. Melihat kegugupannya, Nicholas pun tersenyum, tetapi berpura-pura memasang ekspresi merajuk.

"Kenapa kamu langsung tutup teleponnya, bukannya biarkan aku ngobrol sama sahabatku? Apa pacarmu ini begitu memalukan untuk dikenalin ke orang lain?"

Fiona tidak berniat meladeni candaan Nicholas. Dia hanya membalas dengan tenang, "Bukannya kamu sendiri yang mau rahasiakan hubungan kita darinya?"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 24

    Fiona hanya menjawab singkat, “Aku juga.” Jika Fiona sudah yakin bahwa sesuatu tidak lagi bisa diperbaiki, dia tidak akan pernah menoleh kembali. Sebaliknya, begitu dia sudah memutuskan untuk menghabiskan seumur hidup bersama seseorang, dia pasti akan memberikan orang itu sebuah kesempatan. Sementara itu, hubungan Fiona dan Nicholas sejak awal memang merupakan sebuah kesalahan. Fiona butuh waktu delapan tahun untuk menyadari bahwa selama ini dia berjalan di jalan yang salah. Jadi, mana mungkin dia mengulangi kesalahannya lagi?Jadi, Fiona mengangkat kepala dan menatap Nicholas dengan tegas, lalu berkata dengan jelas, “Nicholas, yang kamu sukai selama ini bukan aku, melainkan bayangan Brenda yang kamu lihat dalam diriku.”“Aku bisa mengajukan putus sama kamu bukan karena lagi merajuk, juga bukan menunggu dibujuk olehmu, melainkan karena aku sudah nggak mencintaimu lagi.”"‘Segala bentuk kebohongan nggak layak dimaafkan’, apa kamu masih ingat dengan kalimat yang pernah kamu katakan sebe

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 23

    Setelah resepsi pernikahan selesai, Fiona mengganti pakaian yang lebih santai, menggandeng Maverick untuk pulang ke rumah baru.Ini pertama kalinya mereka berdua bergandengan tangan dengan jari saling bertaut sebagai pasangan suami istri.Saat merasakan kehangatan dari telapak tangan Maverick, Fiona merasa kulitnya yang sempat terasa dingin karena embusan AC itu, perlahan kembali hangat.Pasangan pengantin baru itu menghindari keramaian di pintu depan dan memilih keluar melalui pintu belakang.Baru saja Fiona membuka pintu, pandangannya langsung tertuju pada Nicholas yang berdiri beberapa meter di depan.Bukan karena Fiona sedang mengenang masa lalu, melainkan karena wajah Nicholas yang bengkak dan lebam akibat dihajar itu memang sangat menarik perhatian. Saat melihat penampilannya seperti ini, akhirnya Fiona mengerti kenapa kakaknya berkelahi hingga kemejanya robek.Betul juga, Fiona adalah adik kandung Francis yang tumbuh bersamanya sejak kecil. Mana mungkin Francis tidak turun tanga

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 22

    Keributan kecil itu tidak menarik terlalu banyak perhatian. Setelah para sekuriti menjalankan instruksi untuk membawa orang yang mengganggu jalannya acara keluar dari lokasi, pernikahan tetap berlangsung dengan tertib.Orang-orang yang ekspresinya benar-benar berubah saat itu hanyalah keempat sahabat dekat yang dulu tinggal di asrama yang sama.Francis yang berada di belakang panggung dapat melihat seluruh kejadian itu dengan sangat jelas.Saat Nicholas berlari naik ke panggung, Francis seolah-olah menyadari sesuatu. Raut wajahnya menjadi muram dalam seketika.Ketika mendengar pembawa acara mengatakan bahwa masih ada sepuluh menit sebelum giliran pengiring pria memberikan pidato, Francis melepas jasnya, menggerakkan pergelangan tangannya, lalu berjalan keluar.Baru saja sampai di pintu, Francis langsung berpapasan dengan Nicholas yang sudah kehilangan kendali serta Mason yang masih tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Francis mengayunkan tangannya, kemudian langsung mencengk

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 21

    Belum sempat Nicholas merespons, alunan musik pernikahan mulai berkumandang tepat pada waktunya.Saat mendengar suara, Nicholas langsung mengangkat kepalanya. Dia melihat pintu di panggung yang berjarak sekitar 20 meter darinya terbuka. Seorang pria mengenakan jas hitam berjalan perlahan memasuki ruangan, lalu berdiri di tengah panggung.Nicholas memiliki sedikit rabun jauh, sehingga dia tidak bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di kejauhan. Dia pun menyenggol lengan Mason. “Apa sekarang giliran Francis masuk ruangan?”Mendengar pertanyaan itu, kedua teman di sampingnya langsung menoleh bersamaan, menatapnya dengan ekspresi penuh keterkejutan.“Buat apa dia naik ke panggung? Hari ini bukan dia yang menikah.”Bukan Francis yang menikah?Jadi, kenapa Nicholas disuruh datang kemari?Raut wajah Nicholas menjadi muram. Dia bertanya dengan nada menguji, “Dia bukan pengantin pria?”“Tentu saja bukan. Pengantin pria adalah putra kedua dari Keluarga Saputra, Maverick Saputra.”Nicholas

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 20

    Pada hari Kamis malam, Nicholas masih tidak menerima balasan telepon dari Fiona. Hatinya sungguh terasa gelisah. Dia terus meneguk alkohol. Tatapannya terus-menerus melirik layar ponsel. Kenny mengetahui masalah hati Nicholas. Dia pun memikirkan cara untuk menghibur Nicholas. “Pasti dia sedang merajuk dan menunggu kamu membujuknya. Semua orang bisa melihat kalau Fio sangat menyukaimu, mana mungkin dia benar-benar ingin putus?”“Menurutku, kemungkinan besar dia meminta kakaknya membujukmu untuk datang ke pesta pernikahan itu. Dia hanya ingin memberimu jalan keluar agar kamu nggak merasa malu.”Ketika mendengar ucapan itu, akhirnya hati Nicholas merasa lebih nyaman. Dia melihat jam. Pada pukul sembilan nanti, dia akan segera berangkat ke bandara.Kenny mengendarai mobil untuk mengantarnya. Saat berhenti pada lampu merah, dia melirik beberapa kotak hadiah yang dibungkus dengan indah di baris belakang. Terdengar rasa iri di dalam nada bicaranya. “Bukannya hanya pernikahan teman satu asram

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 19

    Hanya Brenda saja yang masih tenggelam dalam mimpi indah dilamar. Dia masih seperti biasanya, menunjukkan ekspresi manja dan merajuk.“Kalau kamu seperti ini, aku nggak akan setuju!”Nicholas mengangguk dengan raut wajah tidak peduli. Dia melontarkan kalimat yang membuat semua orang di tempat terbelalak. “Setuju atau nggak juga nggak penting, karena sebenarnya orang yang ingin aku lamar bukan kamu.”Brenda menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Sekujur tubuhnya tanpa sadar mulai gemetar. “Apa maksud … ucapanmu?”“Apa maksudku?” Nicholas membuang bunga ke atas lantai, kemudian menutup kotak cincin di telapak tangannya. “Maksudku, orang yang ingin aku lamar, bukan Brenda.”Setelah selesai berbicara, seluruh ruangan menjadi hening, hanya tersisa suara napas ringan saja.Nicholas juga tidak menghiraukan ekspresi Brenda saat ini. Dia berbalik, lalu membungkukkan tubuhnya untuk memberi hormat kepada para hadirin. Nada bicaranya menyimpan sedikit senyuman.“Maaf, semuanya. Sebenarnya acara

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status