LOGIN
"Setelah pesta ini lo mau kemana, Dar?"
Pertanyaan itu meluncur bersama kepulan asap rokok dari salah satu teman Darius. Malam itu, sudut sebuah kafe yang cukup riuh berubah menjadi ruang perayaan kecil. Beberapa gelas kopi yang mulai mendingin dan piring-piring kecil berisi sisa camilan berserakan di atas meja. Mengelilingi Darius yang malam itu menjadi pusat perhatian karena sedang merayakan ulang tahunnya. "Check-in pastinya. Sebagai kado," sahut teman Darius yang lain, menyenggol bahu sang pemilik acara dengan seringai mesum yang tak ditutupi. "Pacar dia kan cantiknya keterlaluan. Wajahnya dapet, bodynya... ah, sial. Kalau gue jadi Darius, gue udah pasti nggak bakal bisa berhenti main." Mendengar godaan itu, Darius hanya bersandar pada kursi. Perlahan menyesap minumannya sambil mengumbar senyum tipis. Kerutan di sudut matanya menunjukkan kedewasaan seorang pria yang tahu bagaimana cara memikat wanita. Namun, riak di matanya malam ini tampak dipenuhi keangkuhan yang tinggi. "Dar, lo cuma senyum-senyum doang. Gimana? Bener nggak, kayak yang mereka omongin?" pancing teman yang lain, condong ke depan meja. Antusias menagih kepastian. Mereka semua heboh, mata mereka berbinar liar ingin tahu rahasia di balik pintu kamar seorang Darius. Darius tersenyum semakin lebar, merapikan sedikit kerah bajunya sebelum menjawab dengan nada yang begitu santai. "Jelas dong. Gue pasti minta itu malam ini. Dia kan nurut banget sama gue. Kita udah biasa ngelakuin hal itu. Dan semua yang lo sebutin tadi... semuanya bener seratus persen." Darius terkekeh pelan, menikmati tatapan iri dari teman-temannya. "Gue beruntung dapetin dia. Dilihat dari angle mana pun, dia mantep banget, guys. Apalagi ... kalau udah nggak pakai baju." HAHAHAHA .... Tawa serempak langsung pecah di meja itu begitu mendengar ucapan Darius. Suara tawa bass mereka yang berat memantul di antara dinding kafe. Mendengar jawaban jujur yang begitu vulgar dari Darius, ketiga temannya saling pandang. Mereka bermain mata, melempar kode-kode nakal dengan isi kepala yang mulai dipenuhi imajinasi liar. "Dar, boleh nggak nih kita tahu kayak gimana patennya pacar lo itu? Biar kita percaya kalau semua yang lo omongin tadi itu emang bener, bukan cuma bualan lo doang," pancing salah satu teman Darius. Nadanya menantang sekaligus merendahkan martabat wanita yang dimaksud. Darius menatap teman-temannya satu per satu. Merasa egonya sebagai pria dewasa sedang diberi makan oleh pujian-pujian itu. Sebuah seringai bangga terukir di wajahnya. "Lo semua beneran mau tahu?" tawar Darius, memancing rasa penasaran mereka hingga ke puncaknya. "Yoi, brooo..." jawab mereka serempak, hampir tak sabar. Tanpa keraguan sedikit pun di wajahnya. Darius merogoh saku celana dan mengeluarkan ponsel. Layar ponsel itu menyala, memantulkan cahaya lampu kafe yang temaram. Jemarinya menggeser layar beberapa kali dengan begitu kasual, seolah apa yang sedang dia cari adalah barang publik, bukan privasi sakral di antara sepasang kekasih. Darius meletakkan ponselnya di tengah meja. Menunjukkan foto-foto kekasihnya saat mereka sedang berhubungan intim. Foto-foto di mana sang wanita menyerahkan seluruh dunianya atas dasar cinta dan percaya. "Gila, bro! Ini mantap banget. Pulen banget," ucap salah satu teman Darius dengan mata melebar. Menatap lumat-lumat layar ponsel yang menampilkan lekuk tubuh tanpa sensor tersebut. Hancur sudah batas privasi itu, menguap bersama tawa mereka yang kembali meledak. "Hahaha..." "Pantesan lo kalau lagi bareng sama pacar lo nggak bisa diganggu sama sekali. Ternyata barang dia emang sebagus ini," ucap temannya yang lain. Bergantian menggeser layar, menikmati ketelanjangan wanita yang seharusnya dijaga kehormatannya oleh Darius. Darius tampak sangat bangga dengan pujian demi pujian dari teman-temannya. Dia merasa seperti seorang pemenang yang berhasil menjinakkan piala paling berharga. Tak selesai sampai di situ, dengan nada pamer yang semakin kental. Darius menambahi ceritabya dengan yang lebih detail. "Dia nggak cuma visualnya yang bagus. Tapi mainnya juga mantap. Di atas, di bawah, dari belakang... semuanya enaaakkkk... banget." "Hahahah..." Mereka semua kembali tertawa terbahak-bahak, saling menepuk bahu, menganggap penyerahan diri dan harga diri seorang wanita sebagai lelucon terbaik di hari ulang tahun Darius. Namun, di tengah-tengah gemuruh tawa yang menjijikkan itu. Mereka tidak menyadari bahwa di samping meja tempat mereka berada. Sedikit agak jauh. Terpisahkan hanya beberapa meter dari mereka. Seorang gadis sedang berdiri mematung. Paris Arabella. Kekasih Darius itu berdiri dengan kedua tangan yang bergetar hebat. Memeluk sebuket bunga mawar indah yang sudah dia persiapkan sejak sore. Bunga yang awalnya ingin dia serahkan sebagai simbol cinta di hari bahagia pria itu, kini terasa seperti duri yang menusuk tangannya sendiri. Paris mendengar semuanya. Setiap kata, setiap tawa, dan setiap desah penjelasan yang keluar dari mulut pria yang selama ini dia hormati dan dia percayai sepenuh jiwa. Udara di sekitarnya mendadak hilang. Dadanya sesak, dihantam oleh rasa malu, kecewa, dan kehancuran yang begitu hebat hingga membuat seluruh persendiannya lemas. Secara tidak sengaja, mata Darius bergulir ke samping. Detik itu juga, napasnya tercekat. "Shittt..." bisik Darius, wajahnya mendadak kaku begitu sadar bahwa kekasihnya sendiri ada di sana. menyaksikan setiap ucapannya yang merendahkan dari dekat. Seketika, semua teman-temannya langsung membisu. Tawa riuh itu lenyap, digantikan oleh keheningan yang mencekam. Mereka saling pandang dengan canggung. Buru-buru memalingkan wajah ke arah lain. Namun, meski mulut mereka terdiam, otak mereka telanjur liar. Mereka kini menatap Paris dengan tatapan berbeda. Tatapan menjijikkan yang sedang membayangkan bentuk tubuh Paris tanpa busana. Persis seperti yang ada di foto ponsel Darius tadi. Paris terdiam di tempatnya berdiri. Bibirnya bergetar menahan ledakan emosi yang menyumbat tenggorokannya. Dia melihat Darius dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Membiarkan air mata kekecewaan menggenang di pelupuk matanya. Tidak ada teriakan, tidak ada tamparan, dan tidak ada makian yang keluar dari mulutnya. Dengan harga diri yang masih tersisa. Paris kemudian memutar tubuhnya, berbalik pergi meninggalkan area meja itu tanpa mengucapkan satu patah kata pun. "Paris! Tunggu, Paris!" Darius buru-buru bangkit, mengabaikan teman-temannya dan langsung berlari menyusul langkah Paris. Mereka akhirnya terlibat pertengkaran hebat di depan kafe. Di bawah temaram lampu jalanan yang mulai sepi. "Paris, sayang, dengarkan aku dulu," Darius meraih lengan Paris, mencoba menahannya. Suaranya melembut, mencoba merayu dengan nada manis yang biasa dia gunakan agar kekasihnya tidak marah. "Dengar apa?!" Paris menyentakkan tangannya dengan kasar. Berbalik menghadap Darius dengan dada yang kembang kempis menahan sesak. Air matanya kini sudah menggenang, siap tumpah kapan saja. "Aku sudah dengar semuanya, Darius! Bisa-bisanya kamu ngomongin hal kayak itu ke mereka?!" "Mereka tanya, Paris. Aku cuma jawab karena aku bangga punya kekasih yang cantik seperti kamu," sahut Darius membela diri. Dengan wajah tanpa bersalah, dia mengulurkan tangan, mencoba membelai rambut Paris untuk menenangkannya. Namun gadis itu mengelak dengan cepat. "Tapi kamu juga tunjukin foto saat kita melakukan itu! Mereka lihat aku sedang__" Ucapan Paris mendadak berhenti. Lidahnya terlalu kelu untuk melanjutkan kata-kata yang begitu menghancurkan harga dirinya sebagai wanita. Pertahanannya runtuh, dan air matanya akhirnya jatuh membasahi pipi. Melihat air mata Paris yang mengalir, Darius justru kehilangan kesabarannya. Dia membuang muka ke arah jalanan. Mendengus kasar, lalu menghela napas panjang dengan raut wajah yang terlihat jengkel. "Mulai deh. Jangan lebay, Paris. Gitu doang nangis," ucap Darius, nadanya berubah menjadi dingin dan menggurui. "Aku tuh cuma bangga punya pacar yang cantik banget. Kamu tuh memang cantik banget kalau lagi di puncak, Sayang. Aku cuma mau pamerin ke mereka kalau pacar aku tuh memang best banget. Salahnya di mana?" "Pamer katamu? Hal privat kayak gitu kamu pamerin ke orang lain?! Gila kamu yaa!!!" Suara Paris meninggi. Air matanya mengalir semakin deras, tak percaya bahwa pria yang dia cintai bisa segila ini dalam meremehkan perasaannya. "Kamu pikir itu wajar, Darius?!" Sadar bahwa dia sudah terdesak dan tidak bisa melawan argumen Paris lagi, ditambah beberapa orang di sekitar kafe mulai melirik ke arah mereka. Darius akhirnya memilih untuk mengalah. Dia mengangkat kedua tangannya, memasang wajah menyesal yang dibuat-buat. "Oke, oke, aku ngaku salah. Maafin aku ya, Sayang. Please..." Darius melangkah mendekat. Menatap Paris dengan pandangan memohon. "Aku cuma ingin tunjukin kalau pacar aku yang terbaik di depan mereka. Ini hari ulang tahun aku, Paris. Tolong jangan rusak hari bahagia kita cuma karena masalah ini." Masalah ini. Bagi Darius, kehormatannya yang diinjak-injak hanyalah sebuah "masalah ini" yang mengganggu hari ulang tahunnya. Paris tidak bergeming. Rasa cinta yang dulu begitu sempurna di hatinya kini telah retak. Menyisakan rasa kekecewaan yang amat nyata. Paris menatap wajah Darius, mencari sisa-sisa pria baik yang dulu dia kenal, namun ia tidak menemukan apa-apa selain keegoisan yang menjijikkan. Bayangan-bayangan sikap posesif Darius yang tidak wajar mulai ia sadari. Bagaimana pria itu selalu mengatur seluruh hidupnya, membatasi ruang geraknya, bahkan mendikte model baju apa yang boleh dan tidak boleh ia kenakan. Perlahan, Paris menurunkan tangannya. Dia membuang buket bunga indah yang dia bawa ke atas tanah, membiarkannya tergeletak tak berharga tepat di depan sepatu Darius. Tanpa sepatah kata pun, Paris berbalik. Dia melangkah pergi meninggalkan Darius yang masih terpaku di depan kafe. Berjalan menembus kegelapan malam dengan kesedihan yang ia tanggung sendiri.Tangan Adrian terulur lembut, menyapu helaian rambut Paris yang berantakan diterpa angin siang di taman kampus. Sentuhan jari-jarinya terasa begitu tenang, tanpa ada desakan atau maksud tersembunyi yang membuat dada Paris cemas. Di hadapan pria itu, Paris tidak perlu bersikap menjadi orang lain. Ia tidak perlu berpura-pura menjadi cewek yang 'santai' hanya agar tidak ditinggalkan. Paris menatap wajah Adrian yang tersenyum hangat. "Kamu nggak takut orang-orang di kampus ngeliatin kita, Yan?" Adrian terkekeh pelan, menarik tangannya kembali lalu menopang dagunya di atas meja kayu. Pandangan matanya terkunci rapat pada Paris, memancarkan kejujuran yang jelas. "Kenapa harus takut, Paris? Saya jalan sama wanita yang saya suka, bukan lagi nyembunyiin kejahatan." Kata-kata itu meluncur begitu saja, tetapi dampaknya seperti menyiramkan air sejuk ke atas luka lama di hati Paris. Kalimat sederhana yang selama ini ingin ia dengar dari mulut River, kini diucapkan oleh Adrian tanpa ragu sedik
Pintu kayu rumah Paris terkunci rapat dengan bunyi klik yang tegas, menyisakan keheningan malam yang menusuk. Di balik gembok pagar besi yang baru saja dibantingnya, Paris bersandar sejenak, menghela napas panjang untuk menetralkan detak jantungnya yang maraton. Rasa hangat dari perhatian Adrian tadi malam sengaja ia simpan rapat-rapt di dadanya, dijadikan perisai kokoh agar bayangan kemarahan dan cengkeraman kasar River tak lagi sanggup melukainya.Malam itu, Paris tidur dengan tenang. Setelah sekian lama, ia tak lagi menunggu denting notifikasi ponsel yang hanya berisi pesan singkat penuh ketidakpastian.Pagi harinya di area kampus, atmosfer mendadak berubah seratus delapan puluh derajat.River, pria paling populer di kampus, sosok kharismatik yang selalu mengumbar senyum menawan, hari itu tampil berbeda. Aura dominan yang biasanya terpancar penuh percaya diri kini meredup, tergantikan oleh sikap yang jauh lebih pendiam dan dingin.Pria itu berjalan
Malam di kompleks perumahan itu mendadak terasa jauh lebih dingin. Rasa hangat dari sentuhan lembut Adrian di puncak kepalanya, serta kebahagiaan sederhana saat menerima kotak macaron rasa vanila tadi, seketika menguap tanpa sisa.Digantikan oleh gelombang tegang yang menusuk hingga ke tulang.Paris membeku. Langkah kakinya terkunci rapat di atas aspal dingin tepat di depan gerbang rumahnya yang sepi.Dari balik pohon mangga, sosok yang terduduk di samping motor sport hitam itu perlahan bangkit. River melangkah maju. Jaket kulit hitam yang dikenakannya tampak kusam, rambutnya berantakan diterpa angin malam, dan matanya, mata yang dulu selalu memancarkan keegoisan kini merah membara, dipenuhi gabungan antara cemburu, amarah, dan rasa tidak berdaya yang bergejolak."Bagus ya," suara River terdengar parau, penuh akan sarkasme yang tajam. Pria itu terus melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka. "Baru sebentar gue nggak ada, lo udah bisa senyum serenyah itu sama cowok lain?"Par
Paris terburu-buru meraih gelas kaca berisi minuman berwarna ungu gradasi di depannya, berusaha mengalihkan perhatian dari hangatnya rona merah yang kini menjalar hingga ke lehernya.Sentuhan singkat jemari Adrian saat menyeka busa minuman di sudut bibirnya tadi masih meninggalkan sensasi aneh yang membuat jantungnya berdegup tak karuan.Adrian, yang menyadari salah tingkahnya gadis di hadapannya, hanya tersenyum tipis. Dengan gestur yang sangat dewasa, ia tidak menggoda Paris lebih jauh. Pria itu justru menyandarkan punggungnya santai ke sandaran kursi katun cream, memberi Paris ruang untuk bernapas."Jadi, bagaimana menurut kritikus terbaik saya?" tanya Adrian, mengalihkan obrolan dengan nada suara rendah yang tenang. "Rasa lavender dan lemonnya terlalu kuat, atau justru pas?"Paris berdeham pelan, mencoba menetralkan degup dadanya sebelum kembali menatap gelas cantik itu. "Rasa asam lemonnya langsung kerasa di awal, tapi setelah ditelan, ada aroma lavender yang manis dan menenangka
"Aduh, Par, lo bisa santai dikit nggak sih? Eh salah, maksud gue, kok lo bisa santai banget sih?!" Febby bolak-balik merapikan kerah sweter Paris yang sebenarnya sudah sangat rapi.Gadis itu berkali-kali melirik jam tangan digitalnya, lalu menatap jalanan di depan gerbang kampus dengan binar mata yang lebih heboh daripada orang yang mau kencan.Paris hanya terkekeh pelan, bersandar santai pada tiang halte sembari memegang ponselnya. "Feb, dia cuma mau jemput buat minta pendapat menu minuman baru. Bukan mau ngajak gue ke pelaminan, tolong ya kondisikan mukanya.""Halah, kedok itu mah! Mana ada pengusaha muda bela-belain jemput anak kuliahan sore-sore cuma buat nanya rasa sirup," timpal Manda yang berdiri di sebelah mereka, melipat tangan dengan senyum penuh arti. "Tapi gue dukung penuh sih. Minimal, kalau lo sama Adrian, gizi lo perbaikan, Par.""Bener! Dan yang paling penting, bebas dari polusi udara bernama River," sahut Febby berapi-api, yang langsung dihadiahi cubitan gemas di leng
Aroma gurih nan mewah dari Creamy Mushroom Pasta berlumur saus truffle langsung menguasai seluruh penjuru ruang kelas begitu Febby membuka penutup wadah premiumnya. Tidak ketinggalan, kotak berisi Warm Apple Pie dengan wadah es krim vanila terpisah yang dikemas khusus agar tidak cepat mencair, ditata rapi di tengah meja yang kini disulap menjadi area piknik dadakan."Sumpah ya, ini wangi jamur sama keju premiumnya benar-benar merusak iman diet gue," cerocos Febby sembari menelan ludah, matanya berbinar menatap porsi makanan yang ternyata cukup banyak itu. "Tuan Adrian ini tahu aja kalau anak kuliahan jam segini lambungnya udah demo.""Bentar, bentar! Jangan disentuh dulu!" seru Manda cepat, menepis pelan tangan Kenzie yang sudah bersiap mencomot sendok. Manda menoleh ke arah Paris dengan cengiran usil. "Artis kita harus mendokumentasikan ini dulu sebagai bentuk laporan pertanggungjawaban kepada pihak sponsor."Paris tertawa kecil, pipinya merona mendengar ledekan Manda. Namun, ia teta







