Share

2. KENYATAAN PAHIT

Author: Mystique
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-28 15:43:40

Drtt... Drttt...

Getaran ponsel di atas meja membangunkan Paris. Kepalanya berdenyut nyeri. Bayangan kejadian semalam di kafe langsung berputar di otaknya.

Paris menghela napas berat, merasakan sekujur tubuh enggan untuk bangkit dan menghadapi hari. Ia mengulurkan tangan, meraih ponselnya yang masih menyala. Ada beberapa notifikasi di layar kunci. Paris membuka pesan teratas.

Darius : Paris, Sayang, aku minta maaf untuk semalam. Kamu tahu sendiri kan kalau cowok lagi ngumpul kadang suka kelepasan pamer. Aku cuma bercanda, nggak ada maksud ngerendahin kamu sama sekali. Tolong jangan kekanak-kanakan ya, Sayang. Aku berangkat kerja dulu. Nanti kita ketemu dan bicara baik-baik. Love you.

Darius adalah seorang dosen di universitas swasta ternama tapi bukan di kampus tempat Paris belajar. Hal itu yang membuat Paris berpikir bahwa kekasihnya itu adalah pria yang tepat untuk dirinya. Namun kini, semua yang ia pikirkan salah.

Paris menatap layar dengan tatapan kosong. Ia tidak membalas. Jemarinya bergerak menyapu layar, beralih membuka pesan dari sebuah nomor tidak dikenal yang mengiriminya sebuah lampiran video.

0812-xxxx-xxxx: Maaf kak, aku nggak berniat untuk ngerusak hubungan kakak dengan Darius. Tapi aku mau kasih tau kalo selama ini Darius main di belakang kakak. Aku salah satu mahasiswi di mata kuliahnya. Darius maksa aku buat nurutin apa pun yang dia mau. Kalo enggak, dia ngancam bakal kasih aku nilai E. Tolong aku kak. Aku nggak mau ngelakuin itu. Tadi malam, aku juga lihat dia bareng sama cewek.

Paris menekan tombol play pada video tersebut.

Rekaman itu diambil di sebuah lorong remang-remang, dengan penunjuk waktu beberapa jam setelah Paris pergi meninggalkan kafe semalam.

Di dalam video, Darius tampak mabuk berat. Pria itu sedang berciuman panas dengan seorang wanita, lalu merangkul pinggangnya untuk masuk ke dalam sebuah kamar.

Paris tertegun. Detik itu juga, rasa kecewanya semalam berubah menjadi perasaan jijik yang amat nyata. Rasa cinta di hatinya menguap, pudar tak bersisa.

Paris langsung mengetik pesan balasan ke nomor Darius.

Paris : Kita ketemu di kafe biasa. Sekarang.

Beberapa waktu kemudian.

Secangkir kopi latte yang sudah mendingin terhidang di atas meja. Paris duduk tegak di sudut kafe dekat jendela, sama sekali tidak menyentuh minuman itu.

Pintu kafe berdenting. Darius melangkah masuk dengan wajah sumringah. Pria itu langsung duduk di kursi hadapan Paris, memasang senyum manisnya yang biasa.

"Hai, Sayang. Untung kelas aku selesai lebih cepat," ucap Darius lembut. Dia mencoba meraih tangan Paris di atas meja, namun Paris menarik tangannya menjauh.

Darius berdeham, mencoba mencairkan suasana.

"Kamu masih marah soal semalam? Ayolah, Paris. Aku udah minta maaf, kan? Kamu tahu sendiri aku paling nggak bisa kalau kamu diemin begini. Kita lupain masalah semalam, ya? Oh ya, gimana tugas kuliah kamu? Ada yang perlu aku bantu?"

Paris hanya menatapnya lurus-lurus dengan wajah datar.

Darius terus berbicara, mencoba mencari topik agar Paris kembali bersikap lembut kepadanya. Namun, pandangan Darius tiba-tiba turun memperhatikan pakaian Paris. Gadis itu mengenakan kaus kasual dengan potongan leher yang sedikit rendah.

Raut wajah Darius langsung berubah ketat.

"Paris, Sayang, kenapa kamu pakai baju kayak gini? Kamu tahu kan aku nggak suka kamu pakai baju kayak gitu?"

Paris yang semula diam tiba-tiba tersenyum sinis. "Brengsek, ini tubuh gue. Kenapa lo ngatur hidup gue."

Darius tersentak. Matanya melebar, terkejut mendengar kata kasar yang keluar dari mulut Paris. "Apa kamu bilang?" tanya Darius tidak percaya, nadanya merendah dan sedikit menekan.

Paris tidak gentar. Senyum sinisnya semakin lebar. Ia merogoh ponselnya, menyalakan layar yang sudah menjeda video perselingkuhan Darius, lalu menggeser benda itu ke tengah meja.

Darius menunduk, menatap layar ponsel tersebut. Wajahnya langsung kaku dan pucat saat melihat dirinya sendiri sedang berciuman di depan kamar hotel.

"Hmhh... bajingan," ucap Paris pelan, menatap lurus ke dalam mata Darius yang kini panik. "Kita putus."

Darius terkejut melihat Paris memiliki video itu. Kebohongannya runtuh seketika. Namun, egonya sebagai pria dewasa menolak untuk terlihat kalah.

Brak!

Darius menggebrak meja dengan keras, berdiri, hingga kursinya terdorong ke belakang. Beberapa pengunjung kafe langsung menoleh ke arah mereka.

"Itu karena tadi malam kamu tiba-tiba pergi. Harusnya kamu temani aku di hari ulang tahunku. Kamu bakal nyesel minta putus dari aku, Paris! Ingat itu!" gertak Darius. Wajahnya merah padam mlenahan urat lehernya yang menegang.

Setelah menumpahkan kemarahannya, Darius berbalik dan melangkah pergi keluar dari kafe dengan terburu-buru.

Paris hanya melihat punggung pria itu menjauh, lalu mendengus, menganggap ucapan Darius barusan benar-benar konyol.

Begitu pintu kafe tertutup dan Darius benar-benar hilang dari pandangan, Paris menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia mengembuskan napas panjang. Tidak ada air mata yang jatuh. Dadanya terasa begitu lapang. Setelah Darius pergi dan ia resmi putus, Paris merasa sangat lega dan bebas.

Paris tersenyum tipis, ia tidak pergi dari tempat itu. Paris diam cukup lama. Merasakan rasa sakit sekaligus rasa bebas yang mulai merayap di dalam hatinya.

Pintu kafe kembali berdenting. Kali ini terdengar suara langkah kaki yang pelan namun pasti. Seorang pemuda berjalan dan berhenti di meja Paris.

"Boleh gue duduk di sini?"

Suaranya lembut. Paris menatap pria ini. Wajah yang bisa membuat wanita jatuh cinta hanya dengan satu kali pandang. Dia tersenyum manis lalu duduk di depan gadis itu.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    45. KEPASTIAN YANG MENENANGKAN ( TAMAT )

    Tangan Adrian terulur lembut, menyapu helaian rambut Paris yang berantakan diterpa angin siang di taman kampus. Sentuhan jari-jarinya terasa begitu tenang, tanpa ada desakan atau maksud tersembunyi yang membuat dada Paris cemas. Di hadapan pria itu, Paris tidak perlu bersikap menjadi orang lain. Ia tidak perlu berpura-pura menjadi cewek yang 'santai' hanya agar tidak ditinggalkan. Paris menatap wajah Adrian yang tersenyum hangat. "Kamu nggak takut orang-orang di kampus ngeliatin kita, Yan?" Adrian terkekeh pelan, menarik tangannya kembali lalu menopang dagunya di atas meja kayu. Pandangan matanya terkunci rapat pada Paris, memancarkan kejujuran yang jelas. "Kenapa harus takut, Paris? Saya jalan sama wanita yang saya suka, bukan lagi nyembunyiin kejahatan." Kata-kata itu meluncur begitu saja, tetapi dampaknya seperti menyiramkan air sejuk ke atas luka lama di hati Paris. Kalimat sederhana yang selama ini ingin ia dengar dari mulut River, kini diucapkan oleh Adrian tanpa ragu sedik

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    44. SOROT MATA YANG PATAH

    Pintu kayu rumah Paris terkunci rapat dengan bunyi klik yang tegas, menyisakan keheningan malam yang menusuk. Di balik gembok pagar besi yang baru saja dibantingnya, Paris bersandar sejenak, menghela napas panjang untuk menetralkan detak jantungnya yang maraton. Rasa hangat dari perhatian Adrian tadi malam sengaja ia simpan rapat-rapt di dadanya, dijadikan perisai kokoh agar bayangan kemarahan dan cengkeraman kasar River tak lagi sanggup melukainya.Malam itu, Paris tidur dengan tenang. Setelah sekian lama, ia tak lagi menunggu denting notifikasi ponsel yang hanya berisi pesan singkat penuh ketidakpastian.Pagi harinya di area kampus, atmosfer mendadak berubah seratus delapan puluh derajat.River, pria paling populer di kampus, sosok kharismatik yang selalu mengumbar senyum menawan, hari itu tampil berbeda. Aura dominan yang biasanya terpancar penuh percaya diri kini meredup, tergantikan oleh sikap yang jauh lebih pendiam dan dingin.Pria itu berjalan

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    43. MILIKKU SUDAH PERGI

    Malam di kompleks perumahan itu mendadak terasa jauh lebih dingin. Rasa hangat dari sentuhan lembut Adrian di puncak kepalanya, serta kebahagiaan sederhana saat menerima kotak macaron rasa vanila tadi, seketika menguap tanpa sisa.Digantikan oleh gelombang tegang yang menusuk hingga ke tulang.Paris membeku. Langkah kakinya terkunci rapat di atas aspal dingin tepat di depan gerbang rumahnya yang sepi.Dari balik pohon mangga, sosok yang terduduk di samping motor sport hitam itu perlahan bangkit. River melangkah maju. Jaket kulit hitam yang dikenakannya tampak kusam, rambutnya berantakan diterpa angin malam, dan matanya, mata yang dulu selalu memancarkan keegoisan kini merah membara, dipenuhi gabungan antara cemburu, amarah, dan rasa tidak berdaya yang bergejolak."Bagus ya," suara River terdengar parau, penuh akan sarkasme yang tajam. Pria itu terus melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka. "Baru sebentar gue nggak ada, lo udah bisa senyum serenyah itu sama cowok lain?"Par

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    42. MALAM HANGAT

    Paris terburu-buru meraih gelas kaca berisi minuman berwarna ungu gradasi di depannya, berusaha mengalihkan perhatian dari hangatnya rona merah yang kini menjalar hingga ke lehernya.Sentuhan singkat jemari Adrian saat menyeka busa minuman di sudut bibirnya tadi masih meninggalkan sensasi aneh yang membuat jantungnya berdegup tak karuan.Adrian, yang menyadari salah tingkahnya gadis di hadapannya, hanya tersenyum tipis. Dengan gestur yang sangat dewasa, ia tidak menggoda Paris lebih jauh. Pria itu justru menyandarkan punggungnya santai ke sandaran kursi katun cream, memberi Paris ruang untuk bernapas."Jadi, bagaimana menurut kritikus terbaik saya?" tanya Adrian, mengalihkan obrolan dengan nada suara rendah yang tenang. "Rasa lavender dan lemonnya terlalu kuat, atau justru pas?"Paris berdeham pelan, mencoba menetralkan degup dadanya sebelum kembali menatap gelas cantik itu. "Rasa asam lemonnya langsung kerasa di awal, tapi setelah ditelan, ada aroma lavender yang manis dan menenangka

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    41. PENYESALAN YANG TERLAMBAT

    "Aduh, Par, lo bisa santai dikit nggak sih? Eh salah, maksud gue, kok lo bisa santai banget sih?!" Febby bolak-balik merapikan kerah sweter Paris yang sebenarnya sudah sangat rapi.Gadis itu berkali-kali melirik jam tangan digitalnya, lalu menatap jalanan di depan gerbang kampus dengan binar mata yang lebih heboh daripada orang yang mau kencan.Paris hanya terkekeh pelan, bersandar santai pada tiang halte sembari memegang ponselnya. "Feb, dia cuma mau jemput buat minta pendapat menu minuman baru. Bukan mau ngajak gue ke pelaminan, tolong ya kondisikan mukanya.""Halah, kedok itu mah! Mana ada pengusaha muda bela-belain jemput anak kuliahan sore-sore cuma buat nanya rasa sirup," timpal Manda yang berdiri di sebelah mereka, melipat tangan dengan senyum penuh arti. "Tapi gue dukung penuh sih. Minimal, kalau lo sama Adrian, gizi lo perbaikan, Par.""Bener! Dan yang paling penting, bebas dari polusi udara bernama River," sahut Febby berapi-api, yang langsung dihadiahi cubitan gemas di leng

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    40. MENIKMATI MAKAN SIANG

    Aroma gurih nan mewah dari Creamy Mushroom Pasta berlumur saus truffle langsung menguasai seluruh penjuru ruang kelas begitu Febby membuka penutup wadah premiumnya. Tidak ketinggalan, kotak berisi Warm Apple Pie dengan wadah es krim vanila terpisah yang dikemas khusus agar tidak cepat mencair, ditata rapi di tengah meja yang kini disulap menjadi area piknik dadakan."Sumpah ya, ini wangi jamur sama keju premiumnya benar-benar merusak iman diet gue," cerocos Febby sembari menelan ludah, matanya berbinar menatap porsi makanan yang ternyata cukup banyak itu. "Tuan Adrian ini tahu aja kalau anak kuliahan jam segini lambungnya udah demo.""Bentar, bentar! Jangan disentuh dulu!" seru Manda cepat, menepis pelan tangan Kenzie yang sudah bersiap mencomot sendok. Manda menoleh ke arah Paris dengan cengiran usil. "Artis kita harus mendokumentasikan ini dulu sebagai bentuk laporan pertanggungjawaban kepada pihak sponsor."Paris tertawa kecil, pipinya merona mendengar ledekan Manda. Namun, ia teta

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status