Início / Male Adult / CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS / 38. MEMBERI BATAS DENGANMU

Compartilhar

38. MEMBERI BATAS DENGANMU

Autor: Mystique
last update Data de publicação: 2026-09-05 21:30:17

Lampu-lampu kota yang berpendar dari balik jendela taksi malam itu perlahan menjadi saksi bisu dari sebuah keputusan besar. Di tengah kesunyian perjalanan pulang, Paris merogoh ponsel dari dalam tasnya.

Ibu jarinya bergerak tanpa ragu di atas layar sentuh. Ia membuka profil kontak bernama River, menatap nama itu untuk terakhir kalinya tanpa rasa sesak yang biasa menyiksa, lalu menekan satu tombol: Blokir.

Tidak sampai di situ, Paris juga membersihkan riwayat obrolan mereka,
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    39. SKAKMAT

    Kurir makanan itu pamit pergi setelah memberikan secarik struk pengantaran yang langsung diterima oleh Paris. Pintu kelas kembali tertutup, namun atmosfer di dalam ruangan tidak menunjukkan tanda-tanda akan mencair. Keheningan yang sempat mencekam kini pecah menjadi kasak-kusuk riuh dari ujung ke ujung bangku mahasiswa.River menatap paper bag mewah berbahan tebal dari Le Jardin Resto itu dengan rahang mengeras. Ia terkejut bukan main. Matanya yang tajam langsung menangkap secarik kartu ucapan kecil bernuansa emas yang terselip di tali tas kertas tersebut. Ada nama Adrian tertulis di sana dengan guratan pena yang rapi.Rasa cemburu yang membakar seketika membuat akal sehat River menguap. Tangannya bergerak cepat, berniat merebut kartu ucapan itu untuk memastikan dengan mata kepalanya sendiri. Namun, Febby yang sejak tadi waspada bergerak jauh lebih cekatan. Ia menyambar paper bag tersebut ke arah tubuhnya, menjauhkannya dari jangkauan jemari River."Adrian

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    38. MEMBERI BATAS DENGANMU

    Lampu-lampu kota yang berpendar dari balik jendela taksi malam itu perlahan menjadi saksi bisu dari sebuah keputusan besar. Di tengah kesunyian perjalanan pulang, Paris merogoh ponsel dari dalam tasnya.Ibu jarinya bergerak tanpa ragu di atas layar sentuh. Ia membuka profil kontak bernama River, menatap nama itu untuk terakhir kalinya tanpa rasa sesak yang biasa menyiksa, lalu menekan satu tombol: Blokir.Tidak sampai di situ, Paris juga membersihkan riwayat obrolan mereka, menghapus ruang digital yang selama ini dipenuhi oleh janji-janji manis tanpa kepastian dan rentetan kalimat minta maaf yang basi. Saat layar ponselnya menggelap, Paris mengembuskan napas panjang. Rasanya seolah ada sebongkah batu besar yang baru saja diangkat dari dadanya. Malam itu, ia tidur dengan nyenyak, tanpa perlu menunggu satu pun pesan masuk.Keesokan harinya di kampus, atmosfer di sekitar Paris benar-benar berubah. Gadis itu berjalan menyusuri koridor fakultas dengan langkah t

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    37. BERTUKAR PENDAPAT

    River membeku di dekat meja kasir butik kaca, sementara Aruna masih bersandar manja di bahunya. Tidak ada langkah kaki yang terburu-buru keluar dari pintu butik. Tidak ada kepanikan yang membuat River berlari mengejar. Pemuda itu hanya diam di tempatnya berdiri, menatap Paris dengan sorot terkejut yang perlahan berubah menjadi rasa bersalah yang tertahan.Paris mengembuskan napas pendek. Ia tidak masuk menemui River untuk meminta penjelasan. Juga tidak meneteskan air mata. Gadis itu hanya berpaling dari River, lalu menyentuh pelan lengan Manda dan Febby."Yuk ke lantai atas," ajak Paris, suaranya terdengar datar namun tegas.Keheningan yang ditinggalkan River di belakang sana menjadi jawaban paling benderang yang Paris rasakan. Tubuh River yang tetap diam semakin mempertegas posisinya. Paris tersenyum getir dalam hati. Sepertinya yang dikatakan Aruna memang benar. Ia hanya tempat persinggahan, sebuah mainan yang menyenangkan saat River bosan, dan akan lang

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    36. CURIGA PADA PARIS

    "Gila sih, ini mah levelnya udah bukan cowok idaman lagi, tapi bentuk nyata dari gambar fiksi!" suara Febby melengking tertahan, matanya menatap layar ponsel Manda dengan binar heboh.Pagi ini, area koridor depan kelas sudah seperti pasar tumpah. Beberapa mahasiswa berkumpul, berbisik heboh membahas sosok pria yang mendadak viral di kalangan anak kampus sejak kemarin. Siapa lagi kalau bukan Adrian, pemilik restoran estetik yang lokasinya tidak jauh dari kampus mereka."Iya, kan? Udah ganteng, dewasa, mandiri pula. Denger-denger umurnya baru dua puluh empat tahun tapi udah punya usaha sendiri sesukses itu," sahut Manda tidak kalah menggebu-gebu."Dia tuh tipe-tipe cowok yang kalau lo minta jemput, dia datang bawa mobil hasil keringat sendiri, bukan pakai subsidi dari bokapnya."Hahahahaha .... Tawa riuh meledak di koridor.Paris yang duduk di sebelah Manda hanya tersenyum tipis. Ia sibuk merapikan catatan kuliahnya, sama sekali tidak berniat un

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    35. MAKAN SIANG YANG MANIS

    Langkah kaki Paris melambat begitu ia mendorong pintu kaca restoran milik Adrian. Bunyi denting lonceng kecil di atas pintu menyambutnya, seketika memotong kebisingan jalanan kota di siang hari yang padat. Harum aroma mentega yang dipanggang, seduhan kopi, dan samar-samar wangi kayu manis langsung menyergap indra penciumannya. Suasana hangat di dalam ruangan ini seketika menyelimuti Paris, mengusir sisa-sisa rasa sesak yang sempat mengimpit dadanya beberapa puluh menit lalu di taman kampus."Paris."Sebuah suara rendah dan familier memanggil namanya. Paris menoleh, mendapati Adrian yang baru saja keluar dari area bar. Pria berusia 24 tahun itu tidak lagi mengenakan celemek cokelatnya. Ia memakai kemeja katun hitam longgar dengan lengan yang digulung rapi hingga siku, dipadukan dengan celana kasual gelap. Penampilannya yang sederhana namun matang itu selalu berhasil memancarkan karisma tersendiri.Adrian berjalan menghampiri Paris dengan senyuman tipis yang tulus. "Kamu datang juga. S

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    34. LAGI DAN LAGI

    Pagi ini, langit menyisakan rona abu-abu yang tenang setelah hujan semalam. Paris berdiri di depan cermin kamarnya, mematut diri dengan sweter rajut berwarna cokelat susu dan celana jins yang pas di tubuhnya. Rambutnya ia biarkan tergerai bebas. Ia sengaja memoleskan pemerah bibir dengan warna yang sedikit lebih segar dari biasanya.Hari ini, Paris memutuskan untuk mengambil kembali kendali atas dirinya sendiri. Tidak ada lagi mata sembap, tidak ada lagi jemari yang gemetar karena menunggu kabar yang tak kunjung datang. Paris menarik napas dalam-dalam, menghembuskan perlahan, lalu menyandang tas bahunya dengan semangat. Langkahnya pagi ini terasa jauh lebih ringan.Di sudut lain kota ini, River baru saja menyelesaikan urusannya. Setelah memastikan keadaan Aruna cukup tenang sejak semalam, fokusnya langsung bergeser kembali pada Paris. Ia mengambil ponsel yang sempat ia abaikan, lalu mengetikkan sebuah pesan dengan rasa percaya diri yang biasa ia miliki.River: Pagi, Paris. Gue ke kamp

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status