INICIAR SESIÓNMalam semakin larut saat pintu puskesmas tertutup di belakang mereka. Dokter sudah memeriksa Paman Darto — luka di kepala cukup dalam, tapi tidak ada pendarahan di dalam. Harus diobservasi semalam, tapi nyawanya aman.
"Terima kasih banyak, Agus," ucap Marni di halaman depan, suaranya lembut dan tulus. "Kalau kamu tidak ada tadi..." Agus menggeleng pelan, menatap lantai semen yang diterangi lampu remang. "Sudah, jangan dipikirkan lagi. Sekarang temani Bapakmu dulu di dalam. Ratna bisa bantu kalau perlu sesuatu." "Tapi kamu..." Marni menatapnya, seakan ingin mengatakan lebih banyak. "Kamu mau langsung pulang?" "Ya. Besok masih ada kerjaan di sawah." Agus tersenyum tipis, berusaha terlihat tenang walau tubuhnya lelah. "Sampai jumpa besok." Ia berbalik sebelum Marni sempat membalas. Langkah kakinya perlahan menjauh, meninggalkan cahaya puskesmas, kembali menuju jalan gelap yang berkelok menuju desa. Rumahnya jauh lebih kecil dibanding rumah Marni. Dinding kayu yang sudah mulai memudar, atap seng yang berkarat di beberapa tempat. Dulu di sini selalu ada suara — kakek yang batuk, kakek yang bercerita di beranda sambil menyesap kopi. Sekarang sunyi senyap. Agus menutup pintu pelan, mengunci dengan baut tua yang sudah longgar. Ia menyandarkan punggungnya ke kayu pintu yang dingin, memejamkan mata sejenak. Yatim piatu sejak balita. Tak pernah tahu siapa ayah ibunya. Kakek yang membesarkannya, merawat dia, mengajarinya bertani. Tapi setahun lalu, kakek pergi karena sakit, meninggalkan rumah ini, sepetak sawah kecil, dan sebuah cangkul tua yang selalu dipakai kakek di ladang. "Saya sendiri lagi," gumamnya pelan ke ruangan yang kosong. Suaranya memantul lemah di dinding kayu. Ia melangkah masuk ke kamar satu-satunya di rumah itu. Di sudut, di bawah tumpukan kain goni, tergeletak benda yang selalu ia simpan dengan hati-hati — cangkul tua milik kakek. Warnanya kusam, besinya terlihat tua, gagang kayunya sudah halus karena lama dipegang. Agus berlutut di depannya, menyentuh gagang kayu itu perlahan. "Kakek..." bisiknya pelan. "Anda selalu bilang, cangkul ini bukan sekadar alat. Tapi saya kira dulu cuma cerita orang tua supaya saya rajin bertani." Ia mengangkat cangkul itu. Terasa berat di tangan, tapi bukan berat yang biasa. Seakan ada sesuatu yang mengalir dari gagang ke telapak tangannya. Agus menatap lantai tanah di sudut kamar. Ia teringat kata-kata kakek sebelum meninggal — kata-kata yang dulu ia anggap omongan orang yang sudah lemah: "Kalau kamu benar-benar butuh sesuatu, cucuku, sebutkan saja. Cangkul ini tahu apa yang kamu perlukan. Cangkulkan ke tanah, dan lihatlah apa yang terungkap." Malam ini, setelah semua yang terjadi — utang Marni, ancaman Surya, rasa takut yang tak bisa ia hilangkan — untuk pertama kalinya Agus memutuskan untuk mencoba. Ia menelan ludah. "Saya butuh..." suaranya terhenti sejenak, lalu ia menghela napas dan mengucap dengan tegas, "Saya butuh uang cukup untuk melunasi utang sewa tanah Marni, supaya Pak Surya tidak bisa mengganggu dia lagi." Agus mengangkat cangkul, lalu menghantamkan ujung besinya ke lantai tanah yang padat di sudut kamar. Cekrek. Bunyi besi menembus tanah yang seharusnya keras. Tapi tanah itu terasa lunak, seakan sudah menunggu. Agus menarik cangkul ke atas, mengangkat bongkahan tanah yang menempel di ujungnya. Dan di bawah tanah itu, bukan lagi tanah. Tumpukan uang kertas yang terikat rapi, tergeletak di lubang dangkal itu. Warnanya masih segar, seakan baru dikeluarkan hari ini. Jumlahnya persis — tidak lebih, tidak kurang — dari jumlah yang disebut-sebut Marni sebagai utang sewa tanahnya. Agus terbelalak. Cangkul jatuh dari tangannya, berdentang pelan di lantai tanah. Ia menatap tumpukan uang itu, lalu ke cangkul, lalu kembali ke uang itu. Jantungnya berdebar kencang, lebih kencang daripada saat ia berkelahi dengan Surya tadi. "Ini..." suaranya bergetar. "Benar-benar nyata?" Ia meraih selembar uang, menyentuhnya, meremasnya pelan. Nyata. Bukan mimpi. Bukan halusinasi karena kelelahan. Agus menatap cangkul itu dengan pandangan baru. Bukan lagi sekadar alat bertani milik kakek. Bukan sekadar peninggalan kenangan. "Jadi ini yang Kakek maksud..." bisiknya pelan. Tapi di saat yang sama, pertanyaan lain muncul di kepalanya. Kalau cangkul ini bisa mengeluarkan apa saja yang ia minta... mengapa kakek dulu hidup sederhana sekali? Mengapa tidak minta kekayaan, kesehatan, apa saja? Agus menatap cangkul itu lagi, lalu ke lubang tanah yang masih terbuka. Apa saja yang bisa ia minta? Uang? Rumah? Kekuatan? Atau sesuatu yang jauh lebih berharga? Tiba-tiba suara ketukan terdengar pelan di pintu kamarnya. Tok... tok... tok... Agus tersentak, seketika menutupi tumpukan uang itu dengan kain goni di sampingnya. Ia memungut cangkul, menyimpannya di balik tumpukan kain, lalu melangkah pelan ke pintu. "Siapa?" tanyanya, suaranya masih sedikit bergetar. Tidak ada jawaban. Hanya suara angin yang berhembus pelan di celah dinding. Agus memegang baut pintu, ragu sejenak. "Siapa di luar?" tanyanya lagi, lebih keras. Masih hening. Agus perlahan membuka pintu kamar. Tiba-tiba bayangan seorang kakek-kakek muncul dihadapanya. Agus terperanjat kaget. "ka..kaamu siapa?" tanya Agus dengan suara bergetar. sesosok bayangan kakek itu berjalan pelan ke arah Agus, wajahnya penuh keriput, rambut dan jenggotnya putih seakan memberi tahu betapa tuanya dia. "kamuuu...... siapa????"Perjalanan pulang terasa jauh lebih lama dibandingkan saat berangkat. Sepanjang jalan Eny menatap ke luar jendela, pikirannya tak tenang. Ia berusaha menenangkan diri — mungkin hanya kesalahan catatan, mungkin sekadar salah paham. Begitu sampai, diperiksa, beres, lalu bisa kembali ke desa. Begitu harapannya. Tapi saat melangkah masuk ke gedung Agus Supermart, suasana tak seperti yang dibayangkan. Wajah-wajah tegang menyambutnya. Ria menyambut di pintu, matanya merah sembab. "Eny..." suaranya bergetar. "Kamu datang... syukurlah kamu datang." "Sudah berapa lama begini?" tanya Eny cepat, meletakkan tasnya di meja. "Sudah tiga hari. Sejak seseorang datang, mengaku... mengaku sebagai tunanganmu," jawab Ria pelan. Eny mengerutkan kening. "Tunanganku? Siapa?" Ria menunduk, tak berani menatap. "Dika." Nama itu membuat darah Eny mendidih sekaligus dingin menjalar ke sekujur tubuh. Dika. Mantan pacarnya. Pria yang dulu meninggalkannya tanpa pamit, yang pernah menyakitinya begitu dalam, y
Tiga hari berlalu begitu indah — terasa seperti mimpi yang tak ingin diakhiri. Setiap pagi mereka bangun berpelukan, setiap hari berbagi segala hal, setiap malam tidur berdampingan tanpa lagi ada jarak di antara mereka. Di desa yang tenang itu, tak ada urusan toko, tak ada laporan, tak ada kesibukan kota — hanya mereka berdua, hidup sederhana, bahagia sepenuhnya. Agus hampir lupa bahwa dunia lain masih ada di luar sana — tempat di mana ia bukan sekadar pria yang dicintai, melainkan pemilik usaha, orang yang diandalkan, sosok yang punya tanggung jawab besar. Sore ketiga hari itu, langit mulai kemerahan. Mereka baru saja selesai makan sore di beranda, Eny sedang menyusun rencana menanam bunga di halaman depan — tiba-tiba ponsel yang ditaruh di meja bergetar kencang, bunyinya nyaring memecah keheningan. Eny menoleh, lalu meraihnya. Nama yang muncul di layar membuatnya mengernyit — Ria, wakil manajer di toko. "Permisi sebentar ya," ucapnya pelan, lalu mengangkat. "Halo, Ria?" Wajahnya
Cahaya matahari pagi menyelinap pelan lewat celah jendela, menyentuh wajah mereka yang masih berpelukan di atas tempat tidur. Agus yang pertama membuka mata — tubuhnya terasa ringan, lelah semalam hilang tak berbekas. Di sampingnya, Eny masih tertidur pulas, kepalanya bersandar di dada bidangnya, tangan melingkar di pinggangnya. Napasnya teratur, hangat menyentuh kulitnya. Agus tersenyum lembut, membelai rambut panjang itu pelan. Rasanya damai sekali — bangun pagi bukan lagi sendirian di rumah yang sepi, melainkan ada seseorang di sampingnya, seseorang yang dicintainya, yang tulus menyayanginya. "emmmuah" Ia mencium ubun-ubun wanita itu pelan, tak berniat membangunkannya, hanya ingin menunjukkan betapa berharganya ia. Eny bergerak pelan, matanya perlahan terbuka. Melihat wajah Agus di dekatnya, senyumnya langsung merekah — murni, bahagia, tanpa ragu sedikit pun. "Sudah pagi..." bisiknya lembut, merapatkan tubuhnya makin dekat. "Iya, Sayang," jawab Agus pelan, tangannya mengusap p
Langit masih gelap pekat, fajar belum menyingsing saat Agus melangkah pulang. Kakinya terasa berat, pakaiannya berdebu, keringat kering menempel di dahi. Sepanjang malam warga menyisir hutan, pematang sawah, jalan keluar desa — tak ada jejak pencuri. Tak ada motor, tak ada barang, tak ada siapa pun yang dicurigai. Seakan mereka lenyap ditelan bumi. Warga pulang satu per satu dengan wajah kecewa dan cemas. Agus yang paling akhir ikut berkeliling, akhirnya berjalan pulang sendirian saat udara subuh mulai terasa dingin menusuk tulang. Di depan rumah, ia mengetuk pelan — pola yang sudah disepakati: dua ketukan pendek, satu ketukan lagi. Hening. Tak ada jawaban. Ia mengetuk sekali lagi, sedikit lebih keras. "Eny... aku pulang." Masih tak ada suara. Agus merogoh saku "krincing" — kunci cadangan yang disimpan di sana sejak dulu, kini terasa begitu berharga. Ia memasukkan ke lubang kunci, memutar perlahan "klik" Pintu terbuka senyap. Ruangan dalam gelap, cahaya samar dari langit timur me
Semuanya sudah begitu dekat. Ruangan itu terasa hangat, hanya diterangi cahaya matahari sore yang meluncur lembut lewat celah tirai. Napas mereka menyatu, jantung berdetak serentak sama cepatnya, tangan Agus perlahan menyentuh pinggang Eny, menariknya makin mendekat — bibir mereka hampir kembali bertemu, dan segala keraguan perlahan luruh, berganti keinginan untuk menyatu sepenuhnya.Tiba-tiba — ketukan keras memecah keheningan begitu tajam hingga mereka berdua tersentak kaget serentak."TOK! TOK! TOK!"Suara itu bergema di seluruh ruangan, memutus momen indah seketika."Agus! Gus! Ada di dalam? Buka pintunya!" suara lantang terdengar dari luar, disertai ketukan lain yang makin cepat.Agus meloncat bangun seketika, wajahnya memucat. Jantungnya berdebar kencang — bukan karena rindu lagi, melainkan karena kaget dan cemas.Ia menoleh ke arah jendela, lalu ke arah pintu. "Siapa pula ini..." bisiknya pelan, tangannya gemetar meraih pakaian yang tergeletak di lantai.Eny juga duduk buru-bur
Angin sore berhembus pelan, menyisir rambut mereka yang duduk berdampingan di teras belakang. Hening yang manis terasa di antara keduanya — sampai tiba-tiba Eny bergerak mendekat, merangkul pinggang Agus, dan memeluknya dengan erat sekali. Agus tersentak kaget, tubuhnya menegang seketika. Ia tak menyangka sama sekali. Tangan yang tadi tergeletak di pangkuan terangkat perlahan, tak tahu harus diletakkan di mana — sampai ia merasakan betapa erat pelukan itu, betapa tubuh wanita itu menempel sepenuhnya padanya, seakan tak ingin berjarak sedikit pun. "dug. dug ." Jantungnya berpacu kencang sekali. Ia bisa merasakan detak jantung Eny yang sama cepatnya di dadanya. Napas hangat wanita itu menyentuh lehernya, membuat bulu kuduk berdiri dan wajahnya memerah perlahan. Perlahan, rasa kaget itu luntur, berganti rasa hangat yang meluap-luap. Tangan Agus akhirnya bergerak — melingkar lembut di punggung Eny, membalas pelukan itu dengan kehati-hatian namun penuh kerinduan yang tak terucap. E







