Compartir

Episode 5

Autor: El Barra
last update Fecha de publicación: 2026-09-13 17:21:28

Mesin motor menderu pelan, lalu mati. Laki-laki itu turun dengan gerakan lambat, menatap tajam ke arah Agus yang masih menggendong Paman Darto. Senyum sinisnya tak hilang, matanya menyapu wajah Marni dari atas ke bawah.

"pak Surya..!" ucap Marni terkejut.

"Mau kemana malam-malam begini?" tanyanya, suaranya penuh nada meremehkan. "Dan kamu, Marni... kok selalu ada laki-laki setiap kali saya tidak ada? Apa urusan utangmu sudah lunas dengan cara begini?"

Marni melangkah maju sedikit, berdiri di antara Surya dan Agus. Tangannya mengepal di sisi tubuh, berusaha tetap tenang. "Bapak jatuh dari tangga di kebun, kepalanya kena batu. Harus segera dibawa ke puskesmas. Minggir dulu, Pak, kami buru-buru, ini soal nyawa."

"Buru-buru?" Surya tertawa pendek, suaranya memecah keheningan malam. "Kalau belum lunas utang, jangan harap bisa lewat jalan ini. Tanah ini milik saya. Termasuk jalan yang melintasinya. Kalau kamu belum bayar, kamu juga belum boleh pergi ke mana-mana."

Agus menurunkan beban di pundaknya pelan-pelan, membiarkan Ratna memegang Paman Darto dari sisi lain. Ia memastikan pria tua itu terbaring nyaman di atas tikar yang mereka bawa, lalu melangkah maju, berdiri sejajar dengan Marni.

"Orang sakit butuh pertolongan," ucap Agus tenang, tapi matanya menatap tajam, tak berkedip. "Jangan bikin susah orang yang sedang kesulitan. Biarkan kami lewat."

"Kamu yang ngomong?" Surya melangkah mendekat, dadanya membusung, napasnya berbau rokok. "Pekerja upahan? Kamu pikir siapa kamu, berani ikut campur urusan saya dengan wanita ini?"

"Saya orang yang tahu mana yang benar dan mana yang salah." Agus tidak mundur selangkah pun, posturnya tegap, matanya tak teralihkan. "Minggir. Atau saya yang akan menyingkirkan Bapak."

Surya menggeram, rahangnya mengeras. Tanpa peringatan ia langsung melayangkan pukulan ke arah wajah Agus, lengannya melesat cepat dengan kekuatan penuh.

Agus menangkis dengan lengan kiri. Bunyi keras terdengar di udara malam, nyaring dan tajam. Lengan Agus terasa perih, tapi ia tak peduli. Ia membalas dengan pukulan kanan ke arah perut Surya, cepat dan tepat sasaran.

Surya meringis, tubuhnya membungkuk sedikit, mundur selangkah, napasnya tersengal. Lalu ia menyerang lagi dengan liar. Tangannya mengayun ke mana-mana, pukulan yang kasar, tak terarah, penuh amarah murni. Agus menghindar, menangkis, membiarkan Surya kelelahan sendiri. Seharian di sawah membajak tanah sudah melatih refleks, keseimbangan, dan ketahanan tubuhnya.

"Agus, hati-hati!" teriak Marni cemas, melangkah maju seakan ingin ikut campur.

"Jangan ikut campur, tetap di sana!" bentak Agus tanpa menoleh, matanya tetap terpaku pada setiap gerakan Surya. "Jaga Bapakmu."

Surya mencoba menendang ke arah lutut Agus, tapi Agus melompat mundur tepat waktu, lalu menyambar kaki Surya dengan cepat. Tubuh pria itu terhuyung, kehilangan keseimbangan, jatuh terduduk di tanah berlumpur. Wajahnya memerah karena marah dan malu, napasnya memburu.

"Kamu... kamu berani menjatuhkan saya?!" Surya bangkit dengan susah payah, kakinya gemetar sedikit. Wajahnya penuh amarah, matanya menyala. Ia merogoh saku jaket, mengeluarkan sebilah besi pendek yang kasar dan tebal. "Kamu cari mati, ya?!"

"Jangan!" teriak Marni hendak melerai, melangkah mendekat.

Agus menahannya dengan satu tangan di udara, memberi isyarat mundur, lalu melangkah menghadap Surya sendirian. Saat Surya mengayunkan besi ke arah kepalanya dengan sekuat tenaga, Agus menangkis dengan lengan — terasa perih sekali, kulitnya pasti memar — tapi ia tak mundur. Langkahnya cepat mendekat, memanfaatkan celah, lalu membalas dengan pukulan telak ke arah rahang.

Surya terhuyung mundur, besi jatuh dari tangannya dengan bunyi berdebum di tanah. Kakinya lemas, tubuhnya ambruk ke tanah, tak berdaya. Mulutnya berdarah, napasnya berat dan terputus-putus. Ia menatap Agus dengan pandangan benci yang bercampur rasa takut yang baru pertama kali ia rasakan.

"Kamu..." geramnya pelan penuh dendam, suaranya serak. "Tapi ingat... ini belum selesai. Kamu belum tahu siapa yang sedang kamu hadapi."

Agus tidak membalas. Ia hanya menatap Surya sebentar, memastikan ia tak akan bangkit lagi secepat itu, lalu berbalik cepat ke arah Marni dan Ratna.

"Ayo kita pergi. Cepat, sebelum dia minta bantuan orang lain atau ada yang melihat."

Mereka kembali menggendong Paman Darto dengan hati-hati. Marni melirik ke arah Surya yang masih terbaring di tanah, ragu sejenak, matanya penuh kekhawatiran. Agus menyentuh bahunya pelan, lembut tapi tegas.

"Kita tidak punya waktu untuk ragu," ucapnya pelan. "Bapakmu harus segera ditolong. Kalau kita terlambat, ini yang akan jadi penyesalan terbesar."

Mereka berjalan cepat meninggalkan Surya di belakang. Cahaya bulan menerangi jalan setapak yang masih panjang dan gelap menuju puskesmas desa. Hening, hanya terdengar napas berat mereka, suara langkah kaki yang tergesa-gesa, dan sesekali rintihan lemah Paman Darto.

Ratna memecah keheningan, suaranya masih bergetar. "Kamu hebat sekali, Agus. Tapi... apakah kita bakal kena masalah besar karena ini? Pak Surya itu orang yang pendendam."

Agus menghela napas panjang, menatap ke depan ke arah cahaya samar di kejauhan. "Mungkin. Tapi kalau tidak dilakukan, dia tidak akan membiarkan kita lewat. Bapakmu yang jadi korban. Saya tidak bisa diam saja melihat orang sakit ditahan begitu."

Marni berjalan di sampingnya, menatap wajah Agus yang berkeringat dan sedikit kotor terkena tanah. Matanya jatuh ke lengan Agus yang memerah di bagian bekas pukulan besi tadi.

"Lukamu..." ucapnya pelan, berhenti sejenak, menyentuh lengan Agus dengan hati-hati seakan takut menyakiti. "Harus dibersihkan juga nanti."

"Tidak apa-apa," jawab Agus pelan, menepis pelan tapi lembut. "Luka luar bisa sembuh. Yang penting Bapakmu selamat, dan kalian berdua aman."

Marni menunduk sebentar, lalu mengangkat wajah menatap ke depan lagi, matanya berkaca-kaca di bawah cahaya bulan. "Terima kasih. Kalau tidak ada kamu, saya tidak tahu harus bagaimana. Saya pasti sudah panik sendirian."

"Kita sudah lewat dari saat kamu harus menghadapi semuanya sendirian, kan?" bisik Agus, suaranya hanya terdengar untuk mereka berdua. "Saya tidak akan biarkan kamu sendirian lagi."

Mereka terus berjalan. Di kejauhan, lampu puskesmas mulai terlihat lebih jelas — titik cahaya di tengah kegelapan malam yang sepi. Tapi di belakang mereka, di jalan yang sama, sosok Surya mulai bangkit perlahan dengan susah payah. Ia menatap ke arah mereka yang menjauh, menyeka darah di bibirnya dengan punggung tangan, wajahnya penuh dendam yang semakin dalam.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • CANGKUL AJAIB SI AGUS   Episode 36

    Perjalanan pulang terasa jauh lebih lama dibandingkan saat berangkat. Sepanjang jalan Eny menatap ke luar jendela, pikirannya tak tenang. Ia berusaha menenangkan diri — mungkin hanya kesalahan catatan, mungkin sekadar salah paham. Begitu sampai, diperiksa, beres, lalu bisa kembali ke desa. Begitu harapannya. Tapi saat melangkah masuk ke gedung Agus Supermart, suasana tak seperti yang dibayangkan. Wajah-wajah tegang menyambutnya. Ria menyambut di pintu, matanya merah sembab. "Eny..." suaranya bergetar. "Kamu datang... syukurlah kamu datang." "Sudah berapa lama begini?" tanya Eny cepat, meletakkan tasnya di meja. "Sudah tiga hari. Sejak seseorang datang, mengaku... mengaku sebagai tunanganmu," jawab Ria pelan. Eny mengerutkan kening. "Tunanganku? Siapa?" Ria menunduk, tak berani menatap. "Dika." Nama itu membuat darah Eny mendidih sekaligus dingin menjalar ke sekujur tubuh. Dika. Mantan pacarnya. Pria yang dulu meninggalkannya tanpa pamit, yang pernah menyakitinya begitu dalam, y

  • CANGKUL AJAIB SI AGUS   Episode 35

    Tiga hari berlalu begitu indah — terasa seperti mimpi yang tak ingin diakhiri. Setiap pagi mereka bangun berpelukan, setiap hari berbagi segala hal, setiap malam tidur berdampingan tanpa lagi ada jarak di antara mereka. Di desa yang tenang itu, tak ada urusan toko, tak ada laporan, tak ada kesibukan kota — hanya mereka berdua, hidup sederhana, bahagia sepenuhnya. Agus hampir lupa bahwa dunia lain masih ada di luar sana — tempat di mana ia bukan sekadar pria yang dicintai, melainkan pemilik usaha, orang yang diandalkan, sosok yang punya tanggung jawab besar. Sore ketiga hari itu, langit mulai kemerahan. Mereka baru saja selesai makan sore di beranda, Eny sedang menyusun rencana menanam bunga di halaman depan — tiba-tiba ponsel yang ditaruh di meja bergetar kencang, bunyinya nyaring memecah keheningan. Eny menoleh, lalu meraihnya. Nama yang muncul di layar membuatnya mengernyit — Ria, wakil manajer di toko. "Permisi sebentar ya," ucapnya pelan, lalu mengangkat. "Halo, Ria?" Wajahnya

  • CANGKUL AJAIB SI AGUS   Episode 34

    Cahaya matahari pagi menyelinap pelan lewat celah jendela, menyentuh wajah mereka yang masih berpelukan di atas tempat tidur. Agus yang pertama membuka mata — tubuhnya terasa ringan, lelah semalam hilang tak berbekas. Di sampingnya, Eny masih tertidur pulas, kepalanya bersandar di dada bidangnya, tangan melingkar di pinggangnya. Napasnya teratur, hangat menyentuh kulitnya. Agus tersenyum lembut, membelai rambut panjang itu pelan. Rasanya damai sekali — bangun pagi bukan lagi sendirian di rumah yang sepi, melainkan ada seseorang di sampingnya, seseorang yang dicintainya, yang tulus menyayanginya. "emmmuah" Ia mencium ubun-ubun wanita itu pelan, tak berniat membangunkannya, hanya ingin menunjukkan betapa berharganya ia. Eny bergerak pelan, matanya perlahan terbuka. Melihat wajah Agus di dekatnya, senyumnya langsung merekah — murni, bahagia, tanpa ragu sedikit pun. "Sudah pagi..." bisiknya lembut, merapatkan tubuhnya makin dekat. "Iya, Sayang," jawab Agus pelan, tangannya mengusap p

  • CANGKUL AJAIB SI AGUS   Episode 33

    Langit masih gelap pekat, fajar belum menyingsing saat Agus melangkah pulang. Kakinya terasa berat, pakaiannya berdebu, keringat kering menempel di dahi. Sepanjang malam warga menyisir hutan, pematang sawah, jalan keluar desa — tak ada jejak pencuri. Tak ada motor, tak ada barang, tak ada siapa pun yang dicurigai. Seakan mereka lenyap ditelan bumi. Warga pulang satu per satu dengan wajah kecewa dan cemas. Agus yang paling akhir ikut berkeliling, akhirnya berjalan pulang sendirian saat udara subuh mulai terasa dingin menusuk tulang. Di depan rumah, ia mengetuk pelan — pola yang sudah disepakati: dua ketukan pendek, satu ketukan lagi. Hening. Tak ada jawaban. Ia mengetuk sekali lagi, sedikit lebih keras. "Eny... aku pulang." Masih tak ada suara. Agus merogoh saku "krincing" — kunci cadangan yang disimpan di sana sejak dulu, kini terasa begitu berharga. Ia memasukkan ke lubang kunci, memutar perlahan "klik" Pintu terbuka senyap. Ruangan dalam gelap, cahaya samar dari langit timur me

  • CANGKUL AJAIB SI AGUS   Episode 32

    Semuanya sudah begitu dekat. Ruangan itu terasa hangat, hanya diterangi cahaya matahari sore yang meluncur lembut lewat celah tirai. Napas mereka menyatu, jantung berdetak serentak sama cepatnya, tangan Agus perlahan menyentuh pinggang Eny, menariknya makin mendekat — bibir mereka hampir kembali bertemu, dan segala keraguan perlahan luruh, berganti keinginan untuk menyatu sepenuhnya.Tiba-tiba — ketukan keras memecah keheningan begitu tajam hingga mereka berdua tersentak kaget serentak."TOK! TOK! TOK!"Suara itu bergema di seluruh ruangan, memutus momen indah seketika."Agus! Gus! Ada di dalam? Buka pintunya!" suara lantang terdengar dari luar, disertai ketukan lain yang makin cepat.Agus meloncat bangun seketika, wajahnya memucat. Jantungnya berdebar kencang — bukan karena rindu lagi, melainkan karena kaget dan cemas.Ia menoleh ke arah jendela, lalu ke arah pintu. "Siapa pula ini..." bisiknya pelan, tangannya gemetar meraih pakaian yang tergeletak di lantai.Eny juga duduk buru-bur

  • CANGKUL AJAIB SI AGUS   Episode 31

    Angin sore berhembus pelan, menyisir rambut mereka yang duduk berdampingan di teras belakang. Hening yang manis terasa di antara keduanya — sampai tiba-tiba Eny bergerak mendekat, merangkul pinggang Agus, dan memeluknya dengan erat sekali. Agus tersentak kaget, tubuhnya menegang seketika. Ia tak menyangka sama sekali. Tangan yang tadi tergeletak di pangkuan terangkat perlahan, tak tahu harus diletakkan di mana — sampai ia merasakan betapa erat pelukan itu, betapa tubuh wanita itu menempel sepenuhnya padanya, seakan tak ingin berjarak sedikit pun. "dug. dug ." Jantungnya berpacu kencang sekali. Ia bisa merasakan detak jantung Eny yang sama cepatnya di dadanya. Napas hangat wanita itu menyentuh lehernya, membuat bulu kuduk berdiri dan wajahnya memerah perlahan. Perlahan, rasa kaget itu luntur, berganti rasa hangat yang meluap-luap. Tangan Agus akhirnya bergerak — melingkar lembut di punggung Eny, membalas pelukan itu dengan kehati-hatian namun penuh kerinduan yang tak terucap. E

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status