MasukMalam itu, Gaura, yang merupakan seorang bodyguard pribadi harus menemani atasannya, yang bernama Edrio Roderick dalam pertemuan bisnis di sebuah bar. Namun, atasannya dijebak! Alih-alih berhasil melindungi dan menyelamatkan Edrio, Gaura justru ikut terjebak dalam sebuah kejadian yang tak pernah ia bayangkan hingga membuatnya harus menerima kenyataan pahit setelah kejadian malam itu. Apa yang telah terjadi dengan keduanya? Akankah Gaura dapat menerima takdir baru yang akan ia hadapi?
Lihat lebih banyakWhen the night wandered on, Valerie sat pensive on the bed, for some reason this night was not as usual. Valerie was horrified, this horror was almost the same as the horror that always attacked her in the old nights. The birds in the leafy front trees made terrifying noises, squeaking as if for omen.
But what omens?Valerie checked back and forth for the door alarm, and took a deep breath. The alarm is set perfectly, the door is tightly closed with the lock and latch attached. Why does she keep feeling scared?Valerie went back into the room, locked her door and lay down, pulling the blanket up to her back. She should have felt free, she should not have been wracked with fear anymore. But why is this feeling the same? It was the same as before... far back in the past, where bad memories surfaced, memories she wanted to forget.Suddenly there was a loud voice at the back door of her house. Valerie was so shocked that she jumped out of bed. Her heart pounding violently, she stared at the door and grimaced.Did she lock the door to her room earlier? Did someone break through the back door? What if that person walks into her room?Those questions prompted Valerie to jump up in panic, and then check the lock of her bedroom door.Locked, of course.Valerie took a deep breath and leaned her body against the door. For a long time she waited, maybe there would be more voices outside while maintaining her beating heart which made her even more short of breath. However, the atmosphere was very quiet, there was no sound. Valerie even felt that she almost heard the pounding of her own heart racing so hard.Was the sound at the back door just a hallucination?After taking a deep breath, Valerie unlocked the door. She knew that she had done something stupid like in the horror films she often saw; heard a strange sound and then, instead of running and hiding, she coming like a moth drawn towards the fire that was going to kill her.Valerie's house is small so the room leads directly to the living room which doubles as a family room with a large TV dominating the center, then there is a small hallway to the kitchen area... the kitchen where the voice came from.Valerie turned on the living room light and took a deep breath when she realized that no one was there. Her heart pounded even more as she waited to step into the kitchen. It was dark and dense. Valerie cautiously turned on the light switch but immediately frowned in fear when it broke. The kitchen lights did not come on and Valerie winced at the darkness ahead. Her hand groped for the handphone that she had put in her pajama pocket.With minimal handphone lighting, Valerie stepped forward into the kitchen area. The light was dark and dim, making Valerie feel the hairs on her neck stand on end. It seemed that there was no one in the kitchen. But then Valerie's eyes fixed on something in the kitchen. Something that made her heart run fast and her face turned white. Something that gave off a soft, faint yellow light was shrouded in a blue candle.The quiet period of her life is over. The dream of living her days like an ordinary person has vanished.Valerie held onto the wall to support her trembling legs, her eyes fixed on it. A sign… a mark that had faintly burst into her subconscious, tugging at Valerie's long lost memory and alerting her. Instantly deep knowledge came to Valerie's mind, causing her to feel immense horror. The burning blue candle was a mark, a mark left by the cruelest killer she knew for some reason.The killer has found her.It's game over. Valerie's life may only be a few moments away. Her eyes glanced fearfully at the mark on her kitchen table.The blue candles, there were nine of them neatly placed and arranged beautifully in a semicircle on the kitchen table, the dim light contrasting against the pitch black kitchen room.Then as if suddenly emerging from the dark shadow behind her, strong fingers suddenly touched her neck from behind, soft and calm. Valerie choked up, but couldn't revolt, in the end all she could do was close her eyes.***Without any resistance which meant that Valerie's body was limp in his arms, there was intense pain and shock there. Valerie's wide eyes said so. Until a few seconds later, Valerie's eyes lost their light, closed weakly, leaving a dark, moaning spot there.The killer instead of rushing away, calmly lifted the fainted body of Valerie with both hands, to the corner of the room, into the living room of the smooth lacquered wooden-floored house. He sat there and held Valerie's limp body helplessly, stroked her long black hair, smelled the scent of her victim's neck. Truly he treated Valerie like a sleeping lover who would be left quietly. The look in the eyes of the murderer is that of a lover, full of love and overflowing hope.Not once or twice this time he took care of someone weak like Valerie, he often called it 'small order'. Fast, easy and often the victims are incredibly beautiful, just like what they see now. Strangely the killer always charges very, very high prices for small orders like this.For no apparent reason, he always said that to his clients, because there was no way for them to know that the murderer was a female cult, it took a great sacrifice of conscience to kill someone, but even he would sacrifice even more to kill Valerie, the only woman who has touched her heart.The lips of the killer touched Valerie's, crushed them softly with love. Before finally getting dark and dense the night, engulfing them both.“Kenapa, sayang?” tanya Gaura sambil menghampiri. “Aku mimpi buruk… tentang ayam goreng yang berubah jadi monster. Terus dia mengejarku dan Nenek dengan saus sambal!” Galen menjelaskan sambil memperagakan tangannya seperti cakar monster. Edrio nyaris tertawa, tapi ia cepat-cepat batuk pelan menahan ekspresi geli. “Itu mimpi yang sangat… spesifik.” “Dan pedas,” tambah Galen sambil mengangguk serius. Gaura mengelus rambutnya. “Mau Bunda temani di kamarmu?” Galen mendekat dan memeluk Gaura erat-erat. “Aku… boleh tidur di sini aja, tidak? Cuma malam ini. Pura-puranya kita berkemah.” Edrio dan Gaura saling pandang. Edrio mengangkat alis. “Kemah, ya?” “Aku jadi penjaga tenda. Kalau monster ayam datang lagi, aku usir pakai bantal!” kata Galen sambil mengayunkan bantal dinosaurusnya seperti pedang. Gaura sudah tidak bisa menolak. “Ayo, Pangeran Penjaga. Masuk ke tenda Raja dan Ratu.” Galen langsung memanjat ke ranjang, menyelip di tengah mereka dengan gaya penuh kemenangan.
“Tapi Ayah belum tahu kalau aku punya rencana rahasia!” Galen menjawab dengan misterius, lalu menyeringai seperti tokoh kartun. Mereka menggelar tikar di bawah pohon besar. Elia duduk santai sambil membaca buku, sementara Gaura dan Edrio membuka makanan yang berisi, sandwich, buah, ayam goreng, dan jus jeruk. “Bunda, ini hari terbaik!” kata Galen sambil menyuap potongan apel. “Karena pikniknya?” tanya Gaura. “Karena semua bersama. Dan... rencana rahasiaku berjalan lancar,” jawabnya licik. Gaura dan Edrio saling pandang heran. “Apa maksudmu?” tanya Edrio, curiga. Galen berdiri, membuka tas besarnya—dan dari sana ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi benda-benda lucu seperti, mahkota kertas, topeng binatang, dan secarik kertas lipat. “Aku siapkan ini karena aku mau kasih kejutan!” katanya bangga. Ia meletakkan mahkota di kepala Gaura. “Ini buat Bunda, Ratu Piknik!” Lalu ia memakaikan topeng singa pada Edrio. “Dan ini buat Ayah… Singa Penjaga!” Gaura tak bisa menahan tawa.
“Aku tidak menggombal. Aku sedang menyatakan fakta.” Edrio tertawa pelan lalu menarik selimut itu perlahan, memperlihatkan wajah istrinya lagi.Gaura menatapnya dengan senyum malu. Ia menggeliat kecil, lalu menyandarkan kepala di dada Edrio yang hangat.“Semalam… terasa seperti mimpi,” bisiknya.Edrio membalas dengan mengecup ubun-ubunnya. “Tapi ini nyata. Kamu istriku sekarang. Dan aku… milikmu sepenuhnya.”Mereka terdiam beberapa saat, membiarkan suara detak jantung dan tarikan napas menjadi satu-satunya irama di kamar itu.Lalu Gaura menatapnya dan bertanya, “Apa kau pernah membayangkan kita akan sampai di titik ini, setelah semua kekacauan yang kita alami?”Edrio menggeleng pelan. “Tidak. Tapi aku bersyukur kita bertahan. Dan lebih dari itu—aku bersyukur kamu memilih tetap bersamaku.”Gaura menyentuh wajahnya dengan penuh kelembutan. “Kita sama-sama bertahan, Edrio. Kau juga tidak menyerah padaku.”Mereka saling menatap sejenak sebelum akhirnya bibir mereka bersentuhan lagi—kali
"Hmhh.." lenguh Gaura menahan semua sensasi yang tubuhnya rasakan. Edrio menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan, kemudian memulai aksinya untuk 'bertarung' dengan Gaura. Di saat mereka berdua tengah saling bertarung di dalam kamar, di sebuah kamar lain tepatnya kamar tidur milik Galen, terdapat bocah itu bersama neneknya. Kamar Galen dihiasi cahaya lampu malam berbentuk bintang-bintang yang memantul di langit-langit. Bocah itu sudah mengenakan piyama bergambar dinosaurus, tapi matanya masih terbuka lebar, tak kunjung mengantuk.Di sebelahnya, Elia—nenek tercintanya—sedang duduk di tempat tidur, membacakan buku dongeng dengan suara lembut. Namun, Galen tampaknya lebih sibuk berpikir daripada mendengarkan cerita.“Nenek…” Galen memanggil dengan suara pelan namun penuh rasa ingin tahu.“Iya, sayang?” Elia menutup buku dan menoleh penuh perhatian.Galen duduk bersila di tempat tidurnya, alisnya mengernyit lucu. “Kenapa Bunda sama Ayah tidur di hotel? Kenap
“Karena aku takut akan kehilanganmu kalau kau tahu siapa aku dulu… Tapi sekarang, aku lebih takut kehilanganmu kalau aku tetap diam.” Gaura menarik napas dalam, lalu mengangguk perlahan. “Kau seharusnya percaya bahwa aku cukup kuat untuk berdiri di sampingmu, bahkan saat yang terburuk sekalipun.”
“Matikan itu!" perintahnya ke tim teknis. Tapi layar tidak bergeming. Wanita itu sudah meng-hack sistem sepenuhnya. Gambar berikutnya menunjukkan Edrio sedang berada dalam pertemuan gelap bersama pria-pria bersenjata, membawa koper uang dan dokumen. Kemudian, rekaman suara mulai terdengar—diskusi
Langit biru membentang sempurna di atas gedung berarsitektur klasik yang berdiri megah di pinggir kota. Udara pagi itu sejuk, diselimuti semilir angin yang membawa wangi bunga mawar putih dan lili yang menghiasi setiap sudut halaman. Musik lembut dari gesekan biola mengalun indah, berpadu dengan ta
Dengan tangan terangkat, Edrio memberi isyarat pada anak buahnya. Beberapa dari mereka membawa ke depan bukti-bukti kejahatan Jonathan. Transfer uang ilegal, dokumen palsu, bahkan rekaman percakapan dengan para pihak yang terlibat dalam pengaturan saham. Namun, di saat yang sama, sesuatu yang lebi






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak