LOGIN“Aku sudah bertemu calon menantu pertamaku. Sekarang aku ingin memastikan kamu bukan kesalahan kedua.”Gista bengong. Ponsel masih menempel di telinganya. “Anda ….”“Mama Akash,” jawab suara di seberang.Gista hampir saja menyenggol mug kopi di samping laptop. Jantungnya berdegup kencang. Buru-buru dia duduk tegak, meski sadar gesturnya tak bakal dilihat oleh wanita itu.“Ibu–”“Makan siang nanti di The Atrium. Sopir akan jemput kamu.”Klik.Telepon diputus. Gista mengerjap. Bengong. Sampai kesadarannya ditarik kembali oleh Adel yang mengguncang keras-keras bahunya.“Woi, Kak Gista! Buset, dipanggil dari tadi malah bengong.”Gista menoleh. “Jam berapa sekarang?”“Setengah dua belas. Kenapa? Eh, tunggu. Gue diminta sama Direktur buat ngasih draf promo–”“Mbak Gista.”Dua kepala menoleh. Kepala Gista dan Adel. Office boy berdiri di depan kubikel. Cengirannya lebar.“Mbak Gista order limosin? Tumben, mau makan siang aja mewah banget. Fine dining di mana, Mbak? Nggak nitip saya lagi?”Gi
“Kenapa kamu nggak cerita kalau punya adik? Kenapa kamu tinggal sendirian di rumah bobrok itu? Kenapa kamu bekerja sangat keras di level rendah Megalitera? Kenapa kamu lakukan itu saat bisa menggenggam dunia, Gis?”Mulut Gista terbuka lebar-lebar mendengar rentetan pertanyaan Akash. Di restoran tadi, dia berhasil menghindari pertanyaan pria itu. Namun, setelah tiba di rumah, Gista tak bisa mengelak lagi.“Hidupmu sangat sederhana, padahal punya keluarga konglomerat.” Akash mengernyitkan dahi. “Kalau dipikir-pikir, keluargamu bisa jadi lebih kaya dibanding keluargaku. Laporan kekayaan Adinata sepuluh tahun lalu jelas lebih besar dibanding Salim.”Gista menelan ludah. Dia beringsut menjauh, tetapi Akash menariknya ke pangkuan. Gista tak bisa berkonsentrasi sama sekali.“Kamu nggak pernah ngomongin keluargamu sama sekali. Kukira kamu yatim piatu.” Akash menyibak poni yang menutupi dahi Gista.“Kalau tahu kamu dari keluarga Adinata, Papa pasti nggak akan ganggu kamu,” imbuh pria itu lagi.
“Kamu bikin G-Ash Media?” Daging yang hendak disuap Gista terhenti di udara. Di sampingnya Akash mengangguk.“Gista & Akash. Nama kita bersama. Website buku itu adalah proyek pertama. Novelmu selanjutnya adalah proyek gabungan Megalitera dan G-Ash.”“Tunggu dulu.” Gista terperangah. “Tapi kamu CEO Salim!”“Posisiku genting,” senyum Akash tipis.Gista tertegun, tiba-tiba teringat perkataan Leo yang memintanya bersabar atas sikap Akash.“Jadi, ini yang dimaksud kondisi khususmu?” gumam Gista.Seolah mengerti maksud perkataan Gista, pria itu mengangguk. “Leo yang kasih tahu kamu?”“Iya, juga hubungan dia sama Adel.”“Ah, itu. Ada gunanya juga punya pacar yang baik hati. Pacarnya bisa menolong pacarku.” Akash mengangguk-angguk. “Akan kusuruh direktur Mega menaikkan gaji Adel.”“Nepotisme banget, sih,” kelakar Gista.“Siapa saja yang sudah bantu pacarku wajib diapresiasi.” Akash tersenyum lagi.Gista meraih tangan Akash. “Ini karena aku? Karena kamu bertengkar sama papa-mu gara-gara aku?”
Silakan lewati bab ini bila Readers belum 18 tahun. ^^~~~~~“Sekali lagi kamu nempelin mata ke layar itu, Gista, aku akan pastikan ponselmu hancur di bawah sepatuku.”Gista langsung mendongak. Belum apa-apa, satu ciuman kuat langsung hinggap di bibirnya.“Akash!” seru Gista kaget, “Kita lagi di kafe ini.”“Bodo amat,” gerutu Akash. “Aku nggak mau diduakan dengan ponselmu. Kita sudah susah-payah ketemuan, kenapa masih harus ada ponsel di antara kita?”Gista tertawa dalam hati. Ucapan pacarnya ini benar. Setelah akhirnya bisa bertemu lagi, sesudah Akash menghindari Gista beberapa hari, rasanya sangat berbahaya kalau dia sibuk dengan ponsel.Masalahnya notifikasi di ponsel saat ini jauh lebih menarik dibanding pertemuan dengan Akash. Karena itulah, Gista menunjukkan layar ponselnya kepada pria itu.“Lihat,” tunjuk Gista mengabaikan ekspresi masam dan cemberut di wajah pacarnya, “novelku “naik”, nih.”Akash menyipitkan mata. Anehnya, respons pria itu sangat datar alih-alih ikut histeris
“Kalian pacaran? Kapan? Kenapa nggak ngomong sama aku? Emang niat privat, ya?” Gista memberondong Leo dan Adel dengan pertanyaan-pertanyaan. Dia duduk di depan dua orang itu layaknya hakim yang sedang mengadili terdakwa. “Udah lama,” jawab Leo. “Masih barusan, kok,” ujar Adel. Gista menaikkan sebelah alis. Pandangannya bergantian menatap tajam Adel dan Leo. Yang ditatap saling melempar pandangan. “Jadi, yang bener yang mana?” Sejurus kemudian, Leo memberikan senyum lebarnya. “Biar gue yang ngomong.” “Tapi–” “Miss Gista berhak tahu. Gue udah ngomong ke Akash juga.” Ada denyut sakit di hati Gista mendengar nama Akash disebut. Sudah tiga hari ini pacarnya menghilang. Ponselnya aktif, tetapi telepon dan pesannya tak direspons sama sekali. “Kita udah pacaran lama,” suara Leo memecah lamunan Gista. “Sebelum Adel datang ke Mega.” Gista berkedip cepat. “Sebelum … ke Mega?” “Benar. Maafin aku, Kak Gista. Awalnya aku diutus buat melindungi Kak Gista di sini. Perlindungan diam-diam de
“Terima kasih sudah angkat teleponku, Sayang.”Ponsel di genggaman Gista berpindah tangan. Wanita itu tertegun melihat Akash berjalan pergi.“Kapan dia keluar kamar mandi?” Gista penasaran.Namun, rasa bingungnya berganti dengan rasa ingin tahu. Rupanya Pak Adam berkomunikasi intens dengan putranya soal Gista.“Jadi, apa kamu mau kita putus?” Gista blak-blakan setelah Akash menyelesaikan teleponnya.“Gista, apa yang kamu bicarakan?”“Nggak usah polos gitu, Kash. Aku tahu kok, papa-mu minta kita putus.” Gista berkata santai, meski hatinya berdentum-dentum.Cukup lama Akash terdiam, sampai dia menjawab pertanyaan Gista. “Kamu mau kita putus?”“Akash, jangan mutar balik fakta, deh.”“Nggak. Aku nggak mutar balik fakta. Aku hanya ingin tahu seberapa besar kamu berjuang buat hubungan kita.”Gista tersentak kaget. Kekesalannya dengan cepat memuncak. “Maksudmu, aku yang harus nentukan arah hubungan kita?”“Gista, kamu tahu maksudku,” desis Akash. Ketenangannya sedikit terganggu. “Aku sedang
Pintu apartemen menjeblak terbuka. Gista berjalan masuk. Akash membuntuti di belakangnya, menarik koper, melemparkan koper begitu saja, dan membanting pintu menutup keras di belakangnya.“Akash, apa yang kamu lakukan?” Gista memekik kaget saat pria itu mengangkat tubuhnya dan melingkarkan kakinya d
“Kamu cuekin aku, Gis?”Gista yang sedang berkutat dengan proposal naskah terbaru mengalihkan pandangan dari laptop. Ini hari ketiga mereka “resmi” berpacaran. Namun, belum sekalipun Gista dan Arvin benar-benar berduaan.“Aku selalu kayak gini, Kak.” Gista menjawab datar.“Kamu nggak peduli sama ak
“Pa-pacaran?” Gista gugup. “Iya. Mulai hari ini kita pacaran.” Arvin berkata manis. Dia mengangkat tangan Gista dan mengecup punggung tangannya.“Kak Arvin.” Wanita itu merenggut tangannya sangat cepat dari genggaman Arvin.Ekspresi wajah Arvin berubah. Gista tak peduli. Dia tak ingin masalah ini
“Kenapa teleponku kemarin nggak diangkat?” Arvin langsung menghadang Gista saat wanita itu tiba di kantor.“Aku menunggumu di restoran selama tiga jam,” imbuh Arvin lagi.Gista santai meletakkan tas di atas meja. Tatapannya dingin. “Aku nggak pegang hape terus-terusan, Kak. Lagian semalam ada acara







