MasukMenjalani hubungan tanpa ikatan dan tanpa perasaan, tidaklah semudah yang di bayangkan. Dari awal, Karin dan Pasha sudah sepakat, bahwa hubungan mereka hanyalah sebatas teman yang saling berbagi kesenangan di kala penat dalam mengejar impian. Akankah tumbuh cinta di antara keduanya?
Lihat lebih banyakGEMMA
I opened the dressing room door and walked wobbling to the stage amidst loud and cheering noises. I got to the stage, climbed it and stood at the center of the stage. I closed my eyes nervously, exhaling and inhaling. I opened my eyes and stared at the large crowd cheering at me and waiting for me to start performing.
I knew how weird and irritating it felt dancing in front of men old enough to be your father because I've been working in this club as a waitress for a long time and had seen everything that's going on, but here I am, on this stage, about to dance almost naked.
This is my first time dancing almost half naked in front of everyone.
"Just do it. Just one night, if you dance well, you would get enough money to settle your debts once and for all" my best friend's words replayed in my mind.
It was hard for her to bring up this suggestion but she had seen how I've been living a miserable life and living from hand to mouth while trying to pay back the debts my father owed before dying with my little waitress salary.
I was shocked when I found out that my father was owing a certain person a huge sum of money and since I was the only family he had left, I had to pay him back. Since then I haven't stopped receiving notes on my door asking me to pay back and pay fast. But then how would one person own that amount of money?
I felt knots tie in my stomach and I wanted to puke. I wished I could be anywhere but here but I just couldn't make my wish a reality.
"What are you waiting for? Start" my manager, Stacy said as she entered the stage.
I shook my head slightly, forcing back the tears that threatened to fall. I just couldn't do this.
"The men are eagerly waiting for your performance. If you can't do it, then leave the stage and go home" she yelled at me. Thank goodness the crowd couldn't hear her due to the loud music playing.
Leaving the stage right now was something I couldn't afford to do. I needed the money badly.
"I will do it," I muttered.
"Good. Boss is here today and there should be no mistakes and floppy performances" she said and eyed me from head to toe like with disdain and walked off the stage. She had every right to be mad at me. I was the one who told her I wanted to strip dance.
The boss is here? For a strip club, I had to admit this place was oozing pure luxury and had always wondered who owned this magnificent place.
I took deep breaths and tried relaxing myself. The men were screaming at me to strip myself naked, as they were already impatient. Their hungry eyes were feeding on my body. The music changed and I closed my eyes.
I immediately began moving my hips tentatively and ran my hands down my body in a seductively and erotic way. I grasped a long pole as I swirled my body round it.
I didn't realize I had mastered how to strip dance in my head just by watching others do it these past months. I was dancing freely, putting practice to everything I had seen earlier.
The man were howling as they fed their eyes hungrily.
"Slutty bitch"
"That's a great job over there"
"Come sit on my dick"
"I'm fucking hard" one yelled and they all laughed.
I felt so irritated hearing their nude comments but I hid my irritation and kept on swaying myself around the pole.
I opened my eyes and allowed it to travel around the hall and then it suddenly locked with a pair of cold blue eyes, his gaze was like ice, so hard.
He locked his eyes with mine, not cheering or howling like the others. He stared at me like he knew me from before. He stared at me like a predator would stare at a prey and I suddenly felt myself being self conscious of my performance as a result of his fiery gaze on my body.
I couldn't really get a view of his face since he sat in the shadows, surrounded by women dressed seductively and caressing his body to get a reaction. I didn't like the way he was staring at me, it was beginning to stir up some reactions in my body.
I forced myself to look away from him and kept on swaying myself around the pole while the men kept throwing money at me. The sight of the money made me dance more.
Soon, the music came to an end. I bent down and picked up my money littered everywhere on the stage, tucked them in my bra and hurriedly left the stage. The money I made just this night was huge, it was almost a thousand dollars or even more than.
I could still hear the men clapping as I walked back to the dressing room.
"Gemma, that was a nice performance. You did extremely well" Luna, a friend said as I walked into the dressing room.
"Thank you" I whispered.
"You made a lot of money tonight, keep it up" she said and left the room.
I rolled my eyes after she left. The three other girls in the room just stared at me without saying a word to me. I wasn't surprised, we don't really talk.
Keep what up? I just pray this money is enough for me to pay off the remaining debt. Luna came into the room again and began sorting out some dresses.
I changed out of my stripper clothes and wore back my normal clothes. I put all the money I made tonight into my bag. Seeing this money brought joy to me, I don't think I've ever seen this kind of money before in my life. Soon, I would be free of this huge debt.
I was about to leave the dressing room, after waving Luna bye and go home when Manager Stacy walked into the room.
"Gemma, the boss wants to see you," she said.
Waktu terus bergulir, tak terasa sudah hampir tiga bulan Karin tak lagi mendengar kabar berita tentang Pasha, hati nya kini jauh lebih kuat dari yang ia duga, perasaanya pada cowok itu nyaris memudar meski belum sepenuh nya. Entah kenapa, ada setitik perasaan yang membuat Karin benar-benar rela menghilangkan nama itu dalam hati nya, apakah ini cinta?Entahlah, Karin tak pernah yakin akan hal itu, yang Karin tahu, dirinya dan Pasha jauh sangat berbeda, perbedaan kasta di antara keduanya bagai langit dan bumi, dan itu selalu menghalangi Karin untuk menerima perasaan yang sebenar nya, bayangan kekecewaan lebih dulu menghantuinya sebelum kata cinta itu terucap, Karin tidak tahu, harus berapa lama lagi dia memendam semua nya sendirian, meski kadang Pasha sudah berulang kali meyakinkan cinta nya terhadap nya, tapi bagi Karin semua itu tidak lah cukup untuk membunuh semua keraguan nya, rasa takut akan kekecewaan lebih besar menguasai diri nya.Sebenar nya ketakuta
Karin memandangi ponsel nya, dua hari yang lalu dia mencoba untuk pindah plat form kepenulisan, sudah beberapa bulan terakhir ini dia tidak mendapatkan kontrak eksklusif dimanapun. Entah apa yang terjadi, rasa nya Karin ingin menyerah saja, namun jika melihat kembali tekad nya, mimpi-mimpi nya, tentang keinginan untuk bisa berdiri sendiri di atas kaki nya, Karin tentu saja belum ingin menyerah. Di sisa semangat nya, Karin mencoba menulis lagi di plat form lain, berharap ada titik terang. Ting! Terdengar satu pesan masuk dari WA nya. Karin buru-buru pindah ke aplikasi tersebut untuk menilik siapa si pengirim pesan. "Kak Marvel?" Pekik nya lirih. Ya... Dia adalah editor baru Karin, dan kebetulan dia juga editor baru, sebelum nya Karin di bawah asuhan Kak Siska, namun karena anak asuh kak Siska sudah overload, naskah synopsis yang sudah Karin kirim di pindah alih pada Kak Marvel. "Oh iya, Karin, coba deh kamu cek email kamu, saya sudah coba k
Begitu sampai di apartement nya, Pasha sudah di sambut dengan kehadiran Andrea yang tiba-tiba sudah muncul di depan pintu apartement nya. Entah sudah beberapa lama wanita itu berdiri di sana, yang jelas saat ini sudah hampir lewat tengah malam. Pasha paham betul diapa Andrea, orang yang suka nekad. Sudah beberapa hari ini Pasha sengaja menghindari wanita itu. Dan ini puncak nya, saat pria itu terasa tak bisa di hubungi, Andrea akan nekad mendatangi nya.Pasha mengalihkan pandangan nya ke segala arah, tadi nya ingin pergi menghindar saja, namun mata Andrea sudah mengunci nya, sekarang ia terpaksa harus menghadapi wanita itu."Kamu kemana aja?" Andrea menyilang kan tangan nya ke dada, menarik napas, mencoba menahan emosi nya."Sibuk.""Sibuk apa? Sibuk sama cewek kampung itu?" Tuduh Andrea yang kini tak bisa menahan kemarahan yang sudah berusaha ia redam beberapa hari ini."Kalau iya, kamu mau apa?" Pasha paling tidak suka dengan orang yang bicara dengan
Berbagi cerita dengan ibu nya setiap malam, adalah hal yang paling Karin tunggu, dia sangat merindukan ibu nya, berharap, saat ia bangun pagi, dia mencium aroma masakan dan menemukan ibu nya ada di dapur, namun kenyataan perih seakan menghantam nya. Dia tidak akan menemui saat-saat seperti itu lagi, semua hanya tinggal kenangan, dan yang tersisa hanya kesedihan. Karin sedih, ia merasa sangat sendirian.Demi melegakan hati nya yang tiba-tiba terasa sesak, ia berjalan ke arah jendela, membukanya dan sengaja membiarkan angin malam membelai wajah nya. Kini, tatapannya sendu menatap langit tanpa bintang. Selama ini, Karin sudah cukup menahan rasa sakit dan kesepian, kadang ia tak ingin memikirkannya, namun saat malam tiba, seperti malam-malam sebelum nya, semua kenangan indah bersama kedua orang tua nya, diam-diam menyusup ke dalam ruang hati nya yang hampa, dan di saat seperti itu lah, Karin baru menyadari, betapa kesepian dan menyedih kan nya hidup nya.Suara mo
"Ini maksudnya apa?" Sergah Karin kalap saat Pasha baru saja kembali dari luar.Langkah Pasha seketika terhenti di ambang pintu. Matanya terlihat panik saat menatapi lembaran kertas yang di acungkan Karin di udara. "Jangan marah dulu, aku bisa jelasin.""Ini pasti ada hubunganny
Malam dengan titik-titik air gerimis yang mulai menempel di kaca jendela mobil membuat udara jadi terasa semakin dingin. Karin mengusap pundaknya demi mengurangi rasa dingin yang kian menyergap.Pasha melirik sekilas ke arah gadis itu. Tak lama ia beringsut menepikan mobilnya. "Pa
Hari sudah mulai menjelang sore, Karin terlihat sedang bersiap menutup roling dor toko nya yang hanya berukuran 3,5 meter itu.Grek...Hanya dengan satu kali tarikan, roling dor tertutup dengan sempurna. Karin pun segera menguncinya.
Sudah tiga hari sejak hari itu, Pasha melakukan aksi merajuk, ia berusaha untuk tidak menghubungi Karin. Berharap gadis itu sadar dan tidak selalu bertindak keras kepala atau bahkan egois. Di mana gadis itu akan berlari jika merasa kesepian jika tak ada dirinya? Begitu pikir Pasha.
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak