MasukGideon adalah seorang pria pendiam yang hidup dalam kedamaian dan ketenangan di dalam rumahnya. Kesehariannya selalu dihabiskan di dalam rumah. Sehingga mau tidak mau dia harus menemukan ketenangan dalam kesendiriannya.
Karena trauma di masa lalu. Membuat kedua orang tuanya mengekang hidupnya. Namun Gideon tetap merasakan kesunyian yang mencekam. Karena kedua orang tuanya sibuk di luar rumah untuk membangun kerajaan bisnis mereka lebih jaya lagi dari sebelumnya. Sehingga di mata Gideon rumahnya bukan hanya sekadar tempat tinggal, akan tetapi juga sebagai sumber kenyamanan di dalam dirinya. Setiap harinya, Gideon memulai paginya dengan membuka tirai di kamarnya, menyambut cahaya matahari yang perlahan menyinari setiap sudut ruangan. Di pojok ruangan, ada meja kayu tua yang menjadi tempat dia menuliskan pemikirannya atau membaca buku-buku yang menjadi sahabat setianya. Kursi empuk di sebelahnya menjadi tempat Gideon bersantai, meresapi kata-kata dan dunia yang tercipta dari halaman-halaman yang membentuk imaginasi. Namun, apa yang membuat rumah Gideon benar-benar istimewa adalah ketertiban dan kebersihannya. Setiap buku di raknya diletakkan dengan rapi, dan bunga kecil di vas kecil memberikan sentuhan segar di ruangan yang sejuk. Gideon tidak pernah lupa mengatakan kepada para maid untuk membersihkan dan merapikan rumahnya, karena bagiannya itu adalah momen yang memberikan harmoni dan ketentraman dalam hidupnya. Kamar yang berantakan tadi, ternyata Gideon sengaja mengacaukannya untuk mengusir Septin, pengasuh barunya. Namun yang terjadi malah, sang tuan muda menyukai hasil kerja pengasuh itu. Dinding kamar Gideon penuh dengan lukisan-lukisan abstrak yang dia pilih dengan cermat. Setiap warna dan goresan memiliki makna tersendiri baginya. Lukisan-lukisan itu memberikan kesan bahwa setiap sudut ruangan adalah kanvas hidup yang selalu berkembang, sama seperti pemikirannya yang terus mengalir dan tumbuh. Gideon sangat menyukai seni lukis. Di setiap waktu luangnya dia akan sempatkan untuk melukis. Selain itu Gideon juga memiliki kecintaan pada musik klasik, yang sering kali mengisi ruangan dengan melodi yang menenangkan. Suara gemericik air dari pancuran hujan buatan di pojok kamar mandinya menjadi pengiring yang sempurna bagi ketenangan malamnya. Ia suka duduk di kursi berayun di balkonnya, menyaksikan senja perlahan merambat di langit. Terkadang, Gideon mengundang teman-temannya ke rumahnya. Meskipun jarang, saat itu rumahnya penuh dengan tawa dan cerita. Gideon mungkin pendiam, tetapi ia tahu bagaimana menghargai kehadiran orang lain, dan rumahnya selalu terbuka bagi mereka yang memahami kebutuhannya akan kedamaian. Bagi Gideon, rumahnya adalah refleksi dari dirinya sendiri. Dari karya seni sehingga semuanya menciptakan aura yang nyaman dan penuh inspirasi. Dalam kesederhanaan dan ketenangan rumahnya, Gideon menemukan kekayaan yang tak ternilai. Sebab, bagi pria pendiam ini, kehidupan yang damai dan harmonis dimulai dari dalam hati dan berakar pada rumah yang dirawat dengan cinta dan perhatian. Walaupun keduanya orang tuanya sibuk di luar rumah. Tapi Gideon dapat menciptakan dunianya sendiri di dalam rumah. Tiba-tiba perut Gideon merasa lapar, dia pun ke luar dari kamarnya dan mulai masuk ke dalam lift rumahnya yang akan membawanya ke lantai bawah tepatnya di dalam dapur rumahnya. Gideon mengamuk di ruang dapur, melihat para maid yang sedang berusaha membuat telur mata sapi. Wajahnya memerah, mata menyala, dan suaranya gemuruh memenuhi ruangan. "Kalian ini sudah berapa kali saya minta, tapi tetap saja tidak bisa membuat telur mata sapi dengan bentuk yang benar! Apa yang kalian lakukan sehari-hari? Membuat itu saja tidak bisa!" Hardiknya penuh amarah. "Maaf, Tuan Gideon, kami sedang berusaha sebaik mungkin ..." tukas salah seorang maid. "Berusaha? Itu bukan jawaban yang saya inginkan! Ini adalah hal yang sederhana, tapi kalian terus gagal!" "Kami akan belajar lagi, Tuan Gideon. Mohon beri kami kesempatan." ujar maid yang lain. "Kesempatan? Sudah berkali-kali saya memberikan kesempatan, tapi hasilnya tetap saja menyedihkan! Apa kalian tidak mengerti betapa pentingnya telur mata sapi ini bagi saya?" kesalnya semakin menjadi-jadi "Kami akan mencoba lebih keras, Tuan Gideon. Mohon beri arahan yang lebih spesifik." Kali ini Maid Lilis yang menjawabnya. "Spesifik? Apakah saya harus mengajar kalian satu per satu? Ini seharusnya menjadi kemampuan dasar! Saya tidak percaya bahwa saya harus melihat telur mata sapi yang cacat setiap pagi!" "Tuan Gideon, kami minta maaf atas ketidaknyamanan ini. Kami akan belajar dengan tekun untuk memenuhi harapan Anda." Maid Lilis lagi-lagi meminta pengertian dari sang tuan muda. "Apa yang Anda bilang, Maid? Tekun? Ini bukan masalah tekun, tapi masalah kemampuan dasar! Kalian seharusnya bisa melakukan ini tanpa harus terus-terusan membuat kesalahan!" Gideon semakin emosi Suasana di ruang dapur terasa tegang, para maid saling pandang dengan ketidakpastian. Gideon terus berbicara dengan suara yang semakin meninggi. "Saya tidak bisa terus menerus menyaksikan kegagalan ini. Saya butuh telur mata sapi yang sempurna setiap pagi! Bisa kalian pahami itu?" "Kami akan bekerja keras, Tuan Gideon. Beri kami kesempatan untuk memperbaiki kesalahan kami." seru Maid yang lain. "Kesempatan? Kalian ini hanya menyusahkan hidup saya! Saya tidak bisa lagi menerima alasan kalian yang tidak masuk akal! Apakah kalian mau saya pecat semuanya?" "Tuan Gideon, mohon maafkan kami. Kami akan mencari solusi agar bisa memenuhi standar Anda." "Saya capek dengan alasan dan permintaan maaf! Saya ingin hasil yang memuaskan, bukan janji-janji kosong!" kesal Gideon lagi. Aksi kemarahan Gideon terus bergema di ruangan dapur itu, menciptakan atmosfir ketegangan yang sulit untuk dihindari. Para maid bekerja keras mencoba memperbaiki kesalahan mereka, sementara Gideon tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya yang mendalam. Septin yang sedang melipat pakaian di ruang laundry, dapat mendengar keributan yang berasal dari dapur, yang membuatnya menghentikan setiap gerakanya saat ini. Suara keras dan amarah yang membara mencapai telinganya, mengisyaratkan bahwa Tuan Muda Gideon sedang memarahi para maid yang ada di dapur. Wajahnya menunjukkan ekspresi kekhawatiran dan penasaran. Dengan apa yang sebenarnya terjadi di dalam dapur itu. Dengan hati-hati, Septin meletakkan pakaian yang sedang dilipatnya di meja yang ada di sana dan mulai melangkah bergerak menuju pintu dapur. Suasana tegang sangat terasa di sana, membuat langkahnya terasa berat. Ketika pintu terbuka sedikit, suara Gideon yang marah semakin jelas. Para maid yang ada di dapur terdengar berbisik-bisik, cemas akan kemarahan sang tuan muda. Gadis itu mulai menyelinap masuk ke dapur, bersembunyi di balik salah satu sudut ruangan itu. Mata Septin melebar melihat Gideon yang berdiri di tengah ruangan dengan ekspresi marah yang sulit dijelaskan. Para maid berdiri tegang, menundukkan kepala mereka dengan penuh kekhawatiran. Septin mencoba menajamkan pendengarannya. Gadis itu sangat penasaran apa yang menyebabkan sang tuan muda sedang marah saat ini.Perayaan ulang tahun Abed dan Alice,Pagi Sabtu yang cerah, suasana di Tamani Kids Café, Kemang, Jakarta Selatan terasa meriah. Balon-balon berwarna cerah dan dekorasi penuh warna menghiasi seluruh sudut ruangan, menandai perayaan ulang tahun bersama Abed Mosha yang genap berusia lima tahun dan Alice Mosha yang merayakan ulang tahunnya yang ke tiga tahun.Meja-meja dipenuhi dengan berbagai macam makanan dan kue yang menarik perhatian, sementara di tengah ruangan terdapat kue ulang tahun besar berlapis tiga, dihiasi dengan karakter kartun favorit Abed dan Alice.Gideon dan Septin tampak sibuk menyapa para tamu yang mulai berdatangan. Keduanya tersenyum lebar, menikmati setiap momen kebahagiaan yang mengalir di tengah pesta tersebut."Selamat datang, Tuan Ronald, Nyonya Sera! Terima kasih sudah datang," sambut Gideon ketika salah satu koleganya memasuki ruangan bersama keluarganya.Tuan Ronald, yang datang bersama Nyonya Sera serta kedua anak mereka, Sebastian dan Rose, menjabat tangan
Dua tahun telah berlalu sejak kelahiran Baby Abed Mosha,Pagi itu, suasana di rumah Keluarga Mosha terasa hangat dan penuh kebahagiaan. Di ruang tamu yang luas dan elegan, Gideon terlihat sedang sibuk memastikan semua persiapan untuk menyambut kedatangan Septin, istrinya dan Baby Alice yang telah lahir beberapa saat yang lalu, sudah sempurna. Bunga-bunga segar menghiasi meja, dan balon warna pink dan peach bergantungan di sudut ruangan. Wajahnya tak henti-hentinya tersenyum sambil sesekali melihat ke arah Abed, putra sulungnya yang sedang asyik bermain dengan mainan mobil-mobilannya."Papi, kapan Mami dan adik bayi pulang ke rumah kita?" tanya Abed dengan mata berbinar-binar."Sabar, Nak. Sebentar lagi Mami dan adik Alice akan sampai," jawab Gideon lembut sambil mengelus kepala Abed, putra sulungnya. "Kamu senang ya punya adik perempuan?"Abed mengangguk dengan antusias. "Iya, Papi! Abed mau ajak adik main sama-sama nanti!"Gideon tertawa kecil melihat semangat putranya. "Ha-ha-ha
Sudah sebulan berlalu sejak Gideon dan Septin kembali dari bulan madu mereka di Finlandia. Masa-masa bulan madu itu terasa seperti mimpi indah yang tak berkesudahan, tapi kebahagiaan keduanya belum berhenti di situ. Ketika Septin mengetahui bahwa dirinya hamil, keduanya terkejut sekaligus bahagia. Sekarang, usia kandungan Septin sudah mencapai lima bulan, dan hari ini adalah hari yang mereka tunggu-tunggu yaitu pemeriksaan kehamilan di salah satu rumah sakit ternama di Jakarta.Pagi itu, Gideon izin dari kantornya, Mosha Corp, di mana dia menjabat sebagai CEO, agar bisa menemani Septin ke dokter kandungan. Di dalam mobil mewah mereka, suasana terasa tenang dan penuh harapan. Gideon mengemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menggenggam tangan Septin yang duduk di sebelahnya.“Aku masih nggak percaya kalau kita akan punya bayi laki-laki, Sayang.” ucap Gideon, suaranya dipenuhi kegembiraan. “Rasanya seperti baru kemarin kita menikah, dan sekarang kita akan jadi orang tua.
Pagi itu di hotel mewah mereka di Finlandia, sinar matahari pagi yang lembut menerobos masuk melalui jendela besar suite tempat Gideon dan Septin menginap. Setelah menghabiskan malam penuh cinta, keduanya memulai hari dengan suasana yang tenang dan damai. Kamar suite yang hangat dan nyaman menjadi saksi kebahagiaan mereka sebagai pasangan suami istri.Setelah mandi air hangat dan mengenakan pakaian santai, Septin melangkah ke meja sarapan yang sudah disiapkan oleh staf hotel. Sepiring roti panggang, buah segar, dan secangkir kopi panas menunggu mereka.“Mas, ini sarapan yang sempurna setelah malam yang panjang,” ucap Septin sambil tersenyum ke arah Gideon, yang sudah duduk di kursi berhadapan dengannya.Gideon tersenyum lebar, tatapan matanya penuh cinta saat dia mengambil secangkir kopi. “Kamu benar, Sayang. Oh ya, hari ini aku punya rencana yang lebih sempurna untuk kita.”Septin mengangkat alis, penasaran. “Rencana apa itu, Sayang?”Gideon meletakkan cangkir kopinya dan bersandar
Setelah seharian menikmati keindahan negara Finlandia yang begitu sangat memukau, Gideon dan Septin tiba di hotel mereka yang megah dan hangat. Hotel bintang lima itu terletak di tepian danau yang memantulkan kilauan cahaya bulan yang berpendar di langit malam. Embun malam yang lembut mulai jatuh di luar jendela kamar suite itu. Seolah-olah kehangatan memenuhi ruangan tersebut saat mereka masuk. Septin yang masih mengenakan jaket tebal tersenyum lelah namun bahagia sambil menatap pada Gideon.“Kamu capek, Sayang?” Gideon bertanya lembut sambil menurunkan ransel dari pundaknya.Septin mengangguk kecil. “Sedikit, Mas. Tapi aku sungguh sangat bahagia. Hari ini benar-benar luar biasa. Aku tidak percaya kita benar-benar ada di sini, di Finlandia, untuk bulan madu.”Gideon tersenyum lebar, lalu melangkah mendekat, menarik istrinya ke dalam pelukan hangatnya. “Aku juga, Sayang. Aku sangat senang dan bahagia bisa menghabiskan waktu ini bersamamu, di tempat seindah ini.”Mereka berdua berdir
Setelah waktu yang panjang dan penuh kemesraan di dalam kamar mandi hotel suite mewah mereka, Gideon dan Septin keluar dari kamar mandi dengan tubuh segar dan hati yang penuh kebahagiaan. Udara pagi di Kota Helsinki terasa semakin segar, dan matahari yang lembut bersinar menembus tirai jendela besar. Kamar suite tersebut dihiasi dengan gaya modern namun tetap memiliki sentuhan keanggunan Finlandia. Meja makan di dekat jendela telah dipersiapkan dengan sempurna untuk sarapan pagi."Aku sudah lapar. Ayo kita makan dulu, Sayang." ucap Gideon sambil menatap meja yang penuh dengan berbagai makanan khas Finlandia. “Iya, Mas. Perutku juga udah kosong banget, nih.” tutur Septin uang mulai kehabisan energi akibat aktivitas panasnya dengan Gideon, suaminya.Di atas meja makan, ada beberapa cupcake dengan topping buah beri lokal yang segar, jus buah yang dingin, serta beberapa gelas mocktail yang siap untuk dinikmati.Septin tersenyum lembut, menatap makanan di depannya. "Semua makanan ini te
Hari ini adalah hari yang sangat dinanti-nantikan oleh Gideon dan Reza. Mereka akan berhadapan dalam sebuah balapan mobil di arena balapan mobil di Sentul, Bogor. Pertarungan ini bukan hanya sekadar adu kecepatan, melainkan juga sebuah duel untuk membuktikan siapa yang lebih unggul di antara mereka
Matahari pagi mulai menyingsing, menyebarkan sinar keemasan yang menyelimuti langit biru. Suara kicauan burung bersahut-sahutan, menambah suasana pagi yang tenang dan damai. Namun, di balik ketenangan pagi ini, ada semangat dan kesibukan yang membara di salah satu sudut kota Jakarta. Di rumah besar
Pagi itu, matahari baru saja mengintip dari balik horizon, menciptakan semburat jingga di langit timur. Burung-burung berkicau riang menyambut pagi, sementara udara sejuk menyelimuti rumah megah milik Tuan Muda Gideon. Di sebuah paviliun, Septin, pengasuh pribadi Tuan Muda Gideon, terbangun dengan
Di sebuah markas rahasia yang tersembunyi di bawah tanah, suasana mencekam menyelimuti ruangan besar dengan dinding beton kasar dan cahaya redup dari lampu neon yang berkedip-kedip. Di tengah ruangan, terdapat meja besar dengan berbagai alat-alat untuk menunjang kekerasan tergeletak berantakan di a







