Home / Romansa / CINTA ANTARA PENGASUH DAN TUAN MUDA / 7. Perkara Telur Mata Sapi

Share

7. Perkara Telur Mata Sapi

last update Last Updated: 2025-02-22 20:01:25

Gideon adalah seorang pria pendiam yang hidup dalam kedamaian dan ketenangan di dalam rumahnya. Kesehariannya selalu dihabiskan di dalam rumah. Sehingga mau tidak mau dia harus menemukan ketenangan dalam kesendiriannya.

Karena trauma di masa lalu. Membuat kedua orang tuanya mengekang hidupnya. Namun Gideon tetap merasakan kesunyian yang mencekam. Karena kedua orang tuanya sibuk di luar rumah untuk membangun kerajaan bisnis mereka lebih jaya lagi dari sebelumnya.

Sehingga di mata Gideon rumahnya bukan hanya sekadar tempat tinggal, akan tetapi juga sebagai sumber kenyamanan di dalam dirinya.

Setiap harinya, Gideon memulai paginya dengan membuka tirai di kamarnya, menyambut cahaya matahari yang perlahan menyinari setiap sudut ruangan. Di pojok ruangan, ada meja kayu tua yang menjadi tempat dia menuliskan pemikirannya atau membaca buku-buku yang menjadi sahabat setianya. Kursi empuk di sebelahnya menjadi tempat Gideon bersantai, meresapi kata-kata dan dunia yang tercipta dari halaman-halaman yang membentuk imaginasi.

Namun, apa yang membuat rumah Gideon benar-benar istimewa adalah ketertiban dan kebersihannya. Setiap buku di raknya diletakkan dengan rapi, dan bunga kecil di vas kecil memberikan sentuhan segar di ruangan yang sejuk. Gideon tidak pernah lupa mengatakan kepada para maid untuk membersihkan dan merapikan rumahnya, karena bagiannya itu adalah momen yang memberikan harmoni dan ketentraman dalam hidupnya.

Kamar yang berantakan tadi, ternyata Gideon sengaja mengacaukannya untuk mengusir Septin, pengasuh barunya. Namun yang terjadi malah, sang tuan muda menyukai hasil kerja pengasuh itu.

Dinding kamar Gideon penuh dengan lukisan-lukisan abstrak yang dia pilih dengan cermat. Setiap warna dan goresan memiliki makna tersendiri baginya. Lukisan-lukisan itu memberikan kesan bahwa setiap sudut ruangan adalah kanvas hidup yang selalu berkembang, sama seperti pemikirannya yang terus mengalir dan tumbuh.

Gideon sangat menyukai seni lukis. Di setiap waktu luangnya dia akan sempatkan untuk melukis.

Selain itu Gideon juga memiliki kecintaan pada musik klasik, yang sering kali mengisi ruangan dengan melodi yang menenangkan. Suara gemericik air dari pancuran hujan buatan di pojok kamar mandinya menjadi pengiring yang sempurna bagi ketenangan malamnya. Ia suka duduk di kursi berayun di balkonnya, menyaksikan senja perlahan merambat di langit.

Terkadang, Gideon mengundang teman-temannya ke rumahnya. Meskipun jarang, saat itu rumahnya penuh dengan tawa dan cerita. Gideon mungkin pendiam, tetapi ia tahu bagaimana menghargai kehadiran orang lain, dan rumahnya selalu terbuka bagi mereka yang memahami kebutuhannya akan kedamaian.

Bagi Gideon, rumahnya adalah refleksi dari dirinya sendiri. Dari karya seni sehingga semuanya menciptakan aura yang nyaman dan penuh inspirasi. Dalam kesederhanaan dan ketenangan rumahnya, Gideon menemukan kekayaan yang tak ternilai. Sebab, bagi pria pendiam ini, kehidupan yang damai dan harmonis dimulai dari dalam hati dan berakar pada rumah yang dirawat dengan cinta dan perhatian.

Walaupun keduanya orang tuanya sibuk di luar rumah. Tapi Gideon dapat menciptakan dunianya sendiri di dalam rumah.

Tiba-tiba perut Gideon merasa lapar, dia pun ke luar dari kamarnya dan mulai masuk ke dalam lift rumahnya yang akan membawanya ke lantai bawah tepatnya di dalam dapur rumahnya.

Gideon mengamuk di ruang dapur, melihat para maid yang sedang berusaha membuat telur mata sapi. Wajahnya memerah, mata menyala, dan suaranya gemuruh memenuhi ruangan.

"Kalian ini sudah berapa kali saya minta, tapi tetap saja tidak bisa membuat telur mata sapi dengan bentuk yang benar! Apa yang kalian lakukan sehari-hari? Membuat itu saja tidak bisa!" Hardiknya penuh amarah.

"Maaf, Tuan Gideon, kami sedang berusaha sebaik mungkin ..." tukas salah seorang maid.

"Berusaha? Itu bukan jawaban yang saya inginkan! Ini adalah hal yang sederhana, tapi kalian terus gagal!"

"Kami akan belajar lagi, Tuan Gideon. Mohon beri kami kesempatan." ujar maid yang lain.

"Kesempatan? Sudah berkali-kali saya memberikan kesempatan, tapi hasilnya tetap saja menyedihkan! Apa kalian tidak mengerti betapa pentingnya telur mata sapi ini bagi saya?" kesalnya semakin menjadi-jadi

"Kami akan mencoba lebih keras, Tuan Gideon. Mohon beri arahan yang lebih spesifik." Kali ini Maid Lilis yang menjawabnya.

"Spesifik? Apakah saya harus mengajar kalian satu per satu? Ini seharusnya menjadi kemampuan dasar! Saya tidak percaya bahwa saya harus melihat telur mata sapi yang cacat setiap pagi!"

"Tuan Gideon, kami minta maaf atas ketidaknyamanan ini. Kami akan belajar dengan tekun untuk memenuhi harapan Anda." Maid Lilis lagi-lagi meminta pengertian dari sang tuan muda.

"Apa yang Anda bilang, Maid? Tekun? Ini bukan masalah tekun, tapi masalah kemampuan dasar! Kalian seharusnya bisa melakukan ini tanpa harus terus-terusan membuat kesalahan!" Gideon semakin emosi

Suasana di ruang dapur terasa tegang, para maid saling pandang dengan ketidakpastian. Gideon terus berbicara dengan suara yang semakin meninggi.

"Saya tidak bisa terus menerus menyaksikan kegagalan ini. Saya butuh telur mata sapi yang sempurna setiap pagi! Bisa kalian pahami itu?"

"Kami akan bekerja keras, Tuan Gideon. Beri kami kesempatan untuk memperbaiki kesalahan kami." seru Maid yang lain.

"Kesempatan? Kalian ini hanya menyusahkan hidup saya! Saya tidak bisa lagi menerima alasan kalian yang tidak masuk akal! Apakah kalian mau saya pecat semuanya?"

"Tuan Gideon, mohon maafkan kami.

Kami akan mencari solusi agar bisa memenuhi standar Anda."

"Saya capek dengan alasan dan permintaan maaf! Saya ingin hasil yang memuaskan, bukan janji-janji kosong!" kesal Gideon lagi.

Aksi kemarahan Gideon terus bergema di ruangan dapur itu, menciptakan atmosfir ketegangan yang sulit untuk dihindari. Para maid bekerja keras mencoba memperbaiki kesalahan mereka, sementara Gideon tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya yang mendalam.

Septin yang sedang melipat pakaian di ruang laundry, dapat mendengar keributan yang berasal dari dapur, yang membuatnya menghentikan setiap gerakanya saat ini.

Suara keras dan amarah yang membara mencapai telinganya, mengisyaratkan bahwa Tuan Muda Gideon sedang memarahi para maid yang ada di dapur. Wajahnya menunjukkan ekspresi kekhawatiran dan penasaran. Dengan apa yang sebenarnya terjadi di dalam dapur itu.

Dengan hati-hati, Septin meletakkan pakaian yang sedang dilipatnya di meja yang ada di sana dan mulai melangkah bergerak menuju pintu dapur. Suasana tegang sangat terasa di sana, membuat langkahnya terasa berat. Ketika pintu terbuka sedikit, suara Gideon yang marah semakin jelas. Para maid yang ada di dapur terdengar berbisik-bisik, cemas akan kemarahan sang tuan muda.

Gadis itu mulai menyelinap masuk ke dapur, bersembunyi di balik salah satu sudut ruangan itu. Mata Septin melebar melihat Gideon yang berdiri di tengah ruangan dengan ekspresi marah yang sulit dijelaskan. Para maid berdiri tegang, menundukkan kepala mereka dengan penuh kekhawatiran.

Septin mencoba menajamkan pendengarannya. Gadis itu sangat penasaran apa yang menyebabkan sang tuan muda sedang marah saat ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • CINTA ANTARA PENGASUH DAN TUAN MUDA    18. Liciknya Gideon

    Tuan Muda Gideon masih duduk di atas ranjangnya dengan wajah yang dipenuhi dengan kekesalan dan keheranan dengan permintaan sang pengasuhnya. Dia menatap pengasuhnya, Septin, dengan ekspresi kemarahan yang hakiki. Septin, yang hampir sebaya dengannya, berdiri di depannya dengan pandangan mata penuh harap."Tuan Muda Gideon, bagaimana dengan tawaran saya tadi? Jika next saya akan menemani Anda berpetualang di malam hari?" ucap Septin dengan nada penuh antusiasme, demi untuk mematahkan keegoisan sang tuan muda.Gideon menatap Septin dengan matanya yang masih memancarkan kekesalan kepada gadis itu. "Cih! Memangnya Lo sanggup mengikuti kegiatan gue di malam hari di luar rumah? Serius Lo, Pengasuh Septin?"Septin mengangguk pasti, dan tetap mempertahankan keinginannya. "Ya … saya serius, Tuan Muda. Kenapa kita tidak menjelajahi malam bersama-sama, seperti yang selalu Anda lakukan sendiri sebelumnya?"Gideon menahan diri untuk tidak langsung menolak tawaran itu. Dia mencoba memahami apa

  • CINTA ANTARA PENGASUH DAN TUAN MUDA    17. Mencoba Bernegosiasi

    “Tuan Muda, saya tahu kok kalau kita hampir sebaya. Tapi Anda juga harus tahu jika saya adalah pengasuh yang ditunjuk langsung oleh Nyonya Kemala,” tutur Septin kepada Gideon yang sangat keras kepala.“Terus … maksud Lo apa, hah?” hardik Gideon.“Ya ampun … Tuan Muda. Hanya ada kita berdua di dalam ruangan ini. Anda tidak perlu membentak saya,” ucap Septin sambil balik menatap Gideon yang dari tadi melirik ke arahnya dengan sangat sinis.“Katakan mau Lo Septin! Jangan kebanyakan bacot, Lo! Jangan sok mengatur gue!” Gideon bukannya mengecilkan suaranya. Pria itu malah menambah satu oktaf nada suaranya saat ini.“OMG! Ternyata Tuan Muda Gideon, sangatlah pemarah. Sabar … sabar Septin. Tarik napas dalam-dalam lalu buang perlahan,” gumam sang gadis dari dalam hatinya.“Maksud saya, kita harus saling menghargai, Tuan Muda. Anda sebagai anak asuh saya, dan saya sebagai pengasuh Anda. Sesimpel itu kok,” ucapnya mencoba menjelaskan semuanya kepada Gideon.“Kalau gue nggak mau, Lo mau apa?” ta

  • CINTA ANTARA PENGASUH DAN TUAN MUDA    16. Tak Dapat Mengelak Lagi

    Gideon dan Septin mulai meraba-raba di kegelapan gudang. Mereka bersembunyi di balik tumpukan kotak-kotak kardus dan barang-barang usang. Bunyi langkah kaki para sekuriti yang berpatroli di sekitar kediaman keluarga Mosha menggetarkan udara di dini hari itu. Gideon tahu bahwa jika dia tertangkap, pria itu tak hanya akan menimbulkan masalah bagi dirinya sendiri, akan tetapi juga bagi Septin. Pengasuh barunya yang baru saja direkrut oleh sang ibu, Nyonya Kemala."Dengar, Pengasuh Septin," bisik Arjuna dengan suara pelan yang hampir tidak terdengar di antara suara derap langkah kaki di luar gudang. "Kita harus bersabar. Jangan bergerak sampai mereka benar-benar pergi."Septin yang masih belum paham tentang situasi itu, hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya kepada sang tuan muda.Gideon, dengan napasnya yang terengah-engah, berkata lagi, "Dengarkan, Pengasuh Septin. Kita harus tetap diam dan berharap mereka melewati gudang tanpa curiga."Lagi-lagi Septin menganggukkan kepalanya.

  • CINTA ANTARA PENGASUH DAN TUAN MUDA    15. Ketahuan Septin

    Petrus dan Lukas tersenyum, merasa terharu mendengar kata-kata Gideon. Mereka merasa senang bisa menjadi bagian dari setiap pencapaian Gideon.Perjalanan pulang mereka berlangsung dengan penuh keceriaan. Ketiganya berbicara tentang balapan tadi, membagikan pengalaman dan cerita seru satu sama lain. Mereka tertawa dan saling menggoda, menciptakan suasana yang penuh keakraban."Tahu tidak, Guys, saat gue melihat kalian berdua di sisi arena, memberikan dukungan dan semangat, membuat gue merasa lebih semangat dan yakin akan menang," seru Gideon dengan penuh semangat. "Kalian adalah sahabat sejati, gue!”Petrus dan Lukas tersenyum lagi. Keduanya merasa terharu mendengar kata-kata Gideon. Mereka tahu betapa pentingnya dukungan dan persahabatan dalam mencapai kesuksesan.Saat mobil yang disetir oleh Lukas akhirnya tiba di area belakang rumah Gideon, mereka pun turun dari mobil dengan perasaan yang penuh kebahagiaan. Ketiganya berdiri di sana, saling berpelukan sebagai tanda persahabatan dan

  • CINTA ANTARA PENGASUH DAN TUAN MUDA    14. Menjadi Pemenang

    Akhirnya, Gideon melintasi garis finish sebagai orang pertama yang mencapai garis akhir arena balapan dan menjadi juara dalam balapan itu. Dia merasakan kegembiraan yang tak tergambarkan, diiringi sorak sorai penonton dan tepuk tangan yang meriah.Petrus dan Lukas berlari mendekatinya, memberikan pelukan dan ucapan selamat. Mereka benar-benar bangga dengan pencapaian Gideon.“Lo adalah pembalap yang luar biasa, Bro Gideon!" ucap Petrus dengan penuh kagum.“Gue tidak pernah meragukan kemampuanmu, Bro Gideon!" tambah Lukas dengan senyuman lebar.Ketiganya lalu berpelukan sebagai tanda persahabatan dan kebersamaan mereka dalam petualangan ini. Gideon merasa begitu beruntung memiliki teman-teman seperti Petrus dan Lukas yang selalu mendukungku.Petualangan malam ini benar-benar tak terlupakan. Gideon belajar bahwa keberanian dan keahlian yang dirinya miliki dalam bermain game balap di rumahnya dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Sang tuan muda merasa semakin percaya diri dan siap

  • CINTA ANTARA PENGASUH DAN TUAN MUDA    13. Balapan Motor Liar

    Petualangan malam terus berlanjut setelah ketiganya menikmati waktu yang menyenangkan di Pantai Ancol. Petrus, Lukas, dan Gideon, memutuskan untuk melanjutkan petualangan mereka ke sebuah arena balap liar di pinggiran kota Jakarta.“Bro … bagaimana kalau kita ke suatu tempat yang istimewa?” ajak Petrus.“Suatu tempat? Kenapa tempat itu bisa dikatakan sebagai tempat istimewa?” tukas Gideon penasaran.“Ha-ha-ha! Karena tempat itu adalah arena balap!” tutur Lukas.“Wow! What a surprise! Ayo kita ke sana! Gue nggak sabar ingin mencoba balapan motor yang sesungguhnya bukan hanya di depan layar saja!” ujar Gideon antusias.Perjalanan ketiga pemuda tersebut menuju arena balap liar dimulai dengan suasana yang penuh sukacita. Dengan Petrus yang menyetir mobil, mereka berangkat dari Pantai Ancol, menyusuri jalan-jalan kota Jakarta yang semarak dengan lampu-lampu malam yang berkelip-kelip.Mobil bergerak meluncur di jalan tol yang mulus, melaju dengan kecepatan yang tepat, seiring dengan irama l

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status