แชร์

Dia Lagi!

ผู้เขียน: Fredelina Putri
last update วันที่เผยแพร่: 2024-12-02 19:49:49

Thalita masih berdiri di ambang pintu. Ia terlalu takut memasuki kamar hunian yang amat pribadi untuknya. Saat ini ada pria asing yang mencoba menguasai tempat tinggalnya dan mulai mendominasi.

“Pak Baskara, tolong keluar dari flat saya! Saya tidak mau menjadi bahan gunjingan orang-orang sekitar. Kalau Bapak ingin bicara, kita bisa membahasnya besok di kantor. Tapi tolong jangan di sini, Pak,” tegas Thalita menghadapi atasan yang selama ini ia hormati yang kini bermetamorfosa menjadi pria aneh yang sangat terobsesi dengan dirinya.

Thalita berulangkali mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia tak mau tetangga yang satu lantai dengannya menganggap dirinya sebagai wanita murahan yang membawa masuk pria yang bukan suami ke dalam kamar hunian sewaannya.

Dengan banyak pemikiran di kepalanya, Thalita terus menatap intens sang atasan yang dengan bossy tetap berada di dalam apartemen studio sewaannya seolah tak takut apa pun.

“Pak Baskara, saya mohon,” pinta Thalita super tegas melebihi ucapannya beberapa detik lalu.

Baskara memiringkan senyumnya. Sepertinya ia menikmati ekspresi kepanikan yang bercampur aduk dengan ketakutan tak berdasar di wajah Thalita. Baskara bangun dari sofa single yang ada di dalam kamar sempit itu dan berjalan mendekati sekretaris cantik di hadapannya.

Tak lupa, Baskara meletakkan tangannya di bahu Thalita sembari berbisik mesra. “Sampai jumpa besok, sekretarisku yang cantik. Aku tidak bisa melupakan apa yang terjadi di antara kita. Ingat, kamu wanitaku! Tubuh dan hatimu hanya milikku.”

Usai mengatakan hal itu, Baskara tersenyum penuh misteri sebelum akhirnya ia mengecup singkat kening Thalita.

“Pas Baskara—” Thalita mengepalkan tangan di kedua sisi tubuhnya. Ia benar-benar bingung dengan apa yang terjadi barusan padanya. Seharusnya ia melawan atau marah pada pria itu, yang terjadi malah ia hanya diam dengan kedua bola mata membola sempurna.

~~~~

“Dari mana kamu, Bas? Kenapa teleponku nggak diangkat? Terlalu sibukkah kamu untuk mengangkat panggilan telepon dari istrimu?” Yola melancarkan serangan pertanyaan ketika pria yang telah menikahinya selama dua tahun lebih itu memasuki kamar mereka.

Blamm

Baskara membanting pintu dan melesat cepat menuju kamar mandi yang ada di kamar huniannya tersebut. Ia mengabaikan keberadaan sekaligus pertanyaan yang ditujukan padanya dari bibir Yola.

“Bas–” Panggilan Yola terhenti. Percuma untuknya melemparkan pertanyaan di saat seperti ini. Bukan jawaban yang ia dapatkan, perseteruanlah yang akan terjadi setelahnya jika dirinya kekeuh mengejar jawaban dari pria tampan yang berprofesi sebagai pengusaha sukses tersebut.

“Sampai kapan kita akan seperti ini, Bas?” gumam Yola sambil memegangi kepalanya yang terasa pening.

~~~~

Malam harinya di kediaman mewah Baskara…

“Baskara, sudah dua tahun kalian menikah, lalu kapan kalian akan memberiku seorang cicit? Aku sudah terlalu tua, bagaimana kalau cicitku lahir sebelum aku bisa melihatnya?” Seruni bertanya pada sang cucu tepat di hadapan pasangan suami istri muda di ruang makan usai mereka semua menyudahi makan malam bersama.

Baskara dengan santainya mengelap bibirnya dengan tisu kering seolah tak pernah menganggap pertanyaan itu ada. Walau seseorang yang melemparkan pertanyaan padanya adalah orang yang sangat ia sayangi. Pria itu hanya tersenyum dengan pembawaan tenang.

“Nenek, ini sudah malam, aku harus segera mengurus pekerjaan. Kalau masalah cicit, Nenek bisa menanyakan hal itu sama Yola. Sekarang aku ke atas dulu ya, Nek. Pekerjaanku masih banyak yang harus diurus secepatnya. Selamat malam, Nek,” ucap Baskara tenang lalu mengecup kening sang nenek dengan penuh kasih.

Tanpa membawa serta sang istri ke atas menuju kamar mereka, Baskara berjalan cepat meninggalkan ruangan itu.

Yola menatap kecewa. “Bagaimana ini, Nek? Baskara masih tetap dingin padaku. Apa yang harus Yola lakukan?”

“Sabarlah, dia pasti memiliki alasan tersendiri untuk tidak membahas masalah anak di depan Nenek. Nenek yakin cepat atau lambat kamu dan Baskara akan segera rukun dan setelah itu Nenek yakin akan ada suara tangis cicit Nenek di sini.”

“Iya, Nek.” Yola tersenyum kecut. Harapan satu-satunya hanya Seruni, Nenek Baskara, untuk membuatnya bisa memiliki anak dari pria itu. Jika dirinya bisa memiliki anak dari Baskara, besar kemungkinannya pria itu akan mencintainya seperti dulu dan anak mereka akan menjadi pengikat mereka berdua sampai akhir hayat.

‘Sialan! Nenek tua ini nggak membantu sama sekali. Aku harus segera menemukan jalan keluar dari masalahku ini. Aku harus bisa membuat Baskara kembali mencintaiku seperti dulu. Aku nggak akan menyerah!’

~~~~

“Apa yang harus aku lakukan sekarang? Pas Baskara kenapa jadi seperti ini? Selama ini dia baik dan bertanggung jawab, di mataku dia selalu bekerja dengan baik nggak terlihat seperti hidung belang. Tapi kenapa? Kenapa dia tega melakukan semua ini sama aku? Bagaimana kalau Bu Yola tahu? Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?” Thalita berjalan mondar-mandir dengan perasaan campur aduk.

Wanita itu menggigit ibu jarinya. Ia tak pernah sefrustasi ini sebelumnya gara-gara pria bernama Baskara. Tak hanya frustasi, kesucian yang telah ia jaga selama 24 tahun juga telah raib karena pria itu.

Nada dering ponselnya mengejutkan wanita yang masih kebingungan dan pening memikirkan banyak hal di dalam hidupnya. Thalita menyambar ponselnya dan menempelkan benda pipih canggih tersebut ke salah satu daun telinganya.

“Halo, Ta,” sapa seseorang pada Thalita di ujung sana.

“Halo, Junior, ada apa?” balas Thalita dalam mood yang kurang baik.

“Kamu sudah makan apa belum? Kebetulan tadi aku lewat restoran kesukaan kamu dan aku pesan tom yam udang. Gerimis-gerimis begini makan yang berkuah kayaknya seger deh,” kata Junior dengan godaan yang membuat Thalita dilema.

Ini sudah malam. Sudah terlalu malam kalau dikatakan untuk makan malam. Tapi makanan favoritnya enggan untuk dilewatkan.

Beralih ke… Gerimis?

Apakah di luar sana sedang gerimis?

Thalita membuka jendela dan melihat ke luar. Ternyata benar, di luar sedang hujan rintik-rintik.

Jangan-jangan Junior ada di sini?!

“Tunggu dulu, kamu ada di mana sekarang? Apa jangan-jangan kamu ada di—”

“Coba tebak!” Junior mematikan panggilan secara sepihak usai menantang lawan bicaranya.

Thalita berbalik badan dan segera membuka pintu kamar huniannya tersebut.

“Junior, kamu kok ada di sini? Ini sudah malam, bagaimana kalau ada tetangga yang lihat kamu di sini? Aku nggak mau kena gosip,” cecar tanya Thalita pada Junior tepat di depan pintu.

Junior terkekeh geli. “Kan aku juga berhak atas kamar apartemen yang kamu huni sekarang. Memangnya mereka berani bilang apa?” tantang Junior tak memedulikan hal remeh semacam itu.

Junior adalah pemilik kamar apartemen yang saat ini dihuni oleh Thalita. Awalnya Thalita diminta Junior untuk menghuni apartemen tersebut tanpa bayaran sepeser pun. Tapi Thalita kekeuh untuk tetap membayar walau mereka adalah sahabat. Thalita tak mau berutang budi pada siapa pun. Apartemen yang dihuni Thalita sangat memudahkan wanita itu untuk mencapai kantor tempatnya bekerja dengan sangat cepat, hanya butuh lima atau paling lama sepuluh menit sampai di tempat kerja. Sangat efektif, bukan?

“Ini, makanlah! Kamu pasti lapar,” Junior mengulurkan bungkusan pada Thalita dan memaksa wanita itu untuk menerimanya.

“Tapi aku sudah makan di tempat Ibu, Junior,” ucap Thalita tak enak hati.

“Tapi kamu belum makan di sini. Memangnya nggak sayang menolak rejeki? Ini kan makanan kesukaan kamu. Masa ditolak? Kalau nggak mau—”

Junior belum melanjutkan kata-katanya, ia sengaja menjeda ucapannya, ia memancing pergerakan dan tindakan Thalita.

“Eh iya, oke. Aku nggak akan menolak kok. Thanks banget ya, Jun,” ucap Thalita. “Kamu baik banget. Siapa pun yang jadi pasangan kamu nanti pasti bakalan bahagia banget karena punya kamu yang super baik dan perhatian,” puji Thalita tulus tanpa maksud menjilat.

“Jangan melebih-lebihkan, Ta. Tadi kan aku sudah bilang, nggak sengaja lewat restoran kesukaan kamu. Jadinya ya mampir sekalian. Ya sudah berhubung ini sudah malam, aku balik, ya. Jangan lupa dimakan, mumpung masih hangat, kalau perlu dipanasin lagi biar tambah enak,” tanggap Junior seraya memberi saran.

Thalita mengangguk setuju. Bukannya bergegas pergi, Junior mengusap lembut pucuk kepala Thalita sembari tersenyum penuh arti.

“Jangan sampai tersedak dan jangan makan terburu-buru! Oke? Selamat malam,” ucap Junior sebelum benar-benar meninggalkan apartemen Thalita.

Sepeninggal Junior, Thalita segera menutup pintu dan meletakkan bungkusan makanan kesukaannya di meja kotak kecil di kamar huniannya tersebut.

Belum sempat menuangkan tom yam ke dalam mangkuk, seseorang menghubunginya lagi melalui panggilan telepon seluler.

Menjengkelkan!

Thalita kesal. Siapa lagi yang menghubunginya malam-malam begini? Tidak mungkin Junior yang melakukannya.

Thalita bangkit dari posisinya lalu mencari keberadaan ponselnya. Benar saja, bukan Junior yang menghubunginya melainkan…

“Pak Baskara, mau apa lagi dia? Dia lagi, dia lagi! Apa sih maunya orang ini? Angkat nggak, ya?” gumam Thalita seraya memutar otak mencari solusi terbaik.

To be continue….

~~~~

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • CINTA TERLARANG TUAN PRESDIR   Dejavu

    “Saya? Saya yang menghuni rumah ini. Lalu, kalian ini siapa, ya? Kenapa malah bertengkar di depan rumah saya?” tanya pria muda di hadapannya dengan tatapan menyelidik. Ia menunjukkan ekspresi penasaran dengan kentara.Pasangan lansia yang awalnya beradu tatap kini mendekatkan diri pada penghuni rumah.“Bisa kita bicara sebentar?” Nenek Seruni merubah mimik wajahnya dengan cepat. Tak ada rajukan seperti sebelumnya yang ia tunjukkan pada sang suami. Wanita tua itu memasang ekspresi tegas luar biasa. “Bisa. Silakan masuk,” kata pria muda itu yang sepertinya tersihir oleh dominasi wanita tua di hadapannya. Nenek Seruni melirik sang suami sebelum masuk ke dalam rumah sederhana yang ia sambangi.~~~~“Apa-apaan ini?” Yola berteriak keras melihat apa yang baru saja terpampang nyata di hadapannya. Baskara dan Thalita yang berpelukan usai berciuman panas menunjukkan sikap berbeda begitu melihat kedatangan Yola. Jujur saja, ini adalah kali pertama seorang Thalita tertangkap basah melakukan

  • CINTA TERLARANG TUAN PRESDIR   Maaf, Kalian Siapa?

    “Sebulan lalu waktu Baskara mabuk, kami melakukan hubungan suami istri. Wajar saja kan kalau aku hamil, Nek? Toh, dia memang suamiku. Lalu kalau bukan dia yang membuatku hamil, lantas siapa lagi?” Yola mengelus perutnya yang masih rata. Ia menitikkan air mata di hadapan Nenek Seruni. Yola berjalan mendekat. Ia berusaha meraih tangan Nenek Seruni. Wanita itu lah yang selama ini selalu ada di garda depan untuknya dan membela dirinya di rumah mewah tersebut. Ketika tangannya hendak menggapai tangan yang mulai dipenuhi keriput itu, usahanya menggantung. Tak ada hasil sesuai yang ada di dalam kepalanya. Bahkan sebelum ia berhasil menggapai tangan wanita tua itu, Nenek Seruni memilih memundurkan tubuhnya dengan gerakan cepat tanpa ia sadari. “Nenek—”“Sudah kubilang, jangan panggil aku Nenek! Kesalahanmu dan keluargamu sudah begitu banyak pada keluarga kami. Usahamu yang selama ini kamu lakukan sudah berhasil membuat hubungan antara nenek dan cucu merenggang. Memangnya kamu belum puas jug

  • CINTA TERLARANG TUAN PRESDIR   Aku Hamil!

    “Kenapa? Ekspresi kagetnya bisa nggak sih yang natural aja? Toh kamu sudah mulai mencurigai hubunganku dengan sekretarisku, kan?” cecar Baskara sembari melangkah mendekat ke arah sang kakak. Ditatapnya netra gelap David yang mendadak mematung. “Dia pacarku, dan nggak lama lagi aku akan membuatnya menjadi istriku. Dan mengenai Yola, sekarang kuserahkan kembali sama kamu. Terserah apa yang mau kamu lakukan sama dia. Toh selama ini aku nggak pernah menyentuhnya. Aku paling nggak suka menyentuh barang kotor yang sudah dicicipi pria lain yang naasnya mengaku-ngaku sebagai saudara kandungku sendiri,” tegas Baskara lalu mengeratkan rangkulannya di tubuh sang kekasih. Pria itu seolah menunjukkan pengukuhan pada semua orang bahwa Thalita adalah wanitanya. “Baskara, aku mau bicara sama kamu. Aku tahu masalah di antara kita sudah terlalu banyak dan aku pun nggak tahu dari mana harus memulainya. Tapi mulai hari ini aku janji akan bertanggung jawab atas semua kekacauan yang sudah aku lakukan,”

  • CINTA TERLARANG TUAN PRESDIR   Tak Percaya

    “Setelah apa yang sudah aku ceritakan ke kamu tentang hidupku sampai peristiwa gila yang telah kita lakukan malam itu, apa yang kamu rasakan sekarang?” Baskara membelai lembut pipi Thalita menunggu sang kekasih hati menjawab pertanyaannya. “Kamu berniat meninggalkan aku?” tanyanya kemudian dengan wajah memelas. Tak pernah terlintas di dalam pikirannya bahwa Baskara akan menunjukkan sisi lemah yang tak pernah ia perlihatkan di hadapan orang-orang. Dikecupnya kening Baskara dengan lembut lalu menggeleng pelan. Entah mengapa walau ia tahu cara yang digunakan Baskara padanya termasuk cara seorang pecundang yang rela menghalalkan segala hal demi mendapatkan dirinya, Thalita bisa memaafkan Baskara begitu saja. Baskara seperti sudah kehabisan akal demi mendapatkannya dan mungkin hanya tersisa cara itu yang bisa dia lakukan sebagai upaya pengukuhan dan kepemilikan. “Aku nggak tahu harus bilang apa, Mas. Seharusnya aku marah dan kecewa tapi entah mengapa setelah mendengar pengakuanmu tadi,

  • CINTA TERLARANG TUAN PRESDIR   Kenyataan Menyakitkan

    Lembutnya bibir itu akhirnya ia rasakan juga. Baskara tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang datang padanya. Jika wanita itu menolak dan mendorongnya, ia akan gunakan teriakan darinyalah yang membuatnya mengambil tindakan nyata semacam ini. Andai wanita itu berani melakukannya. Namun yang terjadi, Thalita terbuai oleh sentuhan lembut yang kini menguasai bibirnya. Terasa dalam dan lembut. Pria itu benar-benar menguasainya luar dalam. Keinginan untuk memberontak hanya tinggal kenangan.Sial!Bukan Thalita yang melepas pertukaran saliva di antara mereka lebih dulu, melainkan Baskara. Ya, pria itu benar-benar melakukannya. Melakukan hal yang sebenarnya tak pernah ingin ia lakukan. Diambilnya handuk yang terhempas di lantai lalu diperbaikinya. Dipakainya dengan terburu-buru. Baskara segera mengambil satu set pakaian rumahan miliknya yang ada di apartemen tersebut. Hanya kaos lengan pendek berwarna hitam dipadukan dengan celana pendek yang biasa digunakan jika pria itu keluar untuk joggi

  • CINTA TERLARANG TUAN PRESDIR   Terhempas

    Menyadari situasi yang tidak kondusif untuk dirinya, Rico berdehem dan berbalik badan secepat kilat sebelum meninggalkan pasangan kekasih tersebut di dalam sana.Melihat hal tersebut, Baskara tersenyum tipis mengetahui anak buahnya paham situasi. Akhirnya, ia bisa melakukan apa yang ada di dalam kepalanya. Terutama di dalam inti dirinya yang sudah lama tak merasakan kehangatan seorang wanita. Wanita di pangkuannya tentu saja. “Nggak bisa, Mas,” tolak Thalita dengan dua tangan bergerak di tempat yang kedua tujuannya berbeda. Satu tangan menarik jari-jari ramping Baskara dari kancing kemejanya, dan satu tangan yang lain menutup mulut Baskara yang hendak meraup bibirnya. “Kenapa? Apa karena itu?” tanya Baskara menyelidik sembari memicingkan mata ke arah puntung rokok yang berserakan di asbak. Thalita menggeleng. Mendapati jawaban Thalita yang seolah menutupi kenyataan membuat Baskara bangkit dari posisinya. Ia meninggalkan Thalita menuju ke kamar mandi mewah yang menjadi fasilitas i

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status