Share

Kenapa Anda Di Sini?

last update publish date: 2024-11-21 22:55:59

Di bawah guyuran air shower, Thalita meluapkan tangis dan kekecewaannya. Bagaimana bisa ia berakhir di atas ranjang bersama atasannya? Berulang kali ia membilas tubuhnya dengan sabun hingga membuat kulitnya memerah.

Ingatan Thalita kembali pada malam di mana ia menemani sang bos menemui klien perusahaan yang menjanjikan. Di sebuah restoran bintang 5 dengan segala fasilitas mewah menjadi sajiannya.

Terakhir kali sebelum Thalita dan Baskara pulang usai menemui klien tersebut, mereka sempatkan mengunjungi sebuah klub malam dengan alasan sang bos ingin menemui rekan lamanya, si pemilik klub malam, Titan.

“Kamu cantik sekali, Thalita. Baskara pasti senang banget punya sekretaris cantik sepertimu,” puji Titan malam itu.

“Iya, dia memang sangat cantik,” sahut Baskara menyetujui.

Thalita hanya tersenyum profesional lalu menanggapi pujian tersebut dengan cara yang anggun dan jauh dari mode perayu seperti para wanita muda yang dikenalnya.

“Terima kasih, Pak Baskara dan Pak Titan,” ucap Thalita dengan tenangnya.

Baskara tersenyum tipis lalu menuangkan sedikit demi sedikit minuman mahal yang kecenderungan alkoholnya tidak begitu besar ke dalam sloki di hadapannya lalu menyerahkannya pada Thalita.

“Minumlah, ini enak, rasanya manis dan ringan,” pinta Baskara dengan seulas senyum yang membuatnya terlihat begitu tampan.

“Tapi Pak–” Thalita ingin menolak karena dirinya bukan pecinta minuman keras dan sebangsanya.

“Ayolah, sedikit saja,” paksa Baskara yang langsung memberikan minuman itu pada Thalita hingga membuat wanita cantik di hadapannya tak bisa menolak pemberiannya.

Demi menyelesaikan permintaan sang bos, Thalita memilih mengalah dan segera meminumnya dalam sekali tenggak agar ia tidak terus-menerus dipaksa.

Tiba-tiba, Thalita merasakan pening luar biasa dan perlahan membuat pandangannya mengabur.

“Pak Baskara, ada apa ini?” tanya Thalita sembari memegangi kepalanya yang terasa berat.

Baru saja menyelesaikan kata-katanya, wanita itu ambruk dan ia ingat sebelum kedua matanya terpejam dan kesadarannya menghilang, ia berakhir dalam rengkuhan Baskara.

“You are mine, Thalita.”

~~~~

“Bagaimana keadaan Ibu hari ini? Ibu sudah makan belum, Tante?” tanya Thalita pada tantenya tepat saat memasuki rumah lama kakek dan neneknya yang kini ditinggali oleh sepasang janda kakak beradik di hadapannya.

Thalita mengedarkan pandangannya ke segala arah demi menemukan tempat di mana ia bisa dengan leluasa menatap sang ibu di sana.

“Ibumu sehat, tapi dia belum mau makan, tapi sudah mau ngemil sedikit-sedikit. Coba kamu yang rayu, siapa tahu dia mau makan, Tante sudah mencoba berbagai cara agar ibumu mau makan nasi hari ini, tapi ya ampun susahnya,” keluh Jani, tante Thalita, adik kandung Namira.

Namira adalah ibu Thalita. Wanita itu mengalami depresi berat pasca ditinggal pergi oleh suaminya, yang tidak lain tidak bukan adalah ayah kandung Thalita, Latief. Namun, Namira tetap menjalani pemeriksaan berkala dan pengobatan pasca perginya Latief yang lebih memilih lari dengan selingkuhannya. Wanita itu hidup tapi terasa sepi dan tak ada semangat juang. Hatinya dipenuhi luka karena pengkhianatan dan juga penghinaan yang dilakukan Latief padanya.

Beralih ke masa kini…

Melihat Jani sudah berjalan menuju ke dapur, Thalita segera memasuki kamar sang ibu. Ia tak mau menahan lagi, dipeluknya sang ibu dengan jutaan rasa. Rasa rindu yang paling utama. Rasa hancur dan terluka dirinya pasca menjalani malam panas bersama Baskara ia kesampingkan untuk sementara waktu. Ia tak mau baik tante maupun ibunya melihatnya bersedih hati.

“Ibu, Thalita kangen,” ucap Thalita sembari memeluk ibunya.

Namira menatapnya dalam dan tersenyum senang. “Kangen sama Ibu? Ibu juga kangen sama kamu. Sini tiduran di paha Ibu. Biar Ibu nyanyikan lagu tidur buat kamu. Kamu nanti pasti bisa langsung tidur dan rasa kangen itu akan berubah jadi mimpi indah. Nanti akan ada peri kecil yang mengajakmu bermain, Thalita.”

Thalita tahu sang ibu memang sudah lebih baik daripada sebelumnya yang selalu mengurung diri. Tapi sang ibu tidak seperti ibu normal lainnya yang akan memberinya solusi saat mengetahui putrinya sedang dilanda masalah. Thalita tahu benar konsekuensinya. Ia memiliki seorang ibu yang mengidap gangguan bipolar sejak kepergian Latief dari sisi mereka belasan tahun silam.

“Thalita, kenapa bapakmu pergi meninggalkan kita? Ibu salah apa?” Dan hal ini terjadi lagi.

Susah payah ia berjuang bersama sang ibu untuk tidak mengingat lagi pria jahat bernama Latief, tapi ingatan sang ibu justru kembali pada pria itu secara berkala.

Dosa apa yang telah dilakukan ibunya di masa muda hingga ia harus dipertemukan dengan pria jahat dan bejat seperti Latief?

“Ibu, lihat Thalita sekarang! Jangan bahas laki-laki itu lagi, ya. Katanya Ibu mau nyanyiin lagu buat Thalita, jadi kan, Bu?” Hanya ini yang bisa Thalita lakukan. Dirinya tak mau sang ibu tiba-tiba menangis seperti biasanya jika mengingat luka di masa lalu. Hanya mengalihkan topik dan fokus ibunya yang bisa dilakukan olehnya.

Dan benar saja, Namira mengangguk setuju sebelum menyanyikan sebuah lagu untuknya. Thalita membaringkan kepalanya di paha sang ibu dan ia bisa merasakan emosi menjalar turun ke ulu hati mendengar nyanyian dari wanita yang paling ia cintai.

‘Ibu, aku kotor sekarang! Tubuhku sudah tidak sesuai dulu. Aku benci semua ini, Bu! Benci!’ umpat Thalita dalam hati.

~~~~

“Tante, Thalita pulang dulu, ya. Besok kalau Thalita libur atau bisa pulang lebih awal dari kantor, Thalita usahain datang ke sini. Tolong jagain Ibu ya, Tante. Cuma Tante yang Thalita percaya buat menemani dan jagain Ibu,” pamit Thalita pada Jani sebelum ia benar-benar pulang ke apartemen sewaannya.

“Kamu ini ngomong apa sih, Ta? Mbak Namira kan kakaknya Tante, nggak perlu kamu minta pun, Tante akan dengan senang hati menemani dan menjaganya. Hanya ibumu yang sekarang Tante miliki, dia adalah kakak kandung Tante satu-satunya. Tentu akan Tante jaga sepenuh hati. Kamu nggak perlu mengkhawatirkan apa pun. Lebih baik kamu fokus bekerja demi meraih sukses buat dirimu sendiri. Kamu adalah anak yang membanggakan. Ibumu pasti bangga memiliki anak seperti kamu, Thalita. Seandainya Tante memiliki anak, mungkin Tante akan sangat bahagia dan bisa merasakan momen bangga seperti ini,” sahut Jani pada Thalita.

Namira dan Jani adalah sepasang janda kakak beradik. Sang kakak ditinggal pergi oleh mantan suaminya demi mendapatkan istri yang sangat kaya, sementara Jani diceraikan oleh mantan suaminya karena tidak bisa memberikan keturunan. Jadilah kakak beradik itu tinggal di rumah orang tua mereka selama belasan tahun. Jani-lah orang yang telah membiayai sekolah Thalita sampai bangku kuliah menggantikan peran Namira dan juga Latief.

“Thalita kan juga anak Tante,” kata Thalita menghibur Jani. Ia pun memeluk tante yang sangat berjasa dalam hidupnya dengan penuh kasih. Ia tahu benar tantenya ini adalah wanita yang baik dan selalu menyayangi dirinya dan Namira dengan tulus.

Jani membalas pelukan Thalita.

Setelah beberapa saat menumpahkan segala rasa di hati, pasangan Tante dan keponakan itu pun melepas pelukan.

“Sudah jam segini, lebih baik kamu sekarang pulang. Besok kamu harus bekerja, kan? Jangan sampai bosmu marah!” ucap Jani sambil mengelus bahu keponakannya.

Mendengar kata-kata paling akhir dalam kalimat yang dilontarkan sang tante padanya, Thalita bergidik ngeri. Bayangan itu teringat lagi dan seolah-olah berputar di sekelilingnya.

“Iya, Tante. Thalita pulang dulu, ya. Selamat malam, Tante. Katakan pada Ibu kalau Thalita sudah pulang ya, Tante.”

“Iya, Thalita. Hati-hati di jalan. Semangat bekerja! Cari uang yang banyak agar kamu bisa membeli dunia,” celetuk Jani pada Thalita ketika wanita muda itu hendak menaiki taksi online yang siap membawanya kembali ke tempat tinggal sementara.

“Bye, Tante,” pamit Thalita sambil melambaikan tangannya.

~~~~

Thalita mendongak ke atas. Ia melihat bangunan besar dan tinggi di hadapannya dengan tatapan lelah yang bercampur aduk.

Apartemen studio sewaannya sudah ada di depan mata. Ia hanya ingin segera sampai ke kamar huniannya dan membaringkan tubuh lelahnya di sana.

Baru saja memasukkan kunci dan membuka pintu walau belum sepenuhnya terbuka lebar, seseorang tiba-tiba berdehem di belakangnya dan meringsek masuk ke dalam kamar huniannya.

“Pak Baskara, apa yang Bapak lakukan di sini?” Thalita terkejut setengah mati melihat keberadaan pria yang seharusnya tak ada di sini bersamanya.

To be continue…

~~~~

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • CINTA TERLARANG TUAN PRESDIR   Jangan Dibuka!

    Jani mengalihkan pandangan. Ia harus mencari alasan yang tepat. ‘Bagaimana ini, Tuhan? Aku nggak akan membiarkan kakakku tahu tentang apa yang saat ini terjadi pada Thalita. Setidaknya untuk saat ini saja. Tuhan, tolong bantu aku. Aku tidak bisa berbohong pada Mbak Namira. Tapi untuk jujur mengenai apa yang dialami Thalita tentu tak mungkin ku ungkap sekarang.’“Bu Jani, maaf mengganggu. Bisa kita bicara sebentar?” Stefani yang sebelumnya berada di teras rumah untuk mencari udara segar mendadak masuk ke dalam rumah. Ia mendekati dua wanita paruh baya di ruang tamu dengan ekspresi tak terbaca. Jani segera bangkit dari tempat duduknya. Mungkinkah ini adalah jawaban dari Tuhan agar ia bisa menghindari pertanyaan pelik dari sang kakak?Sebelum mengikuti Stefani, Jani menundukkan kepalanya lalu menatap wajah Namira yang sendu. Sungguh, ia tak ingin membuat kakak kandungnya itu bersedih dengan kabar yang cukup mendadak ini. Ia butuh waktu untuk mengungkap segala hal mengenai kehamilan Tha

  • CINTA TERLARANG TUAN PRESDIR   Kenapa Jangan?

    Namira menjawab dengan anggukan pelan. Seolah hal itu sudah menjadi jawaban pasti tanpa perlu penjelasan panjang lebar.Percayalah, tak ada yang tak mungkin jika itu berasal dari kasih Tuhan. Setelah sekian lama hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang pedih, akhirnya Namira bisa bangkit dari keterpurukannya. Pikirannya sudah seperti orang normal pada umumnya. Bayangan masa lalu tentang Latief yang meninggalkannya perlahan menghilang dan tergantikan dengan kebahagiaan yang bersumber dari putrinya.‘Apakah ini salah satu bukti mukjizat darimu, Tuhan? Kau mengembalikan ibuku kepadaku. Akhirnya… akhirnya Ibu…’Thalita tak bisa berkata-kata lagi walau hanya dalam hati. Tangisnya pecah dan langsung memeluk sang ibu dengan erat. “Ibu, aku sayang Ibu.” Thalita menangis di pelukan Namira. Wanita cantik itu berlutut di atas lantai sembari memeluk sang ibu dengan tangis yang tak dapat ditahan lagi.Namira tak bisa menahan isak tangis, sama seperti sang putri. Akhirnya pasangan ibu dan anak itu

  • CINTA TERLARANG TUAN PRESDIR   Sembuh?

    Kedua mata Thalita terarah pada tayangan televisi yang kini menunjukkan pemandangan menyedihkan. Sebuah kecelakaan maut tunggal yang telah menewaskan wanita yang pernah merebut kebahagiaan ibunya. Bukan kebahagiaan yang ada di benak Thalita saat ini, melainkan iba pada nasib keluarga yang ditinggalkan.“Permisi, Nona Thalita, ini teh hangatnya,” ucap Stefani sembari meletakkan secangkir teh hangat permintaan sang majikan. Tak mendapat jawaban karena Thalita sedang fokus pada apa yang tersaji di layar televisi, Stefani segera berpindah posisi. Ia kini berdiri di samping Rico dan pria itu berbisik di telinganya. Terjawablah sudah apa yang membuat dirinya bertanya-tanya. Kembali pada Thalita dan Baskara…Baskara membalik tubuh Thalita agar mereka bisa saling bersitatap. “Ada apa, Sayang?”“Nggak apa-apa, Mas.” Thalita menjawab singkat tanpa berniat memberikan penjelasan. “Oh ya, Mas, habis ini aku mau ke rumah Ibu, ya,” ucap Thalita meminta ijin. “Mau ke rumah Ibu? Perlu aku temani? M

  • CINTA TERLARANG TUAN PRESDIR   Tak Asing

    “Sayang, maaf aku lam—” Baskara yang hendak melanjutkan kata-katanya tiba-tiba membelalakkan mata. Tepat di saat itu juga, tangan Karina yang hendak menampar Thalita dihentikan seseorang. Bukan Yudith ataupun Baskara, melainkan Tahlita sendiri-lah yang melakukannya. “Kamu pikir kamu bisa menamparku? Jangan harap kamu bisa menyentuhku, Karina! Saat kamu berani menamparku, aku akan membalasmu 10 kali lipat dari tamparan serta rasa sakit yang kamu berikan padaku. Masih berani coba? Aku nggak main-main, Karina.” Thalita tampak berbeda saat ini. Wanita yang tengah mengandung buah cintanya dengan Baskara itu terlihat tegas, ambisius dan diliputi amarah yang tak main-main.Karina sontak memundurkan tubuhnya. Tumbuh rasa takut yang kini menyelubungi hatinya. Ia melirik ke arah Yudith yang diam saja dan sepertinya tidak akan berada di pihaknya. “Kamu itu tunanganku tapi kenapa malah diam? Kenapa kamu nggak angkat bicara saat wanita ini menggangguku?” Karina menyalahkan Yudith yang memilih d

  • CINTA TERLARANG TUAN PRESDIR   Amarah

    “Ada apa ini? Kenapa kalian—” Yudith hendak mempertanyakan tapi dicegah oleh Karina. Karina mengangkat satu tangannya yang lain dan memberi penjelasan. “Dia mau merebut gaun pilihanku, padahal gaun ini aku yang pilih duluan untuk pernikahan kita.” Wanita itu dengan tegas menuduh mantan kekasih dari tunangannya melakukan hal demikian. Mendengar hal itu, Thalita sedikit terkejut. Jujur, ia seperti sudah terbiasa meladeni orang-orang yang suka asal menuduh dan menjatuhkan orang lain demi memuaskan kesenangan diri sendiri. Wanita cantik yang pernah menjadi kembang kampus itu melepaskan gaun dari tangannya secara tiba-tiba.Gaun yang tadi menjadi bahan perebutan sekaligus perdebatan dua wanita cantik itu terhempas ke arah Karina. Karina yang belum siap dengan pergerakan Thalita nyaris tersungkur ke belakang karena sebelumnya ia menarik cukup kuat. Dua wanita itu sempat menggunakan tenaga mereka saat memperebutkan gaun tersebut. Tapi kini Thalita-lah orang yang mengikhlaskan gaun itu untu

  • CINTA TERLARANG TUAN PRESDIR   Gara-Gara Gaun

    Mendengar seseorang yang paling tak ingin lagi ia lihat di sepanjang hidupnya disebut di hadapannya, Thalita refleks menggeleng cepat.“Jangan sebut orang itu lagi, Nek. Beliau sudah lama pergi dari kehidupan Ibu dan saya. Jadi ke depannya, saya sudah menemukan seseorang yang tepat untuk menjadi wali nikah saya. Dan jelas orang tersebut bukan ayah kandung saya. Ada orang yang lebih pantas dan mampu menjadi wali nikah untuk pernikahan saya dan Mas Baskara.” Thalita tersenyum manis pada nenek dari calon suaminya. Seruni tak bisa memaksa, ia bisa dan juga paham di mana dirinya memposisikan diri sebagai Thalita. Tak mudah bagi wanita cantik itu dan ibunya selama belasan tahun ditinggalkan Latief begitu saja untuk menerima kembali kehadirannya. Apapun alasannya, Thalita pasti akan mencari solusi lain. “Ya sudah kalau begitu. Nenek dan Kakek pulang dulu, ya. Kamu pasti juga lelah, dan ingin beristirahat di rumah ibumu. Nenek nggak akan mengganggu pertemuan kalian. Kamu pasti sangat merind

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status