Mag-log inAlthafandra Alatas (34) adalah seorang tuan muda dari konglomerat ternama yang masih menunggu kekasihnya kembali, dan hal itu menjadi alasan kenapa belum menikah atau melakukan kencan yang disarankan ibu dan neneknya yang berharap segera mendapatkan keturunan dari Fandra. Meski setia pada kekasihnya, Althafandra tiba-tiba punya tunangan. Ternyata, diam-diam ibu dan sang nenek mencari calon istri yang telah dipilih oleh mendiang kakeknya. Vivana Rosiana (27) terpaksa tinggal di mansion keluarga Alatas. Tentu saja hal itu ditentang keras oleh Fandra. Tapi keputusan itu tidak bisa diubah. “Tenang saja, aku disini bukan untuk harta atau hatimu, tapi untuk memenuhi janji.” Situasi menjadi kacau ketika kekasih Fandra kembali disaat tempat di hati Fandra mulai terisi oleh Vivana. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Tetap setia atau memilih yang sejati? Dan, janji apa yang dimaksud Vivana?
view moreAmelia’s pov
I stared at the screen of my computer in disbelief, unable to comprehend what I was seeing.
The words… You have been selected as the head of chefs…The annual conference… Slated for the coming week… New York City.
I ran my eyes over the email again and finally let out a small yelp of excitement. I swirled around happily on my chair in my office after reading the news on my computer.
I have always hoped to be the head chef for an event but I don’t always get the recommendation from the judges. My senior colleagues were the ones who got the opportunities and whenever I went to them for help, all they did was to advise me to work harder.
I had worked hard for several years, hoping for what would constitute as my big break and it was finally here. I couldn’t believe my eyes when I received the mail. The New York event was one of the most important events that my agency handled. It was the kind of event that could make or break a caterer's career and I could hardly believe that my agency was giving me the job.
Too excited to remain seated, I got up from my chair, walked around my desk and pumped my hands in the air silently. My excitement was short-lived when my desk phone rang. I picked it up and my boss told me to come to his office immediately.
What? Is there another surprise in store for me?
I dashed out to his office to meet him. Before entering, I knocked on the door. I smiled as I approached him, and he smiled back. His expression indicated that he was extremely proud of me. I noticed a man sitting across from him and, after bowing to greet my boss, I turned to greet the man as well, but the figure staring at me stunned me.
“Eddie?” I screamed out.
“Amelia Johnson,” the man also called out my name calmly.
I remained rooted to the ground, lost in thought, staring at the man sitting in front of me. When I remembered how he had broken up with me six years before, I lost my balance.
Eddie had called me that night and asked me to meet him at our usual location, a restaurant near my school dormitory. I hurriedly dressed up, excited to meet him that evening. When I arrived, he was already seated at our usual spot, looking dashing as ever. I smiled as I approached him.
“Hey, babe,” I greeted him, with a peck and then took my seat across from him. Instead of him replying to me, he took a sip of his drink, and that was when I noticed his expression. He was worried, looking as if he had something to tell me.
“What’s wrong, Eddie?” I asked him.
He didn’t hear me as he was lost in thought, staring at me.
“Eddie!” I yelled out his name which made him jolted back to the present.
“Do you have something to tell me? Are you okay?” I asked again, worriedly.
He sipped his drink again, still silent and that was when I knew something was definitely wrong with him.
We both stared at each other silently and after some minutes, he decided to say something. It was just four hurtful words.
“Let’s break up, Amelia,”
To the present….
“Amelia! Amelia!” My boss called out my name.
I was jolted back to the present when I heard my name and then I saw my standing beside me, asking me what was wrong.
I regained my senses and then asked my boss what he was saying.
“Are you okay?” He asked me, looking worried.
“I’m… I’m fine,” I said to him, stammering.
“Did you know Mr Eddie Thompson?” He asked again.
I looked at him and then my eyes wandered between him and Eddie, unable to reply to him as I was still in shock.
Just then, Eddie stood up from his seat, buttoning up his suit, he then replied to my boss that he and I knew each other.
“I will leave with Amelia to have a discussion about the necessary things needed for the event,” Eddie added, walking towards me.
“Oh my gosh! Amelia, Why don’t you tell me that you know Mr Thompson?” My boss asked me, looking utterly surprised when he heard that I know one of the richest men in the whole New York City.
I smiled at him awkwardly without saying anything.
“You can go with Amelia, Mr Thompson. Thanks so much for trusting our agency,” my boss said, stretching out his hand to Eddie for a handshake.
Eddie accepted his handshake and I watched as he walked majestically out of my boss’s office. I was still standing, unable to decide on whether to go with him or not.
“Are you now going with him?” My boss asked me.
“I will,” I replied to him curtly and then reluctantly left his office. I met Eddie standing by the door, probably waiting for me.
“Can we go now?” He asked.
I stared at him for a while and then told him that I needed to grab my bag in my office.
“Okay, lead the way,” he said.
“What?” I blurted out in surprise.
“I don’t think we are close enough for you to follow me to my office. Let’s be professional, please,” I added.
He fell silent, and once I was certain he wasn't following me, I dashed to my office to get my bag. I was out after a few minutes, and he led me to his car, opening the backseat door for me, but I ignored him and used the other door. He chuckled at my expression before getting into the car. He directed his driver to take us to a nearby restaurant, and we arrived there after a few minutes.
We got out of the car, and his next words shocked me once more.
"Why are you hostile towards me?" He inquired.
"What?"
"Do you still love me?" He asked again.
Sudah hampir satu bulan sejak Fandra pergi ke Jepang untuk urusan bisnisnya ternyata masalahnya rumit sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk mengurusnya. Ayah Fandra juga turut pergi satu minggu lalu untuk membantu karena masalahnya semakin besar membuat semua jadi khawatir.Cuaca belakangan ini tidak tentu, hujan deras turun dengan guntur dan kilat padahal siang masih berlangsung tapi hujan sudah turun. Keluarga Alatas menjadi resah tapi mereka saling menguatkan satu sama lain, mendoakan yang sedang berada di luar rumah.Hari ini pagi cerah, tapi saat siang hari mendung berat, langit gelap dengan gemuruh yang terdengar keras. Angin kencang pun tak mau tertinggal menyemarakkan badai yang hendak turun.Dengan semua kabar cuaca yang buruk itu membuat Vana menjadi tak tenang. Fandra tidak bisa dihubungi dua hari ini karena sibuk sekali. Ayah sempat mengabari kalau mereka akan lembur beberapa hari agar masalah segera beres.Vana tidak tahu apapun jadi hanya bisa mendukung saja dan mend
Tiga hari sejak kejadian itu, Vana jarang sekali keluar dan lebih menghabiskan waktunya di rumah Fandra. Dia punya hobi baru sekarang, melakukan banyak hal seperti merangkai bunga, membuat kerajinan dan lain sebagainya. Fandra sibuk dengan pekerjaannya hingga jarang sekali dihubungi, karena Vana tidak ingin menganggu maka pria itulah yang menghubunginya.Vana sudah menjadi bagian dari keluarga besar itu, dan calon istri Fandra jadi dia bisa bebas ke manapun dia mau di gedung selatan itu. Namun, Fandra tidak mengizinkan Vana untuk ke rumah pondok itu.“Vana, kau sibuk?” Heda datang menghampiri.Apa yang terjadi di hotel itu hanya diketahui beberapa orang saja. Fandra membungkam wartawan yang Asheila bawa itu, dan Asheila sendiri sudah pergi lagi. Dua bodyguard yang ditugaskan Fandra pun tidak akan membicarakan masalah itu, hanya Heda dan Gavian yang mengetahuinya lagi, serta Arzal. Yang lain, terutama keluarga Alatas tidak ada yang tahu.“Tidak. Kenapa?” tanya Vana sambil berbalik meng
Vana tampak kelehan, dan berbaring di ranjang yang berantakan.Entah berapa tempat yang mereka jamah, dan memberantakannya bahkan kamar mandi pun tak luput dari mereka.“Kau akan kesakitan saat bangunan nanti.”Vana merespon pelan.“Aku tahu. Tapi, aku tidak bisa … kenapa kau di sini?” tanya Vana lemah.“Aku tidak mungkin meninggalkanmu dengan masalah besar, bukan?”“Ya. Namun, bagaimana kau?” Vana tampak tak berdaya, dia lemah sekarang setelah energinya terkuras habis untuk bergelut dengan pria itu.“Kau akan tahu saat sadar sepenuhnya. Jadi sekarang, tidurlah. Kau pasti lelah,” katanya sambil mengusap kepala Vana dan mendaratkan kecupan di dahi gadis itu.“Kau akan pergi bukan?”“Ya, setelah ini,” jawabnya.“Cepatlah kembali. Aku akan menunggu.”“Tentu. Istirahatlah di sini. Sahabatmu akan menjemput besok. Ibu akan menjagamu sampai aku kembali. Jangan pernah keluar lagi dengan pria lain.”Vana mengangguk. Kedua matanya tampak berat untuk terbuka tapi dia masih mengenali suara itu.“
“Fandra?” Vana memanggil sambil mencari pria itu.Fandra muncul tak lama kemudian.“Ya?” Fandra menyahut. “Ada apa?”“Tidak. Aku pikir kau ke mana. Bukannya kau ingin mengatakan sesuatu padaku, apa itu?” tanya Vana kemudian sambil menatap pria itu yang justru menghindar.“Kau mau melihat sekitar?” tanya Fandra, mengalihkan.“Nanti,” jawab Vana sadar kalau Fandra menghindarinya. “Katakanlah, selagi aku bisa mendengarkannya dengan baik,” kata gadis itu mendesak Fandra.Meskipun ragu, pria itu akhirnya menatap Vana.“Aku akan pergi dinas,” ungkap Fandra akhirnya.Vana tak merespon, membiarkan Fandra kembali menyampaikan sisanya.“Ke Jepang, selama dua minggu,” lanjutnya dan masih menatap Vana, mengawasi ekspresi gadis itu.“Itu saja?” tanya Vana tampak tenang.Kedua alis Fandra terangkat, sedikit heran dengan tanggapan yang gadis itu berikan. Fandra berpikir Vana mungkin akan marah, sedih, atau hal lainnya lagi. Namun ternyata, gadis itu cukup tenang untuk merespon.“Ya,” jawab Fandra si
Ruang ballroom yang tadinya luas, hanya ada dekorasi di sisi ruangan kini tampak megah dengan kursi dan meja, altar, dan panggung, serta pernah pernik yang menghiasi ruangan luas di mansion Alatas itu. Kali ini ruangan tersebut hampir penuh sesak oleh tamu undangan yang hadir, meskipun hanya mengun
Hari besar itu akhirnya tiba juga. Acara akan dilaksanakan pada malam hari, tapi ketika senja menjadi latar di barat sana Vana sudah di dalam kamarnya, tidak boleh kelaur dan Fandra dilarang menemuinya sejak pagi, bahkan mungkin kemarin malam. Meski begitu, Fandra beberapa kali ingin menemuinya, ta
Setelah hari pertunangan itu Asheila menemui Arzal di tempat pria itu sering berada. Asheila mencari tahu lebih dulu tentang pria itu sebelumnya, dan kini duduk anggun di salah satu kursi café milik Arzal.Dengan senyum puas menghiasi bibir, dan rencana yang telah disusun. Asheila yakin semua akan be
Setelah serangkaian sambutan, mereka akhirnya bertukar cincin. Fandra memasangkannya di jari manis Vana, memperhatikannya beberapa saat. Gema tepuk tangan memenuhi ruangan. Giliran Vana memasangkan cincinnya di jari manis tangan kiri Fandra. Para hadirin bersorak, menyampaikan bahagianya dan menguca






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu