LOGIN"Gue ngerti," ucap Fakhri tak ingin membebani pikiran Daffa.
"Terus itu kenapa jidat lo?" Tanyanya ulang karena belum mendapat jawaban sejak tadi."Ah, ini_" Daffa mencoba menjelaskan keadaan Jihan, " Jadi kemarin Jihan hampir ngelakuin tindakan bodoh lagi.""Untung gue datang ngecek keadaan dia dan berhasil bawa dia ke rumah sakit, kalau nggak mungkin nyawanya sudah melayang," jelas Daffa setengah kesal."Terus keadaannya sekarang gimana?" Tanya Fakhri mem_harus kembali kehilangan janinnya.""Tapi keadaan istri saya baik-baik saja kan, Dok?"Kembali harus kehilangan calon anaknya tentulah hal yang sangat menyakitkan bagi Fakhri, tapi lebih dari itu keselamatan sang istri jauh diatas segalanya."Alhamdulillah, kondisi Ayyana sudah stabil saat ini, Pak. Pendarahannya berhasil kami kendalikan dan syukur benturan yang dialami tidak sampai menimbulkan cedera serius."Sejenak, helaan napas lega dari semua orang terdengar bersamaan dengan ucapan hamdalah atas keadaan Ayyana.Anggi menambahkan "Hanya saja, karena ini merupakan keguguran yang kedua kalinya jadi kemungkinan besar Ayyana akan sangat terpukul setelah tahu nanti."Tatapan Anggi jatuh pada Fakhri secara khusus, sebagai orang yang cukup tahu problem keluarga pasangan itu sebelumnya, Anggi secara sekilas bisa menangkap bagaimana hancurnya perasaan pria itu."Ini memang bukan hal mudah, tapi saya harap dalam keadaan seperti ini kita semua bisa tetap sabar,
"BRENGSEK!" Rahang Adrie mengeras, ia terus membubuhi tonjokan di wajah Fakhri yang hanya diam tanpa ada keinginan untuk melawan. "Adrie, tenangin diri lo!" Daffa bersama yang lain segera melerai mereka. Ayah dan Ilham menarik tubuh Adrie menjauh, sementara Daffa membantu Fakhri untuk bangun. Raka, Vano dan Papih yang baru datang hanya bisa menatap mereka kaget –tanpa bertanya apapun. "Kalau sampai ada apa-apa sama Aya dan kandunganya, gue nggak akan pernah maafin lo!" desis Adrie berusaha melepaskan diri, tangannya masih gatal ingin menghajar pria itu. Dengan ringisan pelan, Fakhri mengusap sudut bibirnya yang berdarah lalu menatap Adrie tak kalah tajam. "Apa maksud lo?" Tanyanya tak paham. Adrie berdecih dengan senyum miring, "Nggak usah pura-pura bego, Fakhri." Ia menunjuk Fakhri dengan emosi, "Apa yang dilakuin sama selingkuhan lo itu, jelas disengaja untuk mencelakai Aya dan janinnya." Fakhri yang sulit untuk mencerna maksud Adrie, menghentak tangan Daffa yang mas
_saat tas milik Ayyana terjatuh dan beberapa isinya terhambur keluar, termasuk kertas hasil USG kehamilannya.Jihan yang tidak asing dengan hal itu dengan sigap meraihnya, tubuhnya bergetar membaca keterangan yang ada disana."Kamu hamil?" Todongnya pada Ayyana seraya meremas kuat kertas tersebut.Melihat perubahan sikap Jihan, Ayyana memutuskan untuk tidak menjawab. Begitu juga dengan Kayla yang masih cukup kaget akan serangan tiba-tiba Jihan."Brengsek, aku minta kamu lepasin Kak Fakhri, tapi kamu malah mengandung anak dia," murka Jihan.Ia kembali mendekat dan kali ini targetnya adalah Ayyana secara langsung. "Kalian harus pisah, Kak Fakhri itu cuma milik aku!""Kak Jihan, sadar!" Kayla mencoba menengahi.Ayyana yang menjadi sasaran mencoba mengamankan diri, "Jihan, tenangin diri kamu.""ENGGAK!! Kalian nggak boleh bahagia diatas penderitaan aku!"Amukan Jihan semakin menjadi, ia menarik kuat lengan Kayla yang mencoba menghalanginya dari Ayyana hingga gadis itu terhempas ke samping
Setelah kepergian suaminya, Ayyana yang hari ini sudah membuat janji dengan Kayla juga hendak bersiap untuk pergi.Tapi langkahnya tertahan saat Ibu memberi tahu bahwa hari ini Adrie sekeluarga akan datang.Seperti biasa, Adrie kesana untuk urusan bisnis, hanya saja Ayyana sedikit dibuat resah.Ia sangat tahu tabiat Adrie dan Ayyana tidak ingin masalahnya dengan Fakhri yang sudah mulai mendingin, kembali memanas jika saja Adrie sampai tahu.Karena itu, ia berpesan pada sang ibu, "Jangan bahas apapun dulu sama Kak Adrie, ya Bu."Saat kabur tanpa kabar beberapa hari pun, Ayyana juga sudah mewanti Ibu dan Ayahnya untuk tidak menceritakan hal itu pada Adrie.Tetapi Ayyana khawatir jika sampai Ibunya keceplosan membahas tentang mereka, jika sudah bertemu secara langsung nanti."Iya, Ibu ngerti, sayang." Ayu mengusap lembut lengan putrinya. "Dah, kamu siap-siap gih, katanya ada janji sama Kayla."Ayyana mengangguk, ta
"Gue ngerti," ucap Fakhri tak ingin membebani pikiran Daffa."Terus itu kenapa jidat lo?" Tanyanya ulang karena belum mendapat jawaban sejak tadi."Ah, ini_" Daffa mencoba menjelaskan keadaan Jihan, " Jadi kemarin Jihan hampir ngelakuin tindakan bodoh lagi.""Untung gue datang ngecek keadaan dia dan berhasil bawa dia ke rumah sakit, kalau nggak mungkin nyawanya sudah melayang," jelas Daffa setengah kesal."Terus keadaannya sekarang gimana?" Tanya Fakhri memijat pangkal hidungnya, resah mendengar tindakan Jihan yang selalu mengancam keselamatan jiwanya sendiri.Apa perempuan itu pikir, setelah meninggal hidup akan berakhir begitu saja dan tidak ada yang perlu di pertanggung jawabkan?Nyatanya kehidupan akhirat jauh lebih sulit dibandingkan di dunia ini. Dan sebagai manusia yang akan menghadap sang Ilahi, kita tentu harus mempersiapkan diri, bukan asal pulang tanpa bekal."Dia udah aman, kok. Lo tenang aja," Daffa meyakink
Fakhri bangkit dan menatap Maminya tak terima, "Mami apa-apaan sih?"Setelah permintaan tak masuk akal dari Ayyana yang memintanya mendua, sekarang malah Mami-nya yang meminta mereka berpisah."Aku nggak akan lepaskan Aya apapun yang terjadi," tegasnya."Dan kamu mau melihat dia terus-menerus tersakiti seperti ini?" Mami ikut bangkit menghadapi Fakhri."Satu-satunya penyelesain yang terbaik adalah dengan kamu menikahi Jihan, perempuan itu tidak akan berhenti membuat masalah sebelum keinginannya terwujud."Fakhri tertawa sumbang, "Mami lupa? Dulu Mami yang menentang keras saat aku ingin menikahi dia. Mami yang paksa aku menjauh dari dia dan Mami yang paksa aku menikah dengan Aya."Lalu sekarang dengan enteng Maminya meminta ia menceraikan Ayyana dan berbalik memaksanya menikahi Jihan.Tangis Dania semakin deras, justru karena hal itu... justru karena semua kesalahan dan keegoisannya dulu yang membuat Dania mengambil keput
Ayyana yang sedang sibuk merapikan peralatan sholat teralihkan oleh dering panggilan masuk di ponselnya.Senyum perempuan itu merekah melihat nama Fakhri muncul sebagai penelfon, tapi bukannya ini masih tengah malam di sana?"Assalamu'alaikum Mas.""Wa'alaikumussalam. S
"Capek, tapi hasilnya memuaskan kan?" Seru Ayyana bangga. "Jujur saja, saya nggak kepikiran kalau perabotan rumah akan sebanyak ini. Kirain saya cuma sofa, meja, lemari, televisi, udah cukup." "Itu cuma kebutuhan dasar, perintilannya masih banyak. Ini ajah masih bany
Huufftt... Ayyana menghela nafas begitu memasuki rumah, ia menyimpan beberapa kantong belanjaan di lantai dekat sofa, tubuhnya seakan remuk setelah seharian mengelilingi mall mencari perabotan. Dibelakangnya, Fakhri menyusul dengan barang bawaan yang tidak kalah banyak. Ayyana rasanya ingin sege
"Baru juga seminggu nikah Rin," ucap Daffa menengahi. "Tau, lo ajah yang udah lumayan lama baru tiga bulan hamilnya," balas Ayyana. "Kita kan memang sengaja nunda dulu Ayy. Tapi saran gue sih kalian langsung punya anak ajah, supaya nanti anak kita umurnya nggak jauh beda," Ririn berucap







