ログイン"Aku nggak bermaksud buat bohongin kamu sayang."
"Tapi Mas bermaksud untuk menutupinya dari aku." Telak Ayyana. "Kita suami istri Mas, komunikasi itu pnting. Mau sampai kapan kamu selalu menutup diri dari aku? Apa kamu merasa aku nggak sebegitu bergunanya sampai kamu nggak pernah mau berbagi keluh kesah sama aku?"Fakhri bangkit dengan cepat kearah Ayyana. "Sayang hei, aku nggak pernah mikir kayak gitu."Ia meraih jemari Ayyana dan berlutut di hadapannya. "Aku nutupin semuanya sel"Aku nggak mau!" Sentak Jihan keras, bahkan sebelum Daffa menyelesaikan penjelasannya ia sudah menyela tanpa ragu.Jihan menunjuk Fakhri dengan tajam, "Kak Fakhri benar-benar nggak bertanggung jawab. Aku cuma minta nikah apa susahnya?""Saya sudah menikah Jihan!""Pria bisa menikah lebih dari sekali.""Tapi saya tidak akan menduakan istri saya." Tegas Fakhri sekali lagi.Jihan menyugar rambut acak-acakannya dan tersenyum miring. "Mentang-mentang Kak Fakhri udah bahagia sama perempuan lain jadi sekarang Kakak seenaknya mau lempar aku ke Kak Daffa.""Gue yang mau nikahin lo sendiri Jihan, ini bukan permintaan Fakhri." Jelas Daffa angkat suara."Aku nggak mau Kak!" Balas Jihan cepat, "Aku hanya akan menikah dengan Kak Fakhri.""Gue sama Fakhri nggak ada bedanya.""Beda."Fakhri bangkit menengahi, "Pilihannya hanya dua, menikah dengan Daffa atau tanda tangani surat itu dan masuk keluarga kami sebagai anak angkat. Hanya itu tawaran yang bisa kami b
"Lo gila ya!" Sentak Fakhri, bukan pada Jihan tapi pada Daffa.Setelah berhasil menghentikan aksi nekat Jihan dan mengurungnya di kamar, Fakhri beralih menyeret Daffa untuk bicara berdua."Gue udah pikirin semuanya semalam dan ini keputusan yang terbaik." Jelas Daffa. "Lo sama Aya udah seharusnya melanjutkan hidup dengan normal, dan Jihan? Yang dia tuntut cuman orang yang mau nikahin dia kan? Jadi, biar gue yang ambil peran itu."Fakhri tak habis pikir dengan jalan pikiran Daffa, "Kenapa lo selalu mengorbankan diri buat jadi tameng di masalah ini Daf?"Kedua tangan Fakhri mencengkeram sisi lengan Daffa, "Lo lupa sama Dita hah? Lo nggak pengen nikah sama cewek yang lo suka?"Daffa tersenyum miris, "Dita udah nolak gue Fakhri, dan mungkin nggak akan lama lagi dia akan nikah sama laki-laki pilihan orang tuanya.""Jadi karena itu lo mau ngorbanin diri untuk nikah sama Jihan?" Itu bukan pilihan yang tepat menurut Fakhri. "Kalau sejak dulu lo pernah sekali ajah men
"Menurut Kak Fakhri, apa masih ada laki-laki yang mau menghabiskan sepanjang hidupnya bersama perempuan sebatang kara dan cacat kayak aku?" Seru Jihan. Ia menepuk perutnya berkali-kali, "Aku cacat, udah nggak sempurna Kak. Di dalam sana udah nggak ada lagi rahim yang bisa menjadikan aku seorang ibu, lalu apa alasan yang bisa membuat aku melepas Kak Fakhri?" Jihan percaya, selain Fakhri jelas tak akan ada pria lain yang berniat menikahinya. Tak mungkin ada pria bodoh yang akan dengan sadar mengorbankan hidup untuk bersama perempuan yang tidak akan bisa memberinya keturunan. Hanya Fakhri, dengan dalih sebagai pertanggung jawaban juga sekaligus sebagai pelampiasan rasa bersalahnya sendiri. "Tapi saya sudah menikah Jihan." Jihan menyeka air matanya dan menatap Fakhri serius, "Kalau Kak Fakhri ceraikan perempuan itu, aku nggak akan mempermasalahkan status Kakak. Aku terima Kak Fakhri kembali dengan senang hati."
Di ruang tengah apartemen, amukan Jihan kembali terjadi, kali ini sasarannya adalah Fakhri secara langsung.Setelah pria itu sampai, bahkan sebelum ia mengeluarkan sepatah kata pun Jihan sudah menodong dengan berbagai kalimat cacian dan makian.Bukan hanya itu, Jihan bahkan meraung dan menangis sejadi jadinya, tampak begitu kacau dan kecewa akan kebohongan yang telah Fakhri lakukan selama ini."KAK FAKHRI JAWAB!" Bentak Jihan memukuli tubuh Fakhri yang sejak tadi berusaha menenangkannya.Selain itu, juga ada Daffa yang entah sudah berapa banyak membentak Jihan balik tapi tetap tak dapat meredakan amukannya."Kita bicara baik-baik setelah kamu tenang." Seru Fakhri, tak akan ada penyelesaian jika Jihan terus saja mengamuk dan percuma juga ia menjelaskan.Daffa mencoba menarik Jihan lagi, "Kamu selalu pengen ketemu dan bicara sama Fakhri kan? Jadi tenangin diri kamu dulu."Tapi Jihan terus saja berontak, "Kak Fakhri bilang
Daffa tidak bisa terus menerus seperti ini, ia juga ingin bisa berdamai dengan dirinya, seperti Fakhri. Ia kembali mengambil ponsel dan mengirimkan pesan lagi pada Dita. 'Ayo kita nikah.' Isi pesannya. Singkat dan langsung to the point, tidak seperti pesan sebelumnya. Setelah itu, ia melempar ponselnya ke kasur dan meraup wajahnya sendiri. Apa yang akan di pikirkan Dita begitu melihat pesannya? Apakah ia akan dianggap gila? oOoOo Keesokannya, Daffa melakukan aktivitas seperti biasa, setelah membuat sarapan untuknya dan Jihan, ia duduk di meja makan dan kembali mengecek ponsel. Menanti pesan balasan dari Dita yang tak kunjung datng sejak semalam padahal pesannya sudah di baca. Helaan napas terdengar dari pria itu, namun baru saja meletakkan ponsel, benda itu tiba-tiba saja berdering. Ia terlonjak dengan semangat meraih ponselnya lagi, berharap itu panggilan dari orang yang ia tunggu-tunggu teta
"Kata Daffa, dia ngamuk.""Ngamuk?""Jihan itu tempramental, mungkin faktor dari kejadian saat kecelakaan keluarganya, emosi Jihan kadang jadi sulit dikendalikan. Kalau ada hal yang nggak sesuai sama keinginannya, dia akan melakukan berbagai hal, kayak ngamuk atau bahkan mencoba mencelakai dirinya sendiri.""Tapi dia baik-baik ajah kan sekarang?" Itu yang paling penting, meski Ayyana tahu bahwa mustahil rasanya baik-baik saja setelah tahu kenyataan seperti itu."Ada Daffa sayang, dia bisa nanganin Jihan jauh lebih baik dari aku.""Gimana kalau kita samperin dia?" Cicit Ayyana pelan, itu jelas bukan jalan terbaik, tapi apa yang lebih baik dari pada membiarkan Jihan seolah tergantung tanpa penjelasan pasti dari pihak yang bersangkutan?Kalau Ayyana ada diposisi yang sama, ia jelas akan jauh lebih tenang setelah membicarakan semuanya secara langsung pada Fakhri, agar masalah tidak semakin berlarut."Aku memang berencana unt
"Bagaimana keadaan Jihan?" Tanya Papi Fakhri sembari menikmati secangkir kopi di ruang tengah."Dia baik." Singkat Fakhri."Papi dengar dia sakit?"Fakhri menautkan alis, "Papi tahu dari mana?"Seingatnya, ia tidak pernah membicarakan soal itu dengan sang Papi. Atau mungkin Daffa yang memberi tahu.
"Wah tuh anak kayaknya emang udah mulai gila deh."Daffa tak habis pikir mendengar cerita Fakhri tentang tindakan Jihan yang ingin mencoba bunuh diri."Kayaknya penyakit yang diderita Jihan tuh bukan di paru-paru tapi di otak." Oceh Daffa tak berhenti. "Ada gitu orang waras yang sampai be
Ayyana menggeleng, "Nggak apa-apa, itu kan tanggung jawab kamu." Fakhri menurunkan badan, berlutut di depan Ayyana yang duduk di kasur. Ia menatap Ayyana dengan perasaan bersalah yang amat dalam. "Maaf Aya," ucapnya meraih tangan Ayyana. Kalimat itu bu
"Nah, kamu nginap disini aja sampai suamimu pulang, jangan tinggal di rumah sendiri." Ucap Winda begitu mereka sampai di rumahnya. Mertuanya itu mengajak Ayyana ke rumahnya tanpa menerima penolakan, kesal dengan tindakan Fakhri yang menurutnya sangat tidak bertanggung jawab.







