Share

Bab 5

last update Last Updated: 2025-11-14 04:55:53

Aku segera keluar rumah. Bersiap memberi pelajaran pada dua orang itu. Terutama Nashwa. Begini rupanya sifat aslinya. Dibalik sifat lugu dan sok nurut itu, ternyata dia diam-diam pergi dengan laki-laki lain.

"Maaf, Bapak suaminya mbak ini?" Laki-laki yang tadi membukakan pintu untuk Nashwa, tiba-tiba sudah berada di depan ku.

"Ini obat Mbaknya!" Dia menyodorkan plastik putih berlogo rumah sakit.

"Obat?" Aku mengerutkan kening.

"Tadi mbaknya pingsan di jalan, terus kita bawa ke rumah sakit."

Pingsan?

Aku menoleh ke arah Nashwa yang keluar mobil. Dia dipapah seorang wanita. Rupanya dia tidak hanya berdua dengan laki-laki ini.

"Pelan-pelan aja, Mbak masih lemes." Wanita itu dengan lembut memapah Nashwa, meskipun Nashwa berusaha menolak.

Bingung mau melakukan apa, aku mengambil alih Nashwa untuk kugandeng dan kubawa masuk, tapi dia menolak.

"Nggak, apa-apa, Mas, saya bisa kok, oh iya silahkan masuk dulu, Pak, Bu. Saya ambil uang dulu." Dia berbalik ke arah dua orang yang sepertinya suami istri, lalu hendak masuk ke dalam rumah, tapi segera kutahan langkahnya.

"Uang apa?" tanyaku menginterogasi.

"Buat bayar taksinya si bapak, dan ganti biaya rumah sakit, tadi saya lupa bawa dompet." Dia menjawab dengan lemas.

Astaga! Apa-apaan ini. Memalukan sekali. Dan tadi apa katanya? Saya? Oh dari aku jadi saya, sejak kapan? Menggelikan sekali.

"Berapa?" Aku merogoh dompet dalam saku. Lalu menanyakan nominal pada dua orang yang mengatar Nashwa. Ternyata dalam plastik obat itu ada struk--nya. Aku lalu segera mengganti dan sekalian biaya taksinya.

"Terimakasih banyak, Pak, Bu," ucap Nashwa pada dua orang itu. Sebelum mereka pamitan, wanita yang memperkenalkan namanya Khotijah itu menyalami Nashwa kemudian menangkupkan telapak tangannya kepadaku. Aku lalu mengajak Nashwa masuk rumah, dia masih lemas, tapi tidak mau kubantu, akhirnya dengan perasaan dongkol, kugendong saja dia sampai kamar.

"Kenapa sampai pingsan?" tanyaku sedikit kesal. Dia hanya menggeleng lemah lalu merebahkan tubuh. Sepertinya dia sangat lelah.

"Terus kenapa nggak nelepon aku? Malah ngerepotin orang yang nggak dikenal." Aku semakin geram.

"Kan saya nggak bawa HP." Dengan nada lirih, dia menjawab pertanyaanku. Bibirnya sedikit bergetar saat berbicara.

"Lagian, kita kan sebentar lagi cerai, jadi saya harus membiasakan diri tanpa Mas Husain," lanjutnya setelah diam sejenak. Entah kenapa, ucapannya membuat jantungku berdenyut. Aku memang mau berpisah dengannya, tapi kenapa mendengar dia yang mengatakan itu, hatiku rasanya seperti ada yang menyentil.

"Nggak usah bahas itu, mending obatnya diminum!" Aku mengalihkan pembicaraan, membuka plastik berisi obat pil lalu membaca aturan minumnya. Semuanya 3X1 hari sesudah makan.

"Kamu udah makan, kan?" tanyaku sambil menyiapkan obat dan air minum. Dia hanya menggeleng.

"Astaga, memangnya kamu dari tadi ngapain aja sampe nggak sempet makan!"

Aku menggerutu sambil melangkah menuju meja makan.Rupanya di sana tidak ada apa-apa, jadi seharian dia ngapain saja. Ah, ya aku baru ingat, dia tadi meminta ijin keluar, tapi tidak tahu tujuannya kemana-mana. Jangan-jangan sejak siang tadi dia tidak makan, makanya dia sampai pingsan.

Aku segera memesan makanan lewat aplikasi. Sambil menunggu makanan datang, aku membuatkan teh hangat untuk Nashwa. Setelah selesai, kuberikan padanya.

"Mas nggak usah repot--"

"Udah diminum dulu!" Aku membantunya duduk lalu menyodorkan teh yang masih mengepulkan asap.

Karena tidak sabar melihat dia lemas dan tidak segera minum, kuambil alih gelas lalu menyuapinya minum. Suara bel berbunyi saat baru tiga sendok teh yang kusuapkan. Sepertinya itu kurir yang mengantar makanan. Syukurlah, makanan datang tepat waktu.

"Makan, terus minum obat ya, Nash!" perintahku tanpa mau dibantah. Aku tahu dia akan menolak dengan alibi masih kenyang atau apalah. Makanya langsung saja kusiapkan dan kusuapi dia. Dia terlihat pasrah. Dengan wajah memelas karena mungkin rasanya tidak enak di lidahnya, dia tetap menerima suapan demi suapan dariku.

Hampir separuh makanan masuk ke mulutnya, dia memegang perut seperti menahan mual. Wanita berwajah pucat itu melangkah gontai ke kamar mandi. Sepertinya makanan yang baru masuk langsung keluar lagi. Rasanya jadi seperti sia-sia aku menyuapinya.

"Asam lambung kamu kambuh?" tanyaku setelah dia keluar kamar mandi dengan wajah semakin pucat.

"Mungkin." Dia menjawab lirih. Aku berniat memaksanya lagi makan, tapi sayangnya ponselku berdering. Nama Anggita terpampang di layar. Segera kuusap layar ke atas dan menjawab panggilan darinya.

"Sen, tolong aku." Suara Anggita terdengar panik.

"Kenapa?" Akupun ikutan panik.

"Lilly panas banget sampe kejang, tolong anterin aku ke rumah sakit, Sen," ucapnya diiringi isakan.

"Oke aku kesana sekarang." Setelah mematikan sambungan telepon, aku mengambil kunci mobil dan memakai jaket. Siap menjemput Anggita tapi, tunggu. Aku menoleh ke arah Nashwa. Dia masih sangat lemah, apa tidak apa-apa jika aku tinggal. Aku sempat bimbang, tapi mengingat wajah Lilly dan isakan Anggita, mereka lebih butuh pertolongan. Nashwa sudah aman di rumah.

"Kamu, habisin dulu makanya, ya, obatnya jangan lupa diminum, aku pergi dulu!" Nashwa hanya mengangguk saja tanpa menjawab. Aku berjanji akan segera pulang setelah Lilly dapat perawatan.

.

.

Badanku sangat lelah, sampai aku tertidur di rumah sakit. Jam enam pagi aku baru bangun karena mendengar visit dokter anak. Untungnya hari ini libur, jadi aku tidak gelagapan karena kesiangan.

"Papa ...." Lilly merintih, memanggil ayahnya.

"Kamu telepon Bastian, gih." Aku memberi saran pada Anggita.

"Aku nggak, mau, Sen, aku takut." Anggita menggelen.

"Takut kenapa? Dia ayahnya, nggak mungkin akan nyakiti anaknya."

"Aku takut Lilly diambil Bastian." Anggita menunduk. Air matanya kembali menggenang. Sementara di atas brankar, Lilly terbaring dengan infus menancap di tangan. Panasnya sudah turun, tapi masih butuh perawatan. Aku mendekati gadis malang itu, mengelus kepalanya lembut.

"Om pulang dulu, ya." Kukecup keningnya sebelum pergi, lalu berpamitan pada Anggita. Wanita itu terlihat keberatan. Dia mencoba menahanku, tapi badanku sudah sangat lengket ingin segera bebersih. Akupun berjanji akan menengoknya lagi.

Sampai rumah, aku segera melesat ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tapi aku terkejut, saat mendapati istriku terbaring di sana.

"Nashwa!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Calon Janda   45

    Nahswa menundukkan wajah. Malu dengan perawat yang sedang mengatar makan dan obat. Dia merutuki diri sendiri. Bisa-bisanya sampai tidak mendengar orang mengetuk pintu dan membukanya.Sang perawat juga malu. Dia sudah mengetuk pintu tiga kali, lalu masuk dengan permisi. Tapi yang di dalam tidak mendengarnya. “Maaf, Pak, Bu, saya mau mengantar makanan dan obat.” Dia meletakkan mangkuk berisi makan dan juga obat-obatan ke atas nakas. Setelah itu segera keluar keburu malu. “Mas mikirin apa, si?” tanya Nahswa sambil menyuapi Husain. Laki-laki itu terlihat celingukan sambil mencari sesuatu. “Kamu lihat tas Mas nggak, Nash, apa ilang ya?” “Tas yang mana, Mas?” “Tas slempang yang aku bawa waktu itu.” Husain berhenti mengunyah, mengingat-ingat kejadian saat dia dikeroyok, apa mungkin tasnya terlepas atau dijarah orang-orang itu. “Kalo sampe ilang ....” Husain mengesah. “Ada barang penting disana.”“Barang penting apa, Mas, file atau ....”“Bukan urusan kerjaan.”“Ini bukan?” Nahswa meng

  • Calon Janda   44

    "Kenapa, Mas?” Nahswa merasa tidak nyaman saat suaminya memerhatikan dengan seksama. Mama dan papanya sedang pergi. Sementara Bapak dan Aishwa belum sampai sini. Jadi tinggallah mereka berdua di dalam ruangan. “Apa kamu beneran istriku?” tanya Husain sambil menatapnya lekat. “Mas sama sekali belum inget aku?” Nashwa bertanya. Husain menjawab dengan anggukan kepala. “Aku perlu bukti, biar aku percaya kalo kamu benar-benar istriku.” “Dokumen pernikahan kita disimpan di rumah, nanti aku ambilin ya, oh iya aku juga masih nyimpen foto nikahan kita di—““Bukan itu!” Husain memotong ucapan Nashwa. Wanita yang sedang merogoh ponsel di saku itu mengurungkan niatnya. Dia ingin memperlihatkan foto pernikahan mereka dari galeri ponselnya, tapi tidak jadi. “Foto bisa dimanipulasi, dokumen juga bisa dipalsukan, aku ragu, jangan-jangan kamu mau nipu aku ya, mau memanfaatkan kondisiku buat merebut hatiku!” “Terus apa yang bisa bikin Mas Husain percaya kalo aku ini istri Mas?” Nashwa sepertin

  • Calon Janda   43

    "Move on! atau mau saya carikan uhkty-ukhty dari pesantren atau dari kampus? atau saya mintain rekomendasi istri saya buat nyariin single yang mau diajak taaruf?" Ustadz sekaligus dosen itu kembali mencandai Ilham.Ilham hanya tertawa tanpa menjawab. Mungkin suatu saat nanti kalau memang sudah siap, dia bisa meminta Ustadz Ahmad untuk mencarikan jodoh. "Lagi pula, kayaknya si nggak ada yang bakal nolak pesona Ustadz Ilham," lanjutnya lagi. "Bisa aja, Tadz." "Oh iya, saya turun di depan saja pas toko buku, udah janjian sama istri disana." "Ehm!" Ilham sengaja berdehem dengan keras mendengar Ustadz Ahmad sengaja berbicara istri."Nikah makanya." Untuk kesekian kalinya, Ustadz Ahmad menepuk pundak Ilham. Dia lalu turun dari mobil dan berterima kasih. Ilham melajukan mobil menuju makam. Dia ingin berziarah ke makam ibunya Nahswa. Biasanya seminggu sekali laki-laki itu datang kesana. Menunggu Nashwa yang rutin berziarah, sekedar melihatnya dari jauh. Sekarang dia mendatangi makan dan

  • Calon Janda   42

    “Emang Mbak Nashwa nggak tahu kalau suaminya sedang belajar disana?" tanya Ustadz Ahmad. Nashwa pun menggeleng. Dia bahkan tidak menyangka kalau suaminya mau belajar membaca Al-Qur'an. Apalagi Nashwa pernah mengajar disana juga sebelum menikah. Nashwa memang menyukai pendidikan. Di usianya yang masih dua puluh tahun. Dia sudah mengabdikan separuh hidupnya untuk mengajar di rumah baca Al-Qur'an pada sore hari setelah dia selesai kuliah. "Saya baru tahu hari ini dari ustadz.""Saya pikir itu atas rekomendasi Mbak Nashwa ngaji di tempat kita," ucap Ustadz Ahmad. Kita? Nahswa hanya membatin. Sepertinya orang-orang disana masih menganggapnya bagian dari yayasan. Dulu saat dia pamit keluar, mereka berusaha menahan.Tapi karena di semester akhir dia sudah banyak kegiatan, dia memutuskan untuk berhenti dari yayasan cinta Al-Qur'an. Karena ingin fokus dengan skripsi. Rekan-rekan guru pun mendukung dan mengharapkan dia kembali ke sana lagi. Tapi setelah lulus dia mengajar di PAUD dan tidak

  • Calon Janda   41

    Dia masih ingat, saat baru pulang dari rumah sakit, Husain yang merawatnya. Ketika Gagah sudah pulang, laki-laki itu juga siaga menjaga anaknya. Sekarang Nashwa merasa jadi istri durhaka karena mengabaikan suaminya yang sedang berusaha memperbaiki rumah tangganya.“Hey, kenapa kamu ngomong gitu?” “Mas Husain pasti takut aku marah, makanya dia tetap berusaha pulang sampe rumah meskipun kondisinya menyedihkan, padahal di jalan di melewati rumah sakit, tapi dia nggak kesana dulu malah milih pulang.” Bahu Nashwa berguncang. “Aku juga sempet mikir negatif sama dia gara-gara nggak datang-datang sampe acara aqiqah selesai, mama masih inget kan waktu aku ngadu sama Mama?” “Iya, Nak, mama juga ikut kesal sama dia, mau marahin dia kalo udah ketemu, tapi ternyata ....”“Ternyata pas kita marah-marah dia lagi nahan sakit dikeroyok orang?” Hati Nashwa perih membayangkan suaminya dipukuli orang. Sakit sekali rasanya. “Nak, kita semua nggak ada yang salah, semua yang terjadi atas skenario Allah,

  • Calon Janda   40

    Suara dering ponsel membuatnya merenggangkan pelukan. Dia menjawab telepon dari Mama. “Kamu makan dulu, Husain biar gantian mama yang jagain!” ucap Mama di seberang telepon. “Tapi aku belum lapar,Ma.” “Nggak usah ngeyel! Ingat ada Gagah yang harus dapat nutrisi lewat kamu, awas ya kalo sampe cucu mama kekurangan ASI gara-gara ibunya susah makan!” Perintah mama kali ini tidak bisa dibantah. Kalau sudah menyinggung Gagah, Nashwa tidak akan bisa berkutik. Nashwa pun keluar dari ruang ICU. Mama dan Papa sudah menunggu di depan pintu. Papa yang masuk mengganti Nahswa. “Katanya Mama yang mau gantiin?” tanya Nashwa. “Mama nemenin kamu makan, biar bener makannya gak dikit doang, nanti kalo gak dipantau bisa-bisa kamu Cuma makan seuprit.” Mama lalu menggandeng lengan Nashwa. Mengajak makan malam di rumah makan dekat rumah sakit. Disana terdapat mushola dan kamar mandi. Nashwa pamit salat isya di mushola. Wanita itu ingin menenangkan diri. Rangkaian kejadian hari ini benar-b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status